Tampilkan postingan dengan label Jonathan Groff. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jonathan Groff. Tampilkan semua postingan

REVIEW - THE MATRIX RESURRECTIONS

The Matrix merupakan seri film dengan kemunduran kualitas luar biasa parah. Film pertamanya yang rilis tahun 1999 amat revolusioner. Salah satu yang terbaik sepanjang masa. Empat tahun berselang, menyusul Reloaded, yang meski punya beberapa gelaran aksi memikat, jelas wujud penurunan. Kemudian Revolutions menutup trilogi dengan kekecewaan mendalam, dan pantas masuk jajaran sekuel terburuk yang pernah dibuat.

Seperti judulnya, Resurrections diharapkan jadi titik kebangkitan. Sejam pertamanya memang bak sebuah kebangkitan, kala naskah buatan Lana Wachowski, David Mitchell, dan Aleksandar Hemon "mereplikasi" sekuen pembuka film aslinya, kala Trinity kabur dari serbuan para agen setelah menemukan keberadaan Neo. Tapi ada perubahan, salah satunya sosok Trinity yang berbeda dari yang kita kenal. 

Seolah jadi perpanjangan tangan penonton, Bugs (Jessica Henwick) turut menyaksikan peristiwa tersebut dan menyadari perbedaannya. Tidak lama kemudian, Bugs pun mendapati bahwa Thomas Anderson alias Neo (Keanu Reeves) masih hidup, selepas tak sengaja bertemu Morpheus, yang kali ini diperankan Yahya Abdul-Mateen II, menggantikan Laurence Fishburne. 

Kenapa ada versi lain dari Trinity dan Morpheus? Lalu bagaimana bisa, Neo yang terakhir kita tahu berkorban nyawa di konklusi Revolutions, masih segar bugar? Apakah wanita bernama Tiffany (Carrie-Anne Moss) yang selalu mencuri perhatiannya juga adalah Trinity yang hidup kembali?

Sebaiknya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas anda temukan sendiri, sebab itulah pondasi utama satu jam pertamanya, yang kembali melemparkan perenungan kompleks perihal eksistensi. Pasca perluasan mitologi dalam Reloaded membuat ceritanya hilang fokus, sementara Revolutions justru membuang segala narasi tentang kemanusiaan, The Matrix akhirnya kembali ke dasar. 

Pemakaian eksposisi verbal sarat istilah teknis asing yang disampaikan begitu cepat memang menuntut konsentrasi penonton, tapi jika berhasil mengikutinya, paruh awal Resurrections menawarkan misteri yang sangat mengikat. Penceritaan meta dirambah, termasuk menyentil kegundahan The Wachowskis perihal tuntutan memproduksi film keempat (Neo ibarat representasi mereka selaku kreator), lalu memancing pertanyaan atas segala yang kita saksikan di triloginya. Sebagaimana Neo 22 tahun lalu, penonton diajak mempertanyakan, "Apakah semua itu nyata?". 

Sayangnya, misteri tersebut ditutup lewat simplifikasi, yang menegaskan bahwa film ini, terutama first act-nya, bertujuan sebagai retcon semata bagi konklusi Revolutions. Tidak salah, bahkan perlu dilakukan, mengingat "dosa besar" yang film ketiganya lakukan. Tapi setelah satu jam penuh penelusuran rumit, jawabannya menyisakan harapan lebih. 

Sejak itu Resurrections tak mampu mengembalikan kekuatan narasinya, walau keputusan menjadikan cinta selaku motor penggerak si protagonis, membawa kisahnya ke ranah lebih personal dibanding tiga installment sebelumnya. 

Setidaknya, sebagai sineas yang selalu membuka tangan lebar-lebar akan kemajuan teknologi, Lana Wachowski (karena terbentur jadwal produksi serial Work in Progress, Lilly Wachowski absen di kursi penyutradaraan) mampu membawa filmnya tampil memukau di departemen tersebut. "That Looks real", ucap Neo kala melihat langit buatan Io, kota pengganti Zion. Itu pula yang saya rasakan tiap Resurrections memamerkan CGI miliknya. 

Canggih. Kata ini wajib dipunyai The Matrix, baik terkait pengemasan dunianya, maupun dalam eksekusi aksi. Di luar dugaan, kuantitas aksi Resurrections terhitung minim, apalagi jika dibandingkan durasinya yang mencapai 148 menit. Lebih banyak teori, filosofi, perenungan, dan diskusi. Beberapa tampil seolah hanya untuk diri sendiri, alih-alih menstimulus pikiran penonton, namun konsistensi Lana dalam bercerita membuat pacing-nya terjaga. 

Aksinya sendiri cenderung inkonsisten. Sangat inkonsisten. Ada kalanya, tepat selepas kreativitas tinggi seperti "bom manusia" di klimaks, kita langsung disuguhi aksi minim gaya, yang bagai bukan berasal dari seri The Matrix. Eksplorasinya tak seliar dulu, yang ketimbang "pendewasaan", lebih pantas disebut "penurunan". Neo paling terkena dampak. Mengurangi kesan godlike hero dalam dirinya adalah pilihan masuk akal, namun lain cerita saat ia cuma dibekali energy shield membosankan.

The Matrix Resurrections merupakan definisi sempurna untuk reaksi "it's good, but...". Selalu ada kata "tapi". Termasuk mengenai recasting. Secara narasi, termasuk latar waktunya, mengganti Morpheus jadi keputusan tepat. Terlebih Yahya Abdul-Mateen II bisa melahirkan versi karakter yang berbeda. Sebaliknya, mengubah Smith dari Hugo Weaving ke Jonathan Groff justru melukai filmnya. Terdapat sebuah momen di klimaks, yang hanya akan berhasil memantik antusiasme bila Smith masih diperankan Weaving. Groff is good, but...

REVIEW - HAMILTON

Hamilton merekam pertunjukan musikal Broadway berjudul sama (tepatnya tiga pertunjukan yang disatukan) karya Lin-Manuel Miranda. Kita bak diajak duduk bersama para penonton di Richard Rogers Theatre yang dapat kita dengar tawa serta tepuk tangannya sepanjang pementasan. Tapi tak sekalipun kita dibawa naik ke atas panggung. Kamera selalu menangkap peristiwa dari depan, bahkan dalam beberapa setup shot (termasuk 13-14 nomor musikal) yang diambil menggunakan Steadicam, crane, dan dolly.

Seolah ada sekat yang tak ingin ditembus sutradara Thomas Kail. Filmnya membiarkan realita panggung tetap berada di panggung, memisahkannya dengan realita sesungguhnya di kursi penonton. Sebab yang ingin diberikan adalah pengalaman menonton. Ketika close up digunakan, tujuannya bukan membaurkan realita, namun sebatas “ganti rugi” atas atmosfer yang takkan dirasakan saat menyaksikan di layar. Pendekatan konvensional mungin bakal melahirkan musikal yang lebih kuat, tapi inilah hasil terbaik yang bisa didapat dari tujuan di atas.

Naskah milik Miranda mengadaptasi buku biografi Alexander Hamilton buatan Ron Chernow. Penyesuaian yang cukup berani, diterapkan. Beberapa yang paling utama adalah penggunaan musik hip hop modern, dan memakai pemain non-kulit putih untuk memerankan para founding fathers Amerika Serikat. Miranda membuat sebuah kisah yang “sangat kulit putih” menjadi kaya keragaman. Manusia-manusia rasis dan penganut white supremacy niscaya kebakaran jenggot mendengar lirik “Immigrant, we get the job done!”.

Miranda sendiri memerankan Hamilton, seorang imigran asal Pulau Nevis, Karibia, yang sepanjang 160 menit kita ikuti perjalanannya. Dimulai dari kedatangannya di New York pada 1776; terlibat perlawanan atas penjajahan Raja George III (Jonathan Groff) bersama teman-temannya, termasuk aristokrat Prancis, Marquis de Lafayette (Daveed Diggs) dan Hercules Mulligan (Okieriete Onaodowan) si mata-mata keturunan Irlandia; menjadi tangan kanan George Washington (Christopher Jackson) selama Revolusi Amerika Serikat; hingga menduduki jabatan Menteri Keuangan selepas kemerdekaan.

Apabila belum terbiasa menonton musikal berbentuk sung-through, mungkin anda akan kesulitan menangkap deretan “pelajaran sejarah” versi Lin-Manuel Miranda. Apalagi bukan cuma dinyanyikan, mayoritas dialog dijadikan rap. Tapi bagi yang familiar, akan mudah terkesima, baik oleh pertunjukannya sendiri, maupun penerjemahannya ke media film.  

Saya terpukau oleh aktor-aktornya, yang tetap prima bergerak lincah penuh tenaga ke tiap sudut panggung sambil melempar bait-bait rap, yang butuh perpaduan stamina dengan teknik pernapasan luar biasa. Saya pun terpukau oleh estetikanya. Permainan tata lampu, pergantian set yang membaur mulus dengan tarian, hingga pusat panggung yang bisa diputar 360 derajat sebagai alat bermain-main dengan blocking, di mana kesempurnaan timing pergerakan dan nyanyian para pemain merupakan kewajiban.

Terkait filmnya, dibantu penyuntingan Jonah Moran, Kail mampu memperkuat penekanan momen, yang di panggung dicapai lewat permainan lampu dan gerak aktor. Kail tahu, kapan mesti memakai wide shot, medium shot, tracking shot, dan close-up, untuk menghadirkan kesan sedekat mungkin dengan menontonnya langsung di gedung pertunjukan. Meski harus diakui pencapaian Hamilton jelas amat bergantung pada kualitas pertunjukannya. 

Sedangkan pilihan musiknya adalah pencapaian tinggi. Hip hop sarat kata-kata tajam selaku wadah kreativitas pengadeganan termasuk kala pertemuan kabinet yang memanas disulap jadi rap battle, R&B, sampai pop dan balada, bersatu menciptakan ragam warna serta dampak rasa. Adrenalin dipacu, air mata pun beberapa kali mengalir. Sedangkan tawa paling banyak hadir setiap George III menampakkan diri. Sosoknya bak badut, sebagai satir atas kekejamannya, yang berkata hendak mengungkapkan cinta kasih terhadap rakyat melalui pembantaian. Pun saya tergelak mendengar keterkejutannya atas pengunduran diri George Washington sebagai Presiden, sebab ia tidak tahu kalau pemimpin negara bisa meletakkan jabatan.

Arogansi, ditambah kekuasaan, mungkin membuat George III lupa, atau bahkan tak peduli soal bagaimana sejarah mencatat namanya. Tapi Hamilton peduli. Begitu pun Aaron Burr (Leslie Odom Jr.). Keduanya boleh berbeda ideologi. Hamilton selalu tancap gas, sedangkan Burr memilih sabar menanti. Tapi, sewaktu bangsa terbentuk, mereka sama-sama ingin meletakkan pondasi bagi buah hati masing-masing. “Gotta start a new nation, gotta meet my son”, ungkap Hamilton dengan mata berkaca-kaca.

Tapi saat urusan legacy berbenturan dengan kotornya politik, penerapannya tak semudah itu. Terjadi aksi saling serang, saling mengkhianati, bahkan tragedi. Dari situlah kita melihat jika film ini (otomatis pertunjukannya pun sama) menolak mengultuskan sang protagonis. Hamilton jauh dari kesan suci, namun bukan berarti legacy-nya sia-sia. Momen penutupnya menyampaikan itu, ketika sang istri, Eliza (Phillipa Soo) menyanyikan nomor emosional, Who Lives, Who Dies, Who Tells Your Story. Sebenarnya bukan di akhir saja Eliza mencuri perhatian. Setiap kemunculannya selalu memancing haru.

Eliza bukan karakter utama. Judul film dan pertunjukan tidak menggunakan namanya, Walau demikian, sebagaimana figur-figur lain, ia merupakan bagian substansial narasi yang tercatat dalam sejarah dan legacy-nya akan selalu dikenang. And of course, that “gasp”. Gestur penutup kecil yang memunculkan banyak pertanyaan. Mengapa Eliza terkesiap? Apakah ia mendobrak batasan realita ruang dan waktu lalu melihat bagaimana legacy-nya diturunkan seiring perkembangan bangsa yang ia saksikan kelahirannya? Ataukah itu momen “breaking the fourth wall” di mana Eliza bertatap mata dengan penonton, menyadari bahwa selama ini pembentukan legacy-nya selalu disaksikan? Atau wujud “tanda seru” dari Lin-Manuel Miranda, guna menutup kisahnya yang bak rangkaian kalimat pernyataan-pernyataan tegas?

Available on DISNEY+ HOTSTAR

FROZEN 2 (2019)

Sekuel dari film animasi terlaris kedua sepanjang masa ini menegaskan bahwa di periode keemasan modernnya, pendekatan yang Walt Disney terapkan di animasi adalah penggabungan kekhasan fantasi negeri dongeng mereka dengan high concept dengan gelora emosi ala Pixar. Kembali ditulis oleh Jennifer Lee, yang juga masih menyutradarai bersama Chris Buck, Frozen 2 mengeksplorasi mitologi yang cukup kompleks apalagi bagi penonton anak, sambil tetap mengaduk-aduk rasa dalam cerita berdaya imajinasi tinggi.

Cinta, memori, dan alam. Tiga elemen tersebut diceritakan saling terkait. Cinta menyimpan memori, alam pun demikian. Manusia mesti mencintai alam yang sejatinya dipenuhi cinta. Kurang lebih begitu. Cukup sulit menjabarkan itu ke anak, karena bagi orang dewasa pun, pemaparan mitologi Frozen 2 takkan bisa dicerna segampang itu. Naskahnya memang amat ambisius, hingga kerap kelabakan sendiri menyusun keping-kepingnya, walau kemampuan Jennifer Lee memperluas mitologi sambil mengaitkannya dengan beberapa poin cerita dari film pertama patut dipuji.

Tiga tahun selepas film pertama, Elsa (Idina Menzel) mampu membawa perdamaian sebagai Ratu Arendelle, memerintah ditemani adiknya, Anna (Kristen Bell), yang hubungan romansanya dengan Kristoff (Jonathan Groff) pelan-pelan mulai beranjak ke jenjang lebih serius, setidaknya dari sisi sang pria. Semua bahagia, sampai Elsa mulai mendengar suara aneh memanggilnya dari Utara. Suara yang menggiring Elsa, Anna, Kristoff, Sven, dan Olaf (Josh Gad) mengarungi petualangan guna mencari tahu asal-usul kekuatan sihir es Elsa.

Sepanjang perjalanan, peristiwa-peristiwa magis ditemui, dan rentetan keajaiban itulah yang agak kesulitn dirangkai oleh Jennifer Lee. Apa? Mengapa? Bagaimana? Tiga pertanyaan tersebut kerap mencuat dan tak selalu berhasil dijabarkan dengan rapi. Hal lain yang banyak mengisi perjalanan filmnya adalah adegan musikal. Saya mendengar keluhan bahwa Frozen 2 terlalu sering bernyanyi, tapi bukan itu kasusnya. Silahkan hitung. Jumlah sekuen musikal film pertama dan kedua sama-sama delapan buah. Hanya saja, penempatannya, terlebih di awal, cukup berdekatan sehingga terkesan penuh sesak.

Tapi itu tidak jadi soal, sebab ini film musikal. Selama tiap lagu membantu penelusuran cerita dan eksplorasi karakter, sah-sah saja mau sebanyak apa pun. Dan Frozen 2 berhasil melakukan itu. Benar bahwa selain Into the Unknown (dengan cerdik sekelumit nadanya terus diputar selaku bagian penting cerita sehingga mudah menempel di ingatan) lagu-lagunya belum sekuat film pertama, namun itu dikarenakan mengejar kualitas “kelas dewa” pendahulunya adalah kemustahilan.

Tapi ketertinggalan tersebut mampu dibayar lunas oleh pengadeganan indah nan kreatif. Lost in the Woods yang bak parodi video klip pop romantis era 80-90an, kejenakaan When I Am Older, lalu tentunya Into the Unknown dan Show Yourself selaku klimaks presentasi visual dengan sedikit napas surealisme, yang mewakili proses Elsa selangkah demi selangkah bertransformasi dari Ratu sakti menjadi “ethereal, magical, superior being”. Penurunan kualitas cuma terjadi pada The Next Right Thing, sebuah balada klise dengan visualisasi yang nampak kerdil dibanding para kompatriotnya.

Mengulik lebih jauh departemen visualnya, di luar adegan musikal, kualitas animasi Frozen 2 begitu baik, pun sempat menyentuh ranah photorealistic. Paling memikat adalah bagaimana animasi film ini menghidupkan air. Entah gulungan ombak raksasa atau ratusan gelembung yang melayang dari balik lantai kapal. Silahkan cari animasi lain yang bisa mengkreasi air, yang notabene bukan elemen yang gampang dianimasi, senyata film ini.

Selain soundtrack, scoring garapan Cristophe Beck pun menghadirkan keindahan lain yang seolah mewakili harmoni alam, yang begitu indahnya, sampai bisa mengaduk-aduk perasaan. Sementara terkait Elsa, Frozen 2 ibarat kulminasi pesan empowerment yang dibawa karakternya. Berulang kali, saya dan banyak penonton bersorak merayakan wanita tangguh satu ini beraksi bak superhero. Dari sosok bermasalah yang ditakuti, Ratu, pahlawan super, sampai akhirnya menjadi seorang Dewi. Tidak ada alasan untuk tidak mencintai Elsa.

Sejak awal, Frozen sudah mengusung pesan empowerment, termasuk kala mendobrak formula prince charming di film pertama. Tapi tuturannya seimbang, tidak serta merta memukul rata dengan melukiskan semua pria secara negatif. Kedua gender saling menyokong. Contoh terbaik adalah saat Kristoff menolong Anna dari kejaran sekelompok raksasa. Dia hanya berkata “I’m here. What do you need?”. Dari kalimat singkat itu, bukan aksi heroik Kristoff yang ditonjolkan, melainkan bagaimana ia hanya pria sederhana yang siap sedia mendukung cintanya.

Semakin jauh kisah berjalan, Frozen 2 semakin terkesan kelam, tapi gelak tawa serta teriakan sebagai ekspresi rasa gemas tetap berhasil diproduksi. Olaf masih karakter pendukung yang dicintai penonton, dan kali ini, seekor kadal api menggemaskan ikut berpartisipasi mencuri hati. Bicara mengenai karakter, menarik disimak bahwa Frozen 2 tidak punya antagonis, dan memang tidak membutuhkannya. Ini bukan kisah kebaikan melawan kejahatan. Ini tentang usaha menemukan harmoni antara internal manusia dengan semesta.