Tampilkan postingan dengan label Baskoro Adi Wuryanto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Baskoro Adi Wuryanto. Tampilkan semua postingan
RASUK 2 (2020)
Rasyidharry
Tahukah
kalian bahwa Rasuk (2018) yang merupakan adaptasi novel berjudul sama buatan
Risa Saraswati berhasil mengumpulkan lebih dari 900 ribu penonton, membawanya
bercokol di urutan 16 daftar film Indonesia terlaris di tahun perilisannya? Tidak
butuh waktu lama sampai Baginda Dheeraj Kalwani memproduksi sekuelnya, yang
kali ini ditangani sutradara Rizal Mantovani menggantikan Ubay Fox, sementara
posisi Shandy Aulia sebagai pemeran utama diberikan kepada Nikita Willy. Apakah
hasilnya lebih baik? Jawabannya “ya”. Masalahnya, mengingat hancur leburnya
kualitas pendahulunya, nyaris mustahil menghasilkan tontonan yang lebih buruk.
Nikita Willy
memerankan Isabella, adik Inggrid (diperankan Denira Wiraguna di film pertama,
di sini digantikan oleh Raquel Katie Larkin), sahabat Langgir (Shandy Aulia). Itu
saja kaitan Rasuk 2 dengan film pertamanya. Bersama dua teman kosnya,
Alma (Sonia Alyssa) dan Nesya (Lania Fira), Bella tengah melaksanakan koas di
bagian forensik rumah sakit. Dituntut sering mengikuti proses autopsi, Bella
malah kerap melihat hal-hal aneh, termasuk mayat yang mendadak hidup kembali. Menolak
percaya kepada hal mistis, Bella memilih berobat ke psikiater, dan di sinilah
kengawuran naskah buatan Haqi Achmad dan Baskoro Adi mulai tercium.
Rasuk 2 membahas
beberapa elemen psikologi, yang alih-alih menjadikannya cerdas, justru membuat
naskahnya seolah tersusun atas hasil riset kilat lewat Wikipedia, yang bahkan
sepertinya cuma dibaca sekilas. Nama ahli matematika John Nash, yang kisahnya diangkat
dalam A Beautiful Mind (2001) disebut oleh sang psikiater. Menurutnya,
halusinasi Nash disebabkan karena kecerdasan yang luar biasa, dan bahwa kesembuhan
Bella bergantung pada dirinya sendiri. Bukan itu penyebab gangguan mental Nash,
pun proses penyembuhan skizofrenia memerlukan dukungan lingkungan sosial. Efek
Barnum tak ketinggalan disinggung dengan pengertian salah kaprah, sebab poin utama
efek itu bukanlah soal fenomena paranormal.
Pada sebuah
autopsi, Bella dipertemukan dengan mayat wanita tak dikenal yang disebut “Mrs.
X”. Maaf, tapi tahu dari mana wanita itu sudah menikah? Atau penulisnya tidak paham
perbedaan Mrs. dan Ms.? Penulis terjemahannya lebih pintar untuk
urusan ini, dan menuliskan “Miss X”. Pada 18 Maret 1967, ditemukan mayat wanita
tanpa identitas di Amerika Serikat yang kemudian dipanggil “Miss X”. Mungkin
naskahnya mengambil referensi dari situ, tetapi akibat riset seadanya,
lagi-lagi muncul kekeliruan.
Sejak autopsi
itu, teror yang Bella alami makin intens, bahkan sempat membuatnya kesurupan,
lalu menyerang Radja (Achmad Megantara), satu lagi teman kosnya yang menaruh
hati kepada Bella. Nantinya terjalin percintaan di antara keduanya, mengajak
kita mengikuti sejenak aktivitas kencan mereka, yang terkesan sebatas penambal
durasi semata, pun sama sekali tak romantis, salah satunya akibat Achmad
Megantara yang kembali menampilkan performa kaku nan menggelikan. Apa pula
perlunya menyelipkan kecemburuan Nesya ketika aspek itu sekadar numpang lewat
dan nihil dampak terhadap konflik utama?
Jadi dengan
setumpuk kelemahan di atas, kenapa saya menganggap Rasuk 2 lebih
superior ketimbang pendahulunya? Jawabannya ada di paruh awal film. Salah satu hal
paling mengganggu di Rasuk adalah tata suaranya yang mengancam gendang
telinga. Di sini volumenya diturunkan, walau agak terlalu rendah sehingga
membuat jump scare kurang bertenaga. Rizal Mantovani pun lumayan jeli
memilah, mana penampakan yang mesti diiring musik, mana yang tidak. Ditambah riasan
yang tidak buruk, beberapa keheningan bahkan mampu memancing kengerian (titik
terbaiknya saat Bella melihat sesosok hantu sepulang dari rumah sakit) melalui
pengarahan Rizal.
Sayangnya
keunggulan Rizal (dan film ini secara keseluruhan) berhenti di situ. Sang
sutradara kewalahan menciptakan ketegangan dalam adegan di mana kekacauan terjadi.
Hasilnya canggung, secanggung banyolan-banyolan dari mulut Asri Welas. Bukan
perkara mudah membuat Asri Welas, yang biasanya berhasil menyegarkan suasana, jadi
tidak lucu. Dan berkat ketidakmampuan Rizal mengolah momen komedik, khususnya
terkait menentukan timing transisi, pencapaian langka itu sukses diraih
film ini.
Sekitar 15
menit pertama, Rasuk 2 membuka tabir misteri dengan menarik, menyulut
penasaran kala mempertanyakan asal muasal mayat Mrs. X, serta mengapa
sang hantu meneror Bella. Sampai akhirnya investigasi asal jalan dilakukan,
rasa bosan menyeruak, kemudian penyelidikan Bella jadi tidak penting sewaktu
muncul karakter baru yang menjawab segala pertanyaan. Rasuk 2 tidak lupa
menutup kisahnya melalui klimaks sarat kebodohan berintensitas lemah, menjadikan
peningkatan kualitasnya semakin terasa semu. Paling tidak Nikita Willy menyajikan
performa yang lebih “normal” dibandingkan Shandy Aulia.
Januari 03, 2020
Achmad Megantara
,
Baskoro Adi Wuryanto
,
Dheeraj Kalwani
,
Haqi Achmad
,
horror
,
Indonesian Film
,
Jelek
,
KK Dheeraj
,
Lania Fira
,
Nikita Willy
,
Raquel Katie Larkin
,
REVIEW
,
Rizal Mantovani
,
Sonia Alyssa
11:11: APA YANG KAU LIHAT? (2019)
Rasyidharry
Begitu buruk dan membosankan 11:11: Apa yang Kau Lihat?, hampir
sepanjang durasi saya bermain “memirip-miripkan”. Twindy Rarasati mirip Prisia
Nasution, Rendy Kjaernett seperti versi lebih ganteng dari Dian Sidik, Bayu
Anggara dan Ge Pamungkas bagai pinang dibelah dua, sementara Fauzan Smith
mengingatkan saya kepada Fauzi Baadilla. Well,
yang terakhir mungkin agak dipaksakan.
Keisengan itu jauh lebih menghibur
ketimbang berusaha mencerna horor bodoh nan melelahkan, yang bahkan tak mau
repot-repot menjelaskan signifikansi “11:11” di judulnya. Debut penyutradaraan
Andi Manoppo (sebelumnya dikenal sebagai pimpinan pasca produksi dalam lebih
dari 70 film) ini dua kali memperlihatkan peristiwa mistis tepat pada pukul
11:11 yang memang identik dengan banyak mitos, tapi kenapa itu lebih dari
sekadar trivia sehingga pantas
dijadikan judul?
Sementara sub judulnya malah
mengajukan pertanyaan. “Apa yang kau lihat?”. Karena karakternya tak pernah
bermasalah dengan apa yang mereka lihat, saya yakin pertanyaan itu diajukan
bagi penonton. Apa yang saya lihat? Jawabannya: tidak ada. Karena film ini
terlampau keruh, baik gambar maupun kualitasnya secara menyeluruh.
Adegan pembukanya agak menjanjikan,
sebab bertempat di lokasi yang berbeda dibanding deretan kompatriotnya sesama
horor lokal buruk. Alkisah dua pria menyelam, memasuki sebuah kapal karam,
mengambil suatu artefak, sebelum salah satu dari mereka ditarik oleh sosok
misterius, sedangkan satunya lagi tergulung ombak raksasa. Tapi selepas
memperkenalkan keempat tokoh utamanya, 11:11:
Apa yang Kau Lihat? Mulai memasuki pakem klise soal perjalanan muda-mudi
merambah lokasi angker.
Tiga instruktur selam, Galih (Rendy
Kjaernett), Martin (Bayu Anggara), dan Ozan (Fauzan Smith), plus seorang murid
baru, Vania (Twindy Rarasati) si vlogger ternama, berlibur ke pulau terpencil
bernama Tanjung Biru. Pulau tersebut sepi. Selain keempatnya, hanya ada seorang
penjaga, yang melarang mereka menginjakkan kaki ke titik bernama Karang Hiu.
Tentu sebagai darah muda penuh rasa penasaran (baca: bodoh), mereka menolak
patuh. Tapi itu tidak langsung terjadi.
Jadi amunisi apa yang disiapkan
oleh duo penulis naskahnya, Nicholas Raven (Berangkat!)
dan Baskoro Adi Wuryanto (Gasing
Tengkorak, Jailangkung, Sakral) sebelum teror utamanya berlangsung?
Tunggu sebentar.........
DEMI SILUMAN LAUT! FILM INI DITULIS
NASKAHNYA OLEH MAHAGURU BASKORO ADI WURYANTO???!!! Sekarang semuanya masuk
akal!
Pantas saja alurnya begitu kosong, hanya diisi adegan Martin dan Ozan
merayu Vania ditambah selipan mimpi buruk aneh Galih mengenai sang ibu
(diperankan Lady Nayoan, istri Rendy Kjaernett) yang telah lama hilang. Saya merasa
bodoh sebagai pecinta film karena gagal mengenali karya Mahaguru, padahal
ciri-cirinya sudah disebar sepanjang film.
11:11: Apa yang Kau Lihat? dijual sebagai “horor lokal langka
berlatar bawah laut”, tapi kualitas gambar bawah lautnya bahkan kalah jernih
dibanding bumper legendaris “RCTI Oke”
dari era 90-an itu. Di sini, laut begitu keruh, sedangkan ikan-ikan kehilangan warnanya.
Hal paling menggelikan dari adegan menyelamnya adalah pemakaian audio dub yang dikemas agar terdengar seolah
karakternya saling bicara melalui HT. Mungkin pembuat filmnya khawatir penonton
sukar memahami bahasa non-verbal sederhana, tapi kualitas voice acting menggelikan jajaran pemainnya jelas tak membantu.
Soal teror bawah laut, mungkin Andi
Manoppo merasa bahwa menyuruh karakternya berenang tak tentu arah sambil
meneriakkan nama satu sama lain sudah cukup menyeramkan. Bukankah mereka
memakai HT? Kenapa tidak memberitahukan posisi dari situ? Tentu saja karena dub tersebut bukan merupakan rencana
awal.
Begitu karakternya kembali ke
permukaan, siluman laut telah siap menebar teror, bersenjatakan desain serta
metode kemunculan yang dicomot hanya dengan sekelumit modifikasi dari Lights Out. Selanjutnya, 11:11: Apa yang Kau Lihat? memasuki
babak “tes daya tahan” bagi penonton. Kita diuji, seberapa jauh bisa
menoleransi kebodohan filmnya, yang terbentang dari keputusan-keputusan
karakternya—yang memilih lari ke dalam hutan dan memanjat puncak tebing yang
justru menambah risiko—hingga berbagai poin alur yang patut dipertanyakan.
Mari kembali ke pertanyaan yang
filmnya ajukan. Apa yang kau lihat? Saya melihat betapa perjuangan industri
perfilman Indonesia guna menumpas habis horor-horor inkompeten, yang membodohi
penonton sekaligus digarap asal-asalan seperti ini, masih cukup panjang.
Februari 23, 2019
Andi Manoppo
,
Baskoro Adi Wuryanto
,
Bayu Anggara
,
Fauzan Smith
,
horror
,
Indonesian Film
,
Lady Nayoan
,
Nicholas Raven
,
Rendy Kjaernett
,
REVIEW
,
Sangat Jelek
,
Twindy Rarasati
PSP: GAYA MAHASISWA (2019)
Rasyidharry
PSP: Gaya Mahasiswa merupakan tipikal tontonan yang menghibur berkat
semangat bersenang-senangnya, meski secara filmis sejatinya kacau. Penonton pemula
takkan membawa pulang banyak pemahaman baru tentang oktet dangdut humor
legendaris Orkes Moral Pancaran Sinar Petromaks, tapi jika menyaksikan delapan
pria melontarkan banyolan semaunya—dengan beberapa di antaranya justru semakin
garing semakin lucu—termasuk selera anda, maka PSP: Gaya Mahasiswa bisa jadi satu setengah jam yang cukup
menyenangkan meski mudah dilupakan.
PSP terdiri dari Monos (Imam
Darto), Rojali (Boris Bokir), Ade (Abdur Arsyad), Andra (David Schaap), Adit
(Wira Nagara), Dindin (Uus), James (Dimas Danang), dan Omen (Adjis Doaibu).
Mereka dikenal sebagai mahasiswa dengan setumpuk tingkah usil, termasuk membajak
pidato rektor yang jadi momen perkenalan penonton dengan kegilaan delapan
pemuda ini. Di luar kampus, mereka juga sekelompok musisi yang kesulitan
mendapat panggung, sebab pada era di mana musik elektronik berkuasa, tiada
tempat bagi orkes dangdut macam PSP.
Walau mengangkat kisah musisi
legendaris, naskah buatan Hilman Mutasi (The
Tarix Jabrix 5 cm, Benyamin Biang Kerok), Yanto Prawoto (Check in Bangkok, CJR The Movie: Lawan Rasa
Takutmu), dan Baskoro Adi Wuryanto (Gasing
Tengkorak, Jailangkung, Bayi Gaib: Bayi Tumbal Bayi Mati) justru seolah
kurang tertarik menggali ranah musikalitas OM PSP. Kita tidak tahu bagaimana
proses kreatif mereka. Tentu lagu-lagu PSP tetap memancing senyum, namun
mayoritas momen musikal hanya dijadikan selipan, nyaris tanpa korelasi dengan
plot, pula dikemas ala kadarnya oleh Hilman Mutasi selaku sutradara.
Naskahnya pun tidak membantu
perihal menyeimbangkan delapan karakter agar bisa berbagi bobot sama rata,
akibat kegagalan memberi penokohan berlainan kepada tiap anggota PSP. Kelakuan
kedelapan pemuda ini begitu mirip, sehingga nama-nama seperti Andra, Adit, dan
Omen dipastikan tenggelam ketika memperoleh materi serba berkekurangan, baik
dari segi kuantitas atau kualitas.
Beruntung, jajaran pemain yang
mendapat porsi lebih mampu tampil maksimal guna membuat filmnya tetap
bertenaga. Bersenjatakan gaya absurd dan hiperbola khasnya, Uus paling menonjol.
Tidak semua humor PSP: Gaya Mahasiswa
sekreatif adegan “pembuatan video tugas kuliah”, sehingga totalitas (plus
kemungkinan beberapa improvisasi cerdik) Uus berguna menggandakan daya bunuh
lawakannya.
Besar kemungkinan, penonton yang
gemar duduk, mengobrol, sambil bersenda gurau bersama kawan-kawan di warung
kopi sampai pagi (seperti saya) punya kecocokan lebih tinggi dengan lawakan
film ini. Misalnya momen “kaki terinjak”, yang notabene salah satu bentuk
komedi paling klasik dan sudah semakin garing, malah efektif memancing tawa
meski dilontarkan berkali-kali. Semua berkat penghantaran para pemain.
Ketimbang sosok aktor yang diwajibkan melucu di depan kamera, mereka bak tengah
melucu dengan santai di tengah teman-teman. Atmosfernya menyenangkan.
Akan semakin menyenangkan andai PSP: Gaya Mahasiswa diberkahi penulis
naskah mumpuni. Daripada satu cerita besar, ketiga penulis justru membuat film
ini seperti kompilasi subplot. Ada soal romansa, kehadiran Fatimah (Aura Kasih)
si ibu kos baru yang cantik nan seksi, sulitnya hidup sebagai musisi, persahabatan,
hingga cerita terkait satpam (Iyang Darmawan) di kampus PSP yang nantinya
bermuara kepada pesan anti-hoax. Cabang-cabang tersebut urung bersatu padu, dan
alih-alih saling melengkapi, justru seperti berlomba saling mengungguli. Belum
lagi transisi kasar kerap membuat kemunculan suatu momen terasa acak, tanpa
ditautkan secara layak dengan peristiwa sebelum atau setelahnya.
Setumpuk subplot tadi sejatinya
dapat dimanfaatkan selaku solusi kesulitan menyeimbangkan porsi karakternya, dengan cara
membagi rata kisah-kisah itu kepada tiap anggota PSP. Sayangnya itu urung
dilakukan, sehingga PSP: Gaya Mahasiswa
tetap menjadi komedi kacau tak seimbang, yang setidaknya masih menyimpan kapasitas
menyulut tawa.
Februari 02, 2019
Abdur Arsyad
,
Adjis Doaibu
,
Aura Kasih
,
Baskoro Adi Wuryanto
,
Boris Bokir
,
Comedy
,
Cukup
,
David Schaap
,
Dimas Danang
,
Hilman Mutasi
,
Imam Darto
,
Indonesian Film
,
Iyang Darmawan
,
REVIEW
,
Uus
,
Wira Nagara
JAGA POCONG (2018)
Rasyidharry
Menjaga pocong adalah premis
mengerikan, utamanya karena kegiatan itu amat mungkin dialami siapa saja.
Semakin menarik dua figur kunci Jaga
Pocong sama-sama menjajaki dunia horor untuk kali pertama: Acha Septriasa yang
kerap memamerkan akting-akting dramatik terbaik, dan Hadrah Daeng Ratu di kursi
penyutradaraan yang baru saja mempersembahkan tontonan terlucu tahun lalu
melalui dua bagian Mars Met Venus. Saya
mulai was-was begitu mendapati nama-nama yang tercantum pada departemen
penulisan. Aviv Elham (Alas Pati, Arwah
Tumbal Nyai) menulis naskah berdasarkan ide cerita Baskoro Adi Wuryanto (Jailangkung, Sakral, Gasing Tengkorak)
terdengar bagai kolaborasi dari neraka.
Mila (Acha Septriasa) adalah suster
yang menaruh perhatian besar terhadap pasien anak (ini akan jadi modus operandi
naskahnya nanti). Ketika ia bersiap pulang dari giliran jaga di rumah sakit,
Mila justru diminta secara mendadak menangani seorang pasien di rumah. Mengapa
tugas ini dilimpahkan padanya? Menurut sang atasan, “Karena memang harus kamu”.
Kalimat itu, yang nantinya bakal dipakai menjelaskan sebuah poin plot penting
jelang akhir, merupakan simplifikasi yang jamak kita temui di karya-karya Aviv
maupun Baskoro sebelumnya.
Ada satu elemen menarik, yakni
kicau burung kedasih, yang konon memberitakan kematian. Kicau tersebut terdengar
sebelum seorang pasien di rumah sakit yang Mia rawat meninggal, juga
sesampainya Mia di tujuan, dan mendapati bahwa Sulastri (Jajang C. Noer),
pasien yang semestinya dia rawat, sudah tak bernyawa. Hanya ada putera
Sulastri, Radit (Zack Lee), dan cucunya, Novi (Aqilla Herby). Kicau burung
kedasih dapat memberi sentuhan kecil, subtil, namun efektif membangun
kengerian, yang sayangnya urung diterapkan lagi begitu Jaga Pocong melancarkan terornya.
Jaga Pocong mengalun lambat di awal, mengajak kita melihat Mila
memandikan jenazah Sulastri, mengafaninya, sampai akhirnya diminta menjaga
jenazah karena Radit harus mengurus izin pemakaman. Rangkaian aktvitias
tersebut dekat dengan realita, dan itulah alasan pembangunan atmosfernya cukup
berhasil. Jaga Pocong menempatkan
protagonis dalam situasi yang kengeriannya mudah penonton pahami.
Tapi seiring waktu berlalu,
naskahnya mulai memperlihatkan kelemahan demi kelemahan. Salah satunya
ketiadaan ide mengenai apa yang harus Mila perbuat selama ditinggal seorang
diri bersama pocong Sulastri yang terbaring di tengah ruangan. Alhasil,
dibuatlah Mila menjadi karakter penuh rasa penasaran (baca: bodoh). Sewaktu tiba-tiba,
entah dari mana kain kafan membentang di hadapannya, Mila menarik itu, berusaha
mencari ujungnya. Di lain kesempatan, disorotnya wajah pocong dengan senter,
seolah tidak puas cuma melihat bagian bawah tubuhnya.
Karakterisasi lain, seperti sudah
saya sebutkan, adalah perhatian besar kepada anak-anak. Mia amat mempedulikan
Novi, sampai menghabiskan mayoritas durasi film memanggil nama si bocah.
Ketimbang Jaga Pocong, film ini
mestinya disebut Jaga Novi. Demi
mengakali ketiadaan plot (yang sejatinya bukan masalah asal ditangani secara
tepat), naskahnya menggiring Mila dalam kesibukan mencari Novi yang berulang
kali menghilang. Aviv Elham perlu memahami jika tidak semua peristiwa wajib
diverbalkan. Bahasa non-verbal justru berpeluang memaksimalkan penuturan visual
sutradara maupun akting pemain.
Keharusan meneriakkan nama Novi
cukup mengganggu penampilan Acha, yang meski bukan akting terbaik sepanjang
karirnya, jelas jauh lebih baik dibanding banyak pemeran utama horor medioker
kita. Acha berteriak, menangis, dengan cara yang memudahkan kita merasakan
keputusasaan Mila. Keputusasaan wanita biasa yang terjebak dalam situasi di
mana ia benar-benar tidak berdaya. Hadrah paham betul kapasitas aktrisnya dan
berusaha memanfaatkannya sebisa mungkin, membiarkan kamera menangkap emosi Acha
secara utuh terlebih dahulu sebelum berpindah ke teror berikutnya.
Perihal menangani teror, Hadrah
sanggup menghadirkan beberapa jump scare
solid, walau keseluruhan, masih jauh dari spesial. Tapi saya rasa itu masalah
pengalaman. Jaga Pocong merupakan pengalaman
pertama Hadrah menggarap horor, dan merujuk pada fakta tersebut, debut ini
jelas tidak buruk-buruk amat. Terlebih, tidak banyak yang bisa diperbuat ketika
diberi modal naskah yang miskin kreativitas. Riasan pocong—yang tampak mumpuni
dibanding deretan hantu muka bubur basi dalam deretan horor lokal kelas D—pun tak
banyak menolong.
Kemudian, setelah nyaris tak memberi
kontribusi, naskahnya menghabiskan 10 menit terakhir mempresentasikan twist yang memancing saya bertanya, “Apabila
ada jalan gampang guna mencapai tujuannya, untuk apa repot-repot meneror Mila melalui
penampakan-penampakan pocong yang nihil signfikansi dengan tujuan itu?”. Lalu
ketika saya mulai melontarkan pertanyaaan berikutnya, “Kenapa harus Mila?”, naskahnya
langsung menjawab, “Karena memang harus dia”. Oh, baiklah.
Oktober 23, 2018
Acha Septriasa
,
Aqilla Herby
,
Aviv Elham
,
Baskoro Adi Wuryanto
,
Hadrah Daeng Ratu
,
horror
,
Indonesian Film
,
Jajang C. Noer
,
Kurang
,
REVIEW
,
Zack Lee
SAKRAL (2018)
Rasyidharry
Sakral merupakan kolaborasi kelima (keempat sepanjang 2018) MD
Pictures dan Dee Company sekaligus yang terbaik. Kata “terbaik” di sini artinya
“paling tidak menyiksa”, karena sejak Gasing
Tengkorak tahun lalu, kebersamaan dua rumah produksi ini telah menghasilkan
judul-judul yang berpotensi merusak kembali kepercayaan penonton terhadap
perfiman Indonesia. Menyebut Sarkal “lebih
baik” dibanding filmografi Baginda KK Dheeraj pasca berganti identitas menjadi
Dheeraj Kalwani pun layaknya menyatakan terkena flu lebih baik dibanding
penyakit lain. Tetap saja menyiksa.
Setidaknya para pembuat film ini
belajar dari kesalahan sebelumnya dengan tidak membuat horor yang hanya
tersusun atas fragmen-fragmen jump scare
yang disusun kasar. Digawangi oleh sutradara Tema Patrosza (Tumbal: The Ritual), Sakral bersedia menahan diri untuk
memunculkan hantunya, meminta penonton menunggu agar mampu lebih dulu
memaparkan cerita, walau bukan cerita yang solid, menghasilkan penantian
melelahkan pula tanpa penebusan yang sepadan di akhir. Tapi sekali lagi,
setidaknya mereka belajar. Walau makan waktu lima film dan belum signifikan,
Dheeraj Kalwani akhirnya mengalami kemajuan.
Kisahnya dibuka saat sepasang suami
istri, Melina (Olla Ramlan) dan Daniel (Teuku Zacky) tengah menanti kelahiran puteri
kembar mereka yang akan diberi nama Flora dan Fiona (kenapa bukan “Fauna”???).
Malang, hanya Flora yang bertahan hidup. Tapi Flora tumbuh sebagai gadis cilik
pendiam, enggan berinteraksi dengan kedua orang tuanya, dan hanya memandangi
kotak musik sepanjang hari. Di sisi lain, Melina yang masih dihantui duka
justru mulai dihantui juga oleh peristiwa-peristwa misterius. Singkatnya,
naskah karya Baskoro Adi Wuryanto (Jailangkung,
Ruqyah: The Exorcism, Gasing Tengkorak) ingin membicarakan bagaimana kekuatan
cinta milik suami-istri mampu mengalahkan apa pun termasuk duka (dan iblis).
Bukan suatu kejutan rasanya kalau kisahnya gagal menjadi observasi mendalam.
Melina terus melihat hal-hal
mengerikan seperti penampakan hantu yang kadang berwajah putih pucat kadang
hitam pekat bagai versi murahan dari gelandangan setan di Mulholland Drive-nya David Lynch. Daniel meragukan kewarasan sang
istri, yang bakal menggiring kita menuju adegan konyol ketika seorang psikolog
sekaligus teman Daniel dengan mudah mendiagnosa Melina menderita skizofrenia. Akting
jajaran pemain sama sekali tidak membantu. Sewaktu Teuku Zacky kerepotan
mengucapkan dialog (yang aslinya memang dangkal) supaya tak terdengar datar,
Olla Ramlan sekedar berteriak, bertingkah sehisteris mungkin. Jangan paksa saya
membahas akting si pemeran setan dengan caranya memberi penekanan di tiap akhir
kata yang luar biasa menggelikan.
Progresi alurnya cukup rapi karena
bersedia menanti hingga momen yang tepat guna memunculkan penampakan hantu,
menghabiskan satu jam pertama melangkah pelan sebelum tancap gas di 30 menit
akhir. Kisahnya—meski tak pernah tampil meyakinkan—mengalir alih-alih asal
melompat dari satu titik ke titik berikutnya sembari diselingi jump scare berkuantitas lebih tinggi
ketimbang ceritanya. Akhirnya Baskoro Adi tahu bahwa dalam film horor, dibutuhkan
cerita untuk menjembatani teror-terornya. Walau sayangnya, ia masih luput
memahami jika logika turut dibutuhkan dalam cerita, sebab setelah satu hari
berlalu, saya masih kesulitan mencerna logika konklusi ajaibnya.
Jump scare-nya sendiri medioker, jenis yang akan mengejutkan
penonton bukan karena disusun begitu baik, melainkan gempuran tata suara luar
biasa keras yang sampai membuat studio bergetar hebat. Padahal saya sempat
menaruh sedikit (sangat sedikit) harapan saat mendapati penampakan perdana sang
hantu tidak dibarengi musik berisik. Di tangan sutradara yang tepat, Sakral berpotensi menghasilkan klimaks
seru, namun Tema belum cukup handal dan/atau berpengalaman dalam menyusun
puncak kekacauan menegangkan. Ada niat menciptakan klimaks brutal, tapi tak
peduli berapa galon pun darah tumpah, seberapa banyak bagian tubuh terpotong
gergaji mesin, tanpa sudut kamera tepat (yang makin vital ketika kadar gore ditekan demi menghindari gunting
sensor), sekuen demi sekuen sadis hanya akan numpang lewat. Ngomong-ngomong,
kenapa di bawah sink tersimpan katana? Apakah Daniel dan Melina diam-diam
pasangan ninja Konoha?
September 21, 2018
Baskoro Adi Wuryanto
,
Dheeraj Kalwani
,
horror
,
Indonesian Film
,
Kurang
,
Olla Ramlan
,
REVIEW
,
Tema Patrosza
,
Teuku Zacky
JAILANGKUNG 2 (2018)
Rasyidharry
Jailangkung 2 diawali dengan meyakinkan, memberi
penyegaran dengan membawa kisahnya mundur jauh ke belakang, tepatnya pada 1947
untuk mengaitkan Matianak dengan legenda SS Ourang Medan, kapal yang konon karam
akibat kecelakaan misterius berbau mistis. Sekuen—yang sayangnya terlampau
singkat—itu bukan cuma menghadirkan suasana berbeda, pula berpotensi melebarkan
mitologi cerita, di mana Matianak dikurung dalam kargo SS Ourang Medan. Untuk
apa? Pertanyaan-pertanyaan logika serupa terulang berkali-kali, tapi tanya yang
lebih besar adalah “kenapa sekuel ini dibuat jika orang-orang yang terlibat
tampak setengah hati?”. Demi uang tentu saja. Bodohnya saya bertanya.
Padahal menengok konsepnya, Jailangkung 2 jelas sekuel ambisius. Lebih mahal, lebih besar,
punya lingkup lebih luas. Dimulai di tengah samudera, kisahnya berlanjut
menceritakan nasib tokoh-tokohnya pasca film pertama. Bella (Amanda Rawles) mendapati
keluarganya masih diteror Matianak. Ayahnya, Ferdi (Lukman Sardi) tetap
dihinggapi rasa tidak tenang, sementara sang kakak, Angel (Hannah Al Rashid) berada
di bawah pengaruh Matianak dalam wujud bayi yang ia lahirkan di film
sebelumnya. Kedua mata bayi itu berwarna putih, menyeramkan, tapi entah
bagaimana pihak rumah sakit seolah tak merasa ada kejanggalan.
Si puteri bungsu, Tasya (Gabriella Quinlyn), secara tak
sengaja menyaksikan video ayahnya bermain jailangkung, lalu terinspirasi
membuat jailangkung sendiri guna berkomunikasi dengan mendiang sang ibu.
Tindakan inilah awal segala teror yang memicu Bella, bersama Rama (Jefri
Nichol), melakukan perjalanan mencari jimat Kurungsukmo yang dipercaya bisa
membendung kekuatan Matianak, setelah memperoleh informasi dari Bram (Naufal
Samudra) si mahasiswa baru. Perjalanan ini diisi ragam tindakan karakter yang
terjadi semata sebagai pembuka jalan menyelipkan jump scare alih-alih didasari motivasi logis. Bella misalnya,
mendadak bergegas ke WC untuk cuci tangan. Bisa jadi dia menjunjung tinggi
kebersihan, meski saya yakin ini sekedar cara malas Ve Handoyo dan Baskoro Adi
Wuryanto (Gasing Tengkorak, Ruqyah: The
Exorcism) dari departemen penulisan naskah supaya Bella seorang diri di
ruangan gelap. Begitu lampu WC padam, daripada kabur, ia justru nekat
menyelidiki.
Di saat bersamaan Ferdi tinggal di rumah, berusaha mencari
Tasya yang hilang setelah bermain jailangkung. Selaras dengan tema kekeluargaan
yang diusung, Ferdi pun coba digambarkan sebagai seorang ayah dengan kepedulian
tinggi pada ketiga puterinya, walau tatkala Bella pamit ingin mencari jimat,—yang
jelas sebuah perjalanan berbahaya—Ferdi tak merasa perlu menanyakan
destinasinya. Benar saja, gangguan makhluk halus setia mengintai Bella dan
kawan-kawan. Bram berkata, bahwa semakin tinggi niat mereka menyingkirkan
Matianak, semakin banyak pula setan mengganggu demi menggagalkan usaha itu. Satu
momen singkat sempat memperlihatkan para hantu merangkak di depan Matianak
layaknya rakyat jelata memuja sang raja. Setidaknya poin itu cukup sebagai “rules”, penjabaran mengapa hantu-hantu
selain Matianak ikut meneror.
Samudera ganas baik di permukaan maupun kedalaman hingga Keraton
gaib Alas Ketonggo jadi contoh lokasi yang disinggahi petualangan Jailangkung 2. Cenderung nampak seperti
ajang unjuk gigi bujet besar ketimbang parade kengerian, untungnya variasi
lokasi serta cukup baiknya kualitas CGI menjadikan film ini tidak semelelahkan
mayoritas horor lokal buruk yang hanya bertahan di lokasi tunggal nan monoton. Petualangan
berskala besar ini sayangnya berakhir ala kadarnya, sewaktu jimat Kurungsukmo
yang telah tersembunyi selama puluhan tahun dalam reruntuhan kapal di dasar
laut jauh lebih mudah ditemukan ketimbang remote televisi yang hilang.
Juni 18, 2018
Amanda Rawles
,
Baskoro Adi Wuryanto
,
Gabriella Quinlyn
,
Hannah Al Rashid
,
horror
,
Indonesian Film
,
Jefri Nichol
,
Jose Purnomo
,
Kurang
,
Lukman Sardi
,
Naufal Samudra
,
REVIEW
,
Rizal Mantovani
,
Ve Handoyo
BAYI GAIB: BAYI TUMBAL BAYI MATI (2018)
Rasyidharry
Seorang polisi (Dorman Borisman) tiba di TKP pembantaian
sebuah keluarga. Seluruh tulang sang suami remuk, sang istri terguncang dan
meracau, sementara bayi mereka tewas kehabisan darah. Adegan pembuka ini tidak
punya maksud kecuali menyiratkan fenomena mistis yang akan jadi pusat konflik
filmnya, memperkenalkan tokoh sampingan yang cuma berperan menjelaskan fenomena
itu pada protagonis, dan menyebutkan sub-judul “Bayi Tumbal, Bayi Mati”. Bukan awal meyakinkan bagi usaha seorang
KK Dheeraj alias KKD alias Dheeraj Kalwani naik kelas.
Dheeraj memang bagai sedang berusaha mengubah persepsi
publik. Tidak hanya menanggalkan identitas legendaris KKD, sejak Gasing Tengkorak (2017) rumah
produksinya pun mengusung nama Dee
Company, bukan lagi K2K Production. Tidak pula ia menggaet bintang porno luar
negeri atau Dewi Perssik sebagai pemain. Lupakan sangkalannya terhadap
pernyataan bahwa film ini merupakan remake
Bayi Ajaib (1982). Sebab, menilik trailer-nya,
Bayi Gaib: Bayi Tumbal Bayi Mati tampak
well-made. Meski kegagalan production value apik menutupi kelemahan
naskah dan penyutradaraan yang berujung merusak film bukan lagi hal baru di
industri kita.
Setelah dua tahun, Farah (Rianti Cartwright) dan Rafa (Ashraf
Sinclair) akhirnya memiliki momongan. Namun begitu putera perdana yang diberi
nama Rangga itu lahir, kejadian aneh mulai menimpa mereka. Rafa dihantui
mimpi-mimpi buruk, sementara Farah kerap melihat bayinya dalam wujud
mengerikan. Rafa yang skeptis terhadap hal gaib meyakini sang istri menderita baby blues. Pondasi menarik untuk
membangun horor psikologis yang sayangnya terlalu malas digali dalam naskah
buatan Baskoro Adi Wuryanto.
Satu penyakit akut film horor negeri ini adalah, apa pun
sumber terornya, mau ajian maut berbentuk gasing, iblis, santet, atau bahkan
imajinasi karakternya, cara yang dipakai untuk menakut-nakuti nihil perbedaan.
Hantu akan berlari cepat di balik sofa, muncul di kamar mandi, hingga kasur.
Mungkin memang kenyataannya itu tempat favorit makhluk halus. Setidaknya beberapa
jump scare punya penempatan waktu
yang tepat sehingga tersaji mengejutkan. Poin plus bagi Rizal Mantovani,
tatkala penataan kamera Rudy Novan acap kali menyulitkan penonton untuk
mengidentifikasi hal menakutkan apa yang tengah muncul.
Menjalani debut di film horor, Rianti tampak kesulitan
menjual kengerian yang meyakinkan. Teriakannya, ekspresi ketakutannya, urung
menyalurkan perasaan serupa kepada penonton. Tidak bisa sepenuhnya disalahkan.
Melihat desain si bayi gaib (atau bayi tumbal? atau bayi mati? Saya tak peduli),
tawa memang akan lebih mudah hadir ketimbang rasa takut. Penampilan Ashraf Sinclair
cukup bisa dinikmati, namun lebih dikarenakan tuntutan yang belum sebesar
Rianti. Karakter Rafa tidak sesering Farah mendapat gangguan mistis.
Ending-nya memperlihatkan sang pelaku
sesungguhnya mendatangi kediaman Farah dan Rafa. Untuk apa repot-repot saat
santet yang dikirim terbukti manjur? Lima menit terakhir bak cerminan kebingungan
Baskoro Adi Wuryanto mengenai harus bagaimana kisahnya ditutup. Serupa Gasing Tengkorak, Ruqyah: The Exorcism, Jailangkung,
hingga Ghost Diary, film ini dipenuhi
detail-detail khas Baskoro yang amat menggelitik dan niscaya memberi anda
dan teman-teman pengalaman mengasyikkan kala menertawakannya bersama-sama.
Februari 13, 2018
Ashraf Sinclair
,
Baskoro Adi Wuryanto
,
Dheeraj Kalwani
,
Dorman Brosiman
,
horror
,
Indonesian Film
,
KK Dheeraj
,
Kurang
,
REVIEW
,
Rianti Cartwright
,
Rizal Mantovani
GASING TENGKORAK (2017)
Rasyidharry
Lupakan Pengabdi Setan yang sebentar lagi akan menggeser Jangkrik Boss! Part 2 dari puncak daftar film lokal terlaris 2017. Gasing Tengkorak, selaku film ketiga Jose Purnomo tahun ini setelah Jailangkung dan Ruqyah: The Exorcism, adalah horor yang amat mewakili pengalaman hidup banyak penontonnya. Kenapa? Karena Jose bersama Baskoro Adi Wuryanto yang belakangan setia menulis naskah untuk filmnya, sukses memposisikan cerita teror makhluk halus sebagai simbol bagi teror lain yang tak kalah mengerikan: penulisan skripsi! Mari kita bedah detailnya.
Ketika mengerjakan skripsi tentu kita pernah merasa sudah menuliskan seluruh poin penting, tapi hasilnya masih terlalu pendek dan tipis. Alhasil kita memilih mengulang-ulang pokok bahasan, menambahkan hal-hal kurang penting, atau memanjangkan kalimat hingga berputar-putar. Demikianlah Gasing Tengkorak. Hanya berdurasi 80 menit dengan inti masalah mungkin dapat diselesaikan sekitar 15 menit. Menceritakan tentang Vero (Nikita Willy), seorang diva yang ingin mengasingkan diri di sebuah villa terpencil pasca pingsan mendadak kala konser. Suatu malam, ada sosok wanita yang disalahartikan kedatangannya. Maksud hati ingin mengajak idolanya main gasing, ia dikira mengirim santet. Malang nian.
Tapi konflik itu baru tampil setelah lewat 30 menit. Sebelumnya, kita dijejali penayangan eksklusif nan terselubung bagi extended trailer untuk Keeping Up with Nikita Willy plus promo villa. Menyaingi iklan apartemen Pantai Indah Kapuk yang dibawakan Feni Rose, filmnya menunjukkan interior mewah serta eksterior dengan ragam fasilitas milik villa tersebut, seperti kolam renang, balkon maha luas, hingga lapangan basket. Sementara Nikita sibuk bergaya di depan cermin bak Krisyanto menyanyikan lagu Putri, merekam vlog, mencoba wig sembari berlenggak-lenggok, bermain PlayStation VR, dan adu kecepatan melawan si wanita gasing. Parahnya, walau menaiki sepeda, ia dikalahkan oleh si wanita yang berlari. You need to workout more, dear.
Melanjutkan kaitan dengan skripsi, layaknya mahasiswa yang asal garap berujung kurang memahami hasil tulisannya, film ini menyalahi rule yang dibuat sendiri. Sempat disebutkan (termasuk dalam mantra), begitu gasing berhenti berputar, hidup korban pun turut terhenti. Fakta di lapangan justru sebaliknya. Saat gasing berhenti, teror yang berhenti, bukan nafas Vero sebagaimana kemauan penonton...maaf, maksud saya si wanita gasing. Bahkan, beberapa gangguan terjadi tanpa ada putaran gasing. Lalu teror macam apa yang menyerang ketika gasing tengkorak dimainkan? Rupanya hantu anak kecil berwajah tengkorak yang bergerak lebih lambat dibandingkan proses PDKT laki-laki paling pemalu sekalipun.
Tanpa diduga, tanpa dinyana, pelanggaran rule di atas terjawab oleh suatu twist, yang lagi-lagi merupakan simbolisme tepat sasaran terhadap mahasiswa yang menggarap skripsi seenaknya tanpa belajar secara mendalam. Gasing Tengkorak menawarkan kejutan bermuatan psikologis yang selain salah kaprah menyikapi sebuah disorder, juga hadir mendadak tanpa memperhatikan logika alur. Ibarat skripsi dengan tujuan penelitian A, lalu menghasilkan kesimpulan V. Atau latar belakang B, tapi yang diteliti S. Terdapat pula adegan menggelikan berupa pelaksanaan Tes Rorschach yang lebih terlihat seperti kuis tebak gambar.
Nilai positif layak diberikan pada beberapa set-up menjelang jump scare yang cukup efektif membangun kecemasan, sebelum akhirnya eksekusi teror berbasis hentakan efek suara dan musik berisik merusaknya. Ah, maaf. Saya melantur. Tidak ada yang rusak dalam film ini. Sebaliknya, Gasing Tengkorak sanggup menjadi jendela realita yang teramat relevan, mengajak penonton melongok lebih jauh soal problematika pengerjaan tugas akhir mahasiswa Indonesia. Sementara Nikita Willy yang seolah ingin membuktikan pendewasaannya, tampil dengan performa yang tidak masuk kategori buruk.
November 03, 2017
Baskoro Adi Wuryanto
,
horror
,
Indonesian Film
,
Jelek
,
Jose Purnomo
,
Nikita Willy
,
REVIEW
RUQYAH: THE EXORCISM (2017)
Rasyidharry
Pengabdi Setan telah mengeset standar baru bagi horor tanah air sebagaimana The Raid dan sekuelnya pada genre aksi beberapa tahun lalu. Namun Ruqyah: The Exorcism akan tetap buruk bahkan apabila eksis dalam dunia di mana Pengabdi Setan tidak pernah dibuat sekalipun. Benar bahwa tingkat efektivitas horor untuk tiap penonton berlainan, tapi sewaktu seisi bioskop kompak tertawa sepanjang durasi, bisa dipastikan ada yang salah pada filmnya. Setidaknya itu pengalaman saya, ketika bersama puluhan penonton lain, selalu geli mendapati ekspresi Evan Sanders atau kemasan clumsy saat Celine Evangelista kesurupan lalu memanjat tembok layaknya peserta lomba panjang pinang.
Merupakan film kedua dari total tiga horor karya Jose Purnomo tahun ini (Jailangkung dan Gasing Tengkorak), Ruqyah: The Exorcism konon diangkat dari peristiwa nyata tahun 2012. Namun alangkah sulit mempercayai kebenaran pernyataan tersebut. Bukan terkait unsur gaib, melainkan karakter. Perkenalkan Mahisa (Evan Sanders), wartawan entah dari media mana, yang mendadak merangsek ke tengah hutan melacak suara-suara misterius. Pastinya pekerjaan itu menguntungkan melihat rumah mewah bertingkat dan mobil miliknya. Sampai suatu malam Mahisa bertemu Asha (Celine Evangelista), aktris ternama yang mengeluhkan gangguan makhluk halus, lalu bersedia bercerita ke Mahisa yang baru dikenal hanya karena si wartawan bersedia mengembalikan dompet dan handphone-nya.
Penelusuran Mahisa mendapat kesimpulan bahwa Asha ditanami jin supaya karir juga kekayaannya melesat. Saya sendiri curiga ada ilmu lain yang Asha kuasai, yakni make-up permanen. Bagaimana tidak? Seiring berjalannya waktu, daya tahan riasan wajahnya meningkat. Diawali bulu mata lentik dan bedak tebal yang setia terpasang sewaktu tidur, hingga puncaknya, basuhan air wudu pun tak mampu menghapus semua itu. Sulit mencari perbedaan tata rias Ruqyah: The Exorcism selaku film layar lebar dengan sinetron penghias layar televisi.
Saya yang dulu bakal menyebut naskah buatan Jose Purnomo dan Baskoro Adi Wuryanto (Jailangkung, Sawadikap, Ghost Diary) sebagai bentuk kebodohan. Namun sepertinya "bodoh" terlampau kejam, jadi mari memakai istilah "ajaib". Rentetan kalimat dari mulut tokoh-tokohnya ajaib, tindakan mereka pun ajaib, seperti keputusan Mahisa membawa Asha yang kesurupan ke rumah kosong bak seorang penculik ketimbang langsung ke pondok milik kiai. Patut disyukuri, sebabnya, kita berkesempatan melihat Evan Sanders meruqyah, membaca surat Al Qur'an seperti remaja tengah merengek. Tidak kalah ajaib ekspresi ketakutan Evan yang sukses memecah gelak tawa penonton.
Keajaiban lain terletak di cara menangani unsur religi. Ruqyah: The Exorcism memang tak menggurui, tapi lebih dipicu sisi agama yang sebatas tempelan, terlampau disederhanakan. Fungsinya sederhana. Sebagai jalan resolusi mudah di mana ruqyah berujung menyelesaikan masalah, sekaligus memberi Evan Sanders bantuan saat mati gaya. Alhasil dia tidak perlu repot-repot, cukup memasang ekspresi takut seadanya sembari membaca istighfar. Bicara soal keajaiban, toh tidak ada yang menandingi penyertaan tanggal tanpa maksud yang sama sekali tak membantu orientasi waktu, pula baris kalimat penyejuk kalbu nan penuh makna selaku penutup.
Urusan menakut-nakuti, Jose Purnomo jelas bukan sutradara kemarin sore. Mayoritas teror memang terjebak dalam keklisean jump scare berbumbu dentuman efek suara berlebihan, pun diperparah oleh adegan kesurupan yang cenderung canggung daripada creepy, tapi tersimpan secercah potensi. Ada sedikit kengerian ketika Jose bermain-main dengan flashy moment bernuansa sureal di klimaks. Sayang, potensi tersebut tenggelam dalam sederet keajaiban yang sanggup menyulap Ruqyah: The Exorcism dari horor menjadi salah satu tontonan terlucu tahun ini.
Oktober 06, 2017
Baskoro Adi Wuryanto
,
Celine Evangelista
,
Evan Sanders
,
horror
,
Indonesian Film
,
Jelek
,
Jose Purnomo
,
REVIEW
JAILANGKUNG (2017)
Rasyidharry
Salah besar menganggap horor tak memerlukan naskah mumpuni. Meski bukan mengedepankan alur kompleks, dialog cerdas, atau penokohan solid naskah horor berguna menyediakan layout, khususnya apabila penulis dan sutradara tidak dipegang satu orang. Deskripsi bagaimana sebuah kengerian muncul amat membantu pengadeganan sutradara. Dan satu poin yang kerap tertinggal (baik sengaja maupun tidak) adalah "rule" alias aturan. Poin ini penting apalagi bagi horor mistis dengan mitologi mengenai hantu, apa pemancing kehadirannya, kemampuan, sampai cara mengusir. Aturan ini merupakan logika tersendiri yang wajib dipegang dalam film horor kala ketiadaan common sense bersifat lumrah.
Jailangkung jelas berambisi mengulang fenomena Jelangkung 16 tahun lalu. Duet Rizal Mantovani dan Jose Purnomo kembali di kursi sutradara, sedangkan naskah dipegang Baskoro Adi Wuryanto (Bulan Terbelah di Langit Amerika 2, Sawadikap, Ghost Diary) menggantikan Adi Nugroho (Kuldesak, Ruang, Strawberry Surprise). Kisahnya memakai template umum, tentang perjalanan tiga kakak beradik, Bella (Amanda Rawles), Angel (Hannah Al Rashid), dan Tasya (Gabriella Quinlyn) menuju pulau Alas Keramat, tempat di mana sang ayah, Ferdi (Lukman Sardi) berada terakhir kali sebelum koma. Dibantu Rama (Jefri Nichol) si pemuda ahli ilmu kejawen, mereka menemukan rahasia mengerikan yang bertahun-tahun disimpan Ferdi.
Walau adegan pembukanya tak lebih dari eksposisi buru-buru, awal Jailangkung cukup menjanjikan berkat penanaman misteri terkait mitos Jawa. Mitologi klenik daerah kita memang berpotensi dieksplorasi karena memberi bekal misteri untuk ditelusuri. Walau teori seputar jiwa dan raga menurut kepercayaan Jawa yang dipresentasikan Rama nyata didasari riset seadanya, rasa ingin tahu masih mampu disulut. Ritual apa yang Ferdi lakukan? Siapa sosok Mati Anak yang mengganggunya? Ada modal kuat guna menggulirkan alur menarik. Ditambah lagi, Jailangkung enggan mengumbar penampakan sebanyak dan sedini mungkin. Sampai akhirnya, semakin jauh perjalanan, semakin buruk filmnya.
Penyebabnya naskah buatan Baskoro gemar menyalahi logika umum hingga rule khusus sebagaimana tersebut tadi. Kakak gila mana yang membawa adik kecilnya ke pulau terpencil kemudian meninggalkannya sendiri di kamar sebuah rumah kosong menyeramkan? Remaja gila mana pula yang bisa duduk santai tersenyum menonton rekaman pernikahan orang tua mereka di sana pada tengah malam? Lalu apa tujuan Ferdi merekam aktivitasnya selain sebagai cara filmnya mengakali flashback? Banyak juga sudut peletakan kamera terlampau sinematik untuk footage amatir. Tapi dosa lebih besar adalah ketika Baskoro mengesampingkan aturan buatannya sendiri mengenai hantu dan jailangkung, contohnya ketika dampak gangguan hantu untuk seorang tokoh berbeda dari tokoh lain (what's the deal with Angel's absurd hallucination?). Hantu memang tak butuh aturan main, tapi untuk apa membangun mitologi kalau berujung seenaknya sendiri? Saat penulisnya menolak peduli, bagaimana penonton mau mempedulikan filmnya?
Buruknya naskah tidak membantu Rizal Mantovani dan Jose Purnomo yang sama-sama dikenal akan kemampuan menangkap gambar indah namun kurang pandai bercerita. Didukung biaya 10 miliar rupiah, Jailangkung serupa produksi Screenplay Films lain, terlihat mahal, enak dilihat, tapi nihil substansi, seperti ditunjukkan tata artistik setting rumah tempat ritual dengan beragam ornamen aneh. Sinematografi Jose Purnomo pun menyajikan kemegahan dramatis (shot pemakaman dari atas misalnya) yang urung mendukung tingkat kengerian. Setelah irit di awal, begitu jump scare mulai menerjang, kita dihadapkan pada rutinits biasa berupa kejutan berisik asal masuk. Kombinasi lemahnya naskah dan penyutradaraan berpuncak di third act. Berniat membangun nuansa chaotic, kekacauan sesungguhnya justru tercipta. Saking kacaunya, bila anda ajukan pertanyaan memakai rumus 5W+1H tentang klimaksnya, jawaban bakal sulit didapat.
Eksekusi teror mencapai paruh akhir tak hanya meniadakan kengerian, bahkan memunculkan geli. Saya bersama mayoritas penonton lain tertawa menyaksikan Lukman Sardi menggendong hantu di depan cermin. Bukan seluruhnya salah sutradara, karena Lukman sendiri (bukan di adegan ini saja) bagai berakting di film horor-komedi lewat ekspresi dibuat-buat. Jarang melihat Lukman Sardi sebagai salah satu aspek terlemah film. It's unusual to see Lukman Sardi became one of a movie's weakest aspect, but there you go. Penampilan Lukman diikuti Jefri Nichol yang pasca penuh karisma di Dear Nathan, kini salah mengartikan "quirky, introvert guy" dengan wooden acting. Karakter Rama si ahli ilmu mistis tidak berguna, malah beberapa kali jadi penyebab peristiwa buruk. Beruntung ada Hannah Al Rashid yang seorang diri menciptakan momen paling mencekam berkat ekspresi believable. Kita bisa merasa pun percaya atas rasa takut serta penderitaannya. She's that good, but the rest is just a big waste of money and many potentials.
Juni 29, 2017
Amanda Rawles
,
Baskoro Adi Wuryanto
,
Gabriella Quinlyn
,
Hannah Al Rashid
,
horror
,
Indonesian Film
,
Jefri Nichol
,
Jose Purnomo
,
Kurang
,
Lukman Sardi
,
REVIEW
,
Rizal Mantovani
Langganan:
Komentar
(
Atom
)



























