REVIEW - THE WHITE TIGER
Sewaktu kecil, Balram (Adarsh Gourav) diibaratkan sebagai harimau putih. Karena sebagai bocah miskin dari daerah kumuh di Laxmangarh, Balram yang pandai membaca juga berbahasa Inggris, adalah "makhluk langka". Selang beberapa tahun, seperti apakah nasib Balram dewasa? Rupanya sama seperti kebanyakan orang miskin dari kasta rendah, ia menjadi pelayan yang setia menjalankan perintah majikan, kemudian tersenyum bahagia setiap merampungkan sebuah tugas, layaknya anjing yang mengibaskan ekor sembari menjulurkan lidah ketika empunya berkata, "good boy".
Mengadaptasi novel berjudul sama karya Aravind Adiga, The White Tiger menyentil perihal privilege. Bagaimana si kaya punya opsi untuk gagal sementara si miskin wajib berhasil di segala kesempatan. Bagaimana tidak peduli sepintar apa pun, mimpi-mimpi bakal terus terbentur jurang kemiskinan. Menariknya, film dibuka dengan memperlihatkan Barlam yang telah sukses sebagai pebisnis. Pertanyaan "Jalan apa yang Barlam tempuh hingga bisa keluar dari jurang kesengsaraan?", membuat alur non-linear miliknya, mampu secara efektif menjaga atensi penonton. Tidak mudah menebak, sebuah peristiwa akan membawa kisahnya bergerak ke mana.
Kesempatan pertama Balram datang, sewaktu ia diterima menjadi sopir Ashok (Rajkummar Rao), putera bungsu "The Stork" (Mahesh Manjrekar) sang tuan tanah di Laxmangarh. Berbeda dengan ayahnya yang bertindak semena-mena, memeras rakyat kecil melalui pajak, serta rutin membayar para politisi demi melancarkan bisnis, Ashok adalah pria jujur nan murah hati. Konon, semua berkat pengaruh ideologi yang didapatkan saat ia tinggal di Amerika Serikat. Di sanalah Ashok bertemu istrinya, Pinky (Priyanka Chopra Jonas).
Ashok dan Pinky bersikeras agar Balram tak memperlakukan mereka sebagai majikan berkasta lebih tinggi, walau jurang perbedaan tersebut sesungguhnya begitu menganga, baik yang ditampilkan oleh penampilan, pola pikir, juga gerak-gerik. Rao dengan setelan jas tampak berkharisma. Sewaktu ia merokok di kursi penumpang, figurnya memperlihatkan sosok si kaya yang bisa menikmati setiap detik kehidupannya. Sebaliknya, Gourav pun meyakinkan sebagai pelayan yang gemar mengumbar senyum, dan menyetujui seluruh perkataan sang majikan. Entah karena dia tidak tahu apa-apa, atau selaku usaha "menjilat".
Awalnya The White Tiger terkesan hangat, namun ini bukan kisah heartful mengenai persahabatan dua individu beda kelas. Naskah buatan sutradara Ramin Bahrani (At Any Price, 99 Homes) segera menelanjangi realita. Realita bahwa para pemegang kekuatan (dan kekayaan) punya kecenderungan memalsukan kebaikan hati. Ada yang memasang topeng guna menarik hati rakyat jelata, misalnya saat kita mendapati jika politkus idola kaum akar rumput yang dijuluki The Great Socialist (Swaroop Sampat), nyatanya tidak kalah kotor dalam bermain.
Tapi ada pula golongan borjuis dengan standar ganda. Majikan Balram masuk kategori ini, pasca terjadinya suatu insiden, yang membuktikan bahwa ujung-ujungnya, si miskin bakal jadi tumbal si kaya. Golongan kedua ini tak kalah berbahaya. Walau seolah bersikap baik, begitu terancam, mereka tidak segan menampakkan wajah asli.
Apakah sepenuhnya salah si kaya? Di mayoritas kesempatan, ya, tetapi The White Tiger bersikap adil. Rakyat kelas bawah juga bisa jadi sumber masalah, sebagaimana terlihat sewaktu nenek Balram (Kamlesh Gill) bukan saja memaksa cucunya menikah, pula mengambil hampir semua gaji bulanannya. Egoisme, keserakahan, tendensi mengatur hidup orang lain. Nyatanya sifat alami tersebut ada dalam diri setiap manusia, tidak peduli seberapa tebal kantongnya.
Babak akhir filmnya agak bermasalah, berlangsung terburu-buru, bagai epilog singkat yang dipaksa merangkum konklusi bagi suatu perjalanan panjang. Tapi kelemahan di penghujung durasi itu tidak sampai merusak The White Tiger, yang berkat penceritaan dinamis Ramin Bahrani, tak sedikitpun menyisakan ruang bagi rasa bosan.
Available on NETFLIX
REVIEW - LUDO
Pernah merasa
hidup anda dipenuhi takdir-takdir misterius, seolah Tuhan sedang bermain gim di
mana manusia merupakan bidaknya? Film antologi yang disutradarai sekaligus
ditulis naskahnya oleh Anurag Basu ini, menerjemahkan situasi tersebut secara
metaforikal, mengibaratkannya sebagai permainan Ludo, di mana para pemain
menggerakkan bidak-bidak dalam perjalanan menuju ke “rumah”.
Ludo memiliki empat
segmen yang saling terkoneksi secara tak terduga, layaknya suratan takdir yang
aneh. Penghubung tiap segmen adalah obrolan dua pria. Satu berpakaian hitam
selaku perwujudan Yamraj (Anurag Basu), satunya berpakaian putih selaku
perwujudan Chitragupta (Rahul Bagga). Keduanya mengawasi seluruh kejadian,
sembari bermain Ludo dan membicarakan soal kehidupan, kematian, serta takdir.
Sebagaimana sebuah
dadu, Sattu (Pankaj Tripathi), seorang gangster paling ditakuti yang dianggap
tidak bisa mati, menentukan nasib semua bidak. Pun serupa Ludo, masing-masing
cerita direpresentasikan oleh warna. Sisi merah adalah cerita Bittu (Abhishek
Bachchan), mantan tangan kanan Sattu, yang baru keluar dari penjara saat mendapati
mantan istrinya sudah menikahi pria lain, sementara puterinya yang masih kecil
menganggap pria itu sebagai ayah kandungnya.
Di sisi kuning ada
Akash (Aditya Roy Kapur) dan Shruti (Sanya Malhotra), yang berusaha mencari
pelaku penyebaran video seks mereka, sebelum calon suami Shruti mengetahuinya,
sebelum pernikahan yang tinggal hitungan hari. Rahul (Rohit Suresh Saraf) ada
sisi biru. Setelah tidak sengaja menyaksikan pembunuhan yang dilakukan oleh
Sattu, ia dan seorang perawat bernama Sheeja (Pearle Maaney), malah berpeluang
mendapatkan harta yang disembunyikan oleh gang Sattu. Terakhir adalah sisi
hijau, yang mengisahkan soal penjahat kampung bernama Alu (Rajkummar Rao), yang
rela mengorbankan segalanya demi Pinky (Fatima Sana Shaikh), termasuk
membebaskan suami sang pujaan hati yang dituduh melakukan pembunuhan.
Biarpun
masing-masing segmen punya konflik serta tone
berlainan, semuanya terhubung lewat benang merah, berupa perjuangan
karakternya memperbaiki hidup, di mana dalam tiap perjuangan, selalu diwarnai
ambiguitas moral, juga pengorbanan demi orang-orang tercinta. Semua karakter
melakukan kekeliruan, bahkan kriminalitas, baik bersifat kecil maupun besar
(pembunuhan). Tapi begitu menyentuh konklusi, akan sulit menetapkan mana benar
dan salah. Apalagi jika dibenturkan dengan bahasan religiusitas. Siapa pantas
masuk surga? Siapa yang mesti berakhir di neraka?
Ludo bakal mengingatkan
pada deretan hyperlink cinema bertema kriminalitas (saya yakin banyak komentar
terkait fillm ini menyebut nama Quentin Tarantino dan Pulp Fiction), namun selipan religiusitas tadi memberinya identitas
tersendiri, yang hanya bisa dilahirkan sineas India. Merangkai antologi,
apalagi ditambah gaya hyperlink, di
mana setiap segmen saling berkaitan langsung dalam struktur alur multilinear, tentu
bukan perkara gampang. Walau akhirnya kerap membuat dampak emosi tidak sekuat
harapan, Anurag Basu sanggup menciptakan ikatan luar biasa rapi di naskahnya. Meski
diisi begitu banyak tokoh serta konflik, tidak sulit memahami alur penuh
konflik, twist, dan koneksi-koneksi
tak terduga milik filmnya.
Satu elemen
berisiko adalah terkait penggambaran karakter wanita, yang hampir seluruhnya
merupakan sosok oportunis yang enggan memedulikan perjuangan sang pria, bahkan
memanfaatkan itu sebagai alat manipulasi. Sebaliknya, obsesi karakter prianya
diglorifikasi sebagai bentuk heroisme. Apakah Anurag Basu pernah disakiti
sedemikian parah oleh seorang wanita? Beruntung, konklusinya mampu dibawa ke
ranah heartful, dalam penutup
memuaskan penuh haru yang mempresentasikan buah manis atas perjuangan demi
cinta. Baik cinta bagi pasangan, atau keluarga sebagaimana kisah mengenai
Bittu, yang hadir begitu kuat hingga pantas dijadikan film panjang tersendiri.
Berdurasi 150
menit, Ludo memang berlangsung agak
terlalu panjang akibat beberapa perhentian tak perlu, namun berkat penceritaan
mulus Anurag Basu, pula performa memikat ensemble
cast-nya (Abhishek Bachchan si “pria bermuka preman berhati Hello Kitty”
dan Pankaj Tripathi si gangster intimidatif jadi dua penampil paling berkesan),
tidak satu momen pun dari Ludo terasa
membosankan.
Available on NETFLIX





