Tampilkan postingan dengan label Anime. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anime. Tampilkan semua postingan
A SILENT VOICE (2016)
Rasyidharry
Salah satu dampak kesuksesan besar Your Name di Indonesia adalah semakin terbukanya pintu bagi anime bertema percintaan remaja, di samping dominasi franchise raksasa macam Detective Conan, One Piece, Crayon Shin-chan hingga Naruto. Jika film garapan Makoto Shinkai tersebut mengangkat fantasi perjalanan waktu sebagai hiasan romantika, A Silent Voice selaku adaptasi manga berjudul sama karya Yoshitoki Oima ini condong ke realita dunia remaja, mengusung isu sensitif nan penting mengenai bullying juga bunuh diri. Bukan soal main-main, dan untungnya sutradara Naoko Yamada bersama penulis naskah Reiko Yoshida merangkainya dengan hati.
Yamada menolak menjadikan dramatisasi kesengsaraan sebagai bahan jualan. Terlihat dari opening sequence-nya, memperlihatkan keseharian Shoya Ishida. Dia berhenti dari pekerjaannya, mengosongkan rekening di bank, meninggalkan amplop berisi uang di sebelah ibunya yang tengah terlelap. Alunan lembut memancing asumsi jika sang protagonis hendak menatap kehidupan baru. Rupanya sebaliknya, ia berencana bunuh diri. Lalu memori masa SD kala hidup Ishida masih penuh semangat (ditemani lagu My Generation milik The Who) merangsek masuk. Saat itu kelas Ishida kedatangan murid baru, gadis tuna rungu bernama Shoko Nishimiya.
Dari sini naskah Reiko Yoshida mulai unjuk gigi menyusun drama coming-of-age yang kuat memaparkan hubungan sebab-akibat. Ishida gemar menggoda Nishimiya, mulai dari keisengan melempar kerikil sampai berpuncak ketika Ishida melepas paksa alat bantu dengar si gadis. Gangguan sepele berkembang ke arah bullying serius, tindakan satu individu menyebar turut dilakukan sekelompok orang termasuk para gadis yang menjauhi Nishimiya. Namun sewaktu pihak sekolah meminta pertanggungjawaban, semua menimpakan kesalahan pada Ishida. Kondisi berbalik. Ishida dijauhi, di-bully sahabat-sahabatnya. Inilah sebab si bocah biang onar tumbuh jadi siswa SMA penyendiri, memandang rendah diri, enggan menatap apalagi berinteraksi dengan temannya.
Cerita A Silent Voice penting disimak demi menegaskan bullying yang kerap dipandang wajar sebagai bentuk kenakalan anak kecil dapat berbuntut panjang, bagi korban sekaligus pelaku. Walau membungkus kisah kompleks secara dewasa, film ini tidak serta merta mengambil pendekatan depresif untuk glorifikasi sisi moody remaja canggung, tidak pula bersikap menyalahkan. Memilih menyoroti hidup si pelaku (yang kemudian turut jadi korban), fokusnya bukan tentang meratapi nasib atau tragedi, melainkan bagaimana memperbaiki situasi. Ishida tak hanya menambal keretakan, ia mesti mengumpulkan pecahan yang acak berserakan, mencari susunan tepat, baru menyatukannya lagi satu demi satu.
Kita tahu Ishida begitu menyesal, memunculkan proses penebusan dosa simpatik berkat ketulusan hati karakter. Hal ini berdampak luar biasa kala transisi menuju third act berlangsung menegangkan, pun konklusinya terasa mengharukan. Dan bukankah cinta adalah obat mujarab? Ishida terdorong oleh pertemuan kembali dengan Nishimiya yang masih diam-diam menyukainya. Sayangnya sulit percaya akan perasaan Nishimiya akibat penokohan lemah. Sosoknya terlampau baik, bak imajinasi gadis manis fantasi (sekelompok) pria: lembut, pemalu, mau menyatakan cinta lebih dulu saat mereka sendiri ragu-ragu melangkah maju. Susah juga menerima fakta Nishimiya jatuh hati kepada Ishida sejak SD sewaktu penindasannya melebihi siswa lain. Sikap tokoh memang kerap bermasalah, sebutlah perubahan ibu Nishimiya atau ketertarikan Mashiba berteman dengan Ishida yang urung didukung motivasi memadahi.
Yamada terbukti punya visi unik dalam bertutur lewat visual seperti penggunaan tanda silang guna menyiratkan penolakan Ishida berhubungan sosial, beberapa perpindahan mendadak menuju flashback, hingga selipan gambar-gambar singkat yang membuat A Silent Voice bergerak bagai keping-keping memori yang sekejap melintas di pikiran. Gaya itu cocok mewakili poin seputar ingatan masa lalu walau penempatan dari Yamada kerap kasar pun sering kurang sesuai kebutuhan, seolah berusaha terlalu keras terlihat artsy. Pemakaian berbagai gambar "acak" yang tak jarang menyelingi percakapan antar karakter berfungsi pula menyimbolkan keengganan Ishida menatap lawan bicara, meski aspek tersebut cukup mengganggu tatkala Yamada bak gemar menyorot "bagian bawah" tokoh wanita.
Mei 04, 2017
Animated
,
Anime
,
Japanese Movie
,
Koe No Katachi
,
Lumayan
,
Naoko Yamada
,
Reiko Yoshida
,
REVIEW
YOUR NAME (2016)
Rasyidharry
Cinta adalah misteri. Ketika semesta merestui maka takdir mempertemukan dua insan, meleburkan keduanya menjadi satu, menghilangkan identitas "aku" dan "kamu", berganti dengan "kita". Setidaknya itulah yang disuarakan Makoto Shinkai ("5 Centimeters Per Second", "The Garden of Words") dalam "Your Name" a.k.a. "Kimi no Na Wa" yang ia sutradarai dan tulis naskahnya selaku adaptasi novel berjudul sama karyanya sendiri. Berhasil memuncaki Box Office Jepang selama 12 minggu (sembilan di antaranya diraih berturut-turut), "Your Name" merupakan suguhan langka tatkala otak dan hati penonton sama-sama dipacu.
Sebuah benda yang nantinya lewat twist mengejutkan sekaligus meremukkan hati diketahui sebagai komet yang melintas 1.200 tahun sekali jatuh menembus awan di adegan pembuka. Lalu bergantian kita diperkenalkan pada dua protagonis, Mitsuha dan Taki. Mitsuha tinggal di kota kecil nan sunyi bernama Itomori, hidup menjalankan tradisi setempat. Sedangkan Taki adalah remaja Tokyo yang gemar nongkrong di cafe bersama teman sekolahnya serta bekerja paruh waktu di sebuah restoran Italia. Secara misterius, keduanya kerap bertukar tubuh selepas bangun tidur, terpaksa menjalani keseharian masing-masing, berkomunikasi melalui catatan di handphone, sampai timbul ketertarikan dan keinginan untuk saling bertemu.
Konsep percintaan menembus ruang dan waktu sejatinya bukan hal baru, namun kepintaran Makoto Shinkai menjalin cerita jadi pembeda. Ketimbang fiksi ilmiah, "Your Name" condong ke arah fantasi, membuat penjelasan berdasarkan logika sains tentang fenomena pertukaran tubuh tersebut takkan kita temui. Tapi kepintaran Shinkai mengawinkan imajinasi dengan mitos (keajaiban komet, kemistisan senja) telah cukup sebagai pondasi, memberi jawaban yang meski kurang masuk akal tetapi memuaskan (this is fantasy afterall). Cermat pula cara Shinkai menebar petunjuk di berbagai sudut narasi yang strukturnya ia bolak-balik, memancing penonton memutar otak mengarungi kegiatan memecahkan teka-teki.
Namun "Your Name" bukan sajian high concept "dingin" yang berusaha sok pintar. Seperti manusia yang dianugerahi akal dan perasaan, Makoto Shinkai turut menekankan penggalian rasa lewat balutan metafora mengenai pemaknaan cinta. Berbagai fenomena aneh di sekitar Mitsuha dan Taki punya kaitan mendalam akan dinamika drama romantika. Ada pencarian cinta, proses saling mengenal untuk kemudian mengisi, sampai sisi bawah sadar yang kerap mengundang tanya dalam batin tiap orang: "Siapa dia? Kenapa aku mencintainya?", dan lain-lain. Timbul kehangatan saat bersamaan dengan tertukarnya tubuh Mitsuha dan Taki, mereka sama-sama menyokong, membantu kehidupan satu sama lain, membawa ke arah lebih baik. Ya, sebagaimana semestinya esensi dari ekspresi rasa cinta.
Seiring kedua protagonis makin mengenal, makin terikat kuat, saya pun terbuai, bersimpati, mencintai mereka berdua. Alhasil begitu twist di pertengahan menghentak, hati rasanya ikut teriris-iris. Setelahnya, Shinkai tanpa henti mengaduk-aduk emosi berkat perpaduan tepat antara drama dan komedi. Sewaktu dramanya mencuatkan keindahan mengharukan soal cinta, humor berbasis body swap-nya konsisten memancing tawa (that boobs-grabbing-joke is the best one). Alih-alih inkonsistensi tone, ketepatan timing Shinkai justru menghasilkan keseimbangan berujung kehangatan. Walau tidak sepuitis "The Garden of Words", animasinya tetap solid meramu romantisme senja atau keindahan magis hujan komet. Because love is indeed magical.
Desember 08, 2016
Animated
,
Anime
,
Japanese Movie
,
REVIEW
,
Sangat Bagus
KIKI'S DELIVERY SERVICE (1989)
Rasyidharry
Kepuasan terbesar menyaksikan animasi dari Ghibli khususnya buatan Hayao Miyazaki berasal dari kesederhanaan alur dalam dunia negeri dongeng yang penuh kehangatan. Dunia buatan Miyazaki banyak berisikan monster, hantu dan berbagai bentuk keajaiban lain. Namun dibalik kemasan fantasi itu terdapat balutan kisah sederhana yang acapkali tidak memiliki sosok villain. Konflik yang diusung tidak jauh beda dengan kehidupan dalam dunia nyata tempat kita tinggal. Bukan semata-mata pertempuran good guy versus bad guy, karena dalam banyak kisahnya, lawan terbesar yang harus dihadapi protagonis adalah dirinya sendiri. "Kiki's Delivery Service" yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Eriko Kadono mengambil pendekatan serupa. Meski bertokohkan seorang penyihir, tetek bengek ilmu sihir bukan fokus utama, melainkan bagaimana tokoh utamanya menjalani proses pendewasaan.
Tokoh utama dalam film ini adalah seorang gadis bernama Kiki, yang mewarisi kekuatan sebagai penyihir dari sang ibu. Sesuai dengan tradisi keluarganya, saat mencapai usia 13 tahun Kiki harus pergi dari rumah selama satu tahun untuk melatih ilmu sihirnya. Kiki adalah gadis yang cheerful, dan alih-alih merasa sedih karena harus meninggalkan rumah, ia justru begitu bersemangat. Bersama Jiji, kucing hitam peliharaannya, Kiki mulai melakukan pencarian terhadap sebuah kota untuk ditinggali yang membawanya ke sebuah kota pelabuhan bernama Koriko. Sayangnya situasi disana tidak semenyenangkan yang ia bayangkan. Baru saja tiba, Kiki sudah harus berurusan dengan polisi karena menyebabkan kekacauan lalu lintas. Respon yang didapat dari beberapa orang pun jauh dari kesan ramah. Untunglah ia bertemu dengan Osono, wanita pemilik toko roti yang mau menyediakan kamar tinggal dan membantu Kiki memulai usahanya membuka jasa pengantaran barang.
Mayoritas dari kita semua pernah mengalami hal serupa dengan Kiki. Saya tidak membicarakan tentang terbang melintasi kota dengan sapu, mengobrol dengan seekor kucing, atau bekerja sebagai penyedia jasa delivery. Tapi bagaimana kita harus meninggalkan rumah lalu pindah ke tempat asing demi menuntut ilmu sampai merasakan sulitnya beradaptasi khususnya dalam kehidupan sosial, tentu terasa familiar. Tanggalkan segala aspek sihirnya, maka anda akan mendapatkan kisah coming-of-age yang bersentuhan dengan keseharian kita. Tapi selayaknya dongeng-dongeng dengan selipan pesan moral nyata dibalik tuturan kisah fantasi, "Kiki's Delivery Service" memang perlu menyuntikkan aspek magical demi menarik minat anak-anak. Berkat itu filmnya tetap bisa berperan sebagai cerminan realita tanpa harus melupakan unsur bersenang-senang. Menyenangkan memang melihat Kiki dan Jiji melayang kesana kemari, tapi Miyazaki yang juga berperan selaku penulis naskah mampu menjaga supaya aspek itu sekedar jadi pemanis, tidak memberi distraksi bagi poin utama cerita.
Naskah Miyazaki juga memiliki pengembangan karakter kuat. Tahapan pendewasaan Kiki terpapar dalam struktur mendetail hingga mampu membuat saya memahami tiap fase proses beserta segala alasan dibalik respon emosi atau tindakan yang diambil karakternya. Seperti remaja lain, pada awalnya Kiki dipenuhi keceriaan dan optimisme. Tidak terbersit pikiran buruk kala hendak memulai perjalanan. Benturan konflik batin pertama terjadi tatkala ia bertemu dengan penyihir lain dalam perjalanan, yang membuat Kiki mempertanyakan bakatnya. Kita bisa melakukan apa? Apa yang menjadi kelebihan kita? Pada dasarnya pertanyaan itu wajar menggelayuti pikiran remaja seusianya.
Hingga benturan lebih keras hadir dalam bentuk "dunia nyata", ketika ia mulai banyak dihadapkan pada kesulitan juga kegagalan. Pada beberapa kesempatan film ini juga menyinggung tentang ketidakpercayaan diri Kiki dalam bersosialisasi akibat merasa penampilannya kalah menarik dibanding gadis-gadis kota lainnya. Sentuhan kecil namun esensial dalam coming-of-age seorang gadis, sama halnya dengan benih cinta monyet yang bersemi antara Kiki dan Tombo. Titik puncak adalah saat Kiki mempertanyakan purpose dari semua tindakan. Kita yang telah melewati fase usia tersebut tentu pernah mengalami itu semua. Tercipta kesan familiar berujung keterikatan dengan karakter, tak peduli apakah proses yang kita jalani berbuah keberhasilan atau tidak.
Cerita uplifting berisi keajaiban yang tetap relatable turut diperkuat oleh pencapaian teknis. Sebagai pemanis petualangan, ada visual 2 dimensi yang meski telah berumur hampir 27 tahun tapi tetap memanjakan mata. Iringan musik gubahan Joe Hisaishi menghadirkan keceriaan ala musik-musik Eropa yang juga selaras dengan desain setting-nya. Scoring film-film Ghibli memang selalu mengandung sihir, membuat suatu petualangan jadi menyenangkan, kehangatan dalam tiap senyuman karakter, adegan emosional pun bertambah impact-nya tanpa harus menggeber orkestra melodramatik secara berlebihan. Sayangnya film ini punya kekurangan pada paruh akhir, ketika proses Kiki menemukan jawaban atas tujuannya terkesan sambil lalu. Dia mendapat insight, tapi saya tak merasakan hal serupa. Begitu pula ending yang terasa tiba-tiba tanpa memberi waktu bagi penonton meresapi lebih dalam, walaupun credit sequence-nya cukup membantu sebagai epilog. Namun secara menyeluruh, "Kiki's Delivery Service" menghasilkan kehangatan manis yang sulit ditolak.
Januari 05, 2016
Animated
,
Anime
,
Bagus
,
Japanese Movie
,
REVIEW
DRAGON BALL Z: RESURRECTION "F" (2015)
Rasyidharry
Freeza merupakan salah satu kalau bukan villain terbaik yang dimiliki Dragon Ball. Sebelum kemunculan tokoh-tokoh seperti Cell atau Majin Boo, dia mendapat gelar yang terkuat di alam semesta. Sosoknya yang memiliki empat wujud perubahan pun begitu ikonik. Belum lagi fakta bahwa Freeza banyak berperan dalam kejadian-kejadian penting di rentetan narasi Dragon Ball, contohnya: kehancuran Planet Vegeta, membunuh Bardock (ayah Goku), membunuh Kuririn, dan pastinya perubahan pertama Goku menjadi manusia saiya super. Maka tidak mengherankan jika Akira Toriyama memilih untuk menghidupkannya kembali pada film terbaru ini. Merupakan kelanjutan dari Battle of Gods, Resurrection "F" memang masih bertindak sebagai nostalgia dan tribute daripada murni sajian baru, sehingga mengembalikan Freeza adalah keputusan tepat.
Jadi bagaimana Freeza yang telah mati di tangan Trunks dan mendapat siksaan berupa dikelilingi oleh boneka lucu serta para peri di neraka dapat kembali? Tentu saja menggunakan Dragon Ball. Sorbet yang sepeninggal Freeza mengambil alih tampuk kekuasaan merasa kewalahan menghadapi berbagai pemberontakan di planet kekuasaan mereka. Akhirnya ia pun memutuskan untuk mengumpulkan Dragon Ball di Bumi. Secara kebetulan, Dragon Ball tengah dicari oleh Pilaf, Mai dan Shu. Begitu kembali hidup, tujuan utama Freeza hanya satu, yakni membalas dendam pada Goku. Untuk itulah ia mulai berlatih selama beberapa bulan demi meningkatkan kekuatannya. Hal ini tak pernah dilakukan karena Freeza terlahir sebagai petarung jenius yang tidak membutuhkan latihan untuk menjadi kuat. Disaat bersamaan, Goku dan Vegeta tengah berlatih bersama Whis, guru sekaligus pelayan bagi Beerus sang dewa penghancur yang pertama muncul di Battle of Gods.
Beberapa poin plotnya menunjukkan kesederhanaan, cenderung kearah escapism penuh penggampangan. Sebut saja cara Freeza bisa kembali, dan bagaimana ia memperoleh kekuatan hingga dapat mengimbangi Goku yang telah mencapai level legendary super saiyan. Tapi begitulah Resurrection "F". Para penggemar seperti saya akan kembali ke masa kecil. Maksudnya adalah kita dibuat menerima segala penjelasan plot meski terkesan menggampangkan. Karena anak-anak memang cenderung lebih mudah menerima pemaparan sederhana macam itu. Film lain mungkin bakal mengganggu, tapi saya mengenal Dragon Ball. Begitulah cara Akira Toriyama menuturkan kisahnya, dan saya sama sekali tidak keberatan. Begitu pula saat Toriyama menawarkan jalan keluar instan lain macam perputaran waktu yang mengingatkan pada Superman mengitari Bumi untuk mengembalikan waktu. Tidak masalah pula saat alurnya setipis kertas dan lebih menitikberatkan pada pertarungan demi pertarungan.
Bagi penonton non-penggemar, mungkin film ini terasa repetitif dan membosankan. Tapi untuk fans lama, tiap pertarungan yang hadir menyimpan nostalgia. Sebelum Goku dan Vegeta tiba di medan pertempuran, kita disuguhi para z fighter lain terlebih dulu. Piccolo dan Gohan seperti biasa muncul, tapi kehadiran Tenshinhan, Kuririn (dengan kepala botaknya), bahkan Mutenroshi memberikan kegirangan penuh kenangan. Mereka pun diberi spotlight moment guna memamerkan jurus ikonik masing-masing. Tiap jurus membawa saya terlempar lagi ke masa lalu saat komik Dragon Ball menjadi bacaan tiap hari bahkan sewaktu makan. Fans mana yang tidak tersenyum lebar menyaksikan Mutenroshi bertranformasi menjadi sosok berbadan kekar lagi? Sosok Mutenroshi berbadan kekar itulah yang menandai kemunculan pertama kamehameha. Komedinya pun lebih bisa diapresiasi oleh penggemar daripada penonton awam. Saya tertawa saat Tenshinhan berkata bahwa ia meninggalkan Yamucha karena pertarungan ini terlalu berbahaya bagi dia.
Lebih dari itu, Tadayoshi Yamamuro selaku sutradara turut berhasil melakukan building tension. Kedatangan Freeza yang dihadapi oleh para z fighter dengan penuh keraguan sebelum akhirnya mereka harus berjibaku melawan ribuan musuh sanggup memberi kesan ancaman. Ada ketegangan saat filmnya berhasill menyiratkan akan terjadinya peperangan epic yang mempertaruhkan nasib Bumi. Saya pun ikut dibuat cemas menantikan kepulangan Goku dan Vegeta sebagai harapan terakhir untuk mengalahkan Freeza. Sayangnya, setelah pembangunan tensi kuat itu, saya kecewa dengan bagaimana klimaksnya dihantarkan. Pertempuran antara Goku versi legendary super saiyan melawan Golden Freeza jelas menghibur, tapi bukan sajian epic seperti yang disiratkan.
Jika biasanya Dragon Ball identik dengan momen kebangkitan protagonisnya yang bertransformasi menjadi sosok super kuat (biasanya versi upgrade dari super saiyan), kali ini hal itu tidak hadir. Goku sudah berubah sedari awal pertarungan, membuat versi super saiyan baru itu tidak memberi efek lebih. Konklusinya semakin anti-klimaks dengan penggunaan aspek "perputaran waktu". Sebagai penggemar Vegeta saya kembali kecewa karena sang antihero sekaligus rival Goku ini lagi-lagi tidak diberi porsi adil untuk bersinar. Saya pun hanya dibuat berharap melihat kombinasi Goku-Vegeta (fusion mungkin?) Tapi sebagai nostalgia, film ini telah memberikan kesenangan. Jika Battle of Gods bagai pesta kepulangan kawan lama, maka Resurrection "F" adalah obrolan mengenang masa lalu bersama sang kawan. Dua momen yang sebenarnya bisa dilakukan bersamaan, tapi tetap menyenangkan.
Oktober 27, 2015
Animated
,
Anime
,
Japanese Movie
,
Lumayan
,
REVIEW
THE CASE OF HANA & ALICE (2015)
Rasyidharry
"The Case of Hana & Alice" is definitely a weird case. Bukan karena ceritanya, melainkan pilihan Shunji Iwai untuk mengemasnya sebagai medium animasi. Film ini sendiri merupakan prekuel dari Hana and Alice, sebuah live-action yang rilis tahun 2004. Kenapa Iwai merasa perlu mengemasnya sebagai animasi? Tentu bukan sekedar sebagai gaya-gayaan belaka. Dengan cara ini dia tidak kehilangan jiwa kedua tokoh utamanya, karena Anne Suzuki dan Yu Aoi bisa kembali memerankan karakter Hana dan Alice meski hanya lewat suara. Bayangkan betapa dipaksakannya jika kedua aktris yang masing-masing telah menginjak usia 28 dan 30 tahun itu harus memerankan remaja SMP. Menggunakan aktris baru pun berpotensi menghilangkan nyawa karakter, dan lagi akan kurang relevan jika paras mereka berubah mengingat prekuel ini hanya ber-setting kurang lebih satu tahun dari pendahulunya.
Alice (Yu Aoi) adalah remaja 14 tahun yang baru pindah bersama sang ibu setelah kedua orang tuanya bercerai. Alice adalah gadis penuh semangat yang akan dengan mudah membuat penonton jatuh cinta. Dia adalah tipikal orang yang tidak segan menjadikan tiap langkahnya di jalan layaknya tarian. Alice bukan pula gadis yang lemah, dimana dalam salah satu adegan ia tidak segan memukul salah satu siswa yang mem-bully-nya. Bagaimana voice acting Yu Aoi yang mampu menjadikan Alice sebagai sosok penuh semangat sekaligus lucu pun makin memudahkan penonton menyukai sosoknya. Tapi dengan semua karakteristik tersebut, kehidupan di lingkungan baru tetap tidak mudah bagi Alice. Teman-teman di sekolah bersikap ketus bahkan menjauhi dirinya. Keanehan itu ditengarai ada kaitannya dengan berita meninggalnya seorang siswa bernama Judas yang konon diracuni oleh keempat istrinya.
Kasus misterius nan aneh itu pula yang nantinya akan mempertemukan Alice denngan Hana (Anne Suzuki). Berlawanan dengan Alice, Hana adalah gadis pendiam nan misterius yang sudah setahun lebih mengurung diri di dalam kamar dan tidak pernah masuk sekolah. Hana sendiri tinggal bersebelahan dengan Alice dan dalam beberapa kesempatan terlihat mengamati Alice secara diam-diam dari kamarnya. Dari sinilah persahabatan keduanya akan dimulai. Persahabatan aneh mengingat sosok mereka yang sekilas berseberangan. Semakin aneh disaat hubungan itu dipersatukan oleh sebuah kasus aneh yang tidak terdengar masuk akal sedikitpun. Bagaimana mungkin siswa SMP kelas 9 mempunyai empat istri? Betulkah arwahnya masih terus bergentayangan di kelas?
Dengan berbagai misteri tersebut nyatanya Shunji Iwai sama sekali tidak berniat mengemas The Case of Hanna & Alice sebagai sajian misteri, kriminal ataupun drama investigasi ala kisah detektif. Memang Hana dan Alice pada akhirnya berusaha menyelidiki kebenaran dibalik "kematian" Judas, tapi bukan itu poin utamanya. If a murder mystery story is what you want, than you'll be disappointed. If you disappointed because of that, than you're missing the point of this movie. Tapi misteri itu juga bukan sekedar pemanis latar tanpa esensi. Kita harus menilik kembali seperti apakah pertemanan antara Hana dan Alice. Sekali lagi karena kepribadian masing-masing, hubungan itu nampak tidak wajar. Jadi diperlukan situasi tak wajar pula untuk menyatukan keduanya. Iwai menyajikan itu dengan penuh kehangatan sekaligus kejenakaan yang membuat saya terikat baik oleh karakter maupun ceritanya. Tentu saya penasaran dengan kebenaran kasusnya, but in the end it doesn't matter at all.
Semua yang terjadi dalam film ini menjurus kearah satu hal, yakni kebenaran yang tersimpan. Banyak situasi maupun karakter (termasuk Hana) yang disalah artikan. Kasus pembunuhan Judas, saat Alice mengira Hana terseret oleh truk yang menyebabkan kehebohan massal, atau pertemuan Alice dengan seorang pria tua yang dikhawatirkan oleh Hana sebagai penculik. Begitu hebat kekuatan sebuah kata. Tidak butuh banyak usaha untuk menyebarkan suatu kabar, menjadikan suatu hal buram menjadi fakta yang dipercaya khalayak umum. Begitulah cara Iwai memberikan cerminan akan cara masyarakat masa kini memandang sebuah kebenaran. Tanpa berusaha mencari tahu, begitu saja mereka percaya akan sesuatu. Maka investigasi Hana dan Alice bukanlah mengutamakan pada misteri, melainkan esensi dari pencarian kebenaran. Saya suka cara Iwai menturukan drama penuh makna itu secara subtle, efektif, namun tetap dipenuhi kesenangan.
Kekuatan lain dari film ini terletak pada visual animasinya yang mengingatkan akan Waking Life-nya Richard Linklater. Tapi Shunji Iwai tidak menerapkan gaya yang sepenuhnya serupa. Dia mengambil kesan realistik dari visual tersebut, namun menambahkan berbagai pemanis, sehingga di tengah kesan nyata tetap ada keindahan fantasi seperti kilauan cahaya merah/biru yang kerap kali muncul. Penggunaan animasi pada prekuel ini pun memberi jalan bagi Iwai untuk menangkap unsur kehidupan remaja SMP yang penuh warna. Karakternya ada pada usia dimana naik-turun kehidupan masih menjadi palet warna yang menyenangkan. Atmosfer itu pula yang akhirnya mampu saya rasakan dalam film ini. Lewat media animasi pula berbagai kelucuan situasi serta tingkah polah menarik dari Alice bisa dimaksimalkan. Karena dengan pemaparan live-action bisa saja semua itu terasa bodoh, berlebihan, ataupun mengganggu. Berkat itu saya berhasil dipuaskan karena tawa yang berulang kali hadir.
Salah satu permasalahan yang dimiliki film ini terletak pada supporting character. Bukan berarti mereka tidak menarik, karena jutru sebaliknya, sosok seperti Fuko yang childish atau Mu dengan segala keanehannya mampu mencuri perhatian. Sayangnya setelah pertemuan Alice dengan Hana, mereka berdua justru menghilang. Tapi meski disayangkan, saya bisa memaklumi karena kebutuhan filmnya memang mengharuskan fokus penuh terhadap hubungan dua karakter utamanya. Satu aspek lain yang cukup mengganggu adalah pemaparan Hana dari sosok misterius mendadak menjadi lebih cerah. Saya tahu hal itu merupakan intensi Iwai demi menghadirkan kesan bahwa "Hana tidak seperti yang kita kira", tapi untuk hal ini saya sedikit merasa dibohongi. Tapi beberapa poin tersebut merupakan kekurangan minor jika dibandingkan segala kepuasan yang saya dapatkan dari The Case of Hana & Alice. Bahkan jika belum menonton film pendahulunya pun, prekuel ini tidak akan membuat anda tersesat. Bahkan mungkin bakal timbul ketertarikan untuk menonton film tersebut.
Oktober 19, 2015
Animated
,
Anime
,
Bagus
,
Japanese Movie
,
REVIEW
MY NEIGHBORS THE YAMADAS (1999)
Rasyidharry
Lewat adaptasi manga Nono-chan ini Isao Takahata menciptakan salah satu film Ghibli dengan visual paling unik (selain The Tale of the Princess Kaguya yang juga garapannya) sekaligus paling ringan meski jauh dari yang terbaik. Daripada memberikan satu narasi panjang, Isao Takahata memilih untuk mengemas My Neighbors the Yamadas sebagai rangkaian sketsa. Tiap sketsa menggambarkan rangkuman kehidupan keluarga Yamada dengan judul-judul unik seperti "Father as Role Model" atau "Patriarchal Supremacy Restored". Kita diajak melihat betapa jenakanya keluarga Yamada yang terdiri dari lima orang: Takashi (ayah), Matsuko (ibu), Noboru (anak pertama), Nonoko (anak kedua) dan Shige (nenek). Tiap sketsa berdurasi pendek menghadirkan konflik dalam keseharian mereka. Tentu ada konflik, tapi yang ditampilkan oleh Takahata adalah konflik sederhana seperti berebut remote televisi, ketinggalan payung, anak yang hilang di mall, kisah pacar pertama, dan lain-lain.
Setiap konflik dibalut dengan komedi quirky, membuatnya terasa ringan. Tapi dengan pengemasan dalam bentuk sketsa dan komedi kental tidak membuat film ini hanya menjadi sebuah sit-com. Ada drama yang hangat tentang keluarga serta berbagai sendi kehidupan sehari-hari. Bahkan meski begitu ringan, My Neighbors the Yamadas tidak jarang terasa filosofis dengan rangkaian kalimat puitis dan terkadang menggelitik setiap satu tema sketsa berakhir. Keseimbangan antara drama keluarga dan komedi adalah kunci keberhasilan film ini meski terkadang komedi terlalu menutupi sentuhan dramanya. Lelucon yang hadir tidak dipaksakan karena berupa momen menggelitik yang biasa hadir diantara keseharian kita, tentunya dikemas dengan hiperbolis demi menambah kelucuan. Sederhana dan begitu dekat dengan kehidupan penonton membuat komedinya bekerja dengan baik. Jangan heran jika anda menemukan beberapa kejadian dalam film ini pernah anda alami sendiri.
Karakterisasi unik dan interaksi diantara mereka menjadi daya tarik yang selalu terasa segar. Takashi yang berusaha keras menjadi ayah terbaik, Matsuko yang selalu malas, Shige yang bermulut pedas sekaligus yang paling "kuat", Noboru dengan konflik usia remaja, sampai Nonoko yang termuda tapi di beberapa kesempatan justru tampak sebagai yang paling "normal" semuanya berjalan selaras, sebagaimana sebuah keluarga yang terdiri dari individu berbeda-beda tapi harus saling melengkapi. Mereka saling bertengkar, berbeda pendapat, tapi dibalik semua itu kita tahu bahwa mereka saling menyayangi. Perasaan itulah yang memberikan hati, menciptakan kehangatan bagi film ini. Isao Takahata sukses mengembalikan memori indah tentang betapa bahagianya suatu keluarga yang berkumpul bersama. Kebahagiaan sederhana yang bisa didapat meski hanya lewat tertawa bersama, makan bersama, atau bahkan saling berdebat.
Simpel tapi imajinatif. Hal itu terpampang jelas dari bagaimana Isao Takahata mengemas cerita dan aspek visualnya. Bagi saya, keberhasilan mengemas cerita dengan konsep sederhana yang justru sering terlewatkan oleh observasi banyak orang sama imajinatifnya dengan sajian high concept. Visualnya sendiri terkesan begitu sederhana dengan pewarnaan ala cat air penuh warna lembut yang tidak penuh mengisi layar. Tapi di beberapa bagian, Isao Takahata juga menyempatkan diri untuk menampilkan kemeriahan seperti yang terlihat pada pembuka sekaligus penutup film ini. Meriah dan lagi-lagi imajinatif saat keindahan fantasi melebur dengan realisme kuat, menciptakan keindahan sureal penuh filosofi puitis.
My Neighbors the Yamada bukannya tanpa kelemahan. Sketsa demi sketsanya memang menyenangkan diikuti, tapi bagi saya film ini tetap lebih cocok sebagai seria animasi dengan durasi 20-30 menit daripada film panjang 100 menit. Memang terasa hangat, tapi tidak ada kedalaman lebih yang bisa membuat saya tersentuh dengan drama keluarganya. Itulah kenapa film ini tidak bisa disejajarkan dengan sajian terbaik Ghibli, bahkan bagi Isao Takahata sendiri ini bukanlah yang terbaik. Tapi biarpun seperti itu, My Neighbors the Yamadas adalah tipikal film menyenangkan yang akan membuat tiap penontonnya dengan senang hati mengunjungi kembali keluarga Yamada dengan segala keunikan mereka dikala waktu senggang.
Maret 17, 2015
Animated
,
Anime
,
Japanese Movie
,
Lumayan
,
REVIEW
STAND BY ME DORAEMON (2014)
Rasyidharry
Tidak ada yang tidak kenal Doraemon dan saya yakin mayoritas dari kita yang menjalani masa kanak-kanak/remaja awal di era 90-an pasti punya kedekatan dengan sosok robot kucing dari masa depan ini. Saya sendiri hampir tidak pernah melewarkan penayangannya tiap minggu pagi, membeli beberapa komiknya, sampai deretan VCD film-film Doraemon. Keajaiban alat-alat Doraemon adalah kepingan memori tak terlupakan masa lalu saya. Kemudian hadirlah film ini yang sebelum perilisannya berhembus berbagai rumor yang membuat Stand by Me Doraemon menjadi film yang tidak boleh dilewarkan para penggemarnya. Ada yang menyebut ini adalah film terakhir Doraemon dan bakal menampilkan perpisahannya dengan Nobita. Well, rumor pertama jelas keliru karena tahun depan bakal rilis film lain dengan judul Nobita's Space Heroes. Sedangkan yang kedua silahkan temukan sendiri dalam film ini, yang jelas cerita film ini bakal berbasis dari tujuh volume awal komiknya.
Karena berasal dari tujuh komik pertamanya, disini kita akan diperlihatkan lagi momen pertemuan awal antara Nobita dan Doraemon. Setelah itu yang tersaji adalah rangkuman dari kehidupan sehari-hari mereka yang tentu sudah familiar bagi kita. Nobita terlambat sekolah, Nobita di-bully Giant dan Suneo, Nobita mendapat nilai nol, Nobita yang berusaha mengejar Shizuka, dan tentunya Nobita yang mendapat banyak bantuan dari kantong ajaib Doraemon. Jika dibandingkan film layar lebar lainnya yang kental dengan nuansa petualangan fantasi, Stand by Me Doraemon jelas lebih membumi dan sederhana. Nuansanya lebih dekat kearah komik dan kartunnya yang membuat film ini benar-benar terasa sebagai sebuah bentuk penghormatan bagi Fujiko F. Fujio serta kado nostalgia bagi para penggemar. Hal itu terlihat pula dari banyaknya momen-momen ikonik yang sudah familiar bagi para penggemar kembali dihadirkan sepotong demi sepotong. Daripada suatu hal baru, film ini lebih pantas disebut sebagai surat cinta dari sutradara Takashi Yamazaki baik untuk penggemar maupun sang pengarang.
Desember 28, 2014
Animated
,
Anime
,
Bagus
,
Japanese Movie
,
REVIEW
THE TALE OF THE PRINCESS KAGUYA (2013)
Rasyidharry
Isao Takahata yang film terakhirnya, My Neighbors the Yamada dirilis 15 tahun yang lalu kali ini mengadaptasi sebuah cerita rakyat Jepang dari abad ke-10 yang berjudul The Tale of the Bamboo Cutter. Kandungan kisah dari cerita rakyat itu sendiri tidak jauh berbeda dari kebanyakan cerita rakyat milik Indonesia, yakni tentang seorang puteri kahyangan yang secara ajaib muncul di Bumi lalu dirawat oleh sepasang suami istri tua miskin yang tidak mempunyai anak. Dalam The Tale of the Princess Kaguya, kita akan dipertemukan dengan seorang pria tua yang bekerja sebagai tukang potong bambu di sebuah pedesaan kecil dekat hutan. Pria tua itu tinggal hanya berdua dengan sang istri. Sampai suatu hari saat sedang memotong bambu ia melihat cahaya terang dari sebuah pohon bambu muda. Dari dalamnya muncul sesosok puteri berukuran kecil. Merasa bahwa itu merupakan anugerah dari langit, sang pemotong bambu pun membawa puteri kecil itu kerumah. Bersama sang istri, mereka berdua memutuskan untuk merawat sang puteri seperti anak mereka sendiri.
Tapi ada keanehan pada sang puteri yang dipanggil Takenoko (Little Bamboo) tersebut. Setelah bertransformasi menjadi seorang bayi, ia mulai tumbuh dengan amat cepat. Hanya butuh waktu beberapa hari sampai Takenoko akhirnya tumbuh menjadi seorang gadis kecil yang cantik. Seperti layaknya anak-anak kecil lain, Takenoko pun menghabiskan keseharian dengan bermain bersama teman-temannya, termasuk Sutemaru yang keluarganya adalah pembuat mangkuk dari kayu. Takenoko perlahan tumbuh menjadi gadis yang semakin cantik dan persahabatannya dengan Sutemaru semakin kuat. Tapi kebahagiaan sederhana itu tidak bertahan lama setelah suatu hari sang pemotong bambu menemukan emas dan begitu banyak kimono indah dari sebuah bambu. Penemuan itu dianggapnya sebagai pertanda dari langit bahwa ia harus membesarkan Takenoko layaknya seorang puteri yang tinggal di rumah besar, bukannya di desa seperti sekarang. Dari situlah awal kisah bagaimana Takenoko dikenal sebagai Princess Kaguya dimulai.
Desember 13, 2014
Animated
,
Anime
,
Japanese Movie
,
Lumayan
,
REVIEW
PATEMA INVERTED (2013)
Rasyidharry
Pada tahun 2012 lalu muncul sebuah film dengan konsep imajinatif tentang keberadaan dua dunia yang saling terbalik berjudul Upside Down. Sayangnya film yang dibintangi Kirsten Dunst tersebut gagal memaksimalkan premis menarik yang ia miliki. Kali ini giliran sebuah anime garapan Yasuhiro Yoshiura muncul dengan konsep yang cukup mirip. Film yang mempuyai judul Jepang Sakasama no Patema ini berkisah tentang keberadaan dua dunia yang bertolak belakang. Satu dunia terletak dibawah tanah, sedangkan satu lagi ada diatas sama seperti dunia yang kita ketahui sekarang ini. Dunia bawah mempunyai seorang puteri bernama Patema. Tidak seperti puteri-puteri biasanya, Patema yang penuh rasa ingin tahu untuk menemui hal-hal baru itu selalu gemar menghabiskan hari-harinya mengeksplorasi sebuah tempat yang disebut "zona berbahaya" meski telah mendapat larangan dari orang-orang.
Tapi karena rasa penasarannya, Patema tetap nekat pergi kesana. Bahaya yang selama ini ditakutkan pun akhirnya datang saat Patema diserang oleh sosok misterius yang selama ini disebut sebagai "manusia kelelawar". Meski selamat dari serangan tersebut, Patema justru terdampar di sebuah dunia yang amat baru baginya yaitu Aiga atau dunia atas. Karena efek perbedaan gravitasi disana, Patema merasa dirinya berada dalam posisi terbalik (tergantung seperti kelelawar) dalam dunia tersebut. Untungnya disana ia bertemu dengan Eiji, seorang pemuda yang bersedia dengan senang hati menolong Patema untuk bisa kembali ke dunia asalnya. Tapi usaha tersebut tidak berjalan dengan mulus karena permusuhan yang selama ini sudah terjadi antara kedua dunia. Pihak dunia atas yang memang telah lama berusaha menangkap orang-orang dari dunia bawah kini mengincar Patema. Tidak hanya berusaha lari, bersama Eiji pun Patema berusaha mengeksplorasi berbagai hal-hal serta tempat baru yang belum pernah ia temui selama ini.
THE WIND RISES (2013)
Rasyidharry
Hayao Miyazaki adalah legenda hidup dan itu tidak bisa dibantah. Bersama Isao Takahata ia membuat Sutdio Ghibli yang menjadi salah satu studio film animasi terbaik yang pernah ada. Jika ada studio yang bisa secara konsisten menandingi bahkan melebihi Pixar, Ghibli adalah studio tersebut. Hayao Miyazaki sendiri sebelum ini telah menyutradarai 10 film selama lebih dari 30 tahun karirnya. Film-film yang ia buat juga layak ditempatkan dalam daftar karya-karya terbaik Studi Ghibli, yaitu mulai dari Spirited Away, Princess Mononoke, sampai yang terakhir Ponyo. Lima tahun setelah Ponyo, Miyazaki akhirnya kembali menyutradarai film, sebuah kabar gembira yang sayangnya harus dibarengi dengan kabar menyedihkan karena film ini direncanakan bakal menjadi film terakhir Hayao Miyazaki. Tentu saja ini bukan pengumuman pensiun pertamanya, tapi kali ini Miyazaki terlihat sangat bersungguh-sungguh. Pada awalnya ia berniat membuat sekuel dari Ponyo sebelum produser Toshio Suzuki berhasil membujuknya untuk membuat The Wind Rises sebagai karya terakhir, yang juga merupakan adaptasi dari manga berjudul Kaze Tachinu karangan Miyazaki sendiri. Tentu saja ekspektasi saya melambung tinggi karena ini adalah film Ghibli, yang disutradarai Miyazaki sebagai film terakhirnya, dan mendapat nominasi Oscar untuk film animasi terbaik.
Film ini berkisah tentang Jiro Horikoshi, seorang bocah yang bermimpi menjadi seorang pilot pesawat tempur. Tapi mimpi itu terpaksa ia kubur dalam-dalam karena penglihatannya yang tergangu. Setelah bertemu dengan seorang desainer pesawat terbang dari Italia bernama Caprioni dalam mimpinya, Jiro pun memutuskan untuk bercita-cita menjadi seorang desainer pesawat. Lima tahun kemudian Jiro sudah berkuliah di sebuah universitas di Tokyo. Disanalah ia mulai membangun cita-citanya untuk membuat pesawat. Bersama sahabatnya, Honjo, pada akhirnya Jiro berhasil diterima bekerja di pabrik pesawat Mitsubishi. Petualangan dan usaha Jiro yang tidak mudah untuk membangun pesawat yang hebat pun dimulai dari sini. Disisi lain, The Wind Rises juga akan bercerita tentang kehidupan percintaan Jiro dengan Naoko. Naoko adalah gadis yang ditemui Jiro di atas kereta api saat ia sedang menuju ke Tokyo. Pada saat itu Jiro menolong Naoko dan pembantunya untuk sampai kerumah saat terjadi gemba besar Kanto tahun 1923. Semenjak itu keduanya tidak pernah lagi bertemu meski dalam hati mereka sama-sama memendam perasaan cinta. Sampai suatu hari takdir mempertemukan mereka kembali. Tapi ternyata kisah cinta Jiro tidak lebih mudah daripada usahanya membuat pesawat terbang.
Juli 16, 2014
Animated
,
Anime
,
Bagus
,
Japanese Movie
,
REVIEW
GRAVE OF THE FIREFLIES (1988)
Rasyidharry
Jika menyebut nama Ghibli, pasti yang terlintas di pikiran banyak orang adalah film-film animasi indah, penuh fantasi serta keceriaan dan harapan. Mayoritas film Ghibli pun tidak akan memberikan kita sosok penjahat seperti yang wajar muncul dalam film manapun termasuk animasi. Lihat saja film-film macam My Neighbor Totoro, Spirited Away sampai Ponyo dan anda akan mengerti yang saya maksudkan. Namun pada tahun 1988, Isao Takahata memberikan sentuhan lain dalam film animasi Ghibli lewat Grave of the Fireflies. Sebuah film adaptasi dari novel semi-autobiografi berjudul sama karya Akiyuki Nosaka, film ini tidak hanya puya tingkat realisme yang jauh lebih kental tapi juga atmosfer yang jauh dari kata ceria, berbeda dengan mayoritas film Ghibli lainnya. Kisahnya berada pada masa perang dunia II saat Jepang berperang melawan sekutu dan sering mendapat serangan bom dari udara. Dengan setting di Kobe, film ini membawa kita pada kehidupan dua kakak beradik, Seita dan Setsuko yang harus bertahan hidup di tengah hujan bom yang mewarnai tiap hari mereka. Keduanya harus hidup sendiri setelah dalam suatu serangan udara ibu mereka tewas karena luka parah yang ia derita.
Seita yang tidak tega menceritakan itu pada Setsuko yang masih kecil memilih tidak memberitahu kematian ibu mereka. Sang ayah sendiri adalah seorang angkatan laut yang tentu saja sedang berada di medan perang saat itu. Sendirian dan tidak punya tempat tinggal setelah rumah mereka hancur, Setsuko dan Seita pergi keluar kota untuk tinggal bersama bibi mereka. Tapi disana kehidupan mereka tidaklah membaik. Selain karena serangan udara yang tidak kunjung berhenti, sang bibi juga perlahan mulai memperlihatkan ketidak sukaannya kepada Setsuko dan Seita yang dianggapnya malas dan tidak berguna. Dari situlah perjuangan kakak beradik ini untuk bertahan hidup lewat usaha mereka sendiri terus berlanjut. Sebuah usaha yang jauh dari kata mudah dan tentunya penuh dengan penderitaan. Ya, akan ada banyak penderitaan yang menyesakkan disini. Grave of the Fireflies memberikan pemandangan yang "aneh" dan cukup mengagetkan bahkan sedari adegan pembukanya. Film Ghibli yang dibuka dengan narasi dari karakter utama yang bercerita tentang kematiannya tentu saja terasa begitu mengejutkan. Sedari awal nuansa depresif sudah sangat terasa. Bahkan setelah kita mulai dibawa masuk kedalam ceritanya, ketegangan langsung terasa karena belum apa-apa saya sudah disuguhi adegan serangan udara.
Mei 17, 2014
Animated
,
Anime
,
Bagus
,
Japanese Movie
,
REVIEW
DRAGON BALL Z: BATTLE OF GODS (2013)
Rasyidharry
Semenjak film Dragon Ball: The Path of Tower di tahun 1996 yang menjadi perayaan 10 tahun film Dragon Ball di layar lebar, belum ada lagi film yang mengangkat kisah petualangan Son Goku dan kawan-kawan ke dalam media film. Sampai akhirnya tahun ini atau 17 tahun semenjak film terakhirnya tersebut, dibuatlah lagi film Dragon Ball yang bisa dibilang cukup spesial dalam banyak aspek. Yang pertama, sang kreator Akira Toriyama akan terlibat cukup jauh dalam penulisan ceritanya yang berarti para fans tidak perlu terlalu khawatir bahwa filmnya punya rasa yang berbeda dari cerita komiknya. Yang kedua adalah fakta bahwa Dragon Ball Z: Battle of Gods merupakan satu-satunya dari 17 film Dragon Ball yang ceritanya termasuk dalam storyline resmi Dragon Ball dan bukan sebuah cerita terpisah yang tidak mempedulikan apapun yang terjadi dalam komik. Ceritanya sendiri mengambil masa setelah pertarungan melawan Majin Boo yang dalam cerita komik ada rentang waktu 10 tahun yang "hilang". Sebagai orang yang sedari kecil hidup dalam manga dan anime Dragon Ball, film ini bagaikan nostalgia sekaligus obat kekecewaan setelah manga favorit saya ini dirusak oleh Hollywood.
Setelah tertidur selama 39 tahun, Birus sang dewa penghancur akhirnya kembali terbangun. Birus sendiri merupakan makhluk paling kuat sejagad raya yang telah menghancurkan begitu banyak planet dan bintang. Berbeda dengan Freeza yang memang dianggap sebagai ancaman, Birus merupakan sosok dewa yang begitu ditakuti dan disegani bahkan oleh Kaioshin sekalipun yang notabene selama ini kita kenal sebagai dewa dari para dewa. Mendengar keberadaan Birus, Goku yang tengah berlatih di planet Kaion merasa tertarik untuk bertarung melawannya. Disisi lain Birus yang di dalam mimpinya mendapat penglihatan tentang orang saiya yang sangat kuat dan disebut sebagai Dewa Super Saiya juga merasa tertantang dan ingin mencari siapa sebenarnya orang saiya tersebut. Mendengar bahwa Goku merupakan saiya yang berhasil membunuh Freeza, Birus pun memutuskan bertarung melawan Goku. Lewat pertarungan berat sebelah, Goku yang menjadi Super Saiya 3 dikalahkan dengan mudah dan Birus pun pergi menuju Bumi untuk mencari keberadaan sang Dewa Super Saiya dalam mimpinya itu.
Oktober 09, 2013
Animated
,
Anime
,
Cukup
,
Japanese Movie
,
REVIEW
THE BORROWER ARRIETTY (2011)
Rasyidharry
Karya dari Studio Ghibli ini bisa dibilang adalah usaha studio animasi legendaris ini untuk mencoba perlahan melakukan regenerasi dalam posisi sutradara yang sebelumnya identik dengan Hayao Miyazaki. Memang ini bukan usaha pertama, tapi nampaknya semenjak film ini Miyazaki benar-benar bertekad untuk menyerahkan tongkat estafet sepenuhnya terhadap para penerusnya. Dalam film yang disutradarai oleh Hiromasa Yonebayashi (animator film Ponyo) ini, Miyazaki berperan sebagai penulis naskah dari film yang diadaptasi dari novel berjudul "The Borrower" ini. Saya sebenarnya agak bingung dalam memberi judul posting kali ini. Judul asli film ini adalah "Kari-gurashi no Arietti" atau "The Borrower Arrietty". Tapi di US dimana film ini baru rilis tahun depan film ini diberi judul "The Secret World of Arrietty". Akhirnya saya memilih judul yang saat ini paling dikenal yaitu "The Borrower Arrietty".
Seperti judulnya, film ini berkisah tentang seorang gadis bernama Arrietty. Sebenarnya tidak tepat juga menyebut dia sebagai gadis karena Arrietty bukanlah manusia tetapi termasuk "borrower". Borrower sendiri adalah makhluk berukuran sangat kecil (seperti liliput) yang tinggal berdampingan tetapi bersembunyi dari manusia. Seperti sebutannya, mereka mendapatkan berbagai kebutuhannya dengan "meminjam" barang milik manusia yang apabila barang tersebut diambil manusia tidak mengetahui jika ada yang hilang seperti sebutir gula batu atau sebuah jarum. Arrietty dan keluarganya yang tinggal dibawah rumah manusia merupakan sisa dari kaum borrower yang kini populasinya hampir punah.
Seperti judulnya, film ini berkisah tentang seorang gadis bernama Arrietty. Sebenarnya tidak tepat juga menyebut dia sebagai gadis karena Arrietty bukanlah manusia tetapi termasuk "borrower". Borrower sendiri adalah makhluk berukuran sangat kecil (seperti liliput) yang tinggal berdampingan tetapi bersembunyi dari manusia. Seperti sebutannya, mereka mendapatkan berbagai kebutuhannya dengan "meminjam" barang milik manusia yang apabila barang tersebut diambil manusia tidak mengetahui jika ada yang hilang seperti sebutir gula batu atau sebuah jarum. Arrietty dan keluarganya yang tinggal dibawah rumah manusia merupakan sisa dari kaum borrower yang kini populasinya hampir punah.
November 11, 2011
Animated
,
Anime
,
Fantasy
,
Japanese Movie
,
REVIEW
,
Sangat Bagus
TOKYO GODFATHERS (2003)
Rasyidharry
Dari judulnya mungkin banyak yang mengira film ini adalah sebuah remake atau adaptasi lepas yang dilakukan perfilman Jepang terhadap film mafia legendaris "The Godfather". Tapi pada kenyataannya film ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Corleone Family. Memang sempat ada intrik organisasi kriminal seperti mafia yang muncul di film ini tapi bukan itu pokok permasalahan konflik dan cerita utama di film ini. "Tokyo Godfather" justru bercerita mengenai takdir hidup yang jika ditelaah seringkali erat kaitannya dengan kebetulan. Kebetulan-kebetulan yang terkadang akan terasa lucu.
Film ini berkisah mengenai 3 orang jalanan yang pada malam natal menemukan seorang bayi perempuan yang tergolek di tempat pembuangan sampah. Ketiga orang tersebut adalah Hana, seroang waria yang sangat berharap bisa melahirkan anak dan menjadi ibu,. Gin lelaki paruh baya yang kerjanya hanya minum dan mabuk, dan Miyuki, gadis remaja yang kabur dari rumah. Tanpa mereka duga, disebuah malam natal yang bagi orang-orang yang tidak punya rumah tinggal dan keluarga hanyalah malam biasa saja mereka dituntun oleh takdir untuk menemukan bayi perempuan yang terbuang dan memutuskan untuk merawat sang bayi sebelum akhirnya memutuskan untuk berusaha mencari orang tua bayi yang diberi nama Kiyoko tersebut dan mengembalikannya.
Film ini berkisah mengenai 3 orang jalanan yang pada malam natal menemukan seorang bayi perempuan yang tergolek di tempat pembuangan sampah. Ketiga orang tersebut adalah Hana, seroang waria yang sangat berharap bisa melahirkan anak dan menjadi ibu,. Gin lelaki paruh baya yang kerjanya hanya minum dan mabuk, dan Miyuki, gadis remaja yang kabur dari rumah. Tanpa mereka duga, disebuah malam natal yang bagi orang-orang yang tidak punya rumah tinggal dan keluarga hanyalah malam biasa saja mereka dituntun oleh takdir untuk menemukan bayi perempuan yang terbuang dan memutuskan untuk merawat sang bayi sebelum akhirnya memutuskan untuk berusaha mencari orang tua bayi yang diberi nama Kiyoko tersebut dan mengembalikannya.
MY NEIGHBOR TOTORO (1988)
Rasyidharry
Karakter Totoro seakrang ini memang sudah jadi salah satu karakter animasi paling melegenda. Totoro menjadi lambang perusahaan studio animasi Ghibili. Bahkan tahun lalupun Totoro muncul sebagai cameo di "Toy Story 3". "My Neighbor Totoro" memang telah menjadi karya klasik dari seorang Hayao Miyazaki. Walaupun begitu saya baru kali ini berkesempatan menonton film ini dimana sebelumnya saya juga baru menonton 2 karya dari Miyazaki yaitu "Spirited Away" dan "Ponyo".
Ber-setting pada tahun 1958 film ini mengisahkan mengenai 2 gadis kecil kakak beradik, Satsuki dan Mei yang bersama sang ayah baru saja pindah ke sebuah pedesaan disaat sang ibu sedang dirawat di rumah sakit. Dirumah barunya tersebut (yang katanya berhantu) Satsuki dan Mei mulai menemukan keanehan seperti disaat mereka melihat banyak sekali makhluk kecil berwarna hitam yang oleh nenek tetangga mereka disebut sebagai susuwatari yang menjadi penunggu rumah kosong. Satsuki dan Mei yang tidak merasa takut tapi malah makin penasaran akhirnya mulai bertemu dengan berbagai macam keanehan sekaligus keajaiban disekitar rumah mereka tersebut termasuk pertemuan mereka dengan sesosok makhluk seperti kelinci raksasa yang mereka panggil Totoro.
September 18, 2011
Adventure
,
Animated
,
Anime
,
Fantasy
,
Japanese Movie
,
REVIEW
,
Sangat Bagus
AKIRA (1988)
Rasyidharry
Film arahan sutradara Katsuihro Otomo yang diangkat dari manga berjudul sama. Sebagai film animasi, "Akira" dinilai punya impact yang cukup besar baik itu ditinjau dari perkembangan film animasi bahkan sampai keseluruhan dunia perfilman dunia. Bahkan akhir-akhir ini ramai diberitakan Hollywood berniat me-remake film ini dalam versi live action. Mungkin sudah banyak juga yang tahu kalau "The Matrix" juga cukup banyak terinspirasi akan film ini. Saya sendiri sempat salah menebak jalan cerita dari "Akira" karena dimana-mana film ini memperlihatkan sosok pria dengan motor besarnya, saya mengira film ini bercerita tentang balapan liar. Ternyata "Akira" lebih mengarah kepada tema science fiction + post apocalypse + tema agama.
Film ini ber-setting pada tahun 2019 di sebuah kota bernama Neo Tokyo. Kota itu adalah gambaran Tokyo 31 tahun setelah meletusnya perang dunia III. Kondisi Neo Tokyo sudah menjadi berantakan baik dari tampilan kota sampai isi penduduknya. Banyak pejabat korupsi sampai peperangan antar geng, khususnya geng motor. Kaneda dan Tetsuo juga adalah 2 orang sahabat yang terlibat dalam pertikaian antar geng motor. Dalam sebuah balapan antar geng, Tetsuo mengalami kecelakaan disaat dia melihat sesosok anak kecil berpenampilan aneh di tengah jalan. Tetsuo yang terluka parah dibawa pergi oleh sepasukan misterius untuk dilakukan eksperiman pada dirinya. Eksperimen untuk membangkitkan sebuah kekuatan besar yang konon dimiliki sosok bernama Akira yang berperan dalam ledakan nuklir yang menghancurkan Tokyo 31 tahun yang lalu. Kaneda dibantu beberapa kelompok anti pemerintah bekerja sama untuk menyelamatkan Tetsuo dan menghentikan kekuatan mengerikan yang disebut "kekuatan Tuhan" tersebut.
Film ini ber-setting pada tahun 2019 di sebuah kota bernama Neo Tokyo. Kota itu adalah gambaran Tokyo 31 tahun setelah meletusnya perang dunia III. Kondisi Neo Tokyo sudah menjadi berantakan baik dari tampilan kota sampai isi penduduknya. Banyak pejabat korupsi sampai peperangan antar geng, khususnya geng motor. Kaneda dan Tetsuo juga adalah 2 orang sahabat yang terlibat dalam pertikaian antar geng motor. Dalam sebuah balapan antar geng, Tetsuo mengalami kecelakaan disaat dia melihat sesosok anak kecil berpenampilan aneh di tengah jalan. Tetsuo yang terluka parah dibawa pergi oleh sepasukan misterius untuk dilakukan eksperiman pada dirinya. Eksperimen untuk membangkitkan sebuah kekuatan besar yang konon dimiliki sosok bernama Akira yang berperan dalam ledakan nuklir yang menghancurkan Tokyo 31 tahun yang lalu. Kaneda dibantu beberapa kelompok anti pemerintah bekerja sama untuk menyelamatkan Tetsuo dan menghentikan kekuatan mengerikan yang disebut "kekuatan Tuhan" tersebut.
Juli 12, 2011
Action
,
Animated
,
Anime
,
Fantasy
,
Japanese Movie
,
Lumayan
,
REVIEW
,
Science-Fiction
SPIRITED AWAY (2001)
Rasyidharry
Menurut saya film animasi terbaik sampe saat ini dari Amerika adalah franchise Toy Story. Selain gambarnya bagus, cerita didalamnya juga solid. Selain lucu, banyak akndungan pesan yang menyentuh. Dan salah satu yang membidani terciptanya Toy Story adalah John Lasseter. Nah kalo film ciptaannya aja sekeren itu, bagaimanakah film yang digemari Lasseter? Jawabannya adalah Spirited Away. Film yang sampe saat ini ajdi film terlaris sepanjang masa di jepang ini sukses bikin Lasseter kepincut dan akhirnya Disney merilisnya di Amerika. Dan hasilnya? Oscar di tahun 2002 untuk film animasi terbaik berhasil diraih. Wow, sekeren itukah filmnya?
Chihiro, seorang gadis kecil dibawa oleh kedua orangtuanya untuk pindah rumah. Chihiro yang udah kerasan dengan tempat tinggal dan kawan lamanya ngerasa gak senang dengan keputusan ortunya. Hal itu bikin dia ngambek sepanjang perjalanan. Sampe mereka sadar kalo mereka udah nyasar dan sampe disebuah terowongan. Kedua orangtua Chihiro masuk ksitu. Chihiro yang awalnya gak mau masuk akhirnya ikut juga. Dibalik tuh terowongan terdapat sebuah desa yang isinya restoran semua, tapi gak ada satupun orang. Sampe sang ayah nemu sebuah warung yang menyediakan banyak makanan. Kedua orang tuanya makan dengan lahap.
Juli 27, 2010
Animated
,
Anime
,
Japanese Movie
,
REVIEW
,
Sangat Bagus
Langganan:
Postingan
(
Atom
)































