Tampilkan postingan dengan label Alia Bhatt. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alia Bhatt. Tampilkan semua postingan

REVIEW - RRR

Ada istilah "maximalist film", untuk menyebut film yang "bertentangan" dengan prinsip minimalis. Jika membuka Wikipedia, nama-nama seperti Zack Snyder, Quentin Tarantino, John Woo, Tim Burton, dan (tentu saja) Michael Bay diidentikkan dengan gaya tersebut. Tidak keliru, namun di hadapan RRR buatan S. S. Rajamouli (dwilogi Baahubali), karya-karya mereka bak tontonan sederhana.

RRR adalah maximalist sesungguhnya. Film over-the-top di tiap lini, dan mustahil dilahirkan industri film lain. RRR membuat superhero Hollywood terlihat kerdil. RRR merupakan film superhero yang lahir berdasarkan kultur "mengagungkan para pahlawan", yang sekali lagi, tak dipunyai industri lain. Hanya India, atau dalam konteks film ini, Telugu.

Ditulis sendiri naskahnya oleh Rajamouli, RRR (singkatan dari "Rise Roar Revolt") mengangkat kisah fiksi mengenai dua figur pahlawan nyata, Komaram Bheem dan Alluri Sitarama Raju. Keduanya hidup di satu era, namun tidak pernah bersinggungan. Rajamouli mengimajinasikan, apa jadinya kalau mereka bertemu, berteman, lalu bertarung bersama. 

Paruh awal RRR memberi contoh bagaimana jagoan dalam film mestinya diperkenalkan. Raju (Ram Charan), seorang polisi berdedikasi, menerobos ratusan demonstran seorang diri hanya untuk menangkap satu provokator sebagaimana diperintahkan sang atasan, sedangkan Bheem (N. T. Rama Rao Jr.), pelindung suku Gond, diperlihatkan bertarung satu lawan satu dengan harimau. Penonton langsung sadar, keduanya bukan manusia biasa. Superhero. 

Jalan mereka bersilangan setelah Gubernur Scott (Ray Stevenson) dan istrinya, Catherine (Alison Doody) membawa paksa gadis cilik dari suku Gond. Sebagai pelindung, Bheem berangkat ke Delhi guna melakukan misi penyelamatan. Kabar kedatangan Bheem didengar oleh pihak Inggris, dan Raju pun dikirim untuk menangkapnya. 

Alih-alih berkonfrontasi, karena tak tahu wajah satu sama lain, hubungan Raju-Bheem justru diawali persahabatan. Pertemuan perdana keduanya menegaskan pendekatan Rajamouli terhadap tiap momen: membuatnya lebih gila dari yang diperlukan. Apakah menyelamatkan bocah di sungai perlu melibatkan motor, kuda, serta aksi akrobatik ekstrim? Tentu tidak, tapi sungguh gaya yang keren. Bukan cuma di aksi. Lihat bagaimana dua jagoan kita berjabat tangan di bawah air. 

Semuanya gila. Bahkan karakter pendukungnya saja mampu menangkap ular berbisa dengan tangan kosong tanpa harus melihatnya. Diiringi musik megah milik M. M. Keeravani yang ampuh memacu adrenalin, Rajamouli tidak sekalipun menahan diri, melempar aksi-aksi spektakuler yang dapat penonton rasakan seluruh impact-nya, entah itu pukulan, kepala yang terbentur batu, pecutan cambuk, maupun lesatan timah panas. 

Durasi 182 menitnya sama sekali tidak terasa (saya tidak keberatan kalau ditambah sampai empat jam), sebab filmnya amat piawai menjaga atensi. Hampir tiap situasi meninggalkan kekaguman, serta rasa penasaran akan apa yang menyusul berikutnya. Rasa penasaran itu lalu berubah ke kaget, karena RRR rutin menawarkan hal tidak terduga. Entah jenis aksi, pilihan shot, maupun peristiwa yang dimunculkan. 

Dibantu sinematografer langganannya, K. K. Senthil Kumar, Rajamouli memastikan sepak terjang dua jagoannya selalu nampak epik. Beragam shot megah, yang acap kali dihiasi gerak lambat kerap jadi andalan. Selain over-the-top, aksinya pun kreatif. Sekuen "serangan hewan" sudah jadi salah satu momen sinematik paling ikonik tahun ini dengan gif yang beredar di mana-mana, sementara klimaksnya memberi definisi unik untuk istilah "persatuan". 

Menariknya, di antara parade machismo membara itu, RRR mengangkat bromance yang tampil berlawanan. Manis, murni, hangat. Bromance di mana dua pria gahar alan-jalan berdua, makan berdua, menjalani semua bersama sambil tertawa bahagia. Tentu mereka pun menari berdua dalam nomor musikal Naacho Naacho yang meriah. 

Charan dan Rao sempurna melakoni peran masing-masing. Sama-sama punya kapasitas fisik bak superhero yang membuat mereka meyakinkan kala melakoni laga "tidak manusiawi", kedua aktor pun mudah membuat penonton tenggelam dalam hubungan fiktif Bheem-Raju. Apalagi kita tahu bakal datang titik saat bromance ini pecah. 

Melalui flashback yang menampilkan Ajay Devgn sebagai ayah Raju, pula subplot mengenai Sita (Alia Bhatt), tunangan Raju, filmnya menjabarkan bahwa sang polisi berdedikasi bukanlah pengkhianat bangsa, sembari menegaskan tema besarnya: kepahlawanan. 

RRR merupakan epos. Selain atas nama hiburan, pendekatan maximalist miliknya juga wujud ekspresi kekaguman, pemujaan, pengagungan pada jasa para pahlawan, dengan menjadikan mereka sosok superhero. Jangan lewatkan aksi dua jagoan yang mampu memutar motor di udara, semudah melempar handuk ini. 

(Netflix)

STUDENT OF THE YEAR 2 (2019)

Saya menyukai Student of the Year (2012) walau tetap meyakini bahwa karya Karan Johar (Kuch Kuch Hota Hai, Kabhi Khushi Kabhie Gham, My Name is Khan) tersebut menyasar target yang jauh di luar jangkauan kemampuannya. Sedangkan Student of the Year 2 tampil lebih sederhana, tanpa penggabungan narasi masa lalu-masa kini, pula mengesampingkan kisah persahabatan demi menampilkan romansa dan drama olahraga klise dibumbui sekuen aksi over-the-top. Dan itu bekerja dengan baik.

Pendekatan tersebut cukup menjustifikasi pemilihan Tiger Shroff sebagai aktor utama. Kapasitas aktingnya jauh di bawah Siddharth Malhotra atau Varun Dhawan, dengan ekspresi datar yang cuma sesekali digantikan senyum cringey. Tiger pun tampak terlalu tua untuk pantas disebut “student”. Tapi ia merupakan penari hebat sekaligus jagoan aksi mumpuni, yang sanggup melakukan banyak stunts rumit, suatu hal yang jadi salah satu senjata film ini selaku hiburan ringan.

Latarnya masih di kampus St. Teresa, pun Jeet (Sahil Anand) dan Dimpy (Manjot Singh) melakoni penampilan spesial sebagai duo komentator pertandingan Kabaddi, sedangkan Alia Bhatt muncul di nomor musikal sebelum kredit (The Hook Up Song), namun plotnya tak punya keterkaitan dengan film pertama. Bentuk kompetisi memperbutkan gelar “Student of the Year” pun diubah, dari ujian otak plus otot berlingkup internal menjadi acara olahraga antar kampus bernama Dignity Cup.

Serupa karakter peranan Varun Dhawan di film pertama, protagonis Student of the Year 2 bernama Rohan (Tiger Shroff), mahasiswa Pishorilal Chamandas, suatu universitas kelas bawah yang rutin mengisi posisi juru kunci pada Dignity Cup. Rohan ingin pindah ke St. Teresa yang prestisius, tapi bukan demi mengejar masa depan cerah, melainkan untuk pujaan hatinya, Mridula (Tara Sutaria). Meski bagi Rohan, rasanya Mridula adalah masa depan itu sendiri.

Berkat beasiswa olahraga, Rohan berhasil diterima, namun Mridula kini telah berbeda. Dia mengubah namanya menjadi Mia sebagai usaha membaur di antara para mahasiswa borjuis, pula ragu untuk melanjutkan hubungan bersama Rohan. Mengutip kalimatnya, “Daripada melihat dunia, Mia ingin dunia melihatnya”.

Bukan itu saja penghalang impian Rohan. Ada Manav (Aditya Seal), putera ketua komite universitas sekaligus peraih Student of the Year dua thaun terakhir dan adiknya, Shreya (Ananya Panday), pembuat onar yang langsung bertengkar dengan Rohan di hari pertama. Biarpun baru menjalani layar lebar, Ananya justru penampil terbaik film ini, melemparkan deretan olok-olok dari lidah tajamnya, yang alih-alih membuatnya mudah dibenci, malah ampuh meramaikan situasi dan memancing tawa. Saya berani bertaruh, serupa Alia Bhatt yang tampil perdana di Student of the Year, karir Ananya akan segera melesat.

Seiring waktu, Shreya terus mengganggu Rohan, sebaliknya, Manav membuka jalan pertemanan. Tapi kita tahu, dua bentuk hubungan di atas bakal berbalik, sebab seperti telah disebutkan, Story of the Year 2 memang klise. Tapi sungguh keklisean menyenangkan, sampai saya berharap kisahnya berakhir seusai prediksi. Alasannya, Rohan dan Shreya merupakan karakter (dan nantinya pasangan) likeable. Rohan jadi simbol perlawanan kalangan menengah ke bawah, sementara Shreya adalah gadis kesepian yang rindu kasih sayang.

Berlangsung selama 145 menit, naskah tulisan Arshad Sayed (Dasvidaniya, Chalo Dilli) menuturkan plot yang tak luar biasa, diisi elemen-elemen sederhana namun relatable, dari kisah cinta penuh perjuangan dan pengkhianatan, sampai underdog story formulaik. Kompleksitas urung ditemukan di permukaan, melainkan dalam perasaan tokoh-tokohnya. Film ini adalah soal menghadapi realita tatkala sesuatu (atau seseorang) yang kita kejar sekian lama mungkin saja takkan kita dapatkan, atau malah tidak layak diperjuangkan. Dan mudah bersimpati kepada Rohan, karena banyak dari kita pasti pernah merasakan kondisi demikian.

Kata “sederhana” layak pula disematkan di konsep turnamennya. Meski saya tetap mempertanyakan signifikansi disertakannya olahraga lain tatkala Kabaddi bagai satu-satunya cabang yang menentukan, karena Dignity Cup murni acara olahraga biasa,tidak ada lagi aturan-aturan problematik nan memusingkan milik pertama. Alhasil, lebih mudah membiarkan diri kita terhanyut dalam pertandingan demi pertandingan tanpa memusingkan lubang-lubang logika.

Student of the Year 2 menyimpan daya hibur tinggi berkat tenaga yang disuntikkan penyutradaraan Punit Malhotra (I Hate Luv Storys, Gori Tere Pyaar Mein). Termasuk di dalamnya yaitu sekuen tarian yang salah satunya memperlihatkan kemeriahan aneka set, dari panggung berhiaskan kilauan bohlam, hingga dinding berlukiskan rumus-rumus sains (dilengkapi cameo Will Smith).

Dan memanfaatkan talenta terbesar (atau satu-satunya?) Tiger, Student of the Year 2 mengandalkan lebih banyak sekuen aksi ketimbang pendahulunya. Ada beberapa perkelahian hard-hitting, tapi momen-momen terbaik dihadirkan pertandingan Kabaddi selaku klimaks film, yang melibatkan berbagai gerak akrobatik mengesankan. Saya dibuat terpukau (bahkan sebagian penonton berulang kali bertepuk tangan) setiap stunts rumit—yang tampak mudah berkat kemampuan fisik Tiger—sukses dilakukan. Jadi, lupakan kedangkalan ceritanya, cukup nikmati keseruan dan ke-cheesy-an crowd-pleaser ringan ini.

KALANK (2019)

Diproduseri oleh sang legenda Karan Johar (Kuch Kuch Hota Hai, Kabhi Khushi Kabhie Gham, My Name is Khan), film berdurasi 166 menit ini diisi kisah cinta segitiga, isu pernikahan, hingga keluarga disfungsional dengan rahasia kelam. Kalank bagai usaha menangkap kembali semangat romansa epik khas Bollywood klasik dalam sentuhan modern berupa kemegahan departemen artistik.

Alhasil tatkala Kalank hanya berakhir sebagai “karya yang tidak buruk”, pantaslah rasanya cap “mengecewakan” disematkan. Digawangi oleh sutradara/penulis naskah Abhishek Varman (2 States), filmnnya mengusung ambisi tinggi. Terlampau tinggi malah, sehingga meroket ke tingkat yang tak mampu dijangkau. Selipan konflik sosial-politik setengah matang mengenai pemisahan India malah menciptakan distraksi alih-alih memperkuat dramanya.

Begitu mengetahui usianya hanya tersisa setahun akibat kanker, Satya (Sonakshi Sinha) meminta kerabat masa kecilnya, Roop (Alia Bhatt), agar menikahi sang suami, Dev (Aditya Roy Kapur). Satya berharap, sepeninggalnya, Dev takkan hidup kesepian. Roop dan Dev bersedia menikah demi Satya, namun tak ada cinta di antara mereka. Keduanya tinggal seatap, tapi jangankan berhubungan layaknya suami-istri, mengenali wajah masing-masing saja tidak.

Kehidupan baru di kediaman keluarga Chaudhry ini meninggalkan kekosongan di hati Roop. Mencari hiburan, ia meminta Bahaar (Madhuri Dixit), guru vokal merangkap pemilik rumah bordil, melatihnya bernyanyi. Niatan itu ditentang keras oleh keluarganya, sampai Roop bersedia bekerja di kantor surat kabar milik Dev yang belakangan kerap menyulut kontroversi sekaligus menjadi musuh kelompok Islam setempat akibat sikap kerasnya menolak pemisahan.

Dari situlah awal mula pertemuan Roop dengan Zafar (Varun Dhawan), seorang pandai besi sekaligus anggota kelompok muslim garis keras, yang memendam benci terhadap keluarga Chaudhry. Meski sempat dibuat kesal, lama-lama Roop malah menemukan kenyamanan dari kehadiran Zafar. Ditemukannya sesuatu untuk mengisi kehampaan biduk rumah tangganya. Tapi tanpa Roop ketahui, Zafar menyimpan agenda lain.

Presentasi elemen sosial-politik dalam naskah Abhishek, yang kelak memberi bekal bagi dramatisasi klimaksnya, kesulitan menemukan kadar yang pas. Lebih dari sekadar latar, namun minim eksplorasi bila ingin dijadikan santapan utama. Proporsi romansa pun jadi korban, meski dasarnya, perihal romansanya memang sudah terasa kekurangan jiwa. Abhishek berlebihan memakai kalimat quotable bernuansa puitis maupun bernada filosofis, yang kurang memanusiakan serta melucuti keintiman antar tokoh, pula kerap bergulir terlampau panjang dan terkesan bertele-tele.

Kalank membutuhkan sentuhan humanis, yang beruntung, dapat ditemukan dari performa jajaran pemain. Alia Bhatt memancarkan aura kehadiran kuat yang—sebagaimana banyak pelakon papan atas Bollywood—membedakan antara “aktor baik” dengan “megabintang”. Sedangkan Varun Dhawan mulus melakoni transformasi Zafar, dari pria penuh kebencian yang “takut” akan kebaikan, menjadi sosok baik nan tak individualis berkat cinta.

Sayangnya, itu pula yang film ini gagal maksimalkan: Bagaimana cinta memantik kebaikan hati, dan sebaliknya, ketiadaan cinta bisa membawa kekacauan. Pesan sederhana, kalau bukan klise, yang tertutup bayang-bayang ambisi tampil kompleks, termasuk pemakaian paksa gaya bertutur non-linier, tatkala Roop menuturkan kisahnya kepada pewawancara. Elemen itu hadir tiba-tiba entah dari mana, dan tak membawa pengaruh sedikitpun bagi narasi.

Jalinan cerita Kalank memang bak opera sabun, dan itu bukan hal yang wajib dihindari. Sebab, se-cheesy apa pun, pengungkapan tiap fakta mengejutkan mengenai rahasia masa lalu atau identitas karakter, sudah cukup untuk membuat penonton terkesiap atau merasa gemas. Filmnya tidak perlu merasa malu, karena dengan veteran-veteran hebat seperti  terkesiap atau merasa gemas. Filmnya tidak perlu merasa malu, karena saat veteran-veteran hebat seperti Sanjay Dutt dan Madhuri Dixit beradu rasa, mustahil Kalank terkesan murahan.

Tengok pula pencapaian departemen artistiknya. Biarpun penyutradaraan Abhishek kentara masih jauh di bawah sang mentor (ia pernah menjadi astrada Karan Johar di My Name is Khan dan Student of the Year) terkait cara menangani kemegahan semacam ini, mata kita tetap bakal terpuaskan oleh kain-kain serta dekorasi mahal beraneka warna dan desain. Pun berkat sekuen penutupnya yang indah juga menyentuh, Kalank meninggalkan aftertaste positif.

GULLY BOY (2019)

Suguhan seperti Gully Boy merupakan alasan mengapa saya bersemangat menantikan film Bollywood tiap minggu meski harga tiketnya lebih tinggi. Para sineasnya piawai mewakili suara kaum yang ditekan. Bukan saja memotret kesulitan hidup, pula menyediakan suaka di mana rakyat kecil, minoritas, maupun korban represi punya kesempatan berjuang, sementara mereka yang lebih beruntung coba dibangkitkan nuraninya demi menumbuhkan kepedulian berasaskan kemanusiaan.

Film ini dibuat berdasarkan kisah hidup Naezy dan Divine, dua figur penting dalam pergerakan skena hip-hop Mumbai. Kemiskinan dan ketidakadilan di sekitar jadi sumber inspirasi karya mereka. Dalam menuturkan itu, sutradara Zoya Akhtar (Bombay Talkies, Dil Dhadakne Do) yang turut menulis naskahnya bersama Reema Kagti (Dil Dhadakne Do, Gold), kentara memahami substansi kultur hip-hop sebagai bentuk perlawanan terhdap kungkungan sosial-masyarakat.

Murad (Ranveer Singh) adalah pria muslim yang tinggal di perkampungan kumuh. Sang ayah (Vijay Raaz)—yang menikah lagi lalu membawa istri keduanya ke rumah—selalu menyuruh Murad “menundukkan kepala”, menyadari takdirnya sebagai rakyat kecil yang tak pantas bermimpi besar. Murad pun hanya bisa diam menurut. Bait-bait rima tulisannya jadi satu-satunya tempat di mana Murad bebas menyuarakan isi hati. Dia jatuh cinta pada musik rap.

Murad menjalin asmara dengan Safeena (Alia Bhatt), gadis dari keluarga mampu yang bercita-cita menjadi ahli bedah, meski ibunya beranggapan bahwa wanita tak memerlukan pendidikan tinggi. Keduanya terpaksa selalu diam-diam bertemu di bus, sebab mayoritas orang di sekeliling mereka, termasuk orang tua Safeena, adalah muslim konservatif yang menganggap pacaran sebagai tindakan tak bermoral.

Murad dan Safeena muncul bersama di layar untuk pertama kali lewat salah satu momen romansa non-verbal termanis yang pernah saya saksikan. Saya takkan menjabarkan detail situasinya, kecuali bahwa still photo adegan tersebut digunakan sebagai materi poster filmnya. Hanya melalui satu adegan itu, saya langsung terpikat pada pasangan ini. Terlebih, Ranveer Singh dan Alia Bhatt mampu memproduksi chemistry sempurna, di mana sang aktris menampilkan akting berapi-api sebagai “gadis senggol bacok” yang tak segan melakukan tindak kekerasan terhadap wanita yang ingin “mencuri” sang kekasih.

Peluang Murad memasuki skena rap tiba setelah bertemu MC Cher (Siddhant Chaturvedi) di sebuah pertemuan komunitas rap bawah tanah. Walau masih hijau dan perlu banyak belajar lagi perihal permainan beat, Sher mengakui baka Murad dalam menulis bait yang meskipun indah, begitu tajam pula jujur menangkap realita kalangan bawah.

Ada begitu banyak hal coba dipaparkan Gully Boy selama durasinya yang menyentuh 153 menit. Tidak ada semenitpun terbuang sia-sia dalam penuturan bertele-tele, tapi harus diakui, terlampau banyak permasalahan dipadatkan secara paksa. Menyatukan pengalaman nyata dua sosok manusia, Gully Boy bagai berhasrat mengumpulkan sebanyak mungkin cerita tentang para pencari kebebasan. Mulai dari pergulatan Murad guna membuktikan kemampuannya meraih mimpi, keresahan perihal jomplangnya kesejahteraan masyarakat, kemiskinan yang mendorong kriminalitas, kekolotan pola pikir termasuk mengenai cara publik memandang wanita, dan seterusnya.

Setiap isu memancing subplot baru, yang sesekali melelahkan diikuti dan berisiko merusak momentum. Beruntung, deretan problematikanya relatable, sehingga mudah memancing dukungan bagi tokoh-tokohnya. Kita ikut merasa terpuruk ketika mereka dijatuhkan, dan akhirnya, ketika mereka bangkit, melawan, kemudian berjaya, kita bakal bersorak layaknya merayakan kemenangan besar.  

Penyutradaraan Zoya Akhtar cukup dinamis untuk mengikuti atmosfer yang dihasilkan jajaran lagu rap (beberapa dibuat sekaligus dibawakan oleh Naezy dan Divine) yang setidaknya akan membuat anda tergoda menggoyangkan kepala, terserap ke dalam hentakan adiktif juga permainan kata yang acap kali menggelitik. Sewaktu karakternya beradu rap, beberapa kalimat cacian ampuh memancing senyum, tawa, atau bahkan—seperti sekelompok penonton yang duduk di depan saya—teriakan selaku ungkapan kekaguman atas “serangan brutal” tiap rapper.

Ranveer menciptakan protagonis likeable dalam transformasi perlahan Murad dari pria tertekan yang memilih diam menjadi sosok tangguh yang bersedia berdiri untuk melawan. Semua dipicu proses bermusiknya. Dan di atas panggung, Ranveer meyakinkan kala menjadi pemimpin kharismatik yang mengomandoi ratusan penonton untuk bernyanyi bersama, menyatukan teriakan perlawanan yang lama terpendam hingga menyesakkan dada.

ZERO (2018)

(PERINGATAN: Review ini mengandung SPOILER!)
Seperti impian protagonisnya, Zero adalah karya ambisius. Mungkin romansa paling ambisius yang saya saksikan sepanjang tahun. Berawal dari kota kecil bernama Meerut, karakternya dibawa melanglang buana menuju kehidupan glamor dunia hiburan, sebelum berakhir terbang ke luar angkasa. Demi memperoleh kepuasan, sebaiknya tinggalkan logika di rumah, dan jangan lupa membawa hati ketika menontonnya.

Saya merasa Bauua Singh (Shah Rukh Khan) si karakter utama pantas disebut “zero”. Ya, dia memang seorang pria kerdil dari pinggiran kota tanpa modal pendidikan tinggi, tapi pertama, ia jelas tampan (Come on, this is SRK that we’re talking about). Kedua, ia berasal dari keluarga kaya raya yang membuatnya bisa seenaknya menyebar uang ke jalanan, bahkan menghabiskan 600 ribu rupee, atau sekitar 124 juta rupiah guna menunjukkan cintanya kepada seorang wanita.

Itu terjadi dalam musikal berisi warna-warni menyala, semburan air, dan orkestra megah, yang disatukan oleh sutradara Aanand L. Rai (Tanu Weds Manu, Raanjhanaa) menjadi momen terindah film ini. Sedangkan wanita perebut hati Bauua adalah Aafia (Anushka Sharma), ilmuwan NASA penderita cerebral palsy yang harus menghabiskan harinya di kursi roda. Awalnya mereka saling benci. Bauua yang mengetahui Aafia dari foto di biro jodoh merasa tertipu melihat kondisinya. Sementara kejengahan Aafia dapat dipahami. Bauua adalah pria sok pintar, sok ganteng, egois, juga kurang ajar. Dia bahkan mengolok-olok kelumpuhan Aafia di sebuah konferensi pers. Namun kegigihan Aafia mampu meluluhkan hati Bauua, yang segera berusaha memperbaiki kesalahannya.

Zero bisa saja bergerak menyusuri formula drama romantika sarat makna tentang dua insan berkekurangan yang saling menemukan, lalu sama-sama membuktikan bahwa mereka menyimpan banyak kelebihan. Ternyata tidak. Seperti Bauua, Zero memiliki ambisi lebih besar.

Protagonis kita diberkahi kekuatan unik untuk menjatuhkan bintang. Dia hanya perlu mengacungkan jari, berhitung, “10, 9, 8, zero!”, dan bintang yang dimau jatuh dari langit. Rupanya Bauua ingin merengkuh “bintang” lain, yakni Babita Kumari (Katrina Kaif), seorang aktris film ternama. Terdengar bagai pungguk merindukan bulan, namun kala “kebetulan” dan “kegilaan” bertubrukan, jalan merebut hati si megabintang pun terbuka lebar. Zero mencapai titik balik begitu Bauua memilih mengejar impian muluknya, lalu meninggalkan wanita yang tulus mencintainya.

Babak pertama Zero jadi kisah cinta intim nan manis berkat duet maut Shah Rukh Khan-Anushka Sharma. Tuntutan performa akurat kala memerankan penderita cerebral palsy urung menghalangi Anushka menghantarkan emosi secara meyakinkan. Sementara SRK menyuntikkan cukup energi guna menghidupkan sosok pria dengan kepercayaan diri plus semangat tinggi.

Walau menimbulkan tanya perihal cara Bauua bertahan hidup (dan tetap bergelimang uang) pasca kabur dari rumah di saat peristiwa itu terjadi mendadak dan ia tak membawa apa pun, babak keduanya berhasil tampil sama menghiburnya dengan babak pertama. Protagonis kita semakin lengket dengan sang idola, yang rupanya adalah alkoholik dengan kehidupan berantakan, terlebih pasca ditinggalkan kekasihnya. Tapi sekali lagi, pesona Bauua terbukti sulit ditahan.

Setelah terlibat obrolan panjang lebar untuk pertama kali di sebuah pesta—yang dijadikan alat menampilkan sederet cameo dari Kajol, Rani Mukerji, Deepika Padukone, Alia Bhatt, hingga mendiang Sridevi dalam penampilan layar lebar terakhirnya—Babita membiarkan Bauua tinggal di dekatnya, mengajaknya ke lokasi syuting, pemotretan, bahkan tinggal di rumahnya. Sekilas, Zero terdengar akan melangkah menuju satu lagi kisah seputar karakter yang sukses mewujudkan impiannya, hanya untuk menyadari impian itu tak seindah angan, menyesal telah membuang hal-hal berharga demi ambisinya, lalu berusaha mendapatkannya lagi.

Pernyataan terakhir memang benar, tapi Bauua sama sekali tidak dikecewakan oleh Babita. Cita-citanya jadi kenyataan, namun secara bersamaan, ia merasa betapa cintanya bagi Aafia memang nyata, pula sebaliknya. Bauua “terbangun” kala kebahagiaan justru sedang menyinari hidupnya. Bagi saya, kondisi tersebut membuat kesadaran karakternya jauh lebih bermakna dan murni. Babita sendiri menyadari isi hati Bauua, menggiringnya memancing obrolan memikat di mobil, yang juga merupakan panggung pembuktian kapasitas akting dramatik Katrina Kaif.

Sampai di sini, terlihat jika naskah buatan kolaborator Aanand L. Rai sejak Strangers (2007), Himanshu Sharma, benar-benar mengesampingkan logika. Jangankan mendekap hati idola, keberhasilan membuat seorang ilmuwan NASA yang berperan besar merealisasikan ekspedisi ke Mars bertekuk lutut saja sudah terdengar di luar nalar. Toh semua kemustahilan itu nampak normal dibandingkan konten babak ketiganya, sewaktu Bauua coba menebus dosa besar pada Aafia lewat kegilaan besar.

Dia bisa mengendalikan bintang, pun menaklukkan seorang bintang, kini waktunya Bauua sungguh-sungguh pergi ke bintang. Sekembalinya dari hingar bingar dunia selebritas bersama Babita, Bauua mengetahui cinta sejatinya telah dilamar pria lain dan tengah mempersiapkan pernikahan. Tapi ia pantang menyerah. Dipustukannya mengikuti tes sebagai astronot dalam misi peluncuran kapal berawak manusia ke Mars. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini ia bertekad takkan kabur saat menghadapi rintangan.

Di permukaan, kenekatan itu terlihat tanpa arti. Seolah naskahnya asal berjalan nihil tujuan, dan digerakkan semata oleh ambisi guna memperbesar skala film. Tapi jika pernah merasakan keputusasaan akibat cinta, anda akan memahami dorongan berbuat hal gila demi mengekspresikan perasaan, meski jika dipikir masak-masak, tindakan itu tidak berguna. Zero berhasil mewakili kondisi tersebut.

Merupakan film SRK berbujet terbesar, Zero mempunyai efek visual memikat yang mengakodomasi ambisi tingginya. Agr SRK terlihat “mengecil”, film ini menerapkan forced perspective sebagaimana dipakai Peter Jackson di trilogi The Lord of the Rings, dikombinasikan dengan teknik double scale. Hasilnya naural. Bukan itu saja, CGI turut digunakan secara efektif di beberapa kesempatan, misalnya saat SRK dan Anushka melayanng di ruang bergravitasi nol, hingga adegan peluncuran roket.

Keluhan terbesar saya justru muncul tepat ketika film menyentuh titik pamungkas. Kentara, naskahnya menyimpan ide agar konklusinya tampil lebih dramatis, tapi (mungkin) karena Zero telah bergulir selama 164 menit, pula menjaga agar biaya produksi tak semakin membengkak, diputuskanlah merangkum ide tersebut menjadi epilog pendek yang terasa sambil lalu, tanpa substansi, tanpa dampak emosi. Padahal saya sendiri tak keberatan duduk 20-30 menit lebih lama. Sebab walau menyalahi nalar serta jauh dari sempurna, Zero merupakan kisah cinta epic yang sanggup menebar senyuman.

RAAZI (2018)

Dalam thriller spionase tentang agen ganda, bagian paling intens tidak pernah jauh dari usaha protagonis berpacu dengan waktu dan celah peluang sempit untuk menjalankan misi sambil melindungi penyamarannya. Kita tahu bahwa kemungkinan besar ia bakal berhasil, dan di mayoritas kesempatan memang demikian hasilnya. Tapi dalam Raazi yang diangkat dari novel Calling Sehmat buatan Harinder Sikka, yang mana terinspirasi dari peristiwa nyata, aksi kecoh-mengecoh itu membuat saya mencengkeram kursi sembari menahan nafas. Begitu menegangkan sampai saya sejenak lupa kalau hasil akhirnya telah diketahui. Rasanya seperti dibawa terjun langsung ke tengah peristiwa saat itu juga. This, ladies and gentlemen, is a high-class thriller.

Dalam film serupa, merupakan konflik biasa tatkala muncul kepedulian sang agen ganda terhadap target operasi, di mana ada jalinan emosi yang menghasilkan bias. Tapi, seperti yang belum lama ini saya tuturkan melalui ulasan 102 No Out, perfilman Bollywood tengah bagus-bagusnya membungkus drama. Terjadi pula di sini sewaktu duo penulis naskah, Bhavani Iyer dan Meghna Gulzar, mengedepankan unsur cinta, nilai kekeluargaan, serta bagaimana jika keduanya dibenturkan dengan patriotisme. Awalnya, Raazi terasa sebagai usaha terlampau gamblang guna menyuarakan patriotisme. Hidayat (Rajit Kapur), yang menjalin persahabatan dengan Brigadir Pakistan demi mengorek informasi bagi India bersedia memberikan nyawa bagi negerinya. Hal itu ia ucapkan secara verbal, bukan nilai tersirat yang akan dipetik penonton.
Begitu tumor paru-paru ganas membuat usianya tak lagi lama, Hidayat mengirim puteri tunggalnya, Sehmat (Alia Bhatt) untuk melanjutkan misi tersebut. Sehmat bakal dinikahkan dengan putera sang Brigadir, lalu diam-diam menyuplai informasi kepada intelijen India. Seperti ayahnya, Sehmat lantang berkata bahwa tidak ada yang lebih penting ketimbang tanah air. Apabila anda berasal atau dekat dengan keluarga militer, pasti tahu jika patriotisme turun-temurun macam ini wajar terjadi, bukan ketidaklogisan naskah filmnya. Namun perlahan, khususnya setelah mencapai konklusi, Raazi mengungkap “wajah aslinya”. Ini bukan propaganda pendukung patriotisme buta. Sebaliknya, Raazi menunjukkan betapa kebutaan itu dapat menghapus rasa kemanusiaan, memporak-porandakan cinta bahkan keluarga. “Dia cuma melakukan itu demi negara”, sebut seorang tokoh. Saat itulah nurani dipertanyakan.

Seperti telah disebut, sumber adaptasinya mengambil inspirasi dari kisah nyata, tepatnya Perang India-Pakistan tahun 1971. Jangan khawatir akan tersesat apabila kurang familiar dengan salah satu babak sejarah tersebut, meski tidak ada salahnya membaca satu-dua sumber terlebih dahulu. Setelah lima menit awal yang diisi pemaparan fakta dan nama beruntun, Raazi cenderung mudah dicerna. Karena walau berlatar konflik internasional, fokus alurnya terjaga, setia bertahan di lingkup misi Sehmat, sambil sesekali menggali drama keluarga pemicu dilema dalam dirinya. Bhavani Iyer dan Meghna Gulzar urung tergoda menyentuh ranah yang lebih luas nan bombastis. Memanasnya konflik India-Pakistan merupakan latar, sedangkan kisah utamanya tetap personal.
Sebagai intelijen, demi mejaga kerahasiaan jati diri, Sehmat mesti menempuh berbagai jalan rumit guna menjalankan misi. Dia mesti menghafalkan sandi morse, kode nama untuk tiap-tiap pihak Pakistan, sandi, serta identitas para agen lain yang siap memberi bantuan. Rumit, tapi kerumitan itu dijaga supaya cukup ada di kepala Sehmat semata. Kita, penonton, tidak ikut dibuat pusing karenanya. Semua berkat naskah ditambah kemampuan bercerita secara rapi milik sang sutradara, Meghna Gulzar (Just Married, Talvar). Pun Meghna dibantu penyuntingan dinamis Nitin Baid, yang acap kali melahirkan kesempurnaan timing penyulut ketegangan tingkat tinggi. Banyak unsur “tiba-tiba” yang mampu menggedor jantung berkat elemen tersebut. Momen Sehmat diam-diam menyalin berkas sang mertua contohnya.

Digawangi oleh penulis naskah dan sutradara wanita, Raazi pun turut menjelma jadi kisah pameran kekuatan seorang wanita, yang mengalami transformasi, dari mahasiswi yang tak sanggup melihat seekor tupai terlindas mobil, menjadi agen rahasia tangguh yang bersedia melindas tubuh manusia dengan mobil. Alia Bhatt menjual perkembangan karakter itu dengan baik, meyakinkan sebagai intelijen yang taktis sekaligus cerdik dalam menyelesaikan tugas. Biar demikian, momentum terbaiknya selalu terjadi kala bersinggungan dengan porsi drama emosional. Sebab pada momen-momen itu juga, kita melihat kekuatan terbesar Sehmat. Bukan soal merenggut nyawa atau menipu lawan, melainkan tetap bertahan sebagai manusia berperasaan meski dihimpit situasi.