Tampilkan postingan dengan label Ernest Prakasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ernest Prakasa. Tampilkan semua postingan

REVIEW - GARA-GARA WARISAN

Melakoni debut penyutradaraannya, Muhadkly Acho (juga selaku penulis naskah, posisi yang pernah ia tempati di Kapal Goyang Kapten) mengikuti jejak Ernest Prakasa (menjabat produser film ini) sebagai komika yang mampu menggabungkan humor dengan drama keluarga menyentuh. 

Tapi Gara-Gara Warisan takkan langsung menggigit. Film ini lambat panas. Sekitar 15-20 menit pertama, saya bahkan mengira bakal pulang dengan kekecewaan. Sekuen pembukanya meletakkan pondasi bagi konflik utama, di mana kita mengunjungi Dahlan (Yayu Unru) dan Salma (Lydia Kandou), pasutri pengelola guest house dengan tiga anak. Salma mengidap kanker, lalu meninggalkan suami beserta anak-anaknya. 

Pembukaan tersebut, yang dikemas bak kumpulan fragmen, sayangnya dirangkai kurang rapi, pula kurang intim untuk bisa menghasilkan dampak emosi (seperti replikasi lebih lemah dari Up). Lalu secara bergantian kita menyambangi hidup ketiga anaknya. 

Adam (Oka Antara) si sulung, yang sejak kecil merasa tak dianggap oleh ayahnya, menikahi Rini (Hesti Purwadinata), memiliki satu putera, dan bekerja di bagian customer service. Laras (Indah Permatasari) mengabdi dengan cara mengelola panti wreda bersama Benny (Ernest Prakasa). Si bungsu yang paling dimanja, Dicky (Ge Pamungkas), adalah musisi yang lebih banyak menghabiskan waktu mengonsumsi narkoba bersama Vega (Sheila Dara), pacarnya, ketimbang bermusik.

Semua tengah kesulitan ekonomi, semua punya masalah personal dengan anggota keluarga lain. Adam merasa sang ayah hanya menyayangi Dicky, sedangkan Laras pergi dari rumah karena enggan bertemu ibu tirinya, Asmi (Ira Wibowo). Alurnya terus melompat, harus membagi waktu antar karakter karena bentuknya yang lebih dekat ke arah ensambel ketimbang fokus ke satu sosok. Bukan perkara mudah. Naskah buatan Acho cukup tertatih-tatih di fase ini. Apalagi tatkala serupa banyak produksi Starvision, departemen penyuntingan (vital di film ensambel) bekerja kurang mulus. 

Sampai Dahlan jatuh sakit, kemudian memanggil tiga anaknya, meminta mereka "berlomba" mengelola guest house. Pemenangnya bakal menjadi pimpinan baru guest house. Memasuki titik inilah Gara-Gara Warisan mulai "memanas". Meski masih membawa persoalan masing-masing, tiap tokoh bergerak ke satu tujuan, sehingga memudahkan fokus penceritaan. 

Secara alamiah pun, setelah menghabiskan beberapa waktu mengikuti karakternya, kita mulai mengenal sekaligus terhanyut dalam problematika mereka. Salah satu poin terbaik terkait penokohan naskahnya adalah, tidak ada karakter yang benar-benar patut dicaci maupun sepenuhnya suci. Kadang timbul simpati, namun ada kalanya memancing rasa benci. 

Bukan keluarga harmonis yang ingin ditampilkan, melainkan sekumpulan individu tidak sempurna, dengan beraneka ragam kelebihan/kebaikan dan kekurangan/keburukan. Tinggal bagaimana mereka dapat mengisi lubang masing-masing. Terdapat fase menarik di alurnya yang mewakili gagasan di atas, yakni ketika Adam, Laras, dan Dicky bergantian mengurus guest house. 

Adam selaku petugas customer service menekankan perihal keramahan, mengajari karyawan cara memperlakukan tamu bak raja. Laras yang sarat pengalaman mengelola panti wreda, memaparkan rencana terstruktur, termasuk soal strategi promosi. Sedangkan Dicky yang terbiasa hidup semaunya, fokus pada kebahagiaan karyawan. Ketiga perspektif tersebut sebenarnya komponen penting, yang bila disatukan, akan membentuk kesempurnaan. Sama halnya dengan esensi "bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh" dalam konteks keluarga. Sayang, poin ini tidak diberi payoff memadai. 

Di sela-sela konflik keluarga pelik miliknya, Gara-Gara Warisan menaruh humor sebagai penyegar suasana. Keempat karyawan guest house diberi tugas mengeksekusi humornya. Wiwin (Aci Resti), Ijul (Lolox), Aceng (Ence Bagus), dan Umar (Dicky Difie) sanggup menjadi scene stealer, yang kemunculannya efektif memancing tawa berkat kepiawaian cast. Belum lagi tambahan kekuatan dari beberapa cameo. 

Bagaimana dengan debut Acho di kursi penyutradaraan? Memang belum sempurna, sebab ia sendiri masih meraba-raba cara memperkuat emosi lewat pengadeganan, tanpa harus sepenuhnya bergantung pada akting pemain. Sebuah keributan besar di peralihan menuju third act, yang terasa seperti versi lebih mentah dari adegan serupa di Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, merupakan contohnya. 

Tapi Acho juga membuktikan potensinya. Di klimaks, tatkala semua (ya, semua) pemeran utama mencurahkan seluruh emosi mereka, Acho tahu mana saja gestur-gestur yang harus ditangkap kamera. Gestur-gestur yang mewakili luapan ekspresi kasih sayang antar anggota keluarga. 

Dipimpin oleh penampilan heartbreaking Yayu Unru, klimaksnya luar biasa dalam mengaduk-aduk perasaan, salah satunya karena perspektif yang ditawarkan. Entah sudah berapa banyak film keluarga kita menjustifikasi kesalahan orang tua dengan mengatasnamakan "niat baik". Gara-Gara Warisan menolak hal tersebut. Filmnya merangkul ketidaksempurnaan. Bahwa orang tua pun bisa salah. Benar-benar salah, tanpa alasan, tanpa pembenaran. Bahwa "memohon pengampunan" bukan cuma ucapan yang patut dilontarkan anak. Ada kalanya mengakui kesalahan justru membuka lembaran baru yang penuh kehangatan.

REVIEW - TEKA-TEKI TIKA

Durasi pendek tidak semestinya menyulut kekhawatiran dan pesimisme. Bisa saja sineas memilih bercerita secara to the point. Padat, singkat, sesuai kebutuhan. Sayangnya Teka-Teki Tika tidak demikian. Ketika film berdurasi hanya 83 menit terkesan kehabisan ide, artinya ide dasarnya memang sudah lemah sejak awal. 

Pasca Imperfect (2019) membawa Ernest Prakasa kembali ke performa terbaiknya, ia mengambil langkah berani dengan menjajal genre thriller misteri. Wajar. Lima film drama komedi dalam lima tahun berturut-turut rasanya memang cukup untuk melahirkan kejenuhan dan/atau ambisi mencoba warna baru. Bisa dibilang Ernest bereksperimen. Tapi sebuah eksperimen, apalagi di percobaan pertama, memang besar kemungkinan berujung kegagalan.

Walau demikian, Teka-Teki Tika sejatinya bukan eksperimen yang ekstrim. Semua nampak serius di awal. Budiman (Ferry Salim) dan Sherly (Jenny Zhang adalah penampil terbaik film ini) tengah merayakan ulang tahun pernikahan, di tengah gonjang-ganjing perusahaan mereka yang terjebak kredit macet. Si putera sulung, Arnold (Dion Wiyoko) datang bersama istrinya yang hamil sembilan bulan, Laura (Eriska Rein), sementara Andre (Morgan Oey) si putera kedua, membawa kekasih barunya, Jane (Tansri Kemala). 

Jane merupakan alasan mengapa saya menyebut ini bukan eksperimen yang ekstrim. Fungsi Jane cuma satu: comic relief. Seolah ia eksis guna mengingatkan pada penonton, bahwa kita sedang menonton karya Ernest. Tansri melakoni debutnya dengan gemilang, selalu memancing tawa lewat kepolosannya (kalau tak mau disebut "kebodohan"), tapi beberapa humor muncul di waktu kurang tepat, sehingga menciptakan inkonsistensi tone. 

Inkonsisten, namun menghibur. Itulah paruh awal Teka-Teki Tika, pasca kemunculan tiba-tiba Tika (Sheila Dara), yang mengaku sebagai puteri hasil perselingkuhan Budiman. Ernest menggerakkan tempo secara cepat, sembari melempar satu demi satu fakta mengejutkan mengenai rahasia kelam Keluarga Budiman. Tempo cepat itu meniadakan eksplorasi karakter, juga mendangkalkan pendalaman terkait kritik terhadap praktek korupsi serta sentilan bagi pelaku perselingkuhan yang reputasinya telah cacat di mata pasangan, tetapi efektif menjaga atensi penonton, yang terus dibuat ingin tahu jati diri beserta motivasi Tika sesungguhnya.

Dari segi artistik, Teka-Teki Tika justru pencapaian terbaik Ernest, yang biasanya cuma fokus pada pengolahan cerita, lalu melupakan tetek bengek sinematik. Desain produksinya memanjakan mata, pewarnaan gambarnya lebih diperhatikan, musiknya pun tergarap apik meski mengikuti pola klise scoring bagi genre misteri. 

Masalahnya, memasuki pertengahan, makin kentara kalau Ernest kesulitan mengembangkan misterinya. Hasilnya adalah setumpuk momen filler yang tak memberi dampak apa pun, baik pada penokohan maupun penceritaan. Semisal obrolan Andre dan Jane yang cuma berisi banyolan-banyolan tak perlu nan berkepanjangan. 

Tapi kejatuhan sebenarnya dari film ini baru terjadi saat memasuki paruh akhir. Momen "pengungkapan" yang semestinya merupakan puncak untuk film semacam ini, tampil datar akibat lemahnya pembangunan intensitas dalam pengadeganan Ernest. Setelah satu jam lebih disuguhi konflik yang melibatkan intrik pelik bahkan usaha pembunuhan, misteri ditutup oleh ucapan "Yaah, sebenarnya saya....." dari mulut protagonisnya, yang lebih terdengar seperti pengakuan atas hal sepele. 

Kemudian Teka-Teki Tika memberikan epilog, yang biarpun menampilkan sesosok cameo luar biasa menarik, bergulir terlalu lama, sekaligus bak berasal dari film berbeda. Jika ini "petunjuk" bahwa kelak Ernest ingin mencoba genre aksi, saya amat menantikan itu. Teka-Teki Tika memang buruk, tapi saya takkan berkata, "Sebaiknya Ernest membuat komedi saja". Karena sewaktu eksperimen berhenti gara-gara satu kegagalan, maka usaha perdana itu jadi sia-sia. 

IMPERFECT (2019)

Setelah Susah Sinyal lalu Milly & Mamet yang merupakan penurunan dibanding dua karya perdananya meski tetep digarap baik, Ernest Prakasa kembali pada performa terbaiknya melalui Imperfect selaku adaptasi novel berjudul sama karya sang istri, Meira Anastasia, yang di sini turut berperan sebagai penulis naskah sekaligus co-director. Membahas persoalan sensitif perihal standar kecantikan, filmnya bijak menyikapi kompleksitas isu tersebut, mengambil lebih dari satu perspektif, mengambil jalan tengah tanpa perlu terkesan main aman dengan tetap menyediakan solusi berupa, “Berusahalah menjadi versi terbaik dirimu”.

Melalui sekuen pembuka yang memperlihatkan sensitivitas bertutur Ernest dan Meira, kita melihat bagaimana sejak kecil, Rara (Jessica Mila) sudah jadi korban body shaming, bahkan oleh sang ibu, Debby (Karina Suwandi) yang di masa mudanya merupakan seorang model. Ketika adiknya, Lulu (Yasmin Napper) banyak dipuji karena paras ayu serta tubuh langsing yang menurun dari Debby, Rara lebih mirip ayahnya, Hendro (Kiki Narendra) yang bertubuh tambun, berkulit gelap, dan berambut ikal. Begitu Hendro meninggal, Rara merasa sendirian, dan cokelat selalu jadi pelarian tiap dibuat kesal oleh komentar pedas atau paksaan diet dari Debby.

Di kantor kondisinya tidak jauh beda. Rara hanya memiliki Fey (Shareefa Daanish), si gadis berpenampilan tomboi serba hitam sebagai teman. Setidaknya keberadaan Dika (Reza Rahadian), si fotografer tampan kekasih Rara, kerap jadi penawar kepahitan. Di depan Dika, Rara bisa menjadi dirinya sendiri yang daripada kesempurnaan fisik, lebih memedulikan kebaikan hati, sebagaimana ia perlihatkan kala secara sukarela mengajar anak-anak asuhan Bu Siska (Asri Welas) yang tinggal di pemukiman kumuh. Sampai peluang meningkatkan karir tiba, ketika bos Rara, Kelvin (Dion Wiyoko) menawarinya kenaikan jabatan, dengan syarat, Rara mau mengubah penampilannya.

Pertama, pemilihan pemain Ernest dan Meira (tentunya berkat jasa casting director pula) patut diacungi jempol. Imperfect menyajikan ensemble cast yang bukan asal ramai, tapi masing-masing nama, sekecil apa pun perannya, sempurna melakoni tiap peran. Di jajaran pendukung, Karina Suwandi bukan semata sosok ibu kejam; Yasmin Napper adalah akrtis muda yang saya pastikan takkan lama lagi mendapat peran utama di film remaja; Boy William seolah ditakdirkan memerankan George, kekasih Lulu sekaligus “selebgram dangkal”; sedangkan Shareefa Daanish  bisa jadi menemukan angin kedua di karirnya melalui kejenakaan yang sebelumnya baru pernah ia perlihatkan di sinetron.

Para pencuri perhatian lainnya adalah Kiky Saputri (sebagai Neti), Zsazsa Utari (sebagai Maria), Aci Resti (sebagai Prita), dan Neneng Wulandari (sebagai Endah), yang jadi ujung tombak elemen humor, menjadikan ini film terlucu Ernest. Tentu pondasinya memang sudah kuat, pun Imperfect memiliki kelucuan yang terasa “paling Ernest” terkait ketajamannya. Dari Yesus hingga jenazah dijadikan materi. Dan kali ini tidak ada kesan acak, sebab kuartet gadis di atas juga merasakan kegelisahan seputar fisik, memberi benang merah kuat dengan konflik utamanya.

Sementara kedua pemain utamanya tidak kalah bersinar. Tidak perlu banyak membahas Reza Rahadian. Pidato sambutan acara kecamatan pun bisa dikemas dinamis dan menarik olehnya. Jessica Mila, yang sepertinya juga menambah beberapa kilogram berat badannya selain memakai fat suit sehingga transformasi karakternya kelak terkesan natural, mampu membuat kita mendukung Rara mencapai impiannya, bahkan sewaktu ia “tersesat” sekalipun. Romansa mereka merupakan kunci. Reza dan Jessica menghadirkan chemistry yang memudahkan kita percaya, bahwa romantika Dika dan Rara adalah ketulusan yang didasari ketertarikan terhadap inner beauty.

Permainan flow Ernest pun meningkat dibanding keempat film sebelumnya. Tidak ada lagi lompatan kasar dan adegan minim signifikansi yang dipaksa masuk di sela-sela penceritaan (sebenarnya masalah ini rutin muncul di film produksi Starvision). Satu-satunya ganjalan adalah lemahnya departemen tata suara yang kerap mengakibatkan kata-kata dari mulut pemain sukar didengar. Pun seperti telah disebut di awal, sensitivitas pengarahan Ernest dan Meira sungguh kuat, yang membantu terciptanya keintiman emosional di adegan berlatar keluarga, pula pemandangan uplifting jelang akhir yang memantapkan status Imperfect kepada perayaan atas kecantikan dalam ketidaksempurnaan.

Imperfect semakin layak diapresiasi atas kedalaman eksplorasi isunya. Benar bahwa mereka yang kerap disebut “buruk rupa” mengalami ketidakadilan, namun bukan berarti keindahan paras otomatis memuluskan hidup pemiliknya. Konflik kakak beradik Rara dan Lulu membuktikan itu. Dari konflik itu pula lahir salah satu kalimat favorit saya di film ini: “Ngapain mikir omongan orang, orangnya aja nggak mikirin omongannya sendiri”. Lugas. Menusuk. Tepat sasaran dalam menyentil kultur toxic media sosial dewasa ini.

Tidak ada yang disalahkan (maupun dibenarkan sepenuhnya) di sini. Debby punya alasan mengkritik Rara, pun bukan kesalahan kala akhirnya memutuskan berubah. Karena itu hidup dia, tubuh dia, hak dia. Menjadi sebuah kesalahan ketika bukan cuma fisik, jati diri ikut diubah secara terpaksa demi beragam tuntutan sosial. Saat itulah selain berat badan, harta-harta berharga (baca: sosok-sosok tercinta) dalam hidup juga hilang.

GHOST WRITER (2019)

Apa yang lebih susah dari membuat komedi lucu? Membuat komedi lucu bertema unik seraya membangun humor sepanjang film berdasarkan tema tersebut. Debut penyutradaraan layar lebar Bene Dion Rajagukguk—sebelumnya menulis naskah dwilogi Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss!, Stip & Pensil, Suzzanna: Bernapas dalam Kubur—ini mampu melaksanakan tugas berat tersebut.

Sesungguhnya, dalam lingkup perfilman, konsep pertemanan atau romansa dua dunia jauh dari kesan baru. Baik vampir, monster, alien, zombie, sampai hantu, semua pernah menjalani hubungan dengan karakter manusia. Tapi Ghost Writer menyimpan kesegaran tersendiri berkat premisnya: What if your ghost writer is a real ghost?

Alkisah, Naya (Tatjana Saphira) adalah penulis yang tengah melalui masa sulit, meski membiayai hidupnya dan sang adik, Darto (Endy Arfian) selepas meninggalnya kedua orang tua. Pasca kesuksesan karya perdananya, ia belum juga menerbitkan novel baru. Alasannya, ia enggan menjual idealisme, menolak pendekatan opera sabun sebagaimana ditawarkan penerbitnya. Naya memang idealis bergengsi tinggi. Walau terhimpit urusan finansial, ia menolak bantuan kekasihnya, Vino (Deva Mahenra) dan ngotot memasukkan Darto ke sekolah bergengsi.

Itulah mengapa ia tak pikir dua kali kala menemukan rumah besar berharga murah. Sebaliknya, Darto curiga harga murah tersebut dikarenakan rumah itu angker. Naya bersikap skeptis menanggapi ketakutan Darto, namun setelah ia mengambil buku harian di loteng lalu berniat menjadikannya sebuah novel, peristiwa-peristiwa mistis mulai menimpanya. Rupanya buku itu milik hantu bernama Galih (Ge Pamungkas) yang meninggal bunuh diri di sana. Nasib tragis Galih menarik atensi penerbit, tapi si hantu menolak rencana mengangkat kisah hidupnya ke dalam novel.

Meski sempat takut, perlahan Naya mulai akrab dengan Galih, berusaha meminta persetujuannya, bahkan menawari posisi sebagai ghost writer. Serupa konsep Death Note Naya bisa melihat dan menyentuh Galih selama ia memegang buku harian tersebut. Hubungan keduanya menggemaskan, penuh kecanggungan menggelitik berkat kecerdikan naskah garapan Bene bersama Nonny Boenawan dalam mengimajinasikan interaksi kasual antara sosok hidup dan mati.

Penampilan dua pemeran utama juga banyak membantu, menghantarkan humor lewat gaya yang mencerminkan kondisi masing-masing karakter. Jika Tatjana begitu hidup, penuh semangat serta antusiasme, dan terkadang tidak tahu malu, Ge memaksimalkan metode deadpan. Kata-kata selalu meluncur dari mulut Naya, dan seringkali ucapan anehnya membuat Galih kehabisan kata. Kekontrasan-kekontrasan itu melengkapi dinamika kedua tokoh utama. Di luar lingkup Naya-Galih, naskahnya tetap konsisten melempar banyolan bertema hantu dan kematian. Contohnya melalui Abdul (Muhadkly Acho) dan Iwan (Arie Kriting), dua karyawan di kantor tempat Naya menerbitkan novelnya, yang tidak pernah jemu berdebat perihal mistis.

Selain penulisan cerdik, penyutradaraan Bene turut berjasa menambah kadar kelucuan. Mengawali karir sebagai komika membuktikan pemahaman Bene soal timing, yang nampak betul dalam caranya menyusun aliran adegan. Belum seluruhnya mulus, tapi secara umum, Bene tahu bagaimana agar saat suatu adegan berakhir, ada rasa penasaran tertinggal di benak penonton. Kita dipancing bertanya, “Kelucuan apa yang sedang menanti?”, sebelum melontarkan jawaban yang dibungkus ketepatan timing. Sayang, kebolehan serupa urung ditemukan kala ia mengarahkan situasi horor, yang mayoritas hadir medioker.

Kekurangan paling nyata dalam Ghost Writer sejatinya merupakan elemen yang kerap ditemukan pada produksi Starvision kebanyakan: Filmnya tampak murah. Misalnya riasan hantu yang kerap kurang merata. Benar bahwa Galih adalah hantu jenaka, tapi sumber kejenakaan itu tak seharusnya bersumber dari tata rias buruk. Berikutnya terkait transisi kasar antara adegan, sebuah penyakit yang bahkan gagal dihindari film-film kelas satu milik Starvision, semisal Cek Toko Sebelah.

Ghost Writer bermula ketika Ernest Prakasa (bertindak selaku produser di sini) membaca sinopsis buatan Nonny Boenawan, peserta kelas penulisan skenario yang ia adakan. Ernest langsung terpikat. Wajar saja, sebab ide Nonny memang brilian. Dan begitu sinopsis tadi berkembang menjadi film, terbukti betapa teknis murah tetap tak kuasa membendung kreativitas kaya.

MILLY & MAMET (2018)

Kunci untuk menikmati Milly & Mamet sederhana saja. Jangan mengharapkan suksesor mumpuni seperti Ada Apa Dengan Cinta 2 (2016), apalagi romansa legendaris yang tak lekang oleh zaman macam Ada Apa Dengan Cinta? (2001). Ini adalah hiburan sekali waktu, di mana alih-alih beradaptasi dengan dunia AADC, Ernest Prakasa selaku sutradara dan penulis naskah bersama sang istri, Meira Anastasia, membawa film ini menuju dunia khasnya sendiri. Di situ, romantika bukanlah dongeng, melainkan penggambaran kehidupan di sekitar kita, hanya saja ditambah banyak tebaran ranjau komedi.....sangat banyak.

Adegan pembukanya bertempat di sela-sela film pertama dan kedua, ketika di sebuah reuni, Mamet (Dennis Adhiswara) bertemu Milly (Sissy Prescillia) dan ketiga sahabatnya: Cinta (Dian Sastrowardoyo), Karmen (Adinia Wirasti), Maura (Titi Kamal). Sekuen ini berfungsi dengan baik untuk menunjukkan mengapa Mamet—meski bukan termasuk pria tampan—mampu mencuri hati Milly lewat kebaikan hati serta kejenakaan yang memberi kenyamanan. Sebuah momen “kecil”, namun Ernest bisa meniupkan magisnya romantisme saat dua insan menyadari berseminya cinta lewat peristiwa sederhana.

Beberapa tahun berselang, keduanya telah menikah dan memiliki seorang bayi. Milly menjadi ibu rumah tangga, sementara Mamet bekerja di pabrik konveksi milik mertua (Roy Marten), mengubur impian menjadi chef demi menghidupi keluarga. Tapi kebahagiaan Mamet kurang utuh karenanya. Sampai Alex (Julie Estelle), kawannya semasa kuliah, datang mengajaknya membuka restoran bermodalkan suntikan uang sang kekasih, James (Yoshi Sudarso). Hasrat Mamet meraih mimpi pun membara lagi.

Tercapainya impian Mamet rupanya bukan akhir permasalahan. Sebaliknya, itulah permulaan masalah baru. Mamet bisa melakukan hal yang ia cintai, tapi bagaimana dengan sang istri? Dari sinilah elemen dramatik film ini mencapai titik terbaik. Walau dipresentasikan secara sederhana, konfliknya cukup efektif mengingatkan kita betapa pernikahan bukan hubungan satu arah di mana seseorang cuma memikirkan kebahagiannya sendiri.

Semakin sibuk Mamet di restoran, semakin kesepian pula Milly. Ditambah kerepotan mengurus buah hati, hidupnya bertambah melelahkan sekaligus membosankan. Tapi begitu Milly mengutarakan niat bekerja di luar (menggantikan posisi Mamet di pabrik ayahnya), Mamet melarang. “Siapa yang mengurus anak?”, tanyanya, sebelum melontarkan kalimat paling menohok, “Hal terbaik yang bisa kamu lakuin sekarang adalah di rumah jaga anak!”. Pada titik ini Mamet menjadi orang yang tidak ia suka, yang selama ini melucuti kebahagiaannya: si ayah mertua.  

Konflik tersebut menyimpan relevansi dengan problematika pernikahan sembari menyinggung perihal hak perempuan, yang sayangnya, hanya berupa paparan permukaan. Konklusinya pun terlalu mengandalkan faktor eksternal sebagai solusi masalah dua tokoh utama, serta terkesan melakukan simplifikasi khususnya terkait pertikaian Mamet dengan sang mertua. Setidaknya, elemen dramanya bekerja cukup baik berkat solidnya Sissy bermain emosi. Walau Dennis perlu memperbaiki akting dramatiknya, ia masih piawai melakoni sisi keluguan serta kebaikan hati Mamet. Chemistry keduanya jelas tidak perlu diragukan. Mereka membuat dua titular character tetap menonjol meski dikelilingi banyak tokoh pendukung.

Seperti sudah disebutkan, tersebar begitu banyak ranjau komedi. Faktanya, hampir seluruh karakter pendukung bertugas melucu kecuali Julie Estelle, Surya Saputra, dan Roy Marten. Bahkan Yoshi turut mendapat suatu running gag yang untungnya cukup menggelitik. Alhasil, mudah menebak ketika seseorang hendak melontarkan banyolan, bahkan sebelum ia buka mulut. Mayoritas humor berada dalam lingkup permainan kata, saling ejek dengan celetukan-celetukan absurd khas para komika, atau ketidakmampuan karakternya memahami istilah “rumit” (mojito, dan lain-lain). Seiring durasi bergulir dan semakin banyak lelucon setipe dilontarkan, daya bunuhnya makin berkurang. Hasil akhirnya hit-and-miss.

Apalagi, serupa Susah Sinyal (2017), Ernest lagi-lagi memakai teknik “senapan mesin” bagi penghantaran komedinya, membombardir penonton lewat humor sesering mungkin, berharap beberapa mendarat di sasaran. Beruntung, sewaktu tepat sasaran, efeknya tidak main-main. Saya tidak terkejut ketika Dinda Kanyadewi kembali unjuk gigi memerankan karakter absurd, namun lain cerita dengan Isyana Sarasvati sebagai sekretaris aneh (dengan hewan peliharaan tak kalah aneh). Isyana sanggup mengangkangi komedian-komedian yang jauh lebih senior dalam debut layar lebarnya, bersinar lebih terang, bahkan dibanding keseluruhan filmnya.

SUSAH SINYAL (2017)

Apakah Ernest Prakasa kelelahan? Atau ia belum menemukan formula mengolah kisah di luar sentilan kultur Cina yang kali ini hanya muncul sekelebat sebagai balutan humor sesaat? Masih menggunakan perpaduan drama keluarga dan komedi "acak" serupa Ngenest dan Cek Toko Sebelah, kedua unsur tersebut sesekali tersampaikan, namun tak jarang luput dari sasaran, kurang mulus pula dikawinkan. Koneksi dengan penonton timbul tenggelam, kadang lancar, kadang terganggu. Sepertinya film ini tengah mengalami susah sinyal. 

Seperti kebanyakan drama serupa, hubungan berjarak antara orang tua dan anak film ini disebabkan urusan pekerjaan. Ellen (Adinia Wirasti), pengacara sukses sekaligus ibu tunggal, jarang meluangkan waktu bersama puterinya, Kiara (Aurora Ribero), yang lebih terikat dengan kehidupan media sosial dan sang nenek, Agatha (Niniek L Karim). Di suatu malam, sepulang kerja, Ellen berusaha terlibat pembicaraan tentang film favorit Kiara, Moana, tapi justru menyebut Lilo & Stitch. Nenekmu lebih tahu film yang kamu cintai daripada ibumu, yang notabene jarang memberi perhatian. Tentu menyakitkan. 
Alhasil, wajar Kiara amat terpukul saat nenek meninggal. Mengetahui itu, Ellen mengabulkan keinginan Kiara berlibur ke Sumba, sembari berharap menemukan sinyal yang terputus di antara mereka. Tapi liburan ke tempat di mana Asri Welas, Arie Kriting, Abdur Arsyad, Ge Pamungkas, sampai Chew Kin Wah yang menikahi Selfi KDI berkumpul, jelas takkan berlangsung normal. Ernest menyediakan panggung melucu seliar mungkin. Asri yang lebih kalem tetap mengocok perut kala memperagakan capoeira, pun Ge sebagai tokoh penuh trauma yang memfasilitasi gaya ekspresifnya. 

Keliaran komedi, yang acap kali tak terkait alur utama, berhasil sebagai bumbu penyedap dalam Cek Toko Sebelah. Susah Sinyal memunculkan kesan berbeda. Menulis naskahnya bersama sang istri, Meira Anastasia, Ernest bagai menabur bumbu terlalu banyak demi menutupi kekurangan di bahan pokok, alias alur yang tipis. Kelakar Arie dan Abdur misalnya. Menggelitik, namun seketika kehilangan daya bunuh sewaktu hadir berkepanjangan. Titik tertinggi komedi film ini terletak pada guyonan sekilas dengan kesempurnaan timing, seperti Asri Welas yang cenderung serius sehingga dampaknya berlipat ganda saat celotehan yang dinanti tiba, atau absurditas Dodit Mulyanto yang mengisi sesuai kebutuhan, tak dieksploitasi.
Ellen berharap perjalanan ke Sumba merekatkan hubungannya dengan Kiara. Kita menghabiskan sepertiga durasi di sana, melewati berbagai peristiwa, termasuk ketertarikan Kiara pada karyawan hotel bernama Abe (Refal Hady), sayangnya itu semua bukan quality time. Terlampau sering distraksi hadir, keduanya telah menemukan kembali sinyal yang terputus sebelum penonton sempat direnggut oleh gesekan yang terjadi. Film ini membawa karakternya ke Sumba, lalu seolah bingung mesti berbuat apa pada mereka. Aspek teknis pun gagal membantu, baik pilihan shot ala kadarnya (Ernest pernah melahirkan gambar luar biasa kuat berupa Chew Kin Wah bersandar di tiang toko kosong dalam Cek Toko Sebelah) maupun transisi kasar musik selaku cue emosi. 

Untungnya Susah Sinyal punya Adinia Wirasti, seorang aktris langka yang sanggup menyulap obrolan kasual jadi menarik. Bersama debut memikat Aurora Ribero dalam gaya sinis yang menjadikan ketakutan Ellen mendekatinya terasa masuk akal, Adinia menghembuskan nyawa, menghindarkan filmnya dari kehampaan total. Susah Sinyal is a step back. Tapi bukan kemunduran jauh, apalagi suguhan buruk. Ernest selalu belajar, dan itu membuat kepercayaan saya padanya tidak luntur. 

THE UNDERDOGS (2017)

The Underdogs adalah film tentang ambisi para remaja meraih kesuksesan sebagai Youtubers sekaligus menampilkan Young Lex. Sederhananya, film ini mudah dibenci bahkan oleh mereka yang tidak atau belum menonton. Walau tidak seluruhnya, saya pribadi terkadang menyimpan sentimen negatif terhadap obsesi generasi masa kini mengejar popularitas melalui kanal yang katanya lebih dari televisi ini. Dangkal. Begitu pikir saya. Sampai The Underdogs datang, menyadarkan justru keengganan saya (atau mungkin kita) menilik dari perspektif lain lah yang dangkal. 

Empat sekawan, Ellie (Sheryl Sheinafia), Dio (Brandon Salim), Bobi (Jeff Smith), dan Nanoy (Babe Cabita) merupakan korban bullying, dianggap pecundang di sekolah. Kondisi itu bertahan hingga lulus. Keinginan memperbaiki nasib terjawab pasca melihat kesuksesan S.O.L: Sandro X (Ernest Prakasa), Oscar (Young Lex), dan Lola (Han Yoo Ra), trio Youtubers yang sukses berkat video rap mereka. Terinspirasi, keempat protagonis kita mengikuti jalur serupa, membentuk channel rap memakai nama The Underdogs sambil berharap mengubah nasib di tengah beragam deraan masalah pribadi termasuk keluarga.
Naskah garapan Alitt Susanto bersama Bene Dion Rajagukguk memegang kunci. Saya (atau lagi-lagi, mungkin kita) terbiasa menganggap jajaran Youtubers terdiri atas sosok-sosok haus atensi berotak dangkal yang besar kepala pasca keberhasilan direnggut. Naskah The Underground menjelaskan betapa banyak dorongan lain. Ellie dengan pertengkaran sehari-hari orang tuanya, Bobi yang dipaksa melanjutkan pabrik tahu sang ayah atau Dio yang selalu diragukan ibunya akibat belum dianggap dewasa. Motivasi tersebut bukan saja simpatik, juga relatable. Poinnya, bisa jadi di luar sana, ada Youtubers berangkat dari alasan serupa yang terlanjur menghadapi hujatan akibat publik ogah lebih mencari tahu. 

Alurnya bergerak tak hanya rapi, pun ikut mendukung keterikatan akan karakter. Contohnya waktu Bobi menyulut perpecahan begitu The Underdogs mencapai ketenaran. Enggan berlarut-larut, sutradara Adink Liwutang secara cepat nan tepat seketika menggiring penonton menuju pemahaman tentang persoalan pribadi Bobi, menghalangi kesempatan penonton kesal kepadanya. Walau cukup disayangkan, perjalanan ke arah resolusi mengenai konflik keluarga agak terburu-buru sekaligus menggampangkan, seolah tanpa proses. Pengorbanan yang dilakukan demi memfasilitasi penyelesaian masalah lain, sebutlah persahabatan. Lalu pada konteks lebih luas terkait kultur internet, The Underdogs turut menyampaikan bagaimana media sosial dapat luar biasa bermanfaat andai dimanfaatkan tepat.
Komedinya memang bukan berisi humor yang mampu menancap di benak penonton lama seusai film berakhir, tetapi berhasil tampil konsisten. Meski hadir beruntun, gelontoran banyolan The Underdogs rutin memancing tawa atau setidaknya senyum lebar. Parodi brand atau program di sana-sini sampai nasib buruk tanpa ujung yang menimpa Babe Cabita (sekali lagi ia jago memerankan penderita kesialan akut) lebih dari cukup menjalin hiburan. Pun mencuri perhatian yakni Sheryl Sheinafia lewat banyak pembawaan deadpan hingga Dodit Mulyanto yang hobi dirapikan rambutnya sembari sesekali berkata "asu kowe". Young Lex? Well, he's just chilling out here and there.

Mengangkat kisah Youtubers yang memilih jalur video rap, sudah barang tentu The Underdogs diisi sederet nomor yang cukup menghibur telinga, khususnya lagu berlirik jenaka milik The Underdogs. Adink Liwutang tidak ketinggalan memasukkan visualisasi selaku (ceritanya) video klip lagu-lagu tersebut, menjadikan filmnya paket lengkap mengenai Youtube. Walau masih dibarengi kekurangan-kekurangan, The Underdogs di luar dugaan lebih dari menghibur, juga sanggup memancing agar bersedia menyikapi fenomena Youtubers dari sudut pandang lain yang pastinya lebih positif.


Review The Underdogs dapat dibaca juga di tautan ini 

STIP & PENSIL (2017)

Negeri ini masih bodoh. Kalau cerdas, mana mungkin masyarakatnya dapat digiring persepsinya melalui pembodohan atas nama agama. Tapi di mana akar permasalahannya? Melalui naskahnya, Joko Anwar menyiratkan bahwa semua berasal dari dasar saat kita masih belajar baca tulis bermodalkan stip dan pensil. Bahwa segala kesempitan akal, kebodohan, rasialisme, pola pikir yang mendahulukan perut daripada otak, disebabkan minimnya ketersediaan pendidikan layak sedari dini. Di tengah banyolan-banyolan, Stip & Pensil coba menghadirkan relevansi atas gambaran negeri kita tercinta ini. 

Menarik kala banyak pihak mengatasnamakan hak asasi lalu membela rakyat kecil, menyalahkan orang berduit dan pemerintah, Joko memancing jalannya nalar penonton dalam memandang sebuah kondisi. Bagaimana jika sinisme pada orang kaya menutupi objektivitas kita? Bagaimana jika pemerintah telah melakukan tindakan tepat sesuai hukum tapi kita dibutakan perasaan, begitu saja membela rakyat miskin yang sejatinya juga keliru? Tengok empat protagonis film ini, Toni (Ernest Prakasa), Bubu (Tatjana Saphira), Saras (Indah Permatasari), dan Aghi (Ardit Erwandha), sekelompok siswa SMA kaya yang mengeksklusifkan diri, egois, nihil kepedulian. Setidaknya itu menurut teman-teman satu sekolah mereka.
Kesampingkan setting sekolahnya, terdapat cerminan masyarakat kita secara umum. Edwin (Rangga Azof) dan teman-teman menganggap diri paling benar serta memandang orang lain dari kulit luar. Sementara Richard (Aditya Alkatiri) si YouTuber/jurnalis dadakan bak media yang enggan meninjau fakta, seenak jidat mewartakan cerita. Ingin melenyapkan stigma negatif itu, Toni dan kawan-kawan mengikuti lomba esai nasional bertema "sosial masyarakat", bersaing dengan kelompok Edwin yang menganggap langkah itu bentuk cari muka belaka. Sebaliknya, karena merasa tema Edwin dangkal, keempat protagonis kita memutuskan terjun ke lapangan membangun sekolah darurat untuk anak-anak di perkampugan kumuh, bukti kinerja nyata, bukan omong belaka. Ketika kini topik politik tengah terangkat, tentu anda familiar dengan berbagai penokohan itu.

Sejak dulu Joko Anwar memang ahli mengawinkan aspek-aspek naskahnya (karakter, konflik) dalam porsi kecil sekalipun dengan kondisi negeri ini. Caranya subtil. Sekilas hanya paparan fiktif, namun sesungguhnya cerminan realita. Salah satu yang paling menggelitik sekaligus menampar di sini adalah kala warga kampung bergunjing soal Koko Salim, seorang etnis Cina penjual mie ayam. Di akhir pembicaraan, Mak Rambe (Gita Bhebhita) bertanya pada ketua kampung, Pak Toro (Arie Kriting), apakah Ko Salim merupakan warga setempat. Obrolan tersebut tentu merujuk kepada perdebatan tentang pribumi/pendatang yang belakangan sedang memanas. Stip & Pensil bagai mengandung easter eggs berisi kumpulan isu-isu di Indonesia. 
Sindiran-sindirannya komikal, membaur dengan komedi berupa kejenakaan tokoh-tokohnya yang lagi-lagi kerap menyentil sekelompok kalangan tertentu. Turut mendapat kontribusi Ernest Prakasa dan Bene Dion Rajagukguk (Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1), naskahnya cerdik merangkai humor playful berbasis absurditas situasi maupun tingkah karakter. Piawai pula sutradara Ardy Octaviand (3 Dara, Coklat Stroberi) membangun kelucuan, termasuk memaksimalkan penggunaan musik garapan Aghi Narottama seperti saat keempat protagonis berusaha meminta kembali kursi sekolah mereka dari pemilik warung yang diperankan Yati Surachman. 

Di jajaran cast, Indah Permatasari dan Tatjana Saphira  selaku dua sosok berlawanan  mencuri spotlight. Saras paling ekspresif dibandingkan teman-temannya, dan melihat Indah bertingkah "brutal" saat tak ragu menghantam objek amarah dengan kursi serta totalitas ekspresi besar (baca: lebay) guna menyikapi kekonyolan di sekitarnya sungguh memuaskan. Sebaliknya, Bubu adalah "si bodoh" dalam kelompok, kerap terlambat memahami sesuatu, mendadak berbuat aneh semisal bernyanyi Yamko Rambe Yamko, sampai memasang raut clueless. Kepolosan wajah Tatjana sempurna mewakili ciri-ciri tersebut. 

Kembali ke naskah, sayangnya Joko gagal menawarkan proses memuaskan menuju konklusi beberapa problematika utama. Stip & Pensil berakhir dengan gambaran ideal masyarakat, tapi lalai menjabarkan proses ke sana. (Spoiler Alert) Selain perubahan sikap instan para antagonis, ada kelemahan soal tuturan tentang relokasi (atau penggusuran terserah pandangan anda). Benar bahwa ada keluhan karakter Yati Surachman soal air, gambaran kampung kumuh, sampai buruknya fasilitas pendidikan, namun semua itu bukan pemicu kesediaan karakter direlokasi. Proses pemahaman warga ditiadakan, langsung melompat ke konklusi, menciptakan pergerakan alur luar biasa kasar. Jika itu bentuk kesengajaan selaku sindiran ("mereka protes karena terlanjur menutup mata dan menolak memahami") terhadap sikap warga antara pra dan pasca relokasi, maka kelemahan terletak pada kurang mampunya Ardy Octaviand merangkai dua sisi kontras itu secara rapi agar mampu menggelitik. 

COMIC 8: CASINO KINGS PART 2 (2016)

Saya bukan penggemar franchise buatan Anggy Umbara ini. Baik Comic 8 maupun Casino Kings Part 1 sama-sama gagal memaksimalkan potensi kehadiran banyak komika kelas wahid guna memberi sajian komedi mengocok perut. Permasalahan terbesar ada pada keengganan franchise ini mengakui kebodohannya dan tetap berusaha keras tampil sekeren juga secerdas mungkin menghantarkan alur penuh intrik. Karena itulah menjelang perilisan Casino Kings Part 2, saya tidak lagi menyimpan harapan terlampau besar. Memang begini gaya Anggy Umbara, memang seperti ini wajah franchise-nya. Hingga tanpa diduga filmnya justru cukup memuaskan, bahkan menjadi yang terbaik di antara ketiga film Comic 8.

Melanjutkan kisah film sebelumnya, Casino Kings Part 2 tidak banyak berbasa-basi, langsung membawa penonton terjun ke tengah medan aksi. Bukan saja terjebak di tengah hutan, kedelapan komika masih harus menghadapi para pemburu yang diperankan oleh aktor-aktor senior tanah air (kecuali Sacha Stevenson dan Soleh Solihun). Sementara itu Indro dan Cynthia (Prisia Nasution) mendapat serangan dari anak buah The King (Sophia Latjuba). The King sendiri mulai mengungkap identitas sebenarnya pada Dr. Pandji (Pandji Pragiwaksono). Sebagaimana kasus lain di mana chapter akhir sebuah franchise dipecah ke dalam dua bagian, Casino Kings Part 2 memang didominasi aksi klimaks dan sedikit meminggirkan alur, yang justru merupakan nilai positif.
Menengok dua film sebelumnya, naskah karya Fajar Umbara dan Anggy Umbara memang terlalu berambisi menggabungkan segunung konflik berisi konspirasi penuh twist dengan hanya satu tujuan: mengejutkan penonton tanpa peduli masuk akal atau tidak. Sesungguhnya bukan masalah andai filmnya memang sengaja dikemas bodoh layaknya b-movie kebanyakan. Namun Comic 8 jelas ingin tampak keren dan dianggap serius. Pada Casino Kings Part 2 meski aspek tersebut masih muncul, fokus lebih condong ke arah aksi, yang mana merupakan keunggulan Anggy Umbara ('3' sudah jadi bukti). Sesungguhnya ini hal kecil karena tidak terdapat perbedaan signifikan pada cara penghantaran film ini dengan pendahulunya. Masih penuh sesak oleh lens flare, efek CGI kasar (untuk buaya dan naga), serta slow motion. Walau harus diakui departemen artistik khususnya setting dan kostum masih memanjakan mata.
Hal kecil itu jadi berpengaruh besar tatkala alurnya dinomorduakan. Minim intrik, Casino Kings Part 2 menjelma seutuhnya sebagai b-movie bodoh nan menyenangkan. Karena bagai film kelas b, saya bisa memaafkan buruknya CGI atau kejutan konyol semisal pengungkapan identitas asli dari The King. Kekonyolan itu justru menjadi kekuatan. Termasuk ketika filmnya membuat Prisia Nasution, Hannah Al-Rashid dan Sophia Latjuba sebagai femme fatale sekaligus eye candy. Sentuhan komedi juga tidak dipaksakan hadir setiap saat. Sibuk dengan action, lelucon sekedar muncul sesekali, memberi waktu bagi penonton untuk bernafas sejenak. Kekuatan komedi masih belum mencapai puncak potensi (referensi The Raid sudah ketinggalan jaman) dan makin minimnya eksplorasi karakter tambah mengaburkan ciri khas tiap komika, tapi setidaknya lebih banyak tawa berhasil dihadirkan.

Is it a good movie? Sebenarnya tidak. Masih terdapat beberapa kekurangan yang lagi-lagi berada di seputaran terlalu banyaknya konflik serta karakter coba dilebur menjadi satu. Apabila anda menantikan aksi Barry Prima, Willy Dozan atau Yayan Ruhian mungkin bakal kecewa karena begitu minimnya porsi mereka. Konklusi yang ditawarkan juga masih terasa dipaksakan supaya cepat usai (sekaligus mengejutkan). Tapi sungguh hiburan memuaskan di tengah minimnya blockbuster dalam industri perfilman Indonesia. Saya masih tetap beranggapan gaya dari Anggy Umbara lebih efektif bila diterapkan dalam film pure action macam '3', namun melihat bagaimana ending film ini, tidak bisa dipungkiri saya akan tetap dengan senang hati menantikan sekuel demi sekuel dari Comic 8. 


Ticket Powered by: ID Film Critics