Tampilkan postingan dengan label Evelyn Afnila. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Evelyn Afnila. Tampilkan semua postingan

REVIEW - MARRIAGE

Reviu ini mengandung SPOILER

Klik Film kembali merilis beberapa film Indonesia dalam satu hari. Selain Marriage, ada Pesan di Balik Awan dan Balada Sepasang Kekasih Gila. Film yang disebut terakhir hanya kuat saya tonton selama 40 menit, sebelum akhirnya sadar kalau saya bisa lebih gila daripada karakternya andai nekat meneruskan. Sedangkan Marriage, meski belum pantas disebut "solid", setidaknya masih punya sedikit kelebihan. Sekali lagi, "sedikit". 

Pernikahan Mirza dan Vika (diperankan pasutri asli, Ge Pamungkas dan Anastasia Herzigova) terancam kandas. Keduanya selalu bertengkar, menyatakan bahwa selama lima tahun bersama, tak ada satu pun momen bahagia. Bagi Vika, Mirza sangat kekanak-kanakan. Sebaliknya, Mirza tak tahan lagi dengan buruknya regulasi emosi sang istri. Mereka sepakat pisah rumah sembari mengurus proses perceraian. 

Mirza yang kembali ke rumah ibunya (Ira Wibowo), bertemu lagi dengan Dara (Lania Fira), mantan kekasihnya. Cinta lama mulai bersemi kembali. Di sisi lain, Vika bertemu Rio (Axel Matthew Thomas), yang baginya jauh lebih perhatian ketimbang si suami. Tidak sulit menebak bakal dibawa ke mana permasalahan tersebut. 

Tapi di film seperti Marriage, hal terpenting bukanlah destinasi, melainkan proses. Proses agar penonton percaya jika Mirza dan Vika pernah, bahkan masih saling mencintai, kemudian mendukung keduanya supaya rujuk. Di situ asal mula kegagalan naskah buatan Evelyn Afnilla (Keluarga Tak Kasat Mata, Surat dari Kematian, Janin). 

Sebagai individu, saya sulit mendefinisikan kelebihan masing-masing. Mirza adalah psikiater ngawur, yang diam-diam memberi antidepresan pada istrinya, lalu asal melempar diagnosis dengan menyebut kalau Vika bisa saja mengidap bipolar. Vika sendiri bersikap egois dengan mengirim surat cerai ke rumah ibu Mirza, walaupun tahu jantung mertuanya lemah. Secara individual, protagonisnya kekurangan kualitas untuk diberi simpati.

Bagaimana sebagai pasangan? Sejak menit-menit awal, keduanya sudah bersitegang. Seiring bergulirnya durasi, Marriage tak kunjung berhasil meyakinkan, bahwa ada romantisme indah di antara mereka. Sesekali kita sejenak melihat ada tawa, tapi pasangan mana yang tak pernah tertawa? Presentasinya terlalu dangkal, terlalu general untuk bisa menggambarkan betapa spesial hubungan tokoh utamanya.

"Aku kangen kamu yang dulu...kangen kita", begitu ucap Vika. Tapi seperti apa "Mirza yang dulu"? Entahlah. Pasangan ini terlalu asing. Padahal, Ge dan Anastasia tampil cukup menghibur kala bersama. Terutama Anastasia lewat lemparan komentar-komentar menggelitik bernada sarkas. Walau di momen dramatik, biarpun tidak bisa sepenuhnya disebut "buruk", kedua pemain terjebak dalam gaya klise berupa parade teriakan guna meluapkan segala emosi negatif.

Terkait elemen drama, momen terbaik Marriage jatuh pada adegan kala Mirza dan Vika duduk berdua, meneteskan air mata tanpa meraung-raung, sambil membicarakan soal perceraian yang makin dekat. Dikemas oleh penyutradaraan sensitif Danial Rifki (La Tahza, Haji Backpacker, 99 Nama Cinta), rasa sakit terpancar di sana, kala menyadari rumah tangga ini bakal segera berakhir. Mungkin juga ada penyesalan dan keinginan menata ulang, yang urung terucap karena merasa sudah terlambat. 

Sebenarnya ada potensi mengangkat perspektif unik, mengenai cekcok yang justru jadi perekat. Wajar, sebab suatu pertengkaran yang telah lama berlalu, kerap memancing romantisme yang kelak bakal dirindukan. Tapi sekali lagi, naskahnya tak melakukan eksplorasi memadai. Durasi pendek (79 menit) menekan potensi filmnya terasa membosankan, tapi juga mengurangi kesempatan mengulik temanya secara lebih jauh. Babak ketiga menjadi titik nadir naskah, termasuk konklusi yang buru-buru. Tapi kelemahan paling fatal adalah penggambaran karakter Mirza. 

(SPOILER STARTS) Akhirnya Mirza memilih rujuk, namun terkesan, ia melakukan itu bukan karena sungguh-sungguh mencintai Vika sehingga menyadari kekeliruannya, melainkan didorong kekecewaan, sebab Dara tidak seperti yang ia bayangkan. Seumpama Dara "lebih baik", apakah keputusan Mirza tetap sama? Marriage gagal membuat saya percaya bahwa itu akan terjadi. (SPOILER ENDS)


Available on KLIK FILM

SURAT DARI KEMATIAN (2020)

Surat Dari Kematian, selaku adaptasi cerita Wattpad berjudul sama buatan Adham T. Fusama, punya modal kuat terkait penelusurannya terhadap legenda urban yang menggabungkan persepsi mistis dan logis. Memang menarik menelisik guna mempelajari asal usul legenda urban. Pernah berkuliah di Universitas Gadjah Mada selama lebih dari tujuh tahun, saya tahu betul bahwa kampus-kerakyatan-yang-tidak-lagi-merakyat tersebut menyimpan banyak kisah mengerikan. Sayang, filmnya gagal memaksimalkan potensi dan hanya menambah panjang daftar horor lokal berkualitas rendah yang seolah enggan berhenti mengotori industri.

Ceritanya dibuka saat Pasha (Omara Esteghlal) mendapat surat ancaman kematian yang mengharuskannya bernyanyi sambil telanjang bulat (definisi “telanjat bulat” film ini rupanya berbeda dari pemahaman umum) di depan Gama Plaza kalau ingin tetap hidup. Penonton yang familiar dengan lingkungan UGM tentu tahu adegan itu tidak diambil di depan Gama Plaza, tapi biarlah. Ada masalah lebih fatal seputar naskah buatan Evelyn Afnila (Keluarga Tak Kasat Mata, Roh Fasik) yang punya struktur penceritaan kacau juga kecacatan logika.

Misalnya di beberapa menit awal yang terkesan disusun acak, asal melompat dari satu peristiwa ke peristiwa lain yang tak berkaitan tanpa transisi memadai. Atau di pertengahan durasi, ketika salah satu karakternya mendapat kabar penemuan sebuah mayat. Dia ditelepon di malam hari, mengunjungi TKP pada siang hari, namun anehnya, warga sekitar masih heboh dan baru saja mengangkat mayat tersebut.

Tokoh utamanya adalah Zein (Endy Arfian) dan Kinan (Carissa Perusset), dua mahasiswa UGM yang menyalurkan hobi jurnalistik mereka dengan membuat konten YouTube tentang legenda urban di sekitar kampus. Oh, saya lupa menyebut bahwa kepanjangan UGM di sini bukan “Universitas Gadjah Mada”, melainkan “Universitas Garuda Mandala”. Cukup kreatif, sebab filmnya tetap bisa memakai kata “UGM” atau “Gama”, tanpa menyalahi urusan legalitas.

Setelah gagal mengungkap misteri Jembatan Perawan, Zein dan Kinan tertarik menyelidiki kasus surat kematian yang diterima Pasha. Apalagi setelah Reno (Eric Febrian dalam akting kaku yang luar biasa mengganggu), teman Pasha—yang menggilai Britpop sampai memasang poster-poster Oasis, Stone Roses, Radiohead, The Cure, Arctic Monkeys, sampai The Killers yang sebenarnya tidak sinkron karena merupakan band Amerika—menghilang dari kamar. Dua protagonist kita yakin bahwa: 1) surat kematian itu berhubungan dengan kematian Darius (Jerome Kurnia) yang gantung diri di Gama Plaza; dan 2) Joe (Justin Adiwinata), kawan Pasha dan Reno merupakan korban berikutnya.

Mayoritas durasi diisi perdebatan Zein, yang menggandrungi hal-hal mistis, dan Kinan yang cenderung skeptis. Sewaktu Endy Arfian tampil dengan logat Jawa khas FTV, Carissa Perusset sejatinya tidak buruk, tapi dia belum punya kapasitas guna menyelamatkan penokohan buruk Kinan si jurnalis bodoh (ditinjau dari banyak sisi) yang muncul dengan rencana bodoh untuk mengungkap identitas pengirim surat kematian. Kinan is a clueless journalist and Carissa herself looks clueless on handling that.

Mestinya adu argumen kedua tokoh utama dapat melahirkan investigas menarik melalui benturan sisi logis dengan mistis, tapi yang tersaji hanya deretan debat kusir minim bobot yang gagal memancing pemikiran dan pemahaman lebih lanjut terhadap kedua sudut pandang. Surat Dari Kematian terlampau banyak menghabiskan waktu memperlihatkan Zein dan Kinan beradu mulut ketimbang mengeksplorasi dereta legenda urbannya, yang sekadar muncul sekilas di adegan pembuka.  

Elemen mistisnya menyimpan beberapa jump scare yang kebanyakan dieksekusi oleh sutradara Hestu Saputra (Perfect Dream, Lorong) memakai trik murahan, seperti wajah hantu yang mendadak memenuhi seisi layar dibarengi musik berisik garapan Krisna Purna (Siti, Talak 3, Abracadabra) dan Cahya Kalatidha. Ada satu momen menjanjikan, tatkala sesosok hantu mirip Gollum menampakkan diri, dalam teror yang awalnya mampu memunculkan atmosfer mencekam, tapi berubah jadi menggelikan begitu si hantu mulai menyerang. Tawa seisi bioskop pecah ketika itu terjadi.

Menjanjikan. Potensial. Surat Dari Kematian memang akrab dengan kata-kata itu. Sama halnya seperti kehadiran guru spiritual Zein, Pak Wibowo (Landung Simatupang), yang sempat memamerkan ilmu melipat jalan (lebih dikenal sebagai “melibat Bumi”). Andai hal-hal semacam itu lebih sering dimunculkan agar memperkaya elemen mistisnya. Tapi akhirnya keterlibatan Pak Wibowo justru menyulut kejanggalan-kejanggalan lain. Apa hasil dari ritualnya di Gama Plaza? Sebelum kita tahu, filmnya langsung melompat ke entah berapa hari setelahnya, membuktikan satu lagi kekacauan penceritaan Surat Dari Kematian.

Setelah klimaks kental aksi canggung dan kelalaian filmnya bahwa ada proses autopsi yang bisa menjelaskan penyebab kematian, datanglah twist yang coba menjembatani perspektif logis dan mistis. Sayang, akibat gagalnya presentasi mengenai kedua sisi, dampak kejutan itu tidak sekuat harapan. Dan jika ingin memunculkan respon “Keren! Nggak ketebak! Mengejutkan!” dari penonton awam, penjelasannya yang berantakan berujung menghalangi tercapainya tujuan itu.

KELUARGA TAK KASAT MATA (2017)

Keluarga Tak Kasat Mata adalah film jelek. Sangat jelek. Dan sesuai tradisi, film berkualitas jauh di bawah rata-rata akan mendapat review spesial. Tapi 2 hari berselang, saya buntu. Ketika ulasan Coco dan Murder on the Orient Express yang ditonton belakangan sudah dipublikasikan, ide belum juga mengalir bagi Keluarga Tak Kasat Mata. Saking bingungnya, sempat terpikir menerbitkan satu halaman nyaris kosong bertuliskan "Ini adalah review tak kasat mata", namun urung saya lakukan. Karena itu sama saja dengan pembuat filmnya, yang kehabisan akal lalu memilih jalur luar biasa malas sekaligus bodoh.

Setahun lalu, ketika horor tanah air cenderung jalan di tempat, kelemahan akut Keluarga Tak Kasat Mata mungkin bisa sedikit (catat: SEDIKIT) dimaafkan. Paling tidak ini bukan tontonan antah berantah macam Dia Pasti Datang atau Video Maut yang memperlihatkan keburukan tidak mempunyai batas. Terima kasih Joko Anwar, Pengabdi Setan memasang standar baru. Kini, production value lumayan (catat: LUMAYAN) saja tak cukup memberi rasa maklum. Apalagi dalam film seperti Keluarga Tak Kasat Mata yang layaknya "kaum sumbu pendek" Indonesia, mudah curiga dan insecure. Pulpen jatuh musik berdentum, sebaris dialog selesai musik berdentum, hantu muncul sekelebat pun musik berdentum. 
Apa yang terjadi saat para makhluk halus sungguh-sungguh menampakkan wujud? Menurut sutradara Hedy Suryawan (Rock N Love), jawabannya adalah close-up ekstrim, dan tentu saja musik berdentum. Bagai Benedict Cumberbatch yang doyan mengganggu sesi foto karpet merah, hantu film ini suka melakukan photo bomb, tiba-tiba muncul memenuhi seisi layar bioskop, yang daripada menakutkan justru memancing tawa. Lucu, jauh lebih lucu ketimbang karakter Bebek (Kemal Palevi) yang memanfaatkan tiap kemunculan untuk merengek, bertingkah menyebalkan, berusaha tampil konyol meski sama sekali tidak lucu.

Soal membangun intensitas filmnya juga punya metode murahan. Ketegangan berbasis kekacauan situasi disamakan dengan editing lompat-lompat, kala secara ajaib, tokohnya bisa mendadak berpindah tempat. Entah di antaranya ada transisi tak kasat mata atau pembuat filmnya menganggap Genta (Deva Mahenra) dan kawan-kawan sebagai David Copperfield yang tengah melakukan sulap pindah tempat dalam sekejap dibantu trik kamera. Deva sendiri kesulitan menangani peran protagonis horor yang dituntut senantiasa takut dan curiga, akibat kosongnya pengekspresian rasa. 
Cerita Keluarga Tak Kasat Mata buatan Bonaventura D Genta yang populer di Kaskus pada dasarnya merupakan rangkaian pengalaman melihat hantu atau mendengar suara aneh, yang mengerikan karena membiarkan imajinasi serta asumsi pembaca berkeliaran. Mengangkatnya mentah-mentah ke layar lebar, seperti tangisan wanita yang rutin terdengar tiap beberapa menit, menghasilkan ketiadaan eksistensi alur pun daya cekam. Walau tidak sampai satu setengah jam, karena sekedar diisi penampakan satu ke berikutnya, Keluarga Tak Kasat Mata seolah berjalan sehari penuh. Bisa dipahami jika anda merasa sedang terjebak di kutukan lingkaran waktu tanpa ujung serupa Jessica Rothe di Happy Death Day.

Ada usaha merajut alur, namun naskah buatan trio Lele Laila, Evelyn Afnila, dan Bonaventura D Genta mengandung setumpuk poin yang pantas dipertanyakan, dari esensi tulisan penanda waktu serta lokasi yang hanya tampak di awal, hingga resolusi seputar para keluarga tak kasat mata di kantor Genta. Penonton bukan Genta dan Rudi (Gandindra Bimo) yang mampu memahami masalah makhluk halus hanya lewat pertanda ambigu dalam mimpi. Penonton butuh elaborasi. Tak perlu gamblang, cukup pemaparan berbentuk struktur cerita rapi alih-alih plot tak kasat mata dalam film berkualitas tak kasat mata pula.