Tampilkan postingan dengan label Jason Headley. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jason Headley. Tampilkan semua postingan

REVIEW - LIGHTYEAR

Menjadi box office-flop terbesar Pixar (mempertimbangkan pandemi yang mereda, perilisan teatrikal, bujet 200 juta, dan merk dagang Toy Story), ulasan yang cenderung mixed, kontroversi terkait elemen LGBT yang berujung pembatalan rilis di belasan negara termasuk Indonesia. Tapi apakah Lightyear memang bencana besar ditilik dari segi kualitas? 

Babak pertamanya jauh dari kesan tersebut. Buzz Lightyear (Chris Evans) dan sahabatnya, Alisha Hawthorne (Uzo Aduba), tergabung di kesatuan space ranger yang mengawal penjelajahan luar angkasa, untuk mencari planet layak huni. Tibalah mereka di T'Kani Prime, yang kemudian dianggap berbahaya akibat banyaknya makhluk buas. Tapi sebuah kecelakaan akibat kesalahan perhitungan Buzz membuat pesawat gagal lepas landas sekaligus merusak sumber bahan bakar, sehingga memaksa semua orang menetap sementara waktu di sana, sembari mencari cara melanjutkan perjalanan.

Kegagalan Buzz membawa dampak mengejutkan. Bukan cuma karena ia merupakan space ranger tangguh penuh percaya diri, pula bagaimana Angus MacLane selaku sutradara, membangun sense of dread kuat dari kegagalan itu (fade to black, musik mencekam). 

Setahun berselang, bahan bakar baru telah siap dicoba, dan first act-nya makin menarik, saat uji terbang Buzz membawanya mengalami time dilation. Walau cuma berada di luar angkasa selama beberapa menit, Buzz mendapati sudah empat tahun berlalu di T'Kani Prime. Tapi Buzz enggan menyerah, terus melakukan uji terbang hingga 62 tahun berlalu. Efek time dilation membuat petualangan Buzz tak terbatas tatanan waktu, sehingga kalimat ikonik "To infinity and beyond" pun jadi kenyataan. 

Selain status sebagai "film yang ditonton Andy", elemen science fiction dalam efek time dilation, serta eksplorasi luar angkasa bak Star Trek, merupakan ide segar yang dibawa naskah buatan MacLane dan Jason Headley, agar Lightyear tampil beda dibanding installment utama di seri Toy Story. Ditambah montage menyentuh berupa penggambaran berlalunya waktu, juga keberhasilan Evans menghidupkan Buzz tanpa harus meniru suara Tim Allen, kekecewaan atas film ini terasa berlebihan. Sampai babak keduanya datang.

Babak kedua membawa kisahnya melompat lagi, kali ini sejauh 22 tahun, di mana T'Kani Prime sedang menghadapi invasi pasukan robot di bawah pimpinan Zurg (James Brolin). Sudah pasti Buzz enggan tinggal diam dan merencanakan perlawanan dibantu Sox (Peter Sohn), robot kucing pemberian Alisha; Izzy (Keke Palmer), cucu Alisha yang bukan seorang space ranger tangguh seperti sang nenek; Mo (Taika Waititi) yang naif dan kikuk; serta Darby (Dale Soules) si wanita tua perakit bom. 

Banyak keluhan berasal dari betapa ringannya cerita Lightyear, yang setelah melewati tetek bengek perjalanan waktunya, memang mengikuti pola petualangan luar angkasa sederana. Tapi bagi saya, anggapan bahwa produk Pixar wajib menghadirkan banjir air mata sekaligus dilengkapi alur "berat", sejatinya kurang tepat. Apalagi sejak beberapa tahun terakhir, ketika animasi Pixar dan Walt Disney mulai "disamarkan". Pixar berubah lebih ringan bukanlah kesalahan atau degradasi kualitas. Menjadi demikian kala kesolidan bercerita ikut lenyap, sebagaimana dialami Lightyear. 

Ceritanya berpusat pada proses belajar para karakter. Buzz belajar memercayai orang lain, lalu bersedia bekerja sama dengan mengurangi ego. Sedangkan jajaran karakter pendukung coba memperbaiki diri dengan memahami kelebihan yang mereka miliki. Misalnya Izzy. Biarpun cucu space ranger legendaris, ia mengidap fobia luar angkasa, yang dirasa menyeramkan karena terdiri atas kekosongan tanpa batas. Nantinya, Izzy belajar mengubah sudut pandang, sebab kekosongan tadi sama artinya dengan ketiadaan rintangan. 

Tentu sebelum memperoleh "pencerahan", semua karakter mesti bergulat dengan kesalahan bahkan kegagalan. Fase tersebut wajib ada, namun naskah Lightyear terlalu bergantung pada kecerobohan mereka untuk menggulirkan cerita. Sekali, dua kali, masih wajar. Lain soal jika mayoritas konflik dipicu blunder bodoh karakternya. Pertama, itu menandakan naskahnya minim kreativitas. Seolah daya cipta para penulis telah habis dipakai kala memikirkan konsep time dilation. 

Kedua, rentetan kebodohan itu menyulitkan timbulnya simpati kepada karakternya (Not Sox. Sox is funny and likeable). Pengarahan MacLane berhasil membangun klimaks uplifting sekaligus intens, di mana semua karakter akhirnya mampu bekerja sama. Tapi pasca barisan kebodohan tadi, satu peristiwa itu saja masih kurang untuk meyakinkan bahwa proses belajar karakternya telah tuntas. Walau momennya dieksekusi dengan baik, tidak dengan perjalanan menuju ke sana.

(SPOILER ALERT) Contoh lain kelemahan naskahnya terletak pada cara menangani twist soal identitas Zurg. Bagaimana Buzz, yang amat memedulikan Alisha, pula melihat langsung kebahagiaan sang sahabat bersama keluarganya, terpikir untuk menghapus semua itu dari eksistensi memang patut dipertanyakan (sekali lagi bentuk ketidakmampuan naskah mempresentasikan proses secara mumpuni), namun penerapan unsur fiksi ilmiahnya lebih mengganggu. MacLane dan Headley luput menjelaskan bagaimana time dilation berujung terciptanya peristiwa alternatif (yang mana dua fenomena berbeda). (SPOILER ENDS)

Sebagai hiburan, Lightyear punya ide-ide spektakel memadai khas blockbuster mahal, yang didukung kemampuan MacLane mengarahkan aksi solid, juga animasi realistis. Sekali lagi, tidak masalah bila "hanya" itu tujuan film ini. Lightyear mengecewakan bukan karena tak bercerita dengan gaya khas Pixar. Lightyear mengecewakan karena tak bercerita dengan baik. Itu saja.  

(Disney+ Hotstar)

ONWARD (2020)

Melalui Onward, Pixar kembali mengkreasi dunia imajinatif mereka sendiri. Bayangkan Zootopia, tapi ganti para hewan yang berperilaku dan hidup bagai manusia, dengan makhluk-makhluk mitologi. Unicorn berebut makanan di tempat sampah seperti kucing liar, naga menggantikan peran anjing selaku peliharaan, centaur berprofesi sebagai polisi, dan lain-lain. Dan dalam dunia berisi deretan makhluk ajaib tersebut, tidak ada keajaiban berupa sihir sebagaimana selalu kita lihat di berbagai kisah fantasi yang melibatkan mereka.

Lebih tepatnya, sihir sudah menghilang, digantikan oleh teknologi yang penggunaannya lebih praktis. Tidak perlu merapal mantra, tidak perlu melalui latihan intens. Konsep menarik, walau sulit menghilangkan harapan bahwa naskah buatan sutradara Dan Scanlon (Monsters University) bersama Keith Bunin (Horns) dan Jason Headley (A Bad Idea Gone Wrong) lebih mengeksplorasi cara kerja dunianya, sebagaimana selalu jadi keunggulan judul-judul terbaik Pixar.

Di dunia inilah protagonis kita hidup. Namanya Ian (Tom Holland), elf remaja yang canggung dalam bersosialisasi. Kakaknya, Barley (Chris Pratt) terobsesi pada sejarah dunia khususnya ilmu sihir beserta petualangan ajaibnya. Sedangkan sang ibu, Laurel (Julia Louis-Dreyfus), sepeninggal suaminya, tengah menjalin hubungan dengan polisi centaur, Colt Bronco (Mel Rodriguez).

Ian tidak pernah bertemu sang ayah, dan cuma bisa mengenalnya lewat cerita-cerita Barley, beberapa lembar foto, serta sebuah kaset berisi rekaman suaranya. Hati seperti ditusuk-tusuk saat melihat Ian menciptakan obrolan imajiner dengan ayahnya menggunakan rekaman tersebut. Jika momen itu terasa jujur dan intim, mungkin karena ide kisahnya sendiri Scanlon dapat dari pengalaman personal kala sewaktu remaja, ia menerima rekaman suara mendiang ayahnya dari seorang kerabat.

Lalu bertepatan dengan ulang tahun ke-16 Ian, Laurel memberi kejutan. Sebuah kado dari sang ayah. Semakin mengejutkan, karena kado itu adalah tongkat sihir beserta mantra yang dapat membangkitkan orang mati selama sehari. Tapi akibat kurang pengalaman, Ian hanya berhasil mengembalikan kaki ayahnya. Maka, Ian dan Barley harus berpacu dengan waktu, menjalani misi guna mengembalikan ayah mereka secara utuh.

Sepanjang misi yang mempertemukan keduanya dengan berbagai rintangan, mulai dari geng motor fairy, hingga gua rahasia penuh teka-teki dan jebakan, Ian turut melatih kemampuannya sebagai penyihir muda. Keberadaan ilmu sihir (dan elemen fantasi secara umum), membantu Onward tampil lebih segar, biarpun alurnya mengusung pakem standar film road trip. Khususnya perihal spektakel, di mana Scanlon menunjukkan perkembangan pesat sebagai sutradara pasca menjalani debutnya tujuh tahun lalu.

Disokong visual memikat yang membantu menghidupkan dunia imajinatifnya (meski bukan produk visual terbaik Pixar), Scanlon menyuguhkan petualangan mengasyikkan, yang melibatkan aksi seru nan menegangkan dan proses memecahkan teka-teki sederhana. Sihir memang kerap jadi jalan penyelesai masalah, tapi tidak berakhir sebagai jalan keluar yang (terlalu) mudah, sebab Onward memastikan bahwa Ian harus belajar dan bertumbuh lebih dulu. Alhasil, pertarungan besar di klimaks jadi luar biasa memuaskan, sebab di situlah protagonis kita akhirnya membuktikan perkembangannya setelah proses panjang.

Holland dan Pratt tidak kesulitan menghidupkan figur remaja canggung dan pemuda nyeleneh, mengingat peran semacam itu sudah beberapa kali keduanya lakoni. Hal serupa berlaku pada Pixar, yang dikenal sebagai jagonya mengaduk-aduk perasaan penonton. Di sini, bahkan pemandangan kecil seperti sepasang kaki yang saling bersentuhan saja bisa begitu bermakna. Justru momen besarnya, yang diharapkan memberi puncak emosi, mungkin takkan bisa diterima semua penonton.

Pertama, perlu dipahami dahulu, pesan apa yang Onward ingin sampaikan. Seperti judulnya, ini adalah kisah soal melangkah maju. Bukan tentang mengejar masa lalu, melainkan bagaimana masa lalu berguna untuk masa kini dan nanti. Sosok ayah yang telah tiada (masa lalu) membantu Ian menyadari betapa berharganya Barley (masa kini). Ilmu sihir (masa lalu), berkontribusi pada proses tumbuh kembang Ian (masa depan). Sementara di lingkup keluarga, Onward mengajak untuk lebih memperhatikan orang-orang tercinta yang masih berada di samping kita, bukannya tenggelam pada kerinduan terhadap sosok tercinta lain yang telah tiada.

Secara dampak emosi, resolusinya bisa jadi dianggap antiklimaks, atau malah mengkhianati, oleh sebagian penonton, walau sebenarnya, pilihan konklusi itu sesuai dengan tujuan filmnya. Sepertinya Onward juga bentuk terapi pribadi bagi Scanlon sendiri. Bisa dipahami. TAPI, filmnya terlanjur memberondong dengan ekspektasi yang melibatkan hati. Dan setelah semua itu, tidak keliru bila ada penonton yang merasa dicurangi. Meminjam istilah Jawa, apa yang Onward lakukan itu “bener ning ora pener”.