Tampilkan postingan dengan label Woody Harrelson. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Woody Harrelson. Tampilkan semua postingan

REVIEW - VENOM: LET THERE BE CARNAGE

Venom: Let There Be Carnage akan lebih banyak diingat dan dibicarakan karena mid-credits scene miliknya, yang signifikansinya mungkin setara dengan kemunculan Nick Fury di Iron Man 13 tahun lalu. Pun nampaknya banyak penonton lebih menantikan adegan tersebut (bocoran telah banyak bertebaran) ketimbang filmnya sendiri, yang seolah sama tidak sabarnya untuk segera mengakhiri penceritaan.

Ditangani Andy Serkis, film ini bergerak secepat pengendara mobil yang mendadak dilanda sakit perut. Kenapa itu bisa terjadi? Bagaimana bisa dari titik A, kita sekarang sudah berada di titik B? Pertanyaan-pertanyaan itu terkadang timbul di benak saya kala menonton.

Setidaknya Venom: Let There Be Carnege adalah peningkatan dibanding pendahulunya. Kuncinya terletak di hubungan antara Venom dan Eddie Brock (Tom Hardy), yang diperkuat elemen bromance-nya oleh naskah buatan Kelly Marcel (Fifty Shades of Grey, Venom, Cruella). Brock ingin menata kembali hidupnya dengan tenang, sedangkan Venom sebaliknya, berhasrat untuk terus menjadi "Letha Protector", guna meringkus (lalu mengunyah kepala) para penjahat.

Interaksi keduanya tersaji menghibur. Komedi memang keunggulan utama filmnya. Hardy punya comic timing mumpuni, baik kala memerankan Eddie Brock yang lelah atas segala kekacauan di sekitarnya, maupun mengisi suara Venom, si symbiote dengan mulut tanpa filter serta selera humor gelap. Peggy Lu kembali menjadi Mrs. Chen sang pemilik toko kelontong, yang meski porsinya minim, berkontribusi melahirkan salah satu momen terlucu. 

Sementara itu, Cletus Kasady (Woody Harrelson), pembunuh berantai yang sedang menanti eksekusi mati, menghubungi Brock, berkata bakal mengungkap seluruh ceritanya, sambil diam-diam mengirim pesan pada kekasihnya, Frances Barrison (Naomie Harris), yang juga dikurung di suatu fasilitas rahasia, karena memiliki kekuatan memanipulasi energi suara. 

Apa yang terjadi berikutnya adalah rentetan kejadian yang sukar diikuti, karena alurnya bergulir sangat buru-buru. Serkis bagai memandang first act-nya tak penting, enggan memedulikan jembatan antar peristiwa, ingin segera merampungkannya agar Kasady dapat segera bertransformasi menjadi Carnage, symbiote buas yang kekuatannya jauh mengungguli Venom. 

Setiap mengetengahkan konflik Brock/Venom dan Kasady/Carnage, yang notabene bernuansa serius, film ini kacau. Lain halnya saat keseriusan itu ditanggalkan, lalu interaksi karakter mengambil alih fokus. Meneruskan kisah sebelumnya, Brock belum berhasil memperbaiki hubungan dengan Anne (Michelle Williams), selepas keduanya putus. Serupa Hardy, Williams pun piawai menangani komedi. 

Tapi selain mereka, ada pasangan lain yang juga putus, yakni Brock dan Venom. Pasca pertengkaran hebat, Venom yang merasa tidak dimengerti, memilih minggat dari rumah. Konfliknya menggelitik, sebab Let There Be Carnage mengemasnya bak sebuah breakup movie, mengenai pasangan yang kesulitan menerima kekurangan satu sama lain, bersikap egois, terjebak masalah komunikasi, berpisah, sebelum akhirnya sadar kalau masih saling cinta. Sebuah keputusan cerdik dari naskahnya.

Seperti film pertama, aksinya menyisakan ketidakpuasan akibat pilihan rating PG-13. Apalagi mengingat keberadaan Carnage, salah satu villain paling brutal di komik Marvel (walau filmnya sempat mengakali aksi sadis Kasady secara kreatif menggunakan sekuen animasi). Untungnya, Serkis bisa memanfaatkan bentrokan dua sosok ikoniknya, guna menciptakan rangkaian imageries keren yang bakal memuaskan para pembaca komik. 

REVIEW - KATE

Seorang pembunuh wanita dengan masa lalu tragis, menumpahkan darah dalam aksi balas dendam brutal nan stylish terhadap organisasi musuh, sambil melindungi bocah yang anggota keluarganya ia bunuh, sementara sang mentor/bos berusaha membujuknya agar menahan diri selaku wujud kepedulian, namun kita tahu ada rahasia yang disembunyikan. 

Begitulah garis besar alur Kate.....dan deretan judul lain yang belakangan makin sering kita temui. Tapi saya selalu memandang film bertema di atas seperti slasher. Plot formulaik setipis kertas bukan masalah, asal karakter yang berstatus "si pembantai" tampil memukau, dan punya segudang ide kreatif perihal menghabisi nyawa target. 

Mary Elizabeth Winstead memerankan Kate, penembak jitu yang selalu berhasil mengenai target. Identitas targetnya ditentukan oleh Varrick (Woody Harrelson), mentor sekaligus figur ayah, yang membesarkan Kate sejak orang tuanya meninggal. Semua berjalan mulus, sampai Kate mengutarakan niat pensiun. Dia akan berhenti setelah menyelesaikan misi terakhir, dengan Kijima (Jun Kunimura), seorang bos yakuza, sebagai target. 

Sebelum menarik picu, Kate merasa pusing. Tembakannya meleset, misi pun gagal. Rupanya ia diracuni, dan cuma punya waktu hidup 24 jam. Diduga pelakunya adalah Kijima, sebagai bentuk pembalasan karena kematian adiknya. Kate mulai mencari keberadaan si bos yakuza yang belakangan menghilang, guna melancarkan balas dendam sebelum ajal menjemput.

Ya, Kate bukan soal berpacu dengan waktu demi mencari penawar. Jagoan kita sudah menerima fakta nyawanya tak tertolong lagi, tapi tidak terima jika si pelaku lolos begitu saja. Sebuah premis badass, meski tentu saja perjalanan ini juga membawa Kate menemukan kembali hatinya, lewat pertemuan dengan Ani (Miku Martineau), keponakan Kijima. 

Jangan harap kondisi ACS (acute radiation syndrome) memberi handicap berarti. Kate berulang kali muntah, jalannya sempoyongan, tubuhnya penuh ruam, ditambah luka-luka akibat perkelahian, namun itu hanya nampak di sela-sela aksi. Sewaktu tiba waktunya menghajar musuh, Kate ibarat manusia super. "Keracunan" cuma alat yang dipakai naskah buatan Umair Aleem untuk membuka dan mengakhiri cerita. Ubah itu dengan terbunuhnya kekasih, penculikan anak, atau kematiaan anjing, dan takkan ada perbedaan. 

Kenapa Jepang? Kenapa repot-repot mengambil risiko mendapat tuduhan (konyol) akibat mengangkat soal wanita kulit putih membantai orang Asia? Saya yakin, entah Aleem atau sang sutradara, Cedric Nicolas-Troyan (The Huntsman: Winter's War), terobsesi pada budaya populer Negeri Sakura. Kate berlarian di atap sambil melewati layar raksasa yang memutar anime Tokyo Ghoul, mengendarai mobil berhiaskan lampu LED, mengunjungi kelab tempat band rock wanita tampil, merupakan beberapa contoh ekspresi obsesi tersebut. 

Hal-hal di atas menambah sentuhan gaya, walau belum cukup memberi Kate warna menonjol tersendiri (visual, desain karakter, teknik penuturan, koreografi, dll.) supaya memiliki kekhasan di antara film-film bertema serupa lainnya (Atomic Blonde, Hanna, Everly, Gunpowder Milkshake, memilikinya). Bahkan kala para yakuza mengerahkan seluruh kekuatan di klimaks, Kate tetap tak memaksimalkan potensi kegilaan yang bisa dicapainya. 

Tapi mari kembali ke pernyataan di awal tulisan. Apakah protagonis film ini memukau? Tentu saja. Mary Elisabeth Winstead tampak meyakinkan sebagai jagoan yang menolak ambruk dan mampu mengalahkan puluhan yakuza biarpun dalam kondisi sekarat. Apakah caranya menumpas musuh sadis sekaligus kreatif? Lumayan. Tentang kreativitas mungkin masih menyisakan ruang eksplorasi, namun menyaksikan Kate menumpahkan darah di tengah ruangan berwarna putih, di mana kita bisa melihat jelas segala luka dan tusukan, pun dibarengi koreografi yang tertata rapi pula tata kamera dinamis, Kate sudah pantas dinyatakan "lulus ujian", walau gagal memperoleh nilai A. 


Available on NETFLIX

MIDWAY (2019)

Didedikasikan untuk prajurit Amerika Serikat dan Jepang yang terlibat Pertempuran Midway, film ini punya niat baik, ingin mengangkat perspektif yang adil tanpa menyudutkan pihak mana pun (baca: Jepang). Tidak ada nasionalisme buta, tidak ada kibaran The Stars and Stripes tiap beberapa menit sekali (I’m looking at you Michael Bay), minim antagonisasi, sementara beberapa prajurit berperang karena “tuntutan pekerjaan”, beberapa lainnya didorong hasrat balas dendam. Seharusnya Midway bisa jadi alternatif blockbuster bertema Perang Dunia II.

Tapi ini adalah karya Roland Emmerich, yang beberapa tahun belakangan, lewat Anonymous (2011) dan Stonewall (2015), ingin keluar dari zona nyaman namun berujung kegagalan. Ditulis naskahnya oleh Wes Tooke, seperti judulnya, Midway ibarat usaha Emmerich mengambil jalan tengah dengan tetap menampilkan kehancuran masif bombastis andalannya sembari menguatkan cerita. Poin kedua sayangnya kurang berhasil.

Tokoh sentralnya adalah Letnan Dick Best (Ed Skrein), pilot angkatan laut Amerika Serikat yang dikenal lewat kenekatannya. Dick pun jadi salah satu ujung tombak serangan balik Amerika pasca Jepang membombardir Pearl Harbor, yang turut menewaskan sahabat Dick. Tapi ini bukan kisah Dick seorang. Sepanjang 138 menit durasi, Midway hendak memaparkan peperangan dari beragam sisi. Ada Edwin T. Layton (Patrick Wilson) selaku inteligen pengumpul informasi rahasia Jepang yang bertugas di bawah komando Admiral Chester Nimitz (Woody Harrelson), juga Letnan Kolonel Jimmy Doolittle (Aaron Eckhart) yang memimpin serbuan ke Tokyo (disebut “Serbuan Doolittle”).

Belum lagi membahas nama-nama yang sempat diberi spotlight singkat seperti para prajurit dalam kapal selam atau Bruno Gaido (Nick Jonas) lewat aksi heroiknya menembak jatuh pesawat musuh seorang diri. Jonas merupakan aktor bertalenta. Bukan saja karena mendapat salah satu momen paling badass, keberhasilannya menghidupkan sisi carefree Bruno yang tak takut menantang maut membuat saya berharap karakternya diberi porsi lebih.

Sementara di kubu Jepang, Admiral Isoroku Yamamoto (Etsushi Toyokawa), Rear Admiral Tamon Yamaguchi (Tadanobu Asano), dan Vice Admiral Chuichi Nagumo (Jun Kunimura) diberi porsi lebih. Tapi apakah itu cukup sebagai jalan menyimbangkan sudut pandang? Sayangnya tidak. Mampu menggambarkan prajurit Jepang bukan sebagai pembunuh berdarah dingin, itu betul. Pun filmnya menjadikan tingginya harga diri tentara Jepang untuk melandasi sebuah momen sentimentil yang (diharapkan) menyentuh hati. Tapi itu saja tidak cukup. Berbeda dengan lawannya dari Amerika, kita urung diajak mengunjungi ruang intim prajurit-prajurit Jepang. Mereka masih figur-figur tak bernyawa yang selalu sibuk mengatur strategi. Artinya, Midway gagal menyeimbangkan perspektif.

Mungkin beberapa pembaca ingat bahwa saya bukan penggemar Dunkirk-nya Nolan. Tapi bagaimana naskahnya menata cerita dari beragam sudut pandang supaya seimbang patut dipuji. Emmerich dan Tooke mestinya bisa mengambil contoh soal cara membagi fokus. Metode yang Midway pakai bak sekadar asal menyelipkan, membiarkan tercipta distraksi akibat banyaknya karakter datang dan pergi, termasuk yang substansinya pantas dipertanyakan. Misalnya kehadiran sutradara John Ford (Geoffrey Blake) yang terjebak di baku tembak kala mengambil gambar untuk dokumenter pendek The Battle of Midway (1942). Ford tidak memberi dampak pada sentral cerita sekaligus bakal membingungkan bagi penonton yang asing terhadapnya.

Ketika ceritanya setengah matang, bagaimana Emmerich menyusun peperangan (mayoritas berupa pertempuran udara) justru mengundang decak kagum. Bermodalkan $100 juta, yang menjadikannya salah satu film indie termahal (Emmerich sempat kesulitan mencari dana), tercipta tiga set pieces besar: Serangan ke Pearl Harbor, Serbuan Doolittle, dan tentunya Pertempuran Midway. Di Pearl Harbor, Emmerich menyajikan horor di tengah lautan api, yang tambah mencekam saat adegan sesaat berpindah memperlihatkan seorang bocah yang menyaksikan pertempuran (baca: pembantaian) tersebut dari kejauhan. Sejenak saya merasakan teror yang dialami “orang luar”.

Sedangkan pada Pertempuran Midway selaku puncak, Emmerich mengajak kita memasuki kokpit para dive bomber, khususnya Dick Best, yang berani menukik jauh lebih rendah ke arah target dibanding rekan-rekannya. Serupa pengalaman menaiki roller coaster—hanya saja kali ini dibarengi ledakan dan kepulan asap—Emmerich mampu membuat penontonnya menahan napas, merasakan bagaimana mencekamnya aksi para pilot bertaruh nyawa menghindari hujan peluru, terjun mendekati target sedekat mungkin, dan mesti pintar mengatur timing kapan harus meluncurkan bom untuk kemudian kembali lepas landas di detik-detik terakhir, berharap tidak turut jadi korban ledakan yang ia ciptakan.

Ada paralel antara perjalanan karakternya dengan Emmerich sendiri. Dari seorang pilot sombong, Dick Best tertekan kala ditunjuk memimpin skuadron, dan berhasrat menebus “dosa” karena beberapa anak buahnya tewas. Demikian pula Layton, yang bekerja tanpa henti sampai jarang meluangkan waktu bersama istri akibat dihantui rasa bersalah “membiarkan” Jepang meledakkan Pearl Harbor. Melalui Midway, mungkin Roland Emmerich ingin menebus kegemarannya bertahan di zona nyaman membuat tontonan-tontonan brainless bombastis. Untuk itu, ia belum berhasil. Dan rasanya Emmerich perlu berhenti menebusnya. Pertama, karena hal tersebut bukan kekeliruan, dan kedua, sebagaimana ia buktikan (lagi) di sekuen peperangan film ini, Emmerich adalah ahli di bidang tersebut.

ZOMBIELAND: DOUBLE TAP (2019)

Ada kesulitan lebih terkait pembuatan sekuel untuk film yang merengkuh kesuksesan berkat kesegaran kemasannya, yaitu bagaimana menjaga, atau lebih baik lagi menambah, kesegaran itu. Rilis satu dekade selepas Zombieland yang digemari karena kreativitasnya, Zombieland: Double Tap mengembalikan jajaran pemain lama, sutradara sekaligus penulis naskah lama, dan sayangnnya formula lama juga turut serta. Serupa judul bertema zombie kebanyakan, ini sekadar pengulangan.

Tapi tidak bisa dipungkiri, pengulangan itu masih menyenangkan. Kita tahu adegan pembuka bakal mengadu karakter manusia melawan zombie dalam balutan gerak lambat serta musik rock (kali ini Master of Puppets-nya Metallica), pun kita tahu momen ikonik “Zombie Kill of the Week”—yang ditingkatkan jadi “Zombie Kill of the Year” akan muncul. Semuanya menghibur, tapi akibatnya, Zombieland: Double Tap dibangun berdasarkan checklist layaknya fan service.

Beberapa tahun setelah film pertama, Columbus (Jesse Eisenberg), Tallahassee (Woody Harrelson), Wichita (Emma Stone), dan Little Rock (Abigail Breslin) telah tumbuh bersama sebagai satu “keluarga disfungsional”. Mereka menetap di White House yang aman, sementara zombie di luar mulai berevolusi menjadi beberapa jenis—yang dijabarkan melalui sekuen menggelitik di paruh awal—di mana salah satunya disebut T-800, yakni zombie dengan kekuatan juga daya tahan tinggi. Tidak cukup dua kali tembak guna menghabisinya.

Digarap oleh dua penulis film pertama, Rhett Reese dan Paul Wernick, ditambah David Callaham (The Expendables, Wonder Woman 1984), apabila Zombieland membahas posisi manusia selaku makhluk sosial, maka Zombieland: Double Tap mengupas soal keluarga. Wichita merasa Columbus terburu-buru membawa hubungan mereka ke jenjang lebih lanjut, sedangkan Little Rock terganggu atas ketidakpekaan Tallahassee, yang selama ini bertindak sebagai figur ayah. Ketika Little Rock yang sudah beranjak remaja ingin merasakan romansa, Tallahassee justru menghadiahkan pistol.

Wichita dan Little Rock memutuskan kabur (lagi). Di tengah sakit hati akibat ditinggalkan sang kekasih, Columbus bertemu Madison (Zoey Deutch). Menghabiskan bertahun-tahun sembunyi di ruang pendingin tanpa terpikirkan untuk mematikan sistem pendingin, bertingkah genit, repot-repot membawa berbagai koper besar di tengah zombie apocalypse, Madison memenuhi semua stereotip “gadis pirang bodoh”, yang selalu mencerahkan suasana di tiap kemunculan berkat totalitas komedi Zoey Deutch dalam berlagak hiperbolis.

“Daripada tidak ada wanita lain”, mungkin begitu pikir Columbus saat mengiyakan permintaan Madison berhubungan seks, tanpa tahu bahwa di malam yang sama, Wichita kembali. Bukan untuk pulang, melainkan mengambil senjata untuk mencari Little Rock yang kabur bersama Berkeley (Avan Jogia), seorang hippie anti-kekerasan yang menolak mempersenjatai diri.  

Sisanya adalah petualangan berupa pengulangan film pertama. Emma Stone tetap jago memancing tawa (tidak semua orang bisa menirukan velociraptor selucu dia) tapi lemparan humor Zombieland: Double Tap kerap meleset. Penonton, khususnya penggemar film pertama, akan mengangguk-angguk puas menyaksikan pengulangan momen-momen ikonik dari judul sebelumnya, namun karena berupa pengulangan, ledakan tawa yang dihasilkan tak sebesar film pertama.

Lain halnya dengan aksi. Sepuluh tahun berselang, penyutradaraan Ruben Fleischer masih bertenaga, piawai meramu pengadeganan dinamis, yang disempurnakan oleh ketidakraguan membanjiri layar dengan darah dan ceceran organ tubuh zombie. Kini, adegan aksi bukan cuma panggung Woody Harrleson seorang. Rosario Dawson sebagai Nevada yang memikat hati Tallahassee sang serigala penyendiri, juga ambil bagian, menegaskan kalau Zombieland: Double Tap merupakan tempat para penampil wanita bersinar.

Berkaca pada pengulangan yang telah disinggung di atas, tidak mengejutkan kala naskahnya kurang matang mengolah konflik bertema keluarga miliknya, termasuk fase konklusi yang terburu-buru. Mendadak semua masalah berakhir begitu mudah, membuat segala jalan terjal yang karakternya lalui terkesan percuma. Beruntung Zombieland: Double Tap tidak ditutup di titik nadir, ketika mid-credits scene-nya memproduksi humor paling jenius sepanjang film.

SOLO: A STAR WARS STORY (2018)

Kalau anda ingin tahu mengapa Han begitu apatis khususnya di paruh awal A New Hope (1977), film ini akan memberi jawaban. Kalau anda ingin tahu bagaimana hubungan Han dan Lando bermula, dan mengapa Lando tega berkhianat di The Empire Strikes Back (1980), film ini akan memberi jawaban. Pun film ini menguatkan teori bahwa Han semestinya menembak Greedo terlebih dahulu dalam konforntasi keduanya di Tatooine. Pertanyan-pertanyaan di atas sebenarnya tak memerlukan jawaban dan lebih baik ditinggalkan sebagai bagian mitologi tanpa batas.  Tapi kalau—seperti saya—anda ingin mengunjungi berbagai planet serta makhluk baru nan unik juga petualangan mendebarkan kaya imajinasi, Solo: A Star Wars Story kemungkinan takkan memuaskan, meski mengingat kendala produksinya, filmnya urung menjadi sampah sudah pantas disyukuri.

Bahkan corak warna filmnya pun cenderung pucat, beberapa kali malah ditambah pencahayaan minim. “Galaksi nun jauh di sana” tak pernah terlihat selesu ini. Nuansa familiar baru terpancar sewaktu kita mampir ke markas Dryden Vos (Paul Bettany) yang mewah, penuh alien, sampai penyanyi dengan mikrofon futuristik dan gaun emas. Toh semua itu cuma sejenak. Sebab seperti tertulis di narasi awal, Solo bertempat di masa kegelapan. Han (Alden Ehrenreich) pun berasal dari sebuah tempat kumuh di Planet Corellia, bekerja sebagai pencuri sambil berharap mampu mengumpulkan uang demi memperoleh kehidupan yang lebih baik bersama cintanya, Qi’ra (Emilia Clarke). Untunglah di zaman kelam ini, filmnya masih ingat untuk menyelipkan romansa. Space opera tanpa romansa ibarat komedi nihil lelucon.
Solo sendiri tampak sebagai film kaya ambisi. Bukan cuma space opera, unsur heist dan western, atau bisa kite sebut “space western” turut diselipkan. Dan sebagaimana formula heist, kita bisa menemukan adegan judi (permainannya disebut sabacc), yang juga berperan selaku perkenalan bagi Lando Calrissian yang diperankan Donald Glover a.k.a. Childish Gambino dengan flamboyan.  Namun sebagai heist, Solo bukanlah heist yang baik. Aksi Han bersama Tobias Beckett (Woody Harrelson) dan gengnya menjalankan beberapa misi perampokan tidak dikemas secara bergaya oleh sutradara Ron Howard (A Beautiful Mind, The Da Vinci Code, Rush), tidak pula tersusun atas rencana taktis. Pun tanpa cukup gaya dalam kemasan baku tembak, Solo juga urung menjadi western yang baik.

Skenario garapan Lawrence Kasdan (The Empire Strikes Back, Return of the Jedi, The Force Awakens) dan puteranya, Jonathan Kasdan (In the Land of Women), cukup kokoh menyusun penokohan. Seluruh protagonis kita awalnya tampak sebagai individu egosentris maupun berbahaya, sebelum akhirnya, meski sekelumit, terungkap bahwa mereka merupakan sosok dengan hati yang memiliki orang-orang untuk dicintai: Lando dan droid miliknya, L3-37 yang amat mencuri perhatian berkat pembawaan jenaka Phoebe Waller-Bridge, percikan romansa Tobias dan Val (Thandie Newton), Chewbacca (Joonas Suotamo) dengan keluarganya, dan percintaan Han-Qi’ra. Walau akhirnya mereka tetap kriminal sekaligus penyintas di suatu masa sulit, masa di mana petualangan luar angkasa megah jarang bertempat.
Sekalinya terjadi, sesungguhnya Ron Howard dibantu sinematografi garapan Bradford Young (Arrival) sanggup mengkreasi gambar epic tatkala Han dan kawan-kawan berhadapan dengan salah satu monster terbesar di franchise Star Wars sejauh ini. Ketika akhirnya lagu tema gubahan John Williams kembali berkumandang, Solo pun sepenuhnya menjadi space opera yang dicintai jutaan penonton meski hanya untuk beberapa menit. Sisa adegan kejar-kejarannya tak sebegitu mempesona pun kurang mengeksplorasi kemampuan plus kegilaan Han selaku pilot (kecuali adegan “The Maw”). Menariknya, momen aksi jarak dekat justru tergarap apik, khususnya saling tebas antara Qi’ra dan Dryden. Sebagai alumnus Game of Thrones yang tentunya familiar dengan pertarungan pedang, tak mengherankan Clarke mampu melakoninya dengan meyakinkan.

Bagi penggemar, deretan easter eggs serta cameo jelas jadi hiburan tersendiri. Dan bagi penggemar, atau penonton yang tidak sama sekali asing dengan Star Wars, tentu bisa menebak beberapa hal yang akan terjadi: kemunculan Lando, pertemuan Han dengan Chewie, maupun nasib romansa Han dengan Qi’ra. Tapi Solo berhasil mementahkan ekspektasi ketika merangkum hal-hal terduga itu melalui jalan tidak terduga. Tapi bagi sebagian besar penggemar, pertanyaan terpenting adalah, “apakah Alden tampil baik?”. Dia punya pesona. Belum sekuat Harrison Ford, tapi bisa dimaklumi mengingat Han di sini belum sematang versi Ford. Masalahnya, Han versi Alden bukan karakter paling keren (Lando) atau paling badass (Tobias). Ditambah kurang efektifnya penggarapan Howard dan pembawaan Alden terhadap momen one-liner, makin tenggelamlah sang tokoh ikonik di filmnya sendiri.

THREE BILLBOARDS OUTSIDE EBBING, MISSOURI / THE SHAPE OF WATER / LOVING VINCENT

Three Billboards Outside Ebbing, Missouri dan The Shape of Water akan bersaing ketat di ajang Oscar 2018 nanti, khususnya pada kategori Best Actress di mana Frances McDormand dan Sally Hawkins jadi dua unggulan utama. Sementara keberadaan Coco menyulitkan Loving Vincent berbicara banyak, namun film animasi pertama yang seluruhnya dibuat dengan lukisan ini jelas pantas mendapat perhatian anda.

Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017)
Inilah film di mana sulit bagi kita menebak apa yang akan segera terjadi maupun diutarakan. Sekali waktu misteri pembunuhan merambat. Berikunya giliran drama keluarga, komedi hitam, tragedi, sebelum kembali menyuguhkan misteri. Agama, rasisme, kekerasan oleh polisi, sampai kekejaman militer di negeri orang, semua disinggung. Banyak hal terjadi, kerap melompat antar genre, menyimpan kejutan-kejutan, Three Billboards Outside Ebbing, Missouri nyatanya bergerak rapi, enak diikuti, pula mudah dimengerti berkat skenario cermat Martin McDonagh (In Bruges, Seven Psychopath). Semua diawali kenekatan Mildred Hayes (Frances McDormand) menyewa tiga billboard yang mempertanyakan kapasitas Sheriff Bill Willoughby (Woody Harrelson) dalam mengusut kasus pembunuhan dan pemerkosaan puterinya. Masyarakat bersimpati kepada Mildred, tetapi Bill adalah polisi teladan yang disukai. Beberapa pihak pun menentang tindakan Mildred, termasuk Dixon (Sam Rockwell), polisi rasis yang tak segan memakai kekerasan. Kesenduan Harrelson mampu mencengkeram, sementara arogansi bercampur kebodohan Rockwell, yang bertransformasi jelang akhir, menghibur, mengundang benci untuk kemudian memancing simpati. Namun McDormand adalah pemimpin ensemble-nya. Ekspresi jarang berganti (wajah keras, tatapan tajam), irit gestur, tapi kehadirannya nyata. Bahkan kala mengebor jari seorang pria, mimiknya tidak banyak berubah. McDorman dan Three Billboards Outside Ebbing, Missouri sama-sama brilian, liar, membara, sensitif. Seolah tengah menelusuri labirin dengan beragam gempuran yang mustahil diantisipasi di tiap belokan. Pun ketimbang mencari sang pelaku, McDonagh menekankan proses saling mengobati antara mereka yang dirundung duka. Salah satu film paling komplet selama beberapa tahun terakhir. (5/5)

The Shape of Water (2017)
Terinspirasi dari Creature from the Black Lagoon (1954) yang sempat coba ia remake, Guillermo del Toro mempersembahkan film monster yang enggan ketinggalan menyinggun ragam isu sosial. Rasisme dan homofobia menjadi subteks, praktik segregasi dikritisi. Percintaan beda spesies dalam The Shape of Water merupakan bentuk dukungan del Toro atas kesetaraan. Tokoh utamanya, Elisa Esposito (Sally Hawkins) adalah tunawicara yang tinggal bersama seniman gay (Richard Jenkins), bersahabatan dengan wanita kulit hitam bernama Zelda (Octavia Spencer), jatuh cinta pada monster amfibi (Doug Jones) yang dikurung di laboratorium rahasia tempatnya bekerja. The Shape of Water merupakan usaha mewakili kaum marginal lewat paparan dongeng. Bahkan sejak pertama terdengar, musik gubahan Alexandre Desplat seketika memancarkan sihir fantasi. Di tangan del Toro, keseharian monoton Elisa, dari bangun tidur, masturbasi, menanti bus, sampai bekerja sebagai petugas kebersihan, terlihat bak dunia khayal yang membuai, walau keindahan sesungguhnya baru tampil tatkala del Toro menyelipkan momen musikal hitam-putih layaknya sajian klasik Hollywood yang berguna mengekspresikan isi hati sang tokoh utama. Demikian pula shot terakhirnya yang memadukan sinematografi menawan Dan Laustsen dan sensibilitas sang sutradara menyusun romantisme. Di antara kelembutan penuh rasa del Toro, Sally Hawkins menyeruak. Nihil tuturan verbal, Hawkins menampilkan kemurnian serta ketulusan yang memudahkan guna mencintai sosoknya. Namun kualitas The Shape of Water sayangnya kurang merata. Sewaktu adegan spesial yang del Toro siapkan tengah absen dari layar, naskah tulisannya bersama Vanessa Taylor tidak punya cukup magnet guna menahan antusiasme penonton. (3.5/5)

Loving Vincent (2017)
Kalimat pernyataan sebelum film dimulai menegaskan bahwa Loving Vincent memang lebih mementingkan gaya. Style over substance. Dan memang sulit dipungkiri, goresan cat air ala lukisan Vincent van Gogh menjadikan film ini tiada duanya. Walau sebagaimana teknik visualnya membuat tokoh-tokoh yang ada terkesan artificial, penelusuran alurnya soal kehidupan serta kematian sang pelukis ternama takkan merenggut emosi. Menarik melihat karya-karya macam Sorrowing Old Man atau Young Man with Cornflowers bermanifestasi jadi tokoh-tokoh yang mengisi alur. Ketika seringkali kita mengenal seniman melalui karya ketimbang jati diri personalnya (sudah semestinya begitu), Loving Vincent mengajak mengenal titular character-nya lebih jauh bersamaan dengan usaha Armand Roulin (Douglas Booth) mengantar surat yang Vincent (Robert Gulaczyk) tulis untuk saudaranya, Theo, sebelum ia tewas bunuh diri. Fakta yang tadinya terang benderang di mata Armand perlahan berubah ambigu seiring pertemuannya dengan orang-orang dalam hidup Vincent, membuatnya makin memahami “si pelukis gila”. Skenario buatan Dorota Kobiela, Hugh Welchman, dan Jacek Dehnel kurang mulus memaparkan pergantian sikap Armand. Dari persepsi negatif terhadap Vincent, mendadak ia amat peduli, bahkan rela melalui perjalanan jauh meski ancaman pemecatan menghantui. Misteri seputar kematian (dan kehidupan) Vincent mengundang rasa penasaran, namun lemahnya duo sutradara Dorota Kobiela dan Hugh Welchman menjaga tempo menghalangi efektivitas teka-tekinya mencengkeram atensi. (3.5/5)

WAR FOR THE PLANET OF THE APES (2017)

Sulit menciptakan sekuel bagus. Apalagi dalam konteks blockbuster ketika mayoritas sekuel dibuat demi mengeruk keuntungan komersil (yang mana tidak keliru). Dan banyak sekuel memaksakan arah ketimbang meneruskan tahapan proses karakternya secara natural. Seri reboot Planet of the Apes jadi satu contoh langka, membawa penonton mengamati tokoh-tokohnya tumbuh dari kera korban eksperimen yang memberontak di Rise, membangun kehidupan sembari makin belajar arti menjadi makhluk berakal di Dawn, lalu berkulminasi pada War di mana peperangan tak semata soal baku hantam fisik, pula bergulat dengan perasaan. 

Beberapa tahun pasca Dawn yang memanaskan konflik dua spesies, Caesar (Andy Serkis) memimpin koloni kera tinggal di pedalaman hutan sambil terus menghindari pasukan militer manusia yang semakin berhasrat memusnahkan ia dan rakyatnya. Dari pemandangan paling pertama, War dengan Matt Reeves selaku sutradara langsung memamerkan sihirnya. Opening kala manusia dibantu beberapa kera mantan pengikut Koba (dipanggil Donkey) menyerbu koloni Caesar adalah kesunyian mencekik yang senantiasa mengisi filmnya. Reeves berani membisukan momen demi momen, dan itu pilihan bijak sebab mayoritas kera berkomunikasi lewat gerak tubuh, dan War berfokus pada mereka. 
Pun kesunyian itu urung membosankan. Pertama berkat tambah mumpuninya efek motion capture. Begitu nampak meyakinkan para kera sampai terasa magical, seolah tengah menyaksikan primata nyata dengan intelegensi sudah berkembang pesat. Kedua tentu terkait akting. Tanpa mengesampingkan penampil lain, Serkis jelas menonjol. Sang aktor menghidupkan, bahkan menghembuskan hati dalam segala tutur kata sampai guratan rasa terkecil berupa tatapan mata atau perubahan ekspresi mikro. Diwakilinya gejolak kompleks dalam diri si pemimpin yang terjebak di tengah tanggung jawab melindungi segenap rakyat dan emosi personal. Yes, this time it's personal.

Semua diawali penyergapan tengah malam yang bergerak demikian intens menggiring kita menuju tragedi. Michael Giacchino mengkreasi musik yang bisa diapresiasi tinggi baik dari keunikan gaya maupun rasa mencekam yang tertuang tegas. Di luar dampak peristiwanya, musik Giacchino memastikan momen ini tersaji sebagai horor. Dan bukan terakhir kali scoring menyegarkan kaya rasa berhasil dia berikan. Kejadian tersebut mendorong Caesar nekat memburu pimpinan militer yang hanya kita kenal sebagai Kolonel (Woody Harrelson, dalam performa yang mengingatkan pada Kolonel Kurtz-nya Marlon Brando di Apocalypse Now). Di sini kerumitan dilematis Caesar nampak. Untuk pertama kali sepanjang franchise ini penonton diajak meragukan keputusannya.
Akhirnya ditemani Maurice (Karin Konoval), Rocket (Terry Notary), dan Luca (Michael Adamthwaite), perjalanan Caesar dimulai. Menunggangi kuda melintasi bentangan alam luas yang ditangkap begitu indah oleh sinematografi Michael Seresin, War bagaikan suguhan western. Hanya saja gurun gersang nan benderang digantikan lokasi bersalju yang dingin pula kelam. Pun kisah para kera mencari rumah baru demi kehidupan lebih baik sejalan dengan esensi setumpuk film western masa lampau. Reeves membawa perjalanan ini dalam tempo cukup lambat namun bukan diseret sekaligus terasa padat sebagaimana naskah tulisannya bersama Mark Bomback enggan menyisakan celah. Tensi melambat di antara aksi tak berujung kekosongan melainkan pembangunan intensi menuju aksi berikutnya, membuat penonton sulit memilih kapan saat tepat sejenak ke kamar kecil.

Sekalinya aksi yang dijanjikan hadir, Reeves tidak mengecewakan. Walau belum sebombastis Dawn (adegan penyergapan gudang senjata dengan putaran kamera 360 derajat di tank masih action terbaik franchise ini), setidaknya keasyikan konsisten diciptakan, bahkan sebatas kera-kera kecil bergelantungan di bentangan kabel layaknya pertunjukan sirkus pun menarik. Selain itu, tiap gelaran aksi selalu memberi dampak penting bagi emos karakternya, bukan sekedar ledakan hampa. Semakin menyenangkan ketika War tidak melulu memancarkan aura depresif. Selipan humor sesekali mengisi di saat tepat. Menyegarkan tanpa mendistraksi. Tampil pula Bad Ape (Steve Zahn) yang berkat kesesuaian timing serta penokohan likeable tak berujung jadi comic relief perusak suasana macam Jar Jar Binks (berisiko ke sana bila ditangani secara salah).

Bertempo cukup lambat juga bernuansa dingin bukan berarti minim rasa. Reeves menolak berlebihan mendramatisir, juga tidak meredam emosi. Seolah meracik penuh kasih sayang, sang sutradara mengandalkan sensitivitas tutur, sembari tidak terburu-buru memastikan rasa yang coba disampaikan merasuk di hati penonton. Reeves membuktikan bahwa dramatis dapat terasa artistik nan elegan melalui keputusan mempercantik ekspresi perasaan daripada sepenuhnya menahan itu. Kelemahan mungkin muncul sewaktu third act-nya lebih mementingkan ragam penuturan filosofis daripada menumpahkan puncak aksi. Sedikit anti-klimaks tapi bukan masalah. Masih menyenangkan. Tatkala kera bertambah cerdas sedangkan sebaliknya manusia menjadi primitif, tinggal tersisa satu persamaan. Rasa. Itulah pemersatu yang semestinya meruntuhkan perbedaan. War for the Planet of the Apes adalah penutup trilogi mengesankan yang turut memberi kritik tepat sasaran terhadap isu sosial masa kini sekaligus menawarkan solusi. 


Review ini disponsori UC Web. Ulasan film ini di UC Web dapat anda kunjungi di: http://tz.ucweb.com/7_25r9y