Tampilkan postingan dengan label Dewi Irawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dewi Irawan. Tampilkan semua postingan

REVIEW - SAYAP-SAYAP PATAH

Saya ingat betul suasana kala kerusuhan pecah selama 36 jam di rutan Mako Brimob Kelapa Dua, pada 8-11 Mei 2018. Walau cuma mengikuti perkembangan lewat berita di media sosial dan televisi, ada perasaan mencekam yang teramat kuat. Bagaimana tidak? Para napi terorisme menguasai tempat mereka ditahan, yang juga markas penegak hukum. That sounds like hell on earth. 

Sebuah peristiwa yang sangat "film material", namun alih-alih melahirkan suguhan intens sekaligus emosional, Sayap-Sayap Patah lebih seperti usaha seadanya (kalau tak mau disebut "malas"), yang asal memakai kerusuhan tersebut, semata sebagai alat jualan. 

Jangan salah, saya tahu maksud pembuatannya apa. Saya tidak naif dan mengharapkan penelusuran mendalam nan kompleks atas peristiwanya. Sayap-Sayap Patah adalah presentasi kepahlawanan polisi sekaligus kampanye anti-terorisme, yang bahkan kurang berhasil menjalankan tugasnya. 

Bereuni dengan sutradara Rudi Soedjarwo sejak Ada Apa Dengan Cinta? 21 tahun lalu, Nicholas Saputra memerankan Aji, anggota Densus 88 yang bertugas memberantas pelaku terorisme di Surabaya. Salah satu rekan Aji diperankan oleh Revaldo. Tahukah kalian bahwa ini kali pertama dua pemeran Rangga (versi film dan sinetron) tampil bersama? Andai reuni serta pertemuan perdana itu terjadi dalam film yang lebih baik.

Target operasi Aji adalah Leong (Iwa K), yang telah banyak merekrut teroris. Perburuan itu menyita banyak waktu Aji, sehingga ia jarang menemani sang istri, Nani (Ariel Tatum), yang tengah hamil tua. Di satu titik Nani memilih pulang ke Jakarta untuk tinggal bersama ibunya (Dewi Irawan) akibat rasa cemas yang mengancam kesehatan kandungannya. Selepas sukses meringkus Leong, barulah Aji menyusul Nani ke Jakarta. Naas, tepat sebelum Nani melahirkan, sekaligus hari pertama Aji bekerja di Mako Brimob, terjadi kerusuhan. Di bawah arahan Leong, para napi mengamuk, menyandera, bahkan membunuh polisi. 

Paragraf di atas menjabarkan alur filmnya sampai sekitar 30 menit terakhir, sebab baru di situlah Sayap-Sayap Patah mulai memaparkan kerusuhan yang jadi sumber inspirasinya. Saya menyebut "30 menit", tapi itu termasuk pembangunan awal dan konklusi. Jika cuma menghitung momen kerusuhan pecah, maka hanya sekitar 20 menit, dari total durasi 110 menit. 

Menjadikan kerusuhan sebagai third act semata sejatinya bukan masalah. Saya bisa berargumen kalau perisitwa itu punya cukup bahan untuk melahirkan satu film utuh, tapi itu berarti saya mengharapkan hal yang bukan jadi tujuan filmnya. Pun bukankah prinsip "quality over quantity" dapat diterapkan? Tapi bahkan eksekusinya terkesan ala kadarnya. Seolah para pembuatnya berpikir, "Ah yang penting ada sekuen kerusuhan". 

Di fase itu Iwa K sebagai teroris intimidatif, dan Nugie sebagai komandan Mako Brimob yang selalu tenang kala menginterogasi penjahat, sama-sama tampil mengesankan. Lebih mengesankan dibanding Nicholas Saputra yang.....well, memerankan Nicholas Saputra. Tapi semuanya terlalu buru-buru. Mendadak dimulai, mendadak usai. Mengubah teror 36 jam menjadi tak sampai semalam sama sekali tidak membantu. 

Kelemahan naskah buatan Monty Tiwa, Eric Tiwa, dan Alim Sudio itu sebenarnya dapat tertolong andai Rudi Soedjarwo menambalnya lewat pengadeganan intens. Sayangnya tidak. Rudy tak mampu menghadirkan gambar-gambar mencekam, sebagaimana ia gagal mengemas aksi dalam sekuen penggerebekan Leong, yang penuh kamera shaky dan koreografi baku tembak clumsy. Tidak mengejutkan. Kapan terakhir kali Rudi merilis film bagus? 

Presentasi dramanya bernasib sedikit lebih baik. Biarpun kerap diganggu oleh sulitnya mendengar ucapan karakter (kadang akibat tata suara buruk, kadang artikulasi pemain yang buruk, kadang keduanya), ada gagasan menarik soal "tiada satu pun yang siap kehilangan". Rudi juga lebih nyaman mengarahkan drama, yang nampak dari timbulnya beberapa guratan emosi. Musik gubahan Andi Rianto turut berkontribusi menambah rasa, walau ada kalanya, lagi-lagi akibat kurang apiknya penataan suara, volumenya terdengar berlebihan. 

Sebagai kampanye anti-terorisme, Sayap-Sayap Patah diawali dengan menjanjikan. Terjadi ledakan bom di kantor lama Aji, dan menyaksikan mayat bergelimpangan bersimbah darah, diiringi tangisan anak kecil, ampuh untuk membuat penonton mengutuk para teroris, yang melakukan aksi biadab dengan kedok "perjuangan menuju surga". 

Tapi apa motivasi Leong menguasai Mako Brimob?. Di kisah aslinya, baik versi polisi maupun napi, sama-sama menyebut bahwa kerusuhan dipicu amarah narapidana. Sedangkan di film, aksi itu telah direncanakan jauh-jauh hari. Bukan tindak impulsif selaku luapan emosi. Saya paham, mungkin pembuat filmnya ingin menghindari potensi penggambaran negatif polisi sekaligus menegaskan kebengisan teroris, namun melihatnya dari kacamata penceritaan, itu merupakan lubang mengaaga. 

GURU NGAJI (2018)


Khususnya di kampung, ustaz, guru ngaji, kiai, atau siapa saja yang dipandang warga sebagai ahli agama adalah sosok terhormat. Sebisa mungkin dia harus tanpa cela, yang akhirnya kerap menimbulkan pengultusan terhadapnya. Guru Ngaji, yang merupakan film kedua Erwin Arnada tahun ini setelah Nini Thowok (di sini ia hanya memakai nama “Erwin”), secara mengejutkan coba melawan kesesatan pikir tersebut. Mukri (Donny Damara), si guru ngaji yang dihormati, diam-diam punya pekerjaan kedua sebagai badut pasar malam. Sang pendidik terhormat jadi bahan tertawaan bocah-bocah kala malam saat ia mengolah banyolan serta trik sulap ketimbang ayat suci Al Qur’an.

Pada praktiknya, Mukri, yang merahasiakan pekerjaan badutnya itu tak hanya dari warga sekampung tapi juga istri dan anaknya, memang tidak dituntut banyak mengutip ayat dalam film ini. Mukri (dan filmnya) enggan berceramah. Sekalinya diminta mengisi khotbah solat Jumat, yang merupakan satu dari hanya dua momen ia mengutip ayat suci sepanjang film, Mukri sempat menolak. Dia memang tak merasa paling ahli, pula menolak dipanggil ustaz. “Saya hanya guru ngaji biasa”, begitu ucapnya. Mukri ada di tengah garis pembatas tipis antara rendah ati dan kurang percaya diri.
Dia pun takut sang istri, Sopiah (Dewi Irawan) malu mengetahu suaminya adalah badut. Mungkin karena Mukri menyadari perilaku konsumtif Sopiah, yang sempat diam-diam mengambil uang pelunas hutang untuk membeli baju. Berbeda dengan Mukri, Sopiah ingin dipandang “tinggi” meski kondisi ekonomi mereka serba kekurangan. Subplot ini nantinya memproduksi salah satu momen paling emosional yang dapat tercapai berkat curahan rasa Dewi Irawan. Mungkin sebagai karakter, Mukri terlalu baik hati, tapi fakta bahwa dia bukan “tukang ceramah” patut diapresiasi. Daripada berkata “pacaran haram”, Mukri justru mendukung Parmin (Ence Bagus), partner badutnya, merebut hati Rahma (Andiana Suri). Karena hal terpenting bagi Mukri adalah membahagiakan sesama.

Naskah buatan Erwin Arnada bersama Alim Sudio (Takut Kawin, Ayat-Ayat Cinta 2) menyusun dengan baik keping-keping kisah soal pencarian kebahagiaan yang didapat dari meraih mimpi. Bukan mimpi muluk, karena bagi para tokohnya, memiliki motor demi merenggut hati gadis pujaan atau mengunjungi Masjid Istiqlal andai tak mampu menginjakkan kaki di Mekah juga sudah cukup. Turut tersirat pula kritik sosial mengenai masyarakat yang membiarkan tindak korupsi Pak Kades (Tarzan) tetapi mengutuk profesi Mukri sebagai badut—yang mana halal—walau elemen ini sekedar numpang lewat tanpa resoulsi memuaskan.
Guru Ngaji masih mengusung formula “penderitaan beruntun” yang menguasai kemiskinan, tapi akting jajaran pemain, terlebih Donny Damara dan Ence Bagus, memudahkan untuk menaruh simpati. Keduanya bukan mengedepankan penderitaan namun ketulusan. Bahkan di mata Ence Bagus yang seolah selalu berkaca-kaca ketika dihadapkan pada persaingan melawan Yanto (Dodit Mulyanto) memperebutkan Rahma pun saya melihat ketulusan. Erwin sendiri bagai tak ingin mengemas segala aspek filmnya sebagai “pesakitan”. Walau mengambil setting di kampung dengan tokoh miskin, kekumuhan urung dieksploitasi. Tata artistiknya justru penuh warna, bahkan cuma sekedar gorden pun tampak merah menyala.

Sayang konklusi yang memaksakan diri menyentuh ranah keberagaman justru memancing kesan problematis. [SPOILER ALERT!!!] Mukri dan Parmin diminta memerankan Santa Claus di acara perayaan Natal dan Tahun Baru sebuah Gereja yang diurus oleh Koh Alung (Verdi Solaiman), sang pemilik pasar malam tempat mereka bekerja. Sempat ragu, tawaran itu akhirnya diterima. Tapi alih-alih Santa Klaus, keduanya, ditambah putera Mukri, Ismail (Akinza Chevalier), datang memakai kostum badut, Gareng, dan Petruk. Alasannya, “toh sama-sama tokoh fiktif”. Argumen itu tidak keliru, tapi memberi kesan tanggung terkait pesan “menghargai keberagaman”. Pun kembali ke tujuan Mukri yang ingin menebar kebahagiaan, apakah anak-anak di kursi penonton bahagia? Bayangkan sebaliknya. Anda datang ke pertunjukkan wayang lalu disuguhi Santa Claus dengan alasan “sama-sama tokoh fiktif kan?”. Apa anda bahagia? Sepertinya tidak. Guru Ngaji memaksa memberi resolusi terhadap hal yang sejatinya tidak perlu dijawab karena bukan itu persoalan utamanya. Paling tidak film ini mencoba, meski serupa usaha Parmin mendekati Rahma, “belum to the max”.

SILARIANG: CINTA YANG (TAK) DIRESTUI (2018)

Dress code untuk gala premiere Silariang Cinta yang (Tak) Direstui adalah hijau. Tidak aneh. "Mungkin menyesuaikan poster yang didominasi hijau", begitu pikir saya. Lalu filmnya bergulir, terlihat minuman, kasur, pakaian, mayoritas berwarna hijau. Dibantu tata cahaya, putih pun menjurus kehijauan. Kemudian saya tahu, baju bodo (pakaian adat Bugis) hijau khusus diperuntukkan bagi kaum bangsawan. Dengan meminta penonton mengenakan baju hijau serta menjadikan hijau warna umum di filmnya, sutradara Wisnu Adi dan tim bagai tengah menghapus batas strata, yang merupakan pemicu konflik Silariang Cinta yang (TakDirestui. 

Strata menghalangi percintaan Yusuf (Bisma Karisma) dan Zulaika (Andania Suri). Yusuf putera pengusaha kaya, tetapi hanya rakyat biasa. Sedangkan Zulaika adalah keturunan bangsawan. Niat mereka melangsungkan pernikahan pun tak direstui, khususnya oleh Rabiah (Dewi Irawan), ibu Zulaika. Satu pihak mementingkan gengsi sebagai konglomerat, pihak lain menjunjung harga diri tinggi golongan darah biru. Sungguh manusia melupakan kemanusiaan atas nama martabat.
Gagal memperoleh restu, dua protagonis kita nekat untuk silariang alias kawin lari meski nyawa jadi taruhan. Sebab pihak keluarga Zulaika yang diwakili Puang Ridwan (Sese Lawing) mencari keduanya tanpa henti, pula bertekad menghunuskan badik ke tubuh Yusuf. Sungguh situasi genting, tetapi skenario buatan Oka Aurora (Dear Love, Hijabers in Love) enggan terlampau serius maupun bergelora atas nama dramatisasi, satu kelemahan terbesar Silariang: Menggapai Keabadian Cinta tahun lalu. Di tengah pelarian, Zulaika sempat mengeluh kelelahan akibat jauhnya perjalanan. Yusuf pun menjawab "namanya juga Silariang". 

Syukurlah film ini bersedia menyelipkan interaksi santai. Kisahnya jadi lebih membumi. Di tangan tim yang kurang kompeten, romansa bakal selalu dijejali kalimat puitis yang oleh para pemain dibawakan layaknya bocah SD tengah belajar baca puisi. Demikian juga paparan konflik yang tidak lupa menyentuh hal-hal mendasar seperti kesulitan ekonomi sekaligus ego yang secara alami akan sesekali menguasai Yusuf dan Zulaika. Yusuf meragukan kejujuran sang istri membuat Zulaika tersinggung, merasa harga diri sebagai keturunan bangsawan diinjak-injak. 
Keduanya sampai ke pertengkaran tersebut merupakan proses natural. Wajar jika di satu titik Zulaika membawa-bawa tentang strata. Artinya ia manusia. Andania Suri memberikan penampilan dewasa yang sama manusiawinya, sedangkan Bisma, pasca tampil mengesankan di Juara, kini beberapa kali memperlihatkan ekspresi yang kurang cocok pada momen serius meski pesona kala melakoni adegan kasual tak perlu diragukan. Tapi sebagaimana Ayat-Ayat Cinta 2, Dewi Irawan dalam kemunculan singkat mencuat sebagai penampil terbaik. Perasaan bergemuruh tanpa harus memasang raut wajah maupun gestur besar. 

Silariang Cinta yang (TakDirestui sayangnya urung menyentuh titik emosi tertinggi akibat lemahnya klimaks permasalahan. Bahkan, secara keseluruhan, untuk cerita soal keberanian melawan adat yang dapat berujung maut, filmnya bergulir terlampau damai, menyebabkan minimnya dinamika serta persoalan menarik. Konklusi yang sejatinya menyimpan harapan, sebuah bentuk doa terkait solusi ideal guna mengakhiri gesekan mengenai adat yang sering terjadi di dunia nyata, terkesan bak jalan pintas menyelesaikan masalah. Silariang Cinta yang (TakDirestui tidak buruk. Hanya datar nan mudah dilupakan.

AYAT-AYAT CINTA 2 (2017)

SPOILER ALERT: Fahri kembali menikah di sekuel ini. Melihat track record karakter yang diperankan Fedi Nuril dalam beberapa film religi, fakta tersebut bukan kejutan. Pertanyaannya, dengan siapa? Karena seperti film pertama saat ia diperebutkan Aisha, Maria, Noura sampai Nurul, Fahri masih pria mulia idola wanita. Sesungguhnya penokohan Fahri memang hanya tersusun atas dua kata: mulia dan idola. Pintar, kaya, dan tampan bisa disertakan, tapi tetap tidak menambah kedalaman. Fahri begitu sempurna, sisi manusiawinya nyaris lenyap.

Kini dia tinggal di Edinburgh, Skotlandia, hidup mapan sebagai dosen yang rutin menerima setumpuk hadiah makanan dari penggemar. Tapi hatinya urung tergoda, setia menanti Aisha yang hilang, diduga meninggal di Palestina. Alih-alih dibenamkan kesedihan, Fahri memilih membantu orang-orang tanpa pandang bulu, dari Nenek Catarina (Dewi Irawan dalam kepiawaian bermain rasa) yang seorang Yahudi hingga Keira (Chelsea Islan) yang menyalahkan umat Islam akibat kematian sang ayah. Bisa diduga, kebaikan Fahri layaknya magnet penarik cinta wanita. Hulya (Tatjana Saphira), sepupu Aisha yang hendak menempuh S2, Brenda (Nur Fazura), pengacara yang kerap dia tolong, Sabina (Dewi Sandra), imigran yang ia pekerjakan, semua jatuh hati. Pun menengok trailer-nya, kita tahu pada satu titik, kebencian Keira berubah jadi permohonan agar dinikahi. 
Ketiadaan cela dalam diri Fahri menjadikan Ayat-Ayat Cinta 2 sebatas kumpulan episode yang merekam kebaikan-kebaikannya, menutupi gejolak batin soal upaya mengikhlaskan kepergian Aisha. Ini satu-satunya pertanda Fahri masih manusia. Dia menangis menyadari kesedihan pembentuk kelemahannya. Tapi sebelum beranjak menuju eksplorasi lebih jauh, masalah usai pasca obrolan singkat dengan sahabat lamanya, Misbah (Arie Untung). Fahri memperoleh pencerahan agar merelakan sang istri, mengikuti kata hati untuk menikah lagi. Mencapai film kedua, rupanya dilema Fahri tetap berkutat seputar menikah atau tidak. 

Bahkan proses mencari keikhlasan itu berakhir sia-sia, karena melihat konklusi yang ditawarkan, Fahri justru makin terjebak di masa lalu. Belum lagi ditambah "keajaiban" medis serta keberadaan twist yang terkesan membohongi, paruh akhir Ayat-Ayat Cinta 2 cenderung memancing tawa daripada haru. Setidaknya bagi penonton umum seperti saya, sebab target pasar utama filmnya yaitu para akhwat pemuja Fedi Nuril terdengar berteriak histeris sembari berurai air mata. Saya memutuskan menahan tawa demi menghormati mereka, sebagaimana Ayat-Ayat Cinta 2 menghormati kelompok penonton yang punya perbedaan cara pandang. 
Naskah buatan Alim Sudio dan Ifan Ismail mungkin dangkal mengkaji debat soal toleransi dalam Islam, termasuk mengenai perlakuan terhadap wanita yang dijawab seadanya. Namun jalan pikir film ini tak sesempit perkiraan Meski penempatannya kurang mulus, dialog tentang Pancasila menunjukkan filmnya coba menghargai keragaman. Tidak ada ceramah menggurui, dan itu patut diapresiasi. Tentu terdapat perbedaan ideologi, yang apabila dikeluhkan, saya sama saja dengan para fanatik yang membabi buta membela kepercayaannya. 

Ayat-Ayat Cinta 2 bakal berhasil di pasaran, namun takkan mencapai tingkat fenomena setara film pertama yang dibekali setting perkampungan Kairo plus scoring bernuansa etnik garapan Tya Subiakto dan lagu-lagu ikonik yang dibawakan Rossa. Ditangani Guntur Soeharjanto, kemewahan dan kemegahan dipentingkan, membuat filmnya nampak terlalu mirip suguhan religi berlokasi luar negeri kebanyakan, sebutlah 99 Cahaya Di Langit Eropa yang juga karya Guntur. Suguhan religi berlokasi luar negeri dengan tokoh-tokoh Eropa atau Timur Tengah berwajah Indonesia dan fasih bicara Bahasa Indonesia. 

SURAU DAN SILEK (2017)

"Film daerah", begitu film yang kental unsur budaya suatu daerah sekaligus melibatkan banyak SDM setempat jamak disebut. Ketepatan istilah tersebut layak diperdebatkan, tapi satu hal pasti, geliatnya menarik disimak. Meski dari segi kualitas belum seberapa memukau, judul-judul macam Uang Panai' (2016) atau Silariang: Menggapai Keabadian Cinta (2017) terbukti laris di pasaran. Kini giliran Surau dan Silek selaku debut penyutradaraan sekaligus penulisan naskah dari Arief Malinmudo mengangkat tradisi silat Minangkabau, sayangnya masih dihiasi kelamahan mendasar di sana-sini.

Masalah utama "film daerah" selalu pada proporsi cerita, ingin bertutur sebanyak mungkin, membuatnya terlampau penuh. Surau dan Silek serupa. Awalnya kita berkenalan dengan trio protagonis cilik, Adil (Muhammad Razi), Dayat (Bima Jousant) dan Kurip (Bintang Khairafi) yang belajar silat dari Rustam (Gilang Dirga). Walau tekun berlatih, keterbatasan ilmu Rustam urung membawa ketiganya menjuarai turnamen. Menyadari itu dan malu akibat hidupnya tak kunjung berkembang, Rustam pun merantau, meninggalkan murid-muridnya. Kemudian Rustam sepenuhnya menghilang, baru muncul lagi sekilas menjelang akhir, meninggalkan tanya akan signifikansi perannya.
Karakter Rustam memang tak penting, sekedar dipakai menyinggung kebiasaan merantau bagi pemuda Minang, yang mana bukan fokus utama cerita. Ada atau tidak, Rustam tak mempengaruhi proses Adil, Dayat, dan Kurip belajar soal keseimbangan rohani dan jasmani melalui silat (silek). Tugas itu diemban Johar (Yusril Katil), dosen ternama dari Yogyakarta sekaligus mantan pendekar yang baru pulang kampung bersama sang istri, Erna (Dewi Irawan). Apa perlunya mengadakan tokoh Rustam bila kemudian perannya diambil alih? Apa perlunya Johar dan Erna muncul sedari awal, sesekali tampak melakukan remeh temeh sehari-hari? Apa perlunya "menyembunyikan" dahulu identitas Johar sebagai ahli silat? 

Banyak sisi kurang penting diselipkan oleh Arief Malinmudo, entah peristiwa singkat maupun tokoh, sebutlah Arini (Randu Arini) yang bukan sidekick atau love interest sampai Cibia (Praz Teguh) si comic relief serba tanggung. Kondisi tersebut menjadikan kisahnya menggelembung, di mana makin banyak tokoh hadir, makin banyak pula peristiwa. Arief Malinmudo sendiri belum piawai merangkai narasi seramai itu, terbukti kala menangani beberapa momen yang bertubrukan di satu waktu, perpindahannya kasar daripada dinamis. Untung penuturan sang sutradara cukup rapi dalam narasi linier, didukung juga oleh pacing solid. 
Meniadakan yang seharusnya tidak ada, mengadakan yang seharusnya tiada. Kekurangan naskah itu turut melemahkan penghantaran pesan menarik soal bagaimana seharusnya silat (fisik) berjalan beriringan dengan ibadah (batin). Benar kita melihat pasca menjalani dua hal itu bersamaan, Adil berubah dari bocah pemarah jadi lebih sabar di keseharian, pula tenang menghadapi kesulitan di gelanggang pertarungan, tetapi prosesnya berlalu sekejap, hanya lewat training montage singkat. Padahal seseorang, apalagi bocah, pasti melewati perjalanan terjal sebelum menyelesaikan tahap perkembangan itu. Tanpanya, Surau dan Silek terkesan preachy, memposisikan ibadah bak sihir yang dapat mengubah orang seketika, di saat semestinya ada pergolakan dan kesulitan. 

Surau dan Silek juga terjebak di beragam kebetulan dalam presentasi alur, yang mana paling kentara sewaktu jadwal lomba IPS Kurip dijadwalkan berbarengan dengan turnamen silat. Tambah mengganggu tatkala akhirnya masalah itu urung menghasilkan signifikansi, usai begitu saja. Mencapai klimaks turnamen pun, Arief Malinmudo gagal menghadirkan intensitas akibat seadanya menangkap tiap detail koreografi silat, ditambah ketiadaan rule turnamen jelas. Penonton sekedar diajak melompat dari satu pertarungan ke lainnya.

Masihkah film ini dapat dinikmati? Rupanya masih berkat akting maksimal cast anak-anak. Muhammad Razi cukup cakap melakoni porsi drama bermodalkan ekspresi tepat guna, sedangkan Bima Jousant mencuri perhatian berkat kepiawaian dalam bertingkah menggelitik. Chemistry natural ketiga protagonis mendorong interaksinya menyenangkan disimak, membuat saya tidak keberatan berkeliling kota mengikuti mereka mencari guru silat. Di jajaran penampil dewasa, sayang sekali porsi Erna tergolong minim, sebab Dewi Irawan dengan kelembutan tutur yang membungkus kepedihan terpendam berpotensi menguras emosi. 


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID & Indonesian Film Critics