Tampilkan postingan dengan label Adinia Wirasti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adinia Wirasti. Tampilkan semua postingan

REVIEW - KAMU TIDAK SENDIRI

Lahir dari cerita gagasan Lukman Sardi, kemudian ditulis naskahnya oleh Titien Wattimena, Kamu Tidak Sendiri memiliki bentuk menarik. Berlatar di tengah gempa dahsyat, ini bukan tentang hancurnya seisi kota akibat bencana, tapi bagaimana bencana itu berdampak pada segelintir individu. 

Ada dua tokoh sentral, yakni Mira (Adinia Wirasti), bos yang dikenal galak oleh anak buahnya, dan Adrian (Rio Dewanto), mantan anggota SAR yang kini menjadi sekuriti gedung kantor Mira. Suatu malam setelah lembur, Mira berada satu lift dengan Mika (Ganindra Bimo), yang sudah lama menjadi pengagum rahasianya. Mendadak lift tersebut macet, mengurung Mira bersama pria yang baru dikenalnya.

Saya mempertanyakan fungsi Mika di narasinya. Jika diniati sebagai pemicu kesediaan Mira membuka diri pada orang lain (selama ini dia menutup diri, baik dari keluarga maupun rekan kerja), rasanya kurang sesuai. Pertama, karena tutur kata Mika memberi kesan creepy, yang ada di garis batas antara pengagum dan penguntit. Kedua, peran itu sudah diemban Adrian, begitu ia berkomunikasi dengan Mira melalui interkom. 

Dimulainya interaksi Mira-Adrian turut mengawali titik balik Kamu Tidak Sendiri, dari thriller satu lokasi biasa, menjadi tuturan yang berorientasi psikis. Saya yakin, banyak penonton juga mengira Adrian bakal melakoni peran ala jagoan dalam film bencana, yang dengan heroik muncul selaku penyelamat. Rupanya tidak. Kita justru hampir tidak pernah melihat wajah Adrian, dan lebih banyak mendengar suaranya.

Inilah daya tarik terbesar filmnya. Bukan sebuah upaya bertahan hidup sarat aksi, melainkan soal kekuatan kata-kata dalam interaksi manusia. Adrian memberi pertolongan pertama, yang bukan (hanya) menyasar fisik, pula psikis. Naskahnya secara bertahap membangun hubungan kedua tokoh, menjadikan ikatan keduanya terasa masuk akal, ketika pelan-pelan mereka (khususnya Mira) mulai membuka diri. 

Obrolan Mira dan Adrian pun tersaji menghibur berkat sentuhan humor. Ketika banyak thriller kita justru melelahkan akibat menganggap dirinya terlampau serius, Kamu Tidak Sendiri tampil sebaliknya. Materi humornya memang cenderung hit-and-miss, namun kehadirannya tidak dipaksakan, bukan sebatas "ayo melucu" demi pemanis, tapi substansial membangun dinamika karakternya. 

Arwin T Wardhana selaku sutradara, dibantu Yadi Sugandi sebagai penata kamera, banyak memakai close-up, yang selain langkah cerdik menutupi sebuah twist, juga bentuk kepercayaan terhadap talenta Adinia Wirasti.  Seperti biasa, penampilannya kuat. Adinia tahu kapan harus meredam diri, kapan waktunya meledakkan emosi. Dialah pondasi yang menjaga film ini berdiri kokoh, biarpun acap kali Arwin bak terbuai akan performa sang aktris, sehingga terlalu lama menghabiskan waktu di satu titik (terutama tiap Adinia bercucuran air mata). Pacing penuturannya pun jadi terganggu.

Kamu Tidak Sendiri juga masih belum lepas dari masalah film berlokasi tunggal, yakni kurangnya variasi peristiwa. Ada kalanya timbul kesan monoton, apalagi saat momen-momen halusinasi tampil lebih banyak dari seharusnya, termasuk "pertemuan khayal" antara Mira dan Adrian, yang daripada menyentuh, malah berakhir cheesy. 

(JAFF 2021)

REVIEW - QUARANTINE TALES

Dibuat semasa pandemi dengan berbagai keterbatasan, rupanya tak menghalangi Quarantine Tales menjadi salah satu omnibus terbaik Indonesia selama beberapa tahun terakhir. Padahal, dari kelima sutradara yang membidani lima segmen pengisi 87 menit durasinya, hanya Ifa Isfansyah yang berpengalaman menggarap film feature. Jason Iskandar, Sidharta Tata, dan Aco Tenriyagelli lebih dikenal di skena film pendek, sedangkan seperti kita tahu, Dian Sastrowardoyo baru menjalani debutnya.

Alasan Quarantine Tales menonjol dibanding sesamanya adalah perbandingan kualitas tiap segmen yang cenderung seimbang, sehingga dinamikanya terjaga secara konsisten. Nougat yang selain disutradarai, juga ditulis sendiri oleh Dian Sastrowardoyo, membuka Quarantine Tales lewat kisah tiga saudari, yang tumbuh bersama, namun seiring pertambahan usia, hubungan mereka makin renggang, dan cuma berkomunikasi lewat video call.

Ubay (Marissa Anita) menjauh dari kedua adiknya selepas menikahi seorang pria yang mengontrol hidupnya, si bungsu Deno (Faradina Mufti) tengah menyelesaikan kuliah, sementara Ajeng (Adinia Wirasti) yang masih tinggal di rumah mendiang orang tua mereka, jadi figur yang berusaha menyatukan keluarganya. Bukan kejutan bila saya menyebut bahwa ketiga aktrisnya merupakan penggerak utama Nougat. Adinia yang lebih pendiam, Faradina yang ceria, dan Marissa yang cepat panas, membuat saya bersedia duduk berjam-jam mendengarkan obrolan ketiganya. Di ranah penulisan, daripada mengambil latar pandemi, Dian dengan cerdik memilih melahirkan komparasi. Tanpa COVID pun, kita sudah berjarak.

Prankster selaku segmen kedua merupakan yang terlemah. Kisah tentang “Youtuber prank” bernama Didit Iseng (Roy Sungkono) yang tengah melakukan siaran langsung bersama Aurel (Windy Apsari) sang bintang tamu ini sejatinya tidak buruk, hanya saja dipenuhi keklisean genre revenge horror/thriller. Naskah buatan sang sutradara, Jason Iskandar, perlu menyediakan rencana balas dendam yang lebih pintar bagi karakternya, yang tak membuatnya terkesan “menggali kuburan sendiri”. Paling tidak, hasrat terpendam penonton untuk menghukum para prankster dunia nyata mampu diwakili oleh Jason.

Segmen Cook Book, yang ditulis Ifa Isfansyah bersama Ahmad Aditya, menyusul kemudian. Mengisahkan usaha Chef Halim (Verdi Solaiman) menulis buku resep di tengah masa karantina, Cook Book menyelipkan salah satu tragedi bangsa, dalam penuturan mengenai kerinduan terhadap “ikatan”. Di tengah kesepian akibat karantina, rasa itu menguat, dan kita mulai merindukan sosok-sosok tercinta, termasuk yang sudah meninggalkan kita. Cook Book menyajikan kepahitan yang rasanya dapat dipahami oleh banyak penonton.

Happy Girls Don’t Cry milik Aco Tenriyagelli adalah segmen favorit saya. Sri Arawinda Kirana memerankan Adin, gadis remaja yang keluarganya diterjang masalah bertubi-tubi akibat COVID. Adiknya (Muzakki Ramdhan) baru saja meninggal, sementara kedua orang tuanya (diperankan Teuku Rifnu Wikana dan Marissa Anita) terlilit begitu banyak hutang. Adin bermimpi memenangkan giveaway dari Youtuber favoritnya demi memperbaiki kondisi finansial keluarga. Tapi tatkala impian itu terwujud, masalah lebih besar justru menghampiri.

Aco menghadirkan satir tajam nan menggelitik perihal eksploitasi kemiskinan di media sosial, pada masa di mana orang-orang berharap memperoleh “uang kaget”. Sindirannya adil, sebab Aco menyentil seluruh pihak, baik kaya maupun miskin. Anda bakal berujar, “Ah, segmen ini memihak A”, kemudian, “Oh, ternyata B”, sebelum akhirnya menyadari, tidak ada satu pun yang “dimenangkan” oleh Happy Girls Don’t Cry. Tidak ada tawa yang tak dibarengi keperihan di segmen ini.

Sebagai penutup adalah The Protocol karya Sidharta Tata, di mana seorang pria (Abdurrahman Arif) sedang kelabakan, begitu mengetahui rekan seperjalanannya, Icuk (Kukuh Prasetya), meninggal di dalam mobil setelah memperlihatkan gejala COVID. Berikutnya, kita diperlihatkan pemandangan-pemandangan menggelikan kala sang protagonis kebingungan, harus mengurus jenazah temannya dengan cara apa. The Protocol begitu efektif memancing tawa di menit-menit pertama, namun ketika humor setipe diulang terus-menerus, kekuatannya perlahan memudar. Memang bukan penutup luar biasa, paling tidak segmen ini sukses mengakhiri sebuah film mengenai masa sulit dengan tawa bahagia.


Available on BIOSKOP ONLINE

LAMPOR: KERANDA TERBANG (2019)

Menonton horor, mudah menebak apakah seorang sutradara merupakan penggila genre itu atau bukan lewat bagaimana ia membungkus sekuen teror. Menahkodai Lampor: Keranda Terbang, Guntur Soeharjanto yang selama ini identik dengan sajian romansa dan religi seperti 99 Cahaya di Langit Eropa (2013), Assalamualaikum Beijing (2014), hingga Ayat-Ayat Cinta 2 (2017), kentara belum menguasai genre yang dibawakannya, melahirkan deretan kecanggungan dalam debutnya menyutradarai horor.

Bukan Guntur seorang yang menjajal horor untuk kali pertama. Begitu pula Adinia Wirasti. Memerankan wanita bernama Netta yang mengalami trauma masa kecil saat adiknya digondol Lampor (hantu pembawa keranda terbang berwujud mirip Dementor), Adinia berusaha menampilkan kesubtilan kala menangani keresahatan individu yang menyimpan setumpuk rahasia, tapi malah menghasilkan penampilan tak bernyawa. Pasif, sering merenung, selalu muram, dan gemar menggumam, meski masih memikat kala dituntut meletupkan emosi, secara keseluruhan, sebagaimana sutradaranya, debut horor sang aktris berakhir kurang manis.

Setidaknya, separuh awal Lampor: Keranda Terbang punya pondasi solid, bersedia bercerita ketimbang menumpuk penampakan belaka. Bersama si suami, Edwin (Dion Wiyoko), dan kedua anaknya, Agam (Bimasena) dan Sekar (Angelia Livie), Netta terpaksa pulang ke kampung halamannya di Temanggung, guna menyampaikan pesan terakhir ibunya, Ratna (Unique Priscilla), kepada sang ayah, Jamal (Mathias Muchus). Ketika Netta kecil, Ratna membawanya pergi meninggalkan Jamal karena ia menganut ilmu hitam pemberian Pak Atmo (Landung Simatupang), si dukun setempat.

Malang, tepat di hari kedatangan Netta, Jamal mendadak meninggal dunia. Warga pun menyambut sinis kepulangan Netta, menganggapnya sebagai pembawa bencana. Mereka yakin bahwa keberadaan Netta mengundang teror Lampor. Benarkah itu? Kalau bukan, apa penyebab utama kemunculan Lampor, yang konon menyambangi tempat di mana pendosa berada? Pertanyaan itu jadi basis eksplorasi naskah buatan Alim Sudio (Kuntilanak, Makmum, Twivortiaire). Remah-remah misteri ditebar secara berkala, sambil pelan-pelan kompleksitas ditingkatkan lewat kemunculan tokoh-tokoh baru.

Kematian tidak wajar Jamal memancing kecurigaan bahwa ia sejatinya dibunuh oleh orang yang mengincar warisannya. Ada sejumlah tersangka. Apakah Esti (Nova Eliza) selaku istri muda Jamal sekaligus keponakan Pak Atmo? Bimo (Dian Sidik) si tukang pukul? Mitha (Steffi Zamora) si puteri angkat Jamal dan Esti? Atau Nining (Annisa Hertami) si pelayan yang senantiasa bersikap baik? Naskahnya mengeksplorasi pertanyaan itu dengan baik, membuat alur bergerak dinamis, sambil sesekali menyelipkan pemanis berupa mitos-mitos mistis seperti awan berbentuk naga hingga kucing hitam sebagai pertanda bencana.

Tapi memasuki paruh akhir, naskahnya kewalahan sewaktu berusaha menyusun keping-keping kebenaran dan menjelaskan "rules" di balik teror Lampor. Seperti benang kusut. Belum lagi karakternya kerap melakukan tindakan yang pantas dipertanyakan. Contohnya Netta, yang kerap meninggalkan anak-anaknya sendiri, padahal seharusnya ia paling tahu betapa berbahaya hal itu. Beruntung di tengah keruwetan itu, Dion Wiyoko memberi satu lagi performa kuat. Bukan yang terbaik dari sang aktor, tapi cukup untuk menghalangi filmnya dari keruntuhan.

Poin terlemah Lampor: Keranda Terbang adalah eksekusi terornya. Padahal, bayangkan betapa mengerikan makhluk satu ini. Membawa keranda terbang, berstatus prajurit Nyi Roro Kidul, menculik lalu merenggut nyawa siapa saja yang terlihat dan melihatnya. Potensinya besar, apalagi ditambah CGI memadai—walau fakta bahwa Lampor banyak muncul di kegelapan malam cukup membantu. Tapi seperti telah disebutkan, Guntur Soeharjanto belum piawai menangani horor.

Pengadeganannya sering menghasilkan disorientasi apalagi pada momen-momen yang mengetengahkan kekacauan sarat aksi. Daripada urgency, justru pusing kepala yang didapat. Bukan saja kekurangcakapan sutradara mengatur fokus adegan, serupa banyak produksi Starvision, penyuntingan kasar berujung transisi berantakan lebih sering menghantui ketimbang hantunya sendiri (walau di kasus Lampor: Keranda Terbang saya curiga sutradara memang tidak menyuplai materi yang cukup).

SULTAN AGUNG: TAHTA, PERJUANGAN, CINTA (2018)

Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta menempatkan penonton di posisi sebagaimana kita sehari-hari, sebagai rakyat, menyikapi seorang pemimpin. Coba pikirkan, seberapa sering anda meragukan Camat, Bupati, Gubernur, sampai Presiden? Kita cenderung—dan merupakan hal wajar—menghakimi mereka berdasarkan apa yang terlihat kini. Karena kita pun tidak tahu menahu soal pertimbangan di belakang. Apalagi saat suatu keputusan lebih berorientasi jangka panjang. Masalahnya, walau film ini berhasil menghadirkan pemahaman soal proses di balik layar itu, hal paling esensial, yakni hasil, urung ditampilkan.

Pembicaraan terkait politik beserta filosofi di belakangnya memang rumit, namun satu jam pertama Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta tampil lebih sederhana, yang mana merupakan paruh terbaiknya. Wajah bila sederhana, sebab inilah masa di mana Sultan Agung alias Raden Mas Rangsang (Marthino Lio) masih muda dan berguru pada Ki Jejer (Deddy Sutomo) di padepokan. Menimba ilmu, baik fisik maupun batin, jadi konsentrasi utama, yang tentu saja diselingi romantika. Raden Mas Rangsang memadu kasih dengan Lembayung (Putri Marino), seorang rakyat biasa.

Romansanya hidup, selain berkat selipan interaksi keseharian santai kaya selipan humor, juga perpaduan apik Marthino-Marino. Putri Marino memudahkan siapa saja mencintai Lembayung, si gadis dengan kekuatan fisik pula batin. Ya, batinnya tergoncang kala Raden Mas Rangsang didapuk sebagai Raja sehingga mesti pulang ke Kraton sekaligus menikahi wanita lain yang ditentukan mendiang ayahnya. Tapi seiring kemampuan Putri mengguncang hati penonton lewat luapan emosi, turut ditegaskan bahwa ia ikhlas, memahami jika tiada pilihan. Jadilah elemen romansanya tak menyentuh ranah dramatisasi opera sabun. Ini tentang sepasang muda-mudi kuat yang mendahulukan kepentingan negeri.

Di antaranya, beberapa adegan laga yang disusun solid oleh Hanung Bramantyo sesekali mengisi, menghasilkan adu jurus menghibur khas kisah pendekar masa lampau. Fase masa muda Sultan Agung ditutup perebutan kekuasaan sarat intrik serta pertumpahan darah yang mana tak pernah lepas dari sejarah kerajaan mana pun. Kemudian kisahnya melompat beberapa tahun, beranjak menyelami konflik politis kompleks dan peperangan kolosal yang mengetengahkan perlawanan Kerajaan Mataram terhadap Vereenigde Oostindische Compagnie alias VOC.

Dari Marthino Lio, Sultan Agung dewasa anti diperankan Ario Bayu. Anda akan sadar betapa cerdik casting film ini begitu melihat kemiripan paras kedua aktor. Ario memerankan Sultan Agung yang telah tumbuh jadi Raja berkepribadian keras yang menolak berkompromi kala VOC berusaha menundukkan Mataram melalui kedok kerja sama dagang dengan aturan mencekik. Lembayung dewasa diperankan Adinia Wirasti, yang bukan saja jago mengolah rasa, juga meyakinkan melakoni porsi aksi. Sementara Ario, lewat wibawanya, mulus memerankan Raja yang mantap menyerukan teriakan perang “Mukti utawa mati!”.

Sultan Agung memutuskan menabuh genderang perang, mengerahkan ribuan rakyat termasuk sekumpulan petani guna menyerbu VOC di Batavia, meski menurut beberapa pihak termasuk sang paman, Tumenggung Notoprojo (Lukman Sardi), itu bak misi bunuh diri. Tapi Sultan tidak bergeming. Mengapa harus mengalah kalau ujungnya kehilangan harga diri sebagai budak penjajah? Di sini kompleksitas muncul, ketika mereka yang menaruh kepercayaan sekalipun, pasti akan bertanya-tanya, “Apakah Sultan sudah dibutakan harga diri sampai membiarkan ribuan rakyat meregang nyawa?”.

Korban berjatuhan, pasukan Mataram tersudut, kian mudah baik bagi rakyat dan penonton meragukan Sultan. Sepanjang pertempuran, jarang kita melihat Sultan, apalagi memperoleh detail soal pendorong keputusan kontroversialnya. Naskah karya BRA Mooryati Soedibyo (juga produser dan produser eksekutif), Ifan Ismail (The Gift, Ayat-Ayat Cinta 2), dan Bagas Pudjilaksono memang sengaja meninggalkan penonton dalam ketidaktahuan, serupa yang dialami pasukan Mataram di medan perang, yang lebih sering kita tengok kondisinya. Kita sama-sama ada dalam “ruang gelap”, menduga-duga maksud Sultan sebagaimana pada umumnya rakyat mempertanyakan sikap sang pemimpin.

Sekuen peperangan di benteng Batavia tampil problematik. Benar tata artistik, semisal kostum dan properti persenjataan tampak solid. CGI yang dipakai menggambarkan ribuan manusia di medan laga pun nyaman dilihat. Poin mengganjal justru ketiadaan paparan taktik. Apa taktik Mataram, hingga Jan Pieterzoon Coen (Hans de Kraker) kaget, mempertanyakan dari mana mereka paham cara mengepung benteng? Kita hanya akan melihat serbuan acak yang terkesan asal gempur. Lalu apa sebab VOC berbalik unggul? Tidak ada perubahan taktik, kecuali mendadak beberapa orang, termasuk J.P. Coen, menembakkan senapan (yang anehnya, merupakan pengulangan adegan flashback sebelumnya). Atau karena menang jumlah? Sulit dipastikan, mengingat sepanjang sekuen, pasukan Mataram justru terlihat unggul kuantitas.

Setelah lokasi pindah ke hutan, baru peperangan lebih menarik. Satu-satunya momen berisi taktik jitu hadir di sini, sewaktu prajurit Mataram menggunakan otak, memanfaatkan alam guna memberi pukulan terbesar bagi VOC. Pada fase ini, ada tata kamera menarik berupa siluet berlatar belakang warna jingga dari nyala obor. Faozan Rizal memang ahli bermain bayangan. Contoh lain eksplorasi bayangan dalam sinematografi tersaji ketika ibunda Sultan Agung, Gusti Ratu Banowati (Christine Hakim) memberi petuah kepada sang anak. Suasana ruang remang-remang, sebagian wajah Christine maupun Marthino gelap, memunculkan keintiman nan khidmat.  

Kembali menuju keputusan kontroversial Sultan. Pernyataan jika perang ini bakal terasa dampaknya 100 tahun ke depan merupakan kunci. Saat itulah asumsi saya menjadi fakta, didukung oleh sekuen berikutnya, yang menegaskan mengapa kebesaran Sultan Agung perlu kita ketahui. Sultan memikirkan masa depan. Dia memupuk bibit generasi mendatang agar kelak dapat menuai perjuangan generasi kini, yang dengan terpaksa harus berkorban bertaruh nyawa. Masalahnya, hasil nyata siasat Sultan Ahanya ditaruh di teks sebelum credit akhir. Kita tak pernah melihatnya divisualisasikan. Itu kenapa, setelah 148 menit, Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta terasa baru melaju separuh jalan. Tidak peduli seberapa mumpuni, separuh jalan tetaplah kurang utuh.

SUSAH SINYAL (2017)

Apakah Ernest Prakasa kelelahan? Atau ia belum menemukan formula mengolah kisah di luar sentilan kultur Cina yang kali ini hanya muncul sekelebat sebagai balutan humor sesaat? Masih menggunakan perpaduan drama keluarga dan komedi "acak" serupa Ngenest dan Cek Toko Sebelah, kedua unsur tersebut sesekali tersampaikan, namun tak jarang luput dari sasaran, kurang mulus pula dikawinkan. Koneksi dengan penonton timbul tenggelam, kadang lancar, kadang terganggu. Sepertinya film ini tengah mengalami susah sinyal. 

Seperti kebanyakan drama serupa, hubungan berjarak antara orang tua dan anak film ini disebabkan urusan pekerjaan. Ellen (Adinia Wirasti), pengacara sukses sekaligus ibu tunggal, jarang meluangkan waktu bersama puterinya, Kiara (Aurora Ribero), yang lebih terikat dengan kehidupan media sosial dan sang nenek, Agatha (Niniek L Karim). Di suatu malam, sepulang kerja, Ellen berusaha terlibat pembicaraan tentang film favorit Kiara, Moana, tapi justru menyebut Lilo & Stitch. Nenekmu lebih tahu film yang kamu cintai daripada ibumu, yang notabene jarang memberi perhatian. Tentu menyakitkan. 
Alhasil, wajar Kiara amat terpukul saat nenek meninggal. Mengetahui itu, Ellen mengabulkan keinginan Kiara berlibur ke Sumba, sembari berharap menemukan sinyal yang terputus di antara mereka. Tapi liburan ke tempat di mana Asri Welas, Arie Kriting, Abdur Arsyad, Ge Pamungkas, sampai Chew Kin Wah yang menikahi Selfi KDI berkumpul, jelas takkan berlangsung normal. Ernest menyediakan panggung melucu seliar mungkin. Asri yang lebih kalem tetap mengocok perut kala memperagakan capoeira, pun Ge sebagai tokoh penuh trauma yang memfasilitasi gaya ekspresifnya. 

Keliaran komedi, yang acap kali tak terkait alur utama, berhasil sebagai bumbu penyedap dalam Cek Toko Sebelah. Susah Sinyal memunculkan kesan berbeda. Menulis naskahnya bersama sang istri, Meira Anastasia, Ernest bagai menabur bumbu terlalu banyak demi menutupi kekurangan di bahan pokok, alias alur yang tipis. Kelakar Arie dan Abdur misalnya. Menggelitik, namun seketika kehilangan daya bunuh sewaktu hadir berkepanjangan. Titik tertinggi komedi film ini terletak pada guyonan sekilas dengan kesempurnaan timing, seperti Asri Welas yang cenderung serius sehingga dampaknya berlipat ganda saat celotehan yang dinanti tiba, atau absurditas Dodit Mulyanto yang mengisi sesuai kebutuhan, tak dieksploitasi.
Ellen berharap perjalanan ke Sumba merekatkan hubungannya dengan Kiara. Kita menghabiskan sepertiga durasi di sana, melewati berbagai peristiwa, termasuk ketertarikan Kiara pada karyawan hotel bernama Abe (Refal Hady), sayangnya itu semua bukan quality time. Terlampau sering distraksi hadir, keduanya telah menemukan kembali sinyal yang terputus sebelum penonton sempat direnggut oleh gesekan yang terjadi. Film ini membawa karakternya ke Sumba, lalu seolah bingung mesti berbuat apa pada mereka. Aspek teknis pun gagal membantu, baik pilihan shot ala kadarnya (Ernest pernah melahirkan gambar luar biasa kuat berupa Chew Kin Wah bersandar di tiang toko kosong dalam Cek Toko Sebelah) maupun transisi kasar musik selaku cue emosi. 

Untungnya Susah Sinyal punya Adinia Wirasti, seorang aktris langka yang sanggup menyulap obrolan kasual jadi menarik. Bersama debut memikat Aurora Ribero dalam gaya sinis yang menjadikan ketakutan Ellen mendekatinya terasa masuk akal, Adinia menghembuskan nyawa, menghindarkan filmnya dari kehampaan total. Susah Sinyal is a step back. Tapi bukan kemunduran jauh, apalagi suguhan buruk. Ernest selalu belajar, dan itu membuat kepercayaan saya padanya tidak luntur. 

SATU HARI NANTI (2017)

Mengusung rating 21+, Satu Hari Nanti memang film dewasa. Bukan karena bertebaran sensualitas yang sesungguhnya sebatas beberapa ciuman "panas" dan lingerie Adinia Wirasti, melainkan tema beserta perspektif soal hubungan. Ditulis sekaligus disutradarai oleh Salman Aristo (Bukaan 8, Mencari Hilal), sudut pandang film yang mengetengahkan kisah saling tukar pasangan ini memang cenderung menyasar kalangan dewasa, di mana romantika bukan cuma aktivitas "manis-manis manja", istilah "best friend forever" tidak eksis, sedangkan setting luar negeri bukan dipakai sebagai lahan jalan-jalan ria. 

Bertempat di Swiss memfasilitasi (atau tepatnya memudahkan) empat tokoh utamanya menjalin asmara, tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan. Bima (Deva Mahenra) yang bergulat meniti karir musik mendapati hubungannya dengan Alya (Adinia Wirasti) yang tengah menempuh pendidikan chocolatier semakin hambar, sementara Chorina (Ayushita Nugraha) si manajer hotel harus sabar menyikapi kegemaran kekasihnya yang berprofesi sebagai tour guide, Din (Ringgo Agus Rahman), bermain wanita. Kedua pasangan ini saling mendukung, menyediakan tempat bersandar kala masing-masing diterpa permasalahan. Sampai semua berjalan terlalu jauh, dan persahabatan berkembang menjadi hasrat menggebu. 
Satu kelebihan yang kerap Salman Aristo munculkan lewat skenario buatannya yakni karakter solid. Dalam Satu Hari Nanti, mudah mendeteksi apa yang tiap tokoh rasakan, inginkan, atau keluhkan dari pasangannya. Serupa pendekatan filmnya, keempat protagonis bukan lagi muda-mudi naif yang selalu kagum bak turis di negeri orang. Akhirnya, biarpun kamera Faozan Rizal sanggup menyibak indahnya alam setempat, dan Aghi Narottama bersama Bemby Gusti membuat musik bernuansa Eropa, Satu Hari Nanti tidak tampil "kampungan" kala enggan meluangkan terlampau banyak waktu berwisata. 

Dewasa dan elegan. Dua kata itu menyusun gerak langkah filmnya, setidaknya itu yang ingin dituju Salman Aristo saat menekan letupan emosi sambil membangun interaksi melalui barisan pembicaraan yang dipakai karakternya untuk menuangkan kegelisahan ketimbang bertukar bahasa puitis. Pun daripada momentum bergelora, Salman memilih memberi panggung bagi jajaran pemain sebagai pembentuk rasa, khususnya Adinia Wirasti yang kembali piawai memberi bobot untuk adegan sesederhana apapun. Tidak semua keputusan Alya simpatik, tapi Adinia bisa mengajak penonton bertahan di sisinya.
Sayang, penyutradaraan Salman Aristo tak memiliki sensitivitas sekuat sang aktris. Keinginan memasang wajah dewasa nan elegan membuatnya lalai menghembuskan rasa. Tidak dibarengi pembentukan dinamika mumpuni ditambah dialog tanpa pokok pembicaraan yang mampu menyulut kemauan penonton menyelami detail setiap kata, Satu Hari Nanti tersaji sedingin Swiss. Padahal bila diamati, tersimpan setumpuk gagasan menarik mengenai cinta, mimpi, hingga gejolak batin manusiawi, yang gagal tertuang maksimal layaknya seseorang penuh ide yang bingung cara menumpahkannya. Penonton dapat menangkap setumpuk gagasan itu, tapi sulit merasa terikat, yang artinya, Satu Hari Nanti hanya bekerja di ranah kognitif, bukan afektif. 

Kekurangan tersebut berakibat fatal tatkala konklusi yang bermakna dan berpotensi mengguncang emosi secara subtil akhirnya kurang berdampak. Mengangkat tagline "Cinta itu Perjalanan", Satu Hari Nanti justru melangkah lemah di paruh tengah, membuat destinasi yang sebenarnya spesial berujung hambar. Padahal resolusi yang dipilih untuk menutup persoalan kedua (atau keempat) hubungan sudah selaras dengan kedewasaan berbasis realita yang dituju. Apalagi ketika Chorina tidak lagi membutuhkan bantuan untuk memotong cokelat kepunyaannya. Tersirat namun kuat. 


Note: Diputar dalam rangkaian Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2017

CRITICAL ELEVEN (2017)

Sambut Critical Eleven, adaptasi novel berjudul sama karya Ika Natassa yang mulai sekarang semestinya jadi patokan perihal kualitas berbagai sisi drama romantika sinema Indonesia. Cukup manis pula cantik dipandang sebagai suguhan pop, cukup kuat pula kisahnya selaku studi soal karakter dan dinamika pernikahan serta keluarga. Patut dicatat, ini bukan semata-mata cerita lama pertemuan dua sejoli yang seiring waktu sama-sama jatuh hati, lalu berusaha mengalahkan setumpuk rintangan guna menyatukan cinta mereka. Berbeda, karena tak sampai 15 menit durasi, kedua tokoh utama telah bersatu. Masalahnya, pasca persatuan itu diterjang badai, bagaimana membangunnya lagi?

Anya (Adinia Wirasti) kerap dan gemar bepergian menaiki pesawat karena tuntutan pekerjaan. Demikian juga Ale (Reza Rahadian) yang bekerja di oil rig, memaksanya sering bolak-balik ke luar negeri. Pertemuan pertama pada penerbangan menuju Sidney meyakinkan bahwa keduanya adalah pasangan sempurna bagi masing-masing. Mereka menikah, kemudian tinggal di New York agar Anya tidak perlu hidup jauh dari Ale yang tengah bertugas di Meksiko. Kehamilan Anya membawa pasangan ini menuju kebahagiaan hidup terbesar, sampai sebuah insiden memutarbalikkan kondisi 180 derajat, menghadirkan tanya mengenai cinta akibat timbulnya luka.
Poin terpenting film percintaan ada di karakter utama. Bisa tidaknya cerita beserta pesan tersalurkan tergantung seberapa besar penonton mencintai pasangan yang saling mencinta di layar. Reza-Adinia membangun hubungan nyata, alhasil mudah percaya jika Ale dan Anya telah menjalin asmara demikian lama. Rasanya bagai melihat sepasang sahabat (namun dengan perasaan lebih) yang terkoneksi hati sekaligus cocok kala bertukar pikiran sehingga interaksinya nikmat diikuti. Kemesraan memancing senyum, canda memancing tawa, pertengkaran mengoyak hati. Reza dan Adinia mengikuti jejak pasangan klasik macam Slamet Rahardjo-Christine Hakim atau yang agak modern, Nicholas Saputra-Dian Sastrowardoyo, dalam keluwesan chemistry kuat nan natural.

Penonton ingin kisah berakhir bahagia, di situ bentuk keberhasilan yang dicapai Critical Eleven. Tentu penulisan naskah dari Jenny Jusuf, Monty Tiwa, Robert Ronny, dan Ika Natassa turut berjasa. Berfokus seputar gesekan pasutri, Ale dan Anya punya alasan kuat dalam bersikap yang amat bisa dimaklumi. Simpati terbagi rata, sebab tidak ada yang lebih dirugikan, sama-sama manusia yang terluka luar biasa. Bahkan bukan mustahil penonton terhanyut membayangkan berada dalam kondisi sama, kemudian menyadari bahwa bisa jadi bakal bersikap serupa. Naskahnya juga tepat membagi timing transisi kehidupan tokohnya, menciptakan kontradiksi dua sisi (bahagia dan sedih) yang efektif mengguncang emosi.
Di samping observasi problematika pelik rumah tangga, Critical Eleven makin tinggi derajatnya saat keluarga Ale tak dikesampingkan. Konsep soal pernikahan adalah bentuk penyatuan bukan saja suami-istri, pun keluarga ditekankan betul. Kita mendapati Ayah (Slamet Rahardjo), Ibu (Widyawati Sophiaan), sampai kakak dan adik Ale (Revalina S. Temat dan Refal Hady) berkontribusi, berusaha menengahi sesuai kapasitas, membantu tanpa interupsi berlebihan. Para tokoh pendukung ditempatkan sesuai hakikatnya, mendukung poros penceritaan ketimbang mencuri sorotan maupun pasif menjadi hiasan pemanis di belakang. Momen terbaik film ini pun terbentuk sewaktu unsur kekeluargaan menyeruak masuk.

Momen tersebut yakni dua pembicaraan di tempat berbeda (Ale-Ayah dan Anya-Ibu) yang oleh sutradara Monty Tiwa dan Robert Ronny jeli ditampilkan bergantian, terkesan selaras dan saling mengisi. Momen ini memikat di berbagai tatanan. Pertama, mengukuhkan peran keluarga yang didorong rasa cinta berusaha membantu sang anak  baik kandung atau menantu  menemukan jalan keluar. Kedua, menyampaikan soal saling terima suami istri, poin yang film ini nyatakan jadi kunci pemersatu. Ketiga, tentu saja akting. Setelah pemeran muda unjuk gigi, giliran pelakon senior bersinar. Melalui sepintas peristiwa saja, Widyawati dan Slamet Rahardjo menuangkan sensitivitas, penuh rasa menuturkan cinta antara ayah dan ibu. Mereka berada di tempat (dan mungkin waktu) berbeda namun bak berkomunikasi hati ke hati. Menariknya, selain sekuen ini ayah dan ibu tak pernah saling mengungkapkan cinta secara langsung, seolah menyatakan seiring keberhasilan mengarungi cobaan plus waktu, tak perlu lagi cinta gamblang dinyatakan supaya dirasa dan dipercaya.
Kekurangan Critical Eleven terletak pada penyertaan adegan kurang substansial yang mendorong durasi terlampau panjang, mencapai 132 menit. Mayoritas hal tidak perlu itu berbentuk kontemplasi karakter. Mereka diam, meratap kosong, terkadang menangis. Menjadi tidak perlu karena kekuatan akting Reza dan Adinia sudah cukup mewakili isi hati karakter meski hanya diperlihatkan sesekali, tanpa harus sebanyak itu. Paruh pertengahan tatkala kesedihan menghampiri memang menurunkan tensi. Ale dan Anya tak lagi ceria, daya cengkeram film pun ikut meredup. Kekurangan ini sejatinya dapat dihindari andai tuturannya dipadatkan. Benar titik ini signifikan, tapi bukan berarti mesti berlarut-larut.

Critical Eleven merupakan keindahan luar dalam. Di luar, terkait tampilan, polesan sinematografi Yudi Datau membuat hampir tiap adegan memukau mata, mulai New York yang gemerlapan di malam dan bermandikan sinar matahari sore romantis, hingga bentangan langit luas di lepas samudera tempat Ale bekerja. Sedangkan di dalam, film ini menjadi keindahan tutur mengenai penerimaan dipenuhi ekspresi cinta di sana-sini. Ceritanya nampak sederhana tetapi begitu bernilai. Dekat namun terasa segar sebab jarang sekali romansa kita menyinggung percintaan bersenjatakan kepekaan ditambah kedalaman seperti ini. Tangis akan tumpah, bukan produk manipulasi air mata yang terus diumbar, melainkan dipicu tersampaikannya ekspresi cinta kasih. Indah.

KARTINI (2017)

Saat kisah hidup seseorang diangkat ke film, ada beberapa kemungkinan. Antara namanya begitu besar, berpotensi mendulang uang, atau menyimpan relevansi terhadap isu terkini. Kartini sang pahlawan emansipasi memiliki ketiganya. Kala feminisme makin sering diteriakkan termasuk di Indonesia, kehadiran ikon perjuangan wanita negeri ini dalam layar lebar menjadi tak sekedar menarik, pula penting disimak. Sebab satu poin penting dari pemikiran Kartini, bahwa pergerakannya bukan semata manifestasi sakit hati atau hasrat kebebasan personal. Lebih dari itu, sifatnya komunal, meluas, menyangkut rakyat luas menentang kekangan sistem feodal.

Ditulis naskahnya oleh Bagus Bramanti (Dear Nathan, Talak 3, Mencari Hilal) bersama sang sutradara Hanung Bramantyo, film ini, walau banyak berkutat di lingkungan rumah Kartini (Dian Sastrowardoyo), turut menyelipkan gambaran kondisi sosial politik Indonesia, khususnya Pulau Jawa pada awal 1900 di bawah pemerintahan Belanda. Diceritakan tujuan hidup wanita Jawa hanya menikah, melayani suami yang wajar bila beristri lebih dari satu. Menginjak dewasa, wanita dipingit, tinggal dalam kamar menanti pinangan pria. Wanita (dan rakyat miskin di luar golongan bangsawan) pun dipandang remeh,  tidak semestinya memegang posisi penting macam Bupati. 
Gambaran masa itu terpampang jelas, bagaimana sistem berdampak pada kasta masyarakat lalu dampak kegigihan Kartini yang tak berhenti di diri sendiri, pula membuka jalan lapang bagi pihak lain di banyak sisi (pendidikan, ekonomi). Setidaknya pada tataran informasi agar penonton tahu bagaimana situasi di mana filmnya bertempat, walau batasan durasi menghalangi beberapa detail tersampaikan. Misal kurangnya eksplorasi asal mula hubungan orang tua kandung Kartini, RM Sosroningrat (Deddy Sutomo) dan Ngasirah (Christine Hakim, Ngasirah muda diperankan Nova Eliza) yang substansif menunjukkan kuatnya patriarki mengakar di sistem feodal. Informasi itu urung diberikan, padahal sifatnya penting, khususnya bagi penontom awam sejarah. Sebelum pemutaran, Hanung sempat menyatakan durasi terbatas membuat beberapa poin berpotensi kurang mendalam, untuk itu penonton diharapkan aktif membaca buku selaku salah satu sorotan utama alur. Lalu bagaimana dengan penonton yang cenderung familiar akan tokoh utama?

Bagi golongan penonton tersebut, Kartini urung memunculkan perspektif baru. Cukup membaca segelintir sumber, pemahaman serupa bisa didapat. Terkait kedalaman, khususnya tentang feminisme, Kartini pun mengambil sisi begitu standar. Wanita dijajah pria, dijadikan perhiasan sangkar madu (atau burung dalam sangkar menurut simbolisme filmnya), kemudian melawan, baik secara sembunyi-sembunyi atau frontal membantah. Pandangan feminismenya (paling tidak dari kacamata saya) tepat, bukan misogyny berkedok pembelaan semu hak wanita. Namun saat pergerakan tersebut makin sering didengungkan ditambah kompleksitas penerapan yang acap kali memancing perdebatan di beberapa kondisi, kesederhanaan tuturan itu takkan menyulut perbincangan atau pemikiran lanjut. 
Sesungguhnya ada niat ke sana. Kartini teguh melawan tapi penuh perhitungan, mengandalkan pemikiran di balik jeruji penjara budaya, serta mau bernegosiasi demi win-win solution dan tujuan luas seperti keputusannya di akhir ketimbang membabi buta menentang. Sebaliknya, banyak generasi sekarang terlampau dikuasai amarah, di mana penolakan penindasan pria lewat ekspresi kebencian terhadap lawan jenis (which isn't the real feminism). Dalam satu adegan, Ngasirah mengibaratkan perbedaan wanita kuat Jawa dan Belanda lewat bentuk aksara Jawa yang mengenal tanda "pangkon". Mereka bisa mandiri tanpa lupa berbakti entah untuk orang tua maupun suami. Bukan mengalah, melainkan tuntutan berpikir cerdik menyiasati kekangan. Dua adik Kartini, Roekmini (Acha Septriasa) dan Kardinah (Ayushita Nugraha) memang berkata enggan menikah, namun pemikiran ini masuk akal, bahkan mesti dimengerti melihat nasib mayoritas wanita Jawa selaku istri kala itu. Wajar penolakan berbasis trauma pun rasa takut hinggap.

Sayangnya poin di atas sebatas pernak-pernik sekilas daripada fokus utama penceritaan. Seperti sudah disinggung, Kartini tak seberapa mendalam, sebab orientasinya sendiri condong sebagai biopic hiburan. Karena itu pula penggunaan Bahasa Jawanya sepotong-sepotong, dan tidak memakai gaya di zamannya. Hanung berpengalaman menangani biopic serupa (Sang Pencerah, Sokearno, Rudy Habibie) dan penyutradaraannya makin baik. Masih terjebak gaya bertutur terlalu gamblang dalam keharusan menghadirkan tangis untuk momen sedih (plus umlah berlebihan teks narasi), dramatisasinya bisa diterima khususnya berkat penempatan musik tepat guna alih-alih eksploitasi kemegahan suara (alasan Surga Yang Tak Dirindukan 2 amat menyebalkan). Musik karya kolaborasi Andi Rianto dan Charlie Meliala tidak sekedar megah, juga memorable, dan terpenting sesuai mewakili gelora perjuangan titular character
Menghibur berarti mudah dinikmati, dan begitulah Kartini bergulir. Beberapa kali kesan episodik (penyakit umum film biografi) terasa saat babak-babak hidup Kartini tampil silih berganti termasuk tokoh-tokoh datang dan pergi, tetapi kematangan Hanung bercerita menjaga supaya pergerakannya halus, tidak melompat paksa nan kasar antar titik. Menambah daya hibur adalah tata visual dari sinematografi Faozan Rizal. Aspek terbaik gambarnya terletak di kengganan Faozan Rizal "menyiram" tiap adegan dengan cahaya benderang. Pencahayaan difungsikan memberi karakter suatu momen, bukan asal menerangi. Dan keputusan memakai bayang-bayang gelap selain menambah kesan realis turut menguatkan tekstur, memperkaya sekaligus memperindah adegan. 

Kartini merupakan salah satu film Indonesia dengan jajaran cast terbesar dipimpin kepiawaian Dian Sastrowardoyo memanusiakan Kartini. Berkatnya, Kartini tak hanya sosok kosong perwujudan ide semata, melainkan wanita muda muda biasa yang walau berjuang dikelilingi penderitaan, juga dapat bertingkah jenaka terlebih ketika bersama Roekmini dan Kardinah. Di samping permainan watak mendalam sebagai Ngasirah yang memendam setumpuk derita, Christine Hakim jadi penampil dengan pengucapan Bahasa Jawa paling lancar, natural, enak didengar. Djenar Maesa Ayu patut dipuji atas keberhasilan mendorong antipati penonton pada Moeryam meski ia berakhir sebatas keklisean ibu tiri kejam sewaktu potensi kerumitan wanita yang tersudut ketiadaan pilihan urung ditelusuri naskahnya. Reza Rahadian berstatus glorified cameo belaka, pun porsi minim Adinia Wirasti, termasuk kemunculan kembali Sulastri  tokoh peranannya  yang dipaksakan ada demi mengakhiri konflik.