Tampilkan postingan dengan label Jenny Jusuf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jenny Jusuf. Tampilkan semua postingan
NANTI KITA CERITA TENTANG HARI INI (2020)
Rasyidharry
Sebuah pesawat kertas melayang di
atas awan, diiringi lagu Rehat milik
Kunto Aji yang mengeset keseluruhan mood Nanti
Kita Cerita Tentang Hari Ini (damai, agak puitis, sesekali sendu, terkadang
hangat), membuka film panjang kesebelas sutradara Angga Dwimas Sasongko ini,
yang merupakan adaptasi novel berjudul sama buatan Marchella FP. Menurut Angga,
inilah karyanya yang paling membanggakan. Pernyataan itu beralasan. Mengingatkan
akan gaya Hirokazu Koreeda, Angga menangani materi yang oleh sutradara lain
mungkin bakal digiring ke arah tearjerker
menjadi sajian slice of life bernuansa
kontemplatif bertema keluarga yang tetap mudah dinikmati kalangan luas.
Pasangan suami-istri, Narendra (Oka
Antara) dan Ajeng (Niken Anjani) sedang menyambut kelahiran puteri bungsu
mereka, Awan. Tapi ketimbang kebahagiaan, kesedihan justru terpancar. Kemudian
kisahnya melompat menuju beberapa tahun kemudian, kala ketiga buah hati
Narendra dan Ajeng (kini diperankan Donny Damara dan Susan Bachtiar) telah
beranjak dewasa. Walau keluarga ini sekilas bahagia, tampak betul Narendra
menganakemaskan Awan (Rachel Amanda). Disuruhnya Angkasa (Rio Dewanto) si anak
sulung menjemput adiknya tiap pulang kerja, sedangkan Aurora (Sheila Dara) si
anak kedua lebih gemar mengurung diri di studio, membuat benda-benda seni
kontemporer.
Dampaknya, Angkasa kerap
terdistraksi dan tak berkesempatan mengejar kebahagiaannya sendiri; Aurora
merasa dikesampingkan; pun Awan mulai jengah dikekang. Bahkan Awan sampai harus
berulang kali terlibat pertengkaran dengan ayahnya kala mulai menjalin
kedekatan dengan Kale (Ardhito Pramono), rekan Angkasa sekaligus manajer band
idolanya. Apa alasan Narendra begitu mengatur anak-anaknya? Mengapa sebegitunya
ia “menjaga” Awan? Apakah semata karena Awan puteri bungsu? Beberapa flashback yang sesekali muncul, akan
pelan-pelan mengupas alasannya, meski jika memperhatikan, jawaban itu bisa anda
dapat sedari momen pembuka.
Ditulis oleh Angga bersama Jenny
Jusuf (Filosofi Kopi, Critical Eleven,
Mantan Manten) dan Melarissa Sjarief, naskahnya sanggup menjadikan deretan
kilas balik tersebut media mengokohkan pondasi penokohan. Dorongan suatu
perbuatan maupun sikap hingga perasaan yang dirahasiakan, terpapar secara subtil
namun jelas. Subtil. Nanti Kita Cerita
Tentang Hari Ini tidak menganggap penontonnya bodoh. Kita diseret oleh
dinamika kisah yang oleh Angga dialirkan dengan penuh kesabaran, dibiarkan
merasakan ketimbang disuapi, sehingga kisahnya makin kaya dan bisa dimaknai
berbeda oleh masing-masing penonton.
Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini adalah tentang dinamika
kompleks antara anak sulung, tengah, dan bungsu. Pun ini juga soal kebebasan
dalam hubungan, baik itu bersifat romansa atau di lingkup keluarga. Ini juga
mengenai impian, kebahagiaan, bahkan menyentil perihal patriarki, dan
maskulinitas di mana ayah sebagai kepala keluarga senantiasa mengatur,
sedangkan anak laki-laki (apalagi kalau berstatus putera sulung) harus jadi
yang paling kuat. Sampai akhirnya film ini memperlihatkan bahwa kedua laki-laki
yang awalnya tampak lebih meledak-ledak itu malah jauh lebih rapuh dibanding
para perempuan yang sebelumnya dituntut atau memilih diam.
Naskahnya pun jeli mengolah dialog,
melahrikan sederet kalimat quotable yang
puitis, tapi tetap terdengar kasual. Poin tersebut senada dengan nuansa yang
dibangun Angga melalui pengarahannya. Ditemani kombinasi pilihan lagu-lagu sang
sutradara yang seperti biasa meneduhkan pula enak didengar (Rehat, Lagu Pejalan, Awal & Akhir, Fine
Today), juga sinematografi garapan Yadi Sugandi (Petualangan Sherina, Athirah, Ada Apa Dengan Cinta 2) yang mampu menggali
ruang personal dalam interaksi manusia, Angga memamerkan kepekaannya, melalui
pengadeganan yang mengutamakan keintiman tanpa banyak menerapkan “rekayasa”
teknis seperti scoring mendayu
misalnya.
Bahkan setelah memasuki third act, yang sejatinya merupakan
parade peristiwa-peristiwa penguras air mata selaku payoff yang memang pantas penonton dapatkan selepas menyaksikan
fragmen-fragmen keseharian sederhana selama lebih dari 90 menit. Di tangan
Angga, jajaran pemain mendapat panggung unjuk gigi. Duet Oka Antara-Niken
Anjani mengobrak-abrik perasaan di latar masa lalu; Donny Damara dan Rio
Dewanto sebagai ayah-anak menyiratkan kerapuhan di balik kerasnya karakter
masing-masing; Sheila Dara melanjutkan rentetan kegemilangannya dalam
judul-judul produksi Visinema melalui keheningan menusuk; Rachel Amanda akan
menarik simpatimu; dan saat Susan Bachtiar memecahkan kediamannya, di situlah
film ini meledakkan pesan empowerment-nya.
Berkat mereka semua, Nanti Kita Cerita
Tentang Hari Ini membuka 2020 secara hangat.
Januari 03, 2020
Angga Dwimas Sasongko
,
Ardhito Pramono
,
Bagus
,
Drama
,
Indonesian Film
,
Jenny Jusuf
,
Melarissa Sjarief
,
Niken Anjani
,
Oka Antara
,
Rachel Amanda
,
REVIEW
,
Rio Dewanto
,
Sheila Dara
,
Susan Bachtiar
,
Yadi Sugandi
MANTAN MANTEN (2019)
Rasyidharry
Tanpa perlu menyertakan embel-embel
“film budaya”, Mantan Manten justru
melahirkan karya yang layak disebut “culturally
significant” , di mana kesakralan pernikahan ditekankan, mistisisme
diperlakukan secara indah selaku bagian kerohanian sekaligus hubungan manusia
dengan semesta, sementara women’s
empowerment dipaparkan tidak secara eksplosif tanpa kehilangan baranya.
Inilah film Indonesia terbaik 2019 untuk sementara.
Mantan Manten dibuka layaknya kebanyakan film soal proses
karakternya menyadari bahwa hidup lebih dari sekedar uang. Nina (Atiqah
Hasiholan) adalah manajer investasi ternama yang mengusung jargon “I believe in money, I believe in people”.
Dialah definisi modern akan “wanita sukses”. Karirnya cemerlang bergelimang
penghargaan, pun ia baru saja dilamar oleh sang kekasih, Surya (Arifin Putra).
Semua sempurna, sampai ayah Surya (Tyo Pakusadewo) menusuk Nina dari belakang,
menjadikannya kambing hitam dalam kasus investasi palsu.
Seketika, Nina kehilangan
segalanya, kecuali sebuah villa di Tawangmangu, yang sayangnya, belum secara
resmi balik nama. Nina pun mendatangi Marjanti (Tutie Kirana) si pemilik rumah guna
meminta tanda tangan. Marjanti setuju, dengan syarat, Nina bersedia menjadi
asistennya sebagai pemaes (dukun manten) selama tiga bulan. Kehabisan opsi, meski
berat hati, Nina menyepakati syarat tersebut. Kita tahu ia akhirnya bakal
menemukan “rumah” di sana, dan saya berharap filmnya lebih banyak
memperlihatkan kesulitan Nina beradaptasi demi melengkapi proses yang dilalui.
Menyusul berikutnya adalah tuturan
mengenai keikhlasan yang dipenuhi kelembutan juga kedamaian. Mayoritas nuansa
itu datang dari penggunaan budaya Jawa beserta filosofi di dalamnya. Marjanti—yang
kembali menunjukkan kepiawaian aktris senior Tutie Kirana berolah rasa—bertindak
sebagai medium penyampai pesan di atas.
Naskah hasil tulisan Jenny Jusuf (Filosofi Kopi, Wonderful Life, Critical
Eleven) bersama sang sutradara, Farishad Latjuba (Mantan Terindah), menggunakan pemaes, selaku profesi yang tak asing
dengan sisi klenik (Pada satu momen, hanya dengan meniupkan asap rokok,
Marjanti mampu membetulkan ukuran baju mempelai pria), untuk mengenalkan
penonton kepada bagaimana masyarakat Jawa memandang mistisisme sebagai bagian
keseharian, yang alih-alih memancing ngeri, justru menyimpan keindahan
tersendiri.
Jarang saya menemukan film kita
melakukan hal demikian (terdekat adalah Sunya
tiga tahun lalu). Hubungan manusia dengan yang tak kasat mata, dari “hantu”
sampai Tuhan, ditampilkan penuh jiwa. Berkat sensitivitas penyutradaraan
Farishad Latjuba, adegan sederhana seperti memohon ampun kepada Tuhan pun amat
menyentuh, meski hanya dibarengi kalimat “Gusti
Allah nyuwun ngapura” yang sudah jamak kita dengar langsung di kehidupan
sehari-hari.
Menggunakan kata “manten” di
judulnya, Mantan Manten tak lupa
mengingatkan kita akan kesakralan pernikahan, yang belakangan mulai tertelan
modernisasi. Entah melalui interaksi kasual antar-tokoh yang mengalir mulus
tanpa kesan dipaksakan hadir untuk menyampaikan pesan, maupun adegan upacara
pernikahan di babak ketiga, yang dieksekusi beitu indah. Filmnya bersedia
menaruh perhatian terhadap esensi tiap ritual sebagai simbol doa bagi
keberlangsungan pernikahan. Implementasi nuansa tradisional dalam musik garapan
Windra Benyamin (Babi Buta Yang Inginn
Terbang, Pai Kau) pun turut memperkuat rasa.
Mencapai akhir, selain cerita
mengenai pencarian makna hidup, Mantan
Manten juga berperan selaku kisah empowerment
yang menjabarkan, betapa serupa perspektif Jawa, keikhlasan berbeda dengan
mengalah, bahkan bisa memberikan kemenangan lebih besar. Berpijak pada elemen itulah
Atiqah mendapat kesempatan memamerkan akting subtil penuh daya. Nina tak
mengucapkan banyak kata, namun wajahnya memancarkan kekuatan luar biasa.
Tatapan tegas ditambah senyum kebanggaan miliknya membuat bulu kuduk berdiri.
Bukan akibat terintimidasi,
melainkan karena menyadari jika saat itu, Nina telah memenangkan pertarungan
tanpa harus menyerang balik bersenjatakan amarah. Nina menang, sebab para “musuh”
merasa malu, menyadari betapa buruk dan kerdil mereka, lalu menaruh hormat kala
melihat sang wanita tak bisa diruntuhkan.
Mungkin beberapa falsafah bakal
kurang cocok bagi sebagian pihak, termasuk saya. Tapi Mantan Manten mengajak penontonnya supaya tak mengamati lewat satu
perspektif dan pengalaman belaka. Begitu saya coba menerapkan itu dalam proses
menyikapi masalah-masalah yang ditawarkan filmnya, hasilnya seperti yang
diucapkan Marjanti. Beban saya terangkat. Mantan
Manten meninggalkan kedamaian di hati, meski di beberapa titik air mata
terlalu sulit dibendung.
April 05, 2019
Arifin Putra
,
Atiqah Hasiholan
,
Drama
,
Farishad Latjuba
,
Indonesian Film
,
Jenny Jusuf
,
REVIEW
,
Sangat Bagus
,
Tutie Kirana
,
Tyo Pakusadewo
,
Windra Benyamin
FILOSOFI KOPI 2: BEN & JODY (2017)
Rasyidharry
Luar biasa apa yang dilakukan Angga Dwimas Sasongko beserta segenap tim dengan Filosofi Kopi. Tatkala film pertama hanya mengumpulkan sekitar 229 ribu penonton, perjalanan tak lantas berhenti. Alih-alih menyatakan gagal, brand Filosofi Kopi dikembangkan lebih jauh. Berangkat dari cerita pendek karya Dewi "Dee" Lestari, kini kita mendapati dibukanya gerai kopi, prekuel berupa web series Ben & Jody, serta sandiwara radio selaku jembatan penghubung film pertama dengan kedua. Hasilnya nyata. Tiket pemutaran hari pertama Filosofi Kopi 2: Ben & Jody ludes di berbagai kota. Ikut berkembang pula kisahnya, dari pemaknaan hidup dalam cerpen Dee menuju soal cinta, sahabat, keluarga, hingga kompleksitas dunia bisnis.
Berbagai tema diangkat oleh trio penulis naskah Jenny Jusuf, M. Irfan Ramly dan Angga Dwimas Sasongko, termasuk seputar betapa hidup diisi kedatangan dan kepergian, suatu tema yang setia hadir sepanjang durasi, pun berperan memberi momen paling emosional dan intisari konklusinya. Tapi semua berawal kala dua tahun setelah memutuskan mengendarai kombi berkeliling Indonesia menyuguhkan kopi terbaik, Ben (Chicco Jerikho) dan Jody (Rio Dewanto) menemui jalan buntu. Mulai ditinggal karyawan, pemasukan tak seberapa, sampai kegamangan akibat merasa tanpa tujuan jadi beberapa sebab. Poin terakhir sejatinya mengundang kejanggalan.
Ben meragukan "destinasi" hidup berkeliling menjual kopi, menyebut keduanya perlu meninggalkan zona nyaman. Artinya, semua masalah dipicu pencarian jawaban karakternya atas tujuan. Namun filmnya lalai menawarkan jawaban kecuali "menemukan dirinya", serupa film pertama, mengesankan stagnansi yang sebaiknya tak dimiliki sekuel selaku proses berkelanjutan. Takkan jadi persoalan bila filmnya tegas memposisikan diri sebagai kisah "kepulangan" yang sejatinya turut membentuk resolusi di akhir, sayangnya banyak hal-hal lain ikut campur aduk. Sedangkan ketika Jody berkata bahwa bisnisnya tidak berjalan, kita tak melihat kesulitan finansial dalam Filosofi Kopi. Ditunjang alasan dipaksakan itu, filmnya membawa Ben dan Jody berusaha membuka kembali kedai filosofi kopi, kali ini dibantu investasi dari Tarra (Luna Maya), juga barista baru bernama Brie (Nadine Alexandra). Benturan dua pribadi berbeda (Ben si idealis total dan Jody si pebisnis tulen) jadi ujian seiring masalah pribadi yang turut menghampiri.
Melalui film kedua, Filosofi Kopi tak lagi banyak berfilosofi soal hidup dengan kopi. Tentu kalimat quotable bermakna macam "Setiap hal yang punya rasa selalu punya nyawa" tetap menghiasi, namun serupa judul awalnya yakni Ben & Jody ("Filosofi Kopi" ditambahkan sebagai penegas brand), bromance dua tokoh utama makin dikedepankan. Dinamika persahabatan Ben dan Jody masih digambarkan lewat saling ejek dibarengi rentetan kalimat seenaknya yang mengalir bebas dari mulut mereka. Rio Dewanto dan Chicco Jerikho tampil bersenjatakan chemistry meyakinkan. Chicco membuat keras kepalanya Ben tak menyebalkan berkat gaya asyik, sementara Rio menjaga supaya Jody tidak ditenggelamkan tingkah polah sang sahabat. Di samping keduanya, ada Luna Maya yang solid kala melakoni porsi emosional, juga Nadine Alexandra dengan kekokohan tersembunyi di balik diamnya Brie.
Persahabatan sejati dibangun oleh pertengkaran yang menyatukan. Naskahnya disusun berdasarkan prinsip itu, tetapi sewaktu film pertama (memenangkan Piala Citra) punya aliran konflik mulus, Ben & Jody menjadikannya obligasi, melemparkan benturan beruntun yang daripada menyatu, baga keping-keping terpisah yang berlebih kuantitasnya. Terlampau seringnya perpindahan lokasi di mana acap kali satu tempat hadir sambil lalu dengan cepat makin menyulitkan pergerakan alur rapi. Pun naskahnya memiliki kesalahan mendasar berbentuk sebuah kebetulan sebagai kejutan sekaligus titik balik perjalanan karakternya. Sebab kebetulan adalah cara paling tak elegan (kalau enggan disebut malas) guna menggerakkan cerita, terlebih jika merupakan fase vital pengembangan karakter.
Andai bukan karena pengadeganan Angga, sulit menerima kelemahan tuturan drama di atas. Sang sutradara diberkahi sensitivitas merangkai momen dramatis, yang daripada mengandalkan metode manipulatif berupa tangisan meraung ditemani musik bergelora, Angga justru "membisukan" suasana. Keheningan menyengat ini memunculkan nuansa intim yang menggandakan dampak emosi. Bagaimana para tokoh diposisikan sebagai manusia yang sedang "merasakan" ketimbang mesin pengundang haru penonton termasuk salah satu kunci. Angga paham betul seperti apa kehilangan atau sakit hati, sehingga visualisasi momen punya ketepatan di tatanan rasa. Ditemani deretan lagu musisi indie penyegar telinga, Filosofi Kopi 2: Ben & Jody tetap perjalanan menyenangkan penuh hati, walau kini, kopi itu tak senikmat dulu.
Juli 14, 2017
Angga Dwimas Sasongko
,
Chicco Jerikho
,
Drama
,
Indonesian Film
,
Jenny Jusuf
,
Lumayan
,
Luna Maya
,
M. Irfan Ramly
,
Nadine Alexandra
,
REVIEW
,
Rio Dewanto
CRITICAL ELEVEN (2017)
Rasyidharry
Sambut Critical Eleven, adaptasi novel berjudul sama karya Ika Natassa yang mulai sekarang semestinya jadi patokan perihal kualitas berbagai sisi drama romantika sinema Indonesia. Cukup manis pula cantik dipandang sebagai suguhan pop, cukup kuat pula kisahnya selaku studi soal karakter dan dinamika pernikahan serta keluarga. Patut dicatat, ini bukan semata-mata cerita lama pertemuan dua sejoli yang seiring waktu sama-sama jatuh hati, lalu berusaha mengalahkan setumpuk rintangan guna menyatukan cinta mereka. Berbeda, karena tak sampai 15 menit durasi, kedua tokoh utama telah bersatu. Masalahnya, pasca persatuan itu diterjang badai, bagaimana membangunnya lagi?
Anya (Adinia Wirasti) kerap dan gemar bepergian menaiki pesawat karena tuntutan pekerjaan. Demikian juga Ale (Reza Rahadian) yang bekerja di oil rig, memaksanya sering bolak-balik ke luar negeri. Pertemuan pertama pada penerbangan menuju Sidney meyakinkan bahwa keduanya adalah pasangan sempurna bagi masing-masing. Mereka menikah, kemudian tinggal di New York agar Anya tidak perlu hidup jauh dari Ale yang tengah bertugas di Meksiko. Kehamilan Anya membawa pasangan ini menuju kebahagiaan hidup terbesar, sampai sebuah insiden memutarbalikkan kondisi 180 derajat, menghadirkan tanya mengenai cinta akibat timbulnya luka.
Poin terpenting film percintaan ada di karakter utama. Bisa tidaknya cerita beserta pesan tersalurkan tergantung seberapa besar penonton mencintai pasangan yang saling mencinta di layar. Reza-Adinia membangun hubungan nyata, alhasil mudah percaya jika Ale dan Anya telah menjalin asmara demikian lama. Rasanya bagai melihat sepasang sahabat (namun dengan perasaan lebih) yang terkoneksi hati sekaligus cocok kala bertukar pikiran sehingga interaksinya nikmat diikuti. Kemesraan memancing senyum, canda memancing tawa, pertengkaran mengoyak hati. Reza dan Adinia mengikuti jejak pasangan klasik macam Slamet Rahardjo-Christine Hakim atau yang agak modern, Nicholas Saputra-Dian Sastrowardoyo, dalam keluwesan chemistry kuat nan natural.
Penonton ingin kisah berakhir bahagia, di situ bentuk keberhasilan yang dicapai Critical Eleven. Tentu penulisan naskah dari Jenny Jusuf, Monty Tiwa, Robert Ronny, dan Ika Natassa turut berjasa. Berfokus seputar gesekan pasutri, Ale dan Anya punya alasan kuat dalam bersikap yang amat bisa dimaklumi. Simpati terbagi rata, sebab tidak ada yang lebih dirugikan, sama-sama manusia yang terluka luar biasa. Bahkan bukan mustahil penonton terhanyut membayangkan berada dalam kondisi sama, kemudian menyadari bahwa bisa jadi bakal bersikap serupa. Naskahnya juga tepat membagi timing transisi kehidupan tokohnya, menciptakan kontradiksi dua sisi (bahagia dan sedih) yang efektif mengguncang emosi.
Di samping observasi problematika pelik rumah tangga, Critical Eleven makin tinggi derajatnya saat keluarga Ale tak dikesampingkan. Konsep soal pernikahan adalah bentuk penyatuan bukan saja suami-istri, pun keluarga ditekankan betul. Kita mendapati Ayah (Slamet Rahardjo), Ibu (Widyawati Sophiaan), sampai kakak dan adik Ale (Revalina S. Temat dan Refal Hady) berkontribusi, berusaha menengahi sesuai kapasitas, membantu tanpa interupsi berlebihan. Para tokoh pendukung ditempatkan sesuai hakikatnya, mendukung poros penceritaan ketimbang mencuri sorotan maupun pasif menjadi hiasan pemanis di belakang. Momen terbaik film ini pun terbentuk sewaktu unsur kekeluargaan menyeruak masuk.
Momen tersebut yakni dua pembicaraan di tempat berbeda (Ale-Ayah dan Anya-Ibu) yang oleh sutradara Monty Tiwa dan Robert Ronny jeli ditampilkan bergantian, terkesan selaras dan saling mengisi. Momen ini memikat di berbagai tatanan. Pertama, mengukuhkan peran keluarga yang didorong rasa cinta berusaha membantu sang anak baik kandung atau menantu menemukan jalan keluar. Kedua, menyampaikan soal saling terima suami istri, poin yang film ini nyatakan jadi kunci pemersatu. Ketiga, tentu saja akting. Setelah pemeran muda unjuk gigi, giliran pelakon senior bersinar. Melalui sepintas peristiwa saja, Widyawati dan Slamet Rahardjo menuangkan sensitivitas, penuh rasa menuturkan cinta antara ayah dan ibu. Mereka berada di tempat (dan mungkin waktu) berbeda namun bak berkomunikasi hati ke hati. Menariknya, selain sekuen ini ayah dan ibu tak pernah saling mengungkapkan cinta secara langsung, seolah menyatakan seiring keberhasilan mengarungi cobaan plus waktu, tak perlu lagi cinta gamblang dinyatakan supaya dirasa dan dipercaya.
Kekurangan Critical Eleven terletak pada penyertaan adegan kurang substansial yang mendorong durasi terlampau panjang, mencapai 132 menit. Mayoritas hal tidak perlu itu berbentuk kontemplasi karakter. Mereka diam, meratap kosong, terkadang menangis. Menjadi tidak perlu karena kekuatan akting Reza dan Adinia sudah cukup mewakili isi hati karakter meski hanya diperlihatkan sesekali, tanpa harus sebanyak itu. Paruh pertengahan tatkala kesedihan menghampiri memang menurunkan tensi. Ale dan Anya tak lagi ceria, daya cengkeram film pun ikut meredup. Kekurangan ini sejatinya dapat dihindari andai tuturannya dipadatkan. Benar titik ini signifikan, tapi bukan berarti mesti berlarut-larut.
Critical Eleven merupakan keindahan luar dalam. Di luar, terkait tampilan, polesan sinematografi Yudi Datau membuat hampir tiap adegan memukau mata, mulai New York yang gemerlapan di malam dan bermandikan sinar matahari sore romantis, hingga bentangan langit luas di lepas samudera tempat Ale bekerja. Sedangkan di dalam, film ini menjadi keindahan tutur mengenai penerimaan dipenuhi ekspresi cinta di sana-sini. Ceritanya nampak sederhana tetapi begitu bernilai. Dekat namun terasa segar sebab jarang sekali romansa kita menyinggung percintaan bersenjatakan kepekaan ditambah kedalaman seperti ini. Tangis akan tumpah, bukan produk manipulasi air mata yang terus diumbar, melainkan dipicu tersampaikannya ekspresi cinta kasih. Indah.
Mei 11, 2017
Adinia Wirasti
,
Drama
,
Ika Natassa
,
Indonesian Film
,
Jenny Jusuf
,
Monty Tiwa
,
Refal Hady
,
Revalina S Temat
,
REVIEW
,
Reza Rahadian
,
Robert Ronny
,
Romance
,
Sangat Bagus
,
Slamet Rahardjo
,
Widyawati Sophiaan
Langganan:
Postingan
(
Atom
)












