Tampilkan postingan dengan label Chicco Jerikho. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Chicco Jerikho. Tampilkan semua postingan

REVIEW - BEN & JODY

Opini soal kualitas karya-karyanya mungkin beragam, tapi Visinema jelas rumah produksi terbaik Indonesia, terkait cara menangani IP (Intellectual Property). Tidak perlu secara detail membahas model bisnis. Simak saja bagaimana perkembangan terkini dua franchise mereka. Arini by Love.inc bakal menggiring Love for Sale ke ranah fiksi ilmiah (rilis 4 Februari di Bioskop Online), tapi terlebih dahulu, Ben & Jody membawa drama dua sahabat pecinta kopi ke lingkup aksi.

Pertanyaan terbesarnya tentu saja, "Bisakah perubahan dilakukan secara natural?". Ditulis oleh sang sutradara, Angga Dwimas Sasongko, bersama Muhamad Nurman Wardi (Nussa), naskahnya memahami bahwa hal paling penting bukanlah mempertahankan genre, melainkan jiwa. 

Fast & Furious menjadi film heist di Fast Five, namun masih membicarakan tentang keluarga, serta dipenuhi mobil-mobil keren. Begitu pula Ben & Jody, yang tetap mengetengahkan kisah persahabatan ditemani cangkir demi cangkir kopi. Oh, dan satu lagi: environmentalisme. 

Dua film pertama Filosofi Kopi tidak hanya menyoroti kopi dari perspektif bisnis, juga lingkungan dan budaya. Maka tidaklah aneh ketika di sini, Ben (Chicco Jerikho) banting setir jadi aktivis di kampung halamannya, selepas keluar dari kedai. Bersama warga setempat, Ben membela hak petani yang lahannya hendak dikuasai korporasi. Ketika timbul perlawanan akar rumput, apa yang terjadi berikutnya? Tentu saja premanisme.

Apabila korporat memandang rakyat terlalu bebal untuk diajak negosiasi, maka tiba waktunya melempar ancaman fisik. Di sinilah gerbang menuju genre aksi terbuka, saat para pembalak liar di bawah pimpinan Tubir (Yayan Ruhian), mulai menculik warga satu per satu. Salah satunya Ben. Hilangnya Ben mendorong Jody (Rio Dewanto) nekat melakukan pencarian seorang diri. 

Lingkungan, aktivisme, premanisme. Semua saling berkaitan. Efek domino yang hadir amat logis, sehingga pergeseran genrenya pun demikian. Mungkin yang agak mengganggu adalah penyertaan kopi di alur. Kebetulan Tubir sering mengeluhkan ketidakbecusan anak buahnya membuat kopi, dan Ben melihat itu sebagai jalan memuluskan rencana kaburnya. Sebagai pembuat kopi bagi Tubir, ia berharap bisa memperoleh informasi penting. Masalahnya, tatkala rencana dijalankan, anda akan sadar bahwa segala kerepotan itu sejatinya tak perlu, dan semata-mata eksis agar filmnya dapat menyelipkan kopi dalam penceritaan. 

Selain itu, penceritaannya berlangsung mulus. Transisi menuju aksi juga memberi progresi natural terhadap persahabatan dua tokoh utama, yang banter-nya masih efektif membangun dinamika. Pasca bertaruh materi, kemudian saling bergesekan idealisme dan rasa, sudah sepantasnya pertaruhan nyawa jadi pembuktian pamungkas mengenai persahabatan sejati keduanya.

Apalagi, bukankah figur Ben dan Jody memancarkan machismo khas jagoan aksi? Teurtama Ben, dengan tubuh kekar Chicco yang lebih pantas menjadi superhero ketimbang penjual kopi (perannya sebagai Godam turut dipakai sebagai bahan guyonan). 

Pun patut ditekankan, Ben & Jody tak serta merta menyulap protagonisnya jadi jagoan tangguh. Mereka bukan Rambo atau Chuck Norris. Wajar Ben dengan perangainya bisa berkelahi, tapi ia tetap tak kuasa menghabisi sepasukan musuh seorang diri. Sedangkan Jody harus menghadapi sulitnya mencabut nyawa manusia, sekalipun seorang penjahat yang juga berusaha membunuhnya. Bahkan bukan keduanya yang mendominasi klimaks baku hantam film ini. 

Peran tersebut diberikan pada beberapa warga lokal yang menyelamatkan Ben dan Jody. Rinjani (Hana Malasan) dengan panah miliknya, Tambora (Aghniny Haque) si jago beladiri, hingga Musang (Muzakki Ramdhan) si cilik bersenjatakan ketapel. Hana akhirnya berkesempatan memamerkan karismanya, sementara kemampuan fisik Aghniny jelas tidak perlu diragukan. 

Pertarungan Rinjani-Tambora melawan Tubir selaku klimaks punya semua bekal untuk tampil mumpuni, mulai dari kapasitas jajaran cast, sampai beberapa ide koreografi menarik. Sayangnya, pengarahan aksi Angga dan camerawork Arnand Pratikto selaku penata kamera, kurang mendukung terciptanya aksi intens, akibat pilihan-pilihan shot yang meleset. 

Itulah ganjalan terbesar Ben & Jody dalam upayanya membawa Filosofi Kopi bertransformasi. Angga belum mampu memperbaiki kelemahannya mengarahkan adegan dinamis bertempo tinggi (termasuk situasi berupa pertengkaran hebat, seperti nampak di Story of Kale: When Someone in Love). Kelemahan yang untungnya selalu berhasil ditutupi oleh kualitas penceritaan. Sebab Angga memang salah satu pencerita terbaik kita. 

REVIEW - A WORLD WITHOUT

Menciptakan dunia distopia di narasi fiksi tidak bisa asal. Proses "melebih-lebihkan" suatu elemen sosial harus dilakukan secara cermat. Harus ada pijakan kokoh berbasis kondisi realita, agar sewaktu mengunjunginya, penonton dapat mengasosiasikan dunia tersebut dengan masa depan yang mungkin terjadi. 

Menonton A World Without karya Nia Dinata (Arisan, Berbagi Suami, Ini Kisah Tiga Dara), yang menulis naskahnya bersama Lucky Kuswandi (Galih dan Ratna, Ali & Ratu Ratu Queens), saya merasa asing. Bagaimana bisa dunia kita berubah menjadi dunia di dalamnya? Pertanyaan yang lebih penting, "Apa sebenarnya yang hendak disampaikan film ini?".

A World Without berlatar tahun 2030 selepas pandemi COVID-19 usai, di mana sebuah komunitas bernama The Light milik pasangan suami-istri, Ali Khan (Chicco Jerikho) dan Sofia (Ayushita). Bisa dibilang The Light adalah evolusi dating app. Para remaja berkumpul, belajar beragam kemampuan, lalu saat menginjak 17 tahun, The Light bakal menikahkan mereka dengan pasangan yang dipilih menggunakan algoritma. 

Tiga sahabat, Salina (Amanda Rawles), Tara (Asmara Abigail), dan Ulfah (Maizura) baru saja bergabung. Melihat ketiganya, pertanyaan-pertanyaan langsung memenuhi otak. Nia dan Lucky ingin menyentil "kaum kanan" melalui idelogoi The Light yang menentang konsep pacaran (termasuk lewat video propaganda palsu), pula mendukung gerakan nikah muda dan poligami. 

Saya termasuk yang bakal menentang, alias berada di pihak pembuat film ini. Di realita, ideologi The Light berasal dari sudut pandang agama. Saya bisa memahami alasan Tara yang mempunyai masa lalu kelam (orang-orang serupa kerap mudah tergoda "hijrah salah kaprah"), tapi bagaimana dengan Salina? Dia mengidolakan Ali Khan karena merindukan sosok ayah, namun itu belum cukup menjelaskan, mengapa gadis sepertinya bersedia jadi "budak moral", seperti saat merekam orang-orang yang berpacaran di ruang publik? 

Mari berasumsi kalau Salina begitu memuja Ali, sampai mau mengikuti seluruh perkataannya. Kalau begitu, menjadi tidak wajar tatkala prinsipnya goyah hanya karena sekali menerima bantuan dari Hafiz (Jerome Kurnia dengan rambut acak-acakan, yang kembali menunjukkan kengawuran perspektif sineas Jakarta dalam menggambarkan orang miskin dan/atau daerah). Mendadak ia jatuh cinta, mendadak ia bersedia melanggar aturan terkait interaksi antar lawan jenis. 

Seiring waktu, Salina menyadari betapa The Light bukan surga seperti bayangannya. The Light ibarat cult. Pengikut Ali memanggilnya "Yang Istimewa". Wajar jika The Light tampak menggoda karena menawarkan kepemilikan properti setelah menikah, namun mengingat anggotanya adalah remaja (yang belum dicekoki beban pikiran membeli rumah dan sebagainya), pun latarnya tidak sampai satu dekade di masa depan, saya kembali mempertanyakan, fenomena apa yang mendasari perubahan ekstrim tersebut? Pandemi bukan alasan kuat. Begitu pun soal maraknya propaganda bernapas agama. Naskahnya seperti enggan berpijak pada realita, dalam usahanya mengkritik realita. 

Anda bakal sering menemukan kata "cringey" dalam berbagai ulasan atau reaksi penonton terhadap A World Without. Tidak salah. Desain kostum Isabelle Patrice dan Tania Soeprapto (dua penata kostum langganan Joko Anwar, yang turut muncul sebagai cameo guna menyindir perihal "co-director" di perfilman Indonesia), terutama yang dikenakan Chicco dan Ayushita, memang bagus. Glamor. Unik. Tapi deretan properti futuristik seperti bingkai foto digital, hingga jam pintar ala Nubia Smartwatch, malah tampak menggelikan. 

Bukan hanya di tata artistik, penulisan maupun penyutradaraannya pun tidak jarang terasa cringey. Asmara Abigail tampil semaksimal mungkin, namun sialnya, ia banyak mendapat bagian momen, yang entah disengaja atau tidak, tersaji konyol. Amanda Rawles dan Ayushita lebih beruntung. Keduanya (khususnya Ayushita) merupakan elemen terbaik A World Without, sebuah film yang pasca melewati klimaks tanpa sense of urgency, menawarkan konklusi yang justru semakin meninggalkan kebingungan tentang, "Apa yang sebenarnya mau dibicarakan?". 


(Netflix)

REVIEW - AUM!

Satriya (Jefri Nichol), aktivis pergerakan reformasi, tengah kabur dari buruan militer. Kakaknya, Adam (Aksara Dena), yang merupakan anggota militer, memutuskan membantu Satriya dan menjadi desertir. Resolusi gambar rendah hasil tangkapan camcorder, ditambah pilihan shot saat adegan kejar-kejaran, membuat sekuen tersebut seperti diambil dari film aksi amatir buatan mahasiswa. 

Lalu terungkap bahwa peristiwa tersebut adalah adegan film. Satriya dan Adam merupakan aktor, dengan nama asli Surya dan Bram. Ya, Aum! menampilkan film dalam film. Tepatnya, debut penyutradaraan Bambang Ipoenk KM ini mengambil bentuk mockumentary, berisi proses di balik layar pembuatan sebuah film independen.

Produsernya, Linda (Agnes Natasya Tjie), berambisi membuat karya agar publik memahami pentingnya reformasi. Tapi karena dilakukan di tengah gejolak politik, produksinya penuh keterbatasan. Bujet minim, alat minim, pun pengambilan gambar mesti sangat hati-hati. Beberapa kali Linda meminta krunya agar jangan bersuara, walau sedang membuat adegan "rusuh" seperti kejar-kejaran atau penggerebekan. Sebab bisa jadi, warga yang dengan polos bertanya "Lagi bikin apa ini?", atau penjual bakso yang kebetulan mampir, adalah mata-mata. Bukan cuma Linda, saya sebagai penonton juga dibuat ikut menaruh curiga.

Masalah bukan cuma soal keterbatasan, pula benturan ego antara Linda dengan Panca (Chicco Jerikho) si sutradara idealis. Panca, yang menyebut gayanya sebagai "Sinema Dialektika", kukuh mengulang pengambilan gara-gara persoalan unik (kalau tidak mau disebut aneh), misal gambar yang "terlalu bernyawa", akting yang "terlalu emosional", atau iringan musik yang "terlalu menyayat-nyayat". Jika gagal dituruti, ia tak segan mengamuk, memaki, bahkan melempar barang.

Aum! bakal makin menyenangkan bagi penonton yang pernah terlibat dalam produksi film atau teater (Panca mencetuskan adegan-adegan sureal berlatar panggung pertunjukkan, yang diambil di gedung Societet Militair tempat saya pernah menggelar pentas beberapa kali, sehingga membangkitkan banyak memori), yang serba terbatas dan penuh tekanan. Amukan-amukan Panca memang menciptakan iklim kerja kurang sehat, namun itu jamak terjadi. Mungkin Bambang Ipoenk KM dan Gin Teguh juga sedang melakukan curhat colongan melalui naskah buatan mereka.

Demi menyebar kabar ke publik internasional, Linda melibatkan Paul Whiteberg (Mr. Richard), jurnalis asal Amerika Serikat guna merekam proses (yang footage-nya kita tonton). Ketika tensi antara Linda dan Panca makin memanas, dibuatlah dokumenter, di mana tiap pemain dan kru diwawancarai terkait konfliknya. Di situ kita bisa mempelajari detail tiap tokoh, walau sebenarnya tak sebegitu esensial, sebab rekaman making-of "aslinya" sudah menyediakan cukup informasi.

Jefri Nichol tampil solid menghidupkan dua sosok berbeda, yakni Satriya si karakter aktivis yang meletup-letup, dan Surya si aktor yang cenderung diam sembari menuruti instruksi sutradara. Tapi penampil terbaik Aum! tentu Chicco Jerikho. Segala amarah sekaligus passion miliknya ketika mengarahkan detail, yang terpancar baik dari tuturan verbal maupun gestur, bakal mengingatkan ke sosok-sosok yang sempat anda temui jika pernah terlibat di proses produksi film atau teater. 

Aum! jelas bertujuan mengkritisi rezim otoriter pengekang kebebasan berkarya. Menariknya, walau departemen artistiknya, baik sinematografi hingga setting dan properti kental nuansa 90-an, pun iklim politik yang dibangun senada dengan era reformasi 98, film tak pernah secara spesifik menyebut tahun, atau nama presiden. Rasanya bukan (cuma) untuk menghindari potensi konflik, namun guna melempar pesan yang lebih luas, bahwa kondisi serupa pun masih kita alami di masa sekarang.

Menariknya, beberapa sikap karakternya justru mencerminkan target kritik mereka. Linda berteriak menentang korupsi, tapi menyogok karyawan kebun binatang agar diizinkan mengambil gambar. Dia pun memotong adegan-adegan yang menurutnya tidak sesuai dengan tujuan film, tanpa sepengetahuan Panca, layaknya pemerintah yang membredel karya-karya karena dianggap meresahkan. Sementara Panca, tak ubahnya diktator bertangan besi.

Gambaran "kita menjadi apa yang kita benci" ini amat menarik, punya kompleksitas lebih, thought-provoking, dan sejatinya, sudah kerap terjadi di realita. Sayang, twist di tiga menit terakhirnya menghapus kompleksitas tersebut, menggiring filmnya ke pesan yang lebih "aman". Tidak keliru, sebab toh pada dasarnya Aum! memang dibuat untuk melempar pesan tentang betapa licik dan berbahayanya para pemegang kuasa, walau ada potensi menggali lebih dalam lagi. Bukan twist yang buruk pula, karena berbagai petunjuk sudah disebar (termasuk soal pemilihan topeng macan).


(Bioskop Online)

FOXTROT SIX (2019)

Bermodalkan 70,5 miliar rupiah, atau sekitar 5 juta dollar, yang mana sedikit di atas The Raid 2: Berandal (4,5 juta dollar), ditambah keterlibatan Mario Kassar (First Blood, Total Recall, Terminator 2: Judgment Day) selaku produser eksekutif, ekspektasi terhadap Foxtrot Six untuk menjadi “blockbuster Indonesia rasa Hollywood” melambung tinggi. Dan bila salah satu pemakaian CGI tersolid di film lokal dan aksi baku hantam brutal terdengar menggiurkan, maka debut penyutradaraan Randy Korompis ini cocok untuk anda.

Berlatar tahun 2031 saat dunia dilanda krisis pangan, dipimpin Presiden termudanya sepanjang sejarah, Indonesia siap memimpin uluran bantuan. Belum sempat terlaksana sepenuhnya, kudeta dilakukan oleh partai politik Piranas, yang akhirnya berkuasa dengan semena-mena. Protagonis kita adalah Angga (Oka Antara), yang menariknya, bukan sosok jagoan lurus, setidaknya di paruh awal. Sebagai anggota parlemen, sang mantan marinir hidup bergelimang kemewahan sementara rakyat tenggelam dalam kemiskinan.

Angga bahkan mengusulkan rencana menumpas habis kelompok pemberontak bernama “Reformasi” kepada para pejabat negara. Saya menyukai fakta bahwa jajaran pejabat tinggi itu terdiri atas empat “rubah tua” yang haus harta dan kekuasaan. Kondisi tersebut mencerminkan realita dunia masa kini, tatkala jajaran pemuda berambisi membawa perubahan dengan melengserkan pemerintahan korup yang diisi generasi masa lalu.

Tapi akibat akal bulus Wisnu (Edward Akbar), Angga justru dianggap berkhianat, membelot untuk memihak Reformasi, dan masuk daftar atas buronan negara. Angga pun terpaksa benar-benar bergabung bersama Reformasi, yang rupanya hasil bentukan Sari (Julie Estelle), sang mantan kekasih yang ia pikir telah tiada. Tujuannya satu, merobohkan kekuasaan Piranas.

Naskah buatan Randy Korompis sayangnya lemah membangun pondasi, menghasilkan produk setengah matang yang enggan repot-repot memupuk pemahaman dan kepedulian penonton. Contohnya saat Foxtrot Six buru-buru masuk ke tahap di mana Angga mengumpulkan regu—yang terdiri atas rekan-rekan lamanya di militer, yakni Tino (Arifin Putra), Oggi (Verdi Solaiman), Bara (Rio Dewanto), dan Ethan (Mike Lewis), ditambah Spec (Chicco Jerikho) si rekan misterius Sari—hanya sesaat setelah ia sadar sudah dikhianati pemerintahan tempatnya setia mengabdi. Kita tidak diberi kesempatan melihat bagaimana Angga memproses peristiwa itu.

Pembangunan dunianya pun sama lemahnya. Foxtrot Six mendefinisikan dunianya sebagai tempat penuh kekacauan, sarat kemiskinan, juga minim harapan. Namun di beberapa titik, semuanya terlihat normal, seolah kita hanya tengah diajak berjalan-jalan mengelilingi Jakarta di hari-hari biasa. Pun sukar menelan bulat-bulat pernyataan jika Reformasi merupakan ancaman besar seperti yang Piranas khawatirkan, sebab tak sekalipun dijabarkan kekacauan macam apa yang mereka picu.

Tapi bukankah kita datang untuk melihat aksi? Di tatanan itu, Foxtrot Six sebenarnya cukup memuaskan. Koreografi arahan Very Tri Yulisman (pemeran Baseball Bat Boy di Berandal) hanya setingkat di bawah para lulusan The Raid lain, unsur gore yang kebanyakan melibatkan aksi saling tebas dan tusuk terbukti ampuh memberi dampak, musik bombastis gubahan Rob E Powers mampu menciptakan intensitas (bak berteriak “Ini blockbuster, Bung!”), pun jajaran pemainnya bisa diandalkan melakoni aksi saling serang.

Oka Antara lincah menghajar musuh-musuhnya lewat beragam gerakan kompleks, sementara Rio Dewanto sempurna memerankan sosok jagoan laga macho yang baru sekarang ia perlihatkan. Bahkan perkenalan karakter Bara merupakan salah satu momen favorit saya sepanjang film, ketika naskahnya secara kreatif menyulap panjat pinang jadi aktivitas barbar nan brutal. Satu kekecewaan hadir karena setelah penampilan badass di Berandal, Headshot, dan The Night Comes for Us, Julie Estelle tak diberi kesempatan unjuk gigi, hanya berakhir sebagai damsel in distress.

Kualitas CGI-nya mungkin masih perlu perbaikan di sana-sini, namun pemakaian seperlunya membuat sumber daya dapat dialokasikan secara tepat. Adegan “terjun bebas” dan sebuah penghormatan dari Randy Korompis untuk momen ikonik Terminator 2: Judgment Day (andai tidak ada nama Mario Kassar mungkin saya bakal menyebut Alien 3) merupakan beberapa highlight pemaksimalan teknologi efek visualnya.

Sayang, Foxtrot Six gagal mencapai potensi tertinggi kala sering mempertontonkan kecanggungan akibat penyuntingan Denny Rihardie yang bagai kurang daya, pula penyutradaraan Randy, yang meski mumpuni di banyak kesempatan, tak jarang melewatkan ketepatan timing, sudut kamera, atau mise en scène. Sedetik saja melewatkan timing, maupun meleset memposisikan kamera walau cuma beberapa derajat, apalagi jika terjadi dalam momen vital (Bara menghabisi lawan memakai sikat gigi atau apa pun yang Angga perbuat guna meledakkan atap), maka akibatnya fatal. Alhasil, biarpun menghibur, Foxtrot Six urung menjadi “The Next The Raid” seperti harapan banyak pihak.

JAFF 2018 - AVE MARYAM (2018)

Ave Maryam membuktikan betapa perfilman kita masih terjebak pada monotonitas tema. Bukan karena karya terbaru Ertanto Robby Soediskam (7 Hati, 7 Cinta, 7 Wanita) ini luar biasa. Sebaliknya, fakta bahwa filmnya tampak segar dan menonjol meski hasilnya tak sebegitu hebat apalagi baru (dibanding sinema dunia secara umum) saat eksplorasi temanya masih menyimpan setumpuk pekerjaan rumah, makin menegaskan permasalahan tersebut.

Ditulis sendiri naskahnya oleh Robby, Ave Maryam mengisahkan biarawati bernama Maryam (Maudy Koesnaedi) yang jatuh cinta pada Yosef (Chicco Jerikho), seorang pastor baru. Maryan menghabiskan rutinitasnya merawat para biarawati tua, memandikan, menyediakan makanan hingga obat-obatan. Tapi dalam hatinya tersimpan hasrat membara yang ditekan kuat-kuat. Itulah mengapa, ketika sang pastor muda nan tampan hadir, jalan hidup Maryam berubah.

Ini adalah kisah mengenai sosok relijius yang mengambil sumpah suci, tapi ternyata ia tak sesuci kelihatannya (atau semestinya?). Tentu saya berharap melihat perjuangannya, kesulitan yang dialami dalam upaya menekan ketidaksucian itu. Ave Maryam urung menghadirkannya dengan kadar memadahi. Hanya muncul satu momen singkat kala Maryam membaca novel esek-esek, itu pun tanpa menampakkan bagaimana proses pikir dan “merasa” yang dialami Maryam pula bagaimana tahapan stimulus-respon yang dilaluinya. Buku hanya dibaca, ditutup, lalu rutinitas biasa berlanjut.

Demikian juga Yosef yang sempat dideskripsikan ingin menghadirkan perubahan. Kita melihatnya menari bersama para biarawati , tapi tidak dengan pemikiran dan ideologinya. Serupa Maryam, cuma terselip sebuah momen pendek jelang akhir tatkala ia mempertanyakan konsep dosa.

Ave Maryam malah menghabiskan mayoritas paruh pertama membagi fokus ruang personal tokoh utama dengan hal lain, termasuk paparan tentang seorang biarawati senior (Tutie Kirana) yang menjalin kedekatan dengan Yosef, di mana paparan ini nyaris terasa sebagai red herring. Betul, presentasi lingkungan sekitar Maryam diperlukan, namun demi memperkaya karakternya alih-alih berujung mengorbankan eksplorasi sisi personalnya.

Butuh waktu sampai Ave Maryam benar-benar menemukan pijakan, tepatnya saat romansa Maryam dan Yosef mulai bersemi. Dilema Maryam tersampaikan berkat kepiawaian Maudy berekspresi ketika tuturan verbal ditekan seminimal mungkin. Sebagai pastor aktif nan bersahabat yang sanggup menembus benteng hati Maryam, aksi Chicco pun asyik disimak.

Romansanya tampil apik lewat beberapa kencan “kucing-kucingan” yang tak jarang menggelitik karena kecanggungan mereka. Adegan favorit saya pun terjadi di tengah kencan, sewaktu Maryam dan Yosef duduk diam di sebuah cafe, sementara dialog dari  film yang diputar di sana menjadi latar sekaligus mewakili isi hati masing-masing. Pemandangan kreatif ini turut memperlihatkan bagaimana film acap kali dapat bertindak sebagai media ekspresi perasaan yang sukar diutarakan. Sayangnya dinamika itu berakhir dini, tepat saat situasi makin menarik dan intensitas emosional mencapai titik tertinggi (berkulminasi pasca adegan yang saya yakin takkan muncul di versi bioskop komersil). Sulit menampik pemikiran jika Ave Maryam bakal bekerja lebih efektif sebagai film pendek berdurasi 30-45 menit.

Tapi kelemahan naskah perihal pengembangan alur mampu ditebus penulisan kalimat kaya makna, yang bukan sebatas indah, juga sesuai dengan usungan tema Catholicism filmnya. Dari “Aku ingin melihat lautan tapi tidak mau terperangkap dalam ombak”, “Jika surga belum pasti untuk saya, mengapa saya urusi nerakamu?” (maaf jika beberapa kutipan kata meleset), hingga kalimat-kalimat lain, sukses meninggalkan kekaguman.

Ave Maryam pun tak diragukan adalah suguhan dalam negeri tercantik yang saya tonton sepanjang tahun. Pemakaian static shot memberi kesempatan bersinar untuk desain artistik buatan Allan Sebastian (Kartini, Pengabdi Setan), color grading menawan, sampai sinematografi Ical Tanjung (A Copy of My Mind, Pengabdi Setan) yang jeli memainkan pencahayaan plus memilih sudut cantik dibantu mise-en-scène presisi. Pun kita, penonton, punya waktu lebih guna menyerap pencapaian elemen-elemen artistik di atas. Ave Maryam mungkin belum menghadirkan kedalaman eksplorasi berani, tapi setidaknya, tampak segar ketimbang banyak film lokal lain seperti yang diharapkan.

FILOSOFI KOPI 2: BEN & JODY (2017)

Luar biasa apa yang dilakukan Angga Dwimas Sasongko beserta segenap tim dengan Filosofi Kopi. Tatkala film pertama hanya mengumpulkan sekitar 229 ribu penonton, perjalanan tak lantas berhenti. Alih-alih menyatakan gagal, brand Filosofi Kopi dikembangkan lebih jauh. Berangkat dari cerita pendek karya Dewi "Dee" Lestari, kini kita mendapati dibukanya gerai kopi, prekuel berupa web series Ben & Jody, serta sandiwara radio selaku jembatan penghubung film pertama dengan kedua. Hasilnya nyata. Tiket pemutaran hari pertama Filosofi Kopi 2: Ben & Jody ludes di berbagai kota. Ikut berkembang pula kisahnya, dari pemaknaan hidup dalam cerpen Dee menuju soal cinta, sahabat, keluarga, hingga kompleksitas dunia bisnis. 

Berbagai tema diangkat oleh trio penulis naskah Jenny Jusuf, M. Irfan Ramly dan Angga Dwimas Sasongko, termasuk seputar betapa hidup diisi kedatangan dan kepergian, suatu tema yang setia hadir sepanjang durasi, pun berperan memberi momen paling emosional dan intisari konklusinya. Tapi semua berawal kala dua tahun setelah memutuskan mengendarai kombi berkeliling Indonesia menyuguhkan kopi terbaik, Ben (Chicco Jerikho) dan Jody (Rio Dewanto) menemui jalan buntu. Mulai ditinggal karyawan, pemasukan tak seberapa, sampai kegamangan akibat merasa tanpa tujuan jadi beberapa sebab. Poin terakhir sejatinya mengundang kejanggalan.  
Ben meragukan "destinasi" hidup berkeliling menjual kopi, menyebut keduanya perlu meninggalkan zona nyaman. Artinya, semua masalah dipicu pencarian jawaban karakternya atas tujuan. Namun filmnya lalai menawarkan jawaban kecuali "menemukan dirinya", serupa film pertama, mengesankan stagnansi yang sebaiknya tak dimiliki sekuel selaku proses berkelanjutan. Takkan jadi persoalan bila filmnya tegas memposisikan diri sebagai kisah "kepulangan" yang sejatinya turut membentuk resolusi di akhir, sayangnya banyak hal-hal lain ikut campur aduk. Sedangkan ketika Jody berkata bahwa bisnisnya tidak berjalan, kita tak melihat kesulitan finansial dalam Filosofi Kopi. Ditunjang alasan dipaksakan itu, filmnya membawa Ben dan Jody berusaha membuka kembali kedai filosofi kopi, kali ini dibantu investasi dari Tarra (Luna Maya), juga barista baru bernama Brie (Nadine Alexandra). Benturan dua pribadi berbeda (Ben si idealis total dan Jody si pebisnis tulen) jadi ujian seiring masalah pribadi yang turut menghampiri.

Melalui film kedua, Filosofi Kopi tak lagi banyak berfilosofi soal hidup dengan kopi. Tentu kalimat quotable bermakna macam "Setiap hal yang punya rasa selalu punya nyawa" tetap menghiasi, namun serupa judul awalnya yakni Ben & Jody ("Filosofi Kopi" ditambahkan sebagai penegas brand), bromance dua tokoh utama makin dikedepankan. Dinamika persahabatan Ben dan Jody masih digambarkan lewat saling ejek dibarengi rentetan kalimat seenaknya yang mengalir bebas dari mulut mereka. Rio Dewanto dan Chicco Jerikho tampil bersenjatakan chemistry meyakinkan. Chicco membuat keras kepalanya Ben tak menyebalkan berkat gaya asyik, sementara Rio menjaga supaya Jody tidak ditenggelamkan tingkah polah sang sahabat. Di samping keduanya, ada Luna Maya yang solid kala melakoni porsi emosional, juga Nadine Alexandra dengan kekokohan tersembunyi di balik diamnya Brie. 
Persahabatan sejati dibangun oleh pertengkaran yang menyatukan. Naskahnya disusun berdasarkan prinsip itu, tetapi sewaktu film pertama (memenangkan Piala Citra) punya aliran konflik mulus, Ben & Jody menjadikannya obligasi, melemparkan benturan beruntun yang daripada menyatu, baga keping-keping terpisah yang berlebih kuantitasnya. Terlampau seringnya perpindahan lokasi di mana acap kali satu tempat hadir sambil lalu dengan cepat makin menyulitkan pergerakan alur rapi. Pun naskahnya memiliki kesalahan mendasar berbentuk sebuah kebetulan sebagai kejutan sekaligus titik balik perjalanan karakternya. Sebab kebetulan adalah cara paling tak elegan (kalau enggan disebut malas) guna menggerakkan cerita, terlebih jika merupakan fase vital pengembangan karakter. 

Andai bukan karena pengadeganan Angga, sulit menerima kelemahan tuturan drama di atas. Sang sutradara diberkahi sensitivitas merangkai momen dramatis, yang daripada mengandalkan metode manipulatif berupa tangisan meraung ditemani musik bergelora, Angga justru "membisukan" suasana. Keheningan menyengat ini memunculkan nuansa intim yang menggandakan dampak emosi. Bagaimana para tokoh diposisikan sebagai manusia yang sedang "merasakan" ketimbang mesin pengundang haru penonton termasuk salah satu kunci. Angga paham betul seperti apa kehilangan atau sakit hati, sehingga visualisasi momen punya ketepatan di tatanan rasa. Ditemani deretan lagu musisi indie penyegar telinga, Filosofi Kopi 2: Ben & Jody tetap perjalanan menyenangkan penuh hati, walau kini, kopi itu tak senikmat dulu.