Tampilkan postingan dengan label Luna Maya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Luna Maya. Tampilkan semua postingan

REVIEW - SABAR INI UJIAN

Membuka jajaran film lokal yang rilis tiap Kamis di Disney+ Hotstar adalah Sabar ini Ujian, film Indonesia pertama yang mengusung konsep time loop, di mana Anggy Umbara bertindak selaku sutradara. Elemen fantasinya familiar, tanpa banyak modifikasi, namun keberadaan drama keluarga dan romansa soal “gagal move on dari mantan” memberi nilai plus, membuatnya memiliki kedekatan lebih dengan penonton dalam negeri.

Judulnya juga merujuk pada nama si protagonis, Sabar (Vino G. Bastian), yang empat tahun pasca membatalkan pernikahannya dengan Astrid (Estelle Linden) tepat di Hari H karena trauma masa kecil saat ayahnya (Adi Kurdi) pergi demi wanita lain, masih juga belum sanggup melupakan sang mantan. Walau sang ibu (Widyawati) dan sahabatnya, Billy (Ananda Omesh), berkali-kali mendorong agar Sabar move on, hasilnya tetap sama. Hingga Sabar menerima undangan pernikahan Astrid dan Dimas (Mike Ethan), yang juga temannya semasa SMA.

Sabar pun memutuskan datang, sambil berharap hari penuh siksaan batin itu segera usai. Sayangnya itu tidak pernah terjadi. Seperti film-film time loop lain, Sabar terbangun di hari yang sama, mendapati semuanya terulang lagi, sebelum akhirnya menyadari sedang terjebak di lingkaran waktu dan mencari cara guna menghentikannya. Menulis naskahnya bersama Erwin Arnada (Jelangkung 3, Guru Ngaji) dan Gianluigi CH, Anggy berhasil mengakali salah satu rintangan terbesar film time loop: repetisi.

Bagaimana menggambarkan proses karakternya melewati hari yang sama berulang kali tanpa terasa membosankan? Paruh pertamanya memperlihatkan Anggy dan tim memaksimalkan situasi komedik guna menciptakan kesegaran di tiap putaran waktu. Duo sahabat Sabar, Aldi (Ananta Rispo) dan Yoga (Rigen Rakelna) paling mencuri perhatian melalui celotehan-celotehan konyol, walau saya bisa memahami jika sebagian penonton mungkin terganggu oleh kerecehan mereka. Semua kembali soal selera humor masing-masing, tapi timing penghantaran keduanya cukup mengesankan.

Masalah baru timbul di pertengahan durasi (second act). Eksplorasi time loop-nya stagnan, apalagi sewaktu filmnya berhenti terlalu lama di salah satu loop. Di titik tersebut, Sabar ini Ujian kehilangan keunikannya, terasa bak romansa biasa yang tak punya banyak keunggulan. Padahal, menengok beberapa film bertema serupa yang belakangan makin menjamur, ada banyak cara supaya “perkawinan” antara genre utama dengan elemen time loop berlangsung lebih mulus dan saling melengkapi.

Beruntung, third act-nya membaik, sewaktu kisahnya menjamah unsur drama keluarga. Di situ pula akting jajaran pemainnya memuncak. Vino tampil solid, tapi bukan kejutan jika Widyawati dan Adi Kurdi (dalam salah satu peran terakhirnya selain Terima Kasih Emak, Terima Kasih Abah) menjadi yang terbaik, walau porsi keduanya cenderung minim. Ada satu hal subtil yang membuat saya tersentuh. Saat itu Sabar menelepon lalu menanyakan kabar ibunya, yang mana jarang ia lakukan. Ibu melepas kaca mata, menjawab dengan suara “pecah” seolah menahan tangis, dan sekilas matanya berair. Sebuah momen blink-and-you-miss-it yang emosional.

Terkait alasan terjebaknya Sabar di lingkaran waktu, sekaligus mengapa terjadi pada hari itu, dijawab secara tersirat dan memuaskan oleh konklusinya. Tapi ada ganjalan besar di penutup film, ketika Sabar mengambil beberapa keputusan problematik, setelah belajar bahwa dia tak seharusnya terjebak dalam ketakutan-ketakutan. Terkait Sherly (Anya Geraldine), entah bentuk keisengan para penulisnya saja, atau  itulah cara yang diambil untuk menggambarkan bahwa Sabar sudah beranjak dari trauma. Baik yang mana pun, sayangnya sama-sama melukai proses yang protagonisnya lalui.

Setidaknya di paruh akhir inilah Luna Maya berkesempatan menyajikan penampilan menghibur sebagai Tiffany, salah satu tamu acara pernikahan, sekaligus seorang selebritis yang jengah cuma dijadikan objek foto oleh para penggemarnya. Rasanya sebuah film time loop ala Palm Springs, di mana Sabar dan Tiffany terjebak berdua di lingkaran waktu bakal sangat mengasyikkan.

Available on DISNEY+ HOTSTAR  

EGGNOID: CINTA & PORTAL WAKTU (2019)

Saya yakin, di luar tujuan finansial, salah satu alasan Visinema Pictures mengadaptasi berbagai judul webtoon dengan beragam imajinasi liarnya—yang diawali oleh Terlalu Tampan Januari lalu—adalah memberikan kesegaran bagi tema-tema usang. Demikian pula Eggnoid: Cinta & Portal Waktu yang diadaptasi dari karya Archie The RedCat, di mana elemen fiksi ilmiah disuntukkan dalam tuturan romansa remaja dan drama tentang proses individu menyembuhkan duka.

Tepat di ulang tahunnya yang ke-17, Ran (Sheila Dara), gadis SMA yang hidupnya dipenuhi kesedihan setelah kematian kedua orang tuanya akibat kecelakaan, menemukan sebuah telur bercahaya misterius. Dari telur itu keluar sosok seperti manusia yang disebut Eggnoid. Ternyata, Eggnoid yang olehnya diberi nama Eggy (Morgan Oey) itu dikirim dari masa depan guna membahagiakan Ran, menghilangkan kabut kelam bernama duka yang sudah terlalu lama menyelimuti kesehariannya.

Kalau sudah membaca webtoon-nya, anda tahu naskah buatan sutradara Naya Anindita (Sundul Gan: The Story of Kaskus, Berangkat!), Nurita Anindita (Terlalu Tampan), Yemima Krisantina, dan Indriani Agustina, melewatkan salah satu bagian paling menarik, yakni proses belajar pendewasaan serta pembiasaan Eggy, dari bayi bertubuh pria dewasa yang hanya bisa berkata “mama”, menjadi seperti manusia normal. Bahkan menyelipkan montage pun tidak. Agak disayangkan, karena selain punya potensi tinggi memproduksi tawa, Morgan terbukti mampu mengeluarkan kekonyolan di balik kepolosan kanak-kanak seorang pria dewasa. Bayangkan melihat Eggy miliknya kesulitan belajar memakai baju dan lain sebagainya.

Filmnya memilih langsung lompat menuju dua tahun berikutnya, sewaktu Ran mulai membaik. Dengan kepolosannya, Eggy, yang tinggal bersama Ran dan Diany (Luna Maya), tantenya—yang hanya mau dipanggil “kakak”—bisa mengembalikan tawa sang gadis. Eggy sendiri mulai menyesuaikan diri dengan dunia luar, setelah bekerja di toko es krim kepunyaan Tania (Anggika Bolsterli). Satu hal yang mestinya di titik ini telah dipahami produser dan sineas. Menempatkan Anggika Bolsterli dalam peran komedik dapat mengatrol daya hibur suatu film, yang kembali dibuktikannya di sini melalui reaksi-reaksi komikal lovable, yang membuat kita paham mengapa Zen (Reza Nangin) terpikat pada Tania di pandangan pertama.

Zen dan Zion (Martin Anugrah) merupakan dua orang dari masa depan yang bertugas mengawasi Eggy, menjaga si Eggnoid agar tidak menyalahi aturan. Di situ pangkal permasalahannya. Eggnoid dilarang jatuh cinta apalagi memacari majikannya. Dan Eggy, pasca mendapat kecupan di pipi, sadar bahwa ia mencintai Ran. Mencapai musim keempat yang masih bergulir hingga sekarang, Eggnoid versi Webtoon menyimpan mitologi menarik dan cakupan luas, yang dibangun lewat penceritaan jangka panjang. Bisa diapahami ketika film ini memilih menyederhanakannya.

Penyederhanaan yang naskahnya lakukan cukup banyak, tapi poinnya bukan di “seberapa berbeda”, namun mampu atau tidaknya para penulis mengubah tanpa menghilangkan esensi. Eggnoid: Cinta & Portal Waktu sukses melakukan itu, menjalin sebuah romantika ringan yang menggunakan elemen fiksi ilmiahnya sebagai faktor penyegar guna mengurangi familiaritas dengan deretan film percintaan anak muda yang banyak bertebaran.

Tahun 2019 benar-benar titik lonjakan karir Sheila Dara. Setelah sahabat yang mencuri perhatian di Bridezilla dan wanita misterius dalam Ratu Ilmu Hitam, kali ini ia kembali memikat sebagai gadis kesepian yang seringkali clingy setelah Eggy melenyapkan kesepian tersebut. Membuat kita bersimpati terhadap Ran sehingga memberi nyawa kepada romansanya, Eggnoid: Cinta & Portal Waktu adalah pembuktian dari Sheila, jika ia sudah lebih dari siap mengemban posisi peran utama.

Kembali soal penyederhanaan, mencapai babak konklusi, naskahnya seolah “kaget” ketika coba sedikit menggali perihal latar belakang Eggnoid. Dari kisah cinta ringan, lompatan menuju unsur fiksi ilmiah yang menyelipkan sekelumit filosofi soal ambiguitas benar/salah dalam hidup, gagal berjalan mulus. Merangkum nilai yang sedikit kompleks lewat beberapa baris kalimat dari mulut karakter yang baru muncul di akhir jelas bukan keputusan bijak. Apalagi saat filmnya terkesan ditutup tiba-tiba oleh konklusi yang lebih banyak memancing pertanyaan mengganjal ketimbang dampak emosi, biarpun niatnya memang membuka jalan bagi sekuel.

Setidaknya kekurangan tersebut bisa dimaafkan, sebab Eggnoid: Cinta & Portal Waktu punya salah satu momen paling emosional dalam film Indonesia sepanjang tahun (bukankah ini selalu jadi kebolehan judul produksi Visinema Pictures?), yang turut melibatkan Marissa Anita dalam penampilan singkat namun berkesan lewat penanganan penuh rasa akan kalimat sederhana. Silahkan berusaha menahan haru ketika filmnya mengungkap proses terciptanya foto polaroid yang tergantung di kamar Ran. Melalui momen itu saja, meski melewati banyak penyederhanaan, film ini sudah membuktikan kesuksesannya memanfaatkan elemen fiksi ilmiah demi menunjang paparan drama.

RUMAH KENTANG: THE BEGINNING (2019)

Be careful what you wish for. Karena terlalu sering diulang dalam empat tahun belakangan, setelah Mata Batin 2 awal tahun ini, saya berharap Hitmaker Studios mau beralih dari pola khas Rocky Soraya. Dibuat oleh Rizal Mantovani (film pertama Hitmaker yang bukan disutradarai Rocky Soraya sejak Tarot empat tahun lalu), Rumah Kentang: The Beginning menerapkan gaya berbeda, dan berujung melahirkan horor terburuk milik rumah produksi tersebut.

Kisahnya tak memiliki kaitan dengan Rumah Kentang (2012, juga produksi Hitmaker), dan sesuai dugaan, embel-embel “The Beginning” di judulnya sebatas omong kosong. Anda bisa mengganti kentang dengan jagung, lobak, terong, atau petai, dan takkan berdampak.  Kenapa dalam meneror korbannya, si hantu memakai kentang sebagai medium? Pertanyaan itu pun tak terjawab. Padahal bila mengacu pada legenda lokal, baik di Jakarta, Bandung, maupun Yogyakarta, bukan itu alasan pemberian julukan “rumah kentang”.

Berlatar tahun 1983 yang berakhir sebatas angka karena detail tata kostum, set, sampai propertinya kurang mendukung, Rumah Kentang: The Beginning tak ada bedanya dibanding film bertema rumah angker lain. Sepasang suami istri, Adrian (Christian Sugiono) dan Sofie (Luna Maya), kembali ke rumah masa kecil Sofie yang telah lama kosong sejak kedua orang tuanya menghilang secara misterius. Alasan mereka adalah membantu Adrian mendapat inspirasi untuk menulis novel terbaru.

Bisa ditebak, ada rahasia kelam di masa lalu keluarga Sofie, yang mendorong munculnya teror. Kata “teror” di sini seringkali berupa banjir kentang. Beberapa kali karakternya tewas karena terkubur kentang. Benar-benar cara mati yang “kentang”.  Ini bukan suguhan campy, sebutlah seperti Attack of the Killer Tomatoes (1978). Baik naskah buatan Agam Suharto maupun penyutradaraan Rizal Mantovani memposisikan serbuan kentang sebagai hal serius, kelam, mengerikan. Masalahnya, semakin dianggap serius pemandangan tersebut semakin konyol. Apakah karena orang tua Sofie petani kentang ototmatis membuat kentang jadi senjata sang hantu? Kasihan sekali hantu kita ini.

Soal menakut-nakuti, sebenarnya saya mencium niat baik dari naskah buatan Agam Suharto, yang menolak terlampau sering mengeksploitasi jump scare. Tapi di saat bersamaan, tidak ada “ganti rugi” yang ditawarkan, entah misteri, atmosfer, atau creepy imageries. Hasilnya adalah perjalanan membosankan yang berulang kali membuat saya terlelap selama sepersekian detik. Padahal ada modal menjanjikan berupa tata rias mumpuni bagi para makhluk halus, pula senyum menyeramkan Luna Maya.

Satu-satunya usaha merangkai alur yang Agam lakukan hanya menghilangkan satu demi satu anak Adrian dan Sofie, yang disajikan repetitif. Salah satu anak hilang, orang tuanya mencari di sekeliling rumah, sampai di gudang tempat belanga raksasa disimpan, menyadari anak mereka hilang di situ, lalu ditutup oleh jeritan pilu Luna Maya sedangkan Christian Sugiono sibuk menendang kentang-kentang di lantai. Terus ulangi saja pola ini sampai lebaran kentang.

Ketika Nina (Davina Karamoy) si puteri sulung hilang, pihak kepolisian berjanji bakal melakukan pencarian intensif di hutan. Kita tidak pernah melihat pencarian itu terjadi. Faktanya, naskah film ini sering melupakan poin-poin yang diperkenalkan beberapa saat sebelumnya. Semisal karakter Dadang (Epy Kusnandar). Awalnya, ia tampak misterius, seram, pelit bicara. Sampai di kemunculan kedua, saat ia bicara dengan Uwak (Jajang C. Noer), sosoknya berubah. Lebih ramah, lebih manusiawi, lebih banyak menyimpan rasa takut. Inkonsisten. Sama inkonsistennya dengan penokohan Adrian, seorang penulis novel horor berpengalaman yang sangat bodoh sampai bisa begitu mudah termakan tipu daya setan.

Saya bosan dengan formula Rocky Soraya, itu betul. Tapi setidaknya tak ada dorongan untuk terlelap, dan hanya butuh beberapa modifikasi sebagai penyegar. Di Rumah Kentang: The Beginning, sentuhan gore khas Rocky di klimaks berhasil meningkatkan intensitas. Peningkatan yang datang sangat terlambat. Saya sudah terlanjur tidak sabar ingin melangkah keluar dari studio. Lebih baik saya makan kentang rebus atau mashed potato.

SUZZANNA: BERNAPAS DALAM KUBUR (2018)

Judul film ini terdengar seperti gabungan antara Bernafas dalam Lumpur (1970) dan Beranak dalam Kubur (1971), dua film yang dibintangi Suzzanna Martha Frederika van Osch. Judul yang disebut pertama bukan horor, namun drama, yang konon merupakan film Indonesia pertama yang berani menonjolkan seksualitas, pemerkosaan, juga kata-kata kasar, dengan “sundel” alias “sundal” alias “pelacur” sebagai salah satunya. Menariknya, elemen-elemen plot Suzzanna: Bernapas dalam Kubur banyak mengambil inspirasi dari Sundel Bolong (1981).

Kebetulan? Sepertinya begitu. Tapi saya bakal percaya jika muncul pernyataan bahwa easter egg di atas adalah kesengajaan. Sebab orang-orang di balik Suzzanna: Bernapas dalam Kubur terbukti paham betul kriteria yang harus dipenuhi kala membuat “Film Suzzanna”. Ini bukan biopic, bukan pula remake, melainkan penghormatan yang dilakukan dengan benar, alih-alih sekedar usaha tak tahu malu guna mengeruk uang. Ini adalah ode yang menunjukkan betapa (warisan) Suzzanna masih menghembuskan napas terornya dari dalam kubur.

Pendekatan tersebut tampak dari pemilihan nama tokoh utama. Bukan Alicia, Lila, atau (yang paling tenar) Suketi, tapi Suzzanna, yang diperankan oleh Luna Maya dalam penjelmaan sempurna sebagai sang ratu horor. Dalam wujud manusia (a.k.a. sebelum bertransformasi menjadi sundel bolong), kita melihat Luna dalam balutan prostetik yang membuatnya bak kembaran Suzzanna, apalagi ditambah kefasihannya berlogat bak noni Belanda. Walau sesekali terdengar inkonsisten, Luna sebagai Suzzanna adalah pemandangan adiktif yang membuat saya lupa, jika butuh beberapa lama sebelum horor merangsek masuk.

Suzzanna dan sang suami, Satria (Herjunot Ali), menjalani kehidupan penuh cinta yang bahagia, khususnnya saat setelah tujuh tahun, momongan yang dinanti akhirnya tiba. Tapi jika mengenal film-film Suzzanna, tentu anda tahu ada tragedi bersiap mengacaukan kebahagiaan mereka. Tragedi yang hadir dalam wujud rencana empat karyawan Satria: Umar (Teuku Rifnu Wikana), Dudun (Alex Abbad), Jonal (Verdi Solaiman), dan Gino (Kiki Narendra). Mereka memutuskan merampok rumah Satria setelah permintaan naik gaji ditolak. Aksi itu dilangsungkan di tengah penugasan Satria ke Jepang, sementara Suzzanna sedang  menghabiskan malam Minggu menonton layar tancap. Ketika di luar dugaan Suzzanna pulang lebih awal, mereka berempat terpaksa membunuh, lalu menguburnya di pekarangan belakang rumah.

Keesokan paginya ia terbangun, seolah baru bermimpi buruk seperti biasa. Sebuah keputusan berani dari naskah karya Bene Dion Rajagukguk (Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 & 2, Stip & Pensil) yang dibuat berdasarkan cerita buatannya bersama Sunil Soraya (Supernova: Ksatria, Putri, & Bintang Jatuh, Single) dan Ferry Lesmana (Danur: I Can See Ghosts). Sekilas absurd, tapi—dalam kasus langka di film horor kita—Bene menyusun aturan-aturan soal apa yang bisa/tidak bisa sundel bolong lakukan, alasan ia melakukan “A” daripada “B”, dan sebagainya. Jumlahnya bisa dihitung jari, tak seberapa kompleks, tapi Bene terus konsisten membangun alur berdasarkan aturan yang ia tetapkan.

Film-film Suzzanna dahulu adalah wujud totalitas hiburan, yang meski punya tujuan utama menakut-nakuti, menolak malu-malu menyentuh ranah kekonyolan, baik melalui komedi maupun cara metode membunuh over-the-top dari sundel bolong. Sebuah hiburan paket lengkap bagi semua kalangan yang seru disaksikan beramai-ramai, baik di studio bioskop atau layar tancap di tengah lapangan kampung. Suzzanna: Bernapas dalam Kubur mengusung tujuan serupa, sehingga diselipkanlah komedi, yang penghantarannnya dilimpahkan pada trio Asri Welas, Opie Kumis, Ence Bagus.

Ketiganya memerankan pembantu Suzzanna. Di satu kesempatan, mereka mecurigai jati diri si majikan, dan memulai penyelidikan yang berujung pada momen paling jenaka sepanjang film. Khususnya Opie Kumis dengan kepiawaian melontarkan celotehan-celotehan absurd yang kelucuannya sukar ditampik. Opie memang komedian berbakat yang butuh lebih banyak tampil di film apik macam ini ketimbang judul-judul seperti Humor Baper (2016) atau Selebgram (2017).

Suzzanna: Bernapas dalam Kubur memang hendak mengikuti formula horor Suzzanna masa lalu, namun juga berfungsi selaku modernisasi. Daripada b-movie, pendekatan lebih “besar” diterapkan, yang mana dapat kita sadari hanya dengan sekilas mengamati tata artistik dan sinematografi garapan Ipung Rachmat Syaiful (Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, Rudy Habibie). Ketika Suzzanna memeriksa seisi rumahnya sewaktu perampokan berlangsung, kameranya bergerak mulus, menyapu seisi ruangan lewat single take untuk memperlihatkan keempat perampok di persembunyian masing-masing. Sedangkan musik gubahan Andhika Triyadi (Dilan 1990, Dear Nathan, Cek Toko Sebelah) terdengar megah sebagai cara mewah menyusun tensi dramatis, yang sayangnya kurang berdampak akibat lemahnya performa aktor utama.

Bentuk modernisasi lainnya adalah ditiadakannya cara membunuh cartoonish, lalu sebagai gantinya, menambah kadar gore. Seberapa pun saya rindu melihat sundel bolong mengendarai mobil atau traktor, harus diakui, pemandangan tersebut akan sulit diterima penonton kekinian. Setidaknya Suzzanna: Bernapas dalam Kubur masih memberi kepuasan serupa kala memperlihatkan setan yang punya peran cenderung heroik ketimbang makhluk kejam, menegakkan keadilan dengan caranya. She’s a supranatural vigilante. Tatkala dunia nyata kerap membebaskan para pelaku kejahatan terhadap wanita dari hukuman, menyaksikan mereka menerima penghakiman di sini jelas menyenangkan.

Aspek horornya memang tak seberapa mengerikan. Mungkin karena sundel bolong tak pernah menampakkan diri di lingkungan yang familiar untuk menghantui “rakyat biasa” (pinggir jalan, perkampungan, dll.) sehingga terornya kurang terasa dekat, atau mungkin, karena Suzzanna sendiri punya aura mistis tak tertandingi. Luna Maya sendiri mengeluarkan kemampuan terbaiknya sebagai sundel bolong dengan tawa menyayat telinga dan mata yang melotot begitu lebar, seolah menatapnya dapat menyebabkan kematian.

Awalnya film ini disutradarai Anggy Umbara (Comic 8, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss!, Insya Allah Sah 2) seorang, namun pasca suatu peristiwa (yang tak bisa saya ungkap), Rocky Soraya (The Doll, Sabrina) bergabung, berbagi kredit penyutradaraan. Sulit memilah mana hasil kerja Rocky mana Anggy, sehingga saya memutuskan menganggapnya sama rata. Pergerakan ceritanya mulus, menyebabkan alurnya nyaman dinikmati mesti suguhan utamanya tak langsung muncul. Urusan membangun teror, kadang kita diajak berdiam terlalu lama di satu momen sampai intensitasnya turun drastis, tapi siapa pun yang menggarap klimaks, khususnya adegan “Kebangkitan sundel bolong”, layak dipuji atas kemampuan mencuatkan keindahan dari dramatisasi teror. Tonton film ini, nikmati perjalanannnya, kemudian mari menanti, apakah ular di atas pohon itu cuma ular biasa atau petunjuk mengenai reboot untuk.....

SABRINA (2018)

Ada tiga jenis template. Pertama, yang diulang karena digandrungi publik. Kedua, yang diulang karena disukai pembuatnya kemudian menjadi gaya. Ketiga, yang diawali jenis kedua, tapi begitu laris manis, pengulangannya dilakukan atas dasar poin pertama. Rocky Soraya rasanya masuk jenis ketiga. The Doll (2016) memberinya tempat menumpahkan segala elemen favoritnya (trik ala James Wan bertemu banjir darah), tapi begitu lebih dari 550 ribu penonton sukses didapat, tiada alasan meninggalkan usungan formula itu. Apalagi setahun berselang, Mata Batin dan The Doll 2 masing-masing menembus angka 1,2 juta penonton.

Saat banyak pihak memuji Mata Batin, saya justru sampai pada titik jenuh, sebab Rocky mulai repetitif. Karyanya selalu dibuka oleh first act lambat minim penampakan—yang mana langkah berani dan patut diapresiasi—berlanjut ke second act berupa deretan jump scare medioker, hingga ditutup klimaks berdarah-darah. Sabrina, selaku spin-off seri The Doll yang makin memperlihatkan ambisi Rocky mengikuti jejak James Wan dengan seri The Conjuring, memakai pola sama. Tapi kentara terdapat perbaikan di sana-sini. Belum menyeuruh, namun satu langkah kecil jauh lebih berarti daripada keengganan melangkah.

Maira (Luna Maya) pun melangkah maju ketika menikahi Aiden (Christian Sugiono), meninggalkan tragedi dalam The Doll 2 di masa lalu. Keduanya belum dikaruniai momongan, tapi ada Vanya (Richelle Georgette Skornicki), keponakan Aiden yang mereka rawat pasca kedua orang tuanya meninggal. Mencuri hati Vanya yang masih selalu merindukan mendiang ibunya tidaklah mudah. Karena itu, Maira memberikan boneka Sabrina edisi kedua yang khusus dibuat Aiden (dia pemilik pabrik mainan) untuk mengenang Kayla, puteri Maira yang sudah tiada. Harapannya, sebagaimana Sabrina edisi pertama dahulu bagi Kayla, boneka baru ini bisa menemani sekaligus menguatkan Vanya.

Memasuki kemunculan keduanya, desain Sabrina makin mengerikan, yang berarti, semakin tak logis bila disukai bocah. Sepertinya sekarang adalah waktunya kita menyimpan rapat-rapat ekspektasi melihat boneka Sabrina yang lebih “masuk akal”. Bedanya, kali ini boneka itu tidak langsung menjadi sumber masalah, melainkan permainan memanggil arwah bernama Pensil Charlie, yang Vanya pakai guna bertemu arwah sang ibu. Bisa ditebak, justru sosok gaib jahat yang hadir. Baghiah namanya. Salah satu anak iblis. Apakah ia mempunyai hubungan darah dengan Ghawiah dari The Doll pertama? Entahlah.

Paruh awalnya dibungkus tempo cukup lambat pula minim teror, yang sayangnya urung ditunjang naskah solid di tatanan drama, sehingga pondasi kisah kekeuargaan serta gejolak batin si paranormal, Laras (Sara Wijayanto), yang kini telah menikahi sesama paranormal bernama Raynard (Jeremy Thomas), berakhir lemah. Gagal pula usahan menyentuh hati lewat porsi drama tersebut, walau untuk subplot mengenai Laras, akting kurang meyakinkan Sara Wijayanto turut jadi penyebab.

Singkat cerita, bermain Pensil Charlie membuat Vanya mampu berkomunikasi dengan sang ibu, atau tepatnya, sosok yang ia percaya merupakan sang ibu. Khawatir akan kondisi bocah itu, Maira dan Aiden sepakat berlibur bertiga. Liburan itu juga titik balik filmnya, di mana tempo dipercepat, sementara teror mulai menyergap. Kali ini, Rocky dibantu tim efek spesialnya berkenan memutar otak demi variasi. Beberapa trik memikat, dari adegan “Edward Mordrake-esque” sampai “kesurupan pertama” menyita atensi saya. Beberapa kali bulu kuduk berdiri, bukan karena seram, melainkan dipicu kekaguman atas aspek teknisnya. Those weren’t scary, yet fun and highly admirable. Dipadu kemampuan sutradara memancing intensitas melalui nuansa chaotic, jadilah Sabrina suatu perjalanan seru. Bila diibaratkan musik, Rocky bak tengah menggeber musik rock beroktan tinggi.

Selain faktor teknis, repetisi turut diminalisir oleh naskah karya Fajar Umbara (Comic 8, The Doll 2) dan Riheam Junianti (The Doll 2, Mata Batin) lewat disertakannya beragam lokasi, yang berujung menyediakan beragam metode berbeda pula untuk meneror. Pantai, penginapan, pabrik, dan pastinya rumah. Setidaknya terjadi pergantian suasana sehingga mata kita takkan lelah, walau dari alur, naskahnya sendiri seperti carbon copy dari seri-seri sebelumnya, termasuk twist-nya.

Mencapai klimaks, Sabrina seolah kehabisan amunisi trik, ditambah kerap terlampau panjang di banyak titik. Kita diajak berdiam terlalu lama mendengar Laras dan Raynard merapal mantra berupa puja-puji terhadap Yang Maha Kuasa, sama seperti first act-nya yang terus-terusan menyeret kita melihat Vanya menjalankan aplikasi pendeteksi han...maaf, maksud saya entitas. Rocky dan tim bukannya menyerah begitu saja. Tampak usaha menambah varian peristiwa melalui bumbu aksi yang sayangnya, tanpa koreografi mumpuni, plus lagi-lagi performa kurang meyakinkan Sara Wijayanto mengayunkan senjata. Sebaliknya, Luna Maya terlihat bersenang-senang melakoni akting kesurupan gila nan over-the-top sebagaimana dalam The Doll 2.

Beberapa kelemahan sudah teratasi, kini pekerjaan rumah Rocky Soraya tinggal terus mengeksplorasi variasi trik jump scare dan tusuk-menusuk supaya tidak stagnan, mencari naskah dengan pondasi solid, dan bersedia memadatkan momen-momennya agar tak kehilangan momentum. Sebab konklusinya, yang berusaha menutup kisah di nada melodrama, pun tidak kalah berlarut-larut bagai akan berjalan selamanya. Namun seperti saya ungkapkan, Sabrina memang bukan lompatan, melainkan langkah, yang meski kecil, asalkan konsisten berjalan ke depan, bukanlah suatu persoalan. 

INSYA ALLAH SAH 2 (2018)

Seorang wanita yang hamil sebelum menikah dan seorang perampok yang kabur dari penjara demi menikahinya. Film pertama Insya Allah Sah (2017) takkan menempatkan Raka (Pandji Pragiwaksono) di antara kedua sosok tersebut, karena filmnya sendiri rasanya takkan mau menjustifikasi mereka. Saya tidak tahu bagaimana jalan cerita novel karya Achi TM selaku sumber adaptasinya, tapi Insya Allah Sah 2 jelas tampil lebih baik ketimbang pendahulunya karena kesediaan memandang tokoh-tokohnya sebagai manusia biasa yang jauh dari kesempurnaan. Raka lebih toleran pada dua protagonis yang punya pandangan hidup berbeda dengannya, untuk itu saya mesti bersikap sama terhadapnya dan film ini.

Mungkin anda ingat betapa saya membenci film pertamanya. Pembaca reguler blog ini pun rasanya tahu betapa saya membenci polisi moral seperti Raka. Sebagai karakter, ia tidak berproses, hanya muncul mendadak layaknya hantu, kemudian berceramah. Fakta bahwa Raka adalah sosok manchild tidak menjadikannya lebih baik. Karena berbeda dibanding para manchild dalam komedi berkualitas, sebutlah Will Ferrell dalam Elf (2003), meski berdandan dan bicara bagai bocah, Raka memahami konsep-konsep yang cuma dipahami orang dewasa. Sehingga ketika ia mencampuri urusan orang-orang di sekitarnya, itu bukan hasil kepolosan bocah yang memandang dunia secara hitam-putih.

Kali ini Raka masih gemar berpetuah, namun ia mampu, atau tepatnya mau melihat kebaikan dalam keputusan (yang menurutnya) buruk dari seseorang. Pun acap kali di tengah ceramahnya, Raka mendapat todongan pistol di kepala, seolah Anggy Umbara (Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss!, Tiga) dan Herry B. Arissa (Generasi Kocak: 90-an vs Komika, Selebgram) selaku penata skrip berkata, “diem lo!”. Tapi Raka memang sulit didiamkan, bahkan ketika terlibat baku tembak bersama Gani (Donny Alamsyah), yang baru saja nekat kabur dari penjara lalu merampok uang Freddy Coughar (Ray Sahetapy) si mafia, semua demi menikahi Mutia (Luna Maya) yang sedang hamil tua. Untuk itu, uang sebesar 250 juta dibutuhkan.

Mungkin alasan mengapa ceramah Raka terasa tidak segencar sebelumnya karena sekuel ini cenderung berorientasi pada aksi. Sekali lagi, saya belum membaca sumber adaptasinya, sehingga tidak tahu apakah Achi TM memang menggeser pendekatan novelnya ke arah laga. Tapi pemilihan Anggy Umbara dan Bounty Umbara (Mama Cake, Rafathar) guna duduk di kursi sutradara jelas tepat. Gaya-gayaan di antara rentetan momen aksi seolah mendarah daging dalam diri Umbara Bersaudara, dan meski Insya Allah Sah 2 tak punya gelaran aksi luar biasa, elemen tersebut jelas jauh lebih menghibur daripada menyaksikan ceramah agama selama 90 menit.

Raka (dan agama) sekedar jembatan dalam proses Gani belajar bahwa tidak semua masalah dapat terselesaikan lewat kekerasan dan amarah. Bukan studi permasalahan mendalam, tapi Insya Allah Sah 2 setidaknya menampilkan pergulatan personal. Saya bisa membayangkan kisah Gani-Mutia dieksekusi tanpa unsur agama dan tetap dapat bekerja dengan baik (bahkan mungkin lebih), sebab ini kisah manusia yang berdamai dengan dirinya, bukan menemukan cahaya agama atau Tuhan. Gani ingin berubah bagi orang-orang tercintanya, juga demi nazar, demi janji, yang tanpa memakai perspektif agama pun, memang wajib ditepati.

Ada satu momen khusus yang seketika membuat Gani menjadi protagonis yang likeable serta layak didukung, yakni ketika Mutia menceritakan beberapa rahasia pada Raka di suatu restoran. Sebelumnya, kita pun sempat diajak mengintip masa lalu kelam nan berat miliknya, yang turut memberi Donny Alamsyah kesempatan memamerkan akting dramatis, melalui lontaran amarah menusuk yang mampu mendiamkan semua orang di ruangan. Kesukaran menggelayuti hidup tokoh-tokohnya, tapi tentu saja senjata utama Insya Allah Sah 2 tetap komedi. Beberapa humor bekerja efektif, sebutlah absurditas yang melibatkan telepon genggam dan suara tangis bayi, Jingga (Nirina Zubir) si polisi cantik yang mudah terbuai oleh pujian, atau bila anda tetap membenci penokohan Raka, anda akan bahagia melihatnya jadi korban serbuan bersin bertubi-tubi.

DEVIL'S WHISPER (2017)

Hasil kolaborasi MD Pictures dengan Vega, Baby! yang di Amerika dirilis langsung dalam bentuk home video pada 3 Oktober ini sejatinya menyimpan potensi. Naskah tulisan Oliver Robins dan Paul Todisco yang didasari cerita dari Adam Ripp (juga selaku sutradara) coba menonjolkan gejolak psikis sosok religius kala iblis menggoda imannya, ketimbang semata meneror lewat trik murahan. Namun, baik kedangkalan eksplorasi naskah sampai kurang cakapnya sutradara memainkan dinamika menghalangi terlaksananya niat baik tersebut. 

Protaonis kita adalah Alex (Luca Oriel), remaja 15 tahun dari keluarga religius. Maka tak mengherankan apabila ia bercita-cita menjadi Pastor. Walau taat beragama, orang tua Alex tidaklah kolot, seperti tampak pada doa bersama sebelum makan yang diisi canda tawa. Begitu pula Alex, yang di sela-sela kegiatan agama masih sempat nongkrong bersama teman-teman sambil minum bir, atau mengencani gadis pujaannya, Lia (Jasper Polish). Segalanya berubah saat ia menemukan kotak kayu misterius peninggalan mendiang neneknya. Bisa ditebak, iblis bersemayam dalam kotak itu, dan siap menggiring Alex menuju kegelapan.
Devil's Whisper menghabiskan mayoritas waktu menampilkan terkikisnya iman Alex secara bertahap, seiring penampakan sosok misterius yang hanya terlihat oleh dirinya. Sehingga wajar jika kedua orang tuanya yakin kejiwaan putera mereka terganggu. Sayangnya, penonton urung diseret pada pertanyaan "apakah Alex memang diganggu iblis atau punya gangguan mental?". Penonton diposisikan sebagai pihak serba tahu, tanpa dirundung kebingungan serupa karakternya. Pilihan ini melemahkan unsur psikologis kisahnya, pun membuat beberapa paparan poin sia-sia, misalnya soal peristiwa traumatik di masa kecil Alex.

Naskah Robbins dan Todisco gemar melempar fakta atau peristiwa, lalu tak lagi membahasnya. Keputusan Alex menceritakan gangguan iblis pada sahabat-sahabatnya maupun Pastor Cutler  (Rick Ravanello) yang menderita PTSD jadi beberapa di antaranya. Naskahnya berambisi merangkum sebanyak mungkin persoalan tanpa tahu mesti dibawa ke mana. Dampaknya turut mengenai perihal narasi yang gerakannya kurang mulus. Ditambah lagi kegemaran film ini memakai blackout sebagai transisi, terlampau sering menghadapkan penonton pada layar gelap, menjadikan tersendatnya aliran alur.
Keengganan untuk hanya mengandalkan jump scare patut diapresiasi walau urung diimbangi kekuatan naskah serta pengadeganan. Minimnya jump scare memaksa Devil's Whisper bergantung akan aspek lain seperti atmosfer maupun visual mengerikan, namun Adam Ripp sendiri belum piawai menakut-nakuti penonton. Sosok iblis beserta tindak-tanduknya terlalu plain untuk dapat menghasilkan scary imagery, sementara pacing-nya cenderung monoton, bagai tidak memiliki tenaga. Pengaruh paling fatal hadir dalam klimaks canggung, yang hanya mempunyai ketegangan setingkat pertengkaran keluarga daripada konfrontasi melawan iblis.

Para pemain tampil sesuai proporsi termasuk Luna Maya sebagai Dr. Dian, psikolog dengan penokohan klise yang tugasnya sebatas bicara dengan tenang. Beban terbesar diemban Luca Oriel. Setidaknya sang aktor mampu mendukung pendekatan "realis" filmnya atas konsep "kemasukan setan". Alex tak memperlihatkan perilaku absurd layaknya cara mayoritas film menunjukkan fenomena kesurupan. Dia mengalami ketidakstabilan emosi, intensi membunuh dan bunuh diri, tak ubahnya manusia biasa yang menderita gangguan psikis. Inilah mengapa penggalian dangkal Devil's Whisper terhadap sisi psikologis patut disayangkan. Potensi besar pun berakhir sia-sia. 

THE DOLL 2 (2017)

Danur: I Can See Ghosts, The Curse, Jailangkung. Ketiganya termasuk horor lokal paling ditunggu karena potensi besar serta digawangi nama-nama tak sembarangan. Sayangnya ada satu persamaan lain yakni sama-sama berkualitas buruk, mengecewakan meski sejatinya digarap sungguh-sungguh. Walau demikian dua di antaranya sukses secara finansial pun nampaknya memancing kembali animo publik terhadap horor. Ikut mencoba peruntungan adalah The Doll 2 yang film pertamanya mengumpulkan lebih dari 550 ribu penonton dan bertengger di posisi 15 film Indonesia terlaris 2016. 

Serupa pendahulunya, film karya sutradara Rocky Soraya ini masih mengumbar kebrutalan, mengandalkan sadisme eksplisit sebagai senjata. Prolognya berurutan menampilkan karakter paranormal Bu Laras (Sara Wijayanto) dari film pertama dan pasangan suami istri Aldo (Herjunot Ali) dan Maira (Luna Maya) beserta puteri tunggal mereka, Kayla (Shofia Shireen). Tanpa basa-basi Rocky memacu filmnya, mengumbar darah sejak menit pertama. Bukan kekerasan kosong, melainkan punya shock value yang salah satu momennya memberi statement tegas: sang roh jahat begitu kejam, bukan hantu narsis yang sekedar doyan muncul tiba-tiba.
Suatu malam kecelakaan lalu lintas yang secara logika mustahil terjadi kecuali ada peranan alkohol merenggut nyawa Kayla, membenamkan Maira dalam depresi. Atas saran sahabatnya yang tidak percaya hal-hal mistis, Elsa (Maria Sabta), Maira mencoba memanggil arwah sang puteri memakai boneka kesayangannya, Sabrina  yang lebih tak masuk akal jadi mainan anak dan membuat Ghawiyah nampak menggemaskan  sebagai medium. Dari situlah teror bermula, menggiring Maira menuju peristiwa-peristiwa mengerikan, seperti salah satunya kemunculan mendadak Sabrina di antara tumpukan cucian yang entah bagaimana, seluruhnya berwarna putih. Menolak percaya cerita sang istri, Aldo membawa Maire bertemu Dini (Mega Caferansa), dokter spesialis kejiwaan yang daripada membimbing justru "menyerang" dan menghakimi "halusinasi" Maira. 
Paragraf di atas mendeskripsikan kelemahan paling fatal The Doll 2 yaitu kebodohan luar biasa naskah garapan Riheam Junianti (Sunshine Becomes You, The Doll, Tarot) dan Fajar Umbara (trilogi Comic 8). Film horor bisa dimaafkan bila tampil bodoh, namun lain cerita saat kebodohan tersebut hadir pada tiap titik penting, menghadirkan ganjalan untuk bisa sepenuhnya menikmati barisan kengerian. Melanjutkan jejak pendahulunya, The Doll 2 menolak eksploitasi jump scare. Kali ini hasilnya lebih baik. Sepanjang second act, ketimbang sekedar melambatkan alur kosong, ada usaha menyelipkan bobot dramatik berupa perjuangan seorang ibu menghadapi duka kehilangan buah hati. Luna Maya pun memberi suntikan nyawa melalui kesanggupan mencurahkan keputusasaan bercampur pilu. Walau akhirnya kesan draggy tetap menyeruak akibat tuturan yang cuma menjangkau permukaan. 

Meski jump scare-nya sempat formulaik, Rocky mampu menyusun beberapa hentakan tak terduga yang efektif memberi daya kejut. Tapi keunggulan terbesarnya adalah teror action-oriented pemicu adrenalin yang berkulminasi di klimaks. Disokong gerak kamera liar Asep Kalila yang mendukung terciptanya suasana chaotic dan gemuruh musik dengan porsi tepat gubahan Anto Hoed, sang sutradara menyajikan puncak intensitas yang acap kali menyinggung ranah kejar-kejaran ala slasher. Membanjiri lokasi dengan darah hasil tusukan berantai atau benturan ke beragam benda, di tangan Rocky tubuh manusia dijadikan target kekerasan tak berujung, seolah memfasilitasi hasrat sadisme dalam diri penonton. Berlangsung cukup lama (sekitar 30 menit), third act-nya adalah sajian bernyali yang jarang ditemui di horor lokal belakangan ini. 


Review film ini tersedia juga di: http://tz.ucweb.com/7_1C1tE

FILOSOFI KOPI 2: BEN & JODY (2017)

Luar biasa apa yang dilakukan Angga Dwimas Sasongko beserta segenap tim dengan Filosofi Kopi. Tatkala film pertama hanya mengumpulkan sekitar 229 ribu penonton, perjalanan tak lantas berhenti. Alih-alih menyatakan gagal, brand Filosofi Kopi dikembangkan lebih jauh. Berangkat dari cerita pendek karya Dewi "Dee" Lestari, kini kita mendapati dibukanya gerai kopi, prekuel berupa web series Ben & Jody, serta sandiwara radio selaku jembatan penghubung film pertama dengan kedua. Hasilnya nyata. Tiket pemutaran hari pertama Filosofi Kopi 2: Ben & Jody ludes di berbagai kota. Ikut berkembang pula kisahnya, dari pemaknaan hidup dalam cerpen Dee menuju soal cinta, sahabat, keluarga, hingga kompleksitas dunia bisnis. 

Berbagai tema diangkat oleh trio penulis naskah Jenny Jusuf, M. Irfan Ramly dan Angga Dwimas Sasongko, termasuk seputar betapa hidup diisi kedatangan dan kepergian, suatu tema yang setia hadir sepanjang durasi, pun berperan memberi momen paling emosional dan intisari konklusinya. Tapi semua berawal kala dua tahun setelah memutuskan mengendarai kombi berkeliling Indonesia menyuguhkan kopi terbaik, Ben (Chicco Jerikho) dan Jody (Rio Dewanto) menemui jalan buntu. Mulai ditinggal karyawan, pemasukan tak seberapa, sampai kegamangan akibat merasa tanpa tujuan jadi beberapa sebab. Poin terakhir sejatinya mengundang kejanggalan.  
Ben meragukan "destinasi" hidup berkeliling menjual kopi, menyebut keduanya perlu meninggalkan zona nyaman. Artinya, semua masalah dipicu pencarian jawaban karakternya atas tujuan. Namun filmnya lalai menawarkan jawaban kecuali "menemukan dirinya", serupa film pertama, mengesankan stagnansi yang sebaiknya tak dimiliki sekuel selaku proses berkelanjutan. Takkan jadi persoalan bila filmnya tegas memposisikan diri sebagai kisah "kepulangan" yang sejatinya turut membentuk resolusi di akhir, sayangnya banyak hal-hal lain ikut campur aduk. Sedangkan ketika Jody berkata bahwa bisnisnya tidak berjalan, kita tak melihat kesulitan finansial dalam Filosofi Kopi. Ditunjang alasan dipaksakan itu, filmnya membawa Ben dan Jody berusaha membuka kembali kedai filosofi kopi, kali ini dibantu investasi dari Tarra (Luna Maya), juga barista baru bernama Brie (Nadine Alexandra). Benturan dua pribadi berbeda (Ben si idealis total dan Jody si pebisnis tulen) jadi ujian seiring masalah pribadi yang turut menghampiri.

Melalui film kedua, Filosofi Kopi tak lagi banyak berfilosofi soal hidup dengan kopi. Tentu kalimat quotable bermakna macam "Setiap hal yang punya rasa selalu punya nyawa" tetap menghiasi, namun serupa judul awalnya yakni Ben & Jody ("Filosofi Kopi" ditambahkan sebagai penegas brand), bromance dua tokoh utama makin dikedepankan. Dinamika persahabatan Ben dan Jody masih digambarkan lewat saling ejek dibarengi rentetan kalimat seenaknya yang mengalir bebas dari mulut mereka. Rio Dewanto dan Chicco Jerikho tampil bersenjatakan chemistry meyakinkan. Chicco membuat keras kepalanya Ben tak menyebalkan berkat gaya asyik, sementara Rio menjaga supaya Jody tidak ditenggelamkan tingkah polah sang sahabat. Di samping keduanya, ada Luna Maya yang solid kala melakoni porsi emosional, juga Nadine Alexandra dengan kekokohan tersembunyi di balik diamnya Brie. 
Persahabatan sejati dibangun oleh pertengkaran yang menyatukan. Naskahnya disusun berdasarkan prinsip itu, tetapi sewaktu film pertama (memenangkan Piala Citra) punya aliran konflik mulus, Ben & Jody menjadikannya obligasi, melemparkan benturan beruntun yang daripada menyatu, baga keping-keping terpisah yang berlebih kuantitasnya. Terlampau seringnya perpindahan lokasi di mana acap kali satu tempat hadir sambil lalu dengan cepat makin menyulitkan pergerakan alur rapi. Pun naskahnya memiliki kesalahan mendasar berbentuk sebuah kebetulan sebagai kejutan sekaligus titik balik perjalanan karakternya. Sebab kebetulan adalah cara paling tak elegan (kalau enggan disebut malas) guna menggerakkan cerita, terlebih jika merupakan fase vital pengembangan karakter. 

Andai bukan karena pengadeganan Angga, sulit menerima kelemahan tuturan drama di atas. Sang sutradara diberkahi sensitivitas merangkai momen dramatis, yang daripada mengandalkan metode manipulatif berupa tangisan meraung ditemani musik bergelora, Angga justru "membisukan" suasana. Keheningan menyengat ini memunculkan nuansa intim yang menggandakan dampak emosi. Bagaimana para tokoh diposisikan sebagai manusia yang sedang "merasakan" ketimbang mesin pengundang haru penonton termasuk salah satu kunci. Angga paham betul seperti apa kehilangan atau sakit hati, sehingga visualisasi momen punya ketepatan di tatanan rasa. Ditemani deretan lagu musisi indie penyegar telinga, Filosofi Kopi 2: Ben & Jody tetap perjalanan menyenangkan penuh hati, walau kini, kopi itu tak senikmat dulu. 

MANTAN (2017)

"Mantan" mungkin menjadi salah satu kata paling mengerikan bagi remaja sekarang. Menariknya, ketika mayoritas dari mereka memilih menghindar, Adi (Gandhi Fernando) yang segera melangsungkan pernikahan justru mengunjungi lima mantan kekasihnya untuk mencari tahu, apakah ada di antara kelimanya yang merupakan soulmate-nya. Mungkin banyak penonton bakal bertanya apa perlunya melakukan itu. Mengapa harus membuka lembaran lama penuh luka jika tengah bersiap mengarungi masa depan? Namun sejatinya demikianlah gambaran generasi masa kini yang gemar mempermasalahkan tetek bengek "mantan" dan "pacaran".

Mengusung hal di atas, debut penyutradaraan Svetlana Dea ini telah menjadi cerminan tepat soal percintaan para millenial, di mana romansa masa lalu kerap memancing keributan dan membebani. Dalam film ini, Adi mengunjungi kelima mantan di berbagai kota. Daniella (Ayudia Bing Slamet) di Bandung, Frida (Karina Nadila) di Yogyakarta, Juliana (Kimberly Ryder) di Bali, Tara (Luna Maya) di Medan, dan Deedee (Citra Scholastica) di Jakarta. Pemilihan beragam tempat tersebut sebenarnya tanpa substansi terkait narasi sebab kita takkan menemui perbedaan yang dipengaruhi kultur (penokohan, konflik). Pun hanya sekilas penonton diperlihatkan lingkungan sekitar mengingat pertemuan selalu terjadi di kamar hotel, yang mungkin bentuk penyiasatan bujet.
Sisi positifnya, kamar hotel mampu membangun ruang personal, sehingga memfasilitasi obrolan intim, jujur, hati ke hati. Kemudian kita dibawa mempelajari bahwa terdapat alasan berbeda-beda yang memicu berakhirnya hubungan Adi dengan masing-masing dari mereka. Semakin banyak kita tahu, semakin sulit bersimpati kepada Adi beserta segala kesalahan juga kengototan memaksa mengembalikan kenangan menyakitkan di benak mantan-mantannya. Tapi toh film ini tak berniat menjustifikasi perbuatan Adi baik dulu maupun sekarang. 

Adi menyatakan ingin "clear the air", namun berulang kali pula ketimbang menyiasati perdamaian, ia mengungkit kesalahan para mantan. Kalimat-kalimat dari mulutnya pun terdengar berlawanan dengan niatan move on. Setiap pertemuan berujung pertengkaran, yang seperti disebut Juliana, berputar di satu titik, tak melangkah maju. Apa tujuan Adi? Seperti telah disebutkan, Adi bak mewakili generasi kekinian yang berlebihan dibingungkan oleh persoalan mantan karena terlampau senang menengok ke belakang. Mencapai destinasi, setumpuk masalah mungkin nihil resolusi, tapi satu hal pasti, Adi merasa tenang, memperoleh kepastian akan pilihannya. Mantan adalah kisah seseorang menempuh perjalanan akibat didorong ketakutan atas masa lalu. Adi tak tentu arah, bingung mesti berbuat apa, sebab sejatinya, tanpa sadar ia "hanya" ingin mendapat penguatan terhadap suatu keputusan.
Ditulis sendiri oleh Gandhi Fernando, naskah Mantan lebih kuat di tataran konsep ketimbang eksekusi. Premis seorang pria mengunjungi lima mantan kekasih memang unik, tapi di sisi lain sulit melakukan penggalian mendalam dengan jumlah tokoh pula konflik sebanyak itu, apalagi lewat durasi 75 menit. Ragam aspek mulai paparan hubungan Adi dan tiap mantan sampai alasan putus kurang solid dijabarkan, tenggelam di tengah dialog yang sesungguhnya berisi banter menarik namun acap kali tumpang tindih. Belum matangnya Svetlana Dea menyusun adegan juga berperan, di mana sang sutradara kerap kerepotan menangani momen pertengkaran secara rapi. Kurang tepatnya beberapa pilihan musik (orkestra dramatis yang tak selaras dengan nuansa low-key film kadang menyeruak) dan transisi adegan kasar  entah disebabkan penyuntingan lemah atau stock footage minim  turut melemahkan momentum.

Didominasi interaksi karakter di satu lokasi, Mantan tentu amat bergantung pada kualitas jajaran cast guna menyulut daya tarik. Ayudia Bing Slamet yang menggelitik melalui amarah tanpa henti dan komentar pedas, terdengar naturalnya lantunan kalimat Kimberly Ryder, Luna Maya dengan sisi glamornya, Citra Scholastica yang penuh semangat, hingga Karina Nadila selaku penampil paling memikat lewat sex appeal didukung interpretasi kompleks yang ia berikan bagi tokohnya, semua saling mengisi, meracik hiburan asyik. Berada di antara wanita tersebut, Gandhi Fernando memberi akting terbaik dalam karirnya sejauh ini, melontarkan kata, humor, serta emosi bersenjatakan antusiasme yang menyenangkan disimak. Begitu film berakhir, jangan buru-buru beranjak, karena ada mid-credit scene singkat yang mengungkap jati diri salah satu sosok penting filmnya.