Tampilkan postingan dengan label Guntur Soeharjanto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Guntur Soeharjanto. Tampilkan semua postingan

REVIEW - BACKSTAGE

Di suatu kesempatan, Robert Ronny selaku produser sekaligus penulis naskah (bersama Vera Varidia, Monty Tiwa, dan Titien Wattimena), menyampaikan bahwa salah satu inspirasi Backstage berasal dari kasus Milli Vanilli, yang memenangkan Grammy Award, tanpa menyanyikan satu pun lagu di album mereka. Penyanyi bayangan (ghost singer) mengisi suara duo tersebut. 

Backstage pun mengangkat soal penggunaan penyanyi bayangan, yang didasari ambisi akan uang serta popularitas, yang tentu saja melibatkan akal-akalan pelaku industri. Bedanya, karakter film ini bukan semata didorong oleh ambisi personal, pula demi keluarga. 

Alkisah, Elsa (Vanesha Prescilla) rutin mengikuti audisi guna menggapai mimpi menjadi aktris. Sedangkan bagi kakaknya, Sandra (Sissy Priscillia), mimpi adalah kemewahan yang coba ia pendam. Bakat menyanyinya luar biasa, namun demi membantu sang ibu (Karina Suwandi) menyokong finansial keluarga, Sandra memilih berpaling ke realita. 

Pintu kesempatan terbuka, saat Bayu (Verdi Solaiman), seorang produser, berniat menjadikan Elsa penyanyi, pasca menyaksikan video audisinya. Rencana Bayu adalah, mengorbitkan nama Elsa sebagai penyanyi dengan memakai suara Sandra. Baru setelah pamornya melambung, peran di film layar lebar bisa didapat. 

Meski Sandra sempat ragu, mengingat ini sama saja membohongi publik, rencana itu rupanya berjalan mulus. Video Elsa viral, lagunya meledak di pasaran, bahkan Elsa kini bisa menjalin kedekatan dengan idolanya, Michael (Achmad Megantara), penyanyi yang popularitasnya tengah redup. Keuangan keluarga pun seketika membaik. Ketika single perdana baru di tahap awal kesuksesan, rasanya peruntungan yang berubah 180 derajat ini (rumah baru, mobil baru, segalanya baru) terjadi terlampau cepat. Apalagi berkaca pada kondisi Elsa sekeluarga sebelumnya.

Tapi lubang itu hanyalah gangguan minor dibanding keunggulan yang Backstage tawarkan. Naskahnya masih berkutat di beberapa keklisean, baik di progresi alur maupun pilihan kata, namun juga menyimpan banyak ide kuat. Terutama terkait caranya menghantarkan emosi. Contohnya ucapan "Aku berharap Tuhan mindahin suara aku ke Elsa" yang keluar dari mulut Sandra, selaku kalimat dengan daya bunuh terampuh.  

Pastinya akting pemain berperan besar dalam keberhasilan ekspresi emosi Backstage. Walaupun status sebagai saudara sungguhan tentu memberi pengaruh, tapi itu bukan satu-satunya faktor kesuksesan Vanesha dan Sissy menjalin chemistry kuat. Keduanya memang pelakon berkualitas yang sanggup menyuntikkan realisme di tiap interaksi. Khususnya sang kakak, yang mampu mengubah perasaan-perasaan rumit jadi momen menyentuh. Kata-kata bernada dukungan darinya bak pelukan hangat, tangisan sakit hatinya terasa meremukkan. Tambahkan Karina Suwandi, dan Backstage pun memiliki trio yang sangat bisa diandalkan.

Izinkan pula saya memberi pujian khusus untuk Megantara. Aktingnya belum layak disebut "luar biasa", tapi jelas lompatan drastis dibanding sebelumnya. Tidak ada lagi usaha sok keren dengan memberat-beratkan suara. Entah karena ia menyadari kekurangan, atau berkat arahan Guntur Soeharjanto selaku sutradara, mana pun tak masalah. Peningkatan adalah peningkatan.

Terkait penyutradaraan, seperti biasa Guntur ahlinya mengkreasi adegan agar terlihat mahal. Dibantu tata kamera Hani Pradigya, bukan cuma di adegan-adegan yang melibatkan aksi panggung, peristiwa sederhana pun dibuat memanjakan mata. Kekurangan Guntur sejak dulu masih sama, yakni soal belum mulusnya penyampaian emosi (kadang artificial, kadang timing-nya meleset, kadang pilihan shot-nya kurang mendukung), yang untungnya berhasil ditambal oleh departemen lain.

Klimaksnya jadi puncak pencapaian hampir seluruh departemen. Vanesha dan Sissy bertukar rasa secara luar biasa lewat nyanyian (menekankan pesan "mendapatkan kekuatan melalui kebersamaan"), naskahnya jeli mengolah keintiman kedua tokoh utama saat memberi jeda sebelum memasuki puncak lagu (you'll know it when you see it), sementara musiknya jadi amunisi yang efektif.

Terdapat beberapa nomor familiar, sebutlah Seberapa Pantas, Terbaik Untukmu, hingga I Remember, tapi yang paling menonjol adalah original soundtrack berjudul Melangkah gubahan Andi Rianto dan Monty Tiwa. Langsung menempel di kepala, kuat menyentuh hati. Sama seperti filmnya sendiri. 

LAMPOR: KERANDA TERBANG (2019)

Menonton horor, mudah menebak apakah seorang sutradara merupakan penggila genre itu atau bukan lewat bagaimana ia membungkus sekuen teror. Menahkodai Lampor: Keranda Terbang, Guntur Soeharjanto yang selama ini identik dengan sajian romansa dan religi seperti 99 Cahaya di Langit Eropa (2013), Assalamualaikum Beijing (2014), hingga Ayat-Ayat Cinta 2 (2017), kentara belum menguasai genre yang dibawakannya, melahirkan deretan kecanggungan dalam debutnya menyutradarai horor.

Bukan Guntur seorang yang menjajal horor untuk kali pertama. Begitu pula Adinia Wirasti. Memerankan wanita bernama Netta yang mengalami trauma masa kecil saat adiknya digondol Lampor (hantu pembawa keranda terbang berwujud mirip Dementor), Adinia berusaha menampilkan kesubtilan kala menangani keresahatan individu yang menyimpan setumpuk rahasia, tapi malah menghasilkan penampilan tak bernyawa. Pasif, sering merenung, selalu muram, dan gemar menggumam, meski masih memikat kala dituntut meletupkan emosi, secara keseluruhan, sebagaimana sutradaranya, debut horor sang aktris berakhir kurang manis.

Setidaknya, separuh awal Lampor: Keranda Terbang punya pondasi solid, bersedia bercerita ketimbang menumpuk penampakan belaka. Bersama si suami, Edwin (Dion Wiyoko), dan kedua anaknya, Agam (Bimasena) dan Sekar (Angelia Livie), Netta terpaksa pulang ke kampung halamannya di Temanggung, guna menyampaikan pesan terakhir ibunya, Ratna (Unique Priscilla), kepada sang ayah, Jamal (Mathias Muchus). Ketika Netta kecil, Ratna membawanya pergi meninggalkan Jamal karena ia menganut ilmu hitam pemberian Pak Atmo (Landung Simatupang), si dukun setempat.

Malang, tepat di hari kedatangan Netta, Jamal mendadak meninggal dunia. Warga pun menyambut sinis kepulangan Netta, menganggapnya sebagai pembawa bencana. Mereka yakin bahwa keberadaan Netta mengundang teror Lampor. Benarkah itu? Kalau bukan, apa penyebab utama kemunculan Lampor, yang konon menyambangi tempat di mana pendosa berada? Pertanyaan itu jadi basis eksplorasi naskah buatan Alim Sudio (Kuntilanak, Makmum, Twivortiaire). Remah-remah misteri ditebar secara berkala, sambil pelan-pelan kompleksitas ditingkatkan lewat kemunculan tokoh-tokoh baru.

Kematian tidak wajar Jamal memancing kecurigaan bahwa ia sejatinya dibunuh oleh orang yang mengincar warisannya. Ada sejumlah tersangka. Apakah Esti (Nova Eliza) selaku istri muda Jamal sekaligus keponakan Pak Atmo? Bimo (Dian Sidik) si tukang pukul? Mitha (Steffi Zamora) si puteri angkat Jamal dan Esti? Atau Nining (Annisa Hertami) si pelayan yang senantiasa bersikap baik? Naskahnya mengeksplorasi pertanyaan itu dengan baik, membuat alur bergerak dinamis, sambil sesekali menyelipkan pemanis berupa mitos-mitos mistis seperti awan berbentuk naga hingga kucing hitam sebagai pertanda bencana.

Tapi memasuki paruh akhir, naskahnya kewalahan sewaktu berusaha menyusun keping-keping kebenaran dan menjelaskan "rules" di balik teror Lampor. Seperti benang kusut. Belum lagi karakternya kerap melakukan tindakan yang pantas dipertanyakan. Contohnya Netta, yang kerap meninggalkan anak-anaknya sendiri, padahal seharusnya ia paling tahu betapa berbahaya hal itu. Beruntung di tengah keruwetan itu, Dion Wiyoko memberi satu lagi performa kuat. Bukan yang terbaik dari sang aktor, tapi cukup untuk menghalangi filmnya dari keruntuhan.

Poin terlemah Lampor: Keranda Terbang adalah eksekusi terornya. Padahal, bayangkan betapa mengerikan makhluk satu ini. Membawa keranda terbang, berstatus prajurit Nyi Roro Kidul, menculik lalu merenggut nyawa siapa saja yang terlihat dan melihatnya. Potensinya besar, apalagi ditambah CGI memadai—walau fakta bahwa Lampor banyak muncul di kegelapan malam cukup membantu. Tapi seperti telah disebutkan, Guntur Soeharjanto belum piawai menangani horor.

Pengadeganannya sering menghasilkan disorientasi apalagi pada momen-momen yang mengetengahkan kekacauan sarat aksi. Daripada urgency, justru pusing kepala yang didapat. Bukan saja kekurangcakapan sutradara mengatur fokus adegan, serupa banyak produksi Starvision, penyuntingan kasar berujung transisi berantakan lebih sering menghantui ketimbang hantunya sendiri (walau di kasus Lampor: Keranda Terbang saya curiga sutradara memang tidak menyuplai materi yang cukup).

RUMPUT TETANGGA (2019)

Sejauh ini, meski masih menyisakan sedikit kepahitan, 2019 adalah tahun yang menjanjikan bagi industri perfilman Indonesia. Banyak judul berkualitas paten buatan sineas kawakan, tapi hal paling menyenangkan adalah ketika beberapa pihak yang identik dengan produk bermutu jongkok, mulai melahirkan karya yang dapat dipertanggungjawabkan. Setelah minggu lalu MD Pictures merilis Sunyi, kini giliran RA Pictures—salah satu rumah produksi dengan reputasi paling negatif—melepas drama-komedi yang biarpun tetap menyimpan setumpuk kekurangan, sanggup tampil menghibur, bahkan menghangatkan hati.

Kita pernah berada di posisi Kirana (Titi Kamal). Dihantui ketidakpuasan, penyesalan, dan ingin menjalan kehidupan berbeda sesuai impian. Kirana merupakan ibu rumah tangga, sementara suaminya, Ben (Raffi Ahmad) bekerja di bidang jual-beli mobil. Kehidupan mereka berkecukupan, cukup bahagia, meski Kirana kerap kerepotan mengurusi kedua anaknya. Alergi sang puteri, Windy (Aqila Herby), terhadap kacang membuatnya harus selalu waspada, sedangkan puteranya, Rega (Daffa Deddy), mengidap disleksia. Kirana kekurangan percaya diri, merasa status sebagai ibu rumah tangga tak cukup mentereng, apalagi selepas pertemuannya dengan seorang kawan lama, Diana (Donita). Diana adalah konsultan PR ternama yang hidup bergelimang kemewahan dan masih melajang. Kirana menginginkan kehidupan semacam itu.

Mengusung premis fantasi menarik soal “hidup yang tertukar” seperti Freaky Friday, The Change-Up, dan lain-lain, Rumput Tetangga enggan terburu-buru membawa alurnya memasuki materi jualan utamanya itu. Digarap oleh Alim Sudio (99 Cahaya di Langit Eropa, Chrisye, Kuntilanak), naskahnya bergerak penuh kesabaran, terlebih dulu memantapkan pondasi, mendeskripsikan betapa beratnya keseharian Kirana supaya penonton bisa memahami frustrasinya.

Memasuki sekitar setengah jam, barulah elemen fantasi diperkenalkan. Di malam reuni SMA, Kirana bertemu Madam Sri Menyan (diperankan Asri Welas lewat kejenakaan khas yang tak pernah gagal mengocok perut lewat kata-kata tanpa saringan), peramal yang sanggup mengabulkan permintaan Kirana. Pagi berikutnya, Kirana terbangun di apartemen mewah, menyandang gelar CEO perusahaan sekaligus konsultan PR nomor satu, memiliki segala yang telah lama diimpikan. Hanya satu yang sekarang tidak ia punya: keluarga.

Sebaliknya, kini Diana menjadi ibu rumah tangga, istri Ben, sekaligus ibu bagi Windy dan Rega. Seperti telah judulnya tuliskan, mudah menebak ke mana Rumput Tetangga bakal berujung: Kirana akan menyadari betapa ia terlalu dikuasai rasa iri dan selalu merasa “rumput tetangga lebih hijau”. Tapi mudah ditebak atau tidak bukanlah soal. Terpenting adalah bagaimana film karya Guntur Soeharjanto (Jilbab Traveler, Ayat-Ayat Cinta 2, Belok Kanan Barcelona) ini menjadi drama-komedi menyenangkan yang lancar menyampaikan pesan sambil memainkan perasaan.

Sejatinya Rumpu Tetangga berpotensi turut mengolah kisah seputar pemberdayaan wanita, tepatnya membahas bahwa ibu rumah tangga bukan profesi memalukan, terlebih jika itu dijalankan tanpa paksaan alias merupakan pilihan. Cukup disayangkan, naskahnya urung mengeksplorasi isu di atas secara mendalam, tapi toh memang bukan itu fokusnya, melainkan tentang mensyukuri kehidupan.

Dramanya bergerak dengan baik, dihiasi ketepatan Guntur Soeharjanto memilih lagu-lagu pengiring seperti Yang Kumau-nya Krisdayanti atau Andai Aku Bisa milik Chrisye, yang berkontribusi menambah bobot emosional beberapa momen, tatkala Titi Kamal memamerkan talentanya memadukan comic timing dengan akting dramatik. Saya yakin anda akan menemukan banjir pujian bagi Titi di ulasan-ulasan lain, sehingga biarkan saya turut menekankan betapa bagusnya penampilan Gading Marten sebagai Indra, asisten Kirana (dan Diana), bukti betapa kualitasnya di Love for Sale bukan kebetulan. Gading punya sensitivitas yang berguna menghadirkan akting subtil, sehingga ia mampu banyak bicara meski tanpa tuturan kata.

Unsur fantasi pun dipresentasikan lumayan rapi, saat berbagai tebaran petunjuk bisa ditemukan sepanjang durasi sebelum kebenaran sesungguhnya terungkap. Sayang, mencapai babak ketiga, naskahnya keteteran. Berbagai lubang serta ketidakjelasan aturan perihal “tukar-menukar hidup”, datang silih berganti begitu twist diungkap. Mencuat pula beberapa tanya, misalnya, “Mengapa Madam Sri Menyan harus berteka-teki tentang cara kembali ke kehidupan semula?”. Beruntung filmnya memiliki protagonis likeable ditambah cerita yang mendapat eksplorasi memadahi, di mana saya mampu diyakinkan jika kehidupan lama Kirana memang layak diperjuangkan. Alhasil, biarpun telah tercium sedari awal filmnya bergulir, Rumput Tetangga memiliki penutup yang memuaskan.

BELOK KANAN BARCELONA (2018)

(Review ini mengandung SPOILER)
Belum ada film yang mampu membawa saya dalam hubungan cinta/benci seperti Belok Kanan Barcelona. Saya mencintai caranya menuturkan betapa cinta dapat mendorong seseorang berkorban meski harus menembus batas jarak dan waktu. Saya mencintai caranya mendefinisikan “cinta sejati” sebagai seseorang yang selalu ada di samping pujaan hatinya tanpa memaksa balik dicintai. Saya pun mencintai masing-masing karakter utamanya. Namun saya membenci ketika narasinya mulai terjun ke bab agama bahkan terkesan offensive di beberapa titik.

Mengadaptasi novel Traveler’s Tale: Belok Kanan Barcelona karya Adhitya Mulya, Ninit Yunita, Alaya Setya, dan Iman Hidayat, filmnya mengisahkan persahabatan Francis (Morgan Oey), Retno (Mikha Tambayong), Yusuf (Deva Mahenra), dan Farah (Anggika Bolsterli) yang kini tinggal terpisah di empat negara berbeda. Francis adalah pianis pemenang Grammy pertama asal Indonesia yang kini menetap di Los Angeles, Retno mengejar impiannya menjadi chef di Copenhagen, Yusuf mulai mendulang sukses di perusahaan di Cape Town, sedangkan Farah bekerja sebagai arsitek di Vietnam. Undangan pernikahan Francis dengan Inez (Millane Fernandez) di Barcelona memberi mereka alasan untuk bertemu lagi, walau satu sama lain tak mengetahui intensi tersebut.

Semua bermula dari masa SMA, tatkala persahabatan keempatnya mulai bersemi, demikian pula cinta. Francis menyukai Retno pun sebaliknya, Farah yang jadi tempat curhat Retno juga tertarik pada Francis, sementara Yusuf, si “penyedia bahu” bagi kesedihan Farah, turut diam-diam memendam rasa kepadanya. Apabila banyak film kita memposisikan kelulusan SMA selaku pembuka, Belok Kanan Barcelona menempatkannya di tengah, setelah terlebih dulu membawa penonton mengarungi flashback yang menyoroti dinamika empat tokoh utama semasa SMA, memantapkan pondasi karakter beserta persahabatan mereka. Naskah yang disusun Adhitya Mulya (Jomblo, Shy Shy Cat) apik dalam mempresentasikan manis sekaligus pahitnya mencintai kawan sendiri, ketika pengungkapan perasaan bak haram hukumnya demi menjaga kelanggengan pertemanan.

Departemen akting merupakan elemen terkuat filmnya. Morgan kharismatik seperti biasa sehingga mudah menerima saat Francis disukai dua gadis cantik walau detail penokohannya tak seberapa digali (baca: dia populer karena ganteng dan keren). Mikha mencurahkan emosi yang cukup meyakinkan untuk menjadkan ini performa terbaik sepanjang karirnya, tatkala Deva akhirnya memperoleh materi yang pas guna memfasilitasi talenta komediknya. Tapi magnet terbesar berasal dari Anggika melalui deretan ekspresi aneh dan ketiadaan urat malu dalam berlagak konyol termasuk merangkak di aspal, Farah merupakan peran yang bakal membuka lapang jalannya meraih status bintang kelas satu.

Sampai sini, Belok Kanan Barcelona bisa jadi salah satu film Indonesia terbaik 2018. Tontonan yang konsisten memberi tawa dalam pengalaman menonton menyenangkan. Penyutradaraan Guntur Soeharjanto (99 Cahaya di Langit Eropa, Ayat-Ayat Cinta 2) pun cukup efektif menciptakan adegan emosional saat melukiskan momen “crack-and-heal” suatu persahabatan.  Berbeda dibanding caranya menangani 2 film 99 Cahaya di Langit Eropa, latar luar negeri urung dieksploitasi sebagai lokasi cuci mata belaka, melainkan panggung pembuktian bahwa kekuatan cinta mampu mendorong seseorang melintasi dunia.

Mengesankan, hingga elemen religi menggedor masuk, yang awalnya dipicu perbedaan keyakinan Francis dan Retno. Saya suka sebaris kalimat ucapan ayah Retno (Cok Simbara) yang kurang lebih berbunyi, “Apa kamu tega membuat Francis harus memilih antara kamu (Retno) atau Tuhannya?”. Itu cara lembut untuk berkata “Jangan memacari orang berbeda agama”. Saya tak menyalahkan perspektif tersebut, sebab kenyataannya, hal itu sulit dijalani di Indonesia. (Spoiler starts here) Saya pun tak mempermasalahkan konklusi sewaktu Francis akhirnya memeluk Islam. Apa pun alasannya (sebatas untuk menikah atau memang keyakinan personal), itu cara paling aman agar bisa menghabiskan hidup bersama.

Masalah mencuat saat Belok Kanan Barcelona melukiskan orang Islam sebagai pemeluk agama luar biasa taat yang enggan berpindah keyakinan demi pernikahan dan bersedia solat di tengah padang pasir, tetapi sebaliknya, Pastor dan Suster di tengah situasi mengancam kala mesin pesawat yang ditumpang meledak, malah bertingkah konyol, saling menyatakan cinta, merengek alih-alih memanjatkan doa, setelah sepanjang perjalanan diperlihatkan sebagai orang-orang menyebalkan yang tak mempedulikan sekitarnya. Apabila cuma memunculkan salah satu (Muslim luar biasa taat atau mengolok-olok Pastor sebagai materi komedi), tidak jadi masalah. Namun ketika dihadirkan bersamaan, secara otomatis tercipta komparasi jomplang yang begitu mengganggu. Sengaja atau tidak, hal itu membuktikan ketidakpekaan para pembuatnya.

AYAT-AYAT CINTA 2 (2017)

SPOILER ALERT: Fahri kembali menikah di sekuel ini. Melihat track record karakter yang diperankan Fedi Nuril dalam beberapa film religi, fakta tersebut bukan kejutan. Pertanyaannya, dengan siapa? Karena seperti film pertama saat ia diperebutkan Aisha, Maria, Noura sampai Nurul, Fahri masih pria mulia idola wanita. Sesungguhnya penokohan Fahri memang hanya tersusun atas dua kata: mulia dan idola. Pintar, kaya, dan tampan bisa disertakan, tapi tetap tidak menambah kedalaman. Fahri begitu sempurna, sisi manusiawinya nyaris lenyap.

Kini dia tinggal di Edinburgh, Skotlandia, hidup mapan sebagai dosen yang rutin menerima setumpuk hadiah makanan dari penggemar. Tapi hatinya urung tergoda, setia menanti Aisha yang hilang, diduga meninggal di Palestina. Alih-alih dibenamkan kesedihan, Fahri memilih membantu orang-orang tanpa pandang bulu, dari Nenek Catarina (Dewi Irawan dalam kepiawaian bermain rasa) yang seorang Yahudi hingga Keira (Chelsea Islan) yang menyalahkan umat Islam akibat kematian sang ayah. Bisa diduga, kebaikan Fahri layaknya magnet penarik cinta wanita. Hulya (Tatjana Saphira), sepupu Aisha yang hendak menempuh S2, Brenda (Nur Fazura), pengacara yang kerap dia tolong, Sabina (Dewi Sandra), imigran yang ia pekerjakan, semua jatuh hati. Pun menengok trailer-nya, kita tahu pada satu titik, kebencian Keira berubah jadi permohonan agar dinikahi. 
Ketiadaan cela dalam diri Fahri menjadikan Ayat-Ayat Cinta 2 sebatas kumpulan episode yang merekam kebaikan-kebaikannya, menutupi gejolak batin soal upaya mengikhlaskan kepergian Aisha. Ini satu-satunya pertanda Fahri masih manusia. Dia menangis menyadari kesedihan pembentuk kelemahannya. Tapi sebelum beranjak menuju eksplorasi lebih jauh, masalah usai pasca obrolan singkat dengan sahabat lamanya, Misbah (Arie Untung). Fahri memperoleh pencerahan agar merelakan sang istri, mengikuti kata hati untuk menikah lagi. Mencapai film kedua, rupanya dilema Fahri tetap berkutat seputar menikah atau tidak. 

Bahkan proses mencari keikhlasan itu berakhir sia-sia, karena melihat konklusi yang ditawarkan, Fahri justru makin terjebak di masa lalu. Belum lagi ditambah "keajaiban" medis serta keberadaan twist yang terkesan membohongi, paruh akhir Ayat-Ayat Cinta 2 cenderung memancing tawa daripada haru. Setidaknya bagi penonton umum seperti saya, sebab target pasar utama filmnya yaitu para akhwat pemuja Fedi Nuril terdengar berteriak histeris sembari berurai air mata. Saya memutuskan menahan tawa demi menghormati mereka, sebagaimana Ayat-Ayat Cinta 2 menghormati kelompok penonton yang punya perbedaan cara pandang. 
Naskah buatan Alim Sudio dan Ifan Ismail mungkin dangkal mengkaji debat soal toleransi dalam Islam, termasuk mengenai perlakuan terhadap wanita yang dijawab seadanya. Namun jalan pikir film ini tak sesempit perkiraan Meski penempatannya kurang mulus, dialog tentang Pancasila menunjukkan filmnya coba menghargai keragaman. Tidak ada ceramah menggurui, dan itu patut diapresiasi. Tentu terdapat perbedaan ideologi, yang apabila dikeluhkan, saya sama saja dengan para fanatik yang membabi buta membela kepercayaannya. 

Ayat-Ayat Cinta 2 bakal berhasil di pasaran, namun takkan mencapai tingkat fenomena setara film pertama yang dibekali setting perkampungan Kairo plus scoring bernuansa etnik garapan Tya Subiakto dan lagu-lagu ikonik yang dibawakan Rossa. Ditangani Guntur Soeharjanto, kemewahan dan kemegahan dipentingkan, membuat filmnya nampak terlalu mirip suguhan religi berlokasi luar negeri kebanyakan, sebutlah 99 Cahaya Di Langit Eropa yang juga karya Guntur. Suguhan religi berlokasi luar negeri dengan tokoh-tokoh Eropa atau Timur Tengah berwajah Indonesia dan fasih bicara Bahasa Indonesia.