Tampilkan postingan dengan label Dodit Mulyanto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dodit Mulyanto. Tampilkan semua postingan

CINTA ITU BUTA (2019)

Mengadaptasi film Filipina berjudul Kita-Kita, karya penyutradaraan teranyar Rachmania Arunita (penulis novel Eiffel...I’m in Love) setelah absen 11 tahun lamanya sejak Lost in Love ini adalah film pertama yang total memaksimalkan potensi komedi Dodit Mulyanto. Memasang Dodit sebagai pemeran utama membuatnya lepas, bebas melontarkan ide-ide humor gilanya. Konyol. Terlalu konyol malah, hingga Cinta itu Buta lalai meluangkan waktu membangun rasa, yang mana substansial dalam paparan romansa.

Berlatar di Busan, Korea Selatan, tokoh sentralnya adalah Diah (Shandy Aulia), pemandu wisata yang selama tiga tahun terakhir telah bertunangan dengan pria lokal, Jun-ho (Chae In-woo), namun pernikahan keduanya tak kunjung tiba, karena Jun-ho selalu beralasan bahwa ia belum siap. Kemampuan Shandy melafalkan dialog memakai Bahasa Korea patut diapresiasi, namun cara bertuturnya mengganggu. Saya memahami intensi mereplikasi protagonis wanita drama Korea yang kerap bicara dengan aegyo, tapi bukan berarti gaya itu pantas diterapkan di semua situasi.

Suatu malam, Diah akhirnya mengetahui alasan Jun-ho menunda pernikahan. Begitu terpukul, Diah pun kehilangan penglihatannya—membuat karakternya menderita penyakit jelas satu dari berbagai unsur yang diterapkan naskah buatan Fanya Runkat dan Renaldo Samsara (I Am Hope) supaya Cinta itu Buta tampil bak drama Korea. Anehnya, di pagi hari berikutnya, Diah sudah mahir berjalan menggunakan tongkat. Padahal itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, ditambah lagi (seharusnya) psikis Diah masih terguncang.

Tapi biarlah. Setidaknya pasca kejanggalan itu, filmnya memasuki babak baru yang jauh lebih menyenangkan berkat kehadiran Nik (Dodit Mulyanto), yang mengunjungi Korea sebagai bentuk pelarian sakit hati setelah diselingkuhi tunangannya. Nik ngotot membantu Diah, membawakan makanan tiap pagi walau sang gadis menolak menyentuhnya. Lambat laun Diah luluh, membiarkan Nik memasuki kehidupannya, membuatnya menyadari bahwa tanpa melihat pun, ia tetap bisa merasa.

Kedatangan Nik bukan saja mengubah hidup Diah, juga jalur filmnya, yang banting setir ke ranah komedi-romantis, dengan proporsi komedi jauh lebih besar. Di sinilah Dodit bersinar, melepaskan banyolan-banyolan gombal khasnya, disertai kelakar-kelakar aneh, yang semakin absurd justru semakin efektif memancing tawa. Beberapa polahnya bakal terus menggelitik, bahkan setelah filmnya usai, dari teriakan norak Nik kala memanggil Diah tiap pagi, sampai improvisasinya di adegan “dangdut”.

Tapi bagi Cinta itu Buta, kelucuan Dodit ibarat investasi jangka pendek. Selama paruh kedua, filmnya tampil menarik, kemudian menjadi bumerang kala menginjak babak akhir yang mengedepankan elemen drama romantis. Benar bahwa membuat dua tokoh utama tidak melulu tampil serius merupakan formula ampuh pemancing simpati penonton sebab kita merasa bersenang-senang bersama mereka, namun kedua protagonis film ini sama sekali tidak pernah serius. Tawa yang hadir sekadar melahirkan kekonyolan, bukan membangun warna hubungan. Alhasil, dampak emosional yang semestinya muncul berdasarkan gagasan manis “Saat bisa melihat, kamu tidak bisa melihatku, tapi saat tidak bisa melihat, kamu baru bisa melihatku”, gagal tersalurkan.

Kondisi semakin diperburuk oleh kekacauan penceritaan. Atas nama kejutan, gerakan alurnya kerap menciptakan disorientasi waktu. Pun konklusi yang memilih menggantungkan tanda tanya ketimbang habis-habisan mengaduk rasa, ikut mengundang kejanggalan. Padahal kalau drama Korea klasik jadi acuan (keberadaan penyakit hingga nasib buruk yang tiba-tiba menimpa, mengingatkan pada judul-judul seperti Autumn in My Heart, Stairway to Heaven, dan lain-lain), Cinta itu Buta seharusnya bersedia menyentuh ranah melodrama daripada bersikap “malu-malu tapi mau”.

KULARI KE PANTAI (2018)

Kulari ke Pantai adalah kesederhanaan spesial. Tidak ada isu beraroma politis, konflik provokatif, maupun permasalahan sosial kompleks dengan potensi kontroversi. Memang terdapat relevansi soal pesan mencintai bahasa dan alam Indonesia serta orang-orang tercinta kita yang hidup di dalamnya, tapi kemasan ringan bernuansa ceria menghasilkan tontonan yang terasa tulus. Film yang mampu memunculkan senyum, tawa, kebahagiaan, kehangatan, bahkan kedamaian hati, yang kini makin mahal harganya, jelas spesial. Saya pun ingin segera ikut berlari ke pantai bersama tokoh-tokohnya.

Di tangan yang salah, Kulari ke Pantai bisa berujung iklan layanan masyarakat dan pariwisata semata. Tapi Riri Riza selaku sutradara beserta pengalamannya membesut Petualangan Sherina (1999) hingga Laskar Pelangi (2008) piawai mengemas rasa. Ketimbang terang-terangan menjejalkan deretan pesan di atas, terlebih dulu dia coba menghanyutkan penonton dalam aliran emosi positif, sehingga pesan dapat terserap, diamini dengan sendirinya. Suasana langsung dibangun sejak momen pembuka penuh semangat beriringkan lagu Selamat Pagi. Musik memang berjasa membangun suasana positif film ini, tak terkecuali lewat lagu tema Kulari ke Pantai (juga dibawakan RAN) yang begitu nyaman di telinga, pun takkan segera lenyap dari ingatan.

Dua sepupu, Sam (Maisha Kanna) dan Happy (Lil’li Latisha), kembali bertemu, untuk mendapati keduanya sudah tak saling cocok. Sam, si anak pantai asal Rote, Nusa Tenggara Timur yang hobi berselancar, merasa Happy, si anak kota yang manja juga selalu bicara menggunakan Bahasa Inggris, telah berubah jadi bocah sombong. Sebaliknya, Happy memandang rendah Sam dengan segala “kekampungannya”. Cara pandang Happy mewakili standar “racun” yang kerap dianut masyarakat modern, mulai terkait kesan keren dalam kegiatan berbahasa Inggris, sampai anggapan bahwa kulit gelap dan rambut merah hasil terbakar sinar matahari berlawanan dengan definisi “cantik”.

Bersama sang ibu, Uci (Marsha Timothy), Sam menyusun rencana melakukan perjalanan berdua dari Jakarta menuju Banyuwangi guna bertemu peselancar idolanya di pantai G-Land. Rencana itu “terganggu” oleh permintaan Kirana (Karina Suwandi), ibu Happy, agar puterinya turut serta. Hal itu bertujuan untuk mendekatkan lagi ia dengan Sam, sekaligus mengajarkan Happy satu-dua pelajaran berharga supaya kemanjaannya berkurang. Melepas gadis berusia 10 tahun secara mendadak dalam perjalanan jauh meski bersama saudara sendiri rasanya sulit dipercaya. Untungnya, babak proses, selaku titik esensial road movie, tak memiliki kejanggalan serupa.  Bagaimana para karakter berubah, lalu saling menerima dan memaafkan, semua beralaan kuat. Setidaknya, hasil yang didapat terjadi pasca beberapa pengalaman berharga, bukan karena ketiba-tibaan layaknya sihir.

Kedua bintang cilik bermain apik, sanggup melontarkan baris demi baris kalimat secara natural, pandai pula bermain emosi, tatkala masalah mayoritas aktor cilik terkait emosi tak pernah jauh dari luapan yang datar atau justru berlebihan. Kulari ke Pantai merupakan debut bagi Maisha dan Lil’li, dan saya bisa melihat masa depan cerah untuk karir film keduanya, yang bisa menjalin interaksi menyenangkan antara dua sosok berlawanan. Walau sekilas begitu berlainan, sejatinya mereka setipe, sama-sama mesti berurusan dengan ego masing-masing. Di antara bocah-bocah ini ada Marsha Timothy yang tak pernah tampak bagai “alien” dalam dunia para bocah. Pasca Marlina yang kelam, keras, nan brutal, memerankan Uci adalah bukti luasnya jangkauan akting sang aktris.

Jalur yang diambil naskah buatan Gina S. Noer (Habibie & Ainun, Posesif), Mira Lesmana (AADC?, Laskar Pelangi), Riri Riza, dan Arie Kriting (5 Cowok Jagoan: Rise of the Zombies), sebenarnya bukan jalur terbaik. Alurnya diisi setumpuk rintangan yang berdesak-desakan dalam durasi 112 menit, namun mayoritas tak mempunyai konflik mendalam. Gempuran permaalahannya tipis, mudah terselesaikan, tapi menumpuk sampai terasa penuh sesak. Sisanya lebih banyak menampilkan kegiatan jalan-jalan plus eksplorasi suasana destinasi alam. Untung, guliran kisahnya berhasil menangkap esensi indah sebuah perjalanan. Menemukan tempat baru, orang-orang baru, lalu menjalin persaudaraan baru pula dengan mereka.

Terpenting, sebagai film anak, Kulari ke Pantai tampil menyenangkan. Komedi yang ditangani Arie Kriting tampil efektif, sewaktu tiap lokasi konsisten menyimpan “ranjau” yang siap meledakkan gelak tawa. Saya bakal selalu mengingat Kulari ke Pantai sebagai salah satu film yang paling sukses memanfaatkan talenta jajaran komika yang tampil dalam porsi secukupnya. Kuantitas bukan prioritas utama, melainkan kualitas, berkat penokohan unik dilengkapi hook yang disesuaikan dengan kelebihan tiap komika. Kemungkinan besar Mukhidi (Dodit Mulyanto) si pemilik homestay yang berisik akan jadi favorit penonton. Saya tidak masalah menginap di tempat Mukhidi selama bisa merasakan kebahagiaan dan kedamaian sebagaimana dirasakan tokoh-tokoh film ini.

GURU NGAJI (2018)


Khususnya di kampung, ustaz, guru ngaji, kiai, atau siapa saja yang dipandang warga sebagai ahli agama adalah sosok terhormat. Sebisa mungkin dia harus tanpa cela, yang akhirnya kerap menimbulkan pengultusan terhadapnya. Guru Ngaji, yang merupakan film kedua Erwin Arnada tahun ini setelah Nini Thowok (di sini ia hanya memakai nama “Erwin”), secara mengejutkan coba melawan kesesatan pikir tersebut. Mukri (Donny Damara), si guru ngaji yang dihormati, diam-diam punya pekerjaan kedua sebagai badut pasar malam. Sang pendidik terhormat jadi bahan tertawaan bocah-bocah kala malam saat ia mengolah banyolan serta trik sulap ketimbang ayat suci Al Qur’an.

Pada praktiknya, Mukri, yang merahasiakan pekerjaan badutnya itu tak hanya dari warga sekampung tapi juga istri dan anaknya, memang tidak dituntut banyak mengutip ayat dalam film ini. Mukri (dan filmnya) enggan berceramah. Sekalinya diminta mengisi khotbah solat Jumat, yang merupakan satu dari hanya dua momen ia mengutip ayat suci sepanjang film, Mukri sempat menolak. Dia memang tak merasa paling ahli, pula menolak dipanggil ustaz. “Saya hanya guru ngaji biasa”, begitu ucapnya. Mukri ada di tengah garis pembatas tipis antara rendah ati dan kurang percaya diri.
Dia pun takut sang istri, Sopiah (Dewi Irawan) malu mengetahu suaminya adalah badut. Mungkin karena Mukri menyadari perilaku konsumtif Sopiah, yang sempat diam-diam mengambil uang pelunas hutang untuk membeli baju. Berbeda dengan Mukri, Sopiah ingin dipandang “tinggi” meski kondisi ekonomi mereka serba kekurangan. Subplot ini nantinya memproduksi salah satu momen paling emosional yang dapat tercapai berkat curahan rasa Dewi Irawan. Mungkin sebagai karakter, Mukri terlalu baik hati, tapi fakta bahwa dia bukan “tukang ceramah” patut diapresiasi. Daripada berkata “pacaran haram”, Mukri justru mendukung Parmin (Ence Bagus), partner badutnya, merebut hati Rahma (Andiana Suri). Karena hal terpenting bagi Mukri adalah membahagiakan sesama.

Naskah buatan Erwin Arnada bersama Alim Sudio (Takut Kawin, Ayat-Ayat Cinta 2) menyusun dengan baik keping-keping kisah soal pencarian kebahagiaan yang didapat dari meraih mimpi. Bukan mimpi muluk, karena bagi para tokohnya, memiliki motor demi merenggut hati gadis pujaan atau mengunjungi Masjid Istiqlal andai tak mampu menginjakkan kaki di Mekah juga sudah cukup. Turut tersirat pula kritik sosial mengenai masyarakat yang membiarkan tindak korupsi Pak Kades (Tarzan) tetapi mengutuk profesi Mukri sebagai badut—yang mana halal—walau elemen ini sekedar numpang lewat tanpa resoulsi memuaskan.
Guru Ngaji masih mengusung formula “penderitaan beruntun” yang menguasai kemiskinan, tapi akting jajaran pemain, terlebih Donny Damara dan Ence Bagus, memudahkan untuk menaruh simpati. Keduanya bukan mengedepankan penderitaan namun ketulusan. Bahkan di mata Ence Bagus yang seolah selalu berkaca-kaca ketika dihadapkan pada persaingan melawan Yanto (Dodit Mulyanto) memperebutkan Rahma pun saya melihat ketulusan. Erwin sendiri bagai tak ingin mengemas segala aspek filmnya sebagai “pesakitan”. Walau mengambil setting di kampung dengan tokoh miskin, kekumuhan urung dieksploitasi. Tata artistiknya justru penuh warna, bahkan cuma sekedar gorden pun tampak merah menyala.

Sayang konklusi yang memaksakan diri menyentuh ranah keberagaman justru memancing kesan problematis. [SPOILER ALERT!!!] Mukri dan Parmin diminta memerankan Santa Claus di acara perayaan Natal dan Tahun Baru sebuah Gereja yang diurus oleh Koh Alung (Verdi Solaiman), sang pemilik pasar malam tempat mereka bekerja. Sempat ragu, tawaran itu akhirnya diterima. Tapi alih-alih Santa Klaus, keduanya, ditambah putera Mukri, Ismail (Akinza Chevalier), datang memakai kostum badut, Gareng, dan Petruk. Alasannya, “toh sama-sama tokoh fiktif”. Argumen itu tidak keliru, tapi memberi kesan tanggung terkait pesan “menghargai keberagaman”. Pun kembali ke tujuan Mukri yang ingin menebar kebahagiaan, apakah anak-anak di kursi penonton bahagia? Bayangkan sebaliknya. Anda datang ke pertunjukkan wayang lalu disuguhi Santa Claus dengan alasan “sama-sama tokoh fiktif kan?”. Apa anda bahagia? Sepertinya tidak. Guru Ngaji memaksa memberi resolusi terhadap hal yang sejatinya tidak perlu dijawab karena bukan itu persoalan utamanya. Paling tidak film ini mencoba, meski serupa usaha Parmin mendekati Rahma, “belum to the max”.

MATA DEWA (2018)


Tidak butuh mata dewa atau mata batin agar bisa melihat keburukan film ini. Digarap oleh Andibachtiar Yusuf yang baru beberapa hari lalu memukau saya lewat Love for Sale (yang dibuat tanpa tekanan kanan-kiri), Mata Dewa mengikuti formula film olahraga: perjuangan underdog, mentor misterius yang sempat punya nama besar, hubungan renggang anak-orang tua, rivalitas, romansa, dan penutup berupa pertandingan akbar. Tapi tak ada satu pun tampil maksimal. Bahkan, semua digarap di bawah standar.

Dibuka lewat pertandingan yang mengecewakan bagi tim Jayhawk dan SMA Wijaya, kita berkenalan dengan Bumi (Brandon Salim), pemain berkemampuan seadanya yang dijadikan kambing hitam atas kekalahan tim oleh Dewa (Kenny Austin), si pemain andalan. Bila tidak ada kata “Dewa” di judulnya, mungkin banyak yang akan mengira Bumi lah protagonisnya. Rupanya, beberapa waktu berselang porsi Bumi terkikis. Tanpa signifikansi terhadap alur, ia mendadak berperan sebagai penggerak suporter alih-alih bermain. Apakah ia dikeluarkan? Atau merasa kemampuannya dangkal lalu memilih mundur? What a message.
Naskah hasil tulisan Andibachtiar bersama Oka Aurora adalah setumpuk konsep yang dimasukkan dalam satu rangkaian alur tanpa saling bertautan. Beberapa subplot langsung menginjak resolusi tanpa proses, sisanya berkebalikan, dilontarkan tanpa penyelesaian. Mengapa Dewa enggan berkomunikasi dengan sang ibu? Untuk apa si pelatih (Nino Fernandez) diberi pergulatan batin terkait pengunduran diri di awal cerita? Sedangkan Ariyo Wahab sebagai mentor Dewa seperti hendak diberi arc tentang kebangkitannya—yang menghadirkan paralel dengan perjuangan Dewa—hanya untuk kemudian dilupakan.

Saya paham bahwa Mata Dewa adalah media promosi DBL (Developmental Basketball League). Maka ketika alur dinomorduakan demi fokus lebih pada momen pertandingan, saya sedikit maklum. Masalahnya, aksi di atas lapangan dikemas demikian malas. Zoom in, zoom out, shaky cam. Tiga teknik itu terus direpetisi, walau dilihat sekilas pun jelas betapa intensitas gagal diciptakan. Belum lagi bumper videoBasketball Live Streaming”, yang entah apa gunanya, selalu diulang. Saya tidak pernah menonton DBL di televisi (kalau ada). Mungkin memang gayanya begitu, entahlah. Satu hal pasti, film ini mestinya bukan highlights, bukan pula reka ulang siaran televisi, melainkan atmosfer asli di lapangan pertandingan.
Tapi saya masih bersabar, mengira babak final selaku klimaks bakal lebih seru. Sampai filmnya memperkenalkan satu per satu pemain dari kedua tim. Total 10 tokoh yang takkan kita pedulikan eksistensinya muncul. Sulit menghilangkan kecurigaan kalau intorduksi tersebut semata bertujuan mengulur waktu. Ketika film berdurasi 80 menit coba mengulur waktu, bisa dipastikan tersimpan ketidakberesan. Sama tidak beresnya dengan bibir komat-kamit Kenny Austin kala Indonesia Raya berkumandang. Apakah protagonis kita tidak hafal lagu kebangsaan?

Wijaya the Giant Killer”. Julukan yang diberikan oleh dua komentator (Augie Fantinus dan Udjo Project Pop) sulit diamini, karena kita tak diajak merasakan perjuangan mencapai puncak. Setiap pertandingan numpang lewat, dan tiba-tiba sampai titik akhir. Mestinya final jadi ajang pembuktian Dewa yang penglihatannya terganggu akibat kecelakaan. Tapi sepanjang laga, cuma dua kali ia berperan: Saat dijatuhkan lawan, dan memberi assist pada rekannya dalam angka penentu kemenangan. Ya, bahkan angka itu bukan dicetak oleh Dewa. Sulit mencari hal positif. Dodit Mulyanto yang diharapkan menyegarkan suasana pun tak dimaksimalkan akibat timing pengadeganan acap kali meleset. Selaku alat promosi DBL, Mata Dewa gagal tersaji inspiratif (seperti beberapa kisah nyata keberhasilan mantan atlet yang tertuang di akhir), atau sekedar keren.

SUSAH SINYAL (2017)

Apakah Ernest Prakasa kelelahan? Atau ia belum menemukan formula mengolah kisah di luar sentilan kultur Cina yang kali ini hanya muncul sekelebat sebagai balutan humor sesaat? Masih menggunakan perpaduan drama keluarga dan komedi "acak" serupa Ngenest dan Cek Toko Sebelah, kedua unsur tersebut sesekali tersampaikan, namun tak jarang luput dari sasaran, kurang mulus pula dikawinkan. Koneksi dengan penonton timbul tenggelam, kadang lancar, kadang terganggu. Sepertinya film ini tengah mengalami susah sinyal. 

Seperti kebanyakan drama serupa, hubungan berjarak antara orang tua dan anak film ini disebabkan urusan pekerjaan. Ellen (Adinia Wirasti), pengacara sukses sekaligus ibu tunggal, jarang meluangkan waktu bersama puterinya, Kiara (Aurora Ribero), yang lebih terikat dengan kehidupan media sosial dan sang nenek, Agatha (Niniek L Karim). Di suatu malam, sepulang kerja, Ellen berusaha terlibat pembicaraan tentang film favorit Kiara, Moana, tapi justru menyebut Lilo & Stitch. Nenekmu lebih tahu film yang kamu cintai daripada ibumu, yang notabene jarang memberi perhatian. Tentu menyakitkan. 
Alhasil, wajar Kiara amat terpukul saat nenek meninggal. Mengetahui itu, Ellen mengabulkan keinginan Kiara berlibur ke Sumba, sembari berharap menemukan sinyal yang terputus di antara mereka. Tapi liburan ke tempat di mana Asri Welas, Arie Kriting, Abdur Arsyad, Ge Pamungkas, sampai Chew Kin Wah yang menikahi Selfi KDI berkumpul, jelas takkan berlangsung normal. Ernest menyediakan panggung melucu seliar mungkin. Asri yang lebih kalem tetap mengocok perut kala memperagakan capoeira, pun Ge sebagai tokoh penuh trauma yang memfasilitasi gaya ekspresifnya. 

Keliaran komedi, yang acap kali tak terkait alur utama, berhasil sebagai bumbu penyedap dalam Cek Toko Sebelah. Susah Sinyal memunculkan kesan berbeda. Menulis naskahnya bersama sang istri, Meira Anastasia, Ernest bagai menabur bumbu terlalu banyak demi menutupi kekurangan di bahan pokok, alias alur yang tipis. Kelakar Arie dan Abdur misalnya. Menggelitik, namun seketika kehilangan daya bunuh sewaktu hadir berkepanjangan. Titik tertinggi komedi film ini terletak pada guyonan sekilas dengan kesempurnaan timing, seperti Asri Welas yang cenderung serius sehingga dampaknya berlipat ganda saat celotehan yang dinanti tiba, atau absurditas Dodit Mulyanto yang mengisi sesuai kebutuhan, tak dieksploitasi.
Ellen berharap perjalanan ke Sumba merekatkan hubungannya dengan Kiara. Kita menghabiskan sepertiga durasi di sana, melewati berbagai peristiwa, termasuk ketertarikan Kiara pada karyawan hotel bernama Abe (Refal Hady), sayangnya itu semua bukan quality time. Terlampau sering distraksi hadir, keduanya telah menemukan kembali sinyal yang terputus sebelum penonton sempat direnggut oleh gesekan yang terjadi. Film ini membawa karakternya ke Sumba, lalu seolah bingung mesti berbuat apa pada mereka. Aspek teknis pun gagal membantu, baik pilihan shot ala kadarnya (Ernest pernah melahirkan gambar luar biasa kuat berupa Chew Kin Wah bersandar di tiang toko kosong dalam Cek Toko Sebelah) maupun transisi kasar musik selaku cue emosi. 

Untungnya Susah Sinyal punya Adinia Wirasti, seorang aktris langka yang sanggup menyulap obrolan kasual jadi menarik. Bersama debut memikat Aurora Ribero dalam gaya sinis yang menjadikan ketakutan Ellen mendekatinya terasa masuk akal, Adinia menghembuskan nyawa, menghindarkan filmnya dari kehampaan total. Susah Sinyal is a step back. Tapi bukan kemunduran jauh, apalagi suguhan buruk. Ernest selalu belajar, dan itu membuat kepercayaan saya padanya tidak luntur. 

THE UNDERDOGS (2017)

The Underdogs adalah film tentang ambisi para remaja meraih kesuksesan sebagai Youtubers sekaligus menampilkan Young Lex. Sederhananya, film ini mudah dibenci bahkan oleh mereka yang tidak atau belum menonton. Walau tidak seluruhnya, saya pribadi terkadang menyimpan sentimen negatif terhadap obsesi generasi masa kini mengejar popularitas melalui kanal yang katanya lebih dari televisi ini. Dangkal. Begitu pikir saya. Sampai The Underdogs datang, menyadarkan justru keengganan saya (atau mungkin kita) menilik dari perspektif lain lah yang dangkal. 

Empat sekawan, Ellie (Sheryl Sheinafia), Dio (Brandon Salim), Bobi (Jeff Smith), dan Nanoy (Babe Cabita) merupakan korban bullying, dianggap pecundang di sekolah. Kondisi itu bertahan hingga lulus. Keinginan memperbaiki nasib terjawab pasca melihat kesuksesan S.O.L: Sandro X (Ernest Prakasa), Oscar (Young Lex), dan Lola (Han Yoo Ra), trio Youtubers yang sukses berkat video rap mereka. Terinspirasi, keempat protagonis kita mengikuti jalur serupa, membentuk channel rap memakai nama The Underdogs sambil berharap mengubah nasib di tengah beragam deraan masalah pribadi termasuk keluarga.
Naskah garapan Alitt Susanto bersama Bene Dion Rajagukguk memegang kunci. Saya (atau lagi-lagi, mungkin kita) terbiasa menganggap jajaran Youtubers terdiri atas sosok-sosok haus atensi berotak dangkal yang besar kepala pasca keberhasilan direnggut. Naskah The Underground menjelaskan betapa banyak dorongan lain. Ellie dengan pertengkaran sehari-hari orang tuanya, Bobi yang dipaksa melanjutkan pabrik tahu sang ayah atau Dio yang selalu diragukan ibunya akibat belum dianggap dewasa. Motivasi tersebut bukan saja simpatik, juga relatable. Poinnya, bisa jadi di luar sana, ada Youtubers berangkat dari alasan serupa yang terlanjur menghadapi hujatan akibat publik ogah lebih mencari tahu. 

Alurnya bergerak tak hanya rapi, pun ikut mendukung keterikatan akan karakter. Contohnya waktu Bobi menyulut perpecahan begitu The Underdogs mencapai ketenaran. Enggan berlarut-larut, sutradara Adink Liwutang secara cepat nan tepat seketika menggiring penonton menuju pemahaman tentang persoalan pribadi Bobi, menghalangi kesempatan penonton kesal kepadanya. Walau cukup disayangkan, perjalanan ke arah resolusi mengenai konflik keluarga agak terburu-buru sekaligus menggampangkan, seolah tanpa proses. Pengorbanan yang dilakukan demi memfasilitasi penyelesaian masalah lain, sebutlah persahabatan. Lalu pada konteks lebih luas terkait kultur internet, The Underdogs turut menyampaikan bagaimana media sosial dapat luar biasa bermanfaat andai dimanfaatkan tepat.
Komedinya memang bukan berisi humor yang mampu menancap di benak penonton lama seusai film berakhir, tetapi berhasil tampil konsisten. Meski hadir beruntun, gelontoran banyolan The Underdogs rutin memancing tawa atau setidaknya senyum lebar. Parodi brand atau program di sana-sini sampai nasib buruk tanpa ujung yang menimpa Babe Cabita (sekali lagi ia jago memerankan penderita kesialan akut) lebih dari cukup menjalin hiburan. Pun mencuri perhatian yakni Sheryl Sheinafia lewat banyak pembawaan deadpan hingga Dodit Mulyanto yang hobi dirapikan rambutnya sembari sesekali berkata "asu kowe". Young Lex? Well, he's just chilling out here and there.

Mengangkat kisah Youtubers yang memilih jalur video rap, sudah barang tentu The Underdogs diisi sederet nomor yang cukup menghibur telinga, khususnya lagu berlirik jenaka milik The Underdogs. Adink Liwutang tidak ketinggalan memasukkan visualisasi selaku (ceritanya) video klip lagu-lagu tersebut, menjadikan filmnya paket lengkap mengenai Youtube. Walau masih dibarengi kekurangan-kekurangan, The Underdogs di luar dugaan lebih dari menghibur, juga sanggup memancing agar bersedia menyikapi fenomena Youtubers dari sudut pandang lain yang pastinya lebih positif.


Review The Underdogs dapat dibaca juga di tautan ini