Tampilkan postingan dengan label Jessica Mila. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jessica Mila. Tampilkan semua postingan

REVIEW - THE DOLL 3

Ada masa di mana tiap tahun kita disuguhi horor garapan Rocky Soraya, entah seri The Doll maupun Mata Batin. Belum lagi judul-judul seperti Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (2018) dan Jeritan Malam (2019). Masa itu berakhir kala pandemi tiba (mungkin ditambah perolehan penonton Mata Batin 2 yang tak sampai separuh film pertama). 

Selepas absen tiga tahun, Rocky kembali lewat installment yang konon bakal menutup kisah The Doll, dan sang sutradara masih sama. Masih mengandalkan gore, gemar memecahkan kaca, menomorsatukan gaya. Perbedaan terletak pada sosok bonekanya.

Jika Ghawiah dan Sabrina memerlukan medium manusia guna menebar teror, maka Bobby lebih mandiri. Sebab kini Rocky dan tim memakai boneka animatronik, yang kabarnya memakan biaya dua miliar. Apakah sepadan? Bagi saya, iya. 

Tapi mari membahas alurnya terlebih dahulu. Pasca sebuah kecelakaan yang menewaskan orang tua mereka, Tara (Jessica Mila) dan Gian (Zizie Zidane) hanya memiliki satu sama lain. Hidup Tara bahagia. Kisah cintanya dan Aryan (Winky Wiryawan) berjalan mulus, pun Tara menjalin hubungan baik dengan puteri kekasihnya, Mikha (Montserrat Gizelle). Sebaliknya, Gian yang terlibat langsung dalam kecelakaan amat menderita. Luka di wajahnya belum hilang, sebagaimana luka batin akibat trauma. 

Singkat cerita, Gian bunuh diri. Teringat akan cerita sahabatnya, Rere (Masayu Anastasia), tentang ritual memasukkan arwah ke dalam boneka, membuat Tara nekat melakukan hal serupa. Arwah Gian dipanggil agar bersemayam dalam tubuh boneka canggih bernama Bobby. Berharap bisa mengucap kata perpisahan secara layak, Tara malah mendapati sang adik telah berubah. 

Hal-hal itulah yang harus anda lewati sebelum The Doll 3 menampakkan taringnya. Naskahnya kembali ditulis oleh Riheam Junianti, sehingga masih menyimpan masalah seperti judul-judul sebelumnya, yaitu berupa prolog melelahkan. Eksplorasi elemen psikologisnya terlalu dangkal untuk dapat menjustifikasi keputusan Gian bunuh diri, sedangkan kalimat-kalimat corny yang mendominasi interaksi antar karakter, makin kentara karena naskah bak mewajibkan seluruh perasaan diutarakan secara verbal. 

Bagi yang mengenal betul karya-karya Rocky, tentu sudah mengantisipasi semua itu, lalu bersabar menantikan banjir darah begitu film memasuki second act. Sekali lagi, Rocky masih sama. Masih mengedepankan teknik pengambilan gambar stylish (kamera berputar, menembus lubang intip pintu, dll.), pula masih total perihal gore. 

Bersenjatakan pisau, tiada bagian tubuh yang luput disambangi oleh Bobby. Perut, dada, punggung, leher, kepala, tenggorokan, semua ditebas. Rocky enggan menahan diri, bahkan saat dihadapkan dengan karakter anak. Apalagi, seperti kita tahu, tokoh-tokoh dalam film Rocky bak kecoak. Susah mati. Lihatlah Mikha. Selepas jatuh dari tangga, rumah pohon, lift, nyawanya belum juga melayang. Adegan bunuh diri Gian pun jauh lebih brutal dari perkiraan. 

Rocky menunjukkan pengalaman sebagai sineas slasher, yang disokong jajaran tim tata efek khusus mumpuni. Kepala terpenggal, atau saat seorang karakter jatuh menimpa mobil, semua tampak meyakinkan. Tentu boneka animatronik Bobby turut berperan. Geraknya mulus dengan cakupan yang cukup luas, pun ekspresi wajahnya kaya. Shot favorit saya adalah ketika Bobby "bepose" di tangga sembari mengacungkan pisau. That's cool. Sayang, aksinya dinodai oleh kebutusan absurd membuat si boneka pembunuh melontarkan sumpah serapah dalam Bahasa Inggris. Seisi studio tertawa, mendapati momen konyol yang bertolak belakang dengan tone serius filmnya. 

Bukan film Rocky Soraya namanya kalau tidak ditutup menggunakan epilog terlampau panjang guna mengungkap twist yang sama sekali tak diperlukan (meski kali ini bukan soal perselingkuhan). Ya, tiga tahun berselang, Rocky Soraya masih sama. For better or worse. 

IMPERFECT (2019)

Setelah Susah Sinyal lalu Milly & Mamet yang merupakan penurunan dibanding dua karya perdananya meski tetep digarap baik, Ernest Prakasa kembali pada performa terbaiknya melalui Imperfect selaku adaptasi novel berjudul sama karya sang istri, Meira Anastasia, yang di sini turut berperan sebagai penulis naskah sekaligus co-director. Membahas persoalan sensitif perihal standar kecantikan, filmnya bijak menyikapi kompleksitas isu tersebut, mengambil lebih dari satu perspektif, mengambil jalan tengah tanpa perlu terkesan main aman dengan tetap menyediakan solusi berupa, “Berusahalah menjadi versi terbaik dirimu”.

Melalui sekuen pembuka yang memperlihatkan sensitivitas bertutur Ernest dan Meira, kita melihat bagaimana sejak kecil, Rara (Jessica Mila) sudah jadi korban body shaming, bahkan oleh sang ibu, Debby (Karina Suwandi) yang di masa mudanya merupakan seorang model. Ketika adiknya, Lulu (Yasmin Napper) banyak dipuji karena paras ayu serta tubuh langsing yang menurun dari Debby, Rara lebih mirip ayahnya, Hendro (Kiki Narendra) yang bertubuh tambun, berkulit gelap, dan berambut ikal. Begitu Hendro meninggal, Rara merasa sendirian, dan cokelat selalu jadi pelarian tiap dibuat kesal oleh komentar pedas atau paksaan diet dari Debby.

Di kantor kondisinya tidak jauh beda. Rara hanya memiliki Fey (Shareefa Daanish), si gadis berpenampilan tomboi serba hitam sebagai teman. Setidaknya keberadaan Dika (Reza Rahadian), si fotografer tampan kekasih Rara, kerap jadi penawar kepahitan. Di depan Dika, Rara bisa menjadi dirinya sendiri yang daripada kesempurnaan fisik, lebih memedulikan kebaikan hati, sebagaimana ia perlihatkan kala secara sukarela mengajar anak-anak asuhan Bu Siska (Asri Welas) yang tinggal di pemukiman kumuh. Sampai peluang meningkatkan karir tiba, ketika bos Rara, Kelvin (Dion Wiyoko) menawarinya kenaikan jabatan, dengan syarat, Rara mau mengubah penampilannya.

Pertama, pemilihan pemain Ernest dan Meira (tentunya berkat jasa casting director pula) patut diacungi jempol. Imperfect menyajikan ensemble cast yang bukan asal ramai, tapi masing-masing nama, sekecil apa pun perannya, sempurna melakoni tiap peran. Di jajaran pendukung, Karina Suwandi bukan semata sosok ibu kejam; Yasmin Napper adalah akrtis muda yang saya pastikan takkan lama lagi mendapat peran utama di film remaja; Boy William seolah ditakdirkan memerankan George, kekasih Lulu sekaligus “selebgram dangkal”; sedangkan Shareefa Daanish  bisa jadi menemukan angin kedua di karirnya melalui kejenakaan yang sebelumnya baru pernah ia perlihatkan di sinetron.

Para pencuri perhatian lainnya adalah Kiky Saputri (sebagai Neti), Zsazsa Utari (sebagai Maria), Aci Resti (sebagai Prita), dan Neneng Wulandari (sebagai Endah), yang jadi ujung tombak elemen humor, menjadikan ini film terlucu Ernest. Tentu pondasinya memang sudah kuat, pun Imperfect memiliki kelucuan yang terasa “paling Ernest” terkait ketajamannya. Dari Yesus hingga jenazah dijadikan materi. Dan kali ini tidak ada kesan acak, sebab kuartet gadis di atas juga merasakan kegelisahan seputar fisik, memberi benang merah kuat dengan konflik utamanya.

Sementara kedua pemain utamanya tidak kalah bersinar. Tidak perlu banyak membahas Reza Rahadian. Pidato sambutan acara kecamatan pun bisa dikemas dinamis dan menarik olehnya. Jessica Mila, yang sepertinya juga menambah beberapa kilogram berat badannya selain memakai fat suit sehingga transformasi karakternya kelak terkesan natural, mampu membuat kita mendukung Rara mencapai impiannya, bahkan sewaktu ia “tersesat” sekalipun. Romansa mereka merupakan kunci. Reza dan Jessica menghadirkan chemistry yang memudahkan kita percaya, bahwa romantika Dika dan Rara adalah ketulusan yang didasari ketertarikan terhadap inner beauty.

Permainan flow Ernest pun meningkat dibanding keempat film sebelumnya. Tidak ada lagi lompatan kasar dan adegan minim signifikansi yang dipaksa masuk di sela-sela penceritaan (sebenarnya masalah ini rutin muncul di film produksi Starvision). Satu-satunya ganjalan adalah lemahnya departemen tata suara yang kerap mengakibatkan kata-kata dari mulut pemain sukar didengar. Pun seperti telah disebut di awal, sensitivitas pengarahan Ernest dan Meira sungguh kuat, yang membantu terciptanya keintiman emosional di adegan berlatar keluarga, pula pemandangan uplifting jelang akhir yang memantapkan status Imperfect kepada perayaan atas kecantikan dalam ketidaksempurnaan.

Imperfect semakin layak diapresiasi atas kedalaman eksplorasi isunya. Benar bahwa mereka yang kerap disebut “buruk rupa” mengalami ketidakadilan, namun bukan berarti keindahan paras otomatis memuluskan hidup pemiliknya. Konflik kakak beradik Rara dan Lulu membuktikan itu. Dari konflik itu pula lahir salah satu kalimat favorit saya di film ini: “Ngapain mikir omongan orang, orangnya aja nggak mikirin omongannya sendiri”. Lugas. Menusuk. Tepat sasaran dalam menyentil kultur toxic media sosial dewasa ini.

Tidak ada yang disalahkan (maupun dibenarkan sepenuhnya) di sini. Debby punya alasan mengkritik Rara, pun bukan kesalahan kala akhirnya memutuskan berubah. Karena itu hidup dia, tubuh dia, hak dia. Menjadi sebuah kesalahan ketika bukan cuma fisik, jati diri ikut diubah secara terpaksa demi beragam tuntutan sosial. Saat itulah selain berat badan, harta-harta berharga (baca: sosok-sosok tercinta) dalam hidup juga hilang.

BRIDEZILLA (2019)

Secara luas, Bridezilla tidak saja soal konflik seputar pernikahan. Ini pun tentang sisi gelap kehidupan sosial ibukota, tentang lubang hitam yang menyedot banyak manusia Jakarta. Apalagi kalau bukan fenomena panjat sosial. Ketika individu menakar orang lain (bahkan diri sendiri) menggunakan nilai material.

Penonton luar ibukota bakal geleng-geleng kepala, namun jika berada di dalamnya, mungkin anda akan merasa ngeri. Biarpun dipresentasikan lewat jalur komedi, fenomena tersebut begitu dekat, bahkan bisa jadi, tanpa disadari kitalah korban berikutnya (kalau belum). Mudah memahami itu berkat efektivitas penghantara pesannya, namun selaku kritik sosial yang dibungkus memakai sambul drama-komedi ringan, Bridezilla kekurangan dua poin vital: kelucuan dan hati.

Karakter utamanya bernama Dara (Jessica Milla), yang menjalankan sebuah wedding organizer bersama sahabatnya, Key (Sheila Dara). Dara terobsesi merebut gelar “wedding of the year” pemberian majalah terkemuka Wedding Star, di mana Anna (Widyawati) bertindak sebagai editor. Anna adalah wanita intimidatif pula dingin, yang rasanya terinspirasi dari Miranda Priestly-nya Meryl Streep, yang juga terinspirasi sosok Anna Wintour, yang saya yakin menginspirasi pemilihan nama karakter peranan Widyawati tersebut.

Sayang, harapan Dara terancam pupus kala pernikahan Lucinta (Lucinta Luna) yang ia organisir berujung bencana. Reputasi Dara dan wedding organizer-nya hancur, sedangkan para vendor dan klien mundur teratur. Sebab serupa realita, apa pun yang menimpa Lucinta Luna bakal jadi skandal berskala nasional. Di tengah kehancuran itu, Alvin (Rio Dewanto) melamar Dara, memberinya ide untuk membuat pesta pernikahannya menjadi even spektakuler demi menyabet titel “wedding of the year”.

Perjalanan Dara tak ubahnya biografi sosialita Jakarta. Mengawali segalanya sebagai orang berperasaan, seiring membesarnya tuntutan sosial, mereka memaksakan diri mendapatkan hal-hal bersifat material yang di luar jangkauan, bahka meski harus mengorbankan semuanya. Di satu titik, Dara berpikir untuk menjual rumah demi memperoleh cincin mahal, karena cincin pemberian Alvin yang juga merupakan warisan mendiang ibunya, dianggap kuno oleh Anna. Begitu terobsesi meraih kesempurnaan, Dara menjelma menjadi bridezilla seperti para klien yang membuatnya kesal, termasuk Lucinta.

Selepas harta, langkah berikutnya adalah mengorbankan orang-orang tercinta. Pada poin innilah persahabatan Dara dengan Key, pula hubungannya dengan Alvin menemui cobaan terjal. Serupa banyak orang, Dara terlalu mementingkan resepsi tapi lupa bahwa kehidupan pernikahan sebenarnya, yang sejatinya jauh lebih penting, telah menanti di depan.

Bisa ditebak, “pulang” merupakan jawaban bagi masalah-masalah di atas. Pulang, kembali ke keluarga dan orang-orang terkasih lainnya. Alurnya bergerak mengikuti formula paten itu, tapi naskah karya Lucky Kuswandi (Ini Kisah Tiga Dara, Galih & Ratna) dan Fai Tirta serta penyutradaraan Andibachtiar Yusuf (Hari ini Pasti Menang, Love for Sale) acap kali kekurangan sensitvitas, lalai membiarkan penonton meresapi momen-momen.

Serupa hidup di Jakarta, momen-momen Bridezilla datang dan pergi begitu saja. (MINOR SPOILER ALERT) Paling fatal tentunya babak akhir kala pernikahan Dara dilangsungkan. Berlatar lokasi indah dengan danau di belakang, saya bisa membayangkan betapa “mistis” namun indah peristiwa tersebut. Dan secara natural, konflik-konflik bakal menemukan resolusinya di sana. Tapi baik kesakralan upacara pernikahan maupun penebusan bagi konfliknya berlangsung tanpa penekanan, berlalu begitu saja bagai keping-keping insiden tak signifikan dalam kehidupan. Bahkan perubahan sikap Anna dilakukan secara buru-buru, karena sepanjang film, sama sekali tak ditemukan tanda-tanda kebaikan padanya. Berbeda dengan Miranda Priestly. (SPOILER ENDS)

Biar begitu, Bridezilla masih punya satu adegan menyentuh, tatkala Alvin melamar dara. Sebuah kesempatan langka di mana seluruh elemen saling mengisi dengan mulus: penyutradaraan lembut dibantu kebolehan membangun momentum, ketepatan naskahnya memilih timing kapan kejadian itu diposisikan, dan penghantaran hangat nan karismatik dari Rio Dewanto.

Jajaran penampil lain tak kalah baik. Jessica Milla mampu menangkap betapa menyebalkan seorang bridezilla tanpa harus membuat penonton membencinya, Widyawati menghidupkan seorang wanita berwibawa yang akan membuat siapa saja gentar bertatap muka dengannya, Sheila Dara memperlihatkan performa kaya dinamika yang mendefinisikan apa itu “sahabat”, sedangkan Rafael Tan dan Aimee Saras masing-masing sebagai A'ang (karyawan Dara) dan Kirana si sosialita tak pernah kehabisan daya guna memancing senyum.

Tapi saya menyesalkan kurang dimanfaatkannya talenta Lucinta Luna. Saya pernah beberapa kali terlibat proyek bersamanya, dan saya berani menyebut kalau aktris kontroversial satu ini punya bakat komedik luar biasa khususnya terkait kreativitas improvisasi. Di sini, kegilaan Lucinta—sebagaimana materi humor lain—dirusak oleh pengadeganan medioker. Tengok saja di adegan “menggelinding” yang dijadikan salah satu materi promosi filmnya.

Serupa kelemahan di aspek drama, adegan konyol di atas terkesan numpang lewat, terburu-buru, kekurangan punchline, enggan memberi penonton kesempatan mencerna kelucuannya terlebih dulu. Bridezilla dan Lucinta Luna sejatinya sama saja. Sama-sama menyimpan potensi luar biasa yang gagal dimaksimalkan. Karya terlemah Visinema sejauh ini. 

MATA BATIN 2 (2019)

“Don’t change a winning formula”. Rocky Soraya menuruti petuah tersebut. Sebab buat apa berubah, bila sebuah formula mampu membawanya meraih rekor MURI sebagai sutradara pertama yang empat kali beruntun menghasilkan film jutaan penonton? Alhasil, kecuali Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (2018), sejak The Doll (2016) Rocky selalu menerapkan templat sama. Dia hanya perlu mengganti nama karakter. Sisanya, dari konflik, twist, hingga resolusi, nyaris tanpa perbedaan.

Begitu pula di Mata Batin 2. Hidup Alia (Jessica Mila) boleh mengalami perubahan drastis pasca kematian adiknya, Abel (Bianca Hello), di tangan makhluk halus. Tapi peristiwa seterusnya masih berkutat soal teror hantu terhadap sepasang suami-istri, yang nantinya diketahui menyimpan rahasia. Rahasia yang oleh duet penulis naskah langganan Rocky, Riheam Junianti dan Fajar Umbara, dijadikan bahan baku twist khas opera sabun.

Pasangan itu adalah Laksmi (Sophia Latjuba) dan Fadli (Jeremy Thomas), pemilik panti asuhan megah bak kastil negeri dongeng, yang jadi tempat Alia menjalani kerja sosial dalam rangka melangkah menuju hidup baru. Tapi bukan itu saja tujuan protagonis kita. Lewat penerawangan yang didapat, Alia yakin panti asuhan tersebut memegang kunci jawaban misteri kematian Abel.

Di sana pula Alia bertemu Nadia (Nabilah Ayu), gadis dengan mata batin yang juga terbuka sepertinya. Berdua, mereka menyelidiki teror sesosok hantu bocah yang mengirim pesan melalui suara-suara di dinding. Suara itu lirih, berbanding terbalik dengan gebrakan-gebrakan efek suara berisik yang gemar menusuk telinga penonton tiap beberapa menit sekali. Sekecil apa pun kejanggalan terjadi, Mata Batin 2 selalu menaikkan volume ke titik maksimum.

Tata suara garapan Khikmawan Santosa cuma mempedulikan volume, hingga lalai mengatur agar dialognya mudah didengar. Berkali-kali saya kesulitan mencerna kaliamt apa yang meluncur dari mulut jajaran pemainnya. Sementara soal dampaknya terhadap teror, beberapa momen dengan potensi kengerian cukup tinggi berujung kehilangan daya akibat distraksi efek suara meledak-ledak filmnya.

Mata Batin 2 merupakan titik nadir seorang Rocky Soraya. Sebelum ini, walau menerapkan pola mirip, Rocky kentara masih mencurahkan segenap daya upaya. Kali ini, ketimbang presentasi kekhasan, Rocky bagai membuat parodi bagi cirinya sendiri. “Film saya harus mengandung adegan kaca pecah, gerakan kamera cepat,  lalu ditutup banjir darah”, mungkin begitu ia pikir. Mata Batin 2 begitu malas, berlawanan dengan karya-karya Rocky sebelunya, tak satu pun jump scare berhasil, apalagi melekat di ingatan begitu durasi berakhir.

Metode menumpahkan darahnya pun serupa, di mana salah satu karakter dirasuki arwah pembawa dendam guna membunuh orang lain atau melukai diri sendiri. Caranya? Tentu saja memakai tusukan pisau seperti biasa. Beruntung, momen gore penutupnya lebih inovatif. Kuantitas banjir darahnya menurun, namun dampaknya lebih besar berkat keberanian Rocky mengeskalasi tingkat sadisme.

Sialnya, keberhasilan parade kekerasan film ini diganggu upaya memantik emosi lewat dramatisasi menggelikan dilengkapi ceramah perihal “larangan membalas kejahatan dengan kejahatan”, yang idealnya hanya dapat ditemui dalam sinetron religi bertema alam baka. Bahkan penampilan solid Sophia Latjuba maupun Jessica Mila yang makin bisa diandalkan sebagai scream queen tak kuasa menolong konklusinya. Saya berharap Rocky mulai perlahan mencoba gaya baru. Tapi dengan perolehan lebih dari 53 ribu penonton di hari pertama, tipis kemungkinan harapan tersebut jadi kenyataan.

MATA BATIN (2017)

Sinema horor tanah air sedang marak oleh karakter dengan kemampuan melihat makhluk halus. Diawali Mereka Yang Tak Terlihat yang mengedepankan drama keluarga, diikuti Keluarga Tak Kasat Mata yang entah maunya apa, kini Mata Batin memilih meletakkan fokus pada penelusuran sisi supranatural yang didukung keterlibatan parapsikolog Citra Prima sebagai pemeran pendukung. Jarangnya perjalanan menyelami dunia lain demi memahami seluk-beluk mistik dalam film kita memberi potensi pembeda, yang sayangnya, kembali dikalahkan obligasi menyajikan repetisi trik-trik teror murahan, meruntuhkan perbedaan tersebut. 

Bersama Davin (Denny Sumargo) sang kekasih, Alia (Jessica Mila) memilih pulang dari merantau di Thailand pasca kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan lalu lintas, demi menjaga adiknya, Abel (Bianca Hello). Gagasan kembali ke rumah masa kecil tidak Abel sambut positif, sebab di situlah pernah terjadi peristiwa traumatis, tatkala sesosok makhluk halus menyerangnya. Abel sendiri mampu melihat yang tak terlihat karena mata batinnya terbuka sejak lahir. Menolak percaya, Alia meminta Windu (Citra Prima), seorang paranormal, membuka mata batinnya. Tidak butuh waktu lama sampai Alia mengalami teror serupa Abel, yang makin lama makin berbahaya.
Dwilogi The Doll membawa Rocky Soraya menuju kemantapan gaya, yang dia terapkan pula di Mata Batin. Kekerasan berdarah di mana sekali tusukan pisau takkan cukup merenggut nyawa manusia tetap menjadi titik tertinggi, meski kali ini porsinya tak mendominasi babak akhir. Begitu juga pengadeganan berbasis kekacauan suasana yang mengandalkan gerak kamera dinamis garapan Asep Kalila, kolaborator langganannya sedari The Doll. Setidaknya Mata Batin tampil berenergi berkat kedua aspek itu, sekaligus memunculkan harapan, suatu hari kelak Rocky berminat membuat film slasher.

Bersenjatakan energi sedemikian tinggi, Mata Batin ibarat manusia dengan raga solid. Namun tidak jiwanya, ketika cara menakut-nakuti Rocky masih berkutat di metode penampakan gamblang bersuara berisik, ditambah desain hantu yang menganggap bahwa kengerian berbanding lurus dengan kerusakan wajah. Bisa efektif untuk beberapa penonton, tapi saat pengulangan-pengulangan ngotot dipertahankan, timbul kelelahan juga kebosanan. Pun klimaks "dunia lain" miliknya hadir tumpul bagai rumah hantu pasar malam murahan. Sial bagi Rocky, jump scare terbaik yang melibatkan kain putih belum lama ini sudah kita temui dalam Pengabdi Setan, sehingga dampaknya tidak sekuat harapan. 
Citra Prima menuturkan rangkaian pemahaman terkait aturan serta ragam sisi alam gaib dan mata batin. Menarik disimak, tapi kesan "sekilas info" gagal ditampik karena kurang piawaianya duo penulis skenario, Fajar Umbara dan Riheam Junianti, menyusun informasi-informasi berharga tersebut menjadi struktur alur yang bisa membedakan Mata Batin dengan judul-judul bertema serupa di atas. Mengenai beberapa twist, naskahnya pun kedodoran. Ada yang meninggalkan setumpuk lubang logika menganga, ada pula yang bagai kurang akal dalam caranya mengungkap fakta (identitas perampok bertopeng). 

Mata Batin sama sekali tidak buruk. Jessica Mila mulus merespon ragam situasi menyeramkan yang Alia alami, bukti dirinya pantas diberi proyek berkelas pasca rentetan film buruk sejak Pacarku Anak Koruptor. Seperti umumnya produksi Hitmaker Studios, tata artistik Mata Batin cukup memuaskan mata, termasuk segelintir efek visual yang walau jauh dari kata sempurna, sama sekali tidak memalukan. Mata Batin is not an embarassing effort, just repetitive, uncreative, and frustratingly boring.