Tampilkan postingan dengan label Ganindra Bimo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ganindra Bimo. Tampilkan semua postingan

REVIEW - JAKARTA VS EVERYBODY

Seksualitas, kisah seputar narkoba yang tidak digiring ke ranah iklan layanan masyarakat atau tearjerker, Jefri Nichol tampil bukan sebagai sosok "bad-but-good boy". Poin-poin tersebut rasanya bakal membuat Jakarta vs Everybody banyak menerima label "berani" dan "berbeda". Keberaniannya memang harus diakui, tetapi karya terbaru sutradara Ertanto Robby Soediskam ini sesungguhnya termasuk suguhan tipikal.

Tipikal sebuah film yang berkeinginan tampil liar, dengan mendesain sang protagonis sebagai individu dengan hidup yang sejauh mungkin menjauhi moralitas, sembari menyelipkan beberapa "adegan panas". Jakarta vs Everybody terlalu sibuk berusaha tampil liar, sampai lupa untuk tampil dalam. 

Dom (Jefri Nichol) tengah merasakan kerasnya merantau di ibu kota. Mimpinya menjadi aktor selalu menemui tembok penghalang, dari proses kurang menyenangkan sebagai figuran, hingga casting director nakal. Di tengah keputusasaan, ia bertemu Radit (Ganindra Bimo) dan Pinkan (Wulan Guritno), sepasang kekasih sekaligus bandar narkoba. Demi bertahan hidup, Dom memutuskan bergabung sebagai kurir.

Alur Jakarta vs Everybody didominasi keseharian Dom, yang memakai talenta keaktorannya, memerankan beragam sosok untuk memuluskan aksi. Menyaksikan Dom bermain peran (baca: menyamar), dari sebatas mengenakan seragam kurir pizza hingga bertransformasi jadi waria, lalu mengaplikasikan ilmu "cara mengantar dan menyembunyikan narkoba", adalah pemandangan menarik. 

Alih-alih di depan kamera, Dom menerapkan bakat aktingnya di dunia gelap. Terselip ironi, namun naskah buatan Ertanto (berdasarkan cerita buah pikirnya bersama Jefri) lalai membukakan pintu menuju ruang intim karakternya. Jika ngin membangun paralel antara "Dom si aktor" dan "Dom si kurir narkoba", dinamika psikis yang ia lewati di tiap transformasi, pula pertentangan batinnya, perlu dieksplorasi. Jakarta vs Everybody terlalu dangkal memandang konsep akting. Apa yang diperlihatkan di sini tak ubahnya cosplay semata. 

Alhasil di beberapa titik filmnya terasa repetitif. Dom menyamar, menaruh narkoba, mengamati si konsumen, selesai. Setidaknya, berkat permainan tempo apik dari sang sutradara, visual berhiaskan warna-warna cantik, pula ditambah selipan humor, film ini tak pernah membosankan sepanjang kurang lebih 101 menit durasinya. 

Gerakannya cepat. Terlebih kala departemen penyuntingan menampilkan lompatan-lompatan kasar antar adegan. Bukan kekurangan, melainkan kesengajaan guna mewakili keliaran kisahnya, juga upaya menghidupkan wajah ibu kota yang selalu bergulir kencang seolah tak terkendali. 

Jakarta vs Everybody beruntung diisi jajaran cast mumpuni. Ganindra Bimo, Wulan Guritno, pula Jajang C. Noer sebagai Ratih si pengurus apartemen, tampil solid sesuai porsi masing-masing. Sedangkan Jefri menegaskan kelebihan terbesarnya, yang sesungguhnya telah sang aktor kerap perlihatkan, yakni kenaturalan. Serupa Reza Rahadian hanya saja dengan gaya jauh berbeda, Jefri jagonya mempertahankan realisme dalam situasi kasual, sembari melahirkan chemistry alami dengan siapa pun lawan mainnya.

Lalu ada Dea Panendra sebagai Khansa si perias mayat sekaligus salah satu pelanggan Dom. Di antara semua karakter, Khansa, yang memasang foto-foto mayat hasil riasannya di kamar, paling memancing keinginan  untuk mengenal lebih jauh. Apalagi Dea kembali unjuk gigi sebagai scene stealer (urusan sensualitas, dia juga yang tampil paling berani di sini). "Alah jembut stereotype" bakal jadi kandidat quote of the year berkatnya. 

Sayangnya, meski mempunyai deretan pemain handal, naskah Ertanto Robby Soediskam masih diganggu kelemahan layaknya Ave Maryam (2018), yaitu dorongan memasukkan kalimat bijak nan puitis, tanpa memperhatikan apakah kalimat tersebut terlontar dari mulut orang yang tepat. Misal saat Radit membicarakan perihal konsep realita dan waktu, atau celetukan Khansa mengenai hidup dan mati. Bukan soal gagasan, tapi pilihan diksi yang tak sesuai dengan penokohan keduanya.

Begitulah Jakarta vs Everybody. Ada kalanya menghibur, bersinar, namun tak jarang terjatuh ke dalam lubang-lubang kekurangan. Mungkin filmnya terlalu jauh meresapi nyawa ibu kota, di mana memperoleh segala hal baik sesuai kemauan tanpa direcoki keburukan merupakan kemustahilan. 

(Bioskop Online)

REVIEW - KAMU TIDAK SENDIRI

Lahir dari cerita gagasan Lukman Sardi, kemudian ditulis naskahnya oleh Titien Wattimena, Kamu Tidak Sendiri memiliki bentuk menarik. Berlatar di tengah gempa dahsyat, ini bukan tentang hancurnya seisi kota akibat bencana, tapi bagaimana bencana itu berdampak pada segelintir individu. 

Ada dua tokoh sentral, yakni Mira (Adinia Wirasti), bos yang dikenal galak oleh anak buahnya, dan Adrian (Rio Dewanto), mantan anggota SAR yang kini menjadi sekuriti gedung kantor Mira. Suatu malam setelah lembur, Mira berada satu lift dengan Mika (Ganindra Bimo), yang sudah lama menjadi pengagum rahasianya. Mendadak lift tersebut macet, mengurung Mira bersama pria yang baru dikenalnya.

Saya mempertanyakan fungsi Mika di narasinya. Jika diniati sebagai pemicu kesediaan Mira membuka diri pada orang lain (selama ini dia menutup diri, baik dari keluarga maupun rekan kerja), rasanya kurang sesuai. Pertama, karena tutur kata Mika memberi kesan creepy, yang ada di garis batas antara pengagum dan penguntit. Kedua, peran itu sudah diemban Adrian, begitu ia berkomunikasi dengan Mira melalui interkom. 

Dimulainya interaksi Mira-Adrian turut mengawali titik balik Kamu Tidak Sendiri, dari thriller satu lokasi biasa, menjadi tuturan yang berorientasi psikis. Saya yakin, banyak penonton juga mengira Adrian bakal melakoni peran ala jagoan dalam film bencana, yang dengan heroik muncul selaku penyelamat. Rupanya tidak. Kita justru hampir tidak pernah melihat wajah Adrian, dan lebih banyak mendengar suaranya.

Inilah daya tarik terbesar filmnya. Bukan sebuah upaya bertahan hidup sarat aksi, melainkan soal kekuatan kata-kata dalam interaksi manusia. Adrian memberi pertolongan pertama, yang bukan (hanya) menyasar fisik, pula psikis. Naskahnya secara bertahap membangun hubungan kedua tokoh, menjadikan ikatan keduanya terasa masuk akal, ketika pelan-pelan mereka (khususnya Mira) mulai membuka diri. 

Obrolan Mira dan Adrian pun tersaji menghibur berkat sentuhan humor. Ketika banyak thriller kita justru melelahkan akibat menganggap dirinya terlampau serius, Kamu Tidak Sendiri tampil sebaliknya. Materi humornya memang cenderung hit-and-miss, namun kehadirannya tidak dipaksakan, bukan sebatas "ayo melucu" demi pemanis, tapi substansial membangun dinamika karakternya. 

Arwin T Wardhana selaku sutradara, dibantu Yadi Sugandi sebagai penata kamera, banyak memakai close-up, yang selain langkah cerdik menutupi sebuah twist, juga bentuk kepercayaan terhadap talenta Adinia Wirasti.  Seperti biasa, penampilannya kuat. Adinia tahu kapan harus meredam diri, kapan waktunya meledakkan emosi. Dialah pondasi yang menjaga film ini berdiri kokoh, biarpun acap kali Arwin bak terbuai akan performa sang aktris, sehingga terlalu lama menghabiskan waktu di satu titik (terutama tiap Adinia bercucuran air mata). Pacing penuturannya pun jadi terganggu.

Kamu Tidak Sendiri juga masih belum lepas dari masalah film berlokasi tunggal, yakni kurangnya variasi peristiwa. Ada kalanya timbul kesan monoton, apalagi saat momen-momen halusinasi tampil lebih banyak dari seharusnya, termasuk "pertemuan khayal" antara Mira dan Adrian, yang daripada menyentuh, malah berakhir cheesy. 

(JAFF 2021)

REVIEW - WARKOP DKI REBORN 4

"Nongkrong di warung kopi, Nyentil sana dan sini

Sekedar suara rakyat kecil, Bukannya mau usil"

Begitu bunyi lirik lagu Obrolan Warung Kopi milik Warkop DKI, yang menyiratkan peran mereka, yang bukan sebatas pelawak biasa, melainkan tukang sentil sana-sini yang mewakili keresahan rakyat melalui banyolan. Atas nama modernisasi, esensi tersebut memudar, bahkan nyaris sepenuhnya lenyap, sejak proyek reborn pertama diluncurkan empat tahun lalu. Modernisasi salah kaprah, yang cuma meng-upgrade gaya, biaya, serta teknologi, tapi tidak humor, apalagi sentilannya.

Bahkan setelah Warkop DKI Reborn 3 (2019) mengganti sosok-sosok yang terlibat, baik di depan maupun belakang layar, hasilnya masih sama, kalau tidak lebih buruk. Perolehan jumlah penonton yang menurun drastis (sekitar 843 ribu) seolah membuktikan bahwa publik sudah lelah dengan proyek reborn, yang alih-alih “melahirkan kembali”, justru terasa asing ini.

Melanjutkan kisah film sebelumnya, trio Dono (Aliando Syarief), Kasino (Adipati Dolken), dan Indro (Randy Nidji) terlibat petualangan di Maroko, guna menyelamatkan Inka (Salshabilla Adriani). Dibantu gadis setempat, Aisyah (Aurora Ribero), ketiganya mesti menghadapi barisan penjahat, termasuk bos mafia bernama Aminta Bacem, yang diperankan oleh “kembaran” Amitabh Bachhan, Rajkumar Bakhtiani. Memang Rajkumar sangat mirip dengan sang aktor legendaris, tapi di luar itu, tidak ada kualitas apa pun yang ia tawarkan.

Apakah kalian ingat alasan Dono-Kasino-Indro sampai di Maroko? Apakah kalian ingat kalau semua kekacauan ini bermula saat Komandan Cok (Indro Warkop) merekrut mereka untuk membongkar praktek pencucian uang di industri film yang dilakukan oleh Amir Muka (Ganindra Bimo)? Wajar jika tidak. Sebab naskah buatan sutradara Rako Prijanto dan Anggoro Saronto membuang persoalan di atas.

Selama sekitar 103 menit, Warkop DKI Reborn 4 hanya meninggalkan satu poin: Trio protagonisnya harus menyelamatkan Inka. Perjalanan 103 menit yang dibungkus penceritaan berantakan, di mana satu adegan dengan adegan berikutnya, dipaksakan saling berkaitan, atau malah tanpa kaitan sama sekali. Penyuntingan buruk yang menciptakan transisi-transisi kasar pun semakin menambah sakit kepala kala menonton.

Kelemahan itu sejatinya bisa disangkal dengan opini, “film Warkop DKI bukan soal kerapian bercerita”. Tidak salah. Tapi bagaimana terkait kemampuannya menghibur lewat perpaduan aksi dan komedi? Rako bukan sutradara yang piawai mengolah aksi. Tentu saja saya mengatakan itu bukan didasari keinginan melihat laga sekelas The Raid, melainkan ketiadaan antusiasme. Eksekusinya tak bertenaga.

Sedangkan humornya, meski masih dibarengi efek suara konyol ala sinetron murahan, dan lebih sederhana (baca: kurang kreatif) dibanding film-film sebelumnya (Dua seri Jangkrik Boss dengan keanehan khas Anggy Umbara, Warkop DKI Reborn 3 dengan visualisasi lawakan dari kaset Warkop DKI), masih bisa memancing beberapa tawa berkat penampilan trio aktor utama. Adipati bukanlah Kasino. Setidaknya, akan sulit baginya meniru cara bicara Kasino. Sesuatu yang ia sadari, sehingga memilih fokus pada gestur dan ekspresi jenaka. Aliando, biarpun diganggu riasan buruk, mampu meneruskan pencapaian Abimana dalam menghidupkan kembali sosok Dono di layar lebar. Sedangkan Randy lebih subtil, namun jika ditanya, “Siapa yang paling mirip luar-dalam dengan Warkop DKI asli?”, saya bakal menyebut namanya.

Sayang, performa mereka jadi tak maksimal akibat materi yang hit-and-miss, pula kental seksime. Benar bahwa film-film Warkop DKI rilisan Soraya tampil serupa, tapi bukan berarti harus diikuti. Bukankah ini modernisasi? Hal-hal seperti inilah yang mestinya mendapatkan upgrade. Bukan skala, teknologi, apalagi penambahan twist tak perlu yang seolah jadi suatu keharusan agar sebuah film dipandang “keren”.


Available on DISNEY+ HOTSTAR

PEMBURU DI MANCHESTER BIRU (2020)

Berdasarkan buku non-fiksi berjudul sama buatan Hanif Thamrin, Pemburu di Manchester Biru berusaha menuturkan kisah inspiratif. Mengapa inspiratif? Sebab Hanif merupakan orang Indonesia pertama yang bekerja di kelab sepak bola Inggris, Manchester City. Sebagai apa? Indonesian Content Producer. Apa detail pekerjaannya? Kurang jelas. Apa kemampuan terbaik Hanif? Juga kurang jelas. Jangankan inspiratif, akibat ketidakjelasan tersebut, memedulikan perjuangan tokoh utamanya saja sulit.

Sejak awal kita diperlihatkan bagaimana Hanif (Adipati Dolken) kesulitan mencari pekerjaan setelah pendidikannya di London usai. Walau tanpa pekerjaan, kesulitan uang, dan harus terus menumpang di apartemen milik sahabatnya yang kaya, Pringga (Ganindra Bimo), Hanif menolak pulang ke Indonesia sebelum menepati janji kepada mendiang ayahnya (Donny Alamsyah). Lau kesempatan datang saat ia diterima bekerja di Manchester City, dan gerbang terwujudnya mimpi Hanif menjadi jurnalis pun terbuka, meski jalan terjal masih harus ditempuh.

Di sebuah flashback, Hanif kecil mengerjakan tugas sekolah tentang cita-cita, lalu sang ayah mengatakan bahwa menjadi orang baik juga sebuah cita-cita. Kisahnya, yang diadaptasi ke dalam naskah oleh Titien Wattimena (Dilan 1990, Aruna & Lidahnya), memaparkan perjalanan Hanif menjadi orang baik. Walau sempat jatuh kala diperlakukan keras oleh atasan, Hanif akhirnya merespon positif, termasuk bersikap ramah dengan membuatkan makanan untuk si atasan. Bukan pesan yang buruk, tapi itu saja tidak cukup. Hanif harus terbukti kompeten agar perjuangannya patut didukung.

Tapi, selain keputusan membuat akun YouTube, tidak banyak keunggulan dipamerkan protagonisnya. Justru ia banyak mendapat kemudahan berkat orang-orang di sekitarnya, yang tetap setia mengulurkan bantuan, bahkan ketika Hanif kerap bersikap egois di tengah keputusasaannya. Begitu memperoleh kesempatan, ia justru membuangnya akibat tindakan ceroboh. Jangan pula berharap mendapat gambaran lebih jauh mengenai profesi Hanif, karena Pemburu di Manchester Biru merupakan film mengenai tokoh yang bekerja di kelab sepak bola namun jarang membicarakan sepak bola maupun detail pekerjannya.

Setidaknya Pemburu di Manchester Biru masih cukup tertolong berkat departemen teknis juga penyutradaraan Rako Prijanto (Teman tapi Menikah, Warkop DKI Reborn) yang memadai. Selain penanganan pacing yang baik—sehingga biarpun naskahnya dangkal film ini tetap nyaman diikuti layaknya catatan harian yang menghibur—Rako pun bisa mengemas filmnya supaya terlihat lebih mahal dari seharusnya. Salah satu “manipulasi” tersebut diterapkan dalam beberapa adegan berlatar Stadion Etihad. Jika teliti, anda akan tahu kalau itu bukan Etihad, melainkan Loftus Road milik Queens Park Rangers, tapi “kepalsuan” itu takkan mudah dideteksi.

Akting para pemainnya juga ikut membantu. Adipati Dolken punya kenaturalan dalam menangani kalimat dan emosi, sementara Ganindra Bimo menghibur dengan penampilan berenerginya. Sedikit kejutan hadir dari pemeran sosok legendaris Les “Chappy” Chapman (maaf, saya melupakan namanya). Biasanya, aktor pendukung bule di film kita, hadir dengan performa kaku, tapi tidak dengannya, yang menghembuskan kehangatan di tengah dinginnya rekan-rekan kerja Hanif. Sayangnya, sebagai biografi seorang figur yang karirnya sempat ramai diperbincangkan, Pemburu di Manchester Biru juga terasa dingin.

WARKOP DKI REBORN (2019)

Selucu-lucunya film klasik Warkop DKI, rasanya semua setuju kalau media audio, yang dulu banyak beredar dalam rekaman kaset, lebih mewadahi kelucuan mereka (silahkan cari di YouTube dan siap-siap sakit perut). Dalam proyek Reborn ketiga—yang tidak mengusung embel-embel “Part 3”—ini, terdapat usaha memvisualisasikan humor verbal Warkop, yang malah menegaskan ketidakcocokan alih media tersebut. Bahkan secara keseluruhan, Warkop DKI Reborn mungkin pertanda bahwa regenerasi Warkop DKI bukan ide yang baik.

Saya selalu tergelak mendengar banyolan “Marga Batak”, tapi kala filmnya menerjemahkan itu ke layar, biarpun intensinya selaku penghormatan patut diapresiasi, tawa tak juga hadir. Selipan humor-humor Warkop lain pun bernasib sama. Apalagi sewaktu secara beruntun, naskah buatan  Anggoro Santoro (Sang Kiai, Bangkit!, Cahaya Cinta Pesantren) bersama sutradara Rako Prijanto (Sang Kiai, Teman Tapi Menikah, Asal Kau Bahagia) bergantung pada lawakan pervert ala film Warkop produksi Soraya era 90-an.

Ide ceritanya sendiri menarik, yaitu perekrutan trio penyiar radio, Dono (Aliando Syarief), Kasino (Adipati Dolken), Indro (Randy Danistha) oleh Komandan Cok (Indro Warkop) untuk menjadi agen rahasia guna menyibak praktek pencucian uang di industri perfilman tanah air. Jadilah mereka terlibat proyek film buatan rumah produksi milik Amir Muka (Ganindra Bimo), menyulut kekacauan di set, lalu bersinggungan dengan aktris cantik bernama Inka (Salshabilla Adriani).

Sampai di sini, semuanya berjalan lancar, hingga Warkop DKI Reborn memutuskan melebarkan sayap dengan memperbesar skala. Tidak main-main, filmnya membawa Dono-Kasino-Indro berpetualang ke Maroko, bahkan membantu melindungi desa asal gadis setempat (Aurora Ribero) yang dihantui ancaman bandit. Sejak dulu plot film Warkop memang selalu bercabang pula dikemas bak sketsa, tapi fokusnya terjaga, alih-alih terkesan melupakan tema besarnya seperti ini.

Pergantian latar ekstrimnya memang memfasiliasi humor klasik menggelitik soal “Bahasa Arab” hingga nomor musikal absurd Ummi, namun di saat bersamaan, melucuti potensi presentasi kritik tentang industri film. Apalagi sewaktu kisahnya dipaksa berakhir di tengah-tengah, karena (lagi-lagi) Falcon Pictures memilih memecah filmnya menjadi dua bagian.

Padahal pergantian pemeran trio Dono-Kasino-Indro di luar dugaan memberi hasil positif. Adipati tampak lebih natural dan santai ketimbang Vino dalam memerankan Kasino si playboy mulut besar, Randy punya tampilan lebih mirip Indro dibanding Tora, sedangkan Aliando—sebagaimana Abimana—muncul sebagai MVP. Riasan giginya memang mengganggu, tapi baik suara maupun gestur, Aliando berhasil mereplikasi anggota Warkop DKI favorit saya itu.

Penyutradaraan Rako Prijanto juga mengungguli Anggy Umbara berkat gaya yang lebih “sederhana”, biarpun banyaknya penggunaan efek suara konyol layaknya sketsa televisi murahan justru melemahkan daya bunuh komedi, selain menurunkan kelas filmnya. Beberapa kreativitas humornya, sebutlah parodi film-film populer Indonesia, memang mampu memancing senyum. Tapi saya butuh lebih dari sekadar senyum. Saya membutuhkan tawa, yang sayangnya jarang diproduksi oleh Warkop DKI Reborn.

PARIBAN: IDOLA DARI TANAH JAWA (2019)

Kalau anda mencari pemahaman mendalam mengenai budaya Batak lewat Pariban: Idola dari Tanah Jawa, maka anda akan pulang dengan tangan hampa, karena filmnya sendiri hanya berintensi memancing tawa penonton. Tapi apakah film berlatar luar Jawa harus menitikberatkan pada edukasi budaya? Tidak bolehkah mereka sekadar bersenang-senang layaknya karya-karya dari ibu kota?

Saya ingat perkataan Jordan Peele tentang Us beberapa waktu lalu. Dia ingin membuat film dengan protagonis kulit hitam yang bukan bicara soal rasisme. Itu pula yang coba dilakukan Andibachtiar Youtube Yusuf (Love for Sale, Romeo Juliet, Hari ini Pasti Menang), walau bisa dipahami jika beberapa penonton berharap disuguhi eksplorasi akan pariban (bukan budaya Batak secara umum) ketimbang hanya tentang dua pria berebut wanita, mengingat itulah tajuk yang filmnya usung.

Memakai gaya breaking the fourth wall, kita berkenalan dengan Halomoan (Ganindra Bimo), pria kelahiran Jakarta berdarah Batak yang telah mendapatkan segalanya. Dia tampan, kaya raya berkat kesuksesan bisnis aplikasi miliknya, dan dikelilingi wanita. Meski mengencani banyak wanita, Moan yang telah berusia 35 tahun belum berniat menjalin hubungan serius. Sang ibu (Lina Marpaung a.k.a. Mak Gondut) yang kerap dicemooh teman-teman arisannya karena puteranya belum juga beristri akhirnya menyuruh Moan pulang ke Samosir guna menikahi sepupunya, Uli (Atiqah Hasiholan).

Sepupu yang menjadi “hak” untuk dinikahi pria Batak, demikian kira-kira definisi pariban. Walau bermodal tampang rupawan dan harta melimpah, membawa Uli ke Jakarta bukan perkara sederhana bagi Moan, karena si gadis tidak segampang itu terpikat rayuan, ditambah keberadaan Binsar (Rizky Mocil), pria lokal yang telah lama mencintai Uli. Pariban: Idola dari Tanah Jawa memang berhenti di tataran komedi-romantis soal cinta segitiga, sementara elemen kulturalnya cuma numpang lewat. Pemahaman terbesar yang didapat selain definisi pariban adalah begitu cantik pemandangan Samosir, berkat keberhasilan sinemtografi garapan Bill Tristiandy menangkap keindahan sarat kedamaian alam di sana, termasuk bentangan Danau Toba.

Atiqah kembali mempersembahkan performa apik nan dinamis, sehingga andaikan film ini diubah jadi 100 menit yang hanya berisi obrolan Uli dengan karakter lain, saya yakin takkan merasa bosan. Atiqah memerankan wanita mandiri dan cerdas yang tinggal dalam struktur sosial konvensional. Dia percaya wanita punya hak menentukan jalan hidupnya sendiri, sebuah perspektif yang bisa memancing gesekan menarik antara sudut pandang kuno dengan modern. Sayang, skrip buatan Andibachtiar, Ridho Brado, dan Agustinus Sitorus urung melangkah ke sana.

Walau pantas disayangkan, itu bukan dosa besar. Sebab sebagai hiburan, Pariban: Idola dari Tanah Jawa bekerja amat baik. Humornya berani bermain di ranah absurditas kreatif, yang diterjemahkan dengan sempurna ke layar oleh Andibachtiar. Banyak amunisi pemancing gelak tawa, tak hanya satu-dua senyum biasa, seolah ingin merobohkan stigma bahwa orang-orang Batak punya perangai mengerikan. Seisi auditorium tertawa lepas menyaksikan banyolannya, bersorak saat situasi manis terjadi.  Romansa ringan dan relatable tentang pencarian jodoh jelas berkontribusi, namun respon tersebut takkan hadir tanpa pesona Ganindra Bimo yang memadukan karisma dan kelucuan sehingga Moan menjadi protagonis likeable.

Bagi saya masalah terbesar Pariban: Idola dari Tanah Jawa bukan minimnya pendalaman kultur, melainkan naskah yang berantakan. Alurnya banyak diisi lompatan kasar dan beberapa filler nihil substansi (pertandingan catur Moan melawan Binsar misalnya), yang makin menyulitkan penonton menikmati jalannya cerita tatkala penyuntingan kasar turut ambil bagian. Pun keputusan memposisikan Pariban: Idola dari Tanah Jawa sebagai jilid pertama dari dua bagian cerita, di mana film berakhir di tengah jalan, turut melukai narasinya. Mencapai akhir, Moan masih seorang playboy yang belum memahami keburukan-keburukannya, atau dengan kata lain, karakternya tak mengalami progres. Saran saya, datanglah ke bioskop hanya untuk mencari tawa, dan anda akan pulang membawa kepuasan.

5 COWOK JAGOAN: RISE OF THE ZOMBIES (2017)

5 Deadly Angels. Begitu judul internasional untuk 5 Cewek Jagoan (1980) karya Danu Umbara. Tentu para protagonis 5 Cowok Jagoan buatan Anggy Umbara, putera Danu, kurang pas disebut "Deadly", karena daripada membantai lawan, mereka lebih banyak memamerkan kekonyolan. Bahkan Reva (Cornelio Sunny) yang jago mengayunkan katana bukan pria berperilaku normal. Dia bak sufi cinta damai yang tersenyum bijak menyikapi semua hal, tapi berubah menjadi parodi tokoh anime tiap kepalanya terbentur, lengkap dengan rambut lancip dan logat Jepang dengan artikulasi kacau. 

Kelima jagoan kita aneh luar dalam. Dedi (Dwi Sasono) yang berkepala botak tanggung, berperut gendut adalah pelupa akut yang melupakan ulang tahun istri dan anaknya. Danu (Arifin Putra) merupakan dukun palsu dengan alis menyatu. Lilo (Muhadkly Acho) si anak mama gemar ber-cosplay tidak pada tempatnya. Sementara Yanto (Ario Bayu), selain berambut kribo rupanya seorang pemimpi di siang bolong. Berkata punya pekerjaan mentereng padahal cuma cleaning service, lalu mengaku berpacaran dengan Dewi (Tika Bravani), rekan sekantor yang bahkan jarang ia ajak berinteraksi. Tapi hubungan Yanto-Dewi lah penggerak alur film ini.
Dewi diculik oleh sindikat misterius. Demi menyelamatkan sang pujaan hati, Yanto menagih janji keempat sahabat masa kecilnya. Janji yang bahkan tidak diingat jelas, di mana mereka menyimpan memori berbeda akan masa lalu itu sesuai kepribadian masing-masing. Kepribadian yang sebatas disusun oleh ciri komedik: Dedi pemalas yang ingin mendapatkan televisi, Danu mata duitan, Lilo anak manja, Yanto pengkhayal dan penakut, Reva pecinta ketenangan dengan tutur kata bijak. Kepribadian yang semata berfungsi memicu tawa penonton.

Komedi wajib lucu, tapi 5 Cowok Jagoan  ditulis oleh Anggy Umbara, Isman HS, Arie Kriting  berusaha mati-matian membuat penonton tertawa. Memakai visual gags lewat tampilan absurd tokohnya hingga komedi situasi hasil tingkah laku mereka, Anggy ingin penonton tergelak di semua kesempatan, sampai terkadang terasa berlebihan. Tidak berhenti di situ, kita juga diberi tahu kapan mesti tertawa melalui iringan efek suara yang sudah lewat masa keemasannya selaku pemanis komedi. Anggy memerah habis-habisan potensi humornya, menghasilkan inkonsistensi. Kerap gagal, tapi sekalinya berhasil, sulit menahan ledakan tawa. 
Apalagi setiap Cornelio Sunny bicara layaknya tokoh-tokoh dalam Crows Zero. Beberapa waktu lalu, saya menyaksikannya tampil depresif lalu bercinta dengan jeep di Mobil Bekas buatan Ismail Basbeth. Serupa Abimana di Warkop DKI Reborn atau Reza Rahadian di My Stupid Boss, melihat aktor "dramatik" mencoba peran konyol (dan sukses) selalu menyenangkan. Begitu pula Ario Bayu dengan cara menodongkan pistol yang tak ubahnya James Bond kehilangan kewarasan atau Ganindra Bimo dengan bebeknya. Itulah sebab, walau totalitas Dwi Sasono kembali menghibur, kedua nama tadi lebih mencuri perhatian. 

Penampilan berkesan lain berasal dari Nirina Zubir. Berbeda dengan para pria, Nirina sebagai Debby tampil serius, mengundang decak kagum saat secara meyakinkan menangani porsi laga. Bersama Tika (dan tiga aktris lain yang diungkap di penghujung film), Nirina membangun jembatan menuju remake 5 Cewek Jagoan, yang sepertinya bakal fokus pada aksi, menekan kadar komedi. Menjanjikan, mengingat kapasitas Anggy merangkai laga penuh gaya, seperti tampak dalam 3 (Alif, Lam, Mim), lebih mumpuni ketimbang komedi. 5 Cowok Jagoan sendiri tidak jauh beda, asyik berkat takaran gaya plus pemakaian CGI secukupnya, termasuk dalam mengemas para zombie memasuki paruh kedua. 5 Cowok Jagoan: Rise of the Zombies mungkin tak mulus mengalir, tapi saya tak ingin hiburan ini cepat berakhir.

KELUARGA TAK KASAT MATA (2017)

Keluarga Tak Kasat Mata adalah film jelek. Sangat jelek. Dan sesuai tradisi, film berkualitas jauh di bawah rata-rata akan mendapat review spesial. Tapi 2 hari berselang, saya buntu. Ketika ulasan Coco dan Murder on the Orient Express yang ditonton belakangan sudah dipublikasikan, ide belum juga mengalir bagi Keluarga Tak Kasat Mata. Saking bingungnya, sempat terpikir menerbitkan satu halaman nyaris kosong bertuliskan "Ini adalah review tak kasat mata", namun urung saya lakukan. Karena itu sama saja dengan pembuat filmnya, yang kehabisan akal lalu memilih jalur luar biasa malas sekaligus bodoh.

Setahun lalu, ketika horor tanah air cenderung jalan di tempat, kelemahan akut Keluarga Tak Kasat Mata mungkin bisa sedikit (catat: SEDIKIT) dimaafkan. Paling tidak ini bukan tontonan antah berantah macam Dia Pasti Datang atau Video Maut yang memperlihatkan keburukan tidak mempunyai batas. Terima kasih Joko Anwar, Pengabdi Setan memasang standar baru. Kini, production value lumayan (catat: LUMAYAN) saja tak cukup memberi rasa maklum. Apalagi dalam film seperti Keluarga Tak Kasat Mata yang layaknya "kaum sumbu pendek" Indonesia, mudah curiga dan insecure. Pulpen jatuh musik berdentum, sebaris dialog selesai musik berdentum, hantu muncul sekelebat pun musik berdentum. 
Apa yang terjadi saat para makhluk halus sungguh-sungguh menampakkan wujud? Menurut sutradara Hedy Suryawan (Rock N Love), jawabannya adalah close-up ekstrim, dan tentu saja musik berdentum. Bagai Benedict Cumberbatch yang doyan mengganggu sesi foto karpet merah, hantu film ini suka melakukan photo bomb, tiba-tiba muncul memenuhi seisi layar bioskop, yang daripada menakutkan justru memancing tawa. Lucu, jauh lebih lucu ketimbang karakter Bebek (Kemal Palevi) yang memanfaatkan tiap kemunculan untuk merengek, bertingkah menyebalkan, berusaha tampil konyol meski sama sekali tidak lucu.

Soal membangun intensitas filmnya juga punya metode murahan. Ketegangan berbasis kekacauan situasi disamakan dengan editing lompat-lompat, kala secara ajaib, tokohnya bisa mendadak berpindah tempat. Entah di antaranya ada transisi tak kasat mata atau pembuat filmnya menganggap Genta (Deva Mahenra) dan kawan-kawan sebagai David Copperfield yang tengah melakukan sulap pindah tempat dalam sekejap dibantu trik kamera. Deva sendiri kesulitan menangani peran protagonis horor yang dituntut senantiasa takut dan curiga, akibat kosongnya pengekspresian rasa. 
Cerita Keluarga Tak Kasat Mata buatan Bonaventura D Genta yang populer di Kaskus pada dasarnya merupakan rangkaian pengalaman melihat hantu atau mendengar suara aneh, yang mengerikan karena membiarkan imajinasi serta asumsi pembaca berkeliaran. Mengangkatnya mentah-mentah ke layar lebar, seperti tangisan wanita yang rutin terdengar tiap beberapa menit, menghasilkan ketiadaan eksistensi alur pun daya cekam. Walau tidak sampai satu setengah jam, karena sekedar diisi penampakan satu ke berikutnya, Keluarga Tak Kasat Mata seolah berjalan sehari penuh. Bisa dipahami jika anda merasa sedang terjebak di kutukan lingkaran waktu tanpa ujung serupa Jessica Rothe di Happy Death Day.

Ada usaha merajut alur, namun naskah buatan trio Lele Laila, Evelyn Afnila, dan Bonaventura D Genta mengandung setumpuk poin yang pantas dipertanyakan, dari esensi tulisan penanda waktu serta lokasi yang hanya tampak di awal, hingga resolusi seputar para keluarga tak kasat mata di kantor Genta. Penonton bukan Genta dan Rudi (Gandindra Bimo) yang mampu memahami masalah makhluk halus hanya lewat pertanda ambigu dalam mimpi. Penonton butuh elaborasi. Tak perlu gamblang, cukup pemaparan berbentuk struktur cerita rapi alih-alih plot tak kasat mata dalam film berkualitas tak kasat mata pula.