THE UNDERDOGS (2017)

33 komentar
The Underdogs adalah film tentang ambisi para remaja meraih kesuksesan sebagai Youtubers sekaligus menampilkan Young Lex. Sederhananya, film ini mudah dibenci bahkan oleh mereka yang tidak atau belum menonton. Walau tidak seluruhnya, saya pribadi terkadang menyimpan sentimen negatif terhadap obsesi generasi masa kini mengejar popularitas melalui kanal yang katanya lebih dari televisi ini. Dangkal. Begitu pikir saya. Sampai The Underdogs datang, menyadarkan justru keengganan saya (atau mungkin kita) menilik dari perspektif lain lah yang dangkal. 

Empat sekawan, Ellie (Sheryl Sheinafia), Dio (Brandon Salim), Bobi (Jeff Smith), dan Nanoy (Babe Cabita) merupakan korban bullying, dianggap pecundang di sekolah. Kondisi itu bertahan hingga lulus. Keinginan memperbaiki nasib terjawab pasca melihat kesuksesan S.O.L: Sandro X (Ernest Prakasa), Oscar (Young Lex), dan Lola (Han Yoo Ra), trio Youtubers yang sukses berkat video rap mereka. Terinspirasi, keempat protagonis kita mengikuti jalur serupa, membentuk channel rap memakai nama The Underdogs sambil berharap mengubah nasib di tengah beragam deraan masalah pribadi termasuk keluarga.
Naskah garapan Alitt Susanto bersama Bene Dion Rajagukguk memegang kunci. Saya (atau lagi-lagi, mungkin kita) terbiasa menganggap jajaran Youtubers terdiri atas sosok-sosok haus atensi berotak dangkal yang besar kepala pasca keberhasilan direnggut. Naskah The Underground menjelaskan betapa banyak dorongan lain. Ellie dengan pertengkaran sehari-hari orang tuanya, Bobi yang dipaksa melanjutkan pabrik tahu sang ayah atau Dio yang selalu diragukan ibunya akibat belum dianggap dewasa. Motivasi tersebut bukan saja simpatik, juga relatable. Poinnya, bisa jadi di luar sana, ada Youtubers berangkat dari alasan serupa yang terlanjur menghadapi hujatan akibat publik ogah lebih mencari tahu. 

Alurnya bergerak tak hanya rapi, pun ikut mendukung keterikatan akan karakter. Contohnya waktu Bobi menyulut perpecahan begitu The Underdogs mencapai ketenaran. Enggan berlarut-larut, sutradara Adink Liwutang secara cepat nan tepat seketika menggiring penonton menuju pemahaman tentang persoalan pribadi Bobi, menghalangi kesempatan penonton kesal kepadanya. Walau cukup disayangkan, perjalanan ke arah resolusi mengenai konflik keluarga agak terburu-buru sekaligus menggampangkan, seolah tanpa proses. Pengorbanan yang dilakukan demi memfasilitasi penyelesaian masalah lain, sebutlah persahabatan. Lalu pada konteks lebih luas terkait kultur internet, The Underdogs turut menyampaikan bagaimana media sosial dapat luar biasa bermanfaat andai dimanfaatkan tepat.
Komedinya memang bukan berisi humor yang mampu menancap di benak penonton lama seusai film berakhir, tetapi berhasil tampil konsisten. Meski hadir beruntun, gelontoran banyolan The Underdogs rutin memancing tawa atau setidaknya senyum lebar. Parodi brand atau program di sana-sini sampai nasib buruk tanpa ujung yang menimpa Babe Cabita (sekali lagi ia jago memerankan penderita kesialan akut) lebih dari cukup menjalin hiburan. Pun mencuri perhatian yakni Sheryl Sheinafia lewat banyak pembawaan deadpan hingga Dodit Mulyanto yang hobi dirapikan rambutnya sembari sesekali berkata "asu kowe". Young Lex? Well, he's just chilling out here and there.

Mengangkat kisah Youtubers yang memilih jalur video rap, sudah barang tentu The Underdogs diisi sederet nomor yang cukup menghibur telinga, khususnya lagu berlirik jenaka milik The Underdogs. Adink Liwutang tidak ketinggalan memasukkan visualisasi selaku (ceritanya) video klip lagu-lagu tersebut, menjadikan filmnya paket lengkap mengenai Youtube. Walau masih dibarengi kekurangan-kekurangan, The Underdogs di luar dugaan lebih dari menghibur, juga sanggup memancing agar bersedia menyikapi fenomena Youtubers dari sudut pandang lain yang pastinya lebih positif.


Review The Underdogs dapat dibaca juga di tautan ini 

33 komentar :

  1. Film tentang youtube kedua dari Starvision ya, Bang ? Lebih mendingan The Underdogs berarti ya Bang daripada Youtubers ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap, jauh sekali, dan The Underdogs ini film yang lebih Youtubers dari Youtubers :)

      Hapus
    2. Iya saya juga ngerasain ada warna dan nuansa yang berbeda dari film tentang youtube sebelumnya, yang ngangkat tema tentang pembully-an yang kemaren-kemaren sempet marak.

      Btw Brandon Salim aktingnya bagusan di The Underdogs atau di A: Aku, Benci, dan Cinta ya, Bang ?

      Hapus
    3. Nah aspek itu yang bisa kasih perspektif positif tentang Youtubers.

      Bagus di The Underdogs, di ABC habis dia kemakan pesona Jefri Nichol :D

      Hapus
    4. Bener tuh Bang. Tapi tetep aja Bang buat para haters Young Lex mah "haters gonna be hate". Meksipun dia mainin karakter yang woles, hahaha.

      Brandon di A dia jadi side-kick bukan, Bang ?

      Hapus
    5. Nggak masalah, sudah resiko pakai image begitu. Kalau memang dia talented toh someday bakal dapat pengakuan, kalau nggak ya nyungsep. Akhirnya karya yang menentukan.

      Di ABC Brandon jadi saingan romance Jefri, makannya ketutup

      Hapus
    6. Nah itu Bang. Kalaupun Lex kurang sukses di bidang film, toh dia udah punya talenta di bidang musik. Kalau udah ngomongin Young Lex, sang pembuat kontroversi. Jadi inget Laurentius Rando (yang sama-sama kontroversial) yang gagal debut main film di Koala Kumal, hahaha.

      Padahal aura Brandon kayaknya gak kalah dari Jefri tuh Bang.

      Hapus
    7. Karena kurang paham rap jadi nggak mau judge doi talented apa nggak di situ. Tapi soal attitude, as a big fans of Gallagher Bros. yang jauh lebih brengsek, saya nggak masalah.

      Brandon nggak buruk, malah dari bakat akting lebih kuat dari Jefri. Tapi soal charm, Jefri itu bawaan alam, kuat dari sananya

      Hapus
    8. Aku malahan salah satu orang agak males nonton gara gara ada Lex sebenernya, tapi pesona Sheryl dan Han Yoora mematahkan semua haha

      Hapus
    9. @Bang Rasyid Hahaha, gak mau asal sesumbar ya Bang. Biar attitude-nya jelek pun di dunia nyata, tapi kalau aktingnya oke di layar lebar. Why not ya, Bang ?

      Secara gitu ya Bang ada darah akting juga dari Ferry Salim. Ketika charming mengalahkan bakat. Hmmp.

      Hapus
    10. Tapi bisa memahami juga kalau banyak yang males nonton karena Young Lex, bukan tipe attitude selera semua orang. Wajar.

      Yah, sayang nggak seganteng bapaknya :D

      Hapus
    11. Anonim8:26 PM

      @ bang rasyid bener sekali bang Young lex itu ibaratkan liam galaghernya indonesia, Young lex the future living legend mengenai sikapnya sebetulnya banyak yg bisa diambil dari seorang young lex dari sikap ke hatters hingga cara berbisnis dan berkarier yg pantang menyerah

      banyak orang yg benci duluan enggan menonton film ini krn ada Young lex tp mereka salah film ini tembus 500 ribu penonton bahkan review film ini mendapatkan bintang 3 1/2 mengalahkan film dengan budget yg lebih besar membungkam para hatters.

      satu satunya kekurangan difilm ini porsi oscar (young lex) terasa sangat sedikit juga yoora dan ko ernest. semoga saja ko ernest membuat sequel film ini lebih fokus bercerita kesuksesan oscar dan akan lebih bagus memasukan unsur kejutan reuni dengan mantan rekan duetnya yaitu awkarin banyak moral yg bisa diambil. young lex dan awkarin adalah contoh generasi muda yg kritis anti munafik cocok dgn kondisi indonesia saat ini
      aku yakin film sequel nya bakal lebih booming

      Hapus
    12. Di beberapa hal respect ke dia, tapi jangan disamain Liam Gallagher, Liam anomali dunia haha

      Koreksi, The Underdogs sejauh ini baru dapat kurang lebih 167 ribu penonton

      Hapus
    13. Entah sarkas atau gmn komen diatas haha
      Lex dibandingin ama gallagher bros beda bosku.

      Apa jangan jangan tim hore yogs yg komen

      Hapus
  2. bang film indonesia terakhir yang dikasih rate 5 apa bang?
    pernah ga ngasih rate 1 atau kurang?kalo pernah film terakhir yang diksaih nilai segitu apa?
    Sori banyak nanya bang:D cuma mau bacain kritikan bang Rasyid tentang film yang bagus sangat dan jelek sangat XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terakhir 5 itu Istirahatlah Kata-Kata. Kalau 1 atau kurang dulu sering jaman rutin nonton film jelek. Terakhir kasih 0.5 buat Hitam & Putih :)

      Hapus
  3. Mas, kalo nonton film yg direview sekali tonton apa berapa kali? Trus caranya biar inget poin-pojn yg mau disampaikan? Saya punya blog sejak 5 atau 6 taun lalu tapi masih kosong, lagi pengin bikin blog review dan rencananya The Underdogs pengin jadi film pertana yg sy review..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cukup sekali kecuali suka banget atau banyak poin yang kurang nangkep. Pay attention aja. Sesekali bikin catatan di hape, tapi pendek, biar nggak ketinggalan film dan ganggu penonton lain. Dan sebelum nulis baca-baca tentang filmnya, selain modal riset, juga buat pengingat. Kadang ngobrol sama reviewer lain, buat penyegar ingatan atau tambahan infor. Biasanya sama Tariz (Cinetariz). Wah semangat menulis :)

      Hapus
    2. Oke, terimakasih mas.. Mungkin nanti aku bakal sering nanya nanya di kolom komen.. :) haha

      Hapus
    3. Silahkan, dengan senang hati membantu :)

      Hapus
  4. Mas,buat joko anwar aktingnya gimana di film ini?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lumayan oke juga dia. Jokan ini kalau peran-peran kecil sering bisa mencuri perhatian kok

      Hapus
  5. Awalnya sempat skeptis setelah youtuber kemarin tapi setelah nnton traillernya rasa ad yg beda ditambah jajaran castnya yg termasuk waw dan sutradaranya yg terlibat dalam film2 yg mrnurut saya cukup bagus,

    Gelontoran humornya termasuk rapet dan alhamdulillah banyak yg hit, saya rasa film ini termasuk komedi yg paling efektif bagi saya ditahun ini

    Untuk ending lumayan kenapa karena joko anwar jadi pemeran bukan penulis kayak sebelumnya wkwkwk dan saya merasa terlalu banyak bisa disebut easter egg dari CTS

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu kelebihan komedinya. Nggak sampai ngakak luar biasa, tapi konsisten. Haha yes, sialan banget itu kemunculan Aming

      Hapus
    2. Kk udah baca nominasi ffb ngak ,gimana ya cara pemilihan buat nominasinya

      Hapus
    3. Penentuan nominasi sih komite beragam profesi yang pilih

      Hapus
    4. Rada bingung memang beragam film tapi knapa 3 dara masih masuk , pandji masuk pemeran pria utama utk insyaalah sah, mika masuk utk film promise dan banyak lagi bikin bingung,yg anehnya istirahatlahvkata2 ngak masuk utk pemeeran pria terpuji

      Hapus
    5. Hehe nggak mau ngomong banyak kecuali "setiap ajang penghargaan/festival punya kepentingan masing-masing".

      Hapus
    6. Keluarkan aja ayo ungkapkan hahahaha.

      Hapus
  6. Kok saya merasa film.ini terlalu malas ya ? Khususnya soal konklusi, semua tiba2, tiba2 bapaknya mau nonton, tiba2 orangtuanya baikan, pas live show jg g nunjukin proses pembuatan konsep jd g ada hypenya sama sekali saat pertunjukan panggung, tak ada proses, bahkan menurut saya termasuk malas utk re shoot khususnya di penampilan panggung, utk komedi yg kena cuma Babe dan Panji part doang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya sudah disebut juga di atas, konklusinya menggampangkan. Sayang sekali

      Hapus
  7. YUSUF YUSUF YUSUF LEBIH DARI TV #BOOM

    BalasHapus
  8. Filmnya lebih bagus dari film youtubers.. Diluar ekspektasi saya.. Sangat menghibur..

    BalasHapus