Tampilkan postingan dengan label Endy Arfian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Endy Arfian. Tampilkan semua postingan

REVIEW - PENGABDI SETAN 2: COMMUNION

First, let me address the elephant in the room: 'Pengabdi Setan 2: Communion' is not as good as the first movie. Tapi rasanya Joko Anwar menyadari itu. Sadar bahwa ada harga yang mesti dibayar dalam upaya melahirkan crowd-pleaser horror, sekaligus sekuel yang (sebagaimana wajarnya sebuah sekuel) tampil lebih besar dibanding pendahulunya. 

Joko membuka kisahnya dengan flashback ke tahun 1955, mengikuti penemuan mencengangkan Budiman (Egy Fedli), yang langsung menegaskan bahwa peristiwa film pertama hanya puncak gunung es dari intrik yang lebih besar. Jauh lebih besar, juga lebih jahat. Pengabdi Setan 2: Communion membawa aroma kejahatan yang teramat pekat, sampai dunianya terasa tak lagi mampu mendefinisikan "harapan". 

Lalu kita dibawa kembali ke tahun 1984, melihat bagaimana Rini (Tara Basro), bersama kedua adiknya, Toni (Endy Arfian) dan Bondi (Nasar Anuz), serta si bapak, Bahri (Bront Palarae), berusaha lepas dari trauma akibat tragedi tiga tahun lalu. Mereka kini tinggal di rumah susun kumuh (bukan rumah susun di akhir film pertama) di area pinggir laut yang terpisah dari pemukiman penduduk. Rusun yang memutar Rayuan Pulau Kelapa tiap malam menjelang (semasa kecil, saya menganggap lagu ini adalah pertanda para hantu siap beraktivitas)

Kita turut diajak berkenalan dengan beberapa tetangga: Tari (Ratu Felisha sebagai penampil terbaik) yang kerap jadi korban gosip akibat selalu bekerja di malam hari; Dino (Jourdy Pranata) si pemuda begajulan yang sering menggoda Tari; Wisnu (Muzakki Ramdhan) yang tinggal berdua bersama ibunya yang bisu (Mian Tiara); serta Ari (Fatih Unru), teman Bondi yang punya ayah abusive. 

Buruknya kondisi rusun bukan cuma kepentingan estetika atau amunisi membangun atmosfer, pula cara Joko menyentil isu seputar kesejahteraan rakyat. Rusun kumuh pinggir laut, dibangun di atas kondisi tanah jauh dari ideal, sehingga terendam banjir ketika diterjang badai. Ditambah kabar mengenai aksi para petrus, lengkap sudah kengerian dalam hidup orang-orang. 

Hidup di Indonesia, apalagi bila terjerat kemiskinan, nyatanya tidak kalah mengerikan dan mematikan ketimbang menghadapi setan. Terdapat satu sekuen yang bakal terus dibicarakan di masa mendatang berkat kombinasi antara kebrutalan tanpa pandang bulu, dengan kepiawaian Joko terkait build-up menuju "menu utama". Bagi saya, momen yang juga bertindak selaku pemicu segala teror di rusun itulah titik paling menyeramkan di film ini. Karena tanpa campur tangan supernatural sekalipun, tragedi tersebut masih dapat terjadi akibat ketidakbecusan pemerintah menyediakan hunian layak. Sungguh momen yang "jahat". 

Setelahnya, Pengabdi Setan 2: Communion menolak berhenti menginjak pedal gas. Bayangkan The Raid, tapi walau sama-sama berlatar gedung bertingkat, adegan aksi digantikan oleh jump scare. Joko memilih mengesampingkan eksplorasi semestanya, mengisi second act dengan barisan penampakan tanpa henti. 

Memang agak disayangkan, pasca opening luar biasa kuat, ditambah beberapa kreativitas naskah mengaitkan mitologinya dengan elemen-elemen dunia nyata (petrus, Konferensi Asia-Afrika), ceritanya bak cuma jembatan menuju klimaks di film ketiga. Tapi seperti telah saya singgung di awal tulisan, rasanya ini adalah pilihan yang disadari, lalu diambil atas nama memperbesar sekuelnya, minimal dari sudut pandang spektakel. 

Joko mengerahkan segala daya upaya, tata artistik mendukung terciptanya nuansa atmosferik, pun fakta bahwa filmnya tetap nyaman dilihat biarpun didominasi kegelapan wajib diberi pujian, namun kesan repetitif sukar dihindari tatkala kuantitas jump scare digandakan. Bukan berarti digarap asal-asalan, sebab beberapa teror cerdik masih dapat ditemui. Adegan Tari salat menerapkan trik sederhana tetapi efektif, daya kejut kreatif mampu dimunculkan dalam pemandangan yang melibatkan Dino dan sehelai kain, sementara Joko menampilkan pemandangan disturbing dalam momen "ibu hamil" yang jadi kekhasan sang sineas.

Bukan film Joko Anwar namanya kalau tak menemukan celah untuk melucu di tengah segala teror brutal. Serupa tugasnya di dua film Ghost Writer, Iqbal Sulaiman kembali sukses memancing tawa (karakternya bernama Darto, sama seperti karakter Endy Arfian di Ghost Writer). Joko juga membawa sentilannya terhadap figur pemuka agama secara lebih jauh. Ustaz Mahmud (Kiki Narendra) adalah sosok yang kerap memancing rasa geli melalui ketenangan berlebihnya (kalau tak mau disebut "naif"). Bagai orang yang selalu berkata, "Tenang, semua ada jalan keluarnya", tapi tidak sanggup menemukan jalan keluar saat benar-benar menemui masalah.

Ya, Pengabdi Setan 2: Communion merupakan penurunan. Rewatch value-nya pun berkurang karena pengesampingan cerita membuatnya takkan menyulut diskusi dan keliaran berteori sebanyak film pertama (walau petunjuk terkait identitas Batara (Fachri Albar) dan Darminah (Asmara Abigail) bisa memancing beberapa obrolan menarik). Tapi ini tetap crowd-pleaser yang ampuh, sekaligus horor Indonesia terbaik 2022 sejauh ini. Standar yang dipasang pendahulunya memang luar biasa tinggi. 

REVIEW - GHOST WRITER 2

Saya sangat menyukai Ghost Writer (2019) yang menandai debut Bene Dion duduk di kursi sutradara. Ghost Writer 2 pun semestinya jadi debut Muhadkly Acho, sebelum perilisannya ditunda karena pandemi. Pada 2022, keduanya unjuk gigi lewat drama komedi bertema keluarga. Bene di Ngeri-Ngeri Sedap, Acho di Gara-Gara Warisan. Sama-sama memukau, seolah memperlihatkan hasil latihan dari pengalaman perdana mereka. 

Ghost Writer memang efektif sebagai ajang mengasah diri para sineas berlatar komika. Keabsurdan premis membebaskan eksplorasi humor, sementara konsep yang membahas perihal kematian pun memudahkan adanya selipan drama. Ghost Writer 2 membuktikan itu.

Naya (Tatjana Saphira) meraih kesuksesan berkat novel horornya, tapi ia mulai risih karena dicap sebagai dukun alih-alih penulis berbakat. Dia pun berniat mengubah citra itu, tapi di tengah usahanya melahirkan karya berbobot, kabar duka justru datang. Tunangannya, Vino (Deva Mahenra), meninggal akibat kecelakaan di lokasi syuting. 

Tentu saja Vino kembali sebagai hantu, tapi Naya tidak seketika dapat melihatnya. Sang adik, Darto (Endy Arfian), adalah yang pertama menyadari kemunculan Vino. Penyebabnya, Darto sedang menyentuh Naya, yang merupakan "benda berharga" bagi Vino. Naya sendiri baru bisa melihat sosok tunangannya selepas memegang kalung pemberian ibu Vino (Widyawati). 

Sebenarnya aspek ini agak mengganggu. Jika Naya memberi kemampuan orang lain untuk melihat Vino, kenapa ia sendiri, selaku "benda berharga", tak mampu melakukannya? Ada juga beberapa poin lain terkait unsur mistis yang menciptakan plot hole, tapi sebaiknya kita menerapkan suspension of disbelief agar dapat menikmati filmnya. Apalagi naskah buatan Acho dan Nonny Boenawan menawarkan penebusan dosa, dengan mengaitkan persoalan "benda berharga" tadi dengan elemen dramatik di penghujung durasi. 

Satu yang tanpa cela adalah humornya. Ghost Writer 2 merupakan film Indonesia terlucu 2022, setidaknya sampai tulisan ini dibuat. Kreatif, liar, tidak menahan diri, dan serupa film pertama, berhasil mengubah ragam situasi yang seharusnya mengerikan jadi memancing tawa. Duet Endy Arfian dan Iqbal Sulaiman paling bersinar dalam hal ini. Ketakutan mereka adalah kebahagiaan penonton. 

Sebagai sekuel, merupakan kewajaran kala Ghost Writer 2 memperluas skala, dan penceritaannya memang cukup ambisius dalam menyatukan genre. Di samping komedi romantis beraroma horor, ada pula drama keluarga yang melibatkan ibu Vino, pertanyaan soal kelayakan karya seni pop, juga latar belakang Siti (Annisa Hertami) si hantu wanita, yang menggiring alurnya merambah isu perdagangan manusia. 

Tidak semua transisi berlangsung mulus. Walau saya menyukai pilihan kesimpulannya, perjalanan Naya mempertanyakan bobot tulisannya (yang sebenarnya sejalan dengan proses sang protagonis menerima jati dirinya) jelas kekurangan porsi eksplorasi. Demikian pula drama keluarganya, tapi di sinilah kualitas akting serta sensitivitas para pembuatnya tampil sebagai penolong. 

Pilihan last shot-nya menarik. Menampilkan salah satu karakter menatap ke arah kamera, rasanya seperti tengah menonton tribute bagi figur dunia nyata yang telah pergi, di mana ia berpamitan pada orang-orang tercinta (saya bisa membayangkan, kalau di biopic, momen itu bakal disusul teks yang merangkum kehidupan si tokoh). Menyentuh. 

Di departemen akting, bahkan sedari momen kematian Vino hati saya sudah diiris oleh luapan emosi Tatjana dan Widyawati. Lalu di klimaks, melalui adegan yang seperti jadi momentum Acho melatih kemampuan mengarahkan long take, Widyawati menunjukkan alasannya pantas disebut "legenda". Karena di film seringan ini pun, ia sama sekali tak mengurangi olahan rasanya. Bahasa tubuhnya menyampaikan duka, tapi juga penolakan. Entah yang berasal dari fakta bahwa Vino telah tiada, maupun bentrokan perasaan kala hati kecilnya menyadari sudah bersikap keliru pada si putera tunggal. One of the best performances I've seen this year.

SURAT DARI KEMATIAN (2020)

Surat Dari Kematian, selaku adaptasi cerita Wattpad berjudul sama buatan Adham T. Fusama, punya modal kuat terkait penelusurannya terhadap legenda urban yang menggabungkan persepsi mistis dan logis. Memang menarik menelisik guna mempelajari asal usul legenda urban. Pernah berkuliah di Universitas Gadjah Mada selama lebih dari tujuh tahun, saya tahu betul bahwa kampus-kerakyatan-yang-tidak-lagi-merakyat tersebut menyimpan banyak kisah mengerikan. Sayang, filmnya gagal memaksimalkan potensi dan hanya menambah panjang daftar horor lokal berkualitas rendah yang seolah enggan berhenti mengotori industri.

Ceritanya dibuka saat Pasha (Omara Esteghlal) mendapat surat ancaman kematian yang mengharuskannya bernyanyi sambil telanjang bulat (definisi “telanjat bulat” film ini rupanya berbeda dari pemahaman umum) di depan Gama Plaza kalau ingin tetap hidup. Penonton yang familiar dengan lingkungan UGM tentu tahu adegan itu tidak diambil di depan Gama Plaza, tapi biarlah. Ada masalah lebih fatal seputar naskah buatan Evelyn Afnila (Keluarga Tak Kasat Mata, Roh Fasik) yang punya struktur penceritaan kacau juga kecacatan logika.

Misalnya di beberapa menit awal yang terkesan disusun acak, asal melompat dari satu peristiwa ke peristiwa lain yang tak berkaitan tanpa transisi memadai. Atau di pertengahan durasi, ketika salah satu karakternya mendapat kabar penemuan sebuah mayat. Dia ditelepon di malam hari, mengunjungi TKP pada siang hari, namun anehnya, warga sekitar masih heboh dan baru saja mengangkat mayat tersebut.

Tokoh utamanya adalah Zein (Endy Arfian) dan Kinan (Carissa Perusset), dua mahasiswa UGM yang menyalurkan hobi jurnalistik mereka dengan membuat konten YouTube tentang legenda urban di sekitar kampus. Oh, saya lupa menyebut bahwa kepanjangan UGM di sini bukan “Universitas Gadjah Mada”, melainkan “Universitas Garuda Mandala”. Cukup kreatif, sebab filmnya tetap bisa memakai kata “UGM” atau “Gama”, tanpa menyalahi urusan legalitas.

Setelah gagal mengungkap misteri Jembatan Perawan, Zein dan Kinan tertarik menyelidiki kasus surat kematian yang diterima Pasha. Apalagi setelah Reno (Eric Febrian dalam akting kaku yang luar biasa mengganggu), teman Pasha—yang menggilai Britpop sampai memasang poster-poster Oasis, Stone Roses, Radiohead, The Cure, Arctic Monkeys, sampai The Killers yang sebenarnya tidak sinkron karena merupakan band Amerika—menghilang dari kamar. Dua protagonist kita yakin bahwa: 1) surat kematian itu berhubungan dengan kematian Darius (Jerome Kurnia) yang gantung diri di Gama Plaza; dan 2) Joe (Justin Adiwinata), kawan Pasha dan Reno merupakan korban berikutnya.

Mayoritas durasi diisi perdebatan Zein, yang menggandrungi hal-hal mistis, dan Kinan yang cenderung skeptis. Sewaktu Endy Arfian tampil dengan logat Jawa khas FTV, Carissa Perusset sejatinya tidak buruk, tapi dia belum punya kapasitas guna menyelamatkan penokohan buruk Kinan si jurnalis bodoh (ditinjau dari banyak sisi) yang muncul dengan rencana bodoh untuk mengungkap identitas pengirim surat kematian. Kinan is a clueless journalist and Carissa herself looks clueless on handling that.

Mestinya adu argumen kedua tokoh utama dapat melahirkan investigas menarik melalui benturan sisi logis dengan mistis, tapi yang tersaji hanya deretan debat kusir minim bobot yang gagal memancing pemikiran dan pemahaman lebih lanjut terhadap kedua sudut pandang. Surat Dari Kematian terlampau banyak menghabiskan waktu memperlihatkan Zein dan Kinan beradu mulut ketimbang mengeksplorasi dereta legenda urbannya, yang sekadar muncul sekilas di adegan pembuka.  

Elemen mistisnya menyimpan beberapa jump scare yang kebanyakan dieksekusi oleh sutradara Hestu Saputra (Perfect Dream, Lorong) memakai trik murahan, seperti wajah hantu yang mendadak memenuhi seisi layar dibarengi musik berisik garapan Krisna Purna (Siti, Talak 3, Abracadabra) dan Cahya Kalatidha. Ada satu momen menjanjikan, tatkala sesosok hantu mirip Gollum menampakkan diri, dalam teror yang awalnya mampu memunculkan atmosfer mencekam, tapi berubah jadi menggelikan begitu si hantu mulai menyerang. Tawa seisi bioskop pecah ketika itu terjadi.

Menjanjikan. Potensial. Surat Dari Kematian memang akrab dengan kata-kata itu. Sama halnya seperti kehadiran guru spiritual Zein, Pak Wibowo (Landung Simatupang), yang sempat memamerkan ilmu melipat jalan (lebih dikenal sebagai “melibat Bumi”). Andai hal-hal semacam itu lebih sering dimunculkan agar memperkaya elemen mistisnya. Tapi akhirnya keterlibatan Pak Wibowo justru menyulut kejanggalan-kejanggalan lain. Apa hasil dari ritualnya di Gama Plaza? Sebelum kita tahu, filmnya langsung melompat ke entah berapa hari setelahnya, membuktikan satu lagi kekacauan penceritaan Surat Dari Kematian.

Setelah klimaks kental aksi canggung dan kelalaian filmnya bahwa ada proses autopsi yang bisa menjelaskan penyebab kematian, datanglah twist yang coba menjembatani perspektif logis dan mistis. Sayang, akibat gagalnya presentasi mengenai kedua sisi, dampak kejutan itu tidak sekuat harapan. Dan jika ingin memunculkan respon “Keren! Nggak ketebak! Mengejutkan!” dari penonton awam, penjelasannya yang berantakan berujung menghalangi tercapainya tujuan itu.

GHOST WRITER (2019)

Apa yang lebih susah dari membuat komedi lucu? Membuat komedi lucu bertema unik seraya membangun humor sepanjang film berdasarkan tema tersebut. Debut penyutradaraan layar lebar Bene Dion Rajagukguk—sebelumnya menulis naskah dwilogi Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss!, Stip & Pensil, Suzzanna: Bernapas dalam Kubur—ini mampu melaksanakan tugas berat tersebut.

Sesungguhnya, dalam lingkup perfilman, konsep pertemanan atau romansa dua dunia jauh dari kesan baru. Baik vampir, monster, alien, zombie, sampai hantu, semua pernah menjalani hubungan dengan karakter manusia. Tapi Ghost Writer menyimpan kesegaran tersendiri berkat premisnya: What if your ghost writer is a real ghost?

Alkisah, Naya (Tatjana Saphira) adalah penulis yang tengah melalui masa sulit, meski membiayai hidupnya dan sang adik, Darto (Endy Arfian) selepas meninggalnya kedua orang tua. Pasca kesuksesan karya perdananya, ia belum juga menerbitkan novel baru. Alasannya, ia enggan menjual idealisme, menolak pendekatan opera sabun sebagaimana ditawarkan penerbitnya. Naya memang idealis bergengsi tinggi. Walau terhimpit urusan finansial, ia menolak bantuan kekasihnya, Vino (Deva Mahenra) dan ngotot memasukkan Darto ke sekolah bergengsi.

Itulah mengapa ia tak pikir dua kali kala menemukan rumah besar berharga murah. Sebaliknya, Darto curiga harga murah tersebut dikarenakan rumah itu angker. Naya bersikap skeptis menanggapi ketakutan Darto, namun setelah ia mengambil buku harian di loteng lalu berniat menjadikannya sebuah novel, peristiwa-peristiwa mistis mulai menimpanya. Rupanya buku itu milik hantu bernama Galih (Ge Pamungkas) yang meninggal bunuh diri di sana. Nasib tragis Galih menarik atensi penerbit, tapi si hantu menolak rencana mengangkat kisah hidupnya ke dalam novel.

Meski sempat takut, perlahan Naya mulai akrab dengan Galih, berusaha meminta persetujuannya, bahkan menawari posisi sebagai ghost writer. Serupa konsep Death Note Naya bisa melihat dan menyentuh Galih selama ia memegang buku harian tersebut. Hubungan keduanya menggemaskan, penuh kecanggungan menggelitik berkat kecerdikan naskah garapan Bene bersama Nonny Boenawan dalam mengimajinasikan interaksi kasual antara sosok hidup dan mati.

Penampilan dua pemeran utama juga banyak membantu, menghantarkan humor lewat gaya yang mencerminkan kondisi masing-masing karakter. Jika Tatjana begitu hidup, penuh semangat serta antusiasme, dan terkadang tidak tahu malu, Ge memaksimalkan metode deadpan. Kata-kata selalu meluncur dari mulut Naya, dan seringkali ucapan anehnya membuat Galih kehabisan kata. Kekontrasan-kekontrasan itu melengkapi dinamika kedua tokoh utama. Di luar lingkup Naya-Galih, naskahnya tetap konsisten melempar banyolan bertema hantu dan kematian. Contohnya melalui Abdul (Muhadkly Acho) dan Iwan (Arie Kriting), dua karyawan di kantor tempat Naya menerbitkan novelnya, yang tidak pernah jemu berdebat perihal mistis.

Selain penulisan cerdik, penyutradaraan Bene turut berjasa menambah kadar kelucuan. Mengawali karir sebagai komika membuktikan pemahaman Bene soal timing, yang nampak betul dalam caranya menyusun aliran adegan. Belum seluruhnya mulus, tapi secara umum, Bene tahu bagaimana agar saat suatu adegan berakhir, ada rasa penasaran tertinggal di benak penonton. Kita dipancing bertanya, “Kelucuan apa yang sedang menanti?”, sebelum melontarkan jawaban yang dibungkus ketepatan timing. Sayang, kebolehan serupa urung ditemukan kala ia mengarahkan situasi horor, yang mayoritas hadir medioker.

Kekurangan paling nyata dalam Ghost Writer sejatinya merupakan elemen yang kerap ditemukan pada produksi Starvision kebanyakan: Filmnya tampak murah. Misalnya riasan hantu yang kerap kurang merata. Benar bahwa Galih adalah hantu jenaka, tapi sumber kejenakaan itu tak seharusnya bersumber dari tata rias buruk. Berikutnya terkait transisi kasar antara adegan, sebuah penyakit yang bahkan gagal dihindari film-film kelas satu milik Starvision, semisal Cek Toko Sebelah.

Ghost Writer bermula ketika Ernest Prakasa (bertindak selaku produser di sini) membaca sinopsis buatan Nonny Boenawan, peserta kelas penulisan skenario yang ia adakan. Ernest langsung terpikat. Wajar saja, sebab ide Nonny memang brilian. Dan begitu sinopsis tadi berkembang menjadi film, terbukti betapa teknis murah tetap tak kuasa membendung kreativitas kaya.

SESAT (2018)

Dalam Sesat, Sammaria Simanjuntak (Demi Ucok, Cin(t)a) menuntun kita menyusuri proses karakternya menghadapi duka. Diperlihatkan seluk beluknya dengan seksama, memastikan kita paham dan melangkah sesuai jalur, selama kita bersedia menaruh perhatian. Tapi saat tiba waktunya menangani teror makhluk halus pengabul permintaan, sang penunjuk jalan justru bak kebingungan sendiri. Keharusan menakut-nakuti, yang nampak bukan salah satu keahliannya, membuat Sammaria tersesat.

Bicara storytelling alias penceritaan, di antara jajaran horor lokal tahun ini, Sesat memang yang terbaik. Melalui naskah hasil karyanya bersama Evanggala Rasuli, Sammaria memaparkan sebuah keluarga kecil yang tidak sempurna, tapi jelas bahagia. Khususnya ketika menyoroti hubungan hangat Amara (Laura Theux) dengan ayahnya (Willem Bivers). Kehangatan singkat yang membuat saya ingin menghabiskan waktu lebih lama berada di tengah-tengah mereka. Begitu pula dengan Amara yang begitu terpukul setelah sang ayah meninggal. Sebab dialah pendukung terbesar mimpi Amara sebagai atlet, juga perekat kala ia dan sang ibu (Vonny Cornelia) kerap berselisih.

Kini bersama ibu dan adiknya, Kasih (Rebecca Klopper), Amara terpaksa tinggal di Desa Beremanyan, di rumah sang kakek (Arswendy Bening Swara), si penulis novel yang tampak merahasiakan sesuatu sebagaimana tatapan tak ramah nan misterius warga setempat. Makan waktu beberapa lama sampai Sesat memulai usahanya menggedor jantung penonton, tapi Sammaria tidak meninggalkan kita dalam kehampaan. Di tengah pergerakan lambat temponya, senantiasa hadir sesuatu untuk dituturkan, entah pergumulan batin Amara atau mitologi setan Beremanyan yang dijabarkan selangkah demi selangkah.

Berkat informasi dari seorang teman sekolah (Endy Arfian), Amara mengetahui kemampuan Beremanyan mengabulkan permintaan siapa saja yang memanggilnya, meski untuk itu, pengorbanan perlu dilakukan. Melalui kliping surat kabar yang tertempel di dinding ruang kerja kakek, kita diberi pemahaman akan riwayat Desa Beremanyan yang dinaungi keberuntungan. Amara pun yakin legenda tersebut benar adanya, dan tatkala ia akhirnya nekat melakukan ritual, itu bisa memaklumi, sebab campur aduk kesedihan akibat kehilangan, kerinduan, juga kesepian memang mampu menyeret manusia melakukan hal gila.

Saya tidak bisa membahas detail progresnya, kecuali bahwa Sesat melangkah ke ranah serupa karya klasik Brian De Palma, yang sekaligus menandai bertambahnya kecepatan laju film ini, sembari menyelipkan elemen gore yang cukup efektif memancing ngeri. Selain rapi bercerita, naskahnya menyimpan pengembangan menarik yang mengandung dua kejutan. Pertama perihal mitologi Beremanyan, yang muncul bukan sekedar atas nama efek kejut, pula masuk akal sekaligus memperkaya bangunan dunianya. Kedua, sewaktu Sammaria dan Evanggala memelintir selipan romansanya, yang justru menghadirkan relevansi seputar remaja. Apabila disimak, intisari keduanya saling bertautan, yakni ego yang meruntuhkan kepedulian.

Sejak tadi saya membahas elemen penceritaan, karena Sesat sendiri seperti memilih berkonsentrasi di sana. Sempat luput mengeksplorasi detail peran penting suatu benda kesayangan Amara yang berujung menciptakan kebingungan, pada akhirnya kebingungan penonton belum ada apa-apanya dibandingkan yang Sammaria rasakan sewaktu menyajikan teror. Selain peristiwa berdarah di sekolah plus jump scare pertama yang efektif menggedor jantung berkat ketepatan timing meski triknya tergolong murahan, praktis Sesat dipenuhi cara menakut-nakuti medioker.

Sammaria seolah terlalu khawatir menjadi murahan, kemudian memilih berhemat menampilkan sosok Beremanyan, yang akhirnya berujung fatal akibat pengadeganan canggung di sana-sini. Daripada penampakan si peneror, Sammaria lebih banyak menampilkan dampak yang terjadi pada korban. Tubuh mereka diseret, dilempar, dibanting ke sana kemari, dalam kemasan tak meyakinkan, yang acap kali didorong sudut kamera serta perpindahan adegan yang kurang memfasilitasi kengerian.  Musik buatan “trio Pengabdi Setan”, Aghi Narottama, Bemby Gusti, dan Tony Merle sesekali memperdengarkan sentuhan unik namun tak menolong lemahnya departemen penyutradaraan.

Ketimbang kulminasi teror, klimaksnya justru menjadi puncak kelemahan filmnya menebar teror. Sebenarnya, konklusi yang Sesat miliki adalah titik akhir yang sesuai untuk mengakhiri seluruh proses karakternya, namun ketiadaan puncak gejolak dalam pertarungan manusia melawan iblis, yang hadir tak sekuat pertarungan manusia melawan sisi gelapnya sendiri, meninggalkan ketidakpuasan teramat besar pasca filmnya usai. Sebuah potensi besar yang gagal terpenuhi, setidaknya Sesat bukan horor pesakitan, sekaligus memberi karir Laura Theux—yang membuat Amara lebih berwarna ketimbang banyak protagonis horor lokal—“nyawa baru” pasca Jaran Goyang yang memalukan.

13: THE HAUNTED (2018)

Ada masa di mana Rudi Soedjarwo termasuk salah satu sutradara kelas satu negeri ini. Menelurkan Ada Apa Dengan Cinta? (2001), Mengejar Matahari (2004), Pocong 2 (2006), sampai Mendadak Dangdut (2006), separuh awal 2000an adalah bukti sahih. Setelahnya diisi inkonsistensi, meski judul-judul macam Garuda di Dadaku 2 (2011) dan Batas (2011) sesekali mengingatkan agar jangan memandangnya sebelah mata.  Rudi masih pencerita handal. Terbukti, walau diberi bekal medioker dalam 13: The Haunted, sang sutradara tetap mampu menghasilkan karya yang tak terbenam di lubang kehancuran seperti banyak horor lokal belakangan.

Saya sedikit was-was ketika baru menginjak detik pertama, sebelum tampak apa pun selain kredit, telinga ini sudah ditusuk-tusuk oleh volume musiknya. Padahal hanya denting piano, tapi gendang rasanya mau pecah. “Ah, satu lagi horor murahan yang asal melemparkan jump scare berisik.”, begitu pikir saya. Perkenalan dengan jajaran protagonisnya menguatkan prasangka itu. Mereka adalah 7 remaja yang karakteristiknya mentok di julukan masing-masing. Celsi (Valerie Thomas) misal, yang dipanggil “Si Logis” (or something like that). Hampir semua kalimatnya diawali “Logikanya....”.

Atau Farel (Atta Halilintar) si “Hip Hop Boy” yang gemar mengenakan kalung emas, jam tangan emas, cincin emas, walau aksesoris tersebut sebenarnya juga bisa diidentikkan dengan tante-tante girang. Sementara Rama (Al Ghazali) dipanggil “Mr. Perfect” meski bagian mananya yang layak disebut sempurna, saya tidak tahu. Pastinya bukan akting Al Ghazali, yang 4 tahun pasca debut layar lebar di Runaway, masih sekaku batang kayu. Endy Arfian sebagai Garin si “Kentut Boy” lebih luwes dibanding rekan-rekannya, tapi setelah Toni di Pengabdi Setan (2017), ini jelas kemunduran.

Alkisah, mereka bertujuh, sebagai remaja gaul masa kini yang terobsesi untuk jadi yang terdepan, merasa iri dengan kesuksesan kanal YouTube berkonten reality show horror milik The Jackal, yang sukses mengumpulkan jutaan penonton dalam waktu singkat. The Jackal sendiri terdiri dari sepasang kekasih, Joy (Achmad Megantara yang akhirnya layak tonton pasca debut remuk redam di El) dan Klara (Mikha Tambayong), mantan kekasih Rama. Demi menyaingi The Jackal, mereka bertujuh pun nekat pergi membuat vlog ke Pulau Ayunan, tempat terjadinya pembantaian 13 bulan lalu.

Apabila terdengar seperti formula klasik “sekelompok remaja pergi ke tempat terpencil lalu diteror hantu yang ingin merenggut nyawa mereka”, itu karena 13: The Haunted memang mengedepankan kisah klise “sekelompok remaja pergi ke tempat terpencil lalu diteror hantu yang ingin merenggut nyawa mereka”. Satu hal yang saya sayangkan, walau tak mengejutkan, adalah kegagalan naskah buatan pasangan suami istri Demas Garin dan Talitha Tan (The Secret: Suster Ngesot Urban Legend) membangun persahabatan kuat antara tokoh-tokohnya. Mereka berpesta bersama, jalan-jalan bersama, selalu menghabiskan waktu bersama, namun tanpa tanda-tanda ikatan solid, sebab interaksi yang terhampar pun tak cukup menarik untuk membuat kita peduli.

Untungnya, 13: The Haunted bukan horor nihil kisah yang menyamakan rentetan jump scare tanpa konteks dengan alur, lalu mengumpulkannya sebanyak mungkin guna mengisi slot durasi. Bahkan, kuantitas jump scare film produksi ketiga RA Pictures ini ada di taraf normal alias secukupnya. Second act-nya dipakai menelusuri misteri yang tersimpan di Pulau Ayunan. Bukan misteri yang digarap apik, tapi keberadaannya berhasil dimanfaatkan Rudi Soedjarwo guna unjuk gigi kapasitas bertutur melalui tempo yang nyaman diikuti. Ketika ada karakter menyelidiki sebuah keanehan dalam film horor, sudah jadi “kewajiban” sang sutradara melambatkan tempo untuk memunculkan ketegangan. Rudi melakukannya, tapi tahu kapan mesti mengakhiri itu supaya tidak berlarut-larut sehingga kehilangan momentum.

Soal menakut-nakuti, trik Rudi medioker. Hantu sekedar muncul tiba-tiba di layar, diam, berpose, sambil diiringi musik buatan Andi Rianto (Arisan!, Kartini, Critical Eleven), yang untungnya lebih variatif ketimbang asal berisik sebagaimana kerap dijumpai dalam horor kelas teri negeri ini. Musik Andi pun efektif memancing ketegangan pada third act yang kembali, membuktikan kebolehan Rudi memainkan tempo. Bergerak cepat namun tidak terburu-buru, klimaksnya terbukti menyenangkan, apalagi ditambah riasan menarik garapan Cherry Wirawan dan Eba Sheba bagi hantu-hantunya. Anda bisa berargumen hantu-hantu itu terlihat bak cosplay monster Kamen Rider, tapi jelas jauh lebih niat dan imajinatif dibanding jajaran setan muka bubur basi yang kerap menjadi favorit sineas horor bangsa ini. Andai mitologi sarat misteri di balik angka 13 jadi poros utama, seperti saat “13 Cara Melihat Hantu” menyokong klimaksnya. Bodoh, tapi menyenangkan. Setidaknya memancing keingintahuan terhadap hasilnya. Semoga 13: The Return mampu melakukannya.


PENGABDI SETAN (2017)

Timbul dua pertanyaan sebelum menonton remake dari horor cult rilisan tahun 1980 karya Sisworo Gautama ini. Pertama, apakah bisa menandingi versi aslinya? Kedua, bisakah Joko Anwar, yang selama karirnya dikenal akan keunikan karya memberi pembeda di tengah minat publik terhadap horor lokal yang mulai tumbuh kembali? Jawaban bagi keduanya: bisa. Sebagai penggemar Pengabdi Setan (10 tahun mengejar restu Rapi Films membuat lagi filmnya) serta film genre, Joko tak sekedar mereka ulang, melainkan menyertakan sentuhan personal sembari tetap menghormati sumbernya. 

Sejak awal tanda positif telah terpampang. Selain tata artistik yang seperti biasa amat Joko perhatikan, kita tak langsung diberi teror prematur. Sempat tampak Mawarni (Ayu Laksmi) terbaring sambil merapal sesuatu, namun itu merupakan siratan poin kunci alur dan penegasan tone ketimbang gebrakan buru-buru. Selebihnya penjabaran kondisi tiap anggota keluarga: penyakit Mawarni meredupkan karir bernyanyinya lalu menyulitkan ekonomi keluarga, Rini (Tara Basro) mesti menjaga tiga adik laki-lakinya, Suwono si bapak (Bront Palarae) terpaksa menjual berbagai barang untuk hidup, Toni (Endy Arfian) rela mengesampingkan kepentingan pribadi, juga Ian (Adhiyat Abdulkhadir) si bungsu yang bicara memakai bahasa isyarat.
Karakter kerap dilupakan sineas horor, padahal kepedulian penonton atas mereka mempengaruhi pembangunan tensi. Pula harus diingat, di balik sampul kengeriannya, Pengabdi Setan adalah kisah kekeluargaan. "Keluarga di atas segalanya" merupakan poros penggerak. Begitu Mawarni meninggal kemudian menebar teror, kengerian berlipat ganda, sebab alih-alih pertarungan melawan entitas jahat biasa, karakternya dihadapkan pada sosok yang identik dengan kenyamanan, yaitu ibu. Kecerdikan Joko meleburkan sentuhan supernatural horor dengan nilai kekeluargaan menghasilkan rentetan momen mencekam yang turut mengaduk-aduk emosi, sebutlah "adegan sumur" atau keterlibatan kursi roda saat klimaks.

Terkait berbaliknya sosok ibu menebar ancaman, inilah kengerian Pengabdi Setan sesungguhnya. Setan bukan hanya menghantui lewat penampakan, namun mempermainkan psikis manusia. Sama halnya bagaimana remake ini memposisikan Ustad (Arswendy Bening Swara) selaku manusia biasa, berbeda dibanding film aslinya, yang serupa horor lokal masa itu, menegaskan kekuatan dominan ulama atas iblis (selalu diakhiri pembacaan ayat suci yang menutup masalah). Pun tersimpan kritik subtil tapi sangat relevan nan tepat sasaran bagi pengultusan "pemuka agama" negeri kita dewasa ini.
Soal menakut-nakuti, Joko jelas memutar otak supaya tiap momen berbeda satu sama lain. Ketiadaan repetisi membuat jump scare-nya efektif, setidaknya tak melelahkan. Terlebih mayoritas teror tersaji dalam suasana yang familiar, seperti wudu, bermain view-master, dan pengajian pasca pemakaman. Menarik pula mendapati homage bagi judul-judul klasik, macam Dead Series-nya George Romero untuk membungkus kemunculan para mayat hidup. Ditambah lagi balutan atmosfer tiap lagu Kelam Malam atau lonceng terdengar. Tata riasnya juga patut diacungi jempol, menciptakan wajah-wajah mengerikan dengan takaran tepat, tidak berlebihan maupun terlampau malas. 

Walau Tara Basro, Bront Palarae, sampai Arswendi Bening Swara semuanya memberi penampilan solid, Nasar Anuz dan Adhiyat Abdulkhadir selaku pelakon cilik paling mencuri perhatian. Aktor cilik dalam film sering menjadi titik lemah karena kapasitas akting yang (wajar) belum terasah. Tapi keduanya begitu baik, bertingkah dan bertutur secara meyakinkan, dari mengekspresikan ketakutan hingga menangani celetukan menggelitik yang sesekali menyegarkan suasana tanpa memunculkan masalah tone berkat ketepatan pembagian waktu. Bisa mencekam, bisa melucu. Pengabdi Setan memang paket lengkap, termasuk keberadaan detail-detail terselubung yang layaknya karya lain Joko, mampu memancing diskusi menarik. 


NOTE: 
  1. Kalau belum menonton filmnya, jangan buka kolom komentar. Banyak diskusi dengan SPOILER.
  2. Karena jumlah melampaui batas, kolom komentar dibagi menjadi lebih dari satu halaman. Klik "Lebih Baru" atau "Latest" untuk membuka halaman berikutnya.