REVIEW - BEN & JODY
Opini soal kualitas karya-karyanya mungkin beragam, tapi Visinema jelas rumah produksi terbaik Indonesia, terkait cara menangani IP (Intellectual Property). Tidak perlu secara detail membahas model bisnis. Simak saja bagaimana perkembangan terkini dua franchise mereka. Arini by Love.inc bakal menggiring Love for Sale ke ranah fiksi ilmiah (rilis 4 Februari di Bioskop Online), tapi terlebih dahulu, Ben & Jody membawa drama dua sahabat pecinta kopi ke lingkup aksi.
Pertanyaan terbesarnya tentu saja, "Bisakah perubahan dilakukan secara natural?". Ditulis oleh sang sutradara, Angga Dwimas Sasongko, bersama Muhamad Nurman Wardi (Nussa), naskahnya memahami bahwa hal paling penting bukanlah mempertahankan genre, melainkan jiwa.
Fast & Furious menjadi film heist di Fast Five, namun masih membicarakan tentang keluarga, serta dipenuhi mobil-mobil keren. Begitu pula Ben & Jody, yang tetap mengetengahkan kisah persahabatan ditemani cangkir demi cangkir kopi. Oh, dan satu lagi: environmentalisme.
Dua film pertama Filosofi Kopi tidak hanya menyoroti kopi dari perspektif bisnis, juga lingkungan dan budaya. Maka tidaklah aneh ketika di sini, Ben (Chicco Jerikho) banting setir jadi aktivis di kampung halamannya, selepas keluar dari kedai. Bersama warga setempat, Ben membela hak petani yang lahannya hendak dikuasai korporasi. Ketika timbul perlawanan akar rumput, apa yang terjadi berikutnya? Tentu saja premanisme.
Apabila korporat memandang rakyat terlalu bebal untuk diajak negosiasi, maka tiba waktunya melempar ancaman fisik. Di sinilah gerbang menuju genre aksi terbuka, saat para pembalak liar di bawah pimpinan Tubir (Yayan Ruhian), mulai menculik warga satu per satu. Salah satunya Ben. Hilangnya Ben mendorong Jody (Rio Dewanto) nekat melakukan pencarian seorang diri.
Lingkungan, aktivisme, premanisme. Semua saling berkaitan. Efek domino yang hadir amat logis, sehingga pergeseran genrenya pun demikian. Mungkin yang agak mengganggu adalah penyertaan kopi di alur. Kebetulan Tubir sering mengeluhkan ketidakbecusan anak buahnya membuat kopi, dan Ben melihat itu sebagai jalan memuluskan rencana kaburnya. Sebagai pembuat kopi bagi Tubir, ia berharap bisa memperoleh informasi penting. Masalahnya, tatkala rencana dijalankan, anda akan sadar bahwa segala kerepotan itu sejatinya tak perlu, dan semata-mata eksis agar filmnya dapat menyelipkan kopi dalam penceritaan.
Selain itu, penceritaannya berlangsung mulus. Transisi menuju aksi juga memberi progresi natural terhadap persahabatan dua tokoh utama, yang banter-nya masih efektif membangun dinamika. Pasca bertaruh materi, kemudian saling bergesekan idealisme dan rasa, sudah sepantasnya pertaruhan nyawa jadi pembuktian pamungkas mengenai persahabatan sejati keduanya.
Apalagi, bukankah figur Ben dan Jody memancarkan machismo khas jagoan aksi? Teurtama Ben, dengan tubuh kekar Chicco yang lebih pantas menjadi superhero ketimbang penjual kopi (perannya sebagai Godam turut dipakai sebagai bahan guyonan).
Pun patut ditekankan, Ben & Jody tak serta merta menyulap protagonisnya jadi jagoan tangguh. Mereka bukan Rambo atau Chuck Norris. Wajar Ben dengan perangainya bisa berkelahi, tapi ia tetap tak kuasa menghabisi sepasukan musuh seorang diri. Sedangkan Jody harus menghadapi sulitnya mencabut nyawa manusia, sekalipun seorang penjahat yang juga berusaha membunuhnya. Bahkan bukan keduanya yang mendominasi klimaks baku hantam film ini.
Peran tersebut diberikan pada beberapa warga lokal yang menyelamatkan Ben dan Jody. Rinjani (Hana Malasan) dengan panah miliknya, Tambora (Aghniny Haque) si jago beladiri, hingga Musang (Muzakki Ramdhan) si cilik bersenjatakan ketapel. Hana akhirnya berkesempatan memamerkan karismanya, sementara kemampuan fisik Aghniny jelas tidak perlu diragukan.
Pertarungan Rinjani-Tambora melawan Tubir selaku klimaks punya semua bekal untuk tampil mumpuni, mulai dari kapasitas jajaran cast, sampai beberapa ide koreografi menarik. Sayangnya, pengarahan aksi Angga dan camerawork Arnand Pratikto selaku penata kamera, kurang mendukung terciptanya aksi intens, akibat pilihan-pilihan shot yang meleset.
Itulah ganjalan terbesar Ben & Jody dalam upayanya membawa Filosofi Kopi bertransformasi. Angga belum mampu memperbaiki kelemahannya mengarahkan adegan dinamis bertempo tinggi (termasuk situasi berupa pertengkaran hebat, seperti nampak di Story of Kale: When Someone in Love). Kelemahan yang untungnya selalu berhasil ditutupi oleh kualitas penceritaan. Sebab Angga memang salah satu pencerita terbaik kita.
REVIEW - A WORLD WITHOUT
Menciptakan dunia distopia di narasi fiksi tidak bisa asal. Proses "melebih-lebihkan" suatu elemen sosial harus dilakukan secara cermat. Harus ada pijakan kokoh berbasis kondisi realita, agar sewaktu mengunjunginya, penonton dapat mengasosiasikan dunia tersebut dengan masa depan yang mungkin terjadi.
Menonton A World Without karya Nia Dinata (Arisan, Berbagi Suami, Ini Kisah Tiga Dara), yang menulis naskahnya bersama Lucky Kuswandi (Galih dan Ratna, Ali & Ratu Ratu Queens), saya merasa asing. Bagaimana bisa dunia kita berubah menjadi dunia di dalamnya? Pertanyaan yang lebih penting, "Apa sebenarnya yang hendak disampaikan film ini?".
A World Without berlatar tahun 2030 selepas pandemi COVID-19 usai, di mana sebuah komunitas bernama The Light milik pasangan suami-istri, Ali Khan (Chicco Jerikho) dan Sofia (Ayushita). Bisa dibilang The Light adalah evolusi dating app. Para remaja berkumpul, belajar beragam kemampuan, lalu saat menginjak 17 tahun, The Light bakal menikahkan mereka dengan pasangan yang dipilih menggunakan algoritma.
Tiga sahabat, Salina (Amanda Rawles), Tara (Asmara Abigail), dan Ulfah (Maizura) baru saja bergabung. Melihat ketiganya, pertanyaan-pertanyaan langsung memenuhi otak. Nia dan Lucky ingin menyentil "kaum kanan" melalui idelogoi The Light yang menentang konsep pacaran (termasuk lewat video propaganda palsu), pula mendukung gerakan nikah muda dan poligami.
Saya termasuk yang bakal menentang, alias berada di pihak pembuat film ini. Di realita, ideologi The Light berasal dari sudut pandang agama. Saya bisa memahami alasan Tara yang mempunyai masa lalu kelam (orang-orang serupa kerap mudah tergoda "hijrah salah kaprah"), tapi bagaimana dengan Salina? Dia mengidolakan Ali Khan karena merindukan sosok ayah, namun itu belum cukup menjelaskan, mengapa gadis sepertinya bersedia jadi "budak moral", seperti saat merekam orang-orang yang berpacaran di ruang publik?
Mari berasumsi kalau Salina begitu memuja Ali, sampai mau mengikuti seluruh perkataannya. Kalau begitu, menjadi tidak wajar tatkala prinsipnya goyah hanya karena sekali menerima bantuan dari Hafiz (Jerome Kurnia dengan rambut acak-acakan, yang kembali menunjukkan kengawuran perspektif sineas Jakarta dalam menggambarkan orang miskin dan/atau daerah). Mendadak ia jatuh cinta, mendadak ia bersedia melanggar aturan terkait interaksi antar lawan jenis.
Seiring waktu, Salina menyadari betapa The Light bukan surga seperti bayangannya. The Light ibarat cult. Pengikut Ali memanggilnya "Yang Istimewa". Wajar jika The Light tampak menggoda karena menawarkan kepemilikan properti setelah menikah, namun mengingat anggotanya adalah remaja (yang belum dicekoki beban pikiran membeli rumah dan sebagainya), pun latarnya tidak sampai satu dekade di masa depan, saya kembali mempertanyakan, fenomena apa yang mendasari perubahan ekstrim tersebut? Pandemi bukan alasan kuat. Begitu pun soal maraknya propaganda bernapas agama. Naskahnya seperti enggan berpijak pada realita, dalam usahanya mengkritik realita.
Anda bakal sering menemukan kata "cringey" dalam berbagai ulasan atau reaksi penonton terhadap A World Without. Tidak salah. Desain kostum Isabelle Patrice dan Tania Soeprapto (dua penata kostum langganan Joko Anwar, yang turut muncul sebagai cameo guna menyindir perihal "co-director" di perfilman Indonesia), terutama yang dikenakan Chicco dan Ayushita, memang bagus. Glamor. Unik. Tapi deretan properti futuristik seperti bingkai foto digital, hingga jam pintar ala Nubia Smartwatch, malah tampak menggelikan.
Bukan hanya di tata artistik, penulisan maupun penyutradaraannya pun tidak jarang terasa cringey. Asmara Abigail tampil semaksimal mungkin, namun sialnya, ia banyak mendapat bagian momen, yang entah disengaja atau tidak, tersaji konyol. Amanda Rawles dan Ayushita lebih beruntung. Keduanya (khususnya Ayushita) merupakan elemen terbaik A World Without, sebuah film yang pasca melewati klimaks tanpa sense of urgency, menawarkan konklusi yang justru semakin meninggalkan kebingungan tentang, "Apa yang sebenarnya mau dibicarakan?".
(Netflix)
REVIEW - AUM!
Satriya (Jefri Nichol), aktivis pergerakan reformasi, tengah kabur dari buruan militer. Kakaknya, Adam (Aksara Dena), yang merupakan anggota militer, memutuskan membantu Satriya dan menjadi desertir. Resolusi gambar rendah hasil tangkapan camcorder, ditambah pilihan shot saat adegan kejar-kejaran, membuat sekuen tersebut seperti diambil dari film aksi amatir buatan mahasiswa.
Lalu terungkap bahwa peristiwa tersebut adalah adegan film. Satriya dan Adam merupakan aktor, dengan nama asli Surya dan Bram. Ya, Aum! menampilkan film dalam film. Tepatnya, debut penyutradaraan Bambang Ipoenk KM ini mengambil bentuk mockumentary, berisi proses di balik layar pembuatan sebuah film independen.
Produsernya, Linda (Agnes Natasya Tjie), berambisi membuat karya agar publik memahami pentingnya reformasi. Tapi karena dilakukan di tengah gejolak politik, produksinya penuh keterbatasan. Bujet minim, alat minim, pun pengambilan gambar mesti sangat hati-hati. Beberapa kali Linda meminta krunya agar jangan bersuara, walau sedang membuat adegan "rusuh" seperti kejar-kejaran atau penggerebekan. Sebab bisa jadi, warga yang dengan polos bertanya "Lagi bikin apa ini?", atau penjual bakso yang kebetulan mampir, adalah mata-mata. Bukan cuma Linda, saya sebagai penonton juga dibuat ikut menaruh curiga.
Masalah bukan cuma soal keterbatasan, pula benturan ego antara Linda dengan Panca (Chicco Jerikho) si sutradara idealis. Panca, yang menyebut gayanya sebagai "Sinema Dialektika", kukuh mengulang pengambilan gara-gara persoalan unik (kalau tidak mau disebut aneh), misal gambar yang "terlalu bernyawa", akting yang "terlalu emosional", atau iringan musik yang "terlalu menyayat-nyayat". Jika gagal dituruti, ia tak segan mengamuk, memaki, bahkan melempar barang.
Aum! bakal makin menyenangkan bagi penonton yang pernah terlibat dalam produksi film atau teater (Panca mencetuskan adegan-adegan sureal berlatar panggung pertunjukkan, yang diambil di gedung Societet Militair tempat saya pernah menggelar pentas beberapa kali, sehingga membangkitkan banyak memori), yang serba terbatas dan penuh tekanan. Amukan-amukan Panca memang menciptakan iklim kerja kurang sehat, namun itu jamak terjadi. Mungkin Bambang Ipoenk KM dan Gin Teguh juga sedang melakukan curhat colongan melalui naskah buatan mereka.
Demi menyebar kabar ke publik internasional, Linda melibatkan Paul Whiteberg (Mr. Richard), jurnalis asal Amerika Serikat guna merekam proses (yang footage-nya kita tonton). Ketika tensi antara Linda dan Panca makin memanas, dibuatlah dokumenter, di mana tiap pemain dan kru diwawancarai terkait konfliknya. Di situ kita bisa mempelajari detail tiap tokoh, walau sebenarnya tak sebegitu esensial, sebab rekaman making-of "aslinya" sudah menyediakan cukup informasi.
Jefri Nichol tampil solid menghidupkan dua sosok berbeda, yakni Satriya si karakter aktivis yang meletup-letup, dan Surya si aktor yang cenderung diam sembari menuruti instruksi sutradara. Tapi penampil terbaik Aum! tentu Chicco Jerikho. Segala amarah sekaligus passion miliknya ketika mengarahkan detail, yang terpancar baik dari tuturan verbal maupun gestur, bakal mengingatkan ke sosok-sosok yang sempat anda temui jika pernah terlibat di proses produksi film atau teater.
Aum! jelas bertujuan mengkritisi rezim otoriter pengekang kebebasan berkarya. Menariknya, walau departemen artistiknya, baik sinematografi hingga setting dan properti kental nuansa 90-an, pun iklim politik yang dibangun senada dengan era reformasi 98, film tak pernah secara spesifik menyebut tahun, atau nama presiden. Rasanya bukan (cuma) untuk menghindari potensi konflik, namun guna melempar pesan yang lebih luas, bahwa kondisi serupa pun masih kita alami di masa sekarang.
Menariknya, beberapa sikap karakternya justru mencerminkan target kritik mereka. Linda berteriak menentang korupsi, tapi menyogok karyawan kebun binatang agar diizinkan mengambil gambar. Dia pun memotong adegan-adegan yang menurutnya tidak sesuai dengan tujuan film, tanpa sepengetahuan Panca, layaknya pemerintah yang membredel karya-karya karena dianggap meresahkan. Sementara Panca, tak ubahnya diktator bertangan besi.
Gambaran "kita menjadi apa yang kita benci" ini amat menarik, punya kompleksitas lebih, thought-provoking, dan sejatinya, sudah kerap terjadi di realita. Sayang, twist di tiga menit terakhirnya menghapus kompleksitas tersebut, menggiring filmnya ke pesan yang lebih "aman". Tidak keliru, sebab toh pada dasarnya Aum! memang dibuat untuk melempar pesan tentang betapa licik dan berbahayanya para pemegang kuasa, walau ada potensi menggali lebih dalam lagi. Bukan twist yang buruk pula, karena berbagai petunjuk sudah disebar (termasuk soal pemilihan topeng macan).
(Bioskop Online)









