Tampilkan postingan dengan label Rio Dewanto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rio Dewanto. Tampilkan semua postingan

REVIEW - BEN & JODY

Opini soal kualitas karya-karyanya mungkin beragam, tapi Visinema jelas rumah produksi terbaik Indonesia, terkait cara menangani IP (Intellectual Property). Tidak perlu secara detail membahas model bisnis. Simak saja bagaimana perkembangan terkini dua franchise mereka. Arini by Love.inc bakal menggiring Love for Sale ke ranah fiksi ilmiah (rilis 4 Februari di Bioskop Online), tapi terlebih dahulu, Ben & Jody membawa drama dua sahabat pecinta kopi ke lingkup aksi.

Pertanyaan terbesarnya tentu saja, "Bisakah perubahan dilakukan secara natural?". Ditulis oleh sang sutradara, Angga Dwimas Sasongko, bersama Muhamad Nurman Wardi (Nussa), naskahnya memahami bahwa hal paling penting bukanlah mempertahankan genre, melainkan jiwa. 

Fast & Furious menjadi film heist di Fast Five, namun masih membicarakan tentang keluarga, serta dipenuhi mobil-mobil keren. Begitu pula Ben & Jody, yang tetap mengetengahkan kisah persahabatan ditemani cangkir demi cangkir kopi. Oh, dan satu lagi: environmentalisme. 

Dua film pertama Filosofi Kopi tidak hanya menyoroti kopi dari perspektif bisnis, juga lingkungan dan budaya. Maka tidaklah aneh ketika di sini, Ben (Chicco Jerikho) banting setir jadi aktivis di kampung halamannya, selepas keluar dari kedai. Bersama warga setempat, Ben membela hak petani yang lahannya hendak dikuasai korporasi. Ketika timbul perlawanan akar rumput, apa yang terjadi berikutnya? Tentu saja premanisme.

Apabila korporat memandang rakyat terlalu bebal untuk diajak negosiasi, maka tiba waktunya melempar ancaman fisik. Di sinilah gerbang menuju genre aksi terbuka, saat para pembalak liar di bawah pimpinan Tubir (Yayan Ruhian), mulai menculik warga satu per satu. Salah satunya Ben. Hilangnya Ben mendorong Jody (Rio Dewanto) nekat melakukan pencarian seorang diri. 

Lingkungan, aktivisme, premanisme. Semua saling berkaitan. Efek domino yang hadir amat logis, sehingga pergeseran genrenya pun demikian. Mungkin yang agak mengganggu adalah penyertaan kopi di alur. Kebetulan Tubir sering mengeluhkan ketidakbecusan anak buahnya membuat kopi, dan Ben melihat itu sebagai jalan memuluskan rencana kaburnya. Sebagai pembuat kopi bagi Tubir, ia berharap bisa memperoleh informasi penting. Masalahnya, tatkala rencana dijalankan, anda akan sadar bahwa segala kerepotan itu sejatinya tak perlu, dan semata-mata eksis agar filmnya dapat menyelipkan kopi dalam penceritaan. 

Selain itu, penceritaannya berlangsung mulus. Transisi menuju aksi juga memberi progresi natural terhadap persahabatan dua tokoh utama, yang banter-nya masih efektif membangun dinamika. Pasca bertaruh materi, kemudian saling bergesekan idealisme dan rasa, sudah sepantasnya pertaruhan nyawa jadi pembuktian pamungkas mengenai persahabatan sejati keduanya.

Apalagi, bukankah figur Ben dan Jody memancarkan machismo khas jagoan aksi? Teurtama Ben, dengan tubuh kekar Chicco yang lebih pantas menjadi superhero ketimbang penjual kopi (perannya sebagai Godam turut dipakai sebagai bahan guyonan). 

Pun patut ditekankan, Ben & Jody tak serta merta menyulap protagonisnya jadi jagoan tangguh. Mereka bukan Rambo atau Chuck Norris. Wajar Ben dengan perangainya bisa berkelahi, tapi ia tetap tak kuasa menghabisi sepasukan musuh seorang diri. Sedangkan Jody harus menghadapi sulitnya mencabut nyawa manusia, sekalipun seorang penjahat yang juga berusaha membunuhnya. Bahkan bukan keduanya yang mendominasi klimaks baku hantam film ini. 

Peran tersebut diberikan pada beberapa warga lokal yang menyelamatkan Ben dan Jody. Rinjani (Hana Malasan) dengan panah miliknya, Tambora (Aghniny Haque) si jago beladiri, hingga Musang (Muzakki Ramdhan) si cilik bersenjatakan ketapel. Hana akhirnya berkesempatan memamerkan karismanya, sementara kemampuan fisik Aghniny jelas tidak perlu diragukan. 

Pertarungan Rinjani-Tambora melawan Tubir selaku klimaks punya semua bekal untuk tampil mumpuni, mulai dari kapasitas jajaran cast, sampai beberapa ide koreografi menarik. Sayangnya, pengarahan aksi Angga dan camerawork Arnand Pratikto selaku penata kamera, kurang mendukung terciptanya aksi intens, akibat pilihan-pilihan shot yang meleset. 

Itulah ganjalan terbesar Ben & Jody dalam upayanya membawa Filosofi Kopi bertransformasi. Angga belum mampu memperbaiki kelemahannya mengarahkan adegan dinamis bertempo tinggi (termasuk situasi berupa pertengkaran hebat, seperti nampak di Story of Kale: When Someone in Love). Kelemahan yang untungnya selalu berhasil ditutupi oleh kualitas penceritaan. Sebab Angga memang salah satu pencerita terbaik kita. 

REVIEW - KAMU TIDAK SENDIRI

Lahir dari cerita gagasan Lukman Sardi, kemudian ditulis naskahnya oleh Titien Wattimena, Kamu Tidak Sendiri memiliki bentuk menarik. Berlatar di tengah gempa dahsyat, ini bukan tentang hancurnya seisi kota akibat bencana, tapi bagaimana bencana itu berdampak pada segelintir individu. 

Ada dua tokoh sentral, yakni Mira (Adinia Wirasti), bos yang dikenal galak oleh anak buahnya, dan Adrian (Rio Dewanto), mantan anggota SAR yang kini menjadi sekuriti gedung kantor Mira. Suatu malam setelah lembur, Mira berada satu lift dengan Mika (Ganindra Bimo), yang sudah lama menjadi pengagum rahasianya. Mendadak lift tersebut macet, mengurung Mira bersama pria yang baru dikenalnya.

Saya mempertanyakan fungsi Mika di narasinya. Jika diniati sebagai pemicu kesediaan Mira membuka diri pada orang lain (selama ini dia menutup diri, baik dari keluarga maupun rekan kerja), rasanya kurang sesuai. Pertama, karena tutur kata Mika memberi kesan creepy, yang ada di garis batas antara pengagum dan penguntit. Kedua, peran itu sudah diemban Adrian, begitu ia berkomunikasi dengan Mira melalui interkom. 

Dimulainya interaksi Mira-Adrian turut mengawali titik balik Kamu Tidak Sendiri, dari thriller satu lokasi biasa, menjadi tuturan yang berorientasi psikis. Saya yakin, banyak penonton juga mengira Adrian bakal melakoni peran ala jagoan dalam film bencana, yang dengan heroik muncul selaku penyelamat. Rupanya tidak. Kita justru hampir tidak pernah melihat wajah Adrian, dan lebih banyak mendengar suaranya.

Inilah daya tarik terbesar filmnya. Bukan sebuah upaya bertahan hidup sarat aksi, melainkan soal kekuatan kata-kata dalam interaksi manusia. Adrian memberi pertolongan pertama, yang bukan (hanya) menyasar fisik, pula psikis. Naskahnya secara bertahap membangun hubungan kedua tokoh, menjadikan ikatan keduanya terasa masuk akal, ketika pelan-pelan mereka (khususnya Mira) mulai membuka diri. 

Obrolan Mira dan Adrian pun tersaji menghibur berkat sentuhan humor. Ketika banyak thriller kita justru melelahkan akibat menganggap dirinya terlampau serius, Kamu Tidak Sendiri tampil sebaliknya. Materi humornya memang cenderung hit-and-miss, namun kehadirannya tidak dipaksakan, bukan sebatas "ayo melucu" demi pemanis, tapi substansial membangun dinamika karakternya. 

Arwin T Wardhana selaku sutradara, dibantu Yadi Sugandi sebagai penata kamera, banyak memakai close-up, yang selain langkah cerdik menutupi sebuah twist, juga bentuk kepercayaan terhadap talenta Adinia Wirasti.  Seperti biasa, penampilannya kuat. Adinia tahu kapan harus meredam diri, kapan waktunya meledakkan emosi. Dialah pondasi yang menjaga film ini berdiri kokoh, biarpun acap kali Arwin bak terbuai akan performa sang aktris, sehingga terlalu lama menghabiskan waktu di satu titik (terutama tiap Adinia bercucuran air mata). Pacing penuturannya pun jadi terganggu.

Kamu Tidak Sendiri juga masih belum lepas dari masalah film berlokasi tunggal, yakni kurangnya variasi peristiwa. Ada kalanya timbul kesan monoton, apalagi saat momen-momen halusinasi tampil lebih banyak dari seharusnya, termasuk "pertemuan khayal" antara Mira dan Adrian, yang daripada menyentuh, malah berakhir cheesy. 

(JAFF 2021)

NANTI KITA CERITA TENTANG HARI INI (2020)

Sebuah pesawat kertas melayang di atas awan, diiringi lagu Rehat milik Kunto Aji yang mengeset keseluruhan mood Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (damai, agak puitis, sesekali sendu, terkadang hangat), membuka film panjang kesebelas sutradara Angga Dwimas Sasongko ini, yang merupakan adaptasi novel berjudul sama buatan Marchella FP. Menurut Angga, inilah karyanya yang paling membanggakan. Pernyataan itu beralasan. Mengingatkan akan gaya Hirokazu Koreeda, Angga menangani materi yang oleh sutradara lain mungkin bakal digiring ke arah tearjerker menjadi sajian slice of life bernuansa kontemplatif bertema keluarga yang tetap mudah dinikmati kalangan luas.

Pasangan suami-istri, Narendra (Oka Antara) dan Ajeng (Niken Anjani) sedang menyambut kelahiran puteri bungsu mereka, Awan. Tapi ketimbang kebahagiaan, kesedihan justru terpancar. Kemudian kisahnya melompat menuju beberapa tahun kemudian, kala ketiga buah hati Narendra dan Ajeng (kini diperankan Donny Damara dan Susan Bachtiar) telah beranjak dewasa. Walau keluarga ini sekilas bahagia, tampak betul Narendra menganakemaskan Awan (Rachel Amanda). Disuruhnya Angkasa (Rio Dewanto) si anak sulung menjemput adiknya tiap pulang kerja, sedangkan Aurora (Sheila Dara) si anak kedua lebih gemar mengurung diri di studio, membuat benda-benda seni kontemporer.

Dampaknya, Angkasa kerap terdistraksi dan tak berkesempatan mengejar kebahagiaannya sendiri; Aurora merasa dikesampingkan; pun Awan mulai jengah dikekang. Bahkan Awan sampai harus berulang kali terlibat pertengkaran dengan ayahnya kala mulai menjalin kedekatan dengan Kale (Ardhito Pramono), rekan Angkasa sekaligus manajer band idolanya. Apa alasan Narendra begitu mengatur anak-anaknya? Mengapa sebegitunya ia “menjaga” Awan? Apakah semata karena Awan puteri bungsu? Beberapa flashback yang sesekali muncul, akan pelan-pelan mengupas alasannya, meski jika memperhatikan, jawaban itu bisa anda dapat sedari momen pembuka.

Ditulis oleh Angga bersama Jenny Jusuf (Filosofi Kopi, Critical Eleven, Mantan Manten) dan Melarissa Sjarief, naskahnya sanggup menjadikan deretan kilas balik tersebut media mengokohkan pondasi penokohan. Dorongan suatu perbuatan maupun sikap hingga perasaan yang dirahasiakan, terpapar secara subtil namun jelas. Subtil. Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini tidak menganggap penontonnya bodoh. Kita diseret oleh dinamika kisah yang oleh Angga dialirkan dengan penuh kesabaran, dibiarkan merasakan ketimbang disuapi, sehingga kisahnya makin kaya dan bisa dimaknai berbeda oleh masing-masing penonton.

Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini adalah tentang dinamika kompleks antara anak sulung, tengah, dan bungsu. Pun ini juga soal kebebasan dalam hubungan, baik itu bersifat romansa atau di lingkup keluarga. Ini juga mengenai impian, kebahagiaan, bahkan menyentil perihal patriarki, dan maskulinitas di mana ayah sebagai kepala keluarga senantiasa mengatur, sedangkan anak laki-laki (apalagi kalau berstatus putera sulung) harus jadi yang paling kuat. Sampai akhirnya film ini memperlihatkan bahwa kedua laki-laki yang awalnya tampak lebih meledak-ledak itu malah jauh lebih rapuh dibanding para perempuan yang sebelumnya dituntut atau memilih diam.

Naskahnya pun jeli mengolah dialog, melahrikan sederet kalimat quotable yang puitis, tapi tetap terdengar kasual. Poin tersebut senada dengan nuansa yang dibangun Angga melalui pengarahannya. Ditemani kombinasi pilihan lagu-lagu sang sutradara yang seperti biasa meneduhkan pula enak didengar (Rehat, Lagu Pejalan, Awal & Akhir, Fine Today), juga sinematografi garapan Yadi Sugandi (Petualangan Sherina, Athirah, Ada Apa Dengan Cinta 2) yang mampu menggali ruang personal dalam interaksi manusia, Angga memamerkan kepekaannya, melalui pengadeganan yang mengutamakan keintiman tanpa banyak menerapkan “rekayasa” teknis seperti scoring mendayu misalnya.

Bahkan setelah memasuki third act, yang sejatinya merupakan parade peristiwa-peristiwa penguras air mata selaku payoff yang memang pantas penonton dapatkan selepas menyaksikan fragmen-fragmen keseharian sederhana selama lebih dari 90 menit. Di tangan Angga, jajaran pemain mendapat panggung unjuk gigi. Duet Oka Antara-Niken Anjani mengobrak-abrik perasaan di latar masa lalu; Donny Damara dan Rio Dewanto sebagai ayah-anak menyiratkan kerapuhan di balik kerasnya karakter masing-masing; Sheila Dara melanjutkan rentetan kegemilangannya dalam judul-judul produksi Visinema melalui keheningan menusuk; Rachel Amanda akan menarik simpatimu; dan saat Susan Bachtiar memecahkan kediamannya, di situlah film ini meledakkan pesan empowerment-nya. Berkat mereka semua, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini membuka 2020 secara hangat.

GUNDALA (2019)

Gundala mengawali “Jagat Sinema Bumilangit” yang beberapa waktu lalu mengumumkan jajaran pemain bertabur bintang. Proyek paling ambisius sepanjang sejarah perfilman Indonesa yang wajib disaksikan bagaimanapun hasil akhirnya, mengingat peran pentingnya sebagai gerbang pembuka menuju genre pahlawan super. Ya, karena saya menekankan urgensi menonton bukan pada kualitas, mungkin anda bisa menebak bahwa karya teranyar Joko Anwar ini meninggalkan kekecewaan.

Mengadaptasi komik buatan Hasmi, Joko Anwar selaku penulis naskah, sutradara, sekaligus produser kreatif “Jagat Sinema Bumilangit” jelas tidak berniat menyajikan film keluarga. Latarnya adalah versi alternatif negeri ini, yang sejatinya tak sejauh itu dari realita, di mana ketidakadilan merajalela, si kaya berkuasa atas si miskin, kerusuhan senantiasa pecah, sementara mafia menguasai wakil rakyat yang sibuk menimbun keuntungan pribadi ketimbang mewakili aspirasi.

Bahkan sedari awal, kita langsung berhadapan dengan tragedi tatkala Sancaka kecil (Muzakki Ramdhan) mesti kehilangan ayahnya (Rio Dewanto) yang meregang nyawa akibat menuntuk keadilan bagi buruh. Setahun kemudian giliran sang ibu (Marissa Anita) menghilang entah ke mana. Dihimpit kemiskinan, Sancaka tumbuh dalam dilema antara menegakkan kepedulian atas nama kemanusiaan, atau bersikap tak acuh demi keselamatan diri.

Beberapa tahun berselang, Sancaka dewasa (Abimana Aryasatya) yang berprofesi sebagai penjaga keamanan pabrik masih bergulat dengan sikap apatis, sampai keputusannya membantu Wulan (Tara Basro) mulai menyadarkan Sancaka, mendorongnya bertarung demi kaum tertindas berbekal kekuatan misterius yang ia peroleh melalui sambaran petir.

Seperti biasa, dunia Joko adalah dunia kelam yang dilebihkan tanpa harus kehilangan relevansi. Krisis moral dan kemanusiaan disorot, sehingga pemilihan Pengkor (Bront Palarae) sebagai antagonis merupakan keputusan tepat. Serupa Sancaka, si mafia penguasa ini menyimpan masa lalu tragis. Kehilangan segalanya lalu terbuang, Pengkor akrab dengan aksi bunuh-membunuh sejak kecil, sebagaimana ditampilkan adegan paling menghantui sepanjang film kala ia menginisiasi pembantaian di sebuah panti asuhan.

Pertentangan Sancaka melawan Pengkor menciptakan dinamika menarik walau keduanya baru bertatap muka di babak ketiga. Sama-sama dinaungi tragedi, tatkala Pengkor terdorong untuk “membalas”, Sancaka merasa perlu “membela”. Bukan sekadar menghilangkan kekliesean hitam melawan putih, melalui elemen itu, Joko juga mengingatkan jika manusia selalu punya pilihan: Menjadikan masa lalu suram sebagai justifikasi perbuatan buruk, atau pelecut semangat juang, atau dalam konteks berbangsa, penyulut patriotisme.

Naskah Gundala pun sanggup cukup seimbang menghadirkan drama yang berdiri sendiri dengan proses menanam benih bagi masa depan “Jagat Sinema Bumilangit”. Walau aspek yang disebut terakhir sempat memberi distraksi saat menyoroti intensi terselubung Ghazul (Ario Bayu) plus sebuah kejutan beraroma deus ex machina jelang akhir yang saya tak bisa sebutkan, melaluinya, rasa penasaran serta ketertarikan terhadap masa depan jagat sinema satu ini berhasil dipancing.

Sementara di departemen penyutradaraan, Joko membuktikan pemilihan dirinya adalah keputusan tepat, ketika mulus membaurkan elemen horor ciri khasnya. Gejolak batin Sancaka dibungkus layaknya horor supranatural, sedangkan jajaran lawan Gundala digambarkan bak horror villain, khususnya sosok Pengkor dan Swara Batin (Cecep Arif Rahman). Pendekatan ini sesuai dengan gaya komik pahlawan super lokal yang kerap meleburkan beraneka genre, termasuk horor. Jangan khawatir Gundala terlampau suram, sebab Joko tetap mencurahkan humor-humor segar yang sejak dulu mampu memperkaya warna karyanya.

Tapi hal-hal di atas bukan kekhawatiran saya bagi proyek ini. Bukan pula kualitas CGI, yang untungnya digunakan secara bijak, walau keterbatasan dana turut mengecilkan kesempatan Gundala memamerkan sambaran petirnya. Bagaimana Joko bersama sinematografi garapan Ical Tanjung (Pengabdi Setan, Ave Maryam) menangkap gelaran laga hasil rancangan Cecep Arif Rahman-lah sumber kekhawatiran tersebut, yang sayangnya, jadi kenyataan.

Teknik quick cuts memang tak digunakan. Kamera cenderung setia mengikuti tiap gerakan, namun banyaknya close up kerap melucuti intensitas. Mayoritas baku hantam pun bergulir amat lambat, seolah kita tengah menonton gladi daripada produk final. Teknik itu efektif membungkus perkelahian “kasar” ala jalanan, tapi melemahkan dampak saat gerak bela diri yang lebih tertata dikedepankan, yang mana sering filmnya terapkan. Alhasil, musik megah gubahan trio Aghi Narottama (Pengabdi Setan, Sweet 20), Bemby Gusti (Ini Kisah Tiga Dara, Pengabdi Setan), dan Tony Merle (Pengabdi Setan, Sesat) acap kali terdengar salah tempat sewaktu membungkus adu jotos yang berlangsung canggung.

Gundala turut bermasalah dengan konklusi penuh penyederhanaan (kalau tidak mau disebut penggampangan) juga pertarungan puncak antiklimaks. Perkenalan bagi barisan “anak-anak" badass Pengkor yang memancing antusiasme harus ditutup secara mengecewakan setelah tokoh-tokoh unik ini ditumbangkan begitu mudah. Belum lagi membahas cara sang bos besar ditaklukkan (tentu ini bukan spoiler).

Diisi penampilan mumpuni, biarpun penuh lubang, setidaknya Gundala urung kehilangan nyawa. Abimana bisa diandalkan baik sebagai pahlawan tangguh maupun pria baik hati yang gampang disukai. Menjadi lawannya adalah Bront Palarae melalui tutur kata intimidatif yang lebih dari cukup menambal kekurangan fisik seorang Pengkor. Di jajaran pendukung, Pritt Timothy sebagai Agung si satpam senior mencuri perhatian lewat keluwesan dan kejenakaan, sedangkan kebolehan bela diri Faris Fajar membuat saya tidak sabar menantikan versi dewasa Awang alias Godam.

Apakah Gundala merupakan pembuka yang memadai bagi “Jagat Sinema Bumilangit”? Bisa dibilang demikian. Apakah mencapai potensi maksimal? Tidak.  Apakah Gundala karya terlemah Joko Anwar sejauh ini? Begitulah. Tapi haruskah diberi kesempatan? Jelas! Just go watch it!

BRIDEZILLA (2019)

Secara luas, Bridezilla tidak saja soal konflik seputar pernikahan. Ini pun tentang sisi gelap kehidupan sosial ibukota, tentang lubang hitam yang menyedot banyak manusia Jakarta. Apalagi kalau bukan fenomena panjat sosial. Ketika individu menakar orang lain (bahkan diri sendiri) menggunakan nilai material.

Penonton luar ibukota bakal geleng-geleng kepala, namun jika berada di dalamnya, mungkin anda akan merasa ngeri. Biarpun dipresentasikan lewat jalur komedi, fenomena tersebut begitu dekat, bahkan bisa jadi, tanpa disadari kitalah korban berikutnya (kalau belum). Mudah memahami itu berkat efektivitas penghantara pesannya, namun selaku kritik sosial yang dibungkus memakai sambul drama-komedi ringan, Bridezilla kekurangan dua poin vital: kelucuan dan hati.

Karakter utamanya bernama Dara (Jessica Milla), yang menjalankan sebuah wedding organizer bersama sahabatnya, Key (Sheila Dara). Dara terobsesi merebut gelar “wedding of the year” pemberian majalah terkemuka Wedding Star, di mana Anna (Widyawati) bertindak sebagai editor. Anna adalah wanita intimidatif pula dingin, yang rasanya terinspirasi dari Miranda Priestly-nya Meryl Streep, yang juga terinspirasi sosok Anna Wintour, yang saya yakin menginspirasi pemilihan nama karakter peranan Widyawati tersebut.

Sayang, harapan Dara terancam pupus kala pernikahan Lucinta (Lucinta Luna) yang ia organisir berujung bencana. Reputasi Dara dan wedding organizer-nya hancur, sedangkan para vendor dan klien mundur teratur. Sebab serupa realita, apa pun yang menimpa Lucinta Luna bakal jadi skandal berskala nasional. Di tengah kehancuran itu, Alvin (Rio Dewanto) melamar Dara, memberinya ide untuk membuat pesta pernikahannya menjadi even spektakuler demi menyabet titel “wedding of the year”.

Perjalanan Dara tak ubahnya biografi sosialita Jakarta. Mengawali segalanya sebagai orang berperasaan, seiring membesarnya tuntutan sosial, mereka memaksakan diri mendapatkan hal-hal bersifat material yang di luar jangkauan, bahka meski harus mengorbankan semuanya. Di satu titik, Dara berpikir untuk menjual rumah demi memperoleh cincin mahal, karena cincin pemberian Alvin yang juga merupakan warisan mendiang ibunya, dianggap kuno oleh Anna. Begitu terobsesi meraih kesempurnaan, Dara menjelma menjadi bridezilla seperti para klien yang membuatnya kesal, termasuk Lucinta.

Selepas harta, langkah berikutnya adalah mengorbankan orang-orang tercinta. Pada poin innilah persahabatan Dara dengan Key, pula hubungannya dengan Alvin menemui cobaan terjal. Serupa banyak orang, Dara terlalu mementingkan resepsi tapi lupa bahwa kehidupan pernikahan sebenarnya, yang sejatinya jauh lebih penting, telah menanti di depan.

Bisa ditebak, “pulang” merupakan jawaban bagi masalah-masalah di atas. Pulang, kembali ke keluarga dan orang-orang terkasih lainnya. Alurnya bergerak mengikuti formula paten itu, tapi naskah karya Lucky Kuswandi (Ini Kisah Tiga Dara, Galih & Ratna) dan Fai Tirta serta penyutradaraan Andibachtiar Yusuf (Hari ini Pasti Menang, Love for Sale) acap kali kekurangan sensitvitas, lalai membiarkan penonton meresapi momen-momen.

Serupa hidup di Jakarta, momen-momen Bridezilla datang dan pergi begitu saja. (MINOR SPOILER ALERT) Paling fatal tentunya babak akhir kala pernikahan Dara dilangsungkan. Berlatar lokasi indah dengan danau di belakang, saya bisa membayangkan betapa “mistis” namun indah peristiwa tersebut. Dan secara natural, konflik-konflik bakal menemukan resolusinya di sana. Tapi baik kesakralan upacara pernikahan maupun penebusan bagi konfliknya berlangsung tanpa penekanan, berlalu begitu saja bagai keping-keping insiden tak signifikan dalam kehidupan. Bahkan perubahan sikap Anna dilakukan secara buru-buru, karena sepanjang film, sama sekali tak ditemukan tanda-tanda kebaikan padanya. Berbeda dengan Miranda Priestly. (SPOILER ENDS)

Biar begitu, Bridezilla masih punya satu adegan menyentuh, tatkala Alvin melamar dara. Sebuah kesempatan langka di mana seluruh elemen saling mengisi dengan mulus: penyutradaraan lembut dibantu kebolehan membangun momentum, ketepatan naskahnya memilih timing kapan kejadian itu diposisikan, dan penghantaran hangat nan karismatik dari Rio Dewanto.

Jajaran penampil lain tak kalah baik. Jessica Milla mampu menangkap betapa menyebalkan seorang bridezilla tanpa harus membuat penonton membencinya, Widyawati menghidupkan seorang wanita berwibawa yang akan membuat siapa saja gentar bertatap muka dengannya, Sheila Dara memperlihatkan performa kaya dinamika yang mendefinisikan apa itu “sahabat”, sedangkan Rafael Tan dan Aimee Saras masing-masing sebagai A'ang (karyawan Dara) dan Kirana si sosialita tak pernah kehabisan daya guna memancing senyum.

Tapi saya menyesalkan kurang dimanfaatkannya talenta Lucinta Luna. Saya pernah beberapa kali terlibat proyek bersamanya, dan saya berani menyebut kalau aktris kontroversial satu ini punya bakat komedik luar biasa khususnya terkait kreativitas improvisasi. Di sini, kegilaan Lucinta—sebagaimana materi humor lain—dirusak oleh pengadeganan medioker. Tengok saja di adegan “menggelinding” yang dijadikan salah satu materi promosi filmnya.

Serupa kelemahan di aspek drama, adegan konyol di atas terkesan numpang lewat, terburu-buru, kekurangan punchline, enggan memberi penonton kesempatan mencerna kelucuannya terlebih dulu. Bridezilla dan Lucinta Luna sejatinya sama saja. Sama-sama menyimpan potensi luar biasa yang gagal dimaksimalkan. Karya terlemah Visinema sejauh ini. 

FOXTROT SIX (2019)

Bermodalkan 70,5 miliar rupiah, atau sekitar 5 juta dollar, yang mana sedikit di atas The Raid 2: Berandal (4,5 juta dollar), ditambah keterlibatan Mario Kassar (First Blood, Total Recall, Terminator 2: Judgment Day) selaku produser eksekutif, ekspektasi terhadap Foxtrot Six untuk menjadi “blockbuster Indonesia rasa Hollywood” melambung tinggi. Dan bila salah satu pemakaian CGI tersolid di film lokal dan aksi baku hantam brutal terdengar menggiurkan, maka debut penyutradaraan Randy Korompis ini cocok untuk anda.

Berlatar tahun 2031 saat dunia dilanda krisis pangan, dipimpin Presiden termudanya sepanjang sejarah, Indonesia siap memimpin uluran bantuan. Belum sempat terlaksana sepenuhnya, kudeta dilakukan oleh partai politik Piranas, yang akhirnya berkuasa dengan semena-mena. Protagonis kita adalah Angga (Oka Antara), yang menariknya, bukan sosok jagoan lurus, setidaknya di paruh awal. Sebagai anggota parlemen, sang mantan marinir hidup bergelimang kemewahan sementara rakyat tenggelam dalam kemiskinan.

Angga bahkan mengusulkan rencana menumpas habis kelompok pemberontak bernama “Reformasi” kepada para pejabat negara. Saya menyukai fakta bahwa jajaran pejabat tinggi itu terdiri atas empat “rubah tua” yang haus harta dan kekuasaan. Kondisi tersebut mencerminkan realita dunia masa kini, tatkala jajaran pemuda berambisi membawa perubahan dengan melengserkan pemerintahan korup yang diisi generasi masa lalu.

Tapi akibat akal bulus Wisnu (Edward Akbar), Angga justru dianggap berkhianat, membelot untuk memihak Reformasi, dan masuk daftar atas buronan negara. Angga pun terpaksa benar-benar bergabung bersama Reformasi, yang rupanya hasil bentukan Sari (Julie Estelle), sang mantan kekasih yang ia pikir telah tiada. Tujuannya satu, merobohkan kekuasaan Piranas.

Naskah buatan Randy Korompis sayangnya lemah membangun pondasi, menghasilkan produk setengah matang yang enggan repot-repot memupuk pemahaman dan kepedulian penonton. Contohnya saat Foxtrot Six buru-buru masuk ke tahap di mana Angga mengumpulkan regu—yang terdiri atas rekan-rekan lamanya di militer, yakni Tino (Arifin Putra), Oggi (Verdi Solaiman), Bara (Rio Dewanto), dan Ethan (Mike Lewis), ditambah Spec (Chicco Jerikho) si rekan misterius Sari—hanya sesaat setelah ia sadar sudah dikhianati pemerintahan tempatnya setia mengabdi. Kita tidak diberi kesempatan melihat bagaimana Angga memproses peristiwa itu.

Pembangunan dunianya pun sama lemahnya. Foxtrot Six mendefinisikan dunianya sebagai tempat penuh kekacauan, sarat kemiskinan, juga minim harapan. Namun di beberapa titik, semuanya terlihat normal, seolah kita hanya tengah diajak berjalan-jalan mengelilingi Jakarta di hari-hari biasa. Pun sukar menelan bulat-bulat pernyataan jika Reformasi merupakan ancaman besar seperti yang Piranas khawatirkan, sebab tak sekalipun dijabarkan kekacauan macam apa yang mereka picu.

Tapi bukankah kita datang untuk melihat aksi? Di tatanan itu, Foxtrot Six sebenarnya cukup memuaskan. Koreografi arahan Very Tri Yulisman (pemeran Baseball Bat Boy di Berandal) hanya setingkat di bawah para lulusan The Raid lain, unsur gore yang kebanyakan melibatkan aksi saling tebas dan tusuk terbukti ampuh memberi dampak, musik bombastis gubahan Rob E Powers mampu menciptakan intensitas (bak berteriak “Ini blockbuster, Bung!”), pun jajaran pemainnya bisa diandalkan melakoni aksi saling serang.

Oka Antara lincah menghajar musuh-musuhnya lewat beragam gerakan kompleks, sementara Rio Dewanto sempurna memerankan sosok jagoan laga macho yang baru sekarang ia perlihatkan. Bahkan perkenalan karakter Bara merupakan salah satu momen favorit saya sepanjang film, ketika naskahnya secara kreatif menyulap panjat pinang jadi aktivitas barbar nan brutal. Satu kekecewaan hadir karena setelah penampilan badass di Berandal, Headshot, dan The Night Comes for Us, Julie Estelle tak diberi kesempatan unjuk gigi, hanya berakhir sebagai damsel in distress.

Kualitas CGI-nya mungkin masih perlu perbaikan di sana-sini, namun pemakaian seperlunya membuat sumber daya dapat dialokasikan secara tepat. Adegan “terjun bebas” dan sebuah penghormatan dari Randy Korompis untuk momen ikonik Terminator 2: Judgment Day (andai tidak ada nama Mario Kassar mungkin saya bakal menyebut Alien 3) merupakan beberapa highlight pemaksimalan teknologi efek visualnya.

Sayang, Foxtrot Six gagal mencapai potensi tertinggi kala sering mempertontonkan kecanggungan akibat penyuntingan Denny Rihardie yang bagai kurang daya, pula penyutradaraan Randy, yang meski mumpuni di banyak kesempatan, tak jarang melewatkan ketepatan timing, sudut kamera, atau mise en scène. Sedetik saja melewatkan timing, maupun meleset memposisikan kamera walau cuma beberapa derajat, apalagi jika terjadi dalam momen vital (Bara menghabisi lawan memakai sikat gigi atau apa pun yang Angga perbuat guna meledakkan atap), maka akibatnya fatal. Alhasil, biarpun menghibur, Foxtrot Six urung menjadi “The Next The Raid” seperti harapan banyak pihak.

FILOSOFI KOPI 2: BEN & JODY (2017)

Luar biasa apa yang dilakukan Angga Dwimas Sasongko beserta segenap tim dengan Filosofi Kopi. Tatkala film pertama hanya mengumpulkan sekitar 229 ribu penonton, perjalanan tak lantas berhenti. Alih-alih menyatakan gagal, brand Filosofi Kopi dikembangkan lebih jauh. Berangkat dari cerita pendek karya Dewi "Dee" Lestari, kini kita mendapati dibukanya gerai kopi, prekuel berupa web series Ben & Jody, serta sandiwara radio selaku jembatan penghubung film pertama dengan kedua. Hasilnya nyata. Tiket pemutaran hari pertama Filosofi Kopi 2: Ben & Jody ludes di berbagai kota. Ikut berkembang pula kisahnya, dari pemaknaan hidup dalam cerpen Dee menuju soal cinta, sahabat, keluarga, hingga kompleksitas dunia bisnis. 

Berbagai tema diangkat oleh trio penulis naskah Jenny Jusuf, M. Irfan Ramly dan Angga Dwimas Sasongko, termasuk seputar betapa hidup diisi kedatangan dan kepergian, suatu tema yang setia hadir sepanjang durasi, pun berperan memberi momen paling emosional dan intisari konklusinya. Tapi semua berawal kala dua tahun setelah memutuskan mengendarai kombi berkeliling Indonesia menyuguhkan kopi terbaik, Ben (Chicco Jerikho) dan Jody (Rio Dewanto) menemui jalan buntu. Mulai ditinggal karyawan, pemasukan tak seberapa, sampai kegamangan akibat merasa tanpa tujuan jadi beberapa sebab. Poin terakhir sejatinya mengundang kejanggalan.  
Ben meragukan "destinasi" hidup berkeliling menjual kopi, menyebut keduanya perlu meninggalkan zona nyaman. Artinya, semua masalah dipicu pencarian jawaban karakternya atas tujuan. Namun filmnya lalai menawarkan jawaban kecuali "menemukan dirinya", serupa film pertama, mengesankan stagnansi yang sebaiknya tak dimiliki sekuel selaku proses berkelanjutan. Takkan jadi persoalan bila filmnya tegas memposisikan diri sebagai kisah "kepulangan" yang sejatinya turut membentuk resolusi di akhir, sayangnya banyak hal-hal lain ikut campur aduk. Sedangkan ketika Jody berkata bahwa bisnisnya tidak berjalan, kita tak melihat kesulitan finansial dalam Filosofi Kopi. Ditunjang alasan dipaksakan itu, filmnya membawa Ben dan Jody berusaha membuka kembali kedai filosofi kopi, kali ini dibantu investasi dari Tarra (Luna Maya), juga barista baru bernama Brie (Nadine Alexandra). Benturan dua pribadi berbeda (Ben si idealis total dan Jody si pebisnis tulen) jadi ujian seiring masalah pribadi yang turut menghampiri.

Melalui film kedua, Filosofi Kopi tak lagi banyak berfilosofi soal hidup dengan kopi. Tentu kalimat quotable bermakna macam "Setiap hal yang punya rasa selalu punya nyawa" tetap menghiasi, namun serupa judul awalnya yakni Ben & Jody ("Filosofi Kopi" ditambahkan sebagai penegas brand), bromance dua tokoh utama makin dikedepankan. Dinamika persahabatan Ben dan Jody masih digambarkan lewat saling ejek dibarengi rentetan kalimat seenaknya yang mengalir bebas dari mulut mereka. Rio Dewanto dan Chicco Jerikho tampil bersenjatakan chemistry meyakinkan. Chicco membuat keras kepalanya Ben tak menyebalkan berkat gaya asyik, sementara Rio menjaga supaya Jody tidak ditenggelamkan tingkah polah sang sahabat. Di samping keduanya, ada Luna Maya yang solid kala melakoni porsi emosional, juga Nadine Alexandra dengan kekokohan tersembunyi di balik diamnya Brie. 
Persahabatan sejati dibangun oleh pertengkaran yang menyatukan. Naskahnya disusun berdasarkan prinsip itu, tetapi sewaktu film pertama (memenangkan Piala Citra) punya aliran konflik mulus, Ben & Jody menjadikannya obligasi, melemparkan benturan beruntun yang daripada menyatu, baga keping-keping terpisah yang berlebih kuantitasnya. Terlampau seringnya perpindahan lokasi di mana acap kali satu tempat hadir sambil lalu dengan cepat makin menyulitkan pergerakan alur rapi. Pun naskahnya memiliki kesalahan mendasar berbentuk sebuah kebetulan sebagai kejutan sekaligus titik balik perjalanan karakternya. Sebab kebetulan adalah cara paling tak elegan (kalau enggan disebut malas) guna menggerakkan cerita, terlebih jika merupakan fase vital pengembangan karakter. 

Andai bukan karena pengadeganan Angga, sulit menerima kelemahan tuturan drama di atas. Sang sutradara diberkahi sensitivitas merangkai momen dramatis, yang daripada mengandalkan metode manipulatif berupa tangisan meraung ditemani musik bergelora, Angga justru "membisukan" suasana. Keheningan menyengat ini memunculkan nuansa intim yang menggandakan dampak emosi. Bagaimana para tokoh diposisikan sebagai manusia yang sedang "merasakan" ketimbang mesin pengundang haru penonton termasuk salah satu kunci. Angga paham betul seperti apa kehilangan atau sakit hati, sehingga visualisasi momen punya ketepatan di tatanan rasa. Ditemani deretan lagu musisi indie penyegar telinga, Filosofi Kopi 2: Ben & Jody tetap perjalanan menyenangkan penuh hati, walau kini, kopi itu tak senikmat dulu.