Tampilkan postingan dengan label Ludwig Göransson. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ludwig Göransson. Tampilkan semua postingan

BLACK PANTHER (2018)


Di Black Panther, Wakanda digambarkan sebagai negara adidaya makmur, berteknologi maju, yang tak melupakan akar kulturalnya. Sementara para pemegang tampuk kekuasaan tidak memanfaatkan kekuatan mereka untuk berlaku semena-mena. Itulah surat cinta sekaligus pernyataan filmnya. Apabila kulit hitam yang ditekan diberi kuasa dan sumber daya, apakah mereka akan balik  menginjak-injak? Dengan tegas Black Panther menjawab, “TIDAK”. Ketika realita memperlihatkan Trump enggan menampung pengungsi, T’Challa (Chadwick Boseman) membuka pintu Wakanda lebar-lebar. Setelah pengalami pergolakan batin dan politik tentu saja.

Bisakah orang baik menjadi Raja? Menurut mendiang T’Chaka (John Kani), hal itu sulit, sehingga takkan mudah bagi sang putera memimpin Wakanda. Bagaimana T’Challa berusaha menjadi Raja sebaik mungkin yang dapat memakmurkan dan membahagiakan rakyatnya adalah fokus utama Black Panther. Tidak ada invasi alien, tidak ada Dewa kematian menyerbu. Skala dijaga di lingkup internal Wakanda, dan sebagaimana negara kebanyakan, perebutan kekuasaan serta invasi asing jadi problematika. Ulysses Klaue (Andy Serkis) adalah pihak luar yang ingin mencuri vibranium, tapi ancaman terbesar selalu berasal dari dalam.
Datanglah Erik “Killmonger” Stevens (Michael B. Jordan) demi merebut tahta T’Challa sekaligus bergabung bersama Loki, Baron Zemo, dan Vulture di jajaran villain terbaik MCU. Mampu ia jatuhkan T’Challa ke titik terendahnya, satu hal yang tidak semua villain bisa lakukan pada pahlawan super. Pun terdapat alasan personal sehingga Erik Killmonger tak semudah itu diklasifikasikan sebagai “orang jahat”, di mana pertemuan dengan sang ayah memberi momen personal yang memantapkan pondasi penokohan itu. Saat Chadwick Boseman adalah Raja yang meneduhkan, maka Michael B. Jordan menjadi ekstrimis berapi-api. Keduanya karismatik.

Mengusung gesekan ideologi bernuansa politis, wajar tatkala Black Panther tanpa injeksi humor sebesar mayoritas film MCU, meski balutan komedi tetap hadir dalam takaran secukupnya. Apa jadinya film positif nan penuh harapan macam Black Panther jika tidak dibarengi tawa? Naskah tulisan sutradara Ryan Coogler bersama Joe Robert Cole mungkin bukan naskah dengan alur revolusioner, bahkan cenderung repetitif. Tapi kekurangan itu ditebus lewat dialog kaya subteks soal ras, politik, hingga budaya.
Bicara mengenai budaya, suasana afrofuturism milik Black Panther jelas salah satu penataan artistik terbaik dalam film pahlawan super. Kostum beraneka warna berbalut desain unik, beberapa upacara adat, bahkan pesawat milik T’Challa menyerupai topeng suku-suku di Afrika. Peleburan sisi tradisional dan modernnya berjalan sempurna. Wakanda melestarikan budaya tanpa menutup pintu akan perkembangan teknologi, seperti diwakili oleh Shuri (Letitia Wright), adik T’Challa yang memfasilitasi Ryan Coogler menyuntikkan rasa James Bond ke dalam Black Panther.

Sayangnya Coogler belum terlalu ahli merangkai adegan aksi. Tampak jelas kala klimaks medioker berbalut CGI ala kadarnya berlangsung. Tapi itu pun dikarenakan deretan aksi yang mendahuluinya jauh lebih superior: Kejar-kejaran di jalanan Korea yang melibatkan senjata futuristik hingga pertarungan memperebutkan tahta di samping air terjun yang kental keindahan budaya termasuk musik nuansa Afrika buatan Ludwig Göransson. Semua hal dalam Black Panther, entah musik, kostum, atau penghormatan ala Wakanda bakal membuat black culture lebih terdengar bahkan terlihat keren di mata publik. Apa saya sudah menyebut kalau film ini turut meninggikan para wanitanya yang demikian tangguh? Sungguh sebuah representasi penting.