Tampilkan postingan dengan label Ferry Salim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ferry Salim. Tampilkan semua postingan

REVIEW - MY SASSY GIRL

(Tulisan ini mengandung SPOILER)

Jika ditengok sekarang, beberapa nilai milik My Sassy Girl (2001) mungkin sudah usang (kewajaran bagi sebuah "product of its time"), pun alurnya tampak klise. Tapi patut diingat, keklisean itu muncul karena dampak luar biasa yang filmnya bawa. Rilis di tahun-tahun awal kebangkitan sinema Korea Selatan, 4,8 juta penonton berhasil dikumpulkan, menjadikannya film lokal terlaris keempat sepanjang masa kala itu. Alhasil, formulanya banyak ditiru hingga sekarang, baik di medium film maupun drama.

Dua poin di atas pun jadi PR bagi remake Indonesia buatan sutradara Fajar Bustomi (trilogi Dilan, Mariposa). Bisakah modernisasi nilai diterapkan? Bisakah romantisme dipercikkan tatkala formulanya telah berulang kali dipakai? 

Pertanyaan pertama dapat langsung dijawab di pertemuan perdana dua tokoh utama. Gian (Jefri Nichol) tertarik pada paras Sisi (Tiara Andini), tapi merasa gadis itu "nggak jelas". Bandingkan dengan Gyeon-woo (Cha Tae-hyun) yang beranggapan bahwa gadis mabuk adalah hal buruk. Gian juga tidak curi-curi kesempatan dengan memandangi tubuh gadis yang pingsan secara creepy. Protagonis pria merupakan keunggulan remake ini dibanding film aslinya.

Tapi garis besar alurnya cenderung setia. Dituturkan melalui flashback dari sudut pandang Gian, kita melihat bagaimana ia menjalin hubungan unik dengan si "cewek ajaib" yang pemarah, hobi memukul, ceria, walau sebenarnya menyimpan kesedihan mendalam. Keduanya berpacaran, berpisah, lalu berjanji bakal bertemu lagi dalam waktu dua tahun, di bawah sebuah pohon tempat kenangan tersimpan.

Saking setianya, naskah buatan Titien Wattimena (trilogi Dilan, Aruna & Lidahnya, Backstage) masih mempertahankan penceritaan episodik yang melompat-lompat. Tentunya ada perubahan, termasuk yang mau tak mau mesti dilakukan akibat perbedaan kultur. Ayah Sisi (Ferry Salim) misal, bukan lagi pemabuk akut yang tiba-tiba pingsan, sehingga kehilangan ciri khas memorable. Minimal kekurangan itu ditambal oleh ayah Gian (Surya Saputra) yang kebagian (sedikit) lebih banyak momen komedik. 

Di versi Korea, dua protagonis merayakan hari jadi ke-100 dengan jalan-jalan ke taman hiburan, namun kencan mereka diganggu oleh desertir yang hendak bunuh diri karena putus cinta. Tingginya relevansi membuat momen tersebut tampil organik. Di sini, Gian dan Sisi mengunjungi TMII, saat dikejutkan oleh pria dengan intensi sama. Tapi kesan organik tadi lenyap. Seolah peristiwa ini dimasukkan hanya karena sumber adaptasinya memiliki momen serupa. 

Saya sempat mendengar beberapa keluhan soal pendekatan visual My Sassy Girl yang dianggap berlebihan memanipulasi warna. Saya tidak setuju. Estetika dalam semesta film punya bahasanya sendiri, yang tak wajib sesuai realita, apalagi untuk suguhan di mana realisme bukan elemen substansial macam ini. Sebaliknya, My Sassy Girl justru enak dipandang bila memegang prinsip tersebut. 

Terkait warna, di luar manipulasi pasca-produksi, pada dasarnya, Eros Eflin selaku penata artistik memang memperhatikan betul detail pewarnaan latar serta properti. Begitu pula tata busana yang dipegang Quartini Sari. Tidak sekalipun Gian dan Sisi muncul dengan pakaian ala kadarnya. Pendekatan visual ini tepat, jika ditujukan bagi target penonton para penyuka hiburan Korea, terutama drama.

Nah, di sini timbul masalah. Keputusan me-remake My Sassy Girl (juga Miracle in Cell No. 7 dan Hello Ghost) tentu didasari kesimpulan bahwa penonton kita menggilai hiburan Korea. Sayangnya, sineas kita masih sering terjebak stigma kalau film arus utama atau drama Korea cuma identik dengan warna-warna cantik, romansa menggemaskan, atau drama mengharu-biru. Saya ragu mereka mengonsumsi tontonan yang dijadikan kiblat. Keraguan tersebut menguat kala menyaksikan My Sassy Girl.

Titik terbaik My Sassy Girl Korea, yang mengangkat statusnya dari komedi romantis menghibur jadi sebuah karya klasik adalah 30 menit terakhir. Fajar Bustomi tak punya sensitivitas yang diperlukan. Kwak Jae-yong selaku sutradara film aslinya, sebagaimana film atau drama Korea, jeli dalam hal dramatisasi. Berjalan perlahan, membiarkan penonton meresapi emosinya, sehingga antisipasi pun terbangun. Fajar menggerakkan adegan penting begitu cepat, bak buru-buru ingin selesai bercerita. Momen "10 aturan" kehilangan kekuatannya gara-gara hal tersebut. 

Selain urusan pacing, pilihan shot dan musik juga termasuk poin-poin penting soal sensitivitas. Ketika Gyeon-woo menemui "The Girl" di ruang kontrol stasiun, Jae-yong memposisikan kamera di belakang pundak pria. Kita melihat yang dia lihat, sehingga ikut tersentuh menyaksikan tindakan si gadis. Di versi Indonesia, kamera sebatas menangkap keseluruhan ruang, lagi-lagi dengan tempo buru-buru.

Keputusan menghapus shot si gadis duduk bersama ibu mantan pacarnya pun, meski terkesan remeh, membawa dampak besar. Dampak negatif tentu saja. Isi surat Sisi kehilangan rasa, pun efek kejut yang dibawa twist di penghujung durasi turut melemah, karena pertemuan kedua wanita itu luput ditekankan. 

Tapi segala kelemahan terkait sensitivitas terangkum di adegan-adegan berlatar pohon kenangan. Pacing kacau, pilihan shot seadanya, pemakaian musik pop yang mengurangi kemegahan emosi, semua muncul. Seolah Fajar sendiri tidak paham mengapa peristiwa-peristiwa di sana (Gian yang rutin datang, Sisi membaca surat Gian, fakta mengejutkan tentang Gian yang diungkap seorang bapak tua) adalah wujud romantisme menggugah.

Di departemen akting, Jefri tampil baik mengombinasikan kejenakaan dan akting dramatik. Sekali lagi, ia lebih berhasil membuat karakternya terasa simpatik ketimbang Cha Tae-hyun. Tiara lain cerita. Dia berusaha sekuat tenaga menghidupkan energi si "sassy girl". Mungkin malah terlampau berusaha, sampai terkesan kurang efortless. Kurang natural. Tapi sebagai debutan, upayanya patut dihargai, dan memang tak semua orang bisa mengikuti pencapaian Jun Ji-hyun (come on, she's one of "The Troika"). Setidaknya kombinasi Jefri-Tiara mulus mengeksekusi deretan humor, yang membuat My Sassy Girl masih punya nilai hiburan.

REVIEW - TEKA-TEKI TIKA

Durasi pendek tidak semestinya menyulut kekhawatiran dan pesimisme. Bisa saja sineas memilih bercerita secara to the point. Padat, singkat, sesuai kebutuhan. Sayangnya Teka-Teki Tika tidak demikian. Ketika film berdurasi hanya 83 menit terkesan kehabisan ide, artinya ide dasarnya memang sudah lemah sejak awal. 

Pasca Imperfect (2019) membawa Ernest Prakasa kembali ke performa terbaiknya, ia mengambil langkah berani dengan menjajal genre thriller misteri. Wajar. Lima film drama komedi dalam lima tahun berturut-turut rasanya memang cukup untuk melahirkan kejenuhan dan/atau ambisi mencoba warna baru. Bisa dibilang Ernest bereksperimen. Tapi sebuah eksperimen, apalagi di percobaan pertama, memang besar kemungkinan berujung kegagalan.

Walau demikian, Teka-Teki Tika sejatinya bukan eksperimen yang ekstrim. Semua nampak serius di awal. Budiman (Ferry Salim) dan Sherly (Jenny Zhang adalah penampil terbaik film ini) tengah merayakan ulang tahun pernikahan, di tengah gonjang-ganjing perusahaan mereka yang terjebak kredit macet. Si putera sulung, Arnold (Dion Wiyoko) datang bersama istrinya yang hamil sembilan bulan, Laura (Eriska Rein), sementara Andre (Morgan Oey) si putera kedua, membawa kekasih barunya, Jane (Tansri Kemala). 

Jane merupakan alasan mengapa saya menyebut ini bukan eksperimen yang ekstrim. Fungsi Jane cuma satu: comic relief. Seolah ia eksis guna mengingatkan pada penonton, bahwa kita sedang menonton karya Ernest. Tansri melakoni debutnya dengan gemilang, selalu memancing tawa lewat kepolosannya (kalau tak mau disebut "kebodohan"), tapi beberapa humor muncul di waktu kurang tepat, sehingga menciptakan inkonsistensi tone. 

Inkonsisten, namun menghibur. Itulah paruh awal Teka-Teki Tika, pasca kemunculan tiba-tiba Tika (Sheila Dara), yang mengaku sebagai puteri hasil perselingkuhan Budiman. Ernest menggerakkan tempo secara cepat, sembari melempar satu demi satu fakta mengejutkan mengenai rahasia kelam Keluarga Budiman. Tempo cepat itu meniadakan eksplorasi karakter, juga mendangkalkan pendalaman terkait kritik terhadap praktek korupsi serta sentilan bagi pelaku perselingkuhan yang reputasinya telah cacat di mata pasangan, tetapi efektif menjaga atensi penonton, yang terus dibuat ingin tahu jati diri beserta motivasi Tika sesungguhnya.

Dari segi artistik, Teka-Teki Tika justru pencapaian terbaik Ernest, yang biasanya cuma fokus pada pengolahan cerita, lalu melupakan tetek bengek sinematik. Desain produksinya memanjakan mata, pewarnaan gambarnya lebih diperhatikan, musiknya pun tergarap apik meski mengikuti pola klise scoring bagi genre misteri. 

Masalahnya, memasuki pertengahan, makin kentara kalau Ernest kesulitan mengembangkan misterinya. Hasilnya adalah setumpuk momen filler yang tak memberi dampak apa pun, baik pada penokohan maupun penceritaan. Semisal obrolan Andre dan Jane yang cuma berisi banyolan-banyolan tak perlu nan berkepanjangan. 

Tapi kejatuhan sebenarnya dari film ini baru terjadi saat memasuki paruh akhir. Momen "pengungkapan" yang semestinya merupakan puncak untuk film semacam ini, tampil datar akibat lemahnya pembangunan intensitas dalam pengadeganan Ernest. Setelah satu jam lebih disuguhi konflik yang melibatkan intrik pelik bahkan usaha pembunuhan, misteri ditutup oleh ucapan "Yaah, sebenarnya saya....." dari mulut protagonisnya, yang lebih terdengar seperti pengakuan atas hal sepele. 

Kemudian Teka-Teki Tika memberikan epilog, yang biarpun menampilkan sesosok cameo luar biasa menarik, bergulir terlalu lama, sekaligus bak berasal dari film berbeda. Jika ini "petunjuk" bahwa kelak Ernest ingin mencoba genre aksi, saya amat menantikan itu. Teka-Teki Tika memang buruk, tapi saya takkan berkata, "Sebaiknya Ernest membuat komedi saja". Karena sewaktu eksperimen berhenti gara-gara satu kegagalan, maka usaha perdana itu jadi sia-sia. 

REVA: GUNA GUNA (2019)

Anda tahu dunia horor tanah air sedang mengalami krisis jika film macam Reva: Guna Guna tak sampai membuat anda kejang-kejang. Sebab, tentu saja Jose Purnomo (Jelangkung, Alas Pati, Silam) punya selera visual lebih baik, pula lebih bertalenta dibanding orang-orang di belakang Kain Kafan Hitam atau 11:11: Apa yang Kau Lihat?. Dinilai dari sampul luar, film ini memang produk layar lebar layak putar.

Turut mengambil peran sinematografer seperti biasa, setidaknya Jose tak memberi kesempatan gambar dengan resolusi tiarap dan/atau luput dari proses color grading muncul di hasil akhir filmnya. Sering tampak glitch yang mengindikasikan proses pasca-produksi yang terburu-buru (mungkin DCP baru selesai di saat-saat akhir?), tapi itu bukan kekeliruan sang sutradara. Tiga hantu antagonis (Gemet Aresan, Jurig Jarian, Emak Bongkok) pun wajahnya dibalut riasan memadahi. Tingkat kengeriannya bisa didebat, namun Kiki Aston (Silam, Kuntilanak) dan Dicky Etto (Jaga Pocong, Anak Hoki) jelas tak asal meniupkan bedak ke wajah pemain.

Reva: Guna-Guna memang takkan melukai mata penonton. TAPI, jika diskusi diteruskan menuju pertanyaan “Apakah filmnya melukai otak?”, jawabannya masih “Ya”. Bahkan sejak adegan pembuka yang memperlihatkan Reva (Angel Karamoy) tengah berada di sel tahanan tanpa toilet, seolah memperlihatkan kerja setengah hati tim penata artistik. Pantas Reva nampak begitu tertekan, karena untuk kencing selepas diteror hantu saja ia dipersulit.

Reva merupakan terdakwa pembunuhan atas seluruh anggota keluarganya, kecuali sang ayah, (Ferry Salim). Reva menolak tuduhan tersebut, kukuh pada jawaban bahwa pelakunya adalah tiga setan yang selalu menebar teror selepas ulang tahunnya yang ke-21. Karena psikolognya, Dr. Karina (Wulan Guritno), menyatakan Reva mengidap manik depresif (membahas ketepatan pemakaian istilah medis di film macam ini rasanya percuma), ia pun dikirim ke rumah sakit jiwa.

Keputusan tersebut dijatuhkan pasca proses persidangan ala kadarnya, di mana pengacara Reva menyebut bahwa tak ditemukannya senjata sebagai ketiadaan “motif” alih-alih “barang bukti”. Ya. Motif. Jadi kalau pelaku pembunuhan diajukan pertanyaan, “Apa motif kamu membunuh mereka?”, dia akan menjawab, “Pisau, pak polisi”.

Reva akhirnya tiba di rumah sakit jiwa yang dikepalai Nixon, yang diperankan Marcelino Lefrandt dalam gaya akting over-the-top yang dapat menggiring film ini ke arah psychological b-horror seru, namun naskah garapan Aviv Elham (Suster Ngesot The Movie, Arwah Tumbal Nyai, Alas Pati) memilih bertahan di ranah kisah supernatural medioker dengan plot berupa lompatan antara penampakan hantu, yang jauh dari mengerikan, bahkan tak mengadung jump scare mengejutkan. Mungkin Jose berniat menghindari trik murahan, tapi saat musik berisik buatan Joseph S. Djafar (Suster Keramas, Kain Kafan Hitam, Orang Kaya Baru) tak henti membombardir telinga, niat mulia tersebut terasa semu.

Seiring waktu, serangan trio hantu semakin berbahaya, bahkan sempat membuat Reva berada di kondisi kritis akibat luka tusukan Gemet Aresan. Pendarahannya cukup untuk membuat kolam darah mini, tapi anehnya, jangankan luka, baju Reva sama sekali tidak sobek. Film ini melupakan logika itu, tetapi membuat Angel Karamoy menanggalkan pakaian di beberapa momen tanpa substansi.

Selama di rumah sakit jiwa, Reva sempat dikunjungi sahabatnya, Devi (diperankan Pamela Bowie selaku penampil terbaik film ini), yang lewat dua kunjungannya membuat saya mempertanyakan SOP karyawan di sana. Pada kunjungan pertama, Devi diusir karena membuat Reva menangis, tapi di kunjungan berikutnya, saat paranormal yang ia bawa terlempar hingga memecahkan pintu kaca, semua orang berdiam diri.

Singkat cerita, Devi akhirnya nekat berencana membawa sahabatnya (Atau kekasih rahasia? Kadang film ini seperti berusaha malu-malu menyiratkan hubungan lebih di antara keduanya) kabur. Rencana yang menghasilkan adegan paling intens di Reva: Guna Guna. Tidak perlu hantu. Cukup keberhasilan Jose bermain-main dengan kecemasan penonton, di mana ia bergantung pada atmosfer natural tanpa distraksi musik.

Namun begitu adegan tersebut berhasil menjadikan filmnya terlihat meyakinkan, Reva: Guna Guna kembali terjerumus dalam kebodohan seperti biasa. Sungguh bodoh ketika para petugas rumah sakit jiwa, termasuk Nixon yang digambarkan begitu teliti, tidak mencari keberadaan pasien yang hilang memakai CCTV, memilih repot-repot mengitari seisi gedung di tengah malam. Tapi hal terbodoh datang saat sang pembunuh mengungkap identitasnya lewat adegan konyol, dilengkapi kalimat tak kalah konyol, yang menunjukkan betapa penulisnya bingung bagaimana mesti menutup filmnya.

A MAN CALLED AHOK (2018)

Suka/tidak suka itu urusan lain, tapi mayoritas rakyat Indonesia pasti tahu siapa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok beserta ideologi dan segala sepak terjangnya. Tapi A Man Called Ahok bukan sekedar coba memindahkan Ahok yang publik kenal di artikel media cetak atau layar kaca menuju layar lebar, melainkan memanfaatkan familiaritas penonton terhadap Ahok sebagai pondasi guna menuturkan latar belakang watak dan sikapnya. Kita tahu ia keras, dan film ini jelaskan mengapa ia keras. Kita tahu kebenciannya atas oknum korup, dan film ini jabarkan bagaimana masa lalunya, kehidupannya di Belitung, terutama keluarganya, membentuk kebencian tersebut.

A Man Called Ahok memang akhirnya tampil bagai foreshadowing sepanjang 90 menit, khususnya kala tersaji pembicaraan tentang keyakinan sang ayah, Tjung Kim Nam alias Indra Tjahaja Purnama (Denny Sumargo), bahwa kelak puteranya bakal menjadi pejabat, pula pertanyaan soal “Apa bisa orang Cina jadi pejabat?”. Tapi sebagai suguhan yang bertujuan memberi pemahaman akan karakternya, film yang diadaptasi dari buku berjudul sama karya Rudi Valinka ini, telah menjalankan tugasnya dengan baik.

Satu hal yang dapat langsung kita pelajari, yakni Ahok merupakan “perwujudan” mendiang ayahnya, pemilik tambang timah yang dijuluki “Tauke” alias “bos besar” berkat kesediaannya selalu mengulurkan tangan menolong orang-orang kesusahan, meski itu memaksanya berhutang sana-sini di tengah kondisi bisnis tak menentu akibat praktek korup. Bukan Tjung Kim Nam saja, semua pengusaha di Belitung harus membayar “uang pelicin” apabila tidak ingin proyeknya dipersulit.

Ahok muda (Eric Febrian) melihat ayahnya sebagai pria penyayang, jujur, namun bisa tegas, keras, bahkan tak segan “menyemprot” karyawan yang bertindak curang lalu memecatnya di muka umum. Singkatnya, serupa Ahok yang kita kenal sebagai Gubernur DKI Jakarta. Terasa bagai kumpulan foreshadowing, untungnya naskah hasil tulisan sutradara Putrama Tuta (Catatan Harian Si Boy, Noah Awal Semula) bersama Ilya Sigma (Rectoverso, Sundul Gan: The Story of Kaskus) dan Dani Jaka (Modal Dengkul, Pizza Man), rapi dalam merajut cerita yang poin-poinnya saling mendukung ketimbang sebaran keping-keping acak fase hidup karakternya yang dijahit paksa layaknya kelemahan banyak biopic (setidaknya pada 2/3 awal durasi).

Akting jajaran pemain pun membantu A Man Called Ahok melaju mulus sebagai drama keluarga. Denny Sumargo menghadirkan performa terbaik sepanjang karir sebagai pria penuh kepedulian, bapak penyayang, dan pebisnis tegas. Tiga sisi itu mampu ia satukan untuk membentuk karakter yang utuh. Hal serupa layak dialamatkan pada Eriska Rein—yang kembali ke layar lebar setelah 3 tahun—selaku pemeran Buniarti Nigsih alias Cibun, ibunda Ahok. Respon Cibun kala sang suami mengambil uang dari tangannya untuk diberikan pada para peminta bantuan adalah conton kepiawaian Eriska memainkan emosi kecil namun efektif.

Kemudian filmnya melompat menuju masa dewasa Ahok (diperankan Daniel Mananta), sewaktu ia baru kembali ke Belitung setelah merantau, berkuliah di Jakarta. Ahok ingin membantu ayahnya (kini diperankan Chew Kin Wah) yang mulai sakit-sakitan mengurus tambang, sekaligus coba meruntuhkan sistem korup. Tapi eksekusinya tidak semudah di teori. Terdapat perdebatan menarik antara Ahok dan Indra, di mana naskahnya sanggup mengutarakan perspektif berdasar milik kedua pihak, sehingga dapat memancing pemikiran penonton mengenai “Sudut pandang mana yang benar?”. A Man Called Ahok bukan tengah membenarkan praktek suap, namun mengingatkan betapa ada garis batas abu-abu di antara benar dan salah.

Masalah terbesar fase ini terletak di pergantian pemain. Terasa mengganjal, ketika Indra dan Buniarti (ganti diperankan Sita Nursanti) “berubah wajah”, namun Donny Damara, Ferry Salim, hingga Yayu Unru masih tetap memerankan tokoh masing-masing, dengan hanya sedikit modifikasi tata rias. Dunia dalam A Man Called Ahok pun terasa inkonsisten, apalagi ditambah perubahan karakter Indra. Jangan salah, akting Chew Kin Wah masih sehebat biasanya, masih jago memunculkan haru pada momen dramatis. Tapi Indra versi Denny Sumargo dan versi Chew Kin Wah jelas dua karakter berbeda.

Daniel Mananta melakukan impersonasi untuk Ahok sebaik mungkin (kecuali rambut palsunya yang nampak aneh dari depan), walau ada kalanya ia terlihat seperti karikatur, ada kalanya ia berhasil menangani ciri-ciri mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut, dari suara, gestur, hingga tabiat. Inilah kesulitan memerankan individu nyata dengan kekhasan yang dikenal luas. Aktor mesti melakukan pendalaman ekstra, sebab jika tidak, kebebasan interpretasi aktingnya bisa terkekang. Di samping jajaran cast yang lebih luwes karena memperoleh kebebasan menafsirkan karakternya, Daniel kerap terjebak permasalahan itu.

Sedangkan di departemen penyutradaraan, Putrama Tuta kembali unjuk gigi, memamerkan kapasitasnya mengkreasi adegan dramatis efektif, yang sesekali bicara hanya lewat visual (shot dari belakang saat Ahok membesuk ayahnya yang jatuh sakit), sesekali lewat kombinasi visual dengan bahasa verbal (shot dari liang kubur dibarengi kalimat “Makasih Pa” ucapan Ahok, yang sempurna merangkum hubungannya dengan sang ayah).

Sayangnya, Tuta sendiri tak kuasa menahan agar filmnya tak kehilangan pijakan di sepertiga akhir, tatkala kita akhirnya tiba di babak politik kehidupan Ahok. Penceritaan A Man Called Ahok menjadi terburu-buru, melompat-lompat. Karena saat itu, praktis semua yang film ini ingin sampaikan (pembentuk sosok Ahok) telah usai, dan masih berlanjut mungkin karena anggapan “Kamu tidak bisa membuat film tentang politikus tanpa menampilkan karir politiknya”. Bagai sekedar memenuhi obligasi, penuturannya tak lagi menyertakan hati, dan berakhir sekedar melakukan checklist. A Man Called Ahok sama sekali tidak buruk, tetapi tokoh seperti Basuki Tjahaja Purnama layak diberi film yang lebih dari sebatas “tidak buruk”.

GENERASI MICIN (2018)

Generasi Micin adalah tontonan menghibur, tapi menilik dari usahanya mengangkat jarak antargenerasi sekaligus observasi terhadap remaja kekinian, film ini kosong. Ibarat hidangan penuh micin, terasa sedap namun kurang bergizi. Bukan masalah andai tujuannya memang sebatas hiburan ringan, tapi bahkan sejak sekuen pembukanya bergulir, karya penyutradaraan teranyar Fajar Nugros (Yowis Ben, Terbang: Menembus Langit) ini mengincar lebih.

Sekuen yang dimaksud menampilkan Anggara muda (Brandon Salim), sebagai keturunan Cina masa lalu, menghabiskan hidupnya bekerja keras belajar berdagang. Bahkan setelah dewasa (diperankan Ferry Salim) dan menikah, ia menjanjikan sang istri (Melissa Karim) ruko mewah di Pantai Indah Kapuk. Fakta-fakta tersebut berlaku sebagai perbandingan begitu kita bertemu putera sulung Anggara, Kevin (Kevin Anggara), si generasi micin yang (katanya) ingin semua berjalan instan, enggan bersosialisasi, memilih berkutat dengan gadget dan video game di kamarnya.

Komparasi lain datang dari Trisno (Morgan Oey), generasi pasca reformasi, yang merujuk pada salah satu dialog, punya ciri berkebalikan dengan generasi micin: lambat. Trisno sempat bermimpi jadi penyanyi, sebelum membuangnya, dan kini hanya menghabiskan waktu bermalas-malasan di rumah. Generasi Trisno tak digali cukup dalam, tapi tak jadi soal. Pertama, ini bukan film tentang mereka. Kedua, Morgan menampilkan salah satu performa terbaik, paling natural, paling asyik disimak sepanjang karirnya. Begitu asyik, saya lupa bahwa sosok Trisno tak seberapa berarti. Dia hanya memberi petuah singkat bagi Kevin, sebuah peran yang sejatinya turut diemban Anggara.

Naskah tulisan Faza Meonk (Si Juki the Movie: Panitia Hari Akhir) kebingugnan hendak menyampaikan apa serta bagaimana. Kadang, Generasi Micin bagai ingin menunjukkan perbedaan remaja-remaja micin dengan generasi sebelumnya. Salah satu elemen komedik dari aspek itu adalah cara bicara Kevin saat menjelaskan sesuatu yang secepat berondongan senapan mesin. Karena, well, sebagai generasi micin, ia identik dengan hal-hal instan dan cepat. Pun film ini menampilkan bagaimana remaja sekarang punya keunggulan yang tak dimiliki pendahulunya, semisal memanfaatkan internet demi kebaikan.

Sedangkan di kesempatan lain, filmnya justru menakankan bila semua generasi sama saja. Mereka yang tua selalu merasa generasi di bawah mereka adalah penurunan. Kondisi itu terjadi sejak dulu dan akan terus berulang. Sebab apa pun generasinya, di usia muda, mereka hanya ingin bersenang-senang, termasuk berbuat kenakalan seperti saat Kevin bersama tiga temannya, Dimas (Joshua Suherman) si penggila K-Pop, Bonbon (Teuku Ryzki) si pelupa, dan Johanna (Kamasean Matthews) melakukan kejahilan-kejahilan di sekolah sebagai pemenuhan tantangan dari sebuah situs misterius. Poin di atas (semua generasi sama) bahkan diucapkan secara gamblang oleh Chelsea (Clairine Clay), si pujaan hati Kevin, di ending, yang (biasanya) berperan selaku perangkum pesan.

Dua tuturan kontradiktif di atas saling bertabrakan. Layaknya banyak tokoh remaja di dalamnya, Generasi Micin mengalami krisis identitas, penuh kebingungan, termasuk ketika mengakhiri kisahnya lewat epilog berkepanjangan yang kelabakan menutup berbagai cabang cerita pada sisa durasinya, dari soal kehidupan sekolah Kevin dan kawan-kawan, kehidupan Trisno, romansa Kevin dan Chelsea, hingga perihal situs misterius tadi.

Namun sekali lagi, bila anda sebatas mengharapkan kelezatan seperti masakan bertabur micin, film ini mungkin memuaskan. Naskah ditambah penyutradaraan Fajar Nugros mengisinya dengan semangat bersenang-senang di tiap momen, menertawakan siapa pun, apa pun, di mana pun. Hampir semua tokoh maupun situasi didesain konyol. Terkadang tawa hadir kala humornya terasa dekat, seperti Ibu Dimas (Cici Tegal) yang tergila-gila menonton drama Korea hingga lupa solat meski berjilbab, hingga kisah “telur dipotong sepuluh”, yang saya percaya, kerap anda dengar. Sayangnya tak jarang juga humornya berlangsung datar, tenggelam dalam absurditasnya sendiri, misalnya tiap hansip bermata juling (Erick Estrada) muncul.

Seperti Kevin dengan penjabaran super cepat yang tak memperhatikan apakah lawan bicaranya paham atau tidak, Generasi Micin terus menerjang, membabat habis hampir semua kesempatan dengan humor tanpa peduli apakah tepat sasaran. Seperti kandungan micin dalam masakan pula, itu bisa menghasilkan kelezatan, tapi alangkah baiknya bila kadarnya dikontrol.

DIMSUM MARTABAK (2018)

Meniliki judulnya, wajar mengira Dimsum Martabak adalah suguhan foodporn penuh pertunjukan masak-memasak dan menyajikan makanan, yang berkat estetikanya, tak cuma menyegarkan mata, juga memancing kucuran air liur. Tapi tidak. Sutradara Andreas Sullivan (Revan & Reina, Sawadikap) enggan mengedepankan itu, atau mungkin telah berusaha, namun karena ia dan Fachmi J. Saad (Hongkong Kasarung, Winter in Tokyo) selaku penata kamera kurang mumpuni, target yang dicanangkan urung tercapai. Dimsum dibuat, martabak disajikan, tapi seluk beluk pengolahan hanya terjadi di belakang layar, membuat produksi kedua RA Pictures ini belum layak disebut foodporn.

Dimsum Martabak cenderung menyusuri jalur yang dibentangkan formula klasik “Kisah Cinderella”, di mana gadis (atau puteri) miskin bertemu lelaki (atau pangeran) kaya, meski ketimbang kuda putih, sang pangeran kini menunggangi truk martabak kuning kemudian Ferrari merah. Walau untuk menyebut Mona yang diperankan Ayu Ting Ting, dengan riasan lengkap apik, bukan norak, yang senantiasa menghiasi wajahnya sebagai “gadis miskin” terasa sulit dipercaya. Tidak peduli ia sekedar pelayan terpercaya di restoran milik Koh Ah Yong (Chew Kin Wah) yang menyajikan dimsum sebagai menu andalan.

Jika Mona adalah “si dimsum”, maka siapakah “si martabak”? Perkenalkan Soga (Boy William) yang menjual martabak memakai truknya bersama Dudi (Muhadkly Acho). Dodi, sebagaimana contoh sidekick yang baik, mampu mencuri perhatian melalui celotehan-celotehan serta tingkah menggelitik, yang jadi motor paruh pertama filmnya, menghadirkan hiburan ringan menyenangkan sebelum dimsum dan martabak bersatu. Pada romansa berbasis “kisah Cinderella” begini, tiga fase patut diperhatikan: 1) Bagaimana kedua protagonis mulai saling terpikat walau ada jurang perbedaan, 2) Bagaimana cinta keduanya menguat, 3) Bagaimana perbedaan tadi membuat keduanya ragu bisa terus bersama sebelum dipersatukan kekuatan cinta. Penonton harus dibuat yakin oleh ketiga fase di atas.

Fase pertama terjadi kala Mona, yang kebetulan di suatu malam mengenakan baju yang lebih bagus dari biasanya, menyeberang jalan dan nyaris tertabrak truk milik Soga yang hanya mampu diam terpukau, sementara Mona, meski terkejut karena nyaris celaka, merespon setenang mungkin, sembari tersenyum memasang lirikan cantik. Tidak mengherankan. Dia adalah gadis yang terbangun pukul 1 dinihari memakai riasan lengkap termasuk bulu mata lentik. Dibalut gerak lambat, pertemuan pertama dua sejoli tak bisa “lebih sinetron” dari ini.

Singkat cerita, kecemburuan istri kedua Koh Ah Yong menyebabkan Mona dipecat, dan karena Soga telah terpikat, mudah baginya menerima Mona bekerja di warung martabaknya sebagai perancang sistem. Dalam sebuah adegan yang jelas terinspirasi (kalau enggan disebut mengambil) dari The Founder (2016), Mona mengajarkan sistem buatannya di tengah lapangan yang digambari menggunakan kapur. Bedanya dengan film biografi Ray Kroc itu, adegan versi Dimsum Martabak takkan membuatmu terpukau, karena ide Mona sekedar common sense ketimbang terobosan jenius, pun pengemasan Andreas gagal menjadikannya momen intens yang melibatkan penonton dalam proses perencanaan.

Rasanya tidak mengejutkan saat saya menyebut duet Ayu-Boy kekurangan chemistry. Keduanya sebatas pasangan berparas rupawan tanpa jangkauan emosi luas yang diperparah penokohan dangkal dari naskah buatan Alim Sudio (Kuntilanak, Ayat-Ayat Cinta 2). Mona adalah gadis sederhana yang memahami sistem warung makanan, Soga adalah bocah kaya yang menolak meneruskan bisnis ayahnya (Ferry Salim) demi impian pribadi. Itu saja. Nihil karakterisasi spesifik pemberi daya tarik kala berinteraksi. Memang sulit berharap pada naskah yang dalam dialognya menulis “pesan order” dan “paling terberat”. Walau bukan tak mungkin dua istilah ajaib itu dikarang sendiri oleh Ayu, sebagai contoh betapa ia masih kerepotan menangani kalimat-kalimat pada debut layar lebarnya.

Konflik puncaknya sederhana, bahkan berjalan datar hasil penyutradaraan Andreas yang kurang piawai membangun dinamika dramatis juga ketidakmampuan naskah menyelipkan permasalahan kompleks yang ditutup oleh resolusi kental penggambangan. Babak akhirnya berpindah ke setting berbeda, tapi saat itu saya sudah kesulitan membuka mata. Ya, ini lebih pantas ditayangkan di televisi, tapi kalau anda tak mengharapkan tontonan bergizi, filmnya masih menjadi hiburan yang layak dengan segala keklisean dan elemen cheesy miliknya. Masalah terbesar bukan terletak di kedangkalan maupun kebodohan cerita, melainkan ketiadaan dinamika. Dimsum Martabak bukan bencana. Cuma santapan membosankan.