Tampilkan postingan dengan label Ruth Marini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ruth Marini. Tampilkan semua postingan

REVIEW - PENYALIN CAHAYA

"Kita cuma punya cerita". Teriris hati saya mendengar kalimat tersebut, yang muncul di paruh akhir Penyalin Cahaya. Berkedok praduga tak bersalah, masyarakat kita masih demikian sulit memercayai cerita korban pelecehan seksual. Benar bahwa cerita dapat dipalsukan, namun bukankah bukti pun sama, baik keberadaan maupun ketiadaannya? Mengapa sesulit itu memegang prinsip "percaya korban lebih dulu"? Minimal dengan tidak menghakiminya, menuduhnya berbohong, bahkan menyudutkannya lewat pernyataan, "Salah siapa perilakumu/pakaianmu begitu!". 

Sur (Shenina Cinnamon) mengalami hal-hal di atas. Pasca sebuah pesta perayaan kemenangan kelompok teater tempatnya menjadi pembuat situs web, hidup Sur runtuh dalam semalam. Swafoto yang ia ambil saat mabuk dianggap perbuatan tak bermoral sehingga beasiswanya dicabut. Dia pun diusir dari rumah dan terpaksa menumpang di tempat Amin (Chicco Kurniawan), sahabat sekaligus tukang fotokopi di kampusnya.

"Moralmu buruk". "Harusnya kamu tidak mabuk". "Jangan sampai masalah ini diketahui pihak luar. Reputasi kampus dan teater bisa terancam". "Mari selesaikan masalah ini secara kekeluargaan". Deretan kalimat andalan para enabler pelecehan seksual negeri kita tercinta ini secara bergantian membombardir telinga si protagonis. Sur yakin ia dijebak, tapi hampir semua pihak menolak percaya terhadap ceritanya. Cuma Amin dan Anggun (Dea Panendra) si sutradara teater yang bersedia mengulurkan bantuan. 

Di sekuen pembuka, kelompok teater Sur mementaskan cerita Medusa, yang sosoknya identik dengan kebengisan. Tapi jika menilik detail mitologinya, Medusa merupakan korban pemerkosaan Poseidon, yang lalu diantagonisasi, dicap sebagai pendosa. Sur, dan para korban pelecehan lain terutama wanita, tak ubahnya Medusa. 

Wujud kreativitas eksplorasi naskah buatan sang sutradara, Wregas Bhanuteja, dan Henricus Pria, terlihat kala Sur menyelidiki kebenaran peristiwa malam itu. Investigasi Sur menggiring Penyalin Cahaya bergerak ke ranah misteri, di mana penonton dibuat bertanya "siapa" dan "apa". Kecurigaan mengarah ke Tariq (Jerome Kurnia) yang digambarkan sebagai "si brengsek dalam tim". Tapi benarkah? Atau justru ada musuh dalam selimut? 

Muncul banyak kejutan sepanjang 129 menit durasinya, namun bukan bersifat gimmick belaka. Utamanya, kejutan-kejutan itu memfasilitasi tuturan tentang topeng yang manusia kenakan guna mengikuti tuntutan-tuntutan sosial, juga perihal privilege. Mengingat mayoritas pelaku pelecehan seksual adalah pria, dan bagaimana kultur negeri ini cenderung menguntungkan pria apalagi jika memiliki harta serta kuasa, poin terkait privilege tadi menekankan kenapa memercayai cerita korban itu penting. 

Tapi Penyalin Cahaya tidak menutup mata bahwa pria bisa jadi korban. Persoalan itu turut disinggung, bersama setumpuk isu lain yang tetap terhubung pada kasus pelecehan seksual, dari kesehatan mental hingga kesenjangan kelas serta ekonomi. Jadilah film ini suguhan kaya, ramai, rapi juga padat. Sangat rapi, anda bakal lupa bahwa sutradara dan penulis naskahnya baru menjalani debut film panjang mereka. 

Satu unsur penceritaan yang paling membekas, tajam, sekaligus berani adalah mengenai seni. Seni kerap jadi kedok para pelaku. "Semua atas nama seni", begitu kiranya kata-kata seniman untuk menutupi kebiadaban mereka. Seni yang mestinya jadi sarana menghidupkan jiwa, malah sering mematikan jiwa. Kebebasan berekspresi disalahartikan. Berani, karena tak semua sineas bersedia menyentil ekosistem mereka sendiri. Saya menaruh hormat pada segenap tim Penyalin Cahaya atas keberanian tersebut.

Dibarengi tata artistik mumpuni, khususnya konsistensi luar biasa dalam dominasi warna hijau di berbagai departemen (properti, kostum, cahaya), Wregas membawa sinema alternatif ke titik maksimal, sebagai medium di mana presentasi rasa dipercantik, bukan dilebih-lebihkan atau ditahan. Jijik, sedih, dan marah, adalah emosi-emosi yang menguasai. Jijik melihat korban dipersalahkan, sedih melihatnya merana, marah mendapati korban disudutkan seisi dunia. 

Kekuatan emosi Penyalin Cahaya tentu tidak terlepas dari jajaran pemain, yang merupakan salah satu ensemble cast film Indonesia terbaik dalam beberapa tahun terakhir. Ruth Marini sebagai ibu Sur bakal menguras air mata anda di adegan "sepeda motor", Lukman Sardi sebagai ayah Sur menyulut amarah kita melalui letupan-letupannya, Jerome Kurnia yang menyuguhkan kompleksitas, Dea Panendra dengan perangai "peduli setan" miliknya, Giulio Parengkuan yang sempat membuat saya membeku di salah satu momen, Chicco Kurniawan yang bukan lagi si pemuda lembut nan canggung sebagaimana kerap ia perankan, sampai Lutesha sebagai Farah dengan sisi misteriusnya.

Memimpin ensemble cast di atas adalah Shenina. Teriakannya, tangisnya, keterkejutan serta kebingungan yang berkembang jadi keputusasaan, segala hal darinya mencabik-cabik perasaan. Wregas tahu betul kehebatan sang aktris, sehingga beberapa kali close-up diterapkan. Tubuh saya bergetar kala Shenina menatap lurus ke arah kamera. 

Lalu tibalah babak konklusi. Tidak seperti para pelaku power abuse di film ini, Wregas memanfaatkan kuasanya sebagai seniman. Figur "pencipta" yang bisa melahirkan dunia versinya. Apabila dunia nyata belum juga memihak korban, maka "dunia Wregas" memberi mereka ruang bersuara, memberi mereka kekuatan, memberi mereka sebersit cahaya untuk disalin, dibagikan, kemudian dipancarkan sebagai wujud harapan. 

(JAFF 2021)

WIRO SABLENG: PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212 (2018)

Saya bukan pembaca novel Wiro Sableng karya Bastian Tito yang konon berjumlah 183 judul, pun memori akan serialnya sedikit buram karena usia yang masih terlalu muda untuk memproses secara lengkap, walau serupa bocah-bocah yang tumbuh di era 90an, lagu temanya amat menancap di kepala. Tapi saya gemar membaca komik termasuk manga. Ketika sederet karakter berpenampilan kerena dengan kemampuan tak kalah keren berkumpul, bertarung bersama dalam satu pertempuran dahsyat, walau beberapa dari mereka muncul di saat yang terlalu tepat pula tanpa motivasi jelas kecuali memeriahkan suasana, saya sudah dibuat kegirangan. Itulah inti film Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212.

Kita bertemu si A, B, C, berkesempatan menyaksikan mereka adu ilmu meski kepribadian mereka tak pernah benar-benar kita tahu. Setidaknya kita tahu tentang Wiro (Vino G. Bastian) dengan masa lalu tragis yang tergambar di adegan pembuka tatkala melihat langsung Mahesa Birawa (Yayan Ruhian) membantai kedua orang tuanya. Selama 17 tahun berikutnya, Wiro ditempa oleh Sinto Gendeng (Ruth Marini) yang mewariskan ilmu silat 212 beserta kapak maut naga geni miliknya. Demikian pula Vino, meneruskan warisan sang ayah memerankan si pendekar sableng dengan baik. Bersikap bak bocah gila, Vino bertukar canda bersama Ruth Marini, yang meski ditutupi riasan tebal, mampu menyelipkan emosi, di luar tentunya kegendengan menggelitik. Interaksi Wiro-Sinto selalu berhasil memancing tawa.

Sinto Gendeng menugaskan muridnya memburu Mahesa Birawa tanpa memberi tahu bahwa dialah pembunuh orang tuanya, sebab fakta itu bakal menyulut nafsu balas dendam yang menggiring pendekar menuju kegelapan. Sebuah poin, yang oleh trio penulis naskahnya: Sheila Timothy (juga selaku produser), Tumpal Tampubolon (Tabula Rasa, Rocket Rain), dan Seno Gumira Ajidarma (Pendekar Tongkat Emas), dijadikan pesan filosofis yang memang wajib tersimpan dalam film martial arts.

Sepanjang perjalanan, Wiro bertemu sekumpulan tokoh-tokoh unik seperti Dewa Tuak (Andy /rif) serta muridnya, Anggini (Sherina Munaf), Bujang Gila Tapak Sakti (Fariz Alfarazi), dan Marsha Timothy sebagai Bidadari Angin Timur yang demikian glamor layaknya penghuni kahyangan dalam balutan gaun rancangan Tex Saverio. Akhirnya tidak ada satu pun dari nama-nama tadi yang bisa kita tinjau lebih dalam karakterisasinya, namun mereka sanggup menghadirkan interaksi hidup dengan pahlawan kita, sehingga di sela-sela aksi pun hiburannya tetap berjalan lancar.

Senang mendapati di dalam ambisi menciptakan blockbuster raksasa yang digarap luar biasa serius, film ini tidak bersikap “sok serius” saat bertutur. Karena di antara memori-memori buram di kepala, satu hal yang saya ingat pasti terkait serial Wiro Sableng adalah elemen kerasnya dunia persilatan dan kejenakaan yang saling mengisi dan berpadu mulus. Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 terbukti menghormati warisan pendahulunya, dengan contoh terbaik pada satu adegan ketika satu sosok familiar muncul sementara musik yang tak kalah familiar turut mengalun di belakang.

Yayan Ruhian adalah Mahesa Birawa, pemimpin sekelompok bandit yang berencana merebut tampuk kekuasaan dari Raja Kamandaka yang diperankan Dwi Sasono, yang melafalkan kalimat menggunakan suara tenggorokan layaknya Christian Bale sebagai Batman, sebagai usaha menjauhkan cap “komedian”. Bukan saja berakting, Yayan turut memegang posisi pengarah laga, memastikan setiap baku hantam terjalin dinamis. Beruntung, biarpun ini merupakan satu langkah mengejar pencapaian Hollywood, Angga Dwimas Sasongko (Filosofi Kopi, Surat dari Praha, Bukaan 8) urung terjangkit penyakit banyak film aksi produksi mereka yang menerapkan quick cut plus shaky cam overdosis. Kamera Ipung Rachmat Syaiful (Kala, Janji Joni, Surga yang tak Dirindukan 2) bergerak seperlunya, menangkap cukup jelas tiap jurus para pendekar. Sayang, satu kelemahan justru bertempat pada satu pukulan pamungkas yang mengakibatkan puncak pertarungan berakhir antiklimaks.

Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 telah memancing obrolan ketika 20th Century Fox melalui bendera Fox International Productions turut serta memproduksi filmnya. Alhasil biaya sebesar US$ 3 juta atau sekitar Rp 44 miliar pun didapat. Angka yang besar bagi kita, namun tergolong mikro pada lingkup Hollywood (that’s even smaller than “The Raid 2: Berandal”), sehingga kurang bijak apabila berharap parade CGI sekelas blockbuster seharga ratusan juta dollar. CGI diterapkan tepat guna, memperlihatkan hasil mumpuni terlebih kala membungkus beragam jurus, dengan salah satu momen paling menarik saat Kala Hijau (Gita Arifin) terjun ke medan pertempuran. Tapi elemen visual Wiro Sableng bukan sebatas CGI. Departemen artistiknya, dari dekorasi istana selaku panggung klimaks yang berkilauan hingga tata busana yang berjasa mengkreasi tokoh-tokoh berpenampilan ikonik, amat memuaskan mata. Terima kasih pada Adrianto Sinaga (Ada Apa dengan Cinta?, Tusuk Jelangkung) dan tim.

Gangguan justru diciptakan tata suaranya. Musik garapan Aria Prayogi (dwilogi The Raid, Killers, Headshot) berusaha terdengar bombastis, dan ya, gempuran perkusinya sanggup menghadirkan intensitas di berbagai momen laga, tapi sewaktu bertemu celetukan-celetukan karakternya, terjadi perlombaan berat sebelah melawan kalimat yang aktornya ucapkan. Kalimat-kalimat yang kerap tenggelam, sulit dicerna, memaksa saya mengandalkan subtitle Bahasa Inggris guna memahami dialog Bahasa Indonesia.

Jadi begitulah. This isn’t a great movie, but definitely a highly entertaining one. Hiburan yang memahami cara memancing tawa, hiburan yang tahu bagaimana menciptakan suguhan, yang walau tak mendalam, tersaji nikmat, apalagi tatkala klimaksnya menempatkan nyaris seluruh karakter dalam pertarungan meski tak seluruhnya dipersatukan dalam satu frame dan beberapa di antaranya bertindak selaku deus-ex-machina. Pastinya, Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 telah membuka jalan blockbuster Indonesia melangkah ke tingkat lebih tinggi. Jangan segera beranjak dari tempat duduk begitu film usai, karena terdapat mid-credits scene yang menyiratkan musuh besar berikutnya, yang diperankan salah satu aktor terbesar Indonesia sekarang.