Tampilkan postingan dengan label Anthony LaPaglia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anthony LaPaglia. Tampilkan semua postingan

REVIEW - NITRAM

Melabeli pelaku aksi kriminalitas sadis sebagai "iblis" wajar terjadi. Ada kalanya itu diperlukan guna menghindari justifikasi atas tindakannya. Tapi sebatas berhenti pada "pelabelan" tidak jarang menutup mata kita dari masalah utama, termasuk soal sistem. Bagi pihak-pihak yang mestinya turut bertanggung jawab pun, itu bisa menjadi bentuk "cuci tangan". 

Diangkat dari kisah Martin Bryant, pelaku pembantaian di Port Arthur yang menewaskan 35 jiwa pada 1996, Nitram dibuat untuk memahami sebab suatu tragedi. Harapannya, selepas mengutuk kekejian, langkah preventif dapat dicanangkan. 

Nitram (Caleb Landry Jones) adalah pemuda dengan disabilitas intelektual (di realita, Martin Bryant memiliki IQ 66, setara bocah 11 tahun). Hobinya menyalakan petasan, yang membuatnya tak disukai warga sekitar. Sang ibu (Judy Davis) memasang sikap antara memandang rendah si putera tunggal, jengah, tapi juga peduli. Walau kepedulian tersebut cenderung lebih dekat ke arah mengontrol. 

Di sebuah sesi bersama psikiater, sang ibu menyampaikan bahwa obat yang diresepkan untuk Nitram "membantu memudahkan hidupnya". Lalu si psikiater bertanya, "Memudahkan hidup Nitram atau hidup anda?". Satu kalimat dari naskah buatan Shaun Grant tersebut cukup menggambarkan masalah mendasar dalam penanganan bagi anggota keluarga penderita disabilitas (terutama psikis). 

Apakah ibu merupakan sosok antagonis film ini? Dia bersalah, tapi Nitram bukan penuturan hitam-putih, Mungkin lebih pas disebut "kelabu". Dunia milik Nitram adalah dunia kompleks yang destruktif. Ayah Nitram (Anthony LaPaglia), selaku satu dari sedikit orang yang mau coba memahami si tokoh utama, bermimpi membeli BnB bermodalkan uang pinjaman bank. Nantinya ini turut menyentil satu lagi wajah kelam terkait kelas ekonomi. Tatkala si kaya selalu mengangkangi golongan pekerja, lahirlah dunia di mana hati dan kepedulian telah tiada.

Nitram sempat menemukan pelipur lara kala bertemu Helen (Essie Davis), wanita kaya (mantan aktris sekaligus pemilik permainan lotere) yang berusia jauh lebih tua darinya. Sayangnya kebahagiaan itu berlangsung singkat. Apakah dengan demikian kita diajak bersimpati pada pemuda yang kelak jadi pelaku pembantaian? Untungnya tidak.

Baik naskah maupun pengarahan Justin Kurzel di kursi sutradara sama-sama mampu bersikap netral, memperlakukan kisahnya sebagai proses observasi. Kurzel, yang kembali menangani drama psikologis sebagaimana debutnya di Snowtown (2011), bersikap bagai peneliti yang mendalami sambil tetap menjaga jarak dari subjek. 

Melalui aktingnya, Caleb Landry Jones melahirkan subjek menarik. Kadang pemuda rapuh yang mencari kasih sayang, kadang figur yang menebar kejanggalan mengerikan dalam diam, kadang histerikal. Apakah ia iblis sebagaimana disebut orang-orang? Atau manusia biasa yang dinding batinnya retak akibat kekeliruan bersama? 

Kompleks, ambigu. Itulah mengapa Nitram sanggup mengikat penonton yang bersedia ditantang untuk menelusuri persoalan pelik. Satu-satunya hal pasti di film ini adalah mengenai regulasi senjata api yang diangkat memasuki paruh akhir. Walau keberadannya diperlukan karena termasuk isu paling vital, kegamblangan tersebut membuat third act-nya tak sekuat babak-babak sebelumnya.

(Klik Film)

ANNABELLE: CREATION (2017)

Prekuel Annabelle adalah salah satu horor terbaik 2017. Kalau tiga tahun lalu selepas film pertama yang begitu buruk rilis ada pernyataan demikian, pasti saya tertawa. Namun kenyataannya, Annabelle: Creation memang salah satu horor terbaik tahun ini. Memberi origin baru yang sesungguhnya merupakan retcon, karya dari David F. Sandberg (Lights Out) ini membawa kisahnya mundur menuju sekitar tahun 1950-an, ketika seorang pembuat boneka bernama Samuel Mullins (Anthony LaPaglia) dan istrinya, Esther Mullins (Miranda Otto) kehilangan sang puteri tunggal, Annabelle (Samara Lee), akibat kecelakaan. 

12 tahun berselang, Samuel dan Esther menjadikan rumah mereka sebagai panti asuhan teruntuk segelintir anak perempuan bimbingan Suster Charlotte (Stephanie Sigman). Kebahagiaan memperoleh rumah baru berukuran besar tidak bertahan lama, khususnya bagi Janice (Talitha Bateman) yang pada suatu malam tertarik memasuki sebuah kamar meski telah dilarang oleh Samuel. Rupanya kamar itu milik Annabelle dulu, dan tanpa Janice sadari, ia sudah membebaskan sesosok roh jahat dari kekangan. Roh yang siap menebar teror keji berkepanjangan. 
Tanda peningkatan kualitas dibanding installment pendahulunya langsung terpercik sejak opening sequence-nya. Sandberg memilih menyusun kesunyian, memperlihatkan proses Samuel menciptakan boneka Annabelle disusul bermain petak umpet bersama puterinya. Nihil musik atau efek suara, hanya kesepian pemantik antisipasi yang terasa mencekik. Nuansa sepi terus bertahan mencapai pertengahan durasi, namun bukan kekosongan melelahkan. Ada sedikit introduksi atas segala keanehan dalam rumah sampai deretan teror berskala kecil seperti sekelebat bayangan. Atmosfer terbangun kuat di mana Sandberg   dibantu pembagian sisi gelap dan terang ruangan oleh sinematografi Maxime Alexandre   memancing ketakutan alamiah kita bahwa ada sosok seram tengah mengintai dari balik kegelapan.

Tapi Sandberg sadar, atmosfer saja takkan cukup memuaskan penonton luas. Butuh parade jump scare. Mengikuti ilmu James Wan ditambah kreativitas sebagaimana dia pamerkan dalam Lights Out, jump scare olahan Sandberg berisi penampakan-penampakan lewat cara serta waktu yang kerap tak terduga. Para hantu bukan saja numpang lewat memamerkan tampang seram, tetapi "aktif" melakukan sesuatu, sebutlah mendorong kursi roda di siang bolong. Babak tengah film praktis bergerak di jalur formulaik berupa teror tanpa henti, namun eskalasi tempo setelah paruh awal yang menjalar pelan plus metode cukup kreatif sang sutradara, ampuh menjaga atensi. 
Turut menjaga film terjerumus pada kehampaan adalah jajaran pemeran. Naskah Gary Dauberman terbagi menjadi dua fokus. Separuh pertama jadi panggung Talitha Baterman menunjukkan akting meyakinkan terkait ekspresi ketakutan. Tatkala kamera kerap mengambil close-up, kita bagai melihat penampilan aktris yang berpengalaman di ranah horor. Lalu paruh kedua diisi Lulu Wilson sebagai sahabat Janice, Linda. Wilson bak mewakili niat Sandberg bersenang-senang menggarap filmnya. Baik celotehan singkat ("who cares, run!" is my favorite line) maupun respon lugu atas teror boneka Annabelle menghadirkan kesegaran humor secukupnya yang tak sampai mendistraksi parade horor. Tapi tingkah polos Linda justru masuk logika, sehinga selain jadi salah satu tokoh bocah paling likeable dalam horor belakangan ini, pula terpintar. 

Menyentuh third act, Sandberg tidak lagi menahan diri. Dilepaskan segala amunisi, dipacunya tempo secepat mungkin. Tidak sampai terburu-buru pula, sebab Sandberg masih menjembatani momen demi momen, menghasilkan antisipasi yang tak kalah menegangkan dibanding suguhan kengerian utama. Berlangsung panjang namun tidak berlebihan dan konsisten menjaga dinamika, klimaks Annabellee: Creation layak mendefinisikan "epic horror entertainment". Terkait eksistensinya dalam The Conjuring universe, sepanjang film ikut disematkan beberapa koneksi dengan judul-judul sebelumnya, termasuk credit scene (ada dua buah) yang merujuk pada spin-off berikutnya yang bakal rilis tahun depan.


Review Annabelle: Creation juga tersedia di: http://tz.ucweb.com/8_L7Lz