Tampilkan postingan dengan label Dodit Mulyanto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dodit Mulyanto. Tampilkan semua postingan
CINTA ITU BUTA (2019)
Rasyidharry
Mengadaptasi film Filipina berjudul
Kita-Kita, karya penyutradaraan
teranyar Rachmania Arunita (penulis novel Eiffel...I’m
in Love) setelah absen 11 tahun lamanya sejak Lost in Love ini adalah film pertama yang total memaksimalkan
potensi komedi Dodit Mulyanto. Memasang Dodit sebagai pemeran utama membuatnya
lepas, bebas melontarkan ide-ide humor gilanya. Konyol. Terlalu konyol malah,
hingga Cinta itu Buta lalai
meluangkan waktu membangun rasa, yang mana substansial dalam paparan romansa.
Berlatar di Busan, Korea Selatan,
tokoh sentralnya adalah Diah (Shandy Aulia), pemandu wisata yang selama tiga
tahun terakhir telah bertunangan dengan pria lokal, Jun-ho (Chae In-woo), namun
pernikahan keduanya tak kunjung tiba, karena Jun-ho selalu beralasan bahwa ia
belum siap. Kemampuan Shandy melafalkan dialog memakai Bahasa Korea patut
diapresiasi, namun cara bertuturnya mengganggu. Saya memahami intensi mereplikasi
protagonis wanita drama Korea yang kerap bicara dengan aegyo, tapi bukan berarti gaya itu pantas diterapkan di semua
situasi.
Suatu malam, Diah akhirnya
mengetahui alasan Jun-ho menunda pernikahan. Begitu terpukul, Diah pun
kehilangan penglihatannya—membuat karakternya menderita penyakit jelas satu
dari berbagai unsur yang diterapkan naskah buatan Fanya Runkat dan Renaldo Samsara
(I Am Hope) supaya Cinta itu Buta tampil bak drama Korea. Anehnya,
di pagi hari berikutnya, Diah sudah mahir berjalan menggunakan tongkat. Padahal
itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, ditambah lagi (seharusnya) psikis
Diah masih terguncang.
Tapi biarlah. Setidaknya pasca
kejanggalan itu, filmnya memasuki babak baru yang jauh lebih menyenangkan berkat
kehadiran Nik (Dodit Mulyanto), yang mengunjungi Korea sebagai bentuk pelarian
sakit hati setelah diselingkuhi tunangannya. Nik ngotot membantu Diah,
membawakan makanan tiap pagi walau sang gadis menolak menyentuhnya. Lambat laun
Diah luluh, membiarkan Nik memasuki kehidupannya, membuatnya menyadari bahwa
tanpa melihat pun, ia tetap bisa merasa.
Kedatangan Nik bukan saja mengubah
hidup Diah, juga jalur filmnya, yang banting setir ke ranah komedi-romantis,
dengan proporsi komedi jauh lebih besar. Di sinilah Dodit bersinar, melepaskan
banyolan-banyolan gombal khasnya, disertai kelakar-kelakar aneh, yang semakin
absurd justru semakin efektif memancing tawa. Beberapa polahnya bakal terus
menggelitik, bahkan setelah filmnya usai, dari teriakan norak Nik kala
memanggil Diah tiap pagi, sampai improvisasinya di adegan “dangdut”.
Tapi bagi Cinta itu Buta, kelucuan Dodit ibarat investasi jangka pendek.
Selama paruh kedua, filmnya tampil menarik, kemudian menjadi bumerang kala
menginjak babak akhir yang mengedepankan elemen drama romantis. Benar bahwa
membuat dua tokoh utama tidak melulu tampil serius merupakan formula ampuh
pemancing simpati penonton sebab kita merasa bersenang-senang bersama mereka,
namun kedua protagonis film ini sama sekali tidak pernah serius. Tawa yang
hadir sekadar melahirkan kekonyolan, bukan membangun warna hubungan. Alhasil,
dampak emosional yang semestinya muncul berdasarkan gagasan manis “Saat bisa
melihat, kamu tidak bisa melihatku, tapi saat tidak bisa melihat, kamu baru
bisa melihatku”, gagal tersalurkan.
Kondisi semakin diperburuk oleh
kekacauan penceritaan. Atas nama kejutan, gerakan alurnya kerap menciptakan
disorientasi waktu. Pun konklusi yang memilih menggantungkan tanda tanya
ketimbang habis-habisan mengaduk rasa, ikut mengundang kejanggalan. Padahal
kalau drama Korea klasik jadi acuan (keberadaan penyakit hingga nasib buruk
yang tiba-tiba menimpa, mengingatkan pada judul-judul seperti Autumn in My Heart, Stairway to Heaven,
dan lain-lain), Cinta itu Buta seharusnya
bersedia menyentuh ranah melodrama daripada bersikap “malu-malu tapi mau”.
Oktober 11, 2019
Chae In-woo
,
Comedy
,
Dodit Mulyanto
,
Fanya Runkat
,
Indonesian Film
,
Kurang
,
Rachmania Arunita
,
Renaldo Samsara
,
REVIEW
,
Romance
,
Shandy Aulia
KULARI KE PANTAI (2018)
Rasyidharry
Kulari ke Pantai adalah kesederhanaan spesial. Tidak
ada isu beraroma politis, konflik provokatif, maupun permasalahan sosial
kompleks dengan potensi kontroversi. Memang terdapat relevansi soal pesan
mencintai bahasa dan alam Indonesia serta orang-orang tercinta kita yang hidup
di dalamnya, tapi kemasan ringan bernuansa ceria menghasilkan tontonan yang
terasa tulus. Film yang mampu memunculkan senyum, tawa, kebahagiaan, kehangatan,
bahkan kedamaian hati, yang kini makin mahal harganya, jelas spesial. Saya pun
ingin segera ikut berlari ke pantai bersama tokoh-tokohnya.
Di tangan yang salah, Kulari
ke Pantai bisa berujung iklan layanan masyarakat dan pariwisata semata. Tapi
Riri Riza selaku sutradara beserta pengalamannya membesut Petualangan Sherina (1999) hingga Laskar Pelangi (2008) piawai mengemas rasa. Ketimbang
terang-terangan menjejalkan deretan pesan di atas, terlebih dulu dia coba
menghanyutkan penonton dalam aliran emosi positif, sehingga pesan dapat
terserap, diamini dengan sendirinya. Suasana langsung dibangun sejak momen pembuka
penuh semangat beriringkan lagu Selamat
Pagi. Musik memang berjasa membangun suasana positif film ini, tak
terkecuali lewat lagu tema Kulari ke
Pantai (juga dibawakan RAN) yang begitu nyaman di telinga, pun takkan
segera lenyap dari ingatan.
Dua sepupu, Sam (Maisha Kanna) dan Happy (Lil’li Latisha),
kembali bertemu, untuk mendapati keduanya sudah tak saling cocok. Sam, si anak
pantai asal Rote, Nusa Tenggara Timur yang hobi berselancar, merasa Happy, si
anak kota yang manja juga selalu bicara menggunakan Bahasa Inggris, telah
berubah jadi bocah sombong. Sebaliknya, Happy memandang rendah Sam dengan
segala “kekampungannya”. Cara pandang Happy mewakili standar “racun” yang kerap
dianut masyarakat modern, mulai terkait kesan keren dalam kegiatan berbahasa
Inggris, sampai anggapan bahwa kulit gelap dan rambut merah hasil terbakar
sinar matahari berlawanan dengan definisi “cantik”.
Bersama sang ibu, Uci (Marsha Timothy), Sam menyusun rencana melakukan
perjalanan berdua dari Jakarta menuju Banyuwangi guna bertemu peselancar
idolanya di pantai G-Land. Rencana itu “terganggu” oleh permintaan Kirana
(Karina Suwandi), ibu Happy, agar puterinya turut serta. Hal itu bertujuan
untuk mendekatkan lagi ia dengan Sam, sekaligus mengajarkan Happy satu-dua
pelajaran berharga supaya kemanjaannya berkurang. Melepas gadis berusia 10
tahun secara mendadak dalam perjalanan jauh meski bersama saudara sendiri
rasanya sulit dipercaya. Untungnya, babak proses, selaku titik esensial road movie, tak memiliki kejanggalan
serupa. Bagaimana para karakter berubah,
lalu saling menerima dan memaafkan, semua beralaan kuat. Setidaknya, hasil yang
didapat terjadi pasca beberapa pengalaman berharga, bukan karena ketiba-tibaan
layaknya sihir.
Kedua bintang cilik bermain apik, sanggup melontarkan baris
demi baris kalimat secara natural, pandai pula bermain emosi, tatkala masalah
mayoritas aktor cilik terkait emosi tak pernah jauh dari luapan yang datar atau
justru berlebihan. Kulari ke Pantai merupakan
debut bagi Maisha dan Lil’li, dan saya bisa melihat masa depan cerah untuk
karir film keduanya, yang bisa menjalin interaksi menyenangkan antara dua sosok
berlawanan. Walau sekilas begitu berlainan, sejatinya mereka setipe, sama-sama
mesti berurusan dengan ego masing-masing. Di antara bocah-bocah ini ada Marsha
Timothy yang tak pernah tampak bagai “alien” dalam dunia para bocah. Pasca Marlina
yang kelam, keras, nan brutal, memerankan Uci adalah bukti luasnya jangkauan
akting sang aktris.
Jalur yang diambil naskah buatan Gina S. Noer
(Habibie & Ainun, Posesif), Mira Lesmana (AADC?, Laskar Pelangi), Riri
Riza, dan Arie Kriting (5 Cowok Jagoan: Rise of the Zombies), sebenarnya bukan
jalur terbaik. Alurnya diisi setumpuk rintangan yang berdesak-desakan dalam durasi
112 menit, namun mayoritas tak mempunyai konflik mendalam. Gempuran permaalahannya tipis, mudah terselesaikan, tapi menumpuk sampai terasa penuh sesak. Sisanya
lebih banyak menampilkan kegiatan jalan-jalan plus eksplorasi suasana destinasi
alam. Untung, guliran kisahnya berhasil menangkap esensi indah sebuah
perjalanan. Menemukan tempat baru, orang-orang baru, lalu menjalin persaudaraan
baru pula dengan mereka.
Terpenting, sebagai film anak, Kulari ke Pantai tampil menyenangkan. Komedi yang ditangani Arie
Kriting tampil efektif, sewaktu tiap lokasi konsisten menyimpan “ranjau” yang
siap meledakkan gelak tawa. Saya bakal selalu mengingat Kulari ke Pantai sebagai salah satu film yang paling sukses
memanfaatkan talenta jajaran komika yang tampil dalam porsi secukupnya.
Kuantitas bukan prioritas utama, melainkan kualitas, berkat penokohan unik
dilengkapi hook yang disesuaikan
dengan kelebihan tiap komika. Kemungkinan besar Mukhidi (Dodit Mulyanto) si
pemilik homestay yang berisik akan
jadi favorit penonton. Saya tidak masalah menginap di tempat Mukhidi selama
bisa merasakan kebahagiaan dan kedamaian sebagaimana dirasakan tokoh-tokoh film
ini.
Juni 30, 2018
Arie Kriting
,
Bagus
,
Comedy
,
Dodit Mulyanto
,
Drama
,
Gina S. Noer
,
Indonesian Film
,
Karina Suwandi
,
Lil’li Latisha
,
Maisha Kanna
,
Marsha Timothy
,
Mira Lesmana
,
REVIEW
,
Riri Riza
GURU NGAJI (2018)
Rasyidharry
Khususnya di kampung, ustaz, guru ngaji, kiai, atau siapa
saja yang dipandang warga sebagai ahli agama adalah sosok terhormat. Sebisa
mungkin dia harus tanpa cela, yang akhirnya kerap menimbulkan pengultusan
terhadapnya. Guru Ngaji, yang
merupakan film kedua Erwin Arnada tahun ini setelah Nini Thowok (di sini ia hanya memakai nama “Erwin”), secara
mengejutkan coba melawan kesesatan pikir tersebut. Mukri (Donny Damara), si
guru ngaji yang dihormati, diam-diam punya pekerjaan kedua sebagai badut pasar
malam. Sang pendidik terhormat jadi bahan tertawaan bocah-bocah kala malam saat
ia mengolah banyolan serta trik sulap ketimbang ayat suci Al Qur’an.
Pada praktiknya, Mukri, yang merahasiakan pekerjaan badutnya
itu tak hanya dari warga sekampung tapi juga istri dan anaknya, memang tidak
dituntut banyak mengutip ayat dalam film ini. Mukri (dan filmnya) enggan berceramah. Sekalinya diminta mengisi khotbah
solat Jumat, yang merupakan satu dari hanya dua momen ia mengutip ayat suci
sepanjang film, Mukri sempat menolak. Dia memang tak merasa paling ahli, pula menolak
dipanggil ustaz. “Saya hanya guru ngaji biasa”, begitu ucapnya. Mukri ada di
tengah garis pembatas tipis antara rendah ati dan kurang percaya diri.
Dia pun takut sang istri, Sopiah (Dewi Irawan) malu mengetahu
suaminya adalah badut. Mungkin karena Mukri menyadari perilaku konsumtif
Sopiah, yang sempat diam-diam mengambil uang pelunas hutang untuk membeli baju.
Berbeda dengan Mukri, Sopiah ingin dipandang “tinggi” meski kondisi ekonomi
mereka serba kekurangan. Subplot ini nantinya memproduksi salah satu momen
paling emosional yang dapat tercapai berkat curahan rasa Dewi Irawan. Mungkin
sebagai karakter, Mukri terlalu baik hati, tapi fakta bahwa dia bukan “tukang
ceramah” patut diapresiasi. Daripada berkata “pacaran haram”, Mukri justru
mendukung Parmin (Ence Bagus), partner badutnya, merebut hati Rahma (Andiana
Suri). Karena hal terpenting bagi Mukri adalah membahagiakan sesama.
Naskah buatan Erwin Arnada bersama Alim Sudio (Takut Kawin, Ayat-Ayat Cinta 2) menyusun
dengan baik keping-keping kisah soal pencarian kebahagiaan yang didapat dari
meraih mimpi. Bukan mimpi muluk, karena bagi para tokohnya, memiliki motor demi
merenggut hati gadis pujaan atau mengunjungi Masjid Istiqlal andai tak mampu
menginjakkan kaki di Mekah juga sudah cukup. Turut tersirat pula kritik sosial
mengenai masyarakat yang membiarkan tindak korupsi Pak Kades (Tarzan) tetapi
mengutuk profesi Mukri sebagai badut—yang mana halal—walau elemen ini sekedar
numpang lewat tanpa resoulsi memuaskan.
Guru Ngaji masih mengusung formula “penderitaan
beruntun” yang menguasai kemiskinan, tapi akting jajaran pemain, terlebih Donny
Damara dan Ence Bagus, memudahkan untuk menaruh simpati. Keduanya bukan
mengedepankan penderitaan namun ketulusan. Bahkan di mata Ence Bagus yang
seolah selalu berkaca-kaca ketika dihadapkan pada persaingan melawan Yanto
(Dodit Mulyanto) memperebutkan Rahma pun saya melihat ketulusan. Erwin sendiri
bagai tak ingin mengemas segala aspek filmnya sebagai “pesakitan”. Walau
mengambil setting di kampung dengan tokoh miskin, kekumuhan urung
dieksploitasi. Tata artistiknya justru penuh warna, bahkan cuma sekedar gorden pun tampak merah menyala.
Sayang konklusi yang memaksakan diri menyentuh ranah
keberagaman justru memancing kesan problematis. [SPOILER ALERT!!!] Mukri dan Parmin diminta memerankan Santa Claus
di acara perayaan Natal dan Tahun Baru sebuah Gereja yang diurus oleh Koh Alung
(Verdi Solaiman), sang pemilik pasar malam tempat mereka bekerja. Sempat ragu,
tawaran itu akhirnya diterima. Tapi alih-alih Santa Klaus, keduanya, ditambah
putera Mukri, Ismail (Akinza Chevalier), datang memakai kostum badut, Gareng,
dan Petruk. Alasannya, “toh sama-sama tokoh fiktif”. Argumen itu tidak keliru,
tapi memberi kesan tanggung terkait pesan “menghargai keberagaman”. Pun kembali
ke tujuan Mukri yang ingin menebar kebahagiaan, apakah anak-anak di kursi
penonton bahagia? Bayangkan sebaliknya. Anda datang ke pertunjukkan wayang lalu
disuguhi Santa Claus dengan alasan “sama-sama tokoh fiktif kan?”. Apa anda
bahagia? Sepertinya tidak. Guru Ngaji
memaksa memberi resolusi terhadap hal yang sejatinya tidak perlu dijawab karena
bukan itu persoalan utamanya. Paling tidak film ini mencoba, meski serupa usaha
Parmin mendekati Rahma, “belum to the max”.
Maret 15, 2018
Akinza Chevalier
,
Alim Sudio
,
Andiana Suri
,
Cukup
,
Dewi Irawan
,
Dodit Mulyanto
,
Donny Damara
,
Drama
,
Ence Bagus
,
Erwin Arnada
,
Indonesian Film
,
REVIEW
,
Verdi Solaiman
MATA DEWA (2018)
Rasyidharry
Tidak butuh mata dewa atau mata batin agar bisa melihat
keburukan film ini. Digarap oleh Andibachtiar Yusuf yang baru beberapa hari
lalu memukau saya lewat Love for Sale
(yang dibuat tanpa tekanan kanan-kiri), Mata
Dewa mengikuti formula film olahraga: perjuangan underdog, mentor misterius yang sempat punya nama besar, hubungan
renggang anak-orang tua, rivalitas, romansa, dan penutup berupa pertandingan
akbar. Tapi tak ada satu pun tampil maksimal. Bahkan, semua digarap di bawah
standar.
Dibuka lewat pertandingan yang mengecewakan bagi tim Jayhawk
dan SMA Wijaya, kita berkenalan dengan Bumi (Brandon Salim), pemain
berkemampuan seadanya yang dijadikan kambing hitam atas kekalahan tim oleh Dewa
(Kenny Austin), si pemain andalan. Bila tidak ada kata “Dewa” di judulnya,
mungkin banyak yang akan mengira Bumi lah protagonisnya. Rupanya, beberapa
waktu berselang porsi Bumi terkikis. Tanpa signifikansi terhadap alur, ia mendadak
berperan sebagai penggerak suporter alih-alih bermain. Apakah ia dikeluarkan?
Atau merasa kemampuannya dangkal lalu memilih mundur? What a message.
Naskah hasil tulisan Andibachtiar bersama Oka Aurora adalah
setumpuk konsep yang dimasukkan dalam satu rangkaian alur tanpa saling
bertautan. Beberapa subplot langsung menginjak resolusi tanpa proses, sisanya
berkebalikan, dilontarkan tanpa penyelesaian. Mengapa Dewa enggan berkomunikasi
dengan sang ibu? Untuk apa si pelatih (Nino Fernandez) diberi pergulatan batin
terkait pengunduran diri di awal cerita? Sedangkan Ariyo Wahab sebagai mentor
Dewa seperti hendak diberi arc tentang
kebangkitannya—yang menghadirkan paralel dengan perjuangan Dewa—hanya untuk
kemudian dilupakan.
Saya paham bahwa Mata
Dewa adalah media promosi DBL (Developmental
Basketball League). Maka ketika alur dinomorduakan demi fokus lebih pada
momen pertandingan, saya sedikit maklum. Masalahnya, aksi di atas lapangan
dikemas demikian malas. Zoom in, zoom
out, shaky cam. Tiga teknik itu terus direpetisi, walau dilihat sekilas pun
jelas betapa intensitas gagal diciptakan. Belum lagi bumper video “Basketball Live
Streaming”, yang entah apa gunanya, selalu diulang. Saya tidak pernah
menonton DBL di televisi (kalau ada). Mungkin memang gayanya begitu, entahlah.
Satu hal pasti, film ini mestinya bukan highlights,
bukan pula reka ulang siaran televisi, melainkan atmosfer asli di lapangan
pertandingan.
Tapi saya masih bersabar, mengira babak final selaku klimaks
bakal lebih seru. Sampai filmnya memperkenalkan satu per satu pemain dari kedua
tim. Total 10 tokoh yang takkan kita pedulikan eksistensinya muncul. Sulit
menghilangkan kecurigaan kalau intorduksi tersebut semata bertujuan mengulur
waktu. Ketika film berdurasi 80 menit coba mengulur waktu, bisa dipastikan tersimpan ketidakberesan. Sama tidak beresnya dengan bibir komat-kamit Kenny Austin kala Indonesia Raya berkumandang. Apakah
protagonis kita tidak hafal lagu kebangsaan?
“Wijaya the Giant
Killer”. Julukan yang diberikan oleh dua komentator (Augie Fantinus dan
Udjo Project Pop) sulit diamini, karena kita tak diajak merasakan perjuangan
mencapai puncak. Setiap pertandingan numpang lewat, dan tiba-tiba sampai titik
akhir. Mestinya final jadi ajang pembuktian Dewa yang penglihatannya terganggu
akibat kecelakaan. Tapi sepanjang laga, cuma dua kali ia berperan: Saat
dijatuhkan lawan, dan memberi assist
pada rekannya dalam angka penentu kemenangan. Ya, bahkan angka itu bukan
dicetak oleh Dewa. Sulit mencari hal positif. Dodit Mulyanto yang
diharapkan menyegarkan suasana pun tak dimaksimalkan akibat timing pengadeganan acap kali meleset.
Selaku alat promosi DBL, Mata Dewa
gagal tersaji inspiratif (seperti beberapa kisah nyata keberhasilan mantan
atlet yang tertuang di akhir), atau sekedar keren.
Maret 10, 2018
Andibachtiar Yusuf
,
Ariyo Wahab
,
Brandon Salim
,
Dodit Mulyanto
,
Drama
,
Indonesian Film
,
Jelek
,
Kenny Austin
,
Nino Fernandez
,
Oka Aurora
,
REVIEW
,
Sports
SUSAH SINYAL (2017)
Rasyidharry
Apakah Ernest Prakasa kelelahan? Atau ia belum menemukan formula mengolah kisah di luar sentilan kultur Cina yang kali ini hanya muncul sekelebat sebagai balutan humor sesaat? Masih menggunakan perpaduan drama keluarga dan komedi "acak" serupa Ngenest dan Cek Toko Sebelah, kedua unsur tersebut sesekali tersampaikan, namun tak jarang luput dari sasaran, kurang mulus pula dikawinkan. Koneksi dengan penonton timbul tenggelam, kadang lancar, kadang terganggu. Sepertinya film ini tengah mengalami susah sinyal.
Seperti kebanyakan drama serupa, hubungan berjarak antara orang tua dan anak film ini disebabkan urusan pekerjaan. Ellen (Adinia Wirasti), pengacara sukses sekaligus ibu tunggal, jarang meluangkan waktu bersama puterinya, Kiara (Aurora Ribero), yang lebih terikat dengan kehidupan media sosial dan sang nenek, Agatha (Niniek L Karim). Di suatu malam, sepulang kerja, Ellen berusaha terlibat pembicaraan tentang film favorit Kiara, Moana, tapi justru menyebut Lilo & Stitch. Nenekmu lebih tahu film yang kamu cintai daripada ibumu, yang notabene jarang memberi perhatian. Tentu menyakitkan.
Alhasil, wajar Kiara amat terpukul saat nenek meninggal. Mengetahui itu, Ellen mengabulkan keinginan Kiara berlibur ke Sumba, sembari berharap menemukan sinyal yang terputus di antara mereka. Tapi liburan ke tempat di mana Asri Welas, Arie Kriting, Abdur Arsyad, Ge Pamungkas, sampai Chew Kin Wah yang menikahi Selfi KDI berkumpul, jelas takkan berlangsung normal. Ernest menyediakan panggung melucu seliar mungkin. Asri yang lebih kalem tetap mengocok perut kala memperagakan capoeira, pun Ge sebagai tokoh penuh trauma yang memfasilitasi gaya ekspresifnya.
Keliaran komedi, yang acap kali tak terkait alur utama, berhasil sebagai bumbu penyedap dalam Cek Toko Sebelah. Susah Sinyal memunculkan kesan berbeda. Menulis naskahnya bersama sang istri, Meira Anastasia, Ernest bagai menabur bumbu terlalu banyak demi menutupi kekurangan di bahan pokok, alias alur yang tipis. Kelakar Arie dan Abdur misalnya. Menggelitik, namun seketika kehilangan daya bunuh sewaktu hadir berkepanjangan. Titik tertinggi komedi film ini terletak pada guyonan sekilas dengan kesempurnaan timing, seperti Asri Welas yang cenderung serius sehingga dampaknya berlipat ganda saat celotehan yang dinanti tiba, atau absurditas Dodit Mulyanto yang mengisi sesuai kebutuhan, tak dieksploitasi.
Ellen berharap perjalanan ke Sumba merekatkan hubungannya dengan Kiara. Kita menghabiskan sepertiga durasi di sana, melewati berbagai peristiwa, termasuk ketertarikan Kiara pada karyawan hotel bernama Abe (Refal Hady), sayangnya itu semua bukan quality time. Terlampau sering distraksi hadir, keduanya telah menemukan kembali sinyal yang terputus sebelum penonton sempat direnggut oleh gesekan yang terjadi. Film ini membawa karakternya ke Sumba, lalu seolah bingung mesti berbuat apa pada mereka. Aspek teknis pun gagal membantu, baik pilihan shot ala kadarnya (Ernest pernah melahirkan gambar luar biasa kuat berupa Chew Kin Wah bersandar di tiang toko kosong dalam Cek Toko Sebelah) maupun transisi kasar musik selaku cue emosi.
Untungnya Susah Sinyal punya Adinia Wirasti, seorang aktris langka yang sanggup menyulap obrolan kasual jadi menarik. Bersama debut memikat Aurora Ribero dalam gaya sinis yang menjadikan ketakutan Ellen mendekatinya terasa masuk akal, Adinia menghembuskan nyawa, menghindarkan filmnya dari kehampaan total. Susah Sinyal is a step back. Tapi bukan kemunduran jauh, apalagi suguhan buruk. Ernest selalu belajar, dan itu membuat kepercayaan saya padanya tidak luntur.
Desember 22, 2017
Abdur Arsyad
,
Adinia Wirasti
,
Arie Kriting
,
Asri Welas
,
Aurora Ribero
,
Chew Kin Wah
,
Comedy
,
Cukup
,
Dodit Mulyanto
,
Drama
,
Ernest Prakasa
,
Ge Pamungkas
,
Indonesian Film
,
Niniek L. Karim
,
Refal Hady
,
REVIEW
THE UNDERDOGS (2017)
Rasyidharry
The Underdogs adalah film tentang ambisi para remaja meraih kesuksesan sebagai Youtubers sekaligus menampilkan Young Lex. Sederhananya, film ini mudah dibenci bahkan oleh mereka yang tidak atau belum menonton. Walau tidak seluruhnya, saya pribadi terkadang menyimpan sentimen negatif terhadap obsesi generasi masa kini mengejar popularitas melalui kanal yang katanya lebih dari televisi ini. Dangkal. Begitu pikir saya. Sampai The Underdogs datang, menyadarkan justru keengganan saya (atau mungkin kita) menilik dari perspektif lain lah yang dangkal.
Empat sekawan, Ellie (Sheryl Sheinafia), Dio (Brandon Salim), Bobi (Jeff Smith), dan Nanoy (Babe Cabita) merupakan korban bullying, dianggap pecundang di sekolah. Kondisi itu bertahan hingga lulus. Keinginan memperbaiki nasib terjawab pasca melihat kesuksesan S.O.L: Sandro X (Ernest Prakasa), Oscar (Young Lex), dan Lola (Han Yoo Ra), trio Youtubers yang sukses berkat video rap mereka. Terinspirasi, keempat protagonis kita mengikuti jalur serupa, membentuk channel rap memakai nama The Underdogs sambil berharap mengubah nasib di tengah beragam deraan masalah pribadi termasuk keluarga.
Naskah garapan Alitt Susanto bersama Bene Dion Rajagukguk memegang kunci. Saya (atau lagi-lagi, mungkin kita) terbiasa menganggap jajaran Youtubers terdiri atas sosok-sosok haus atensi berotak dangkal yang besar kepala pasca keberhasilan direnggut. Naskah The Underground menjelaskan betapa banyak dorongan lain. Ellie dengan pertengkaran sehari-hari orang tuanya, Bobi yang dipaksa melanjutkan pabrik tahu sang ayah atau Dio yang selalu diragukan ibunya akibat belum dianggap dewasa. Motivasi tersebut bukan saja simpatik, juga relatable. Poinnya, bisa jadi di luar sana, ada Youtubers berangkat dari alasan serupa yang terlanjur menghadapi hujatan akibat publik ogah lebih mencari tahu.
Alurnya bergerak tak hanya rapi, pun ikut mendukung keterikatan akan karakter. Contohnya waktu Bobi menyulut perpecahan begitu The Underdogs mencapai ketenaran. Enggan berlarut-larut, sutradara Adink Liwutang secara cepat nan tepat seketika menggiring penonton menuju pemahaman tentang persoalan pribadi Bobi, menghalangi kesempatan penonton kesal kepadanya. Walau cukup disayangkan, perjalanan ke arah resolusi mengenai konflik keluarga agak terburu-buru sekaligus menggampangkan, seolah tanpa proses. Pengorbanan yang dilakukan demi memfasilitasi penyelesaian masalah lain, sebutlah persahabatan. Lalu pada konteks lebih luas terkait kultur internet, The Underdogs turut menyampaikan bagaimana media sosial dapat luar biasa bermanfaat andai dimanfaatkan tepat.
Komedinya memang bukan berisi humor yang mampu menancap di benak penonton lama seusai film berakhir, tetapi berhasil tampil konsisten. Meski hadir beruntun, gelontoran banyolan The Underdogs rutin memancing tawa atau setidaknya senyum lebar. Parodi brand atau program di sana-sini sampai nasib buruk tanpa ujung yang menimpa Babe Cabita (sekali lagi ia jago memerankan penderita kesialan akut) lebih dari cukup menjalin hiburan. Pun mencuri perhatian yakni Sheryl Sheinafia lewat banyak pembawaan deadpan hingga Dodit Mulyanto yang hobi dirapikan rambutnya sembari sesekali berkata "asu kowe". Young Lex? Well, he's just chilling out here and there.
Mengangkat kisah Youtubers yang memilih jalur video rap, sudah barang tentu The Underdogs diisi sederet nomor yang cukup menghibur telinga, khususnya lagu berlirik jenaka milik The Underdogs. Adink Liwutang tidak ketinggalan memasukkan visualisasi selaku (ceritanya) video klip lagu-lagu tersebut, menjadikan filmnya paket lengkap mengenai Youtube. Walau masih dibarengi kekurangan-kekurangan, The Underdogs di luar dugaan lebih dari menghibur, juga sanggup memancing agar bersedia menyikapi fenomena Youtubers dari sudut pandang lain yang pastinya lebih positif.
Review The Underdogs dapat dibaca juga di tautan ini
Agustus 17, 2017
Adink Liwutang
,
Alitt Susanto
,
Babe Cabita
,
Bene Dion
,
Brandon Salim
,
Comedy
,
Dodit Mulyanto
,
Ernest Prakasa
,
Han Yoo Ra
,
Indonesian Film
,
Jeff Smith
,
Lumayan
,
REVIEW
,
Sheryl Sheinafia
,
Young Lex
Langganan:
Postingan
(
Atom
)



















