CRITICAL ELEVEN (2017)

22 komentar
Sambut Critical Eleven, adaptasi novel berjudul sama karya Ika Natassa yang mulai sekarang semestinya jadi patokan perihal kualitas berbagai sisi drama romantika sinema Indonesia. Cukup manis pula cantik dipandang sebagai suguhan pop, cukup kuat pula kisahnya selaku studi soal karakter dan dinamika pernikahan serta keluarga. Patut dicatat, ini bukan semata-mata cerita lama pertemuan dua sejoli yang seiring waktu sama-sama jatuh hati, lalu berusaha mengalahkan setumpuk rintangan guna menyatukan cinta mereka. Berbeda, karena tak sampai 15 menit durasi, kedua tokoh utama telah bersatu. Masalahnya, pasca persatuan itu diterjang badai, bagaimana membangunnya lagi?

Anya (Adinia Wirasti) kerap dan gemar bepergian menaiki pesawat karena tuntutan pekerjaan. Demikian juga Ale (Reza Rahadian) yang bekerja di oil rig, memaksanya sering bolak-balik ke luar negeri. Pertemuan pertama pada penerbangan menuju Sidney meyakinkan bahwa keduanya adalah pasangan sempurna bagi masing-masing. Mereka menikah, kemudian tinggal di New York agar Anya tidak perlu hidup jauh dari Ale yang tengah bertugas di Meksiko. Kehamilan Anya membawa pasangan ini menuju kebahagiaan hidup terbesar, sampai sebuah insiden memutarbalikkan kondisi 180 derajat, menghadirkan tanya mengenai cinta akibat timbulnya luka.
Poin terpenting film percintaan ada di karakter utama. Bisa tidaknya cerita beserta pesan tersalurkan tergantung seberapa besar penonton mencintai pasangan yang saling mencinta di layar. Reza-Adinia membangun hubungan nyata, alhasil mudah percaya jika Ale dan Anya telah menjalin asmara demikian lama. Rasanya bagai melihat sepasang sahabat (namun dengan perasaan lebih) yang terkoneksi hati sekaligus cocok kala bertukar pikiran sehingga interaksinya nikmat diikuti. Kemesraan memancing senyum, canda memancing tawa, pertengkaran mengoyak hati. Reza dan Adinia mengikuti jejak pasangan klasik macam Slamet Rahardjo-Christine Hakim atau yang agak modern, Nicholas Saputra-Dian Sastrowardoyo, dalam keluwesan chemistry kuat nan natural.

Penonton ingin kisah berakhir bahagia, di situ bentuk keberhasilan yang dicapai Critical Eleven. Tentu penulisan naskah dari Jenny Jusuf, Monty Tiwa, Robert Ronny, dan Ika Natassa turut berjasa. Berfokus seputar gesekan pasutri, Ale dan Anya punya alasan kuat dalam bersikap yang amat bisa dimaklumi. Simpati terbagi rata, sebab tidak ada yang lebih dirugikan, sama-sama manusia yang terluka luar biasa. Bahkan bukan mustahil penonton terhanyut membayangkan berada dalam kondisi sama, kemudian menyadari bahwa bisa jadi bakal bersikap serupa. Naskahnya juga tepat membagi timing transisi kehidupan tokohnya, menciptakan kontradiksi dua sisi (bahagia dan sedih) yang efektif mengguncang emosi.
Di samping observasi problematika pelik rumah tangga, Critical Eleven makin tinggi derajatnya saat keluarga Ale tak dikesampingkan. Konsep soal pernikahan adalah bentuk penyatuan bukan saja suami-istri, pun keluarga ditekankan betul. Kita mendapati Ayah (Slamet Rahardjo), Ibu (Widyawati Sophiaan), sampai kakak dan adik Ale (Revalina S. Temat dan Refal Hady) berkontribusi, berusaha menengahi sesuai kapasitas, membantu tanpa interupsi berlebihan. Para tokoh pendukung ditempatkan sesuai hakikatnya, mendukung poros penceritaan ketimbang mencuri sorotan maupun pasif menjadi hiasan pemanis di belakang. Momen terbaik film ini pun terbentuk sewaktu unsur kekeluargaan menyeruak masuk.

Momen tersebut yakni dua pembicaraan di tempat berbeda (Ale-Ayah dan Anya-Ibu) yang oleh sutradara Monty Tiwa dan Robert Ronny jeli ditampilkan bergantian, terkesan selaras dan saling mengisi. Momen ini memikat di berbagai tatanan. Pertama, mengukuhkan peran keluarga yang didorong rasa cinta berusaha membantu sang anak  baik kandung atau menantu  menemukan jalan keluar. Kedua, menyampaikan soal saling terima suami istri, poin yang film ini nyatakan jadi kunci pemersatu. Ketiga, tentu saja akting. Setelah pemeran muda unjuk gigi, giliran pelakon senior bersinar. Melalui sepintas peristiwa saja, Widyawati dan Slamet Rahardjo menuangkan sensitivitas, penuh rasa menuturkan cinta antara ayah dan ibu. Mereka berada di tempat (dan mungkin waktu) berbeda namun bak berkomunikasi hati ke hati. Menariknya, selain sekuen ini ayah dan ibu tak pernah saling mengungkapkan cinta secara langsung, seolah menyatakan seiring keberhasilan mengarungi cobaan plus waktu, tak perlu lagi cinta gamblang dinyatakan supaya dirasa dan dipercaya.
Kekurangan Critical Eleven terletak pada penyertaan adegan kurang substansial yang mendorong durasi terlampau panjang, mencapai 132 menit. Mayoritas hal tidak perlu itu berbentuk kontemplasi karakter. Mereka diam, meratap kosong, terkadang menangis. Menjadi tidak perlu karena kekuatan akting Reza dan Adinia sudah cukup mewakili isi hati karakter meski hanya diperlihatkan sesekali, tanpa harus sebanyak itu. Paruh pertengahan tatkala kesedihan menghampiri memang menurunkan tensi. Ale dan Anya tak lagi ceria, daya cengkeram film pun ikut meredup. Kekurangan ini sejatinya dapat dihindari andai tuturannya dipadatkan. Benar titik ini signifikan, tapi bukan berarti mesti berlarut-larut.

Critical Eleven merupakan keindahan luar dalam. Di luar, terkait tampilan, polesan sinematografi Yudi Datau membuat hampir tiap adegan memukau mata, mulai New York yang gemerlapan di malam dan bermandikan sinar matahari sore romantis, hingga bentangan langit luas di lepas samudera tempat Ale bekerja. Sedangkan di dalam, film ini menjadi keindahan tutur mengenai penerimaan dipenuhi ekspresi cinta di sana-sini. Ceritanya nampak sederhana tetapi begitu bernilai. Dekat namun terasa segar sebab jarang sekali romansa kita menyinggung percintaan bersenjatakan kepekaan ditambah kedalaman seperti ini. Tangis akan tumpah, bukan produk manipulasi air mata yang terus diumbar, melainkan dipicu tersampaikannya ekspresi cinta kasih. Indah.

22 komentar :

  1. Anonim6:37 AM

    Dan satu lagi setiap karakter di sini punya porsi masing-masing tuk menguatkan kisah ale dan alya..
    Tapi paling suka adegan pas orang tua ale memberi dukungan itu benar2 bikin terharu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Adegan itu bubar sudah pertahanan emosi

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah thanks! Stupid mistake :))

      Hapus
  3. Nyaris bintang 5 ..knapa gak bintang 5 aj bung hihi..wah ngalahin AADC 2 dan Cek Toko sebelah..selama ininfilm indonesia..dr hasil peniaian bung yg slama ini trus saya ikuti cuma film istirahatlah kata kata yg dpet bintang 5..atau mungkin ad yg lain gk bung.film.indonesia ya..tetep review cerdas dan sensitif y bung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bintang 5 itu kalau kekurangannya mirip 1 jerawat kecil. Ya bisa ganggu tapi kalau didiemin/dilupain nggak pengaruh haha
      Kalau yang sempat ditulis review-nya sejauh ini cuma itu.
      Pasti selalu coba menulis begitu, thanks :)

      Hapus
    2. Betul kekuatan film ini selain gambarnya yg cantik juga akting para pemain terutama pemeran utama dan pemeran ayah ibu tampil meyakinkan. Ekspresi mulai memik,gesture dan intonasi suara menunjukkan mereka sangat mendalami peran nya.

      Hapus
    3. Om Slamet dan Tante Widyawati memang yahud!

      Hapus
  4. Sudah lama jadi pembaca diam-diam di blog ini.

    Cukup sering jadiin review di blog ini sebagai acuan kalau mau nonton film ini. Daaan.. makin pengen nonton CE! :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah makasih banyak, selalu baca & sering komen ya hehe
      Go watch it! :))

      Hapus
  5. Refal hady siapa nya martino lio sama ario bayu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setdah, makin banyak ya yang sampeyan miripin sama mereka :D

      Hapus
  6. pacar ngajak nonton besok dan jujur sempet males-malesan, tapi liat review masnya kok kayaknya menarik ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih nancep kalau ditonton sama orang tercinta memang :)

      Hapus
  7. Ane nonton film ini kebetulan diajak sama Bini yg lagi hamil 8 bulan.
    Busyet dah, akting Reza sama Adinia bener-bener top. Bikin Baper..
    Sampe-sampe seisi bioskop ane liat pada banjir air mata, khususnya bini ane.
    Mungkin sampai saat ini kalo kata ane, film ini adalah film drama romansa terbaik Indonesia sepanjang masa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di zaman sekarang memang jarang film Indonesia angkat tema konflik pernikahan lewat sudut pandang begini.
      Wah, semoga diberi kelancaran & kesehatan sampai proses melahirkan ya mas :)

      Hapus
  8. Walau cuma sebagai cameo di bagian akhir tapi kok malah Renata ya yang mencuri perhatian saya bang? hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gimana ya, Mikha Tambayong gitu :D

      Hapus
  9. Saya rasa ini film yang paling membuat baper untuk seluruh penonton tahun ini.
    Apakah menurut mas rasyid film ini sampai sejuta penonton?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bisa walau kemungkinan besar mentok di 800 ribuan

      Hapus
  10. Bung..dont forget review..film ziarah ny mbah ponco sutiyem

    BalasHapus