Tampilkan postingan dengan label Rachel Bloom. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rachel Bloom. Tampilkan semua postingan
TROLLS WORLD TOUR (2020)
Rasyidharry
Film acap kali jadi media
eskapisme, bahkan—walau tak seberapa sering—bisa memunculkan harapan. Pada
kondisi biasa, Trolls World Tour mungkin
hanya sekuel kelas dua yang tak terlalu dinantikan, dari film yang empat tahun
lalu sukses mengumpulkan $346 juta. DreamWorks juga menurunkan biaya
produksinya dari $125 juta menjadi $90 juta. Sampai terjadi pandemi corona yang
mengguncang industri perfilman dan memaksa judul-judul high profile menunda penayangan.
DreamWorks menempuh jalur lain. Trolls World Tour langsung dilempar ke
pasaran lewat media digital. Mendadak, ia pun menjadi salah satu film
terpenting tahun ini. Film yang membawa keceriaan agar penonton bisa sejenak
teralih dari dunia yang kelam. Film yang memberi harapan, bahwa industri masih
memiliki opsi untuk bisa bertahan, atau malah berevolusi mengikuti perubahan
zaman.
Tidak ada maskot yang lebih pas
dari Trolls World Tour, dengan banjir
warna-warni, hujan glitter, serta visual imajinatif miliknya. Kisahnya membawa
kita mengikuti keadaan pasca film pertama, sekaligus mengintip sejarah bangsa trolls
di masa lalu. Alkisah, ternyata ada enam jenis Trolls yang menyukai genre musik
berbeda-beda. Bersama mereka ada enam buah senar yang mewakili tiap jenis
musik, dan bila disatukan bakal menghasilkan kekuatan luar biasa. Masalahnya,
perbedaan selera menciptakan perpecahan, sehingga keenam trolls memilih hidup
terpisah, dengan masing-masing membawa sehelai senar.
Kini datanglah Barb (Rachel Bloom),
Ratu dari klan Hard Rock Trolls, yang ingin menguasai semua senar, guna
menyatukan semua Trolls di bawah naungan tunggal musik rock. Sebagai Ratu dari
Pop Trolls, Poppy (Anna Kendrick) menolak tinggal diam. Dibantu beberapa
temannya, termasuk Branch (Justin Timberlake) yang diam-diam menaruh rasa
padanya, Poppy mengunjungi satu per satu klan Trolls, untuk memperingatkan
mereka tentang niat jahat Barb.
Tentu saja perjalanan Poppy cuma
alasan yang dibuat tim penulis naskah, agar filmnya dapat menampilkan sebanyak
mungkin jenis musik dan trolls. Selepas pertemuan dengan Country Trolls yang
dipimpin Delta Dawn (Kelly Clarkson), substansi road trip-nya mulai bisa dipertanyakan. Tapi tak perlu
dipermasalahkan. Cukup nikmati alunan musik beraneka genre, yang ditemani
deretan desain karakter dan konsep dunia unik, dalam kekayaan visual garapan
sutradara Walt Dohrn yang makin menunjukkan pesonanya tiap sebuah musik
dimainkan.
Wilayah Hard Rock Trolls berantakan
dan didominasi warna hitam, Classical Trolls terkesan surgawi, Pop Trolls penuh
warna, dan sebagainya. Menarik melihat bagaimana tim artistik Trolls World Tour menyulap elemen
stereotipikal jadi pemandangan imajinatif, yang selain memuaskan mata, turut
berguna memperkuat komedi, yang banyak menghantarkan tawa lewat humor-humor bertema
musik. Bukan banyolan intelektual sarat referensi, melainkan kekonyolan,
misalnya saat Guy Diamond (Kunal Nayyar) si troll bertubuh glitter bersuara auto-tune, yang “melahirkan” Tiny
Diamond (Kenan Thompson), troll hip-hop yang walau masih bayi, penuh gaya dan punya
suara berat.
“Itu bukan musik” adalah tanggapan
Barb mengenai gaya digital techno dan ketiadaan lirik dalam gaya classical. Sementara Poppy berkata, “They must not know that music supposed to
makes you happy. That’s awful.”, selepas mendengar lantunan sendu para
Country Trolls. Sindiran-sindiran menggelitik tentang eksklusivitas yang dianut
penggemar musik, khususnya para snob (apa pun genrenya), adalah kandungan
paling menarik dalam cerita filmnya. Lebih menarik dan tajam dibanding pesan
klise seputar “musik berasal dari hati kita” yang mengisi klimaksnya.
Meski tidak mempunyai lagu orisinal
se-catchy Can’t Stop the Feeling, dan
niatan menyatukan semua musik di momen puncaknya tak berlangsung mulus akibat
masih terlalu condong ke arah pop ketimbang menegaskan kekuatan tiap genre, barisan
lagu-lagu film ini tampil bak playlist variatif
nan asyik (selama anda bukan snob), yang memberi ruang bagi penggemar musik
tertentu, termasuk smooth jazz, hip-hop,
pula K-Pop, yang (seperti saya), dipuaskan oleh kemunculan singkat girl group Red Velvet lewat lagu Russian Roulette (selain Zimzalabim yang dipakai mengiringi trailer-nya).
Alurnya memang tidak padat, dan
mencapai pertengahan, gelaran warna-warninya sempat terasa repetitif. Otak saya
tidak terstimulus atau mendapat asupan yang dianggap “bergizi”, namun begitu
film usai, muncul senyuman, dan hati ini terasa lebih ringan, karena keceriaan
dan warna-warna belum sepenuhnya lenyap dari dunia.
Available on AMAZON PRIME VIDEO (US Region)
April 11, 2020
Animated
,
Anna Kendrick
,
Justin Timberlake
,
Kelly Clarkson
,
Lumayan
,
Rachel Bloom
,
Red Velvet
,
REVIEW
,
Walt Dohrn
THE ANGRY BIRDS MOVIE 2 (2019)
Rasyidharry
Receh. Itu respon umum yang akan
muncul selepas menonton The Angry Birds
Movie 2, sebuah film di mana dalam kepala para penulis, yang terdiri dari
Peter Ackerman (Ice Age), Jonathon E.
Stewart , dan Eyal Podell, tak pernah terbersit keinginan tampil pintar apalagi
serius, dengan menyusun komedinya atas situasi absurd, seperti saat seekor burung
kecil menggelembung, terbang bak balon hingga melewati atmosfer, bertabrakan
dengan satelit, sementara Space Oddity milik
David Bowie mengiringi.
Itu cuma satu dari banyak perbedaan
sekuel ini dibading pendahulunya. Berbeda dari film pertama yang setia
mengikuti sumber adaptasinya ketika humor, aksi, maupun cerita dibuat mengacu
pada gameplay, The Angry Birds Movie 2
memilih rute lain, yang menunjukkan usaha menghindari repetisi.
Bagian awalnya masih familiar.
Setelah peristiwa di film pertama, Red (Jason Sudeikis) tak lagi dikucilkan,
malah dielu-elukan sebagai pahlawan. Berkatnya, penghuni Bird Island menemukan
metode transportasi baru menggunakan ketapel. Dan rutinitas di sana pun tetap
sama, yakni perang prank antara
burung melawan babi, di mana Red bersama Chuck (Josh Gad) dan Bomb (Danny
McBride) bertindak selaku pelindung pulau.
Tapi, serupa gimnya, pulau baru “terbuka”.
Leonard (Bill Hader) si raja kaum babi, menemukan pulau ketiga. Sebuah pulau
bernama Eagle Island yang dipimpin oleh Zeta (Leslie Jones). Zeta berambisi
menguasai dua pulau lain dengan cara menembakkan bola es raksasa, sebab ia
lelah tinggal di tempat beku. Karena semua air menjadi es batu, ia tidak bisa
berenang mandi, sikat gigi, bahkan kesulitan menyantap makanan.
Kehadiran musuh bersama tersebut
memaksa para burung dan babi bersatu menjalankan misi heist yang tak melibatkan aktivitas terbang memakai ketapel.
Kalimat di atas rasanya cukup memberi gambaran bagaimana The Angry Birds Movie 2 sejatinya merupakan adaptasi lepas.
Tidak ketinggalan pula beberapa
subplot. Pertama soal ketakutan Red, bahwa jika ia kehilangan status pahlawan,
orang-orang akan meninggalkannya lagi. Alhasil Red merasa terancam saat Silver
(Rachel Bloom), burung jenius yang canggung dalam kehidupan sosial yang
kebetulan juga adik Chuck, bergabung dalam tim. Sepanjang mayoritas durasi, Red
adalah sosok egois menyebalkan yang bersedia mempertaruhkan keselamatan burung
lain demi urusan pribadi. Saya pun mendapat kepusan sewaktu akhirnya Red
menyadari kekeliruan itu, lalu mengakui jika Silver jauh lebih mampu.
Subplot lain melibatkan petualangan
Zoe (Brooklynn Princne) beserta dua temannya guna menyelamatkan telur adik-adik
Zoe yang mereka hilangkan kala bermain. Awalnya, subplot ini bagai kisah Scrat
di Ice Age (bukan kejutan mengingat
keberadaan Peter Ackerman) yang tak punya kaitan dengan alur utama, sebelum
dipaksa terkoneksi, sebagai sebuah solusi terlampau mudah bagi konflik di
klimaks. Walau menjadi “alat plot” yang buruk, perjalanan tiga burung kecil
menggemaskan (tapi bisa pula bersikap ganas) ini berjasa menyajikan deretan humor
paling segar, paling lucu, paling kreatif, dan tentunya paling receh di film
ini.
Di samping Space Oddity, The Angry Birds
Movie 2 memang memiliki beragam koleksi lagu dari berbagai genre (Eye of the Tiger, Baby Shark,Turn Down for
What) yang menghibur indera pendengaran, meski kerap membuat filmnya bagai
jukebox, tatkala seringkali, begitu sebuah lagu berakhir—setelah hanya diputar
secara singkat—lagu lain langsung menyusul seketika.
Tanpa ketapel, aksi macam apa yang
ditawarkan? Pada dasarnya masih di area slapstick
klise bertempo cepat, namun klimaksnya berhasil memunculkan kepuasan lewat
penebusan bagi premis soal bersatunya burung dan babi. Berkat pengarahan
sutradara debutan Thurop Van Orman yang bertenaga, babak finalnya menyenangkan
dan memuaskan, sebagaimana keseluruhan The
Angry Birds Movie 2 yang enggan pasrah terjangkit penyakit khas sekuel,
yaitu kemalasan.
Agustus 19, 2019
Animated
,
Bill Hader
,
Brooklynn Prince
,
Danny McBride
,
Eyal Podell
,
Jason Sudeikis
,
Jonathon E. Stewart
,
Josh Gad
,
Leslie Jones
,
Lumayan
,
Peter Ackerman
,
Rachel Bloom
,
REVIEW
,
Thurop Van Orman
Langganan:
Postingan
(
Atom
)



