Tampilkan postingan dengan label Lele Laila. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lele Laila. Tampilkan semua postingan

REVIEW - IVANNA

Entah apa obrolan yang muncul di balik layar, sebab Ivanna sukses jadi judul terbaik di Danur Universe, justru karena ia tidak terasa seperti bagian semestanya. Seolah Manoj Punjabi berkata pada timnya, "Fuck it. Just do anything you want!". 

Penunjukkan Kimo Stamboel, yang berkat Rumah Dara (2009) pantas masuk jajaran "dedengkot slasher Indonesia" bersama Timo Tjahjanto, kini masuk akal. Ivanna bukan horor hantu-hantuan biasa, melainkan bak slasher yang tengah menyamar. 

Awalnya semua berjalan familiar. Pasca kematian orang tua mereka, Ambar (Caitlin Halderman) dan adiknya, Dika (Jovarel Callum), pindah ke panti jompo yang dikelola oleh Agus (Shandy William) beserta ibunya. Pacar Agus, Rina (Taskya Namya) turut bekerja di sana, merawat tiga lansia: Nenek Ani (Yati Surachman), Kakek Farid (Yayu Unru), Oma Ida (Rina Hassim). Mengingat lebaran sudah dekat, Arthur (Junior Roberts), cucu Oma Ida, turut berkunjung. 

Selepas penemuan ruang bawah tanah, yang di dalamnya menyimpan sebuah patung tanpa kepala, keanehan mulai terjadi. Keanehan yang berhubungan dengan masa lalu tragis Ivanna van Dijk (Sonia Alyssa), gadis Belanda yang dibunuh secara sadis kala Jepang menginjakkan kaki di Indonesia. 

Keberadaan Kimo berjasa menggiring Ivanna ke arah berbeda, tapi pertama, izinkan saya melakukan hal yang belum pernah saya lakukan, yakni mengapresiasi naskah Lele Laila. First act betul-betul dipakai menata panggung pertunjukan berdarah filmnya. Ditanamnya benih untuk hal-hal yang kelak berperan dalam alur. Belum sepenuhnya rapi memang. Ada kalanya ia menjejalkan terlalu banyak info dalam kalimat, tapi setidaknya, kali ini naskah Lele "mau bercerita", dan lebih memiliki struktur, ketimbang kompilasi jump scare seperti biasa. 

Lele juga lebih "nakal" di sini. Kakek yang menyembunyikan botol miras sehari sebelum lebaran, nenek yang dengan santai mengatakan kalau si cucu tidak puasa, hingga pemilihan lebaran selaku latar pertumpahan darah. Ivanna membuat Idul Fitri bagai Idul Adha, tapi alih-alih hewan kurban, justru lansia yang dijagal. Serupa Pengabdi Setan-nya Joko Anwar, film ini ibarat antitesis elemen religius horor tanah air.

Urusan menebar teror, Kimo menerapkan dua metode. Pertama berupa penampakan yang jamak dimiliki horor supernatural, tetapi dalam eksekusinya, Kimo menolak menggunakan efek suara berlebih. Di trailer, adegan Ivanna muncul dari belakang Ambar dikemas dengan efek suara secukupnya, dan secara mengejutkan, momen itu tampil lebih sunyi lagi di film. Kesunyian yang membuat teriakan penonton di studio terdengar jelas, dan saya yakin itu teriakan ketakutan, bukan kekagetan. 

Metode kedua adalah yang menjauhkan Ivanna dari formula semesta Danur, yaitu slasher berdarah. Mayoritas penampakan di seri Danur gagal meninggalkan dampak karena para hantu sebatas "setor muka". Di sini, tiap kemunculan dapat berujung kematian. Ada output yang dihasilkan oleh penampakan. 

Pun saya terkejut kala salah satu kematian memperlihatkan gore dengan kemasan over-the-top ala horor splatter dan b-movie. Serupa Yudi (Tanta Ginting) si polisi yang perannya cenderung komedik, adegan tersebut memang kurang selaras dengan keseluruhan tone film yang serius menjurus tragis, tapi kemampuannya menambah daya hibur tak bisa disangkal. 

Ditambah departemen teknis serta efek spesial mumpuni (secara khusus saya mengagumi sebuah shot berisi transisi mulus dari gelap ke terang kala menggambarkan "penglihatan" yang dialami Ambar), Ivanna memunculkan harapan bahwa semester kedua tahun 2022 bakal jauh lebih cerah bagi horor Indonesia. 

REVIEW - KKN DI DESA PENARI

Sudah mundur berkali-kali sejak rencana awal penayangan 19 Maret 2020, nyatanya KKN Di Desa Penari tetap dibanjiri penonton (angka sejuta bakal dicapai sebelum seminggu). Apa yang membuatnya fenomenal? Utas viral di Twitter yang disampaikan SimpleMan efektif karena ada "kedekatan". Sebab sebelum ini pun, peristiwa mistis di tengah KKN, termasuk yang melibatkan kemesuman mahasiswa, sudah kerap mengisi obrolan. 

Kedekatan itu memudahkan pembaca mengasosiasikan diri dengan nasib tokoh-tokohnya, baik yang jadi "korban langsung", maupun mereka yang terkena dampak perbuatan kawan-kawannya. Kedekatan itu lenyap dari adaptasi layar lebar buatan Awi Suryadi, yang cuma tertarik memvisualkan petikan-petikan tweet SimpleMan layaknya sketsa, ketimbang membangun keutuhan dunianya.

Setelah mendapat persetujuan Pak Prabu (Kiki Narendra) selaku kades, entam mahasiswa menjalankan KKN di sebuah desa terpencil. Nur (Tissa Biani), Bima (Achmad Megantara), Ayu (Aghniny Haque), Widya (Adinda Thomas), Anton (Calvin Jeremy), dan Wahyu (M. Fajar Nugraha), mulai melaksanakan proker, meski sejak kedatangan sudah mencium aroma ketidakberesan. 

Saya jarang mengharapkan penokohan solid di film horor, tapi tanpanya, kekuatan KKN Di Desa Penari berkurang drastis. Sedikit melompat, film ini mempunyai third act kuat (belongs in a better movie) berisi tarian intens (performa Aghniny Haque yang di sepanjang film biasa saja, tiba-tiba melonjak di titik ini) dan konklusi yang mengincar rasa tragis. Masalahnya, tidak satu pun individu diberi penokohan jelas, interaksi kurang digali, apa yang dikerjakan selama KKN juga entah apa. Sulit terkoneksi dengan karakternya, dan tanpa koneksi, tiada sense of tragedy.

Naskahnya ditulis oleh Lele Laila, yang jadi langganan Awi Suryadi dalam semua keterlibatannya di seri Danur sebagai sutradara. Berkaca dari masa lalu, mudah menebak pendekatan kolaborasi keduanya: kompilasi teror. Naskahnya mengadaptasi utas SimpleMan secara apa adanya, tanpa usaha menjalin penceritaan secara utuh. 

Gaya pengarahan Awi untuk KKN Di Desa Penari cenderung lebih dekat ke Asih ketimbang trilogi Danur. Tempo lambat di awal guna menciptakan atmosfer, sembari menghindari kebisingan jump scare. Harus diakui, gaya di atas, ditambah biaya tinggi yang memfasilitasi "hobi" sang sutradara tampil stylish (camerawork, efek transisi), menjauhkan film ini dari kesan murahan. Tapi menjadi percuma tatkala masih menyamakan "alur" dengan "kompilasi teror". 

Sebuah sekuen cocok dijadikan gambaran mengapa KKN Di Desa Penari cocok disebut "kompilasi teror" atau "sketsa horor". Nur dan Widya hendak bergantian mandi. Nur masuk lebih dulu, namun akhirnya mengurungkan niat mandi gara-gara melihat genderuwo. Widya lebih beruntung. Dia sempat mandi (kalau "berkali-kali mengguyurkan air ke satu tempat" bisa disebut "mandi"), sebelum dikunjungi oleh Badarawuhi (Aulia Sarah) si hantu penari. 

Repetisi ala sketsanya makin terasa akibat presentasi setiap penampakan tak seberapa berkesan, walau sekali lagi, biaya tinggi menguatkan kualitas elemen artistik, termasuk tata rias meyakinkan saat Badarawuhi muncul dengan wujud aslinya. 

Hasilnya akan lain apabila di sela-sela waktu tersebut penonton berhasil dibuat terkoneksi dengan tokoh-tokohnya, sekaligus diajak ikut tenggelam dalam pertanyaan serta ketidakberdayaan mereka. Kisahnya selalu lebih menarik tatkala Pak Prabu menyinggung sedikit demi sedikit masa lalu kelam desanya, atau ketika Mbah Buyut (Diding Boneng) berbagi sekilas ilmu mengenai mistisisme. Alias, tersimpan setumpuk potensi berbentuk cerita perihal kepercayaan mistis khas daerah Indonesia, yang dibiarkan terkubur tanpa sering dijamah oleh filmnya. 

REVIEW - ASIH 2

Pada ulasan untuk Danur (2017), saya menyebut bahwa filmnya bagai eksperimen seputar "Berapa banyak ekspresi mengerikan yang mampu Shareefa Daanish perlihatkan?". Tiga tahun berselang, franchise-nya sudah mempunyai lima film, termasuk dua spin-off bagi Asih yang diperankan Shareefa. Di Asih 2, sang hantu rupanya mendapat upgrade. Selain jago nampang, sekarang Asih mampu mengeluarkan suara memekakkan yang niscaya membuat para vokalis band screamo minder, sementara di bangku penonton, saya mengkhawatirkan keselamatan gendang telinga.

Masih ingat pasutri Andi (Darius Sinathrya) dan Puspita (Citra Kirana) dari film pertama? Keduanya kembali muncul. Yah, setidaknya dalam beberapa menit awal, karena Asih langsung menghabisi, kemudian menculik bayi mereka. Beberapa tahun berselang, seorang dokter bernama Sylvia (Marsha Timothy), kedatangan pasien seorang gadis cilik (Anantya Rezky) yang tertabrak mobil. Dia tidak punya keluarga, dan diyakini hidup sendirian di tengah hutan. Teringat puterinya yang meninggal akibat kecelakaan empat tahun lalu, Sylvia memutuskan mengadopsi bocah itu dan menamainya Ana, meski sang suami, Razan (Ario Bayu) sempat menentang.

Tapi merawat Ana tak semudah itu. Selain tidak bisa bicara, ia kerap tertawa sendiri, juga bersikap aneh. Ya, Ana adalah bayi Andi dan Puspita yang diculik Asih. Sebagai hantu narsis yang gemar memasang ekspresi-ekspresi ajaib, pastilah Asih cemburu melihat perhatian Sylvia kepada Ana. “ANAK SAYAA!”, begitu teriaknya berulang-ulang, dengan suara yang tidak kalah menusuk dibanding feedback dari sound system di acara kumpul-kumpul desa. Tentu Sylvia tidak mau kalah, sehingga menghasilkan klimaks di mana kedua karakter secara bergantian meneriakkan, “ANAK SAYAAAA!!!” berulang kali sambil menarik-narik tangan si bocah, seperti dua ibu-ibu komplek tengah berebut sisa cabai di tukang sayur. Mungkin di akhirat, Puspita juga ikut berteriak, “ANAAAAK SAYAAAA!!!!”.

Masih setia menulis naskah sejak Danur adalah Lele Laila. Melanjutkan pendekatan di Asih, teror film ini pun digerakkan secara bertahap cenderung lambat. Menginjak satu jam pertama, barulah Razan berkonfrontasi langsung dengan Asih. Niatnya untuk tidak menghasilkan tontonan yang cuma diisi jump scare mungkin baik, namun lebih baik lagi jika sang penulis coba menjalin cerita mumpuni. Karena praktis, filmnya kosong. Nihil misteri, kecuali kalau anda menganggap kebingungan Sylvia soal lirik lagu Indung Indung (apakah “di udik” atau “diusik”?) sebagai misteri. Saya juga dulu pernah kebingungan memahami lirik di reff lagu Kau Auraku, tapi tidak menganggapnya sebagai misteri. Daripada soal lagu, saya lebih penasaran, mengapa karakternya kadang menyebut diri sebagai “aku”, namun di waktu lain memakai “saya”.

Kualitas terornya pun menurun drastis. Walau tak selalu berhasil tampil menyeramkan, setidaknya Awi Suryadi masih bersedia membangun momentum sebelum hantunya muncul. Di sini, Rizal Mantovani hanya berhasil melahirkan satu-dua jump scare yang mampu tampil mengagetkan. Sisanya, bersiaplah mendengar teriakan “ANAK SAYAAAAA!!!!” di banyak kesempatan.

Padahal saya cukup menaruh harapan bagi Asih 2, mengingat keberadaan nama-nama besar di jajaran cast. Marsha Timothy tetap solid, berusaha sekuat tenaga mengangkat materi kelas teri yang ia dapatkan. Ario Bayu tidak buruk, tapi ketimbang akting, rasanya fokus penonton bakal lebih sering tertuju ke arah wignya. Sedangkan Ully Triani menyia-nyiakan bakatnya kala memerankan Suster Rita, yang seperti Sylvia, lebih banyak memikirkan soal lirik lagu Indung Indung.

DANUR 3: SUNYARURI (2019)

Pada review untuk Asih (baca di sini), saya mengapresiasi bagaimana seri Danur, meski setapak demi setapak, terus menunjukkan peningkatan. Jadi alangkah mengecewakan mendapati Danur 3: Sunyaruri merupakan langkah mundur, yang seolah menekan tombol reset bagi progres adaptasi novel-novel Risa Saraswati ini.

Menit-menit awal film ini sebenarnya menjanjikan. Dibuka melalui visualisasi novel buatan Risa (Prilly Latuconsina), yang memperlihatkannya dikejar oleh Canting, hantu penari dari ending Maddah, di suatu gedung pertunjukkan. Pemakaian bayangan adalah trik menakut-nakuti sederhana tapi ampuh memancing kengerian, sementara musik garapan Ricky Lionardi (Asih, Sunyi, Pretty Boys) mampu menggedor jantung ketimbang menyakiti telinga.

Daya tariknya berlanjut kala krisis persahabatan Risa dengan Peter dan kawan-kawan mulai diperkenalkan. Khawatir bakal ditinggalkan, Risa menyembunyikan kemampuan mistisnya dari Dimas (Rizky Nazar). Risa tidak lagi sempat bermain bersama teman-teman hantunya, bahkan kerap memarahi mereka. Di mana lagi kita melihat protagonis film horor mengomeli hantu? Sekilas terdengar konyol, tapi ini keunikan selaku pembeda Risa dengan karakter horor lain.

Tidak lagi tahan dengan keusilan para bocah itu, Risa memilih menutup mata batinnya. Alih-alih menyelesaikan masalah, keputusan itu justru mengundang bahaya kala sesosok hantu wanita misterius menyatroni rumahnya bersama hujan lokal misterius yang tak kunjung usai, mengancam keselamatan Risa beserta teman-temannya.

Membahas progres, naskah buatan penulis langganan Danur, Lele Laila, setidaknya bukan lagi kompilasi jump scare sebagaimana dua judul perdana. Tapi serupa Asih (dan deretan horor lokal kebanyakan), penyakit lama masih menjangkiti. Seolah sang penulis alergi dengan kata “eksplorasi”. Walau tidak diisi pawai penampakan, alurnya jalan di tempat, terkesan kosong, meski menyimpan banyak bekal misteri. Siapa identitas si hantu wanita? Mengapa ia mengincar Peter dkk.? Apa penyebab hujan yang terus turun?

Daripada menggalinya satu per satu, Lele Laila memilih menerapkan pola lama, yakni menyimpan semuanya hingga konklusi, sehingga menciptakan fase pengungkapan yang terburu-buru. Kelemahan itu turut mempengaruhi twist-nya yang terkesan mencurangi penonton, akibat hadir tiba-tiba tanpa diawali “penanaman benih” terlebih dahulu.

Urusan teror, Sunyaruri mengeskalasi tingkat bahaya yang mengancam Risa. Bukan saja teror psikis, kali ini fisiknya pun dihajar habis. Bertambahnya ujian bagi Risa berbanding lurus dengan beban Prilly, yang berkesempatan menampilkan jangkauan akting (sedikit) lebih luas, karena dituntut tampak meyakinkan memerankan seseorang yang tersiksa mental pula fisik. Tugas ini dijalankan cukup baik oleh Prilly.

Secara mengejutkan, penurunan justru datang dari penyutradaraan Awi Suryadi. Masih ada segelintir teror solid, termasuk jump scare mengejutkan yang melibatkan ember, tapi di sini Awi bagai terbuai akan eksplorasi sudut kamera. Dia lebih tertarik bergaya, mengaplikasikan sudut-sudut “berbeda” yang minim substansi perihal membangun kengerian. Ditunjang tata artistik yang digarap apik, visual Sunyaruri mungkin tampak cantik dan unik, namun rasa takut gagal dipantik.

Selain jump scare medioker, kurangnya daya cengkeram turut diakibatkan lemahnya desain hantu. Pasca tampilan ikonik Ivana, Sunyaruri kembali memoles antagonisnya dengan riasan muka rusak klise. Membosankan. Sama membosankannya dengan lagu Boneka Abdi yang diulang belasan kali (lagu tema tidak wajib diputar lima menit sekali), maupun babak ketiga yang bak melupakan hakikatnya sebagai klimaks, dengan mengakhiri konflik secara prematur sebelum mencapai titik puncak.

SILAM (2018)

Silam, yang juga adaptasi novel berjudul sama karya Risa Saraswati, awalnya diniati sebagai spin-off terbaru Danur untuk mengeksploitasi kesuksesan franchise-nya. Sampai tiba-tiba niat tersebut dibatalkan, dan embel-embel “From the Danur Universe” dihapus dari seluruh materi promosi. Untunglah, sebab meski lambat, seri Danur tengah berprogres ke arah positif, hingga tahun ini, Asih jadi judul pertama yang pantas disebut baik. Menyertakan Silam, yang bahkan jauh lebih buruk dibanding film pertama, bakal mengembalikannya ke titik nadir.

Pasca meninggalnya sang ayah, Baskara (Zidane Khalid) merasa dibenci oleh ibunya (Nova Eliza), yang seolah menyalahkan seluruh perbuatan putera semata wayangnya itu. Ditambah perundungan di sekolah, lengkap sudah penderitaan Baskara. Sampai ia menemukan foto saudara kembar ayahnya, Anton (Surya Saputra), lalu memutuskan minggat ke rumah pamannya. Mengapa di balik foto pribadi tertulis nama serta alamat saudara kembar sendiri? Entah. Sepertinya ini hanya cara malas Lele Laila (Danur 2: Maddah, Keluarga Tak Kasat Mata, Asih) selaku penulis naskah agar Baskara menemukan kediaman Anton.

Tapi sebelum itu, kita menyaksikan lebih dahulu peristiwa yang membuka mata batin Baskara, yakni ketika kepalanya terbentur lantai setelah didorong oleh teman sekelasnya. Sejak itu Baskara dapat melihat hantu. Peristiwa tersebut terjadi pada suatu ruangan terlarang di sebuah museum. Mengapa ruangan terlarang tidak diberi gembok atau pengamanan ekstra dalam bentuk apa pun? Entah. Sepertinya ini hanya bentuk kemalasan lain dari penulis naskahnya.

Seandainya anda lupa, film ini disutradarai Jose Purnomo (Alas Pati, Jailangkung, Gasing Tengkorak) yang belakangan bak bersemangat menjadi Nayato 2.0 perihal menyajikan horor-horor bobrok. Di sini, Jose menunjukkan bahwa ia belum banyak berubah, walau soal menciptakan jump scare, tampak sedikit peningkatan. Ada sekitar tiga momen yang sanggup menyentak berkat ketepatan timing.

Soal membangun kengerian, dia masih Jose yang kita sayangi bersama. Di tangan sutradara mumpuni, adegan kala Baskara mampir ke kuburan ayahnya di tengah malam kemudian dikepung barisan setan bisa hadir mencekam. Walau lagi-lagi, timbul pertanyaan. Jika Baskara sudah menyadari kemampuannya melihat hantu, kenapa ia nekat ke kuburan hanya untuk meminta petunjuk yang takkan memperoleh jawaban? Bocah SD kebanyakan takkan melakukan itu. Sekali lagi saya cuma bisa menjawab, “entah”. Sepertinya ini hanya bentuk kemalasan lain dari penulis naskah guna membuka jalan menampilkan kengerian.

Tapi naskahnya masih menyimpan kelebihan. Berbeda dengan Baskoro Adi Wuryanto selaku kompatriotnya sesama pemuja kekosongan cerita dalam horor, pelan-pelan naskah Lele Laila meningkat. Setibanya Baskara di rumah Anton, plot Silam mulai memancarkan daya tarik. Baskara menyadari keanehan pada tingkah Anton, Ami (Wulan Guritno) sang istri, juga dua puteri kembar mereka (yang dicomot dari The Shining). Didasari keanehan itu Silam menghadirkan cerita sungguhan, di mana tercipta pertanyaan, juga misteri untuk digali. Bukan bentuk misteri segar, pun besar kemungkinan anda bisa menebak jawabannya sedari awal. Namun paling tidak, keberadaannya menjauhkan Silam dari deretan horor kosong yang gagal membedakan antara plot dengan segmen-segmen jump scare tak mengerikan.

Sayang, di sela-sela misteri kita dipaksa jadi saksi kecanggungan penyutradaraan Jose. Ada satu momen yang melibatkan hantu gadis cilik dengan riasan dan perilaku yang bagai kombinasi penggila black metal dan emo. Si hantu mengikuti Baskara dan teman barunya yang juga mampu melihat makhluk halus, Irina (Dania Michelle). Pemandangan itu sontak memancing tawa seisi studio. Jose baru saja menghantarkan salah satu kelucuan tak disengaja paling epic sepanjang tahun. Satu lagi elemen mengganggu adalah keputusan Jose, yang seperti biasa merangkap DOP, menerapkan warna kusam termasuk di situasi gelap gulita, sehingga gambar terlihat keruh dan sukar dilihat.

Kemudian tibalah konklusinya, yang terjangkit penyakit mayoritas film horor lokal, yakni kegagalan menghadirkan penutup memuaskan. Babak akhirnya begitu berantakan, di mana beberapa poin cerita dibiarkan tanpa kejelasan atau memunculkan plot hole akibat penyertaan sebuah twist. Kalau itu belum cukup, jangan khawatir. Anda bakal mendapat hal lain untuk ditertawakan, tatkala Silam mengajarkan bahwa untuk membatalkan perjanjian dengan setan, seseorang hanya butuh berniat, tanpa perlu repot-repot melangsungkan ritual. Mendengar itu, karakternya pun berkata, “Saya niatkan pembatalan perjanjian.....”. Oh, for God's sake!

ASIH (2018)

Asih membuktikan 2 hal: Awi Suryadi (dwilogi Danur) selalu berusaha memperbaiki kekurangannya dan dia pantas mendapat franchise, atau setidaknya naskah yang lebih baik. Pasca sekelumit peningkatan di Danur 2: Maddah, di sini Awi menyempurnakan penyutradaraannya, tahu kapan waktunya memainkan keheningan guna membangun atmosfer, kapan mengejutkan penonton lewat jump scare, serta bagaimana melakukannya. Patut disayangkan departemen naskah mencoreng pencapaian tersebut.

Bertindak selaku prekuel yang terjadi 37 tahun sebelum film pertama, Asih mengisahkan asal-usul sang titular character (Shareefa Daanish), meski pada kenyataannya, elemen itu cuma muncul dalam satu flashback singkat. Naskah buatan Lele Laila (Keluarga Tak Kasat Mata, dwilogi Danur), yang mengadaptasi novel berjudul sama karya Risa Saraswati, bahkan tidak berupaya menjelaskan keperluan selipan fakta mengenai perubahan nama Kasih menjad Asih, sebuah informasi yang tak berperan dalam keseluruhan plot.

Sisanya serupa judul-judul lain di Danur Universe, yakni kompilasi teror demi teror yang ditempel paksa tanpa cerita kuat sebagai perekat. Setelah adegan pembuka kala Asih membunuh bayinya sebelum akhirnya bunuh diri, kita dibawa mengunjungi satu keluarga kecil: pasangan suami-istri, Puspita (Citra Kirana) dan Andi (Darius Sinathrya) beserta sang ibu (Marini Soerjosoemarno). Pasutri ini tengah menanti kelahiran anak pertama mereka. Protagonis yang akan memiliki bayi ketika sang antagonis kehilangan bayi jelas bukan pertanda baik.

Asih menebar beberapa benih konflik menarik di awal. Kepikunan ditambah penglihatan Ibunda Andi yang mulai menurun, rasa takut berlebih Puspita akibat mendengar cerita mistis dari sang bidan (Djenar Maesa Ayu), semua itu lebih dari cukup selaku pangkal perpecahan keluarga yang diakibatkan peristiwa mistis, atau tepatnya, ketakutan terhadapnya. Tapi benih-benih menjanjikan itu ditinggal begitu saja seiring penolakan penulis naskah untuk repot-repot menciptakan cerita sungguhan. Menjaga supaya filmnya terus berjalan (baca: mengisi durasi) merupakan fokus tunggal.

Poin menarik naskah Asih hanya saat beberapa kepercayaan mistis lokal turut mengambil peran, yang dapat menghadirkan rasa ngeri bagi penonton yang familiar dengan hal-hal macam suara anak ayam atau tiang listrik yang dipukul. Sisanya nihil. Usaha menjembatani film ini dengan Danur: I Can See Ghosts (2017) pun berujung kekonyolan. Mengapa Asih meningglkan sisirnya?

Di sinilah kapasitas Awi mengambil alih. Dibebani tugas menghabiskan durasi (yang cuma 77 menit), sang sutradara meninggalkan pendekatan mengesalkan yang jadi andalan seri Danur, di mana jump scare berisik menghantam tiap beberapa detik. Kali ini Awi justru berani menyusun atmosfer melalui keheningan plus lagu Indung Indung yang terdengar lebih creepy dibanding Boneka Abdi.

Begitu Asih muncul, musik garapan Ricky Lionardi (Sakral, Rasuk) menolak latah untuk langsung menggebrak. Awi menyimpan gebrakan itu khusus bagi deretan “menu utama” ketika jump scare dilontarkan pada kesempatan  tak terduga, yang sesuai formula di “Buku Panduan James Wan”, saat para hantu bukan sekedar “setor muka”, melainkan menyerang secara agresif. Saya terenta beberapa kali dibuatnya. Bahkan, Awi sanggup memberi sebuah momen yang benar-benar menyeramkan, bukan sebatas mengagetkan. Momen itu berupa sekelebat penampakan Asih, yang mungkin takkan disadari banyak penonton.

Sayang, sekali lagi, pencapaian Awi “dikhianati” kemalasan skenarionya begitu Asih memasuki babak ketiga yang bak tanpa puncak intensitas. Seolah filmnya usai karena penulis naskahnya sudah kehabisan ide, membiarkan teror Asih dihentikan oleh doa ala kadarnya dan teriakan karakter. Secara menyeluruh, Asih memang membuktikan bahwa seri Danur, walau perlahan, konsisten mengalami peningkatan. Namun bila mereka tak kunjung memperbaiki kualitas naskah, sulit membayangkan franchise ini bakal memproduksi installment yang layak menyandang status “film bagus”. Sementara, paling tidak Asih bukan satu lagi horor berisik mengesalkan atau parade repetitif bagi ekspresi gila Shareefa Daanish.

KELUARGA TAK KASAT MATA (2017)

Keluarga Tak Kasat Mata adalah film jelek. Sangat jelek. Dan sesuai tradisi, film berkualitas jauh di bawah rata-rata akan mendapat review spesial. Tapi 2 hari berselang, saya buntu. Ketika ulasan Coco dan Murder on the Orient Express yang ditonton belakangan sudah dipublikasikan, ide belum juga mengalir bagi Keluarga Tak Kasat Mata. Saking bingungnya, sempat terpikir menerbitkan satu halaman nyaris kosong bertuliskan "Ini adalah review tak kasat mata", namun urung saya lakukan. Karena itu sama saja dengan pembuat filmnya, yang kehabisan akal lalu memilih jalur luar biasa malas sekaligus bodoh.

Setahun lalu, ketika horor tanah air cenderung jalan di tempat, kelemahan akut Keluarga Tak Kasat Mata mungkin bisa sedikit (catat: SEDIKIT) dimaafkan. Paling tidak ini bukan tontonan antah berantah macam Dia Pasti Datang atau Video Maut yang memperlihatkan keburukan tidak mempunyai batas. Terima kasih Joko Anwar, Pengabdi Setan memasang standar baru. Kini, production value lumayan (catat: LUMAYAN) saja tak cukup memberi rasa maklum. Apalagi dalam film seperti Keluarga Tak Kasat Mata yang layaknya "kaum sumbu pendek" Indonesia, mudah curiga dan insecure. Pulpen jatuh musik berdentum, sebaris dialog selesai musik berdentum, hantu muncul sekelebat pun musik berdentum. 
Apa yang terjadi saat para makhluk halus sungguh-sungguh menampakkan wujud? Menurut sutradara Hedy Suryawan (Rock N Love), jawabannya adalah close-up ekstrim, dan tentu saja musik berdentum. Bagai Benedict Cumberbatch yang doyan mengganggu sesi foto karpet merah, hantu film ini suka melakukan photo bomb, tiba-tiba muncul memenuhi seisi layar bioskop, yang daripada menakutkan justru memancing tawa. Lucu, jauh lebih lucu ketimbang karakter Bebek (Kemal Palevi) yang memanfaatkan tiap kemunculan untuk merengek, bertingkah menyebalkan, berusaha tampil konyol meski sama sekali tidak lucu.

Soal membangun intensitas filmnya juga punya metode murahan. Ketegangan berbasis kekacauan situasi disamakan dengan editing lompat-lompat, kala secara ajaib, tokohnya bisa mendadak berpindah tempat. Entah di antaranya ada transisi tak kasat mata atau pembuat filmnya menganggap Genta (Deva Mahenra) dan kawan-kawan sebagai David Copperfield yang tengah melakukan sulap pindah tempat dalam sekejap dibantu trik kamera. Deva sendiri kesulitan menangani peran protagonis horor yang dituntut senantiasa takut dan curiga, akibat kosongnya pengekspresian rasa. 
Cerita Keluarga Tak Kasat Mata buatan Bonaventura D Genta yang populer di Kaskus pada dasarnya merupakan rangkaian pengalaman melihat hantu atau mendengar suara aneh, yang mengerikan karena membiarkan imajinasi serta asumsi pembaca berkeliaran. Mengangkatnya mentah-mentah ke layar lebar, seperti tangisan wanita yang rutin terdengar tiap beberapa menit, menghasilkan ketiadaan eksistensi alur pun daya cekam. Walau tidak sampai satu setengah jam, karena sekedar diisi penampakan satu ke berikutnya, Keluarga Tak Kasat Mata seolah berjalan sehari penuh. Bisa dipahami jika anda merasa sedang terjebak di kutukan lingkaran waktu tanpa ujung serupa Jessica Rothe di Happy Death Day.

Ada usaha merajut alur, namun naskah buatan trio Lele Laila, Evelyn Afnila, dan Bonaventura D Genta mengandung setumpuk poin yang pantas dipertanyakan, dari esensi tulisan penanda waktu serta lokasi yang hanya tampak di awal, hingga resolusi seputar para keluarga tak kasat mata di kantor Genta. Penonton bukan Genta dan Rudi (Gandindra Bimo) yang mampu memahami masalah makhluk halus hanya lewat pertanda ambigu dalam mimpi. Penonton butuh elaborasi. Tak perlu gamblang, cukup pemaparan berbentuk struktur cerita rapi alih-alih plot tak kasat mata dalam film berkualitas tak kasat mata pula.