Tampilkan postingan dengan label Tya Subiakto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tya Subiakto. Tampilkan semua postingan
ARWAH TUMBAL NYAI THE TRILOGY: PART ARWAH (2018)
Rasyidharry
Mari sambut Arwah Tumbal Nyai The Trilogy: Part Arwah selaku film Indonesia
dengan judul paling membingungkan sejak Laskar
Pelangi Sekuel 2: Edensor (2013). Arwah
sendiri merupakan pembuka sebelum Tumbal dan
Nyai yang masing-masing dibintangi
Dewi Perssik dan Ayu Ting Ting ikut menyusul rilis tahun ini. Saya merasa patut
berterimakasih, karena tanpa film ini, saya takkan tahu kalau Zaskia Gotik
telah menjadi brand ambassador Go-Jek
lalu mengubah namanya menjadi Zaskia Gotix. Jangan kaget jika di film kedua ia
berganti nama lagi jadi Zaskia Go-Ride.
Digarap oleh sutradara spesialis
film ajaib, yaitu Arie Azis (Oops!! Ada
Vampir, Tali Pocong Perawan, The Secret: Suster Ngesot Urban Legend), Arwah mengisahkan seorang gadis bernama
Syurkiani (Zaskia Go-Car), yang untungnya tidak gemar beradegan syur, melainkan bermimpi ingin menari
jaipong seperti mendiang ibunya. Tapi rentetan kasus hilangnya para penari
jaipong secara misterius ditambah larangan sang nenek, Lela (Minati
Atmanegara), membuat impian Mbak Syur sukar terwujud.
Tapi Mbak Syur nekat, kemudian
memilih meminta diajari oleh Nyi Imas (Dewi Gita), yang tinggal di sebuah rumah
tua. Di rumah Nyi Imas pula terdapat kendang terkutuk yang apabila dipukul tiga
kali, bakal membangkitkan para hantu. Di sinilah naskah karya Aviv Elham (Tali Pocong Perawan, Alas Pati) mulai
menunjukkan kejeniusannya berlogika. Nyi Imas bersedia melatih Mbak Syur menari
jaipong asal Mbak Syur mau memukul kendang itu 3 kali. Pertanyaan bagi anda: Mbak
Syur ingin belajar jaipong, tapitak mau memanggil hantu. Jalan apa yang mesti
dia ambil agar 2 hal tersebut terpenuhi?
Apabila anda menjawab “pergi dari
sana, cari guru jaipong di kota lain”, maka SELAMAT, anda cukup pintar juga
waras. Sayang, Mbak Syur (dan penulis naskahnya) tidak sepintar itu. Karena
pantangannya adalah “JANGAN PUKUL KENDANG 3 KALI”, dia pun MEMUKUL KENDANG 4
KALI! Begini Mbak Syur, sebagai orang yang peduli pada sesama, beri saya
kesempatan untuk menjelaskan. Jika anda memukul kendang itu 4 kali, bukankah
artinya anda sempat memukulnya sebanyak 3 kali yang artinya hantu-hantu sudah keluar?
Selanjutnya, kebodohan demi
kebodohan elemen cerita menyusul bergantian. Tapi jangan khawatir. Bukan cuma itu
kehebatan film ini. Sebagaimana Dewi Perssik sebut di sebuah wawancara, ia
ingin trilogi ini menjadi bak trilogi “GOD
FATHER”. Peduli setan bahwa penulisan judul yang benar adalah “The Godfather”. Mungkin maksud Dewi,
keduanya sama-sama total. Apabila trilogi garapan Francis Ford Coppola itu
memukau di seluruh elemen, maka Arwah
Tumbal Nyai remuk di segala sisi.
Tata suaranya lebih berantakan
daripada arus lalu lintas Ibukota di jam pulang kantor. Karakternya bagai
bicara dari balik bantal sehingga sulit mencerna apa yang dikatakan. Apalagi
kalau kalimat itu diucapkan oleh Shakti Arora yang memerankan Shakti, kekasih
Mbak Syur. Orang bicara sambil kumur-kumur masih lebih jernih di telinga
ketimbang obrolan film ini. Sedangkan musik gubahan Tya Subiakto termasuk salah
satu scoring paling menyayat telinga
yang pernah saya dengar. Baru kali ini saya benar-benar menutup telinga karena tidak
kuat.
Tentu saja “musik” tersebut rutin
menemani deretan jump scare “asal
masuk” yang disusun Arie Azis. Jujur, Arwah
sejatinya diawali dengan cukup meyakinkan. Hantu tidak buru-buru
dimunculkan, dan waktu coba dimanfaatkan guna menuturkan kisahnya, walau apa
sebenarnya yang ingin dikisahkan tak pernah jelas. Sekitar 15-20 menit pertama
plus beberapa titik-titik berikutnya, Arie Azis nampak ingin membuat slow burning horror.
Ya, bukan saja The Godfather, Arie pun berusaha menciptakan Hereditary versinya, yang mengalun pelan, luar biasa pelan sampai
satu sekuen jump scare saja sempat
makan waktu 5 menit. Dari Mbak Syur terbangun akibat barang di kamarnya jatuh,
duduk di kasur, pelan-pelan berjalan ke arah barang itu, pelan-pelan
mengeceknya, pelan-pelan membuka pintu, pelan-pelan menutup pintu, pelan-pelan
menengok ke bawah kasur, dan berbagai “pelan-pelan” lain yang ditutup
menggunakan payoff antiklimaks kala
musik penyayat telinganya terdengar beberapa detik lebih cepat sebelum si setan
menampakkan wajah.
Melakoni debut akting layar
lebarnya, Zaskia Go-Pay masih luar biasa
canggung. Sewaktu dituntut berakting kaget akibat gangguan setan, Zaskia
Go-Massage malah bagai orang yang dikejutkan bunyi alarm. Satu-satunya hal yang
terlihat natural hanya ketika Zaskia Go-Food mencoba beberapa gerakan tari
jaipong. Akting sang aktris kaku sekaligus monoton, sama monotonnya dengan
gelaran alur yang berjalan memakai formula: Datang ke rumah Nyi Imas - Diusir - Menemukan misteri - Datang ke rumah Nyi Imas - Ulangi dari awal.
Semakin mencapai akhir, kekonyolan
alurnya makin dahsyat, sayangnya, begitu pula histeria penonton kebanyakan, yang
rupanya sangat terhibur menyaksikan Zaskia Go-Send terjebak dalam satu lagi “horor
berisik”. Fakta mengenaskan: Jumlah penonton Arwah pada hari pertama penayangan mengalahkan Aruna & Lidahnya juga Something
in Between, walau di antara ketiganya, film yang dibintangi Zaskia Go-Box
ini diberi jatah layar paling sedikit. Bukan salah bioskop, bukan salah Rapi
Amat, bukan salah Zaskia Go-Pulsa. Kita sebagai penonton yang perlu introspeksi.
September 29, 2018
Arie Azis
,
Aviv Elham
,
Ayu Ting Ting
,
Dewi Gita
,
Dewi Perssik
,
horror
,
Indonesian Film
,
Minati Atmanegara
,
REVIEW
,
Sangat Jelek
,
Shakti Arora
,
Tya Subiakto
,
Zaskia Gotix
AYAT-AYAT CINTA 2 (2017)
Rasyidharry
SPOILER ALERT: Fahri kembali menikah di sekuel ini. Melihat track record karakter yang diperankan Fedi Nuril dalam beberapa film religi, fakta tersebut bukan kejutan. Pertanyaannya, dengan siapa? Karena seperti film pertama saat ia diperebutkan Aisha, Maria, Noura sampai Nurul, Fahri masih pria mulia idola wanita. Sesungguhnya penokohan Fahri memang hanya tersusun atas dua kata: mulia dan idola. Pintar, kaya, dan tampan bisa disertakan, tapi tetap tidak menambah kedalaman. Fahri begitu sempurna, sisi manusiawinya nyaris lenyap.
Kini dia tinggal di Edinburgh, Skotlandia, hidup mapan sebagai dosen yang rutin menerima setumpuk hadiah makanan dari penggemar. Tapi hatinya urung tergoda, setia menanti Aisha yang hilang, diduga meninggal di Palestina. Alih-alih dibenamkan kesedihan, Fahri memilih membantu orang-orang tanpa pandang bulu, dari Nenek Catarina (Dewi Irawan dalam kepiawaian bermain rasa) yang seorang Yahudi hingga Keira (Chelsea Islan) yang menyalahkan umat Islam akibat kematian sang ayah. Bisa diduga, kebaikan Fahri layaknya magnet penarik cinta wanita. Hulya (Tatjana Saphira), sepupu Aisha yang hendak menempuh S2, Brenda (Nur Fazura), pengacara yang kerap dia tolong, Sabina (Dewi Sandra), imigran yang ia pekerjakan, semua jatuh hati. Pun menengok trailer-nya, kita tahu pada satu titik, kebencian Keira berubah jadi permohonan agar dinikahi.
Ketiadaan cela dalam diri Fahri menjadikan Ayat-Ayat Cinta 2 sebatas kumpulan episode yang merekam kebaikan-kebaikannya, menutupi gejolak batin soal upaya mengikhlaskan kepergian Aisha. Ini satu-satunya pertanda Fahri masih manusia. Dia menangis menyadari kesedihan pembentuk kelemahannya. Tapi sebelum beranjak menuju eksplorasi lebih jauh, masalah usai pasca obrolan singkat dengan sahabat lamanya, Misbah (Arie Untung). Fahri memperoleh pencerahan agar merelakan sang istri, mengikuti kata hati untuk menikah lagi. Mencapai film kedua, rupanya dilema Fahri tetap berkutat seputar menikah atau tidak.
Bahkan proses mencari keikhlasan itu berakhir sia-sia, karena melihat konklusi yang ditawarkan, Fahri justru makin terjebak di masa lalu. Belum lagi ditambah "keajaiban" medis serta keberadaan twist yang terkesan membohongi, paruh akhir Ayat-Ayat Cinta 2 cenderung memancing tawa daripada haru. Setidaknya bagi penonton umum seperti saya, sebab target pasar utama filmnya yaitu para akhwat pemuja Fedi Nuril terdengar berteriak histeris sembari berurai air mata. Saya memutuskan menahan tawa demi menghormati mereka, sebagaimana Ayat-Ayat Cinta 2 menghormati kelompok penonton yang punya perbedaan cara pandang.
Naskah buatan Alim Sudio dan Ifan Ismail mungkin dangkal mengkaji debat soal toleransi dalam Islam, termasuk mengenai perlakuan terhadap wanita yang dijawab seadanya. Namun jalan pikir film ini tak sesempit perkiraan Meski penempatannya kurang mulus, dialog tentang Pancasila menunjukkan filmnya coba menghargai keragaman. Tidak ada ceramah menggurui, dan itu patut diapresiasi. Tentu terdapat perbedaan ideologi, yang apabila dikeluhkan, saya sama saja dengan para fanatik yang membabi buta membela kepercayaannya.
Ayat-Ayat Cinta 2 bakal berhasil di pasaran, namun takkan mencapai tingkat fenomena setara film pertama yang dibekali setting perkampungan Kairo plus scoring bernuansa etnik garapan Tya Subiakto dan lagu-lagu ikonik yang dibawakan Rossa. Ditangani Guntur Soeharjanto, kemewahan dan kemegahan dipentingkan, membuat filmnya nampak terlalu mirip suguhan religi berlokasi luar negeri kebanyakan, sebutlah 99 Cahaya Di Langit Eropa yang juga karya Guntur. Suguhan religi berlokasi luar negeri dengan tokoh-tokoh Eropa atau Timur Tengah berwajah Indonesia dan fasih bicara Bahasa Indonesia.
Desember 22, 2017
Alim Sudio
,
Arie Untung
,
Chelsea Islan
,
Dewi Irawan
,
Dewi Sandra
,
Drama
,
Fedi Nuril
,
Guntur Soeharjanto
,
Ifan Ismail
,
Indonesian Film
,
Kurang
,
Nur Fazura
,
REVIEW
,
Romance
,
Tatjana Saphira
,
Tya Subiakto
NYAI AHMAD DAHLAN (2017)
Rasyidharry
Entah sudah berapa kali saya menuliskan perihal terlampau sibuknya film religi negeri ini berceramah sampai lupa akan esensinya sebagai film itu sendiri yang perlu memperhatikan tata penceritaan, naskah, akting, pun aspek sinematik lain. Walau banyak suguhan religi yang jauh lebih menggurui dalam tuturan pesannya, Nyai Ahmad Dahlan termasuk produk langka, di mana keseluruhan alur bagai kompilasi pesan agama yang disatukan. Naskah Dyah Kalsitorini (Surga Menanti) secara literal menjadikan tiap momen sebagai ceramah agama, seolah lupa sedang mengisahkan hidup seseorang. Sosok penting bernama besar, namun tetap manusia biasa dengan ragam persoalan.
Sejak momen pertama, Nyai Ahmad Dahlan langsung melempar gagasan mengenai hak semua orang, tak terkecuali wanita dan anak-anak memperoleh pendidikan umum serta Islam. Digambarkan pula, kesadaran atas problematika itu telah tumbuh dalam diri Walidah (Tika Bravani) sejak kecil. Menuruti permintaan kedua orang tuanya, dia menikahi KH Ahmad Dahlan (David Khalik) yang saat itu sudah terpandang sebagai pemuka agama. Nyai Walidah pun mulai dipanggil Nyai Ahmad Dahlan, wanita yang getol memperjuangkan hak wanita belajar mengaji, hingga mendirikan 'Aisyiyah selaku organisasi wanita pendamping Muhammadiyah.
Jangan dulu bicara tentang penceritaan, karena sedari awal ada poin yang tidak kalah mencuri perhatian, yakni tata suara. Musik garapan Tya Subiakto berwujud orkestra megah yang gemar menggelegar lalu mencapai klimaks beberapa menit sekali. Sedikit saja emosi karakter bergejolak atau tensi adegan meningkat, musik seketika memuncak. Tapi masalah utama bukan pada musik. Toh bila didengar terpisah, karya Tya enak didengar. Persoalannya di sound mixing. Tanpa sensitivitas, volume musik membesar bersamaan dengan meningkatnya tensi pembicaraan. Anda pernah kesulitan mendengar suara lawan bicara di tengah berlangsungnya konser musik dengan penonton yang riuh bernyanyi bersama? Begitulah kualitas suaranya.
Kembali ke jalannya cerita. Ketimbang memanusiakan Nyai Ahmad Dahlan beserta segala kelebihan dan kekurangan, naskahnya memposisikan sang titular character layaknya jukebox. Bedanya, bukan musik yang keluar melainkan kutipan ayat Al Qur'an, metafora pesan moral, atau pembacaan kisah Rasul. Sesekali tugas berpindah, giliran KH Ahmad Dahlan yang berceramah. Tetapi intinya sama: pesan tanpa jeda. Tentu ada konflik khususnya menyinggung hak wanita, namun lagi-lagi sekedar jalan menyalurkan kata mutiara. Berujung dikorbankan justru sederet tuturan penting yang lalai dijabarkan, sebutlah ancaman kolonialisme hingga detail perselisihan akibat ajaran Ahmad Dahlan dipandang menyimpang.
Daripada menggali lebih dalam, Nyai Ahmad Dahlan memilih menetap di rapat demi rapat, pengajian demi pengajian, sambil sesekali memberi eksposisi ala kadarnya seputar ragam gesekan tadi maupun peristiwa penting melalui sebaris teks pendek atau ucapan verbal sambil lalu. Nyaris nihil momentum menarik ditampilkan. Malah mendekati penghujung, demi menunjukkan Nyai Ahmad Dahlan tetap ingat peran sebagai istri meski disibukkan tetek bengek organisasi, fokus berubah menyoroti kesehariannya merawat sang suami sampai ajal tiba. Bisa saja tercipta drama emosional andai mengalir rapi, bukan potongan-potongan adegan yang ditempel paksa lewat penyuntingan lompat-lompat nan kasar. Paling mendekati keberhasilan menggetarkan rasa justru saat seorang wanita nembang (bernyanyi). Pun karena kehebatan si aktris, bukan didorong pengadeganan solid.
Muncul pertolongan di beberapa aspek. Sinematografi Zeta Alpha Maphilindo bersama pewarnaan yang diemban tim Super 8mm Studio (Ziarah, Another Trip to the Moon) menghasilkan perpaduan warna serta pencahayaan yang enak dipandang. Begitu pula akting dua pemeran utama. Tika Bravani menghidupkan keteguhan di balik tutur lembut Nyai Ahmad Dahlan walau performanya terganjal kala tokohnya memasuki usia lanjut akibat riasan buruk ditambah gerak, gaya bicara, juga ekspresi dibuat-buat demi menyiratkan penuaan. David Chalik cukup meyakinkan bermain emosi meski bakal agak sulit membedakan Ahmad Dahlan versinya dengan karakter kiai di kebanyakan film lokal berlatar masa lalu. Film ini sedikit terselamatkan. Dari biografi kacau tanpa peduli asas storytelling, jadi biografi amat membosankan yang setidaknya digarap sungguh-sungguh.
Agustus 25, 2017
Biography
,
David Chalik
,
Dyah Kalsitorini
,
Indonesian Film
,
Kurang
,
REVIEW
,
Tika Bravani
,
Tya Subiakto
,
Zeta Alpha Maphilindo
Langganan:
Postingan
(
Atom
)









