Tampilkan postingan dengan label Sheila Dara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sheila Dara. Tampilkan semua postingan

REVIEW - GARA-GARA WARISAN

Melakoni debut penyutradaraannya, Muhadkly Acho (juga selaku penulis naskah, posisi yang pernah ia tempati di Kapal Goyang Kapten) mengikuti jejak Ernest Prakasa (menjabat produser film ini) sebagai komika yang mampu menggabungkan humor dengan drama keluarga menyentuh. 

Tapi Gara-Gara Warisan takkan langsung menggigit. Film ini lambat panas. Sekitar 15-20 menit pertama, saya bahkan mengira bakal pulang dengan kekecewaan. Sekuen pembukanya meletakkan pondasi bagi konflik utama, di mana kita mengunjungi Dahlan (Yayu Unru) dan Salma (Lydia Kandou), pasutri pengelola guest house dengan tiga anak. Salma mengidap kanker, lalu meninggalkan suami beserta anak-anaknya. 

Pembukaan tersebut, yang dikemas bak kumpulan fragmen, sayangnya dirangkai kurang rapi, pula kurang intim untuk bisa menghasilkan dampak emosi (seperti replikasi lebih lemah dari Up). Lalu secara bergantian kita menyambangi hidup ketiga anaknya. 

Adam (Oka Antara) si sulung, yang sejak kecil merasa tak dianggap oleh ayahnya, menikahi Rini (Hesti Purwadinata), memiliki satu putera, dan bekerja di bagian customer service. Laras (Indah Permatasari) mengabdi dengan cara mengelola panti wreda bersama Benny (Ernest Prakasa). Si bungsu yang paling dimanja, Dicky (Ge Pamungkas), adalah musisi yang lebih banyak menghabiskan waktu mengonsumsi narkoba bersama Vega (Sheila Dara), pacarnya, ketimbang bermusik.

Semua tengah kesulitan ekonomi, semua punya masalah personal dengan anggota keluarga lain. Adam merasa sang ayah hanya menyayangi Dicky, sedangkan Laras pergi dari rumah karena enggan bertemu ibu tirinya, Asmi (Ira Wibowo). Alurnya terus melompat, harus membagi waktu antar karakter karena bentuknya yang lebih dekat ke arah ensambel ketimbang fokus ke satu sosok. Bukan perkara mudah. Naskah buatan Acho cukup tertatih-tatih di fase ini. Apalagi tatkala serupa banyak produksi Starvision, departemen penyuntingan (vital di film ensambel) bekerja kurang mulus. 

Sampai Dahlan jatuh sakit, kemudian memanggil tiga anaknya, meminta mereka "berlomba" mengelola guest house. Pemenangnya bakal menjadi pimpinan baru guest house. Memasuki titik inilah Gara-Gara Warisan mulai "memanas". Meski masih membawa persoalan masing-masing, tiap tokoh bergerak ke satu tujuan, sehingga memudahkan fokus penceritaan. 

Secara alamiah pun, setelah menghabiskan beberapa waktu mengikuti karakternya, kita mulai mengenal sekaligus terhanyut dalam problematika mereka. Salah satu poin terbaik terkait penokohan naskahnya adalah, tidak ada karakter yang benar-benar patut dicaci maupun sepenuhnya suci. Kadang timbul simpati, namun ada kalanya memancing rasa benci. 

Bukan keluarga harmonis yang ingin ditampilkan, melainkan sekumpulan individu tidak sempurna, dengan beraneka ragam kelebihan/kebaikan dan kekurangan/keburukan. Tinggal bagaimana mereka dapat mengisi lubang masing-masing. Terdapat fase menarik di alurnya yang mewakili gagasan di atas, yakni ketika Adam, Laras, dan Dicky bergantian mengurus guest house. 

Adam selaku petugas customer service menekankan perihal keramahan, mengajari karyawan cara memperlakukan tamu bak raja. Laras yang sarat pengalaman mengelola panti wreda, memaparkan rencana terstruktur, termasuk soal strategi promosi. Sedangkan Dicky yang terbiasa hidup semaunya, fokus pada kebahagiaan karyawan. Ketiga perspektif tersebut sebenarnya komponen penting, yang bila disatukan, akan membentuk kesempurnaan. Sama halnya dengan esensi "bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh" dalam konteks keluarga. Sayang, poin ini tidak diberi payoff memadai. 

Di sela-sela konflik keluarga pelik miliknya, Gara-Gara Warisan menaruh humor sebagai penyegar suasana. Keempat karyawan guest house diberi tugas mengeksekusi humornya. Wiwin (Aci Resti), Ijul (Lolox), Aceng (Ence Bagus), dan Umar (Dicky Difie) sanggup menjadi scene stealer, yang kemunculannya efektif memancing tawa berkat kepiawaian cast. Belum lagi tambahan kekuatan dari beberapa cameo. 

Bagaimana dengan debut Acho di kursi penyutradaraan? Memang belum sempurna, sebab ia sendiri masih meraba-raba cara memperkuat emosi lewat pengadeganan, tanpa harus sepenuhnya bergantung pada akting pemain. Sebuah keributan besar di peralihan menuju third act, yang terasa seperti versi lebih mentah dari adegan serupa di Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, merupakan contohnya. 

Tapi Acho juga membuktikan potensinya. Di klimaks, tatkala semua (ya, semua) pemeran utama mencurahkan seluruh emosi mereka, Acho tahu mana saja gestur-gestur yang harus ditangkap kamera. Gestur-gestur yang mewakili luapan ekspresi kasih sayang antar anggota keluarga. 

Dipimpin oleh penampilan heartbreaking Yayu Unru, klimaksnya luar biasa dalam mengaduk-aduk perasaan, salah satunya karena perspektif yang ditawarkan. Entah sudah berapa banyak film keluarga kita menjustifikasi kesalahan orang tua dengan mengatasnamakan "niat baik". Gara-Gara Warisan menolak hal tersebut. Filmnya merangkul ketidaksempurnaan. Bahwa orang tua pun bisa salah. Benar-benar salah, tanpa alasan, tanpa pembenaran. Bahwa "memohon pengampunan" bukan cuma ucapan yang patut dilontarkan anak. Ada kalanya mengakui kesalahan justru membuka lembaran baru yang penuh kehangatan.

REVIEW - TEKA-TEKI TIKA

Durasi pendek tidak semestinya menyulut kekhawatiran dan pesimisme. Bisa saja sineas memilih bercerita secara to the point. Padat, singkat, sesuai kebutuhan. Sayangnya Teka-Teki Tika tidak demikian. Ketika film berdurasi hanya 83 menit terkesan kehabisan ide, artinya ide dasarnya memang sudah lemah sejak awal. 

Pasca Imperfect (2019) membawa Ernest Prakasa kembali ke performa terbaiknya, ia mengambil langkah berani dengan menjajal genre thriller misteri. Wajar. Lima film drama komedi dalam lima tahun berturut-turut rasanya memang cukup untuk melahirkan kejenuhan dan/atau ambisi mencoba warna baru. Bisa dibilang Ernest bereksperimen. Tapi sebuah eksperimen, apalagi di percobaan pertama, memang besar kemungkinan berujung kegagalan.

Walau demikian, Teka-Teki Tika sejatinya bukan eksperimen yang ekstrim. Semua nampak serius di awal. Budiman (Ferry Salim) dan Sherly (Jenny Zhang adalah penampil terbaik film ini) tengah merayakan ulang tahun pernikahan, di tengah gonjang-ganjing perusahaan mereka yang terjebak kredit macet. Si putera sulung, Arnold (Dion Wiyoko) datang bersama istrinya yang hamil sembilan bulan, Laura (Eriska Rein), sementara Andre (Morgan Oey) si putera kedua, membawa kekasih barunya, Jane (Tansri Kemala). 

Jane merupakan alasan mengapa saya menyebut ini bukan eksperimen yang ekstrim. Fungsi Jane cuma satu: comic relief. Seolah ia eksis guna mengingatkan pada penonton, bahwa kita sedang menonton karya Ernest. Tansri melakoni debutnya dengan gemilang, selalu memancing tawa lewat kepolosannya (kalau tak mau disebut "kebodohan"), tapi beberapa humor muncul di waktu kurang tepat, sehingga menciptakan inkonsistensi tone. 

Inkonsisten, namun menghibur. Itulah paruh awal Teka-Teki Tika, pasca kemunculan tiba-tiba Tika (Sheila Dara), yang mengaku sebagai puteri hasil perselingkuhan Budiman. Ernest menggerakkan tempo secara cepat, sembari melempar satu demi satu fakta mengejutkan mengenai rahasia kelam Keluarga Budiman. Tempo cepat itu meniadakan eksplorasi karakter, juga mendangkalkan pendalaman terkait kritik terhadap praktek korupsi serta sentilan bagi pelaku perselingkuhan yang reputasinya telah cacat di mata pasangan, tetapi efektif menjaga atensi penonton, yang terus dibuat ingin tahu jati diri beserta motivasi Tika sesungguhnya.

Dari segi artistik, Teka-Teki Tika justru pencapaian terbaik Ernest, yang biasanya cuma fokus pada pengolahan cerita, lalu melupakan tetek bengek sinematik. Desain produksinya memanjakan mata, pewarnaan gambarnya lebih diperhatikan, musiknya pun tergarap apik meski mengikuti pola klise scoring bagi genre misteri. 

Masalahnya, memasuki pertengahan, makin kentara kalau Ernest kesulitan mengembangkan misterinya. Hasilnya adalah setumpuk momen filler yang tak memberi dampak apa pun, baik pada penokohan maupun penceritaan. Semisal obrolan Andre dan Jane yang cuma berisi banyolan-banyolan tak perlu nan berkepanjangan. 

Tapi kejatuhan sebenarnya dari film ini baru terjadi saat memasuki paruh akhir. Momen "pengungkapan" yang semestinya merupakan puncak untuk film semacam ini, tampil datar akibat lemahnya pembangunan intensitas dalam pengadeganan Ernest. Setelah satu jam lebih disuguhi konflik yang melibatkan intrik pelik bahkan usaha pembunuhan, misteri ditutup oleh ucapan "Yaah, sebenarnya saya....." dari mulut protagonisnya, yang lebih terdengar seperti pengakuan atas hal sepele. 

Kemudian Teka-Teki Tika memberikan epilog, yang biarpun menampilkan sesosok cameo luar biasa menarik, bergulir terlalu lama, sekaligus bak berasal dari film berbeda. Jika ini "petunjuk" bahwa kelak Ernest ingin mencoba genre aksi, saya amat menantikan itu. Teka-Teki Tika memang buruk, tapi saya takkan berkata, "Sebaiknya Ernest membuat komedi saja". Karena sewaktu eksperimen berhenti gara-gara satu kegagalan, maka usaha perdana itu jadi sia-sia. 

NANTI KITA CERITA TENTANG HARI INI (2020)

Sebuah pesawat kertas melayang di atas awan, diiringi lagu Rehat milik Kunto Aji yang mengeset keseluruhan mood Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (damai, agak puitis, sesekali sendu, terkadang hangat), membuka film panjang kesebelas sutradara Angga Dwimas Sasongko ini, yang merupakan adaptasi novel berjudul sama buatan Marchella FP. Menurut Angga, inilah karyanya yang paling membanggakan. Pernyataan itu beralasan. Mengingatkan akan gaya Hirokazu Koreeda, Angga menangani materi yang oleh sutradara lain mungkin bakal digiring ke arah tearjerker menjadi sajian slice of life bernuansa kontemplatif bertema keluarga yang tetap mudah dinikmati kalangan luas.

Pasangan suami-istri, Narendra (Oka Antara) dan Ajeng (Niken Anjani) sedang menyambut kelahiran puteri bungsu mereka, Awan. Tapi ketimbang kebahagiaan, kesedihan justru terpancar. Kemudian kisahnya melompat menuju beberapa tahun kemudian, kala ketiga buah hati Narendra dan Ajeng (kini diperankan Donny Damara dan Susan Bachtiar) telah beranjak dewasa. Walau keluarga ini sekilas bahagia, tampak betul Narendra menganakemaskan Awan (Rachel Amanda). Disuruhnya Angkasa (Rio Dewanto) si anak sulung menjemput adiknya tiap pulang kerja, sedangkan Aurora (Sheila Dara) si anak kedua lebih gemar mengurung diri di studio, membuat benda-benda seni kontemporer.

Dampaknya, Angkasa kerap terdistraksi dan tak berkesempatan mengejar kebahagiaannya sendiri; Aurora merasa dikesampingkan; pun Awan mulai jengah dikekang. Bahkan Awan sampai harus berulang kali terlibat pertengkaran dengan ayahnya kala mulai menjalin kedekatan dengan Kale (Ardhito Pramono), rekan Angkasa sekaligus manajer band idolanya. Apa alasan Narendra begitu mengatur anak-anaknya? Mengapa sebegitunya ia “menjaga” Awan? Apakah semata karena Awan puteri bungsu? Beberapa flashback yang sesekali muncul, akan pelan-pelan mengupas alasannya, meski jika memperhatikan, jawaban itu bisa anda dapat sedari momen pembuka.

Ditulis oleh Angga bersama Jenny Jusuf (Filosofi Kopi, Critical Eleven, Mantan Manten) dan Melarissa Sjarief, naskahnya sanggup menjadikan deretan kilas balik tersebut media mengokohkan pondasi penokohan. Dorongan suatu perbuatan maupun sikap hingga perasaan yang dirahasiakan, terpapar secara subtil namun jelas. Subtil. Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini tidak menganggap penontonnya bodoh. Kita diseret oleh dinamika kisah yang oleh Angga dialirkan dengan penuh kesabaran, dibiarkan merasakan ketimbang disuapi, sehingga kisahnya makin kaya dan bisa dimaknai berbeda oleh masing-masing penonton.

Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini adalah tentang dinamika kompleks antara anak sulung, tengah, dan bungsu. Pun ini juga soal kebebasan dalam hubungan, baik itu bersifat romansa atau di lingkup keluarga. Ini juga mengenai impian, kebahagiaan, bahkan menyentil perihal patriarki, dan maskulinitas di mana ayah sebagai kepala keluarga senantiasa mengatur, sedangkan anak laki-laki (apalagi kalau berstatus putera sulung) harus jadi yang paling kuat. Sampai akhirnya film ini memperlihatkan bahwa kedua laki-laki yang awalnya tampak lebih meledak-ledak itu malah jauh lebih rapuh dibanding para perempuan yang sebelumnya dituntut atau memilih diam.

Naskahnya pun jeli mengolah dialog, melahrikan sederet kalimat quotable yang puitis, tapi tetap terdengar kasual. Poin tersebut senada dengan nuansa yang dibangun Angga melalui pengarahannya. Ditemani kombinasi pilihan lagu-lagu sang sutradara yang seperti biasa meneduhkan pula enak didengar (Rehat, Lagu Pejalan, Awal & Akhir, Fine Today), juga sinematografi garapan Yadi Sugandi (Petualangan Sherina, Athirah, Ada Apa Dengan Cinta 2) yang mampu menggali ruang personal dalam interaksi manusia, Angga memamerkan kepekaannya, melalui pengadeganan yang mengutamakan keintiman tanpa banyak menerapkan “rekayasa” teknis seperti scoring mendayu misalnya.

Bahkan setelah memasuki third act, yang sejatinya merupakan parade peristiwa-peristiwa penguras air mata selaku payoff yang memang pantas penonton dapatkan selepas menyaksikan fragmen-fragmen keseharian sederhana selama lebih dari 90 menit. Di tangan Angga, jajaran pemain mendapat panggung unjuk gigi. Duet Oka Antara-Niken Anjani mengobrak-abrik perasaan di latar masa lalu; Donny Damara dan Rio Dewanto sebagai ayah-anak menyiratkan kerapuhan di balik kerasnya karakter masing-masing; Sheila Dara melanjutkan rentetan kegemilangannya dalam judul-judul produksi Visinema melalui keheningan menusuk; Rachel Amanda akan menarik simpatimu; dan saat Susan Bachtiar memecahkan kediamannya, di situlah film ini meledakkan pesan empowerment-nya. Berkat mereka semua, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini membuka 2020 secara hangat.

EGGNOID: CINTA & PORTAL WAKTU (2019)

Saya yakin, di luar tujuan finansial, salah satu alasan Visinema Pictures mengadaptasi berbagai judul webtoon dengan beragam imajinasi liarnya—yang diawali oleh Terlalu Tampan Januari lalu—adalah memberikan kesegaran bagi tema-tema usang. Demikian pula Eggnoid: Cinta & Portal Waktu yang diadaptasi dari karya Archie The RedCat, di mana elemen fiksi ilmiah disuntukkan dalam tuturan romansa remaja dan drama tentang proses individu menyembuhkan duka.

Tepat di ulang tahunnya yang ke-17, Ran (Sheila Dara), gadis SMA yang hidupnya dipenuhi kesedihan setelah kematian kedua orang tuanya akibat kecelakaan, menemukan sebuah telur bercahaya misterius. Dari telur itu keluar sosok seperti manusia yang disebut Eggnoid. Ternyata, Eggnoid yang olehnya diberi nama Eggy (Morgan Oey) itu dikirim dari masa depan guna membahagiakan Ran, menghilangkan kabut kelam bernama duka yang sudah terlalu lama menyelimuti kesehariannya.

Kalau sudah membaca webtoon-nya, anda tahu naskah buatan sutradara Naya Anindita (Sundul Gan: The Story of Kaskus, Berangkat!), Nurita Anindita (Terlalu Tampan), Yemima Krisantina, dan Indriani Agustina, melewatkan salah satu bagian paling menarik, yakni proses belajar pendewasaan serta pembiasaan Eggy, dari bayi bertubuh pria dewasa yang hanya bisa berkata “mama”, menjadi seperti manusia normal. Bahkan menyelipkan montage pun tidak. Agak disayangkan, karena selain punya potensi tinggi memproduksi tawa, Morgan terbukti mampu mengeluarkan kekonyolan di balik kepolosan kanak-kanak seorang pria dewasa. Bayangkan melihat Eggy miliknya kesulitan belajar memakai baju dan lain sebagainya.

Filmnya memilih langsung lompat menuju dua tahun berikutnya, sewaktu Ran mulai membaik. Dengan kepolosannya, Eggy, yang tinggal bersama Ran dan Diany (Luna Maya), tantenya—yang hanya mau dipanggil “kakak”—bisa mengembalikan tawa sang gadis. Eggy sendiri mulai menyesuaikan diri dengan dunia luar, setelah bekerja di toko es krim kepunyaan Tania (Anggika Bolsterli). Satu hal yang mestinya di titik ini telah dipahami produser dan sineas. Menempatkan Anggika Bolsterli dalam peran komedik dapat mengatrol daya hibur suatu film, yang kembali dibuktikannya di sini melalui reaksi-reaksi komikal lovable, yang membuat kita paham mengapa Zen (Reza Nangin) terpikat pada Tania di pandangan pertama.

Zen dan Zion (Martin Anugrah) merupakan dua orang dari masa depan yang bertugas mengawasi Eggy, menjaga si Eggnoid agar tidak menyalahi aturan. Di situ pangkal permasalahannya. Eggnoid dilarang jatuh cinta apalagi memacari majikannya. Dan Eggy, pasca mendapat kecupan di pipi, sadar bahwa ia mencintai Ran. Mencapai musim keempat yang masih bergulir hingga sekarang, Eggnoid versi Webtoon menyimpan mitologi menarik dan cakupan luas, yang dibangun lewat penceritaan jangka panjang. Bisa diapahami ketika film ini memilih menyederhanakannya.

Penyederhanaan yang naskahnya lakukan cukup banyak, tapi poinnya bukan di “seberapa berbeda”, namun mampu atau tidaknya para penulis mengubah tanpa menghilangkan esensi. Eggnoid: Cinta & Portal Waktu sukses melakukan itu, menjalin sebuah romantika ringan yang menggunakan elemen fiksi ilmiahnya sebagai faktor penyegar guna mengurangi familiaritas dengan deretan film percintaan anak muda yang banyak bertebaran.

Tahun 2019 benar-benar titik lonjakan karir Sheila Dara. Setelah sahabat yang mencuri perhatian di Bridezilla dan wanita misterius dalam Ratu Ilmu Hitam, kali ini ia kembali memikat sebagai gadis kesepian yang seringkali clingy setelah Eggy melenyapkan kesepian tersebut. Membuat kita bersimpati terhadap Ran sehingga memberi nyawa kepada romansanya, Eggnoid: Cinta & Portal Waktu adalah pembuktian dari Sheila, jika ia sudah lebih dari siap mengemban posisi peran utama.

Kembali soal penyederhanaan, mencapai babak konklusi, naskahnya seolah “kaget” ketika coba sedikit menggali perihal latar belakang Eggnoid. Dari kisah cinta ringan, lompatan menuju unsur fiksi ilmiah yang menyelipkan sekelumit filosofi soal ambiguitas benar/salah dalam hidup, gagal berjalan mulus. Merangkum nilai yang sedikit kompleks lewat beberapa baris kalimat dari mulut karakter yang baru muncul di akhir jelas bukan keputusan bijak. Apalagi saat filmnya terkesan ditutup tiba-tiba oleh konklusi yang lebih banyak memancing pertanyaan mengganjal ketimbang dampak emosi, biarpun niatnya memang membuka jalan bagi sekuel.

Setidaknya kekurangan tersebut bisa dimaafkan, sebab Eggnoid: Cinta & Portal Waktu punya salah satu momen paling emosional dalam film Indonesia sepanjang tahun (bukankah ini selalu jadi kebolehan judul produksi Visinema Pictures?), yang turut melibatkan Marissa Anita dalam penampilan singkat namun berkesan lewat penanganan penuh rasa akan kalimat sederhana. Silahkan berusaha menahan haru ketika filmnya mengungkap proses terciptanya foto polaroid yang tergantung di kamar Ran. Melalui momen itu saja, meski melewati banyak penyederhanaan, film ini sudah membuktikan kesuksesannya memanfaatkan elemen fiksi ilmiah demi menunjang paparan drama.

RATU ILMU HITAM (2019)

Kimo Stamboel (sutradara) dan Joko Anwar (penulis naskah) bersatu membuka pintu neraka dalam Ratu Ilmu Hitam, remake film berjudul sama rilisan tahun 1981 yang dibintangi Suzzanna (membawanya menyabet nominasi “Pemeran Utama Wanita Terbaik pada Festival Film Indonesia 1982). Batasan didobrak, ketabuan dikesampingkan, guna melahirkan horor Indonesia terbaik selama 2019.

Dibanding versi lamanya, naskah Joko menambahkan satu unsur: misteri. Sosok Murni si Ratu Ilmu Hitam masih ada, tapi ketimbang prolog, motivasi balas dendamnnya diletakkan di akhir selaku twist. Bahkan identitasnya dirahasiakan. Lebih dulu kita diajak berkenalan dengan Hanif (Ario Bayu), yang membawa istrinya, Nadya (Hannah Al Rashid), beserta tiga anak mereka, Dina (Zara JKT48), Sandi (Ari Irham), dan Haqi (Muzakki Ramdhan dalam satu lagi penampilan yang mencuri perhatian), mengunjungi panti asuhan tempatnya tinggal semasa kecil.

Kedatangan Hanif bertujuan untuk menjenguk Pak Bandi (Yayu Unru), si pengurus panti yang tengah sakit keras. Hadir pula dua sahabat Hanif, Anton (Tanta Ginting) dan Jefri (Miller Khan), membawa pasangan masing-masing, Eva (Imelda Therinne) dan Lina (Salvita Decorte). Semua awalnya tampak aman, bahagia, sarat nostalgia. Pun sesekali kita akan dibuat tersenyum, entah karena celotehan-celotehan polos Haqi, atau banter menggelitik Anton dengan Eva. Bahkan pasangan Maman (Ade Firman Hakim) dan Siti (Sheila Dara Aisha), dua kawan lama Hanif yang kini ikut mengurus panti, yang awalnya tampak misterius, larut juga dalam romantika.

Satu-satunya gangguan adalah saat di perjalanan menuju panti, mobil Hanif menabrak seekor rusa. Merasa janggal, ia mengajak Jefri menyatroni lokasi, hanya untuk mendapati ada teror mematikan tengah mengintai. Sebagaimana versi 1981, teror ini didasari balas dendam, hanya saja didorong penyebab yang berbeda. Dibanding naskah horor/thriller Joko lain, Ratu Ilmu Hitam mungkin paling straightforward, meski segelintir detail tersirat tetap bisa ditemukan. Contoh: Sudahkah anda menemukan karakter LGBT film ini?

Seperti biasa, kelebihan cerita tulisan Joko adalah soal menyulut antisipasi. Pertanyaan demi pertanyaan muncul berkala, tabir teror perlahan disibak, sebelum berakselerasi memasuki parade kegilaan, yang sekalinya dimulai, menolak untuk berhenti. Satu per satu korban teluh berjatuhan, sedangkan di sela-sela deretan kematian mengenaskan itu, beberapa kejutan dilemparkan supaya filmnya tidak terkesan hanya menambah tumpukan mayat.

Menggunakan fobia (beberapa di antaranya dimiliki oleh karakternya), teror Ratu Ilmu Hitam menyambah ranah yang tidak banyak horor kita berani sentuh, baik karena alasan moral maupun sensor. Hampir semua jenis siksaan ada. Mutilasi? Cek. Dibakar hidup-hidup? Cek. Digerogoti kelabang? Cek. Jarang pula horor kita berani membuat karakter bocah berdarah-darah. Berulang kali. Secara gamblang.

Setelah Dreadout yang mendekati kategori “bencana” di awal tahun, Kimo akhirnya lepas di sini. Energi sekaligus totalitas yang sama perihal presentasi sadisme, yang membuat duet Mo Brothers angkat nama, kembali Kimo tampilkan. Kimo cuma butuh pondasi naskah yang memfasilitsi visi gilanya, dan Joko menyediakan itu. Puncaknya adalah klimaks tatkala sang Ratu Ilmu Hitam berniat menciptakan neraka dunia. Dan rasanya memang seperti mengunjungi sudut-sudut neraka yang dipenuhi teriakan manusia akibat menerima siksaan tak terbayangkan. Serupa siksa neraka pula, ada ketidakberdayaan. Saya tahu, akhirnya protagonis pasti menemukan jalan keluar, tapi untuk sesaat, rasanya semua harapan sudah sirna.

Memang ada kekecewaan tertinggal akibat konklusi terlampau mudah, yang hadir setelah sebuah momen sinting, yang mengandung referensi terhadap Dukun Ilmu Hitam (1981). Tapi itu cuma cacat kecil dibandingkan seluruh rasa sakit, rasa takut, rasa jijik, rasa mual, dan rasa-rasa tak mengenakkan—tapi menyenangkan—lain yang berhasil dipersembahkan Ratu Ilmu Hitam.

BRIDEZILLA (2019)

Secara luas, Bridezilla tidak saja soal konflik seputar pernikahan. Ini pun tentang sisi gelap kehidupan sosial ibukota, tentang lubang hitam yang menyedot banyak manusia Jakarta. Apalagi kalau bukan fenomena panjat sosial. Ketika individu menakar orang lain (bahkan diri sendiri) menggunakan nilai material.

Penonton luar ibukota bakal geleng-geleng kepala, namun jika berada di dalamnya, mungkin anda akan merasa ngeri. Biarpun dipresentasikan lewat jalur komedi, fenomena tersebut begitu dekat, bahkan bisa jadi, tanpa disadari kitalah korban berikutnya (kalau belum). Mudah memahami itu berkat efektivitas penghantara pesannya, namun selaku kritik sosial yang dibungkus memakai sambul drama-komedi ringan, Bridezilla kekurangan dua poin vital: kelucuan dan hati.

Karakter utamanya bernama Dara (Jessica Milla), yang menjalankan sebuah wedding organizer bersama sahabatnya, Key (Sheila Dara). Dara terobsesi merebut gelar “wedding of the year” pemberian majalah terkemuka Wedding Star, di mana Anna (Widyawati) bertindak sebagai editor. Anna adalah wanita intimidatif pula dingin, yang rasanya terinspirasi dari Miranda Priestly-nya Meryl Streep, yang juga terinspirasi sosok Anna Wintour, yang saya yakin menginspirasi pemilihan nama karakter peranan Widyawati tersebut.

Sayang, harapan Dara terancam pupus kala pernikahan Lucinta (Lucinta Luna) yang ia organisir berujung bencana. Reputasi Dara dan wedding organizer-nya hancur, sedangkan para vendor dan klien mundur teratur. Sebab serupa realita, apa pun yang menimpa Lucinta Luna bakal jadi skandal berskala nasional. Di tengah kehancuran itu, Alvin (Rio Dewanto) melamar Dara, memberinya ide untuk membuat pesta pernikahannya menjadi even spektakuler demi menyabet titel “wedding of the year”.

Perjalanan Dara tak ubahnya biografi sosialita Jakarta. Mengawali segalanya sebagai orang berperasaan, seiring membesarnya tuntutan sosial, mereka memaksakan diri mendapatkan hal-hal bersifat material yang di luar jangkauan, bahka meski harus mengorbankan semuanya. Di satu titik, Dara berpikir untuk menjual rumah demi memperoleh cincin mahal, karena cincin pemberian Alvin yang juga merupakan warisan mendiang ibunya, dianggap kuno oleh Anna. Begitu terobsesi meraih kesempurnaan, Dara menjelma menjadi bridezilla seperti para klien yang membuatnya kesal, termasuk Lucinta.

Selepas harta, langkah berikutnya adalah mengorbankan orang-orang tercinta. Pada poin innilah persahabatan Dara dengan Key, pula hubungannya dengan Alvin menemui cobaan terjal. Serupa banyak orang, Dara terlalu mementingkan resepsi tapi lupa bahwa kehidupan pernikahan sebenarnya, yang sejatinya jauh lebih penting, telah menanti di depan.

Bisa ditebak, “pulang” merupakan jawaban bagi masalah-masalah di atas. Pulang, kembali ke keluarga dan orang-orang terkasih lainnya. Alurnya bergerak mengikuti formula paten itu, tapi naskah karya Lucky Kuswandi (Ini Kisah Tiga Dara, Galih & Ratna) dan Fai Tirta serta penyutradaraan Andibachtiar Yusuf (Hari ini Pasti Menang, Love for Sale) acap kali kekurangan sensitvitas, lalai membiarkan penonton meresapi momen-momen.

Serupa hidup di Jakarta, momen-momen Bridezilla datang dan pergi begitu saja. (MINOR SPOILER ALERT) Paling fatal tentunya babak akhir kala pernikahan Dara dilangsungkan. Berlatar lokasi indah dengan danau di belakang, saya bisa membayangkan betapa “mistis” namun indah peristiwa tersebut. Dan secara natural, konflik-konflik bakal menemukan resolusinya di sana. Tapi baik kesakralan upacara pernikahan maupun penebusan bagi konfliknya berlangsung tanpa penekanan, berlalu begitu saja bagai keping-keping insiden tak signifikan dalam kehidupan. Bahkan perubahan sikap Anna dilakukan secara buru-buru, karena sepanjang film, sama sekali tak ditemukan tanda-tanda kebaikan padanya. Berbeda dengan Miranda Priestly. (SPOILER ENDS)

Biar begitu, Bridezilla masih punya satu adegan menyentuh, tatkala Alvin melamar dara. Sebuah kesempatan langka di mana seluruh elemen saling mengisi dengan mulus: penyutradaraan lembut dibantu kebolehan membangun momentum, ketepatan naskahnya memilih timing kapan kejadian itu diposisikan, dan penghantaran hangat nan karismatik dari Rio Dewanto.

Jajaran penampil lain tak kalah baik. Jessica Milla mampu menangkap betapa menyebalkan seorang bridezilla tanpa harus membuat penonton membencinya, Widyawati menghidupkan seorang wanita berwibawa yang akan membuat siapa saja gentar bertatap muka dengannya, Sheila Dara memperlihatkan performa kaya dinamika yang mendefinisikan apa itu “sahabat”, sedangkan Rafael Tan dan Aimee Saras masing-masing sebagai A'ang (karyawan Dara) dan Kirana si sosialita tak pernah kehabisan daya guna memancing senyum.

Tapi saya menyesalkan kurang dimanfaatkannya talenta Lucinta Luna. Saya pernah beberapa kali terlibat proyek bersamanya, dan saya berani menyebut kalau aktris kontroversial satu ini punya bakat komedik luar biasa khususnya terkait kreativitas improvisasi. Di sini, kegilaan Lucinta—sebagaimana materi humor lain—dirusak oleh pengadeganan medioker. Tengok saja di adegan “menggelinding” yang dijadikan salah satu materi promosi filmnya.

Serupa kelemahan di aspek drama, adegan konyol di atas terkesan numpang lewat, terburu-buru, kekurangan punchline, enggan memberi penonton kesempatan mencerna kelucuannya terlebih dulu. Bridezilla dan Lucinta Luna sejatinya sama saja. Sama-sama menyimpan potensi luar biasa yang gagal dimaksimalkan. Karya terlemah Visinema sejauh ini.