KARTINI (2017)

19 komentar
Saat kisah hidup seseorang diangkat ke film, ada beberapa kemungkinan. Antara namanya begitu besar, berpotensi mendulang uang, atau menyimpan relevansi terhadap isu terkini. Kartini sang pahlawan emansipasi memiliki ketiganya. Kala feminisme makin sering diteriakkan termasuk di Indonesia, kehadiran ikon perjuangan wanita negeri ini dalam layar lebar menjadi tak sekedar menarik, pula penting disimak. Sebab satu poin penting dari pemikiran Kartini, bahwa pergerakannya bukan semata manifestasi sakit hati atau hasrat kebebasan personal. Lebih dari itu, sifatnya komunal, meluas, menyangkut rakyat luas menentang kekangan sistem feodal.

Ditulis naskahnya oleh Bagus Bramanti (Dear Nathan, Talak 3, Mencari Hilal) bersama sang sutradara Hanung Bramantyo, film ini, walau banyak berkutat di lingkungan rumah Kartini (Dian Sastrowardoyo), turut menyelipkan gambaran kondisi sosial politik Indonesia, khususnya Pulau Jawa pada awal 1900 di bawah pemerintahan Belanda. Diceritakan tujuan hidup wanita Jawa hanya menikah, melayani suami yang wajar bila beristri lebih dari satu. Menginjak dewasa, wanita dipingit, tinggal dalam kamar menanti pinangan pria. Wanita (dan rakyat miskin di luar golongan bangsawan) pun dipandang remeh,  tidak semestinya memegang posisi penting macam Bupati. 
Gambaran masa itu terpampang jelas, bagaimana sistem berdampak pada kasta masyarakat lalu dampak kegigihan Kartini yang tak berhenti di diri sendiri, pula membuka jalan lapang bagi pihak lain di banyak sisi (pendidikan, ekonomi). Setidaknya pada tataran informasi agar penonton tahu bagaimana situasi di mana filmnya bertempat, walau batasan durasi menghalangi beberapa detail tersampaikan. Misal kurangnya eksplorasi asal mula hubungan orang tua kandung Kartini, RM Sosroningrat (Deddy Sutomo) dan Ngasirah (Christine Hakim, Ngasirah muda diperankan Nova Eliza) yang substansif menunjukkan kuatnya patriarki mengakar di sistem feodal. Informasi itu urung diberikan, padahal sifatnya penting, khususnya bagi penontom awam sejarah. Sebelum pemutaran, Hanung sempat menyatakan durasi terbatas membuat beberapa poin berpotensi kurang mendalam, untuk itu penonton diharapkan aktif membaca buku selaku salah satu sorotan utama alur. Lalu bagaimana dengan penonton yang cenderung familiar akan tokoh utama?

Bagi golongan penonton tersebut, Kartini urung memunculkan perspektif baru. Cukup membaca segelintir sumber, pemahaman serupa bisa didapat. Terkait kedalaman, khususnya tentang feminisme, Kartini pun mengambil sisi begitu standar. Wanita dijajah pria, dijadikan perhiasan sangkar madu (atau burung dalam sangkar menurut simbolisme filmnya), kemudian melawan, baik secara sembunyi-sembunyi atau frontal membantah. Pandangan feminismenya (paling tidak dari kacamata saya) tepat, bukan misogyny berkedok pembelaan semu hak wanita. Namun saat pergerakan tersebut makin sering didengungkan ditambah kompleksitas penerapan yang acap kali memancing perdebatan di beberapa kondisi, kesederhanaan tuturan itu takkan menyulut perbincangan atau pemikiran lanjut. 
Sesungguhnya ada niat ke sana. Kartini teguh melawan tapi penuh perhitungan, mengandalkan pemikiran di balik jeruji penjara budaya, serta mau bernegosiasi demi win-win solution dan tujuan luas seperti keputusannya di akhir ketimbang membabi buta menentang. Sebaliknya, banyak generasi sekarang terlampau dikuasai amarah, di mana penolakan penindasan pria lewat ekspresi kebencian terhadap lawan jenis (which isn't the real feminism). Dalam satu adegan, Ngasirah mengibaratkan perbedaan wanita kuat Jawa dan Belanda lewat bentuk aksara Jawa yang mengenal tanda "pangkon". Mereka bisa mandiri tanpa lupa berbakti entah untuk orang tua maupun suami. Bukan mengalah, melainkan tuntutan berpikir cerdik menyiasati kekangan. Dua adik Kartini, Roekmini (Acha Septriasa) dan Kardinah (Ayushita Nugraha) memang berkata enggan menikah, namun pemikiran ini masuk akal, bahkan mesti dimengerti melihat nasib mayoritas wanita Jawa selaku istri kala itu. Wajar penolakan berbasis trauma pun rasa takut hinggap.

Sayangnya poin di atas sebatas pernak-pernik sekilas daripada fokus utama penceritaan. Seperti sudah disinggung, Kartini tak seberapa mendalam, sebab orientasinya sendiri condong sebagai biopic hiburan. Karena itu pula penggunaan Bahasa Jawanya sepotong-sepotong, dan tidak memakai gaya di zamannya. Hanung berpengalaman menangani biopic serupa (Sang Pencerah, Sokearno, Rudy Habibie) dan penyutradaraannya makin baik. Masih terjebak gaya bertutur terlalu gamblang dalam keharusan menghadirkan tangis untuk momen sedih (plus umlah berlebihan teks narasi), dramatisasinya bisa diterima khususnya berkat penempatan musik tepat guna alih-alih eksploitasi kemegahan suara (alasan Surga Yang Tak Dirindukan 2 amat menyebalkan). Musik karya kolaborasi Andi Rianto dan Charlie Meliala tidak sekedar megah, juga memorable, dan terpenting sesuai mewakili gelora perjuangan titular character
Menghibur berarti mudah dinikmati, dan begitulah Kartini bergulir. Beberapa kali kesan episodik (penyakit umum film biografi) terasa saat babak-babak hidup Kartini tampil silih berganti termasuk tokoh-tokoh datang dan pergi, tetapi kematangan Hanung bercerita menjaga supaya pergerakannya halus, tidak melompat paksa nan kasar antar titik. Menambah daya hibur adalah tata visual dari sinematografi Faozan Rizal. Aspek terbaik gambarnya terletak di kengganan Faozan Rizal "menyiram" tiap adegan dengan cahaya benderang. Pencahayaan difungsikan memberi karakter suatu momen, bukan asal menerangi. Dan keputusan memakai bayang-bayang gelap selain menambah kesan realis turut menguatkan tekstur, memperkaya sekaligus memperindah adegan. 

Kartini merupakan salah satu film Indonesia dengan jajaran cast terbesar dipimpin kepiawaian Dian Sastrowardoyo memanusiakan Kartini. Berkatnya, Kartini tak hanya sosok kosong perwujudan ide semata, melainkan wanita muda muda biasa yang walau berjuang dikelilingi penderitaan, juga dapat bertingkah jenaka terlebih ketika bersama Roekmini dan Kardinah. Di samping permainan watak mendalam sebagai Ngasirah yang memendam setumpuk derita, Christine Hakim jadi penampil dengan pengucapan Bahasa Jawa paling lancar, natural, enak didengar. Djenar Maesa Ayu patut dipuji atas keberhasilan mendorong antipati penonton pada Moeryam meski ia berakhir sebatas keklisean ibu tiri kejam sewaktu potensi kerumitan wanita yang tersudut ketiadaan pilihan urung ditelusuri naskahnya. Reza Rahadian berstatus glorified cameo belaka, pun porsi minim Adinia Wirasti, termasuk kemunculan kembali Sulastri  tokoh peranannya  yang dipaksakan ada demi mengakhiri konflik. 

19 komentar :

Comment Page:
bais mustaqim mengatakan...

Kangen kontroversinya film Hanung seperti Sang Pencerah,Doa yg mengancam, Tanda tanya

Rasyidharry mengatakan...

Ketiganya memang termasuk karya terbaik Hanung, tapi bisa dipahami. Pasti jengah juga dapat cap negatif & selalu berurusan sama ormas tiap kali film rilis. Bisa dampak buruk buat karir juga.

hilpans mengatakan...

Gmn dengan akting acha septriasa bung...

Rasyidharry mengatakan...

Acha & Ayushita not bad, nggak luar biasa juga. Faktor porsi mempengaruhi

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

Wah, enak ya di Yogyakarta udah tayang 2 hari sebelum tayang serentak. Siapa aja bang cast-nya yang dateng ?

Rasyidharry mengatakan...

Hehe sekali-sekali lah premiere di sini. Cast ada Dian Sastro, Ayushita, Denny Sumargo, tambah Hanung & Robert Ronny

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

Mungkin Kartini yang berasal dari daerah Jawa kali ya bang, kota di daerah Jawa jadi spesial buat pemutaran filmnya. Wah, mantap para cast-nya yang datang. Biasa ya bang saya liat rating dulu baru setelah nonton saya liat review-nya (takut kena korban spoiler) hehehe.

Rasyidharry mengatakan...

Soalnya Hanung kan asli Jogja, dan dia selalu shoot di Jogja juga :)

Anonim mengatakan...

Kartini tidak premiere di Jogja, by the way. Melainkan di Metropole, Jakarta tanggal 12 April lalu. Di Jogja adalah acara roadshow dan special screening.

Alvi Fadhollah mengatakan...

saya justru kangen Hanung buat karya "remeh" kayak Jomblo :D

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

Lumayan ngulang lagi pelajaran Sejarah waktu sekolah. Makin keliatan cerdas Dian Sastro ngomong Bahasa Belanda.

Afif Abid mengatakan...

mas rasyid,review film The Good Neighbor dong :D

Heru Pramono mengatakan...

Mudah-mudahan film ini tetap rame walaupun ada video Dian Sastro yang viral kemaren.

Rasyidharry mengatakan...

Hanung juga lumayan asyik kalau lagi "senang-senang" begitu memang :))

Rasyidharry mengatakan...

Sebenernya memang lebih pantas disebut "early screening" sih di Jogja itu, cuma untuk lebih mengundang penonton kayaknya dipakai judul "Gala Premiere Jogja"

Rasyidharry mengatakan...

Haha itu nanti dulu deh

Rasyidharry mengatakan...

Orang pintar nggak akan terpengaruh video itu. Dikira tubuh wanita/selebriti itu barang umum apa, bebas dipegang-pegang? :)

Anonim mengatakan...

"Dikira tubuh wanita/selebriti itu barang umum apa, bebas dipegang-pegang?" Yap, itu banget. Saya juga wanita, bisa ngerti perasaan Dian Sastro saat itu.

Rasyidharry mengatakan...

Lebih menyedihkan lagi banyak wanita yang ikut menyerang sikap Dian. Padahal bayangkan kalau tiba-tiba digandeng orang asing. Kan nggak mau :)