Tampilkan postingan dengan label Deva Mahenra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Deva Mahenra. Tampilkan semua postingan

REVIEW - GHOST WRITER 2

Saya sangat menyukai Ghost Writer (2019) yang menandai debut Bene Dion duduk di kursi sutradara. Ghost Writer 2 pun semestinya jadi debut Muhadkly Acho, sebelum perilisannya ditunda karena pandemi. Pada 2022, keduanya unjuk gigi lewat drama komedi bertema keluarga. Bene di Ngeri-Ngeri Sedap, Acho di Gara-Gara Warisan. Sama-sama memukau, seolah memperlihatkan hasil latihan dari pengalaman perdana mereka. 

Ghost Writer memang efektif sebagai ajang mengasah diri para sineas berlatar komika. Keabsurdan premis membebaskan eksplorasi humor, sementara konsep yang membahas perihal kematian pun memudahkan adanya selipan drama. Ghost Writer 2 membuktikan itu.

Naya (Tatjana Saphira) meraih kesuksesan berkat novel horornya, tapi ia mulai risih karena dicap sebagai dukun alih-alih penulis berbakat. Dia pun berniat mengubah citra itu, tapi di tengah usahanya melahirkan karya berbobot, kabar duka justru datang. Tunangannya, Vino (Deva Mahenra), meninggal akibat kecelakaan di lokasi syuting. 

Tentu saja Vino kembali sebagai hantu, tapi Naya tidak seketika dapat melihatnya. Sang adik, Darto (Endy Arfian), adalah yang pertama menyadari kemunculan Vino. Penyebabnya, Darto sedang menyentuh Naya, yang merupakan "benda berharga" bagi Vino. Naya sendiri baru bisa melihat sosok tunangannya selepas memegang kalung pemberian ibu Vino (Widyawati). 

Sebenarnya aspek ini agak mengganggu. Jika Naya memberi kemampuan orang lain untuk melihat Vino, kenapa ia sendiri, selaku "benda berharga", tak mampu melakukannya? Ada juga beberapa poin lain terkait unsur mistis yang menciptakan plot hole, tapi sebaiknya kita menerapkan suspension of disbelief agar dapat menikmati filmnya. Apalagi naskah buatan Acho dan Nonny Boenawan menawarkan penebusan dosa, dengan mengaitkan persoalan "benda berharga" tadi dengan elemen dramatik di penghujung durasi. 

Satu yang tanpa cela adalah humornya. Ghost Writer 2 merupakan film Indonesia terlucu 2022, setidaknya sampai tulisan ini dibuat. Kreatif, liar, tidak menahan diri, dan serupa film pertama, berhasil mengubah ragam situasi yang seharusnya mengerikan jadi memancing tawa. Duet Endy Arfian dan Iqbal Sulaiman paling bersinar dalam hal ini. Ketakutan mereka adalah kebahagiaan penonton. 

Sebagai sekuel, merupakan kewajaran kala Ghost Writer 2 memperluas skala, dan penceritaannya memang cukup ambisius dalam menyatukan genre. Di samping komedi romantis beraroma horor, ada pula drama keluarga yang melibatkan ibu Vino, pertanyaan soal kelayakan karya seni pop, juga latar belakang Siti (Annisa Hertami) si hantu wanita, yang menggiring alurnya merambah isu perdagangan manusia. 

Tidak semua transisi berlangsung mulus. Walau saya menyukai pilihan kesimpulannya, perjalanan Naya mempertanyakan bobot tulisannya (yang sebenarnya sejalan dengan proses sang protagonis menerima jati dirinya) jelas kekurangan porsi eksplorasi. Demikian pula drama keluarganya, tapi di sinilah kualitas akting serta sensitivitas para pembuatnya tampil sebagai penolong. 

Pilihan last shot-nya menarik. Menampilkan salah satu karakter menatap ke arah kamera, rasanya seperti tengah menonton tribute bagi figur dunia nyata yang telah pergi, di mana ia berpamitan pada orang-orang tercinta (saya bisa membayangkan, kalau di biopic, momen itu bakal disusul teks yang merangkum kehidupan si tokoh). Menyentuh. 

Di departemen akting, bahkan sedari momen kematian Vino hati saya sudah diiris oleh luapan emosi Tatjana dan Widyawati. Lalu di klimaks, melalui adegan yang seperti jadi momentum Acho melatih kemampuan mengarahkan long take, Widyawati menunjukkan alasannya pantas disebut "legenda". Karena di film seringan ini pun, ia sama sekali tak mengurangi olahan rasanya. Bahasa tubuhnya menyampaikan duka, tapi juga penolakan. Entah yang berasal dari fakta bahwa Vino telah tiada, maupun bentrokan perasaan kala hati kecilnya menyadari sudah bersikap keliru pada si putera tunggal. One of the best performances I've seen this year.

99 NAMA CINTA (2019)

99 Nama Cinta membuktikan jika film bernapas religi cenderung tampil lebih baik bila digarap oleh figur yang tidak “mabuk agama”. Mungkin anda tidak menyangka, tapi Garin Nugroho merupakan penulis naskah dalam karya teranyar sutradara Danial Rifki (Haji Backpacker, Meet Me After Sunset) ini. Walau jauh dari sempurna, damai rasanya mendapati di sini tidak ada kesan memaksa, menghakimi, menyudutkan, apalagi mengafirkan. Bahkan di akhir cerita, protagonisnya tak perlu terdorong mengenakan jilbab selaku bentuk “menemukan iman”.

Protagonis yang dimaksud bernama Talia (Acha Septriassa), pembaca acara gosip televisi dengan rating tinggi berjudul Bibir Talia. Prinsip “semua cuma bisnis, jangan bawa perasaan” diusung Talia. Baginya, kesuksesan program merupakan hal utama, sedangkan sisi kemanusiaan dan moralitas jadi nomor kesekian. Talia tidak ragu menjebak narasumber, mengadakan wawancara tanpa persetujuan demi rating. Talia tidak melangkah di jalan Allah, itu pasti.

Sampai datang ustaz muda misterius, mengaku diperintah oleh ibunda Talia (Ira Wibowo) agar mengajarinya mengaji. Kiblat (Deva Mahenra) nama sang ustaz. Rupanya ia putera Kiai Umar (Donny Damara), kawan lama orang tua Talia, yang dahulu menerima bantuan kala mendirikan pondok pesantren. Kedatangan Kiblat didasari atas janji Kiai Umar membalas budi dalam bentuk pembagian ilmu.

Sekilas 99 Nama Cinta tak ada bedanya dengan film religi kebanyakan. Dua sejoli berlawanan sikap saling jatuh cinta, lalu akhirnya si alim mampu menggiring si biang maksiat menemukan hidayah. Naskah buatan Garin tetap bermuara ke sana, namun proses beserta segala pernak-perniknya jadi pembeda. Melihat penggambaran Kiblat sebagai ulama muda berparas rupawan berpenampilan modis, Garin ingin menjauhkan dakwah Islam dari kekakuan.

Berpijak pada niatan tersebut, dihadirkanlah karakter Husna (Chicki Fawzi), ustazah muda lulusan universitas Korea Selatan yang mengajar di pondok pesantren Kiblat lewat media musik. Membawa ukulele, Husna bernyanyi di kelas sembari menuturkan bahwa dulu Wali Sanga menyebarkan Islam melalui musik. Bagi yang familiar dengan karya Garin, tentu tahu hal ini selaras dengan kegemarannya menyelipkan elemen kesenian sebagai penguat narasi.

Hubungan Talia dan Kiblat tidak langsung berjalan mulus mengingat keduanya amat berlawanan. Si wanita membawakan acara gosip, sedangkan si pria mengajarkan buruknya aktivitas bergosip kepada para murid. Di film lain, saya yakin Kiblat bakal mengonfrontasi Talia, terang-terangan menghakimi profesinya.Tapi tidak di sini. Kiblat adalah sosok toleran. Menyuarakan itu di kelas merupakan bentuk pelaksanaan kewajiban selaku guru agama, namun di depan Talia, ia enggan melarang, meski tak membenarkan juga. Dan baik Kiblat maupun Kiai Umar tak sekalipun menyuruh Talia beribadah.

Semua perubahan murni terjadi atas kesadaran Talia sendiri, yang bermula saat ia dipindahtugaskan mengurus kuliah subuh yang punya rating buruk dan dipandang sebagai acara buangan akibat sebuah kasus. Talia dipusingkan kala mendapati betapa membosankan program tersebut. Para penonton di studio tertidur, dan ketika dievaluasi, sang ustaz pengisi acara (Dedi “Miing” Gumelar) justru berkata “Acara keagamaan memang berat”. Bagaimana bisa muncul ketertarikan memperdalam agama bila ulama berpikiran demikian? Kita pun dapat menebak apa strategi yang dipilih Talia.

Terkait unsur religi, 99 Nama Cinta tampil memuaskan, bahkan termasuk salah satu yang terbaik dalam beberapa tahun terakhir. Masalah justru timbul di luar itu. Beberapa detail membuat saya mengernyitkan dahi. Kenapa Talia, si pembawa acara ternama, harus repot-repot naik bus ekonomi kala mengunjungi pondok pesantren? Apa susahnya menyewa sopir? Bukankah ia juga datang diantar sopir? Demi rating sekalipun, bukankah mustahil sebuah stasiun televisi bersedia “mengumpankan” anggota timnya sendiri sebagai bahan gosip?  Demi kesan dramatis, logika dikesampingkan.

Terkait dramatisasi, terdapat momen yang mengganggu, menggelikan alih-alih menggugah akibat pengadeganan berlebihan dari Danial Rifki, walau untuk hal ini, naskahnya ikut bertanggung jawab karena terburu-buru ingin menjabarkan bahwa Talia adalah individu berperasaan. Sementara romansanya justru hambar, sewaktu kecanggungan serta perbedaan Talia dan Kiblat mengurangi quality time keduanya. Sulit memedulikan keberlangsungan percintaan mereka. Setidaknya, seperti biasa, Acha Septriassa masih aktris dengan penampilan dinamis yang mampu diandalkan guna menghembuskan nyawa di tiap adegan, entah di ranah serius (drama) atau komedik.

GHOST WRITER (2019)

Apa yang lebih susah dari membuat komedi lucu? Membuat komedi lucu bertema unik seraya membangun humor sepanjang film berdasarkan tema tersebut. Debut penyutradaraan layar lebar Bene Dion Rajagukguk—sebelumnya menulis naskah dwilogi Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss!, Stip & Pensil, Suzzanna: Bernapas dalam Kubur—ini mampu melaksanakan tugas berat tersebut.

Sesungguhnya, dalam lingkup perfilman, konsep pertemanan atau romansa dua dunia jauh dari kesan baru. Baik vampir, monster, alien, zombie, sampai hantu, semua pernah menjalani hubungan dengan karakter manusia. Tapi Ghost Writer menyimpan kesegaran tersendiri berkat premisnya: What if your ghost writer is a real ghost?

Alkisah, Naya (Tatjana Saphira) adalah penulis yang tengah melalui masa sulit, meski membiayai hidupnya dan sang adik, Darto (Endy Arfian) selepas meninggalnya kedua orang tua. Pasca kesuksesan karya perdananya, ia belum juga menerbitkan novel baru. Alasannya, ia enggan menjual idealisme, menolak pendekatan opera sabun sebagaimana ditawarkan penerbitnya. Naya memang idealis bergengsi tinggi. Walau terhimpit urusan finansial, ia menolak bantuan kekasihnya, Vino (Deva Mahenra) dan ngotot memasukkan Darto ke sekolah bergengsi.

Itulah mengapa ia tak pikir dua kali kala menemukan rumah besar berharga murah. Sebaliknya, Darto curiga harga murah tersebut dikarenakan rumah itu angker. Naya bersikap skeptis menanggapi ketakutan Darto, namun setelah ia mengambil buku harian di loteng lalu berniat menjadikannya sebuah novel, peristiwa-peristiwa mistis mulai menimpanya. Rupanya buku itu milik hantu bernama Galih (Ge Pamungkas) yang meninggal bunuh diri di sana. Nasib tragis Galih menarik atensi penerbit, tapi si hantu menolak rencana mengangkat kisah hidupnya ke dalam novel.

Meski sempat takut, perlahan Naya mulai akrab dengan Galih, berusaha meminta persetujuannya, bahkan menawari posisi sebagai ghost writer. Serupa konsep Death Note Naya bisa melihat dan menyentuh Galih selama ia memegang buku harian tersebut. Hubungan keduanya menggemaskan, penuh kecanggungan menggelitik berkat kecerdikan naskah garapan Bene bersama Nonny Boenawan dalam mengimajinasikan interaksi kasual antara sosok hidup dan mati.

Penampilan dua pemeran utama juga banyak membantu, menghantarkan humor lewat gaya yang mencerminkan kondisi masing-masing karakter. Jika Tatjana begitu hidup, penuh semangat serta antusiasme, dan terkadang tidak tahu malu, Ge memaksimalkan metode deadpan. Kata-kata selalu meluncur dari mulut Naya, dan seringkali ucapan anehnya membuat Galih kehabisan kata. Kekontrasan-kekontrasan itu melengkapi dinamika kedua tokoh utama. Di luar lingkup Naya-Galih, naskahnya tetap konsisten melempar banyolan bertema hantu dan kematian. Contohnya melalui Abdul (Muhadkly Acho) dan Iwan (Arie Kriting), dua karyawan di kantor tempat Naya menerbitkan novelnya, yang tidak pernah jemu berdebat perihal mistis.

Selain penulisan cerdik, penyutradaraan Bene turut berjasa menambah kadar kelucuan. Mengawali karir sebagai komika membuktikan pemahaman Bene soal timing, yang nampak betul dalam caranya menyusun aliran adegan. Belum seluruhnya mulus, tapi secara umum, Bene tahu bagaimana agar saat suatu adegan berakhir, ada rasa penasaran tertinggal di benak penonton. Kita dipancing bertanya, “Kelucuan apa yang sedang menanti?”, sebelum melontarkan jawaban yang dibungkus ketepatan timing. Sayang, kebolehan serupa urung ditemukan kala ia mengarahkan situasi horor, yang mayoritas hadir medioker.

Kekurangan paling nyata dalam Ghost Writer sejatinya merupakan elemen yang kerap ditemukan pada produksi Starvision kebanyakan: Filmnya tampak murah. Misalnya riasan hantu yang kerap kurang merata. Benar bahwa Galih adalah hantu jenaka, tapi sumber kejenakaan itu tak seharusnya bersumber dari tata rias buruk. Berikutnya terkait transisi kasar antara adegan, sebuah penyakit yang bahkan gagal dihindari film-film kelas satu milik Starvision, semisal Cek Toko Sebelah.

Ghost Writer bermula ketika Ernest Prakasa (bertindak selaku produser di sini) membaca sinopsis buatan Nonny Boenawan, peserta kelas penulisan skenario yang ia adakan. Ernest langsung terpikat. Wajar saja, sebab ide Nonny memang brilian. Dan begitu sinopsis tadi berkembang menjadi film, terbukti betapa teknis murah tetap tak kuasa membendung kreativitas kaya.

DANCING IN THE RAIN (2018)

Sungguh hidup seperti putaran roda yang sulit ditebak arahnya. Baru tiga minggu lalu, Screenplay Films baru saja mempersembahkan karya terbaik mereka lewat Something in Between (review), sekarang muncul Dancing in the Rain sebagai salah satu yang terburuk. Film karya sutradara Rudi Aryanto (Surat Cinta untuk Starla the Movie, The Perfect Husband) ini mendobrak batas kengawuran bertutur disease porn. Setelah sempat beralih ke tangan Titien Wattimena, departemen penulisan naskah dikembalikan pada duo Tisa TS-Sukhdev Singh (Magic Hour, London Love Story) yang beranggapan bahwa penyakit merupakan satu-satunya penghasil penderitaan. Padahal, mereka yang sehat pun bisa menderita. Penonton film ini misalnya.

Saya takkan mengaku paham betul mengenai segala aspek medis film ini. Saya bukan ahli, bukan dokter, bukan pula psikolog. Apalah artinya ilmu saya yang butuh waktu 7,5 tahun menyelesaikan studi psikologi dibanding psikolog profesional yang (konon) jadi konsultan naskah sekaligus pendamping sepanjang proses produksi. Saya hanya bisa menyebut bahwa merujuk pada definisi DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition), akting Dimas Anggara sebagai pengidap gangguan spektrum autisme telah memenuhi simtoma-simtoma yang tertulis. Tapi saya tak bisa mengukur akurasinya secara detail, apalagi kondisi penderita autisme amat beragam. Satu hal pasti, Dimas melakukan yang ia bisa, sesuai keinginan sutradara dan petunjuk sang psikolog dalam proses yang saya yakin cukup singkat.

Pun saya yakin, Tisa dan Sukhdev melakukan wawancara kepada psikolog. Bukan karena naskahnya tersaji mendalam, namun beberapa kalimat terdengar bagai hasil verbatim (menulis ulang kata per kata tanpa pengubahan) dari wawancara formal, ketimbang ucapan manusia normal. Tengok saja voice over Ayu Dyah Pasha yang memerankan psikolog. Itu bukan ucapan psikolog pada klien. Itu pembacaan halaman Wikipedia.

Mari beranjak menuju alurnya, yang mengisahkan penderita spektrum autisme bernama Banyu (Dimas Anggara), yang akibat kondisinya, sulit meneukan teman. Di sekolah ia dijauhi, sementara di lingkungan sekitar rumahnya, ia jadi korban bully. Sampai ia bertemu Radin (Deva Mahenra) yang tumbuh sebagai sahabat sekaligus pelindung bagi Banyu. Kemudian Kinara (Bunga Zainal) turut masuk ke hidup mereka, bahkan saat beranjak memasuki masa kuliah, menjalin cinta dengan Radin. Untunglah film ini urung masuk ke ranah cinta segitiga, sebab kebersamaan Radin-Kinara amat disukai oleh Banyu.

Sebelum kehadiran Radin dan Kinara, Banyu hanya memiliki Eyang Uti (Christine Hakim), yang luar biasa sabar merawat sang cucu pasca ditelantarkan kedua orang tuanya. Tentu Christine Hakim merupakan hal terbaik Dancing in the Rain. Caranya meregulasi emosi luar biasa. Momen favorit saya adalah saat Katrin (Djenar Maesa Ayu), ibu Radin, mendatanginya, memaksa agar ia bersedia memutus pertemanan Banyu dengan Radin. Eyang berusaha sabar, pelan-pelan bicara, mempertahankan senyum, walau kita bisa merasakan amarah siap meledak. Hingga di satu titik ia tak kuat lagi, suaranya “pecah”, namun tak lama. Kembali ia mengatur emosinya. Such a bravura performance.

Tapi itu urung menyembunyikan keburukan naskahnya, termasuk penulisan karakter Eyang Uti. Dia betul-betul menyayangi Banyu, satu dari sedikit orang yang mengerti cara menanganinya, sehingga bagaimana mungkin ia seteledor itu meninggalkan Banyu sendirian di pasar? Tentu keteledoran itu dimaksudkan guna menciptakan momen dramatis, tanpa peduli masuk akal atau tidak. Pola serupa terus diulang. Di cafe, beberapa pria dengan lantang mencela Banyu (yang datang bersama Radin dan Kirana), menyebutnya idiot, mengejek gaya berpakaiannya. That’s a terrible soap opera level of dramatization. Sama halnya dengan penokohan dangkal Katrin, yang tak ubahnya sosok ibu antagonis tanpa nurani di sinetron, yang bicara sendiri di depan kamera mengungkapkan rencana jahatnya.

Saya sering kesal mendengar omongan “Ini film kelas FTV” atau “Sinetron banget deh filmya”. Kalimat-kalimat itu adalah simplifikasi rendahan. Tapi Dancing in the Rain benar-benar cocok akan deskripsi tersebut. Naskahnya eksis di universe yang sama dengan Jenazah Mandor Kejam Mati Terkubur Cor-Coran Dan Tertimpa Meteor. Tisa dan Sukhdev membuat semua karakternya terjangkit penyakit, entah agar hidup mereka lebih menderita, memberi pelajaran pada antagonis, atau menghadirkan haru lewat sebuah pengorbanan. Sekalinya mencoba memancing haru melalui momen tanpa penyakit, hasilnya justru canggung, ketika sang pembantu menyanyikan Lelo Ledhung ketika Banyu tengah menangis di dekapan Eyang Uti.

Menciptakan persamaan nasib di antara ketiga protagonis turut melucuti pesan penting mengenai perbedaan, bahwa kita harus memperlakukan semua orang sama, dan walau kita dianggap “normal” dan lebih sehat, bukan berarti kita berderajat lebih tinggi. Tapi apa peduli film yang seenaknya menggambarkan proses transplantasi jantung (silahkan anda cari dari beragam sumber mengenai detail prosedurnya) mengenai pesan? Setidaknya, saya bersyukur Rudi Aryanto masih mampu membungkus filmnya dalam tempo dinamis, enggan tampil bertele-tele dan membuang waktu. Karena jika tidak, menonton film ini akan semakin terasa membuang waktu.

BELOK KANAN BARCELONA (2018)

(Review ini mengandung SPOILER)
Belum ada film yang mampu membawa saya dalam hubungan cinta/benci seperti Belok Kanan Barcelona. Saya mencintai caranya menuturkan betapa cinta dapat mendorong seseorang berkorban meski harus menembus batas jarak dan waktu. Saya mencintai caranya mendefinisikan “cinta sejati” sebagai seseorang yang selalu ada di samping pujaan hatinya tanpa memaksa balik dicintai. Saya pun mencintai masing-masing karakter utamanya. Namun saya membenci ketika narasinya mulai terjun ke bab agama bahkan terkesan offensive di beberapa titik.

Mengadaptasi novel Traveler’s Tale: Belok Kanan Barcelona karya Adhitya Mulya, Ninit Yunita, Alaya Setya, dan Iman Hidayat, filmnya mengisahkan persahabatan Francis (Morgan Oey), Retno (Mikha Tambayong), Yusuf (Deva Mahenra), dan Farah (Anggika Bolsterli) yang kini tinggal terpisah di empat negara berbeda. Francis adalah pianis pemenang Grammy pertama asal Indonesia yang kini menetap di Los Angeles, Retno mengejar impiannya menjadi chef di Copenhagen, Yusuf mulai mendulang sukses di perusahaan di Cape Town, sedangkan Farah bekerja sebagai arsitek di Vietnam. Undangan pernikahan Francis dengan Inez (Millane Fernandez) di Barcelona memberi mereka alasan untuk bertemu lagi, walau satu sama lain tak mengetahui intensi tersebut.

Semua bermula dari masa SMA, tatkala persahabatan keempatnya mulai bersemi, demikian pula cinta. Francis menyukai Retno pun sebaliknya, Farah yang jadi tempat curhat Retno juga tertarik pada Francis, sementara Yusuf, si “penyedia bahu” bagi kesedihan Farah, turut diam-diam memendam rasa kepadanya. Apabila banyak film kita memposisikan kelulusan SMA selaku pembuka, Belok Kanan Barcelona menempatkannya di tengah, setelah terlebih dulu membawa penonton mengarungi flashback yang menyoroti dinamika empat tokoh utama semasa SMA, memantapkan pondasi karakter beserta persahabatan mereka. Naskah yang disusun Adhitya Mulya (Jomblo, Shy Shy Cat) apik dalam mempresentasikan manis sekaligus pahitnya mencintai kawan sendiri, ketika pengungkapan perasaan bak haram hukumnya demi menjaga kelanggengan pertemanan.

Departemen akting merupakan elemen terkuat filmnya. Morgan kharismatik seperti biasa sehingga mudah menerima saat Francis disukai dua gadis cantik walau detail penokohannya tak seberapa digali (baca: dia populer karena ganteng dan keren). Mikha mencurahkan emosi yang cukup meyakinkan untuk menjadkan ini performa terbaik sepanjang karirnya, tatkala Deva akhirnya memperoleh materi yang pas guna memfasilitasi talenta komediknya. Tapi magnet terbesar berasal dari Anggika melalui deretan ekspresi aneh dan ketiadaan urat malu dalam berlagak konyol termasuk merangkak di aspal, Farah merupakan peran yang bakal membuka lapang jalannya meraih status bintang kelas satu.

Sampai sini, Belok Kanan Barcelona bisa jadi salah satu film Indonesia terbaik 2018. Tontonan yang konsisten memberi tawa dalam pengalaman menonton menyenangkan. Penyutradaraan Guntur Soeharjanto (99 Cahaya di Langit Eropa, Ayat-Ayat Cinta 2) pun cukup efektif menciptakan adegan emosional saat melukiskan momen “crack-and-heal” suatu persahabatan.  Berbeda dibanding caranya menangani 2 film 99 Cahaya di Langit Eropa, latar luar negeri urung dieksploitasi sebagai lokasi cuci mata belaka, melainkan panggung pembuktian bahwa kekuatan cinta mampu mendorong seseorang melintasi dunia.

Mengesankan, hingga elemen religi menggedor masuk, yang awalnya dipicu perbedaan keyakinan Francis dan Retno. Saya suka sebaris kalimat ucapan ayah Retno (Cok Simbara) yang kurang lebih berbunyi, “Apa kamu tega membuat Francis harus memilih antara kamu (Retno) atau Tuhannya?”. Itu cara lembut untuk berkata “Jangan memacari orang berbeda agama”. Saya tak menyalahkan perspektif tersebut, sebab kenyataannya, hal itu sulit dijalani di Indonesia. (Spoiler starts hereSaya pun tak mempermasalahkan konklusi sewaktu Francis akhirnya memeluk Islam. Apa pun alasannya (sebatas untuk menikah atau memang keyakinan personal), itu cara paling aman agar bisa menghabiskan hidup bersama.

Masalah mencuat saat Belok Kanan Barcelona melukiskan orang Islam sebagai pemeluk agama luar biasa taat yang enggan berpindah keyakinan demi pernikahan dan bersedia solat di tengah padang pasir, tetapi sebaliknya, Pastor dan Suster di tengah situasi mengancam kala mesin pesawat yang ditumpang meledak, malah bertingkah konyol, saling menyatakan cinta, merengek alih-alih memanjatkan doa, setelah sepanjang perjalanan diperlihatkan sebagai orang-orang menyebalkan yang tak mempedulikan sekitarnya. Apabila cuma memunculkan salah satu (Muslim luar biasa taat atau mengolok-olok Pastor sebagai materi komedi), tidak jadi masalah. Namun ketika dihadirkan bersamaan, secara otomatis tercipta komparasi jomplang yang begitu mengganggu. Sengaja atau tidak, hal itu membuktikan ketidakpekaan para pembuatnya.

PARTIKELIR (2018)


Kalau saya setia mengikuti “buku pertaturan”, maka Partikelir adalah film buruk. Dalam debut penyutradaraannya, Pandji Pragiwaksono (juga menulis naskah bersama Goks Writing Team) kentara ingin membuat buddy movie. Pun filmnya dijual sebagai buddy movie sebagaimana diperlihatkan deretan poster parodinya yang merujuk pada judul-judul seperti Lethal Weapon, Hot Fuzz, 21 Jump Street, dan lain-lain. Masalahnya, Pandji dan tim kurang terampil menerapkan elemen-elemen vital penyusun sub-genre tersebut, tetapi, beberapa humor mampu hadir tepat sasaran.

Jadi bukankah berarti Partikelir sukses menghibur? Jawabannya relatif. Pertama kita rangkum unsur utama buddy movie khususnya yang mengedepankan komedi bercampur aksi. Seperti istilahnya, dinamika dua protagonis memegang signifikansi luar biasa. Jamaknya, mereka memiliki kepribadian berlawanan, kerap bertengkar, sampai akhirnya perlahan bersatu pasca melewati serangkaian aksi berhiaskan pernak-pernik humor. Partikelir punya Adri (Pandji Pragiwaksono), seorang detektif swasta nekat, serta Jaka (Deva Mahenra), pengacara dengan keseharian selaku “budak korporat”.
Semasa sekolah, keduanya bersahabat dekat, disatukan oleh keinginan menjadi detektif. Hingga sebuah peristiwa memecah pertemanan itu. Bukan cuma jarak, sifat Adri dan Jaka pun menjauh, saling bertolak belakang. Sekian tahun berselang, mereka bertemu lagi saat Adri sedang diminta bantuannya oleh Tiara (Aurelie Moeremans) guna menyelidiki bisnis sang ayah, yang menggiring Adri menuju rahaia soal narkoba bernama Rantau. Saya berasumsi, tali pertemanan Adri-Jaka bakal kembali seiring penyelidikan yang menggiring ke arah bahaya. Saya keliru. Mereka berdamai bahkan sebelum baku hantam dimulai. Alhasi, ketimbang dua pribadi berlainan yang terpaksa mengesampingkan perbedaan sambil terus adu argumen, Partikelir sebatas menyajikan dua pria konyol.

Seberapa keras Deva mencoba menghidupkan Jaka yang selalu meragu maupun Pandji memerankan Adri yang seenaknya, dinamika gagal terjalin karena pondasi alias nakahnya lemah. Kelemahan yang tidak berhenti di urusan dinamika antar tokoh, juga penyusunan misteri. Partikelir adalah film dengan protagonis detektif namun alurnya tak menyimpan daya tarik seputar misteri serta investigasi terhadapnya. Biar demikian, Pandji sejatinya merupakan komedian cerdas. Gelak tawa masih teripta, meski bukan berasal dari banyolan khas buddy comedy.
Saya menyukai suatu sekuen yang melibatkan penampilan singkat Gading Marten, yang membuktikan kejelian Pandji menyuguhkan kelucuan bermodalkan momen berisi lelucon tak lucu. So unfunny, it’s funny. Andai saja Pandji menambah kesolidan pondasinya alih-alih berusaha memenuhi ambisi besar pada debutnya sebagai sutradara ini. Dia ingin menyatukan segalanya. Komedi, aksi, sampai siratan romansa yang dipaksakan antara Adri dengan Tiara, si wanita yang bahkan fungsi keberadaannya layak dipertanyakan selain memberi kasus kepada Adri.

Bisa ditebak, ambisi Pandji menyertakan kritik bernuansa sosial-politik. Komedi bagus adalah komedi yang lucu. Komedi yang luar biasa adalah komedi yang mampu menyuarakan pesan kritis lewat kelucuan. Sedangkan Partikelir, bukannya “menyentil melalui komedi”, tapi “menyentil di tengah komedi”. Semakin mendekati akhir, metode “masuk paksa” untuk barisan kritik sosial-politik miliknya makin kentara. Termasuk pertanyaan besar mengenai perlunya twist tentang salah satu tokoh menjelang film berakhir yang semata-mata demi dua tujuan: 1) Kejutan, 2) Penyuluhan pesan anti-narkoba. Jika itu dihilangkan apakah akan mengurangi kelengkapan perkembangan karakternya? Tidak.

SATU HARI NANTI (2017)

Mengusung rating 21+, Satu Hari Nanti memang film dewasa. Bukan karena bertebaran sensualitas yang sesungguhnya sebatas beberapa ciuman "panas" dan lingerie Adinia Wirasti, melainkan tema beserta perspektif soal hubungan. Ditulis sekaligus disutradarai oleh Salman Aristo (Bukaan 8, Mencari Hilal), sudut pandang film yang mengetengahkan kisah saling tukar pasangan ini memang cenderung menyasar kalangan dewasa, di mana romantika bukan cuma aktivitas "manis-manis manja", istilah "best friend forever" tidak eksis, sedangkan setting luar negeri bukan dipakai sebagai lahan jalan-jalan ria. 

Bertempat di Swiss memfasilitasi (atau tepatnya memudahkan) empat tokoh utamanya menjalin asmara, tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan. Bima (Deva Mahenra) yang bergulat meniti karir musik mendapati hubungannya dengan Alya (Adinia Wirasti) yang tengah menempuh pendidikan chocolatier semakin hambar, sementara Chorina (Ayushita Nugraha) si manajer hotel harus sabar menyikapi kegemaran kekasihnya yang berprofesi sebagai tour guide, Din (Ringgo Agus Rahman), bermain wanita. Kedua pasangan ini saling mendukung, menyediakan tempat bersandar kala masing-masing diterpa permasalahan. Sampai semua berjalan terlalu jauh, dan persahabatan berkembang menjadi hasrat menggebu. 
Satu kelebihan yang kerap Salman Aristo munculkan lewat skenario buatannya yakni karakter solid. Dalam Satu Hari Nanti, mudah mendeteksi apa yang tiap tokoh rasakan, inginkan, atau keluhkan dari pasangannya. Serupa pendekatan filmnya, keempat protagonis bukan lagi muda-mudi naif yang selalu kagum bak turis di negeri orang. Akhirnya, biarpun kamera Faozan Rizal sanggup menyibak indahnya alam setempat, dan Aghi Narottama bersama Bemby Gusti membuat musik bernuansa Eropa, Satu Hari Nanti tidak tampil "kampungan" kala enggan meluangkan terlampau banyak waktu berwisata. 

Dewasa dan elegan. Dua kata itu menyusun gerak langkah filmnya, setidaknya itu yang ingin dituju Salman Aristo saat menekan letupan emosi sambil membangun interaksi melalui barisan pembicaraan yang dipakai karakternya untuk menuangkan kegelisahan ketimbang bertukar bahasa puitis. Pun daripada momentum bergelora, Salman memilih memberi panggung bagi jajaran pemain sebagai pembentuk rasa, khususnya Adinia Wirasti yang kembali piawai memberi bobot untuk adegan sesederhana apapun. Tidak semua keputusan Alya simpatik, tapi Adinia bisa mengajak penonton bertahan di sisinya.
Sayang, penyutradaraan Salman Aristo tak memiliki sensitivitas sekuat sang aktris. Keinginan memasang wajah dewasa nan elegan membuatnya lalai menghembuskan rasa. Tidak dibarengi pembentukan dinamika mumpuni ditambah dialog tanpa pokok pembicaraan yang mampu menyulut kemauan penonton menyelami detail setiap kata, Satu Hari Nanti tersaji sedingin Swiss. Padahal bila diamati, tersimpan setumpuk gagasan menarik mengenai cinta, mimpi, hingga gejolak batin manusiawi, yang gagal tertuang maksimal layaknya seseorang penuh ide yang bingung cara menumpahkannya. Penonton dapat menangkap setumpuk gagasan itu, tapi sulit merasa terikat, yang artinya, Satu Hari Nanti hanya bekerja di ranah kognitif, bukan afektif. 

Kekurangan tersebut berakibat fatal tatkala konklusi yang bermakna dan berpotensi mengguncang emosi secara subtil akhirnya kurang berdampak. Mengangkat tagline "Cinta itu Perjalanan", Satu Hari Nanti justru melangkah lemah di paruh tengah, membuat destinasi yang sebenarnya spesial berujung hambar. Padahal resolusi yang dipilih untuk menutup persoalan kedua (atau keempat) hubungan sudah selaras dengan kedewasaan berbasis realita yang dituju. Apalagi ketika Chorina tidak lagi membutuhkan bantuan untuk memotong cokelat kepunyaannya. Tersirat namun kuat. 


Note: Diputar dalam rangkaian Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2017

KELUARGA TAK KASAT MATA (2017)

Keluarga Tak Kasat Mata adalah film jelek. Sangat jelek. Dan sesuai tradisi, film berkualitas jauh di bawah rata-rata akan mendapat review spesial. Tapi 2 hari berselang, saya buntu. Ketika ulasan Coco dan Murder on the Orient Express yang ditonton belakangan sudah dipublikasikan, ide belum juga mengalir bagi Keluarga Tak Kasat Mata. Saking bingungnya, sempat terpikir menerbitkan satu halaman nyaris kosong bertuliskan "Ini adalah review tak kasat mata", namun urung saya lakukan. Karena itu sama saja dengan pembuat filmnya, yang kehabisan akal lalu memilih jalur luar biasa malas sekaligus bodoh.

Setahun lalu, ketika horor tanah air cenderung jalan di tempat, kelemahan akut Keluarga Tak Kasat Mata mungkin bisa sedikit (catat: SEDIKIT) dimaafkan. Paling tidak ini bukan tontonan antah berantah macam Dia Pasti Datang atau Video Maut yang memperlihatkan keburukan tidak mempunyai batas. Terima kasih Joko Anwar, Pengabdi Setan memasang standar baru. Kini, production value lumayan (catat: LUMAYAN) saja tak cukup memberi rasa maklum. Apalagi dalam film seperti Keluarga Tak Kasat Mata yang layaknya "kaum sumbu pendek" Indonesia, mudah curiga dan insecure. Pulpen jatuh musik berdentum, sebaris dialog selesai musik berdentum, hantu muncul sekelebat pun musik berdentum. 
Apa yang terjadi saat para makhluk halus sungguh-sungguh menampakkan wujud? Menurut sutradara Hedy Suryawan (Rock N Love), jawabannya adalah close-up ekstrim, dan tentu saja musik berdentum. Bagai Benedict Cumberbatch yang doyan mengganggu sesi foto karpet merah, hantu film ini suka melakukan photo bomb, tiba-tiba muncul memenuhi seisi layar bioskop, yang daripada menakutkan justru memancing tawa. Lucu, jauh lebih lucu ketimbang karakter Bebek (Kemal Palevi) yang memanfaatkan tiap kemunculan untuk merengek, bertingkah menyebalkan, berusaha tampil konyol meski sama sekali tidak lucu.

Soal membangun intensitas filmnya juga punya metode murahan. Ketegangan berbasis kekacauan situasi disamakan dengan editing lompat-lompat, kala secara ajaib, tokohnya bisa mendadak berpindah tempat. Entah di antaranya ada transisi tak kasat mata atau pembuat filmnya menganggap Genta (Deva Mahenra) dan kawan-kawan sebagai David Copperfield yang tengah melakukan sulap pindah tempat dalam sekejap dibantu trik kamera. Deva sendiri kesulitan menangani peran protagonis horor yang dituntut senantiasa takut dan curiga, akibat kosongnya pengekspresian rasa. 
Cerita Keluarga Tak Kasat Mata buatan Bonaventura D Genta yang populer di Kaskus pada dasarnya merupakan rangkaian pengalaman melihat hantu atau mendengar suara aneh, yang mengerikan karena membiarkan imajinasi serta asumsi pembaca berkeliaran. Mengangkatnya mentah-mentah ke layar lebar, seperti tangisan wanita yang rutin terdengar tiap beberapa menit, menghasilkan ketiadaan eksistensi alur pun daya cekam. Walau tidak sampai satu setengah jam, karena sekedar diisi penampakan satu ke berikutnya, Keluarga Tak Kasat Mata seolah berjalan sehari penuh. Bisa dipahami jika anda merasa sedang terjebak di kutukan lingkaran waktu tanpa ujung serupa Jessica Rothe di Happy Death Day.

Ada usaha merajut alur, namun naskah buatan trio Lele Laila, Evelyn Afnila, dan Bonaventura D Genta mengandung setumpuk poin yang pantas dipertanyakan, dari esensi tulisan penanda waktu serta lokasi yang hanya tampak di awal, hingga resolusi seputar para keluarga tak kasat mata di kantor Genta. Penonton bukan Genta dan Rudi (Gandindra Bimo) yang mampu memahami masalah makhluk halus hanya lewat pertanda ambigu dalam mimpi. Penonton butuh elaborasi. Tak perlu gamblang, cukup pemaparan berbentuk struktur cerita rapi alih-alih plot tak kasat mata dalam film berkualitas tak kasat mata pula. 

JOMBLO (2017)

Jomblo versi 2017 punya niat mengenalkan nama besar adaptasi novel berjudul sama buatan Adhitya Mulya pada generasi masa kini sembari tetap merangkul penggemar lama, salah satunya dengan mempertahankan Hanung Bramantyo di kursi penyutradaraan. Masalahnya, remake ini bak lupa alasan film aslinya disukai. Jomblo versi 2006 mewakili liku hidup remaja, khususnya mahasiswa yang diisi keliaran menyenangkan, dari menghisap ganja, mencoba seks, sampai merebut pacar sahabat. Poin terakhir dipertahankan, tapi secara keseluruhan lebih "jinak" (tentu empat protagonis bukan lagi perokok berat), hanya tertarik menertawakan kebodohan tingkah para jomblo mencari cinta.

Untuk sedikit melihat gambaran perbandingan dua versi, mari tengok lagu tema masing-masing. Versi lama memiliki BDG 19 OKT dengan petikan lirik "Segala yang kuberi, tak pernah berarti, berat terasa, habiskan darahku, menusuk tulangku, yang lelah" adalah nomor rock seputar curahan hati. Sedangkan remake-nya ditemani Jomblo dengan hook pada bagian "Masih betah jadi jomblo, Since Grow, Sampai kapan jadi jomblo, Since Grow" selaku hip hop nuansa modern yang lebih lugas dan playful. Intinya, didorong menyasar para milenial, Jomblo berusaha tampil (lebih) ringan yang sayangnya berujung simplifikasi kosong.
Empat tokoh utamanya masih sama, Agus (Ge Pamungkas) yang berambisi mengakhiri masa jomblo kala bertemu teman lamanya, Rita (Natasha Rizky), Bimo (Arie Kriting) yang menembak semua wanita, Doni (Richard Kyle) si playboy ganteng, dan Olip (Deva Mahenra) yang takut berkenalan dengan Asri (Aurelie Moeremans). Dari luar, kepribadian pula permasalahan tetap sama. Bedanya, walau konflik meninggi hingga mengancam jalannya persahabatan, kali ini sulit merasa terikat karena jarangnya momen kebersamaan. Benar mereka sempat nongkrong di kampus tetangga atau berlibur ke pantai bersama, tapi semua belum cukup kuat menggambarkan ikatan pertemanan. 

Agar peduli, penonton butuh keintiman, sebagaimana kala Bimo-nya Dennis Adhiswara tersenyum pilu sambil dipeluk tiga sahabatnya. Tanpanya, Jomblo begitu hampa rasa, tidak peduli berapa banyak air mata tumpah maupun seberapa keras pukulan Deva Mahenra ke pipi Richard Kyle ketika perselisihan memanas. Pun keputusan mempertahankan konklusi bittersweet turut nihil dampak. Satu-satunya perubahan positif dari naskah garapan Adhitya Mulya dan Ifan Ismail adalah menjadikan Olip bukan lagi creepy stalker, melainkan pria pemalu yang diakibatkan tekanan untuk selalu berhasil dari latarnya sebagai anak tentara. 
Sisi komedi tampil selaku penyelamat melalui sentuhan humor menghibur yang sesekali terjun ke ranah absurditas. Tapi penekanan terhadap komedi turut membawa efek negatif, yakni karakter utama yang sebatas karikatur ketimbang manusia nyata. Contohnya Ge Pamungkas. Meski ahli memainkan kekonyolan berlebihan, tapi kekonyolan itu pula yang mendorong Agus menjadi sosok komikal nan artificial belaka. Toh itu belum seberapa dibanding Richard Kyle yang bagaikan robot berperut six pack dengan pengucapan kalimat carut-marut. Deva tampil meyakinkan, sehingga patut disayangkan filmnya terlampau menyoroti Agus dan mengesampingkan Olip, padahal dialah tokoh paling kompleks.

Demi menyulut nostalgia, homage diselipkan, pun beberapa komponen film sebelumnya dipertahankan walau banyak di antaranya terkesan asal tempel. Misalnya penokohan Bimo, sebagai orang Papua yang lahir di Jogja. Mengapa tidak sekalian mengubahnya secara menyeluruh? Pilihan ini nihil substansi, tidak dipakai sebagai sumber humor, tidak pula disinggung lagi di kemudian waktu. Jomblo begitu berhasrat menjadi berbeda sampai kehilangan semangat aslinya, tetapi ingin juga mencuri perhatian penggemar lama tanpa memahami sisi yang mereka kagumi atau aspek mana yang perlu disertakan. Dalam usahanya merenggut atensi remaja milenial, Jomblo rupanya serupa sederet dari mereka yang mengalami krisis identitas.