REVIEW - ENCANTO
Sebelum menu utama Far From the Tree terlebih dahulu diputar. Berkisah tentang rakun yang kerepotan menjaga anaknya, kala ia sedang mencari makan, animasi pendek ini bicara soal proses belajar generasi muda, agar kelak bisa lebih baik dari generasi sebelumnya. Encanto pun serupa, walau kali ini, alih-alih menggantikan peran, si generasi muda turut mengajak generasi tua untuk berbenah, kemudian bersama-sama menyongsong era baru yang lebih baik.
Keluarga Madrigal dikenal atas keajaiban mereka. Berkat lilin ajaib yang didapat sang matriarch, Abuela (María Cecilia Botero), begitu mencapai usia tertentu, seluruh anggota keluarga mendapatkan kekuatan berbeda-beda. Tapi, tidak seperti Isabela (Diane Guerrero), kakak sulungnya yang dikagumi lewat kemampuan membuat bunga mekar di mana saja, maupun Luisa (Jessica Darrow) si kakak kedua yang jadi andalan berkat fisiknya, Mirabel (Stephanie Beatriz) dianggap tidak spesial. Dialah satu-satunya Keluarga Madrigal yang tidak dianugerahi kekuatan.
Bagaimana bisa? Lupakan sejenak soal tetek bengek keajaibannya, sebab kondisi serupa kerap kita temui di realita. Bayangkan sebuah keluarga. Mungkin kedua orang tua punya jabatan tinggi, harta melimpah, pula amat disegani. Sedangkan anak-anaknya, entah sudah mendapatkan pekerjaan bergaji besar, atau sangat berprestasi di sekolah. Lalu ada salah satu anak yang tidak menonjol di bidang apa pun. Orang-orang, termasuk orang tua dan saudaranya, semua berujar, "Kok dia bisa beda banget ya?".
Perbedaan tadi membuatnya dipandang sebelah mata, atau bahkan tidak dipercaya. Sehingga, sekeras apa pun si anak mencoba membuktikan diri, selama ia masih berbeda, eksistensinya bakal terus dikesampingkan. Kira-kira demikian kondisi Mirabel.
Naskah buatan Charise Castro Smith dan Jared Bush menyusun deretan konflik relatable, yang biarpun diisi hal-hal magis, tetap membumi, dan tentu saja emosional. Tidak ada antagonis di sini. Tidak ada monster mengerikan, tidak ada manusia jahat, tidak ada pula kutukan yang mesti dihapus. Musuh karakternya adalah "ekspektasi". Keluarga berekspektasi semua anggotanya sempurna. Ekspektasi yang memberikan tekanan luar biasa jika gagal dipenuhi. Pun bagi yang berhasil, bukan berarti kedamaian selalu mengiringi, karena bisa jadi kesempurnaan itu berupa kepalsuan yang terpaksa ditempuh.
Selain menulis naskah, Jared Bush juga duduk di kursi sutradara bersama Byron Howard (Bolt, Tangled, Zootopia), dan keduanya piawai merangkai gambar-gambar indah kaya warna, terutama di sekuen musikal, yang seperti ceritanya, bernuansa magis. Lagu-lagu hasil komposisi Lin-Manuel Miranda masih catchy, meski secara keseluruhan masih berada di bawah karya-karya terbaiknya. Dos Oruguitas (Two Oruguitas), sebuah nomor akustik yang mengiringi salah satu momen paling menyentuh sepanjang filmnya, jadi favorit saya.
Cukup disayangkan, babak ketiganya tampil agak buru-buru. Para penulis naskah bak kebingungan mengakali ketiadaan antagonis konvensional kala menyusun klimaksnya. Setidaknya, third act tersebut mampu menautkan segala permasalahan, lalu membawanya mengerucut ke satu arah, yakni perihal memperjuangkan keluarga (dan komunitas). Bahwa salah satu lawan dari perjuangan adalah, tatkala seiring waktu, individu lupa akan alasannya memperjuangkan hal itu.
REVIEW - TICK, TICK... BOOM!
Seperti protagonis Tick, Tick... Boom!, saat ini saya berumur 29 tahun. Hanya tersisa beberapa bulan lagi menginjak "kepala tiga", yang kerap disebut "akhir masa muda". Belum menikah, belum merasa mapan, pula masih terombang-ambing antara terus menempuh jalur sesuai keinginan, atau mesti menyerah pada sistem.
Mengadaptasi musikal berjudul sama karya Jonathan Larson, Tick, Tick... Boom! juga menandai debut penyutradaraan Lin-Manuel Miranda. Sulit dipercaya memang. Rasanya beberapa orang bakal mengira Hamilton dan In the Heights merupakan garapannya, melihat bagaimana nama Miranda jadi jualan utama. Pun terkait hasilnya, Tick, Tick... Boom! tidak seperti garapan seorang debutan. Sangat matang.
Kisahnya bertindak selaku biografi Larson (Andrew Garfield), walaupun filmnya sendiri menyatakan bahwa ada beberapa bagian fiktif yang berasal dari imajinasi Larson (Tick, Tick... Boom! versi musikal panggung adalah semi-autobiografi).
Terdapat dua latar waktu. Pertama tahun 1992, saat Larson mementaskan Tick, Tick... Boom! bersama kedua rekannya, Roger (Joshua Henry) dan Karessa (Vanessa Hudgens begitu mencuri perhatian di atas panggung). Pertunjukan itu berupa monolog, yang tak jarang bak stand-up comedy, sebab Larson justru mengajak penontonnya untuk menertawakan rentetan kemalangan yang ia derita. Ketimbang meratapi, sang seniman memilih merayakan ironi.
Kemalangan yang dimaksud, hadir pada latar waktu kedua filmnya, yakni 1990, tatkala Larson mempersiapkan lokakarya bagi musikal perdananya, Superbia. Sudah berkali-kali pitching-nya ditolak, dan kini Larson merasa hampir kehabisan waktu. Ulang tahun ke-30 makin dekat, namun belum juga ia meraih kesuksesan. Masih tinggal di apartemen bobrok, bekerja di sebuah diner, sementara kekasihnya, Susan (Alexandra Shipp) tengah mempertimbangkan menerima tawaran pekerjaan di kota lain. Pekerjaan yang tak sesuai impian, tetapi menjamin kestabilan ekonomi.
Di situlah dilema memuncak. Apakah menyerah jadi pilihan? Sahabatnya, Michael (Robin de Jesús), yang dahulu bercita-cita menjadi aktor broadway pun kini sudah banting setir bekerja di bidang periklanan, dan belum lama ini, pindah ke sebuah apartemen mewah. Ataukah sebaiknya Larson terus berjuang, walau ada risiko menemui kegagalan? Bagaimana jika kegagalan menghampiri setelah melakukan begitu banyak pengorbanan?
Naskah milik Steven Levenson mampu mewakili kegelisahan fase quarter-life crisis. Larson (dan para pemimpi lain di luar sana) memang ngotot, tetapi tidak naif. Bayangan-bayangan mengerikan seputar kegagalan pasti selalu terlintas. Mengerikan, sebab jika itu terjadi, besar kemungkinan tak cuma mimpi saja yang mati, pula prinsip, nilai-nilai, serta identitas diri.
Jangan salah, Tick, Tick... Boom! bukan sedang menyalahkan orang-orang seperti Michael yang memutuskan berpindah jalur. Hal itu sah-sah saja. Menyerah pada realita bukan aksi pecundang, melainkan upaya mengejar kebahagiaan dalam bentuk berbeda. Naskahnya tidak "mendorong" agar kita terus mengejar mimpi, melainkan "merangkul" sembari menyatakan bahwa kengototan itu bukanlah kesalahan. Bahwa tidak masalah bila kita terus mencoba menggapai kesuksesan selepas menginjak usia 30 tahun.
Alurnya melaju cepat, pula bergerak cukup liar. Hanya dalam beberapa detik, satu rangkaian sekuen bisa terdiri atas begitu banyak shot, begitu banyak adegan, dari latar waktu atau situasi yang biarpun berbeda, masih terhubung oleh benang merah yang sama, guna mewakili suatu gagasan. Departemen penyutradaraan dan penyuntingan bekerja dengan amat baik, sehingga deretan kekacauan yang mewakili keliaran isi kepala sang tokoh (biopic yang bagus tidak hanya menceritakan kehidupan seseorang, tapi juga mewakili jiwanya) tetap terjalin rapi.
Musikal adalah karya yang sangat ekspresif. Logika dikesampingkan demi memberi ruang bagi pengekspresian rasa. Saya menyebut Miranda tidak nampak seperti debutan, karena luar biasanya ia menuangkan rasa dalam kemasan sarat imaji. Beberapa CGI kasar memang mengurangi dampak emosi di beberapa titik, namun kekurangan itu dibayar lunas oleh momen-momen lain, termasuk konklusi powerful, tatkala sebuah lagu yang kita semua tahu, secara tidak terduga mengakhiri cerita dengan indah.
Saya yakin Andrew Garfield bakal menyabet nominasi Oscar keduanya tahun depan (kemungkinan berhadapan dengan Will Smith, Leonardo DiCaprio, Denzel Washington, dan Benedict Cumberbatch). Inilah performa terlengkap sang aktor. Segala macam gestur dan ekspresi, baik besar atau yang cenderung subtil, dipamerkan. Terkadang ia jatuh, untuk kemudian bangkit. Terkadang ia kacau, sebelum mampu menata diri. Demikianlah dinamika hidup para pemimpi. Here's to the ones who dream.
(Netflix)
REVIEW - VIVO
Selepas Spider-Man: Into the Spider-Verse (2018) dan The Mitchells vs. the Machines (2021), Sony Pictures Animation resmi jadi kekuatan baru dunia animasi (kualitas sebelumnya cenderung naik-turun). Sedangkan dalam dua tahun terakhir, kita belajar bahwa keberadaan Lin-Manuel Miranda selaku komposer ibarat jaminan mutu. Vivo menyatukan kedua pihak dalam kisah mengenai cinta yang tak lekang oleh waktu. Cinta yang terabadikan dalam nada-nada.
Berlatar Havana, Cuba, musisi tua bernama Andrés Hernández (Juan de Marcos González) selalu memainkan musik bersama seekor kinkajou miliknya, Vivo (Lin-Manuel Miranda). Kecintaan Andrés terhadap musik mungkin cuma bisa ditandingi oleh cintanya pada Marta (Gloria Estefan). Dahulu, Andrés dan Marta adalah duo. Andrés mencintai Marta, namun memilih memendam perasaan, kala si pujaan hati mendapat tawaran berkarir di Amerika. Puluhan tahun berselang, Marta telah menjadi musisi legendaris, tapi isi hati Andrés tidaklah berubah.
Andrés membuat lagu untuk Marta, yang tak pernah sempat ia berikan. Peluang itu datang saat Marta mengundang kawan lamanya itu untuk berduet di konser terakhirnya di Miami. Malang, sebuah tragedi merenggut peluang tersebut. Kini semua tergantung Vivo, yang harus mengantarkan lagu terakhir Andrés sebelum konser Martha usai.
First act-nya tampil dengan sensitivitas tinggi, di mana Kirk DeMicco (The Croods) selaku sutradara, menekankan spiritualitas. Baik lagu, maupun alam beserta segala isinya, seolah merupakan entitas bernyawa, yang berbicara kepada manusia melalui caranya masing-masing. Sederhananya, sebuah keajaiban.
Demi mencapai Miami, Vivo menyelundup ke tas Gabi (Ynairaly Simo), puteri Rosa (Zoe Saldana), keponakan Andrés yang tinggal di Key West. Bagaimana seekor kinkajou dalam tas tak terdeteksi oleh pemeriksaan bandara, biarlah jadi suspension of disbelief. Gabi sepakat menolong Vivo, walau akibat kurangnya perencanaan, perjalanan singkat ke Miami menjadi petualangan berbahaya, yang mempertemukan mereka dengan hewan buas di hutan dan.....girl scout.
Vivo membawa second act-nya ke arah petualangan ringan semua umur (walaupun piton raksasa yang disuarakan Michael Rooker rasanya terlalu mengerikan bagi penonton anak), yang belakangan bak jadi kekhasan Sony Pictures Animation (terletak di antara gaya Pixar dan Dreamworks). Cukup berjarak dibanding sensitivitas dramatik paruh pertama, namun bukan di situ masalahnya. Masalah muncul ketika naskah buatan DeMicco dan Quiara Alegría Hudes (In the Heights), terlalu bergantung pada kemunculan tokoh-tokoh baru, guna menggerakkan alur dan menyelesaikan konflik, alih-alih mematangkan dua protagonis.
Gabi membantu Vivo bukan cuma karena ingin bertualang, pun didorong empati terhadap Andrés. Serupa Andrés, Gabi tak sempat mengucap "I love you" sebelum ayahnya meninggal. Motivasi kuat tersebut gagal dimaksimalkan. Pada akhirnya, semua dampak emosional timbul dari hubungan Andrés-Marta semata.
Tapi terkait tujuan melahirkan petualangan menghibur, paruh kedua Vivo jelas berhasil. Perpaduan komponen audiovisual memegang kunci. Lagu-lagu ciptaan Lin-Manuel Miranda selalu bisa membuat penonton tergerak mengikuti irama. My Own Drum yang makin bertenaga berkat vokal Ynairaly Simo, sementara nomor elektronik catchy Running Out of Time (bagian "M-I-A-M-I running out of time" bakal terus terngiang) dikemas kreatif lewat sinkronisasi lagu dengan dialog, di bawah cahaya neon yang mewarnai kemeriahan malam Miami.
Available on NETFLIX
REVIEW - IN THE HEIGHTS
Pagi di Washington Heights. Seorang pria beranjak dari tempat tidur, tersenyum, lalu menggumam, "This is the best day of my life", sebelum membuka bodega yang telah ia kelola selama bertahun-tahun, sebagai warisan mendiang sang ayah. Di tengah perjalanan, permen karet menempel di sepatunya. Sejenak ia kesal, tapi seketika nyanyian, tarian, dan senyumannya kembali. Begitu pun saat menyadari dirinya kehabisan susu akibat rusaknya pendingin.
Satu demi satu pelanggan datang. Bukan cuma berbelanja, pula bercengkerama, bergunjing, membicarakan apa saja yang bisa dibicarakan. Kemudian kita diajak keluar, melihat aktivitas pagi hari seluruh warga, yang mayoritas merupakan keturunan imigran Puerto Rico. Kita melihat tiap sudut komplek, mengunjungi bisnis-bisnis yang dijalankan. Usnavi (Anthony Ramos) nama pemilik bodega tersebut. Dialah protagonis kita, namun In the Heights bukan semata tentangnya. Karena ini bukan kisah individu, melainkan komunal.
Dan bukan kisah biasa. Para imigran kerap dipanggil "dreamers". Mereka memang pemimpi-pemimpi, yang hidup berlandaskan jiwa sueñitos (jika diterjemahkan secara harafiah berarti "mimpi kecil"). Digambarkan bahwa membeli lotere yang menjanjikan hadiah utama senilai 96 ribu dollar jadi bagian rutinitas. Jumlah yang dibeli tak seberapa. Gagal menang pun tidak masalah. Bukan wujud kemalasan, namun perlambang dari impian memperbaiki kehidupan yang tak pernah pupus, seburuk apa pun situasinya. Sebab In the Heights, meski mengangkat banyak perjuangan dan kesulitan, bukan film soal penderitaan. Sebaliknya, ini kisah mengenai mereka yang menganggap hidup adalah anugerah. Bahwa hidup, mimpi, dan cinta, patut dirayakan.
Usnavi punya mimpi pulang ke kampung halaman guna mengelola kembali bar pinggir pantai milik ayahnya. Satu lagi impiannya adalah berkencan dengan pegawai salon bernama Vanessa (Melissa Barrera), tapi ia tak punya cukup nyali untuk mengutarakan itu. Sementara Vanessa bercita-cita menjadi perancang busana, dan pindah ke apartemen yang lebih baik, di pusat kota. Sahabatnya, Nina (Leslie Grace), dielu-elukan sebagai kebanggaan warga, berkat keberhasilannya berkuliah di Stanford, meski sebuah ganjalan membuatnya risih atas puja-puji tersebut.
Masih banyak tokoh lain yang kita temui. Sonny (Gregory Diaz IV), sepupu Usnavi yang membantunya mengurus bodega; Benny (Corey Hawkins), sahabat Usnavi sekaligus mantan kekasih Nina; Claudia (Olga Merediz), yang tidak hanya merawat Usnavi sejak kecil, pula seisi komunitas. Ya, walau Usnavi merupakan sentral, naskah buatan Quiara Alegría Hudes, yang mengadaptasi pertunjukan musikal berjudul sama karyanya bersama Lin-Manuel Miranda, sejatinya menggali begitu banyak karakter, memberi semuanya kesempatan bersinar.
Hasilnya adalah 143 menit yang ramai, namun tertata dan terpusat, walau pengurangan durasi beberapa menit rasanya akan membantu. Pondasinya tetap soal kehidupan secara luas, dan kehidupan imigran Puerto Rico secara spesifik. Bagaimana selaku minoritas yang senantiasa dipersulit mereka selalu berusaha merayakan hidup, menggapai mimpi, dan tentunya, mencari definisi "rumah". Jawabannya standar. Home is people, not a place. Karena destinasi memang nomor dua. Paling utama adalah proses mencapai destinasi itu. Proses memahami definisi rumah sesungguhnya.
Hitung mundur menuju blackout berkali-kali tampil di layar (dimulai dari H-3). Peristiwa blackout ini nantinya dipakai memunculkan metafora dari kata "powerless" (lagu Blackout), perihal imigran yang menolak memadamkan api kehidupan, biarpun terus dilucuti dayanya oleh para penguasa juga mayoritas.
Pernah mengarahkan dua judul Step Up, termasuk Step Up 3D (2010) selaku installment terbaiknya, Chu jelas piawai menciptakan kemeriahan. Apalagi didukung Anthony Ramos yang gestur terkecilnya saja bak tarian, serta Melissa Barrera yang...well, simply breathtaking (khususnya di nomor The Club). Sedangkan deretan lagu gubahan Lin-Manuel Miranda mungkin bukan tipe yang bakal bisa dihafalkan dalam sekali dengar, tapi festivity, pula curahan perasaan yang jujur dan sesekali menggelitik (sangat Miranda!), memberinya kekuatan.
Tapi sekali lagi, In the Heights bukan sekadar meriah. Sensitivitas sang sutradara tampak betul di sini. Melalui pilihan shot yang menyokong rasa yang terkandung di tiap momen, Chu melahirkan keindahan. Dari keindahan romantisme kala senja menjadi latar romantika Nina dan Benny (lagu When the Sun Goes Down) yang seolah mengatakan bahwa gravitasi pun tak kuasa menahan kekuatan cinta, hingga keindahan di balik kesenduan, sebagaimana saat Nina meluapkan isi hatinya (lagu Breathe), juga nuansa magis sewaktu lilin-lilin menyala di tengah gelapnya malam tanpa lampu di Washington Heights (lagu Alabanza).
In the Heights menunjukkan kekuatan sejati film musikal, di mana eksplorasi-eksplorasi mampu diwakili oleh lagu, sehingga penceritaan tradisional tidak diperlukan. Misalnya, tanpa perlu banyak melihat karakternya bertukar kata cinta, kita dapat memahami perasaan mereka. Keberhasilan mencapai hal tersebut, menjadikan In the Heights film musikal terbaik sejak La La Land mengaduk-aduk hati kita setengah dekade lalu.
REVIEW - HAMILTON
Hamilton merekam pertunjukan musikal Broadway berjudul sama (tepatnya
tiga pertunjukan yang disatukan) karya Lin-Manuel Miranda. Kita bak diajak
duduk bersama para penonton di Richard Rogers Theatre yang dapat kita dengar
tawa serta tepuk tangannya sepanjang pementasan. Tapi tak sekalipun kita dibawa
naik ke atas panggung. Kamera selalu menangkap peristiwa dari depan, bahkan
dalam beberapa setup shot (termasuk
13-14 nomor musikal) yang diambil menggunakan Steadicam, crane, dan dolly.
Seolah ada sekat yang tak ingin
ditembus sutradara Thomas Kail. Filmnya membiarkan realita panggung tetap
berada di panggung, memisahkannya dengan realita sesungguhnya di kursi
penonton. Sebab yang ingin diberikan adalah pengalaman menonton. Ketika close up digunakan, tujuannya bukan
membaurkan realita, namun sebatas “ganti rugi” atas atmosfer yang takkan dirasakan
saat menyaksikan di layar. Pendekatan konvensional mungin bakal melahirkan
musikal yang lebih kuat, tapi inilah hasil terbaik yang bisa didapat dari
tujuan di atas.
Naskah milik Miranda mengadaptasi
buku biografi Alexander Hamilton buatan
Ron Chernow. Penyesuaian yang cukup berani, diterapkan. Beberapa yang paling
utama adalah penggunaan musik hip hop modern, dan memakai pemain non-kulit
putih untuk memerankan para founding
fathers Amerika Serikat. Miranda membuat sebuah kisah yang “sangat kulit
putih” menjadi kaya keragaman. Manusia-manusia rasis dan penganut white supremacy niscaya kebakaran
jenggot mendengar lirik “Immigrant, we
get the job done!”.
Miranda sendiri memerankan
Hamilton, seorang imigran asal Pulau Nevis, Karibia, yang sepanjang 160 menit
kita ikuti perjalanannya. Dimulai dari kedatangannya di New York pada 1776; terlibat
perlawanan atas penjajahan Raja George III (Jonathan Groff) bersama
teman-temannya, termasuk aristokrat Prancis, Marquis de Lafayette (Daveed
Diggs) dan Hercules Mulligan (Okieriete Onaodowan) si mata-mata keturunan
Irlandia; menjadi tangan kanan George Washington (Christopher Jackson) selama
Revolusi Amerika Serikat; hingga menduduki jabatan Menteri Keuangan selepas
kemerdekaan.
Apabila belum terbiasa menonton
musikal berbentuk sung-through,
mungkin anda akan kesulitan menangkap deretan “pelajaran sejarah” versi
Lin-Manuel Miranda. Apalagi bukan cuma dinyanyikan, mayoritas dialog dijadikan
rap. Tapi bagi yang familiar, akan mudah terkesima, baik oleh pertunjukannya
sendiri, maupun penerjemahannya ke media film.
Saya terpukau oleh aktor-aktornya,
yang tetap prima bergerak lincah penuh tenaga ke tiap sudut panggung sambil
melempar bait-bait rap, yang butuh perpaduan stamina dengan teknik pernapasan
luar biasa. Saya pun terpukau oleh estetikanya. Permainan tata lampu,
pergantian set yang membaur mulus dengan tarian, hingga pusat panggung yang
bisa diputar 360 derajat sebagai alat bermain-main dengan blocking, di mana kesempurnaan timing
pergerakan dan nyanyian para pemain merupakan kewajiban.
Terkait filmnya, dibantu
penyuntingan Jonah Moran, Kail mampu memperkuat penekanan momen, yang di
panggung dicapai lewat permainan lampu dan gerak aktor. Kail tahu, kapan mesti
memakai wide shot, medium shot, tracking
shot, dan close-up, untuk
menghadirkan kesan sedekat mungkin dengan menontonnya langsung di gedung
pertunjukan. Meski harus diakui pencapaian Hamilton jelas amat bergantung pada kualitas pertunjukannya.
Sedangkan pilihan musiknya adalah pencapaian
tinggi. Hip hop sarat kata-kata tajam selaku wadah kreativitas pengadeganan
termasuk kala pertemuan kabinet yang memanas disulap jadi rap battle, R&B, sampai pop dan balada, bersatu menciptakan
ragam warna serta dampak rasa. Adrenalin dipacu, air mata pun beberapa kali
mengalir. Sedangkan tawa paling banyak hadir setiap George III menampakkan
diri. Sosoknya bak badut, sebagai satir atas kekejamannya, yang berkata hendak
mengungkapkan cinta kasih terhadap rakyat melalui pembantaian. Pun saya
tergelak mendengar keterkejutannya atas pengunduran diri George Washington
sebagai Presiden, sebab ia tidak tahu kalau pemimpin negara bisa meletakkan
jabatan.
Arogansi, ditambah kekuasaan,
mungkin membuat George III lupa, atau bahkan tak peduli soal bagaimana sejarah
mencatat namanya. Tapi Hamilton peduli. Begitu pun Aaron Burr (Leslie Odom Jr.).
Keduanya boleh berbeda ideologi. Hamilton selalu tancap gas, sedangkan Burr
memilih sabar menanti. Tapi, sewaktu bangsa terbentuk, mereka sama-sama ingin
meletakkan pondasi bagi buah hati masing-masing. “Gotta start a new nation, gotta meet my son”, ungkap Hamilton
dengan mata berkaca-kaca.
Tapi saat urusan legacy berbenturan dengan kotornya politik,
penerapannya tak semudah itu. Terjadi aksi saling serang, saling mengkhianati,
bahkan tragedi. Dari situlah kita melihat jika film ini (otomatis pertunjukannya
pun sama) menolak mengultuskan sang protagonis. Hamilton jauh dari kesan suci,
namun bukan berarti legacy-nya
sia-sia. Momen penutupnya menyampaikan itu, ketika sang istri, Eliza (Phillipa
Soo) menyanyikan nomor emosional, Who
Lives, Who Dies, Who Tells Your Story. Sebenarnya bukan di akhir saja Eliza
mencuri perhatian. Setiap kemunculannya selalu memancing haru.
Eliza bukan karakter utama. Judul film
dan pertunjukan tidak menggunakan namanya, Walau demikian, sebagaimana
figur-figur lain, ia merupakan bagian substansial narasi yang tercatat dalam
sejarah dan legacy-nya akan selalu
dikenang. And of course, that “gasp”.
Gestur penutup kecil yang memunculkan banyak pertanyaan. Mengapa Eliza
terkesiap? Apakah ia mendobrak batasan realita ruang dan waktu lalu melihat
bagaimana legacy-nya diturunkan
seiring perkembangan bangsa yang ia saksikan kelahirannya? Ataukah itu momen “breaking the fourth wall” di mana Eliza
bertatap mata dengan penonton, menyadari bahwa selama ini pembentukan legacy-nya selalu disaksikan? Atau wujud
“tanda seru” dari Lin-Manuel Miranda, guna menutup kisahnya yang bak rangkaian
kalimat pernyataan-pernyataan tegas?
Available on DISNEY+ HOTSTAR







