Tampilkan postingan dengan label Angel Karamoy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Angel Karamoy. Tampilkan semua postingan
ROY KIYOSHI: THE UNTOLD STORY (2019)
Rasyidharry
Ingat saat internet dibanjiri meme soal bentuk dagu Roy Kiyoshi? Salah
satunya mengedit kepala Roy menjadi sebaris gigi seri. Saya tidak suka
mengolok-olok fisik seseorang, tapi aktingnya di film ini memang tampak seperti
gigi: keras, kaku, datar. Seperti anda tahu, saya sering menonton film buruk
berisi akting tak kalah buruk, namun buruknya akting Roy di sini bahkan
berhasil membuat saya terkesima.
Memerankan sosok fiktif dari
dirinya, Roy menghabiskan mayoritas paruh awal Roy Kiyoshi: The Untold Story nyaris tanpa berbicara, banyak
berdiri diam dikuasai lamunan, tenggelam dalam adiksi alkohol akibat rasa
bersalah pasca sang adik, Rani (Clarice Cutie) diculik sosok iblis bernama
Banaspati. Tapi jangan khawatir para pecinta suara Roy Kiyoshi, sebab ada
banyak porsi voice over dilimpahkan
kepada pria indigo kebanggaan Indonesia ini, yang terdengar layaknya anak SD
kala pertama kali diminta membaca puisi.
Ketika Roy sibuk mabuk-mabukkan,
Sheila (Angel Karamoy), lulusan S2 jurusan psikologi yang bekerja di suatu LSM
tengah melangsungkan investigasi terhadap kasus hilangnya anak-anak. Menyandang
gelar “Master of Psychology” tak membuat Sheila lupa daratan. Dia enggan pamer
ilmu, sehingga tak sedikit pun ia nampak seperti psikolog.
Sebaliknya, Sheila terbuka akan
sumber keilmuan lain. Apabila karakter psikolog dalam film umumnya bersikap
skeptis pada hal mistis, Sheila langsung percaya bahwa anak-anak itu hilang
diculik setan setelah melihat rekaman milik seorang wanita mantan karyawan LSM
tempatnya bekerja yang tewas bunuh diri. Lucunya, ruang kerja wanita itu
dibiarkan berantakan dengan seluruh barang teronggok begitu saja, memudahkan
Sheila menemukan berbagai arsip dan kamera kepunyaannya.
Walau saya mengapresiasi keengganan
naskah karya Jose Purnomo (Pulau Hantu,
Alas Pati, Gasing Tengkorak) dan Aviv Elham (Tali Pocong Perawan, Reva: Guna Guna) menciptakan satu lagi
kompilasi jump scare dan memilih
mengutamakan elemen misteri, penyelidikan yang Sheila lakukan amat jauh dari
menarik, sebab kita tahu semuanya bakal bermuara di satu kesimpulan: Banaspati
adalah pelaku penculikan tersebut. Ada bagian menjanjikan ketika Sheila coba
mencari korelasi antara tiap kasus, tapi teka-teki itu langsung terpecahkan
selang beberapa detik setelah diperkenalkan.
Berikutnya, Sheila menemukan
laporan di kepolisian soal hilangnya Rani, yang ia yakini merupakan keping yang
bakal melengkapi keseluruhan misteri. Laporan itu dilayangkan oleh Tante Riska
(Olga Lydia). Saya menyimpan setumpuk tanda tanya tentang karater Tante Riska.
Pertama, siapa dia??? Apakah tante Roy (adik dari ibu/ayahnya), ataukah “tante”?
Kedua, jika Tante Riska tahu Rani adalah
korban Banaspati, buat apa repot-repot lapor ke polisi? Jawaban pertanyaan
kedua sederhana. Para penulis naskahnya terlampau malas mencari jalan yang
lebih baik guna mempertemukan Sheila dengan Roy.
Saat mengunjungi rumah Roy, Sheila
diam-diam mengambil secarik kertas bertuliskan cara memanggil Banaspati. Saya
mulai mengkhawatirkan Sheila. Apakah dia pengidap kleptomania? Di hari pertama
kerja, ia mengambil kamera dari kantor. Sekarang, di kunjungan pertamanya ke
rumah orang asing, ia mengambil catatan. Entahlah, pastinya Sheila orang bodoh.
Dia memanggil Banaspati tanpa alasan maupun rencana yang jelas.
Rasanya mental Sheila terganggu
akibat tinggal di apartemen yang tak mengenal teknologi bernama “lampu”.
Kamarnya remang-remang, bahkan satpam di sana tampak membaca di ruang tanpa
penerangan. Hal paling terang justru tubuh penuh urat urat yang menyala
layaknya dialiri api milik Banaspati. Setidaknya film ini punya sosok hantu berpenampilan
mumpuni, dengan Kabuto (helm samurai) di kepala serta riasan creepy. Itulah satu-satunya elemen
positif Roy Kiyoshi: The Untold Story.
Hiburan sesungguhnya baru bermula
begitu Roy menyadari kesalahannya, berhenti minum, memutukan membantu
Sheila.....lalu mulai banyak bicara. OH TUHAN. Akting Angel Karamoy, yang penuh
antusiasme salah tempat dan/atau waktu, sudah cukup buruk, tetapi
Roy......Semoga Tuhan mengampuni akting memalukan ini.
Penampilan Roy bukan saja buruk,
tapi tampak nihil usaha, bahkan untuk sekedar mengucapkan kalimat senatural
mungkin agar tak terdengar seperti sedang pertama kali membaca naskah. Kekakuan
Roy mengingatkan saya kepada para pemenang Ale-Ale, dan itu cukup sebagai
pemicu ledakan tawa para penonton tiap kali mulutnya melantunkan kalimat-kalimat
bernada surgawi. Saya sempat bingung mesti menganugerahi film ini berapa
bintang, sebelum memutuskan memberinya sejumlah ekspresi wajah yang Roy
Kiyoshi tampilkan sepanjang durasi, yaitu.....
Maret 22, 2019
Angel Karamoy
,
Aviv Elham
,
Clarice Cutie
,
horror
,
Indonesian Film
,
Jose Purnomo
,
Olga Lydia
,
REVIEW
,
Roy Kiyoshi
,
Sangat Jelek
REVA: GUNA GUNA (2019)
Rasyidharry
Anda tahu dunia horor tanah air
sedang mengalami krisis jika film macam Reva:
Guna Guna tak sampai membuat anda kejang-kejang. Sebab, tentu saja Jose
Purnomo (Jelangkung, Alas Pati, Silam)
punya selera visual lebih baik, pula lebih bertalenta dibanding orang-orang di
belakang Kain Kafan Hitam atau 11:11: Apa yang Kau Lihat?. Dinilai dari
sampul luar, film ini memang produk layar lebar layak putar.
Turut mengambil peran sinematografer
seperti biasa, setidaknya Jose tak memberi kesempatan gambar dengan resolusi tiarap
dan/atau luput dari proses color grading muncul
di hasil akhir filmnya. Sering tampak glitch
yang mengindikasikan proses pasca-produksi yang terburu-buru (mungkin DCP baru
selesai di saat-saat akhir?), tapi itu bukan kekeliruan sang sutradara. Tiga
hantu antagonis (Gemet Aresan, Jurig Jarian, Emak Bongkok) pun wajahnya dibalut
riasan memadahi. Tingkat kengeriannya bisa didebat, namun Kiki Aston (Silam, Kuntilanak) dan Dicky Etto (Jaga Pocong, Anak Hoki) jelas tak asal
meniupkan bedak ke wajah pemain.
Reva: Guna-Guna memang takkan melukai mata penonton. TAPI, jika
diskusi diteruskan menuju pertanyaan “Apakah filmnya melukai otak?”, jawabannya
masih “Ya”. Bahkan sejak adegan pembuka yang memperlihatkan Reva (Angel
Karamoy) tengah berada di sel tahanan tanpa toilet, seolah memperlihatkan kerja
setengah hati tim penata artistik. Pantas Reva nampak begitu tertekan, karena
untuk kencing selepas diteror hantu saja ia dipersulit.
Reva merupakan terdakwa pembunuhan
atas seluruh anggota keluarganya, kecuali sang ayah, (Ferry Salim). Reva
menolak tuduhan tersebut, kukuh pada jawaban bahwa pelakunya adalah tiga setan
yang selalu menebar teror selepas ulang tahunnya yang ke-21. Karena
psikolognya, Dr. Karina (Wulan Guritno), menyatakan Reva mengidap manik
depresif (membahas ketepatan pemakaian istilah medis di film macam ini rasanya
percuma), ia pun dikirim ke rumah sakit jiwa.
Keputusan tersebut dijatuhkan pasca
proses persidangan ala kadarnya, di mana pengacara Reva menyebut bahwa tak
ditemukannya senjata sebagai ketiadaan “motif” alih-alih “barang bukti”. Ya.
Motif. Jadi kalau pelaku pembunuhan diajukan pertanyaan, “Apa motif kamu membunuh
mereka?”, dia akan menjawab, “Pisau, pak polisi”.
Reva akhirnya tiba di rumah sakit
jiwa yang dikepalai Nixon, yang diperankan Marcelino Lefrandt dalam gaya akting
over-the-top yang dapat menggiring
film ini ke arah psychological b-horror
seru, namun naskah garapan Aviv Elham (Suster
Ngesot The Movie, Arwah Tumbal Nyai,
Alas Pati) memilih bertahan di ranah kisah supernatural medioker dengan
plot berupa lompatan antara penampakan hantu, yang jauh dari mengerikan, bahkan
tak mengadung jump scare mengejutkan.
Mungkin Jose berniat menghindari trik murahan, tapi saat musik berisik buatan
Joseph S. Djafar (Suster Keramas, Kain
Kafan Hitam, Orang Kaya Baru) tak henti membombardir telinga, niat mulia
tersebut terasa semu.
Seiring waktu, serangan trio hantu
semakin berbahaya, bahkan sempat membuat Reva berada di kondisi kritis akibat luka
tusukan Gemet Aresan. Pendarahannya cukup untuk membuat kolam darah mini, tapi
anehnya, jangankan luka, baju Reva sama sekali tidak sobek. Film ini melupakan
logika itu, tetapi membuat Angel Karamoy menanggalkan pakaian di beberapa momen
tanpa substansi.
Selama di rumah sakit jiwa, Reva
sempat dikunjungi sahabatnya, Devi (diperankan Pamela Bowie selaku penampil terbaik
film ini), yang lewat dua kunjungannya membuat saya mempertanyakan SOP karyawan
di sana. Pada kunjungan pertama, Devi diusir karena membuat Reva menangis, tapi
di kunjungan berikutnya, saat paranormal yang ia bawa terlempar hingga
memecahkan pintu kaca, semua orang berdiam diri.
Singkat cerita, Devi akhirnya nekat
berencana membawa sahabatnya (Atau kekasih rahasia? Kadang film ini seperti
berusaha malu-malu menyiratkan hubungan lebih di antara keduanya) kabur.
Rencana yang menghasilkan adegan paling intens di Reva: Guna Guna. Tidak perlu hantu. Cukup keberhasilan Jose
bermain-main dengan kecemasan penonton, di mana ia bergantung pada atmosfer
natural tanpa distraksi musik.
Namun begitu adegan tersebut
berhasil menjadikan filmnya terlihat meyakinkan, Reva: Guna Guna kembali terjerumus dalam kebodohan seperti biasa.
Sungguh bodoh ketika para petugas rumah sakit jiwa, termasuk Nixon yang
digambarkan begitu teliti, tidak mencari keberadaan pasien yang hilang memakai
CCTV, memilih repot-repot mengitari seisi gedung di tengah malam. Tapi hal
terbodoh datang saat sang pembunuh mengungkap identitasnya lewat adegan konyol,
dilengkapi kalimat tak kalah konyol, yang menunjukkan betapa penulisnya bingung
bagaimana mesti menutup filmnya.
Maret 07, 2019
Angel Karamoy
,
Aviv Elham
,
Ferry Salim
,
horror
,
Indonesian Film
,
Jelek
,
Jose Purnomo
,
Joseph S. Djafar
,
Marcellino Lefrandt
,
Pamela Bowie
,
REVIEW
,
Wulan Guritno
Langganan:
Postingan
(
Atom
)



