REVIEW - GARA-GARA WARISAN
Melakoni debut penyutradaraannya, Muhadkly Acho (juga selaku penulis naskah, posisi yang pernah ia tempati di Kapal Goyang Kapten) mengikuti jejak Ernest Prakasa (menjabat produser film ini) sebagai komika yang mampu menggabungkan humor dengan drama keluarga menyentuh.
Tapi Gara-Gara Warisan takkan langsung menggigit. Film ini lambat panas. Sekitar 15-20 menit pertama, saya bahkan mengira bakal pulang dengan kekecewaan. Sekuen pembukanya meletakkan pondasi bagi konflik utama, di mana kita mengunjungi Dahlan (Yayu Unru) dan Salma (Lydia Kandou), pasutri pengelola guest house dengan tiga anak. Salma mengidap kanker, lalu meninggalkan suami beserta anak-anaknya.
Pembukaan tersebut, yang dikemas bak kumpulan fragmen, sayangnya dirangkai kurang rapi, pula kurang intim untuk bisa menghasilkan dampak emosi (seperti replikasi lebih lemah dari Up). Lalu secara bergantian kita menyambangi hidup ketiga anaknya.
Adam (Oka Antara) si sulung, yang sejak kecil merasa tak dianggap oleh ayahnya, menikahi Rini (Hesti Purwadinata), memiliki satu putera, dan bekerja di bagian customer service. Laras (Indah Permatasari) mengabdi dengan cara mengelola panti wreda bersama Benny (Ernest Prakasa). Si bungsu yang paling dimanja, Dicky (Ge Pamungkas), adalah musisi yang lebih banyak menghabiskan waktu mengonsumsi narkoba bersama Vega (Sheila Dara), pacarnya, ketimbang bermusik.
Semua tengah kesulitan ekonomi, semua punya masalah personal dengan anggota keluarga lain. Adam merasa sang ayah hanya menyayangi Dicky, sedangkan Laras pergi dari rumah karena enggan bertemu ibu tirinya, Asmi (Ira Wibowo). Alurnya terus melompat, harus membagi waktu antar karakter karena bentuknya yang lebih dekat ke arah ensambel ketimbang fokus ke satu sosok. Bukan perkara mudah. Naskah buatan Acho cukup tertatih-tatih di fase ini. Apalagi tatkala serupa banyak produksi Starvision, departemen penyuntingan (vital di film ensambel) bekerja kurang mulus.
Sampai Dahlan jatuh sakit, kemudian memanggil tiga anaknya, meminta mereka "berlomba" mengelola guest house. Pemenangnya bakal menjadi pimpinan baru guest house. Memasuki titik inilah Gara-Gara Warisan mulai "memanas". Meski masih membawa persoalan masing-masing, tiap tokoh bergerak ke satu tujuan, sehingga memudahkan fokus penceritaan.
Secara alamiah pun, setelah menghabiskan beberapa waktu mengikuti karakternya, kita mulai mengenal sekaligus terhanyut dalam problematika mereka. Salah satu poin terbaik terkait penokohan naskahnya adalah, tidak ada karakter yang benar-benar patut dicaci maupun sepenuhnya suci. Kadang timbul simpati, namun ada kalanya memancing rasa benci.
Bukan keluarga harmonis yang ingin ditampilkan, melainkan sekumpulan individu tidak sempurna, dengan beraneka ragam kelebihan/kebaikan dan kekurangan/keburukan. Tinggal bagaimana mereka dapat mengisi lubang masing-masing. Terdapat fase menarik di alurnya yang mewakili gagasan di atas, yakni ketika Adam, Laras, dan Dicky bergantian mengurus guest house.
Adam selaku petugas customer service menekankan perihal keramahan, mengajari karyawan cara memperlakukan tamu bak raja. Laras yang sarat pengalaman mengelola panti wreda, memaparkan rencana terstruktur, termasuk soal strategi promosi. Sedangkan Dicky yang terbiasa hidup semaunya, fokus pada kebahagiaan karyawan. Ketiga perspektif tersebut sebenarnya komponen penting, yang bila disatukan, akan membentuk kesempurnaan. Sama halnya dengan esensi "bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh" dalam konteks keluarga. Sayang, poin ini tidak diberi payoff memadai.
Di sela-sela konflik keluarga pelik miliknya, Gara-Gara Warisan menaruh humor sebagai penyegar suasana. Keempat karyawan guest house diberi tugas mengeksekusi humornya. Wiwin (Aci Resti), Ijul (Lolox), Aceng (Ence Bagus), dan Umar (Dicky Difie) sanggup menjadi scene stealer, yang kemunculannya efektif memancing tawa berkat kepiawaian cast. Belum lagi tambahan kekuatan dari beberapa cameo.
Bagaimana dengan debut Acho di kursi penyutradaraan? Memang belum sempurna, sebab ia sendiri masih meraba-raba cara memperkuat emosi lewat pengadeganan, tanpa harus sepenuhnya bergantung pada akting pemain. Sebuah keributan besar di peralihan menuju third act, yang terasa seperti versi lebih mentah dari adegan serupa di Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, merupakan contohnya.
Tapi Acho juga membuktikan potensinya. Di klimaks, tatkala semua (ya, semua) pemeran utama mencurahkan seluruh emosi mereka, Acho tahu mana saja gestur-gestur yang harus ditangkap kamera. Gestur-gestur yang mewakili luapan ekspresi kasih sayang antar anggota keluarga.
Dipimpin oleh penampilan heartbreaking Yayu Unru, klimaksnya luar biasa dalam mengaduk-aduk perasaan, salah satunya karena perspektif yang ditawarkan. Entah sudah berapa banyak film keluarga kita menjustifikasi kesalahan orang tua dengan mengatasnamakan "niat baik". Gara-Gara Warisan menolak hal tersebut. Filmnya merangkul ketidaksempurnaan. Bahwa orang tua pun bisa salah. Benar-benar salah, tanpa alasan, tanpa pembenaran. Bahwa "memohon pengampunan" bukan cuma ucapan yang patut dilontarkan anak. Ada kalanya mengakui kesalahan justru membuka lembaran baru yang penuh kehangatan.
REVIEW - BENYAMIN BIANG KEROK 2
Terkait Benyamin Biang Kerok (2018), saya termasuk minoritas. Saya tidak
menentang, tidak membenci, meski harus diakui, hasilnya jauh dari kata “bagus”.
Sangat jauh. Setidaknya ada visi yang jelas, walau apakah visi tersebut cocok
diterapkan, patut dipertanyakan. Direncanakan sebagai trilogi, setelah film
pertama mendapat respon cenderung negatif, baik perihal ulasan, jumlah penonton
(730 ribu tidak sedikit, namun jelas bukan angka yang diharapkan), belum lagi
perseteruan hak cipta, kabar perilisan film kedua tak kunjung jelas, sebelum
akhirnya tayang di Disney+ Hotstar.
Berbeda dengan pendahulunya, Benyamin Biang Kerok 2 bak produk asal
jadi, tanpa arah, yang buru-buru diselesaikan guna mengejar tanggal tayang di streaming platform. Selepas rekap
beberapa menit yang tidak banyak membantu akibat kisah film pertamanya kurang meninggalkan
kesan, protagonis kita, Pengki (Reza Rahadian), berkata pada penonton, jika petualangannya
melawan sindikat mafia pimpinan Said (Qomar) demi menyelamatkan sang pujaan
hati, Aida (Delia Husein), bakal lebih seru dari film-film Amerika. Berarti,
Hanung bersama trio penulis naskahnya, Bagus Bramanti, Senoaji Julius, dan Hilman
Mutasi, masih berniat membuat blockbuster
mahal, sarat aksi berteknologi tinggi, juga bertabur CGI.
Tapi itu tidak terlihat. Aksi bisa
dihitung jari, sementara CGI, selain
kuantitasnya menurun drastis, begitu pula kualitasnya. Ada satu momen yang
berpotensi melahirkan hiburan berupa pertarungan absurd, di mana Sabeni (Rano
Karno), ayah Pengki, memancarkan laser untuk menghajar habis anak buah Hengki (Hamka
Siregar) yang berniat membunuh Pengki, disusul tembakan gelombang dari gitar
elektrik Nurlela (Lydia Kandou). Tapi efek visualnya setengah (atau malah
seperempat?) matang, yang diperparah oleh kecanggungan pengadeganan Hanung.
Mau dibawa ke mana film ini?
Seberapa buru-buru penyelesaiannya? Jangankan pasca-produksi, saya pun
mempertanyakan, apakah proses produksi, termasuk pick-up, benar-benar sudah usai jauh-jauh hari? Alurnya sendiri
sudah dilukai oleh keputusan memecah cerita. Terasa betul kisah dimulai dari
tengah, sehingga tanpa struktur penceritaan layak. Belum lagi, perpindahan antar
adegan tidak dijembatani secara mulus, seolah tidak ada stok transisi yang
cukup.
Misalnya sewaktu Pengki, Somad (Adjis
Doaibu), dan Achie (Aci Resti) hendak pergi ke hutan di Kalimantan menggunakan
helikopter, untuk memecahkan misteri harta karun Soekarno, yang diduga jadi
incaran utama para mafia. Sayang, helikopter kepunyaan Nyak Mami (Meriam
Bellina) tiba-tiba mogok. Lalu Achie berkata, bahwa dia tahu harus berbuat apa.
Sejurus kemudian, kita melihat CGI shot
yang menampilkan sebuah pesawat di angkasa. Mendadak mereka telah tiba di
tujuan. Pesawat siapa itu? Mengapa efek visualnya tampak amat mentah? Bagaimana
pula Hengki beserta anak buahnya bisa tahu persis keberadaan ketiganya di
tengah hutan keramat?
Paling tidak saya menikmati
penampilan para pelakon senior, khususnya Rano Karno dan Lydia Kandou, yang
berusaha sekuat tenaga memaksimalkan porsi masing-masing. Reza, bermodalkan kejenakaan
gestur serta permainan logat dan warna suaranya pun masih nyaman disaksikan. Satu
yang benar-benar mengganggu, terlebih di third
act, hanya Aci Resi dengan gerutuan dan rengekan menyebalkan yang tak
kunjung berakhir.
Artinya jajaran cast berhasil menyelamatkan film ini bukan? Kata “menyelamatkan” rasanya berlebihan.
Paruh akhirnya membuat Benyamin Biang
Kerok 2 tidak terselamatkan. Antiklimaks, cuma menampilkan sekelumit aksi
singkat berisi serbuan beruang dengan CGI
menyedihkan, nomor musikal cringey nan
murahan diiringi lagu hip hop, pula konklusi dadakan yang menyisakan banyak
subplot tanpa resolusi.
Satu hal paling fatal: rambut
Pengki berubah! Itu bukan rambut Pengki, tapi rambut Reza. Pengki beralasan,
rambutnya dipotong oleh suku pedalaman. Saya curiga, konklusinya adalah pick-up yang diambil jauh setelah
produksi selesai, besar kemungkinan untuk menghapus jembatan menuju film
ketiga, yang konon merupakan adaptasi Tarsan
Kota (1974). Syukurlah bila memang demikian. Cukup. Berhenti sampai di
sini.
Available on DISNEY+ HOTSTAR

%20(1).png)



