Tampilkan postingan dengan label Evan Sanders. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Evan Sanders. Tampilkan semua postingan
KELAM (2019)
Rasyidharry
Setidaknya Kelam adalah film yang jujul secara penjudulan. Kalau kualitasnya terus
begini, masa depan horor kita memang KELAM. Dan jika rutin mengikuti
perkembangan horor lokal, anda bisa menebak apa yang ditawarkan karya teranyar
Erwin Arnada (Rumah di Seribu Ombak, Guru
Ngaji, Tusuk Jelangkung di Lubang Buaya) ini. Ambil contoh departemen musik
dan tata suara. Dentingan piano bernada minor ala kadarnya mengiri momen
dramatik berisi obrolan memosankan, dentuman berisik di tiap jump scare, lalu ketika film berakhir
sayup-sayup terdengar teriakan penyesalan dari batin anda setelah membuang
waktu juga uang.
Kelam ibarat mayat hidup. Film yang dibuat tanpa semangat, tanpa
usaha menjadi lebih baik. Semua bermain sesuai pola. Sebuah pola buruk yang
didasari pemikiran “Sejelek ini aja bisa laku kan?”. Bahkan jajaran pemainnya,
termasuk Aura Kasih, tampak luar biasa bosan, seolah ingin sesegera mungkin
menyelesaikan proses produksi.
Aura Kasih memerankan Nina, yang
kembali pulang setelah delapan tahun, ketika sang ibu, Dewi (Rina Hassim),
terserang stroke ringan. Ada perselisihan masa lalu yang jadi penyebab retaknya
hubungan ibu dan anak itu, namun Nina menyembunyikannya, termasuk dari Fenny
(Amanda Manopo), adiknya. Datang bersama puteri kecilnya, Sasha (Giselle
Tambunan), Nina berharap bisa menyambung tali silaturahmi. Tapi rencana
tersebut buyar ketika Sasha mulai bertingkah aneh setelah mendadak pingsan di
suatu malam.
Salah satu keanehan Sasha adalah
saat Nina hendak menceritakan dongeng Puteri Salju, bocah itu menjawab, “Sudah
ada yang menceritakannya!”. Ingin saya bertanya pada Fajar Umbara (Mata Batin, Sabrina, Ikut Aku ke Neraka)
selaku penulis naskah. “Kenapa Sasha bicara begitu formal? Apa dia kerasukan
hantu Jaka Sembung? Atau arwah guru les Bahasa Indonesia?”. Kasihan hantu-hantu
di film horor medioker negeri ini yang terjebak stereotip, bahwa mereka selalu
bicara formal.
Semua elemen Kelam tampil malas. Salah satunya tata rias dan kostum yang
kualitas jongkoknya amat kentara sewaktu Nina mandi dalam kondisi masih memakai
bulu mata lentik serta alis mata tebal. Pun manusia mana di muka bumi ini yang
mandi sambil memakai semua cincinnya? Alurnya tidak kalah malas. Fokus Fajar
Umbara hanyalah menyembunyikan jawaban misteri—yang sudah bisa ditebak sejak
menit-menit awal—lewat beberapa elemen pencipta misleading nihil dampak yang dipaksakan hadir ketimbang membangun jalinan
misteri mumpuni.
Kemalasan-kemalasan di atas
berujung memproduksi kebodohan. Apa perlunya kemunculan Rico (Evan Sanders) si
mantan pacar Nina? Kalau untuk menegaskan bahwa membalas mereka yang berbuat
buruk padanya merupakan tujuan sang hantu, tidak bisakah memakai metode lain
daripada sebuah kebetulan ala sinetron? Nantinya twist film ini terungkap ketika protagonis menemukan surat yang
disembunyikan karakter lain. Sesulit apa melenyapkan surat? Dibakar, dibuang,
disobek, dimakan. Ada sejuta cara.
Ah, sudahlah. Membahas alur hanya akan melahirkan pertanyaan-pertanyaan tak berujung. Mari membicarakan
cara Erwin Arnada membangun teror. Dari total 75 menit, cuma satu adegan
berdurasi 2 detik yang mampu menyulut sedikit kengerian, yaitu ketika si hantu
bocah diam-diam melayang turun di samping Sasha. Dua detik dari total sekitar
4.500 detik penuh siksaan, sebelum ditutup oleh klimaks buru-buru yang berakhir
secepat kita buang angin dan konklusi menggelikan, saat Aura Kasih menatap
kosong ke arah kamera. Matanya bagai berteriak, “SEMOGA INI CEPAT BERAKHIR”. I feel you, sis.
Oktober 26, 2019
Amanda Manopo
,
Aura Kasih
,
Erwin Arnada
,
Evan Sanders
,
Fajar Umbara
,
Giselle Tambunan
,
horror
,
Indonesian Film
,
REVIEW
,
Rina Hassim
,
Sangat Jelek
RUQYAH: THE EXORCISM (2017)
Rasyidharry
Pengabdi Setan telah mengeset standar baru bagi horor tanah air sebagaimana The Raid dan sekuelnya pada genre aksi beberapa tahun lalu. Namun Ruqyah: The Exorcism akan tetap buruk bahkan apabila eksis dalam dunia di mana Pengabdi Setan tidak pernah dibuat sekalipun. Benar bahwa tingkat efektivitas horor untuk tiap penonton berlainan, tapi sewaktu seisi bioskop kompak tertawa sepanjang durasi, bisa dipastikan ada yang salah pada filmnya. Setidaknya itu pengalaman saya, ketika bersama puluhan penonton lain, selalu geli mendapati ekspresi Evan Sanders atau kemasan clumsy saat Celine Evangelista kesurupan lalu memanjat tembok layaknya peserta lomba panjang pinang.
Merupakan film kedua dari total tiga horor karya Jose Purnomo tahun ini (Jailangkung dan Gasing Tengkorak), Ruqyah: The Exorcism konon diangkat dari peristiwa nyata tahun 2012. Namun alangkah sulit mempercayai kebenaran pernyataan tersebut. Bukan terkait unsur gaib, melainkan karakter. Perkenalkan Mahisa (Evan Sanders), wartawan entah dari media mana, yang mendadak merangsek ke tengah hutan melacak suara-suara misterius. Pastinya pekerjaan itu menguntungkan melihat rumah mewah bertingkat dan mobil miliknya. Sampai suatu malam Mahisa bertemu Asha (Celine Evangelista), aktris ternama yang mengeluhkan gangguan makhluk halus, lalu bersedia bercerita ke Mahisa yang baru dikenal hanya karena si wartawan bersedia mengembalikan dompet dan handphone-nya.
Penelusuran Mahisa mendapat kesimpulan bahwa Asha ditanami jin supaya karir juga kekayaannya melesat. Saya sendiri curiga ada ilmu lain yang Asha kuasai, yakni make-up permanen. Bagaimana tidak? Seiring berjalannya waktu, daya tahan riasan wajahnya meningkat. Diawali bulu mata lentik dan bedak tebal yang setia terpasang sewaktu tidur, hingga puncaknya, basuhan air wudu pun tak mampu menghapus semua itu. Sulit mencari perbedaan tata rias Ruqyah: The Exorcism selaku film layar lebar dengan sinetron penghias layar televisi.
Saya yang dulu bakal menyebut naskah buatan Jose Purnomo dan Baskoro Adi Wuryanto (Jailangkung, Sawadikap, Ghost Diary) sebagai bentuk kebodohan. Namun sepertinya "bodoh" terlampau kejam, jadi mari memakai istilah "ajaib". Rentetan kalimat dari mulut tokoh-tokohnya ajaib, tindakan mereka pun ajaib, seperti keputusan Mahisa membawa Asha yang kesurupan ke rumah kosong bak seorang penculik ketimbang langsung ke pondok milik kiai. Patut disyukuri, sebabnya, kita berkesempatan melihat Evan Sanders meruqyah, membaca surat Al Qur'an seperti remaja tengah merengek. Tidak kalah ajaib ekspresi ketakutan Evan yang sukses memecah gelak tawa penonton.
Keajaiban lain terletak di cara menangani unsur religi. Ruqyah: The Exorcism memang tak menggurui, tapi lebih dipicu sisi agama yang sebatas tempelan, terlampau disederhanakan. Fungsinya sederhana. Sebagai jalan resolusi mudah di mana ruqyah berujung menyelesaikan masalah, sekaligus memberi Evan Sanders bantuan saat mati gaya. Alhasil dia tidak perlu repot-repot, cukup memasang ekspresi takut seadanya sembari membaca istighfar. Bicara soal keajaiban, toh tidak ada yang menandingi penyertaan tanggal tanpa maksud yang sama sekali tak membantu orientasi waktu, pula baris kalimat penyejuk kalbu nan penuh makna selaku penutup.
Urusan menakut-nakuti, Jose Purnomo jelas bukan sutradara kemarin sore. Mayoritas teror memang terjebak dalam keklisean jump scare berbumbu dentuman efek suara berlebihan, pun diperparah oleh adegan kesurupan yang cenderung canggung daripada creepy, tapi tersimpan secercah potensi. Ada sedikit kengerian ketika Jose bermain-main dengan flashy moment bernuansa sureal di klimaks. Sayang, potensi tersebut tenggelam dalam sederet keajaiban yang sanggup menyulap Ruqyah: The Exorcism dari horor menjadi salah satu tontonan terlucu tahun ini.
Oktober 06, 2017
Baskoro Adi Wuryanto
,
Celine Evangelista
,
Evan Sanders
,
horror
,
Indonesian Film
,
Jelek
,
Jose Purnomo
,
REVIEW
Langganan:
Postingan
(
Atom
)





