JAILANGKUNG (2017)

24 komentar
Salah besar menganggap horor tak memerlukan naskah mumpuni. Meski bukan mengedepankan alur kompleks, dialog cerdas, atau penokohan solid naskah horor berguna menyediakan layout, khususnya apabila penulis dan sutradara tidak dipegang satu orang. Deskripsi bagaimana sebuah kengerian muncul amat membantu pengadeganan sutradara. Dan satu poin yang kerap tertinggal (baik sengaja maupun tidak) adalah "rule" alias aturan. Poin ini penting apalagi bagi horor mistis dengan mitologi mengenai hantu, apa pemancing kehadirannya, kemampuan, sampai cara mengusir. Aturan ini merupakan logika tersendiri yang wajib dipegang dalam film horor kala ketiadaan common sense bersifat lumrah.

Jailangkung jelas berambisi mengulang fenomena Jelangkung 16 tahun lalu. Duet Rizal Mantovani dan Jose Purnomo kembali di kursi sutradara, sedangkan naskah dipegang Baskoro Adi Wuryanto (Bulan Terbelah di Langit Amerika 2, Sawadikap, Ghost Diary) menggantikan Adi Nugroho (Kuldesak, Ruang, Strawberry Surprise). Kisahnya memakai template umum, tentang perjalanan tiga kakak beradik, Bella (Amanda Rawles), Angel (Hannah Al Rashid), dan Tasya (Gabriella Quinlyn) menuju pulau Alas Keramat, tempat di mana sang ayah, Ferdi (Lukman Sardi) berada terakhir kali sebelum koma. Dibantu Rama (Jefri Nichol) si pemuda ahli ilmu kejawen, mereka menemukan rahasia mengerikan yang bertahun-tahun disimpan Ferdi.
Walau adegan pembukanya tak lebih dari eksposisi buru-buru, awal Jailangkung cukup menjanjikan berkat penanaman misteri terkait mitos Jawa. Mitologi klenik daerah kita memang berpotensi dieksplorasi karena memberi bekal misteri untuk ditelusuri. Walau teori seputar jiwa dan raga menurut kepercayaan Jawa yang dipresentasikan Rama nyata didasari riset seadanya, rasa ingin tahu masih mampu disulut. Ritual apa yang Ferdi lakukan? Siapa sosok Mati Anak yang mengganggunya? Ada modal kuat guna menggulirkan alur menarik. Ditambah lagi, Jailangkung enggan mengumbar penampakan sebanyak dan sedini mungkin. Sampai akhirnya, semakin jauh perjalanan, semakin buruk filmnya.

Penyebabnya naskah buatan Baskoro gemar menyalahi logika umum hingga rule khusus sebagaimana tersebut tadi. Kakak gila mana yang membawa adik kecilnya ke pulau terpencil kemudian meninggalkannya sendiri di kamar sebuah rumah kosong menyeramkan? Remaja gila mana pula yang bisa duduk santai tersenyum menonton rekaman pernikahan orang tua mereka di sana pada tengah malam? Lalu apa tujuan Ferdi merekam aktivitasnya selain sebagai cara filmnya mengakali flashback? Banyak juga sudut peletakan kamera terlampau sinematik untuk footage amatir. Tapi dosa lebih besar adalah ketika Baskoro mengesampingkan aturan buatannya sendiri mengenai hantu dan jailangkung, contohnya ketika dampak gangguan hantu untuk seorang tokoh berbeda dari tokoh lain (what's the deal with Angel's absurd hallucination?). Hantu memang tak butuh aturan main, tapi untuk apa membangun mitologi kalau berujung seenaknya sendiri? Saat penulisnya menolak peduli, bagaimana penonton mau mempedulikan filmnya?
Buruknya naskah tidak membantu Rizal Mantovani dan Jose Purnomo yang sama-sama dikenal akan kemampuan menangkap gambar indah namun kurang pandai bercerita. Didukung biaya 10 miliar rupiah, Jailangkung serupa produksi Screenplay Films lain, terlihat mahal, enak dilihat, tapi nihil substansi, seperti ditunjukkan tata artistik setting rumah tempat ritual dengan beragam ornamen aneh. Sinematografi Jose Purnomo pun menyajikan kemegahan dramatis (shot pemakaman dari atas misalnya) yang urung mendukung tingkat kengerian. Setelah irit di awal, begitu jump scare mulai menerjang, kita dihadapkan pada rutinits biasa berupa kejutan berisik asal masuk. Kombinasi lemahnya naskah dan penyutradaraan berpuncak di third act. Berniat membangun nuansa chaotic, kekacauan sesungguhnya justru tercipta. Saking kacaunya, bila anda ajukan pertanyaan memakai rumus 5W+1H tentang klimaksnya, jawaban bakal sulit didapat.

Eksekusi teror mencapai paruh akhir tak hanya meniadakan kengerian, bahkan memunculkan geli. Saya bersama mayoritas penonton lain tertawa menyaksikan Lukman Sardi menggendong hantu di depan cermin. Bukan seluruhnya salah sutradara, karena Lukman sendiri (bukan di adegan ini saja) bagai berakting di film horor-komedi lewat ekspresi dibuat-buat. Jarang melihat Lukman Sardi sebagai salah satu aspek terlemah film. It's unusual to see Lukman Sardi became one of a movie's weakest aspect, but there you go. Penampilan Lukman diikuti Jefri Nichol yang pasca penuh karisma di Dear Nathan, kini salah mengartikan "quirky, introvert guy" dengan wooden acting. Karakter Rama si ahli ilmu mistis tidak berguna, malah beberapa kali jadi penyebab peristiwa buruk. Beruntung ada Hannah Al Rashid yang seorang diri menciptakan momen paling mencekam berkat ekspresi believable. Kita bisa merasa pun percaya atas rasa takut serta penderitaannya. She's that good, but the rest is just a big waste of money and many potentials.

24 komentar :

Comment Page:
Panca Sona mengatakan...

Saya agak menyesal memilih film ini ketimbang sweet 20..

Ditambah lihat adegan share location ketika.... Ah sudahlah.. Tidak ada yg perlu diingat dari film ini.

Rasyidharry mengatakan...

Untung masih rada ketolong sequence itu sama akting Hannah :D

Dana Saidana mengatakan...

Masih aja ada adegan konyol kalau sang tokoh dicegat hantu dilorong RS yang terang & luas (notabene tempat orang berlalu lalang), terus harus larinya (kabur) lewat emergency exit ya Bang :-D

Reza Deni Saputra mengatakan...

Saya masih berharap horor lokal tahun ini bisa diselamatkan lewat Pengabdi Setan. Sayang, niat baik mau menyingkirkan kesan esek2, tapi justru.. yaa justru itulah :p

hilpans mengatakan...

Lukman sardi ad di mana mana yah.bung...di film lebaran tahun ini... Tpi kekny akting dia d surat kecil untuk tuhan..lebih menjiwai..bru liat trailerny sih.. Ditunggu insya allah sah titi kamal..secara udah lama doi gk maen jdi pemeran utama sama surat kecil utk tuhan y bung

Dimas Catur mengatakan...

Saya malah ngrasa ini film cuma kuat di drama sama gambar bagus aja ya??

yazuli al amin mengatakan...

Mau tanya Amanda rawles sama jefri nichol satu paket ya?????

Rasyidharry mengatakan...

Kan namanya "Emergency" Exit, jadi di kondisi gawat/bahaya lari ke sana *krik*

Rasyidharry mengatakan...

In Joko Anwar we trust!

Rasyidharry mengatakan...

Yap, jadi ingat beberapa tahun lalu sebelum Reza Rahadian tenar. Lukman di SKuT mending daripada di sini, tapi terbaik di Sweet 20.
Titi satu-satunya hal bagus di Insya Allah Sah :)

Rasyidharry mengatakan...

Benar, gambar bagus. Drama ancur kok haha

Rasyidharry mengatakan...

Haha nggak kok, cuma memang lagi digandrungi remaja.

Usep Zamaludin mengatakan...

Film horordari seri jelangkung pling buruk dan konyol ..spnjng durasi saya d buat geleng2 kepala lihat kekacawan film ini ..bhkan hampir d semua aspek..

Usep Zamaludin mengatakan...

Film horordari seri jelangkung pling buruk dan konyol ..spnjng durasi saya d buat geleng2 kepala lihat kekacawan film ini ..bhkan hampir d semua aspek..

Indra Fathan mengatakan...

Setidaknya dia sekarang menang di komersial, jumlah penontonnnya jauh meninggalkan rival dengan tema yg beda jauh sama drama remaja seperti kebiasaan screenplay, entah kenapa PH ini baru umur 2 tahun tapi larinya kenceng meninggalkan PH-PH lain, meski masih kalah sedikit dari PH besar kayak Falcon, MD, dan Starvision...

Btw, upcoming film screenplay selain TNCFU ada 2 film yg kayaknya masih drama ala ala screenplay yaitu One Fine Day dan Surat Cinta Untuk Starla, keduanya ditulis oleh orang yg sama dgn LLS, magic hour, dan ILY, tapi yg pertama bahkan sudah reading pemainnya ada Jefri Nichol, Dimas Andrean sama Ibnu Jamil, infonya dari instagram produser tsb

Rasyidharry mengatakan...

Kalau urusan Box Office jelas Screenplay jagonya. Kuncinya, mereka paham siapa dan apa yang pasarnya suka, mau cerita sampai cast

Dimas Catur mengatakan...

Hahaha mungkin sayanya aja yang baper kali ya kalo ceriya udah bawa bawa tema keluarga 😅

Muhammad Akbar mengatakan...

wah padahal ekspektasi gw tinggi nih buat nonton nih film tapi setelah baca review mending nonton film lain. ada saran kah?

Rasyidharry mengatakan...

Oh jelas Sweet 20. Satu-satunya film lebaran yang wajib tonton :)

Unknown mengatakan...

Asli, saya sering geleng-geleng kepala saat nonton ini. Btw,baru aja pulang nonton nih, dan mau cari review nya dari orang lain, eh nyangkut disini. Saya apresiasi dengan penulisan dan sudut pandang penulis disini :)

Lanjut.. Jadi geleng2 nya karena banyak yg ga kena sama akal dan logika saya, dan jg geleng2 karena bosan jg lama2.
Mungkin cast hantu nya geleng2 jg karena naskah yg ada seperti ini. Sayang sekali saya harus kecewa dengan film ini. 2002 mungkin tahun yg lebih baik dibanding 2017.

Rasyidharry mengatakan...

Hehe makasih banyak semoga sering nyngkut sini
Bener, sangat disayangkan, jauh sekali kalau dibanding film-film Jelangkung sebelumnya

Rohmat Qomeidi mengatakan...

Film bnr2 tolol...g berbobot..msh bagusan film jodoh pengantar jenazah di Antv...jailangkung datang bau jigong pulang ompong...alur cerita g jelas...adegan bnyk yg g penting. Gembel

alim himawan mengatakan...

setujuuuuu.....hahahaha
up
up

Syamil Imtiyaz mengatakan...

Saya berharap film horor indonesia bisa diperbaiki oleh The Mo Brothers(Kimo Stamboel,Timo Tjahjanto),(Rumah Dara,Killers,Headshot)sebagai filmmaker horor yang keren dan tak memerlukan adegan esek2 ,salut sama mereka berdua