Tampilkan postingan dengan label Dwayne Johnson. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dwayne Johnson. Tampilkan semua postingan

REVIEW - DC LEAGUE OF SUPER-PETS

Walau ditangani oleh Jared Stern dan John Whittington yang sebelumnya tergabung dalam tim penulis naskah The Lego Batman Movie (2017), kurang bijak mengharapkan DC League of Super-Pets membawa keunikan serupa, mengingat seri The Lego Movie memang punya gayanya sendiri. Tapi premis mengenai hewan peliharan para pahlawan super jelas mengandung lebih banyak potensi ketimbang sebatas "modifikasi The Secret Life of Pets".

Krypto (Dwayne Johnson) adalah anjing peliharaan Superman (John Krasinski) yang mendarat di Bumi bersama sang majikan selepas Krypton binasa. Setelah dewasa, keduanya berduet sebagai pelindung Metropolis. Krypto menganggap Superman tidak butuh sahabat selain dirinya. Sampai datang sebuah ancaman. Bukan ancaman berupa supervillain atau alien jahat, melainkan Lois Lane (Olivia Wilde), kekasih Superman. Krypto khawatir Lois bakal mengambil alih posisinya.

Tapi ancaman dari supervillain juga siap menghadang, kala seekor guinea pig di tempat penampungan hewan bernama Lulu (Kate McKinnon), mendapat kekuatan super karena terpapar batu kryptonite oranye. Lulu mengagumi Lex Luthor (Marc Maron) yang pernah menjadikannya bahan eksperimen, dan kekaguman itu mendorongnya membuktikan diri dengan cara menangkap semua anggota Justice League. Tapi rupanya, hewan-hewan lain di tempat penampungan juga memperoleh kekuatan, lalu bersama Krypto, mereka membentuk tim super guna menolong Superman dan kawan-kawan.

PB (Vanessa Bayer) si babi mampu mengubah ukuran tubuhnya, Merton (Natasha Lyonne) si kura-kura kini bisa berlari secepat kilat, Chip (Diego Luna) si tupai merah dapat menembakkan listrik, sedangkan Ace (Kevin Hart) si anjing boxer punya kekuatan fisik super. Warna tubuh hitam, telinga runcing bak tanduk, bahkan penonton yang tak familiar dengan komiknya pun akan mudah menebak, siapa superhero yang kelak bakal jadi majikan Ace.

Satu yang membuat DC League of Super-Pets terasa serba tanggung adalah cara kedua penulisnya menangani komedi, selaku amunisi hiburan utama filmnya, di sela-sela alur yang bermain di ranah familiar ('The Secret Life of Pets' with superpowers). Stern dan Whittington bak ragu, apakah ingin tampil konyol demi menyenangkan penonton anak, atau memancing tawa para orang tua. Hasilnya tak cukup total bagi bocah, namun cenderung kekanak-kanakan bagi penonton dewasa. Humor yang mengolok-olok Batman (Keanu Reeves) selalu menggelitik, tapi karena sudah terlalu sering mendengarnya, entah di media sosial atau The Lego Batman Movie, dampak yang dihasilkan tidak maksimal. 

Di "film bocah" macam ini saya cenderung mengesampingkan keluhan terkait plot hole, tapi rasanya anak pun bakal bertanya, mengapa Justice League dengan cepat dilumpuhkan oleh pasukan guinea pig, sedangkan Krypto dan timnya menang tanpa perlawanan berarti. Lain cerita bila kemenangan itu terjadi karena adanya sesuatu yang cuma bisa dilakukan para hewan peliharaan. Ada beberapa kejanggalan lain (misal saat Merton dengan kecepatannya tak menolong Krypto yang diancam oleh Lulu), tapi lubang di atas paling fatal, sebab dari situlah pondasi cerita tentang "tim hewan peliharaan super membantu Justice League" berasal. 

Untungnya memasuki paruh akhir, ketika fokus mulai sepenuhnya beralih ke aksi, DC League of Super-Pets sukses menawarkan hiburan. Terdapat deretan ide kreatif (granat berbentuk bola bulu adalah ide brilian), pun di kursi sutradara, Jared Stern melahirkan aksi superhero seru yang biasanya identik dengan format live action. 

Third act-nya tampil megah, bombastis, dinamis, dengan animasi mumpuni, menjadikannya klimaks yang pantas bagi sebuah film bertema pahlawan super. Dua pesan mengenai persahabatan dan berkorban demi sosok tercinta juga terhubung dengan apik di akhir, di mana sensitivitas Stern meramu pengadeganan mampu menciptakan konklusi menyentuh untuk eksplorasi penceritaan yang kurang matang.

REVIEW - RED NOTICE

Film seperti Red Notice tidak memerlukan reviu. Skor 39% (sampai saat ini) di Rotten Tomatoes tidaklah penting. Begitu pula tulisan ini, yang saya buat hanya untuk berkata, "Tonton saja, nikmati petualangan berskala global bersama tiga megabintang miliknya, lupakan tetek bengek terkait kualitas cerita dan semacamnya".

Industri film, terutama mereka yang dicap "ekspertis", belakangan terasa makin berjarak dengan publik. Kritikus cenderung memandang sebelah mata tontonan ringan, sedangkan ajang penghargaan menganugerahkan kemenangan pada judul-judul yang baru tayang (sangat) terbatas demi memenuhi persyaratan nominasi. Film semakin sulit dirayakan secara luas.

Red Notice tentu dikritisi akibat naskah buatan sang sutradara, Rawson Marshall Thurber (We're the Millers, Central Intelligence, Skyscraper), gagal menyampaikan penceritaan mumpuni. Tapi apakah kata "gagal" patut disematkan, bila memang bukan itu tujuannya? Aksi seru berbalut komedi dengan latar berbagai negara, ketangguhan Dwayne Johnson, kejenakaan Ryan Reynolds, dan pesona Gal Gadot. Itu tujuan utamanya.

Johnson berperan sebagai John Hartley, agen FBI yang terpaksa bekerja sama dengan buruannya, Nolan Booth (Ryan Reynolds) si pencuri benda seni, setelah ia dijebak oleh pencuri lain, Sarah Black (Gal Gadot), atau yang dikenal lewat julukan "The Bishop". Ketiganya menyambangi Italia, Indonesia, Spanyol, Argentina, hingga Mesir, guna mencari keberadaan telur berhiaskan permata milik Cleopatra, yang konon telah hilang selama dua ribu tahun.

Agak disayangkan Red Notice tidak tayang di bioskop. Gelaran aksinya bakal makin seru di layar lebar. Menontonnya di layar televisi atau laptop cukup mengurangi keasyikkan, sehingga membuat pikiran lebih terfokus pada cerita, yang memang tidak pernah diniati untuk tampil maksimal.

Apa yang dimaksimalkan? Keunggulan tiga pemeran utamanya tentu saja. Johnson masih bisa diandalkan sebagai action hero, bahkan ketika Hartley lebih "manusiawi" dibanding karakter-karakter sang aktor biasanya. Gal Gadot adalah Wonder Woman, sehingga ketangguhannya dalam laga tidak mengejutkan. Tapi ini perannya yang paling playful, walau kesan femme fatale misterius tetap kental. 

Reynolds? Menyaksikan tiga filmnya secara berdekatan, membuat saya semakin yakin bahwa ia adalah comic genius. Caranya menangani humor melalui sarkasme dan deadpan, termasuk ketepatan timing-nya, sungguh luar biasa. 

Muncul twist di babak akhir. Bukan twist cerdas, namun selaras dengan keseluruhan "warna" filmnya, selaku petualangan mengitari dunia guna mencari artefak, yang enggan memedulikan keseriusan, bagai Indiana Jones (lagu temanya sempat terdengar sekilas di sini) versi jauh lebih ringan. 


(Netflix)

REVIEW - JUNGLE CRUISE

Jungle Cruise memberi pelajaran besar tentang kesabaran. Kalau mau bersabar, ketika bioskop kembali dibuka, saya bisa menontonnya di layar lebar hanya dengan 35 ribu rupiah. Kalau mau bersabar, mungkin awal November nanti saya bisa menontonnya di Disney+ Hotstar. Sayangnya saya terburu-buru, merogoh kocek sekitar 430 ribu rupiah demi Premier Access, untuk sebuah petualangan membosankan. 

Sebenarnya karya terbaru Jaume Collet-Serra (terkenal lewat jajaran action flick Liam Neeson) ini tidak buruk-buruk amat. Kemungkinan bakal lebih memuaskan di layar lebar. Tapi bukankah semua film demikian? Film bagus akan menjadi luar biasa di bioskop. Sebaliknya, kalau sebuah film harus ditonton di bioskop hanya untuk mencapai level "cukup", pondasinya memang sudah lemah.

Merupakan film keenam (tanpa menghitung empat sekuel Pirates of the Caribbean) yang dibuat berdasarkan wahana Disneyland, Jungle Cruise sebenarnya diawali secara meyakinkan. Berlatar Perang Dunia I, kita bertemu Dr. Lily Houghton (Emily Blunt) dan adiknya, MacGregor (Jack Whitehall), yang tengah mempresentasikan riset soal Tears of the Moon, pohon legenda asal Amerika Selatan, yang konon dapat menyembuhkan segala penyakit.

Presentasi dilakukan di hadapan anggota Royal Society, dengan harapan, mereka memberi Lily akses pada sebuah mata panah, yang dipercaya menyimpan petunjuk mengenai lokasi Tears of the Moon. Ditolak mentah-mentah, Lily terpaksa mencuri mata panah itu, menghadirkan sekuen aksi perdana di Jungle Cruise, yang mengingatkan kita akan keseruan film-film petualangan seperti The African Queen (1951), Sahara (2005), dan tentu saja seri Indiana Jones.

Melalui sekuen itu pula, Blunt membuktikan ia sempurna memerankan jagoan di kisah petualangan. Cerdik, witty, penuh semangat, tak kenal takut, atletis. Aksi "petak umpetnya" kala mencuri mata panah berbekal segudang akal, memenuhi ciri di atas. 

Berikutnya, Lily dan MacGregor tinggal mencari nahkoda yang mau dan mampu membawa mereka melintasi Sungai Amazon. Perkenalkan Frank (Dwayne Johnson), penyedia jasa tur murah, di mana para turis "dihibur" oleh ancaman-ancaman palsu (self-made backside of water, friendly tribe, etc.) dan pelesetan garing. Cara yang cukup mulus perihal mengadaptasi beragam kekhasan wahananya. 

Selepas diskusi alot, Frank bersedia mengantar Lily dan MacGregor. Di sisi lain, Pangeran Joachim (Jesse Plemons) aristokrat Jerman yang berambisi memanfaatkan Tears of the Moon guna memperkuat persenjataan militer di medan perang. Akhirnya petualangan seru nan menegangkan pun dimulai.....well, seharusnya demikian.

Tapi semakin jauh berlayar, Jungle Cruise justru semakin membosankan, akibat terlalu mengandalkan visual CGI ala "blockbuster keluarga berlatar dunia fantasi", yang cartoonish dan artificial, alias "mati". Tidak bernyawa. Jaume Collet-Serra seolah terlena dengan teknologi berbiaya tinggi, yang untuk pertama kalinya ia dapat, melepas keseruan organik sebagaimana sekuen aksi pertama filmnya, menggantikannya dengan berbagai set piece generik minim ketegangan.

Padahal tersimpan segudang potensi. Baik berupa kemunculan empat antagonis beraroma mistis dengan desain serta kemampuan menarik (ada yang terbuat dari lumpur, akar pohon, sarang lebah, dan ular), maupun twist terkait sosok Frank, yang membuat filmnya bisa menambah sedikit unsur kekerasan dalam aksi, namun tetap aman dikonsumsi semua umur sebagaimana film Disney biasanya. Bahkan kombinasi Blunt-Johnson yang berdaya hibur tinggi (meski kurang meyakinkan kala melangkah ke ranah romansa), tak cukup kuat untuk menjustifikasi durasi 127 menitnya, yang terasa 30 menit lebih lama. 

Naskah buatan Michael Green (Logan, Blade Runner 2049), Glenn Ficarra, dan John Requa (I Love You Phillip Morris, Focus) sebenarnya memiliki banyak niat baik. Penggambaran Lily sebagai figur tangguh dalam kisah petualangan yang didominasi jagoan pria patut diapresiasi. Pada satu kesempatan, Lily ditangkap oleh anak buah Pangeran Joachim. Frank akhirnya memang muncul, namun hanya untuk sedikit mengulurkan bantuan. Lily mampu mengatasi segalanya, membuat saya percaya dia sanggup "berdiri sendiri".

Sedangkan terkait keputusan memasukkan karakter LGBT, ketimbang menghasilkan empowerment, malah terasa dipaksakan, tidak terjadi secara organik. Sekali lagi, itu memang niatan baik. Merilis filmnya di Disney+ pun (in a way) bisa dianggap niat baik, agar penonton tidak perlu menunggu lama untuk menonton Jungle Cruise. Tapi apalah arti niat baik tanpa realisasi matang, yang justru berujung memperburuk keadaan?


Available on DISNEY+ (Premier Access)

JUMANJI: THE NEXT LEVEL (2019)

Dua tahun lalu, Jumanji: Welcome to the Jungle meruntuhkan segala skeptisme lewat petualangan segar nan menghibur yang juga sukses secara finansial dengan pendapatan $962 juta. Franchise-nya pun mendapat suntikan tenaga sekaligus arah baru. Sekuelnya ini—yang bisa dianggap film ketiga atau keempat di seri Jumanji tergantung apakah anda menghitung Zathura: A Space Adventure (2005) atau tidak—mungkin tak menghadirkan petualangan tingkat lanjut sebagaimana judulnya siratkan, namun petualangan yang familiar ini masih sama menyenangkannya.

Selepas peristiwa film pertama, Fridge (Ser'Darius Blain) si atlet, Martha (Morgan Turner) si pemalu yang cerdas, dan Bethany (Madison Iseman) si gadis populer, masih rutin berkomunikasi lewat grup chat meski sudah tinggal terpisah. Spencer (Alex Wolff) juga tergabung di grup itu, tapi ia lebih banyak diam. Hubungan jarak jauhnya denga Martha pun bermasalah. Spencer kehilangan arah. Kepercayaan dirinya terkikis, dilahap oleh hiruk New York. Saat keempatnya hendak bereuni, Spencer justru punya rencana lain.

Dia rindu menjadi Dr. Bravestone (Dwayne Johnson) yang perkasa. Akhirnya, ia nekat memperbaiki gim Jumanji yang diam-diam dipungutnya, lalu kembali memasuki dunia tersebut. Mengetahui itu, Martha, Fridge, dan Bethany terpaksa menyusul demi menolong Spencer, sampai peristiwa mengejutkan terjadi. Di Jumanji, Martha masihlah Ruby Roundhouse (Karen Gillan) dengan segala keatletisannya. Sial bagi Fridge. Kini avatarnya adalah Professor Sheldon (Jack Black) si arkeologis yang menurutnya tidak berguna.

Tapi bukan itu saja. Kakek Spencer, Eddie (Danny DeVito) serta mantan sahabatnya, Milo (Danny Glover) ikut terhisap ke Jumanji, dan masing-masing menempati avatar Dr. Bravestone dan Mouse (Kevin Hart) si zoologist, sedangkan Bethany tertinggal di dunia nyata. Ke mana perginya Spencer? Pertanyaan itu bakal terjawab bersama paparan filmnya soal penerimaan diri. Nantinya diungkap bahwa avatar Spencer tidak jauh beda dibanding sosoknya di kehidupan nyata. Dari situ, Jumanji: The Next Level memperlihatkan proses Spencer menerima seluruh kekurangan dirinya, lalu berusaha melakukan yang terbaik. Bukan begitu?

Awalnya demikian, sampai naskah buatan sutradara Jake Kasdan (yang turut membidani film sebelumnya) bersama Jeff Pinker dan Scott Rosenberg (keduanya pernah berduet di Jumanji: Welcome to the Jungle dan Venom) merusak pesan tersebut di babak ketiga, sewaktu filmnya menempuh jalur malas guna menyelesaikan masalah tokoh-tokohnya yang terjadi akibat avatar mereka saling tertukar. Bobot emosi justru hadir di tengah konflik Eddie dan Milo, dalam kisah tentang retaknya persahabatan yang awalnya konyol, namun perlahan menemukan hati, kala menyinggung betapa pertemanan dua manusia lanjut usia punya makna lebih, sebab mereka mesti bergulat dengan waktu, juga “akhir”.

Humornya masih mengandalkan kekacauan kala beberapa avatar diisi oleh seseorang dengan karakterisasi berlawanan. Bahkan beberapa humor Welcome to the Jungle, seperti “smoldering intensity” atau “jurus menari” milik Ruby, ditampilkan lagi, seolah Jumanji: The Next Level coba menghadirkan nostalgia dari film yang baru rilis dua tahun lalu. Tidak sesegar dulu? Jelas. Apakah masih lucu? Ternyata iya. Jake Kasdan sanggup memanfaatkan talenta luar biasa jajaran pemainnya, yang dituntut memerankan berbagai macam kepribadian.

Dwayne Johnson sebagai kakek pelupa yang cerewet, Kevin Hart sebagai zoologist dengan tempo bicara super lambat yang kerap menggiring teman-temannya menuju bahaya, dan Jack Black, meski tak lagi mengutamakan kecentilan seperti film sebelumnya, membawa sisi histerikal yang juga menghibur. Karen Gillan masih menggila, apalagi saat di satu titik, avatar Ruby Roundhouse sempat dimasuki karakter lain, sedangkan Awkwafina sebagai Ming, si avatar baru dengan spesialisasi mencuri, bakal membuatmu sakit perut hanya dengan melihat postur dan gesturnya.

Dunia Jumanji mayoritas terbuat dari CGI, tapi itu urung membuat Jake Kasdan terlalu bergantung kepadanya. Sewaktu banyak film setipe cuma asal membentangkan dunia CGI warna-warni yang terasa mati, Kasdan memperhatikan betul tiap set piece aksi, membuatnya bertenaga berkat penempatan sekaligus pergerakan kamera yang sesuai. Dan sewaktu saya mulai khawatir bila film keempatnya kelak bakal repetitif, Jumanji: The Next Level menampilkan mid-credits scene yang menjaga antusiasme untuk menantikan sekuelnya. Bring me the next, more advance level!


FAST & FURIOUS PRESENT: HOBBS & SHAW (2019)

Kita tahu, sejak Fast Five, The Fast and the Furious nyaris sepenuhnya meninggalkan akar balap mobilnya untuk mengambil rute blockbuster berskala besar seputar usaha menyelamatkan dunia. Tapi apa yang mesti dilkukan agar Fast & Furious Presents: Hobbs & Shaw (atau disingkat “Hobbs & Shaw”) selaku spin-off agar tampil beda dibanding seri utama? Jawabannya sederhana: tukar porsi antara stunt mobil gila dengan adu jotos. Bukan masalah, sebab publik mengasosiasikan merk “The Fast and the Furious” dengan dua hal, yakni tema keluarga dan setidaknya ada satu-dua set piece aksi over-the-top yang menyertakan mobil. Film ini punya keduanya.

Ditulis oleh Chris Morgan sang penulis langganan bersama Drew Pearce (Iron Man 3, Hotel Artemis), plotnya serupa dengan judul-judul sebelumnya. Ada virus berbahaya, teroris yang ingin menguasainya, dan para jagoan harus mencegahnya. Pemerintah meminta bantuan Luke Hobbs (Dwayne Johnson) dan Deckard Shaw (Jason Statham), tapi meski keduanya disebut sebagai “pelacak terbaik” misi kali ini takkan semudah itu.

Pertama, karena mereka tidak akur, selalu bertengkar, melontarkan hinaan, dan saling mengkhianati (khususnya Shaw). Kedua, virus tersebut ada dalam tubuh Hattie (Vanessa Kirby), agen MI6 sekaligus adik Deckard (Ya Tuhan, ada berapa bersaudara sebenarnya di keluarga Shaw?!), yang dituduh berkhianat. Ketiga, lawan mereka adalah “Black Superman”.

Begitulah Brixton (Idris Elba) menyebut dirinya. Dia memang bak Superman. Berkat teknologi cyber-genetic yang ditanam dalam tubuhnya, Brixton memiliki kekuatan fisik di atas manusia normal. Bahkan matanya dipersenjatai teknologi untuk mengkalkulasi serangan musuh. Terdengar gila? Tunggu sampai anda melihat motornya. Motor otomatis yang dapat bergerak sendiri serta bisa berubah bentuk layaknya robot dari Transformers. Itulah yang saya ingin selalu temukan di seri The Fast and the Furious. Semakin menjauhi realita, semakin baik.

Kelemahan justru hadir dari humornya. Sebagai buddy movie, Hobbs & Shaw memang butuh banyak celetukan menggelitik. Johnson dan Statham (plus beberapa cameo mengejutkan) berusaha keras tampil lucu, namun apa daya, materinya memang kurang kuat. Kelakar komedik bukan saja soal membuat karakter melemparkan ejekan absurd sesering mungkin (yang mana film ini lakukan). Dibutuhkan pembangunan, kecermatan memilih kata, pula harus memperhatikan timing juga berapa lama momen itu berlangsung (yang mana tidak film ini lakukan). Setidaknya beberapa tawa tetap bisa diproduksi, salah satunya lewat sebuah humor referensial mengenai salah satu film Jason Statham (tebak film apa).

Beruntung, humor bagi film ini sifatnya sebatas pernak-pernik. Suguhan utamanya tetaplah aksi, dan elemen tersebut tidak mengecewakan. Selain punya Dwayne Johnson dan Jason Statham sebagai duet maut pemeran utama, David Leitch (John Wick, Atomic Blonde, Deadpool 2) pun duduk di kursi sutradara, sehingga tidak mengejutkan saat Hobbs & Shaw jadi yang terbaik dalam seri The Fast and the Furious perihal koreografi laga.

Sekitar 75% aksinya berupa perkelahian tangan kosong, termasuk epic tag team penuh gerak lambat di bawah guyuran hujan selaku klimaks. Leitch memastikan, penonton bisa melihat jelas peristiwa di layar. Siapa melawan siapa, gerakan apa yang karakternya lakukan, hingga di mana pukulan dan tendangan (atau senjata darurat apa pun) mendarat.

Perbedaan gaya bertarung Johnson dan Statham juga berhasil Leitch tekankan. Jika Johnson cenderung kasar dan berisik (kadang mengingatkan akan masa kejayaannya di atas ring sebagai The Rock), maka Statham lebih taktis. Dan di antara kedua alpha male itu, ternyata Vanessa Kirby tak kalah bersinar. Selain menjalin chemistry kuat nan berwarna dengan Johnson-Statham, sang aktris menjadikan Hattie sosok femme fatale berbahaya yang bukan sebatas pemanis di tengah parade testosteron.

Kaya akan adu jotos, bukan berarti Hobbs & Shaw tanpa stunt mobil gila. Seperti sudah trailer-nya ungkap, salah satu bagian film ini bakal mengambil tempat di Samoa, yang merupakan kampung halaman Hobbs (satu lagi benang merah ke tema keluarga). Di situlah kita bisa menyaksikan aksi seru yang melanggar semua hukum fisika sekaligus pembuktian jika Leitch pun mampu menangani spectacle over-the-top. Walau sayang, kemunculannya di trailer mengurangi daya kejut adegan itu.

SKYSCRAPER (2018)

Skyscraper is one hell of a stupid movie. Bahkan bila disandingkan bersama judul-judul lain yang dibintangi Dwayne Johnson, sebutlah G.I. Joe: Retaliation, San Andreas, hingga Rampage. Saya bisa, bahkan harus mentoleransi kemampuan para karakter, yang sanggup melompat lebih jauh dari atlet lompat jauh dan punya refleks bergelantungan lebih kuat dibanding jagoan gimnastik. Semua demi terciptanya blockbuster popcorn. Tapi ketika gedung pencakar langit tertinggi di dunia yang membuat Burj Khalifa tampak bak tiang panjat pinang dapat diambil alih memakai taktik non-imajinatif sedemikian mudah, saya pun yakin toleransi terhadap kebodohan demi eskapisme ada batasnya.

Namun ini filmnya Dwayne “The Rock” Johnson, yang berkat ototnya mampu membabat habis musuh-musuhnya, sebagaimana karismanya selaku action hero membabat rasa janggal yang menyelimuti otak tiap kali kebodohan menyeruak. Johnson memerankan Will Sawyer, mantan anggota FBI yang mesti kehilangan kaki kanannya pasca sebuah misi berakhir fatal. 10 tahun berselang, setelah menikahi Sarah (Neve Campbell) dan dianugerahi dua anak, Will menjadi kepala keamanan “The Pearl”, gedung tertinggi di dunia sekaligus arkologi yang terletak di Hong Kong. Dengan status tersebut, wajar bila berasumsi sistem keamanannya kelas satu. Pun empunya gedung,  Zhao (Chin Han), berpikiran demikian.

Sampai sekelompok teroris beraksi, menguasai pusat kontrol yang berada di luar gedung secara mudah, seolah keamanannya didesain oleh seorang amatiran. Poin ini bisa dimaafkan, karena fungsinya sebagai pembuka jalan. Ini adalah kebodohan yang diperlukan. Tapi tatkala sutradara Rawson Marshall Thurber (We’re the Millers, Central Intelligence) yang merangkap penulis naskah menyuapi penonton dengan kebodohan nyaris di tiap persimpangan guna menjaga alurnya berjalan, rasanya berlebihan. Di satu titik misalnya, Zhao disudutkan oleh teroris, sementara bodyguard-nya diam-diam siap menarik pelatuk. Belum waktunya Zhao tertangkap, namun si teroris belum boleh dihabisi pula. Apa yang terjadi berikutnya membuat garuk-garuk kepala.

Blockbuster popcorn yang baik, menempatkan karakter dalam situasi di mana opsi menipis dan mereka menyelamatkan diri dengan cara-cara tak masuk akal. Sedangkan di Skyscraper, ancaman hadir akibat kebodohan karakternya sendiri. Bagi Thurber, tak masalah terlalu banyak kebodohan asal aksi bombastis dapat terus berjalan. Puncak “The Pearl” memiliki ruang berbentuk mutiara, yang menurut Zhaoe patut disebut keajaiban dunia kedelapan. Apa gunanya bagi gedung itu patut dipertanyakan, yang jelas ruangan ini ada karena Thurber ingin menciptakan klimaks berupa versi futuristik dari Enter the Dragon (1973). Sebelumnya, ia pun menampilkan “versi murah” dari momen ikonik Tom Cruise di Mission: Impossible – Ghost Protocol (2011). Bedanya, ini kental CGI.

Tapi Dywane Johnson tetap Dwayne Johnson, yang membuat segalanya terasa mungkin. Bukan berarti saya yakin ia bisa melompat dari crane besar menuju gedung pencakar langit, tetapi dalam realita film hiburan, di mana situasi tak wajar perlu diterima demi kepuasan, Johnson termasuk satu dari sedikit aktor sekarang yang membuat penonton takkan berat hati menerima hal-hal di luar nalar itu. Thurber memahami kelebihan aktornya, lalu melimpahkan setumpuk aksi bombastis untuk dilakoni. Walau visi Thurber soal “kehancuran masal yang melibatkan The Rock” belum sehebat Brad Peyton (San Andreas, Rampage), pun secara mengejutkan kuantitasnya tak terlampau padat, deretan laga over-the-top milik Skyscraper cukup menjadi obat yang ampuh menetralisir pusing akibat kebodohan filmnya.

Kelebihan utama Thurber justru bukan merajut kesan bombastis (pilihan sudut gambarnya kurang “memuja” kehancuran megah layaknya Peyton), melainkan timing. Thurber tahu kapan mesti memunculkan sebuah momen supaya menghentak, mengejutkan, bahkan menegangkan, tidak peduli seberapa jauh momen itu dari nalar. Kebodohan Skyscraper memang kerap keterlaluan, namun kombinasi Thurber-Johnson di tatanan laga nyatanya bukan bencana. Hukumnya selalu sama: ketika anda mendatangi bioskop murni mencari hiburan, lalu melihat wajah Dwayne Johnson di poster, tak perlu mengecek premis atau judul. Santap saja, dan seperti narkoba, kenikmatan sesaat niscaya anda rasakan.

RAMPAGE (2018)

Tim efek spesial dalam film- film macam King Kong (1933), Godzilla (1954), hingga Jurassic Park (1993), bertugas menghidupkan monster raksasa. Sedangkan untuk merespon makhluk rekaaan itu dengan kekaguman, ketakutan, atau terkadang kekaguman di balik ketakutan, adalah tugas aktor. Tapi untuk bersanding sejajar dengan mereka, cuma Dwayne “The Rock” Johnson yang bisa melakukannya secara meyakinkan. Kalau ada seseorang yang sanggup menyelamatkan dunia dari kehancuran, berani terlibat pertarungan terbuka dengan (lebih dari satu) hewan raksasa, Johnson adalah orang tersebut. Sebagai bintang laga, dia bukan cuma bermodal otot, pula karisma agar setiap makhluk menyukainya.

Saya memakai kata “makhluk”, karena dalam Rampage, Johnson memerankan Davis Okoye, ahli primata yang mampu menjinakkan, bahkan bersahabat dengan gorila albino bernama George. Keduanya berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat, dan tak hanya saling memahami maksud, juga isi hati satu sama lain. Poin yang membawa kita menuju momen paling berperasaan sepanjang filmnya. Ya, meski hanya sejenak, Rampage memiliki hati tatkala George memahami nasib malang Pavoo, seekor gorila baru yang kehilangan keluarganya akibat pemburu gelap. Ada ketakutan di sorot mata Pavoo melihat sosok gorila albino berukuran jauh lebih besar darinya, sementara di saat bersamaan George menampakkan empati karena persamaan nasib.
Memberikan jiwa kepada tokoh hewan menjadikan Rampage spesial. Sewaktu sampel eksperimen rahasia jatuh dari langit dan menyebabkan George tumbuh luar biasa cepat dan berubah lebih ganas, saya diyakinkan bahwa amukannya cuma ekspresi ketakutan serta kebingungan yang disalahpahami. Seperti Davis, saya tak ingin George jadi sasaran tembak, meski sentimen serupa urung hadir untuk dua hewan lain, Ralph si serigala bersayap, dan buaya raksasa yang bagai gabungan Lizzie dan Crock dari sumber adaptasinya. Pertanyaannya, bagaimana cara menggembangkan plot tipis video game yang murni cuma menyajikan kehancuran kota?

Skenario garapan empat penulis sekaligus (Ryan Engle, Carlton Cuse, Ryan J. Condal, Adam Sztykiel), yang mengubah asal muasal raksasa dari manusia yang bermutasi, memang terasa kekurangan akal. Repetisi pun dipilih. Sepasukan agen rahasia atau militer atau prajurit bayaran muncul guna menghentikan kekacauan, merasa jemawa, meremehkan kemampuan para monster, yang akhirnya mengakibatkan kegagalan mereka. Pola ini diulang beberapa kali, dengan satu-satunya sumbangsih positif berupa penampilan keren Jeffrey Dean Morgan sebagai Harvey Russell, agen pemerintah yang bergaya bak koboi modern, lengkap dengan aksen Southern dan pistol emas di pinggang.
Rampage, sebagaimana video game-nya, menjanjikan amukan monster yang menghasilkan kehancuran massal, dan Brad Peyton dalam kolaborasi ketiganya bersama Dwayne Johnson pasca Journey 2: The Mysterious Island dan San Andreas memenuhi janji tersebut. Rampage baru habis-habisan begitu memasuki klimaks (sesuatu yang mestinya telah kita perkirakan), tapi bukan klimaks sambil lalu yang berakhir prematur. Peyton menembakkan seluruh amunisi, menghancurkan semua yang bisa dihancurkan, sembari memamerkan kepiawaian menyusun intensitas melalui kejelian bermain timing. Rating PG-13 pun tak menghalangi Peyton menjaga kesesuaian film dengan esensi video game-nya yang brutal, penuh adegan monster memangsa manusia. Tunggu sampai anda menyaksikan cara Kate (Naomie Harris), ilmuwan pemrakarsa eksperimen Rampage yang bekerja sama dengan Davis, “menyembuhkan” George.

Menyajikan kehancuran total menjelang akhir, kualtias CGI-nya sendiri tak terlalu mumpuni, khususnya jika melihat kurang meleburnya Johnson dengan para monster ketika berada di satu frame. Namun CGI dalam Rampage memang bukan bertujuan menghasilkan pemandangan realistis. Tugas itu diemban Jurassic Park dan film-film lain yang mengutamakan “sense of wonder”. Begitu juga soal plot, yang saya yakin bakal banyak dikritisi memakai sebutan bodoh, dangkal, dan sebagainya. Mengharapkan kedalaman atau kecerdasan dalam alur film macam Rampage, yang sejak awal sudah menegaskan tujuannya, bagai berharap memperoleh gizi tinggi dari makanan cepat saji. Kalau begitu siapa yang bodoh?

JUMANJI: WELCOME TO THE JUNGLE (2017)

Banyak film berbasis video game menutup mata akan gameplay sumber materinya sehingga gagal menghasilkan pengalaman yang sama. Sebagai adaptasi kegiatan menyenangkan, mereka bersikap terlalu serius. Seperti kita tahu, Jumanji: Welcome to the Jungle adalah sekuel Jumanji (1995) yang diangkat dari buku anak buatan Chris Van Allsburg. Tapi jika timbul pertanyaan "film apa yang menimbulkan kesan serupa bermain video game?", inilah jawabannya. Gamers bakal tertawa sambil mengangguk paham mendapati beragam referensinya, penonton umum pun takkan terasing dan tersesat, sementara keempat tokoh utamanya tersesat di suatu dunia asing. 

Dunia itu berada dalam video game. Ya, Jumanji yang 22 tahun lalu berbentuk papan permainan kini adalah Nintendo 90-an. Jangan tanya bagaimana. Anggap saja keajaiban. Keajaiban serupa turut mengubah Spencer, Bethany, Fridge, dan Martha, dari kuartet siswa SMA bermasalah menjadi tokoh video game. Ini membahagiakan bagi Spencer, yang memiliki otot besar sebagai Dr. Smolder Bravestone (Dwayne Johnson) atau Martha sebagai Ruby Roundhouse (Karen Gillan) yang atletis pula jago berkelahi sambil menari. Sebaliknya, Fridge dibuat kesal akibat perawakan tinggi tegapnya mengkerut saat menempati badan Moose Finbar (Kevin Hart).
Setidaknya penderitaan Fridge tidak setara Bethany. Hilang sudah paras cantik dan rambut pirang (dan telepon genggam), berganti jenggot lebat dan perut buncit Professor Sheldon Oberon (Jack Black). Melihat Dwayne Johnson kagum pada tubuh kekarnya,  sebagaimana kita para manusia biasa kerap rasakan  Kevin Hart heboh mengeluhkan keadaan, hingga ketangguhan bertarung serta kecanggungan Karen Gillan berlagak seksi jelas menghibur. Namun Jack Black dengan tingkah "anggun" yang bukan parodi murahan terhadap pria feminin memberi pesona terkuat, bukti bahwa sang komedian belum habis.

Perjalanan berikutnya sederhana. Keempatnya mesti menyelamatkan dunia Jumanji, menjelajahi hutan, menghadapi serbuan kudanil buas, segerombol badak, sampai ular berbisa. Kemasan aksi dalam penyutradaraan Jake Kasdan (Bad Teacher, Sex Tape) memang menyenangkan walau detail tiap set-piece mudah terlupakan begitu kita meninggalkan bioskop. Menariknya, justru para karakter yang dapat bertahan lama di ingatan berkat penokohan khas, juga porsi merata, baik momen aksi maupun komedi. Bermain video game perlu pemikiran taktis, dan mereka berempat memperlihatkan itu kala menghadapi setumpuk rintangan. 
Jatah nyawa, NPC (Non-Player Character) dengan kemampuan bicara sebatas instruksi samar bak sandi, merupakan segelintir cara Jumanji: Welcome to the Jungle bersenang-senang menggunakan ciri video game. Tidak muluk pula usungan pesannya, sekedar "we can make new friends by playing multiplayer video game", yang mana kerap terjadi di keseharian kita. Kisah persahabatan (berbumbu romansa) ditangani dengan baik, menciptakan penutup hangat meski tidak mencapai level emosional setinggi reuni Alan dan Sarah di film pertama.

Jumanji: Welcome to the Jungle memilih menekan nostalgia secukupnya, hanya secuil referensi berupa nama dua tokoh, termasuk versi lain Van Pelt (Bobby Cannavale) selaku antagonis. Tidak seperti pendahulunya, Jumanji: Welcome to the Jungle takkan meraih status tontonan keluarga klasik, apalagi di tengah seringnya keterlibatan Dwayne Johnson pada suguhan aksi petualangan. Pun empat bulan lagi, kita segera melihatnya memerankan action hero, bertarung melawan hewan-hewan liar di tengah hutan belantara (sebelum berlanjut ke pusat kota) sambil mengenakan kemeja berwarna abu-abu yang sama dalam Rampage. But this is fun and that should be enough.

THE FATE OF THE FURIOUS (2017)

At this point, anything is possible in "The Fast and the Furious" franchise. Menghidupkan lagi yang telah mati, tokoh yang semula lawan menjadi kawan, gelaran aksi over-the-top. This is the "Dragon Ball" of Hollywood moviemaking. Tapi suka atau tidak, metode tersebut nyatanya ampuh menjaga laju hingga ke installment kedelapan, di mana seperti telah diungkap trailer-nya, tersusun atas pengkhianatan Dominic Toretto (Vin Diesel) terhadap keluarganya serta Deckard Shaw (Jason Statham) berpindah ke kubu protagonis. Walau belum bergerak ke luar angkasa sebagaimana guyonan (dan harapan) penggemar, The Fate of the Furious tetap memiliki kegilaan aksi tak terbayangkan pula salah satu yang terbaik di serinya. 

Istilah "pensiun dan hidup tenang" terasa semu bagi karakter franchise ini, sebab begitu kehidupan normal dijalani, rintangan baru selalu menghadang lagi. Dom dan Letty (Michelle Rodriguez) tengah berbulan madu di Kuba sebelum cyber-terrorist bernama Cipher (Charlize Theron) memaksa Dom bekerja sama dan mengkhianati keluarganya. Frank alias Mr. Nobody (Kurt Russell) pun mengumpulkan para kru kembali kali ini dengan tambahan Deckard. Mereka harus menghadapi lawan terberat berupa kombinasi kecanggihan teknologi Cipher dan Dom, sang Alpha Male yang dahulu menyatukan mereka sebagai keluarga. 
Pasca banting setir dari film balapan ke arah heist di Fast Five, perkenalan God's Eye di Furious 7 ibarat membuka jalan The Fate of the Furious melangkah ke jalur lain yakni espionage penuh teknologi canggih. Dari modus operandi Cipher yang mengutamakan peretasan sistem dan kontrol jarak jauh sampai cara Dom mengakali si lawan di akhir (sedikit) menambah warna baru setelah adu otot film-film pendahulunya. Namun selaku obligasi, filmnya tetap menyelipkan balap mobil di adegan pembuka yang turut berperan memberi tribute subtil bagi Brian O'Conner (Paul Walker). 

Alasan banyak pihak berpikir suatu saat franchise ini bakal membawa latar ke luar angkasa didorong asumsi sulitnya melebihi kegilaan film sebelumnya. Tapi fakta berkata lain. Pencurian brankas (Fast Five), pendaratan Dom di atas mobil (Fast & Furious 6), penerjunan mobil dari pesawat hingga menyeberangi Burj Khalifa (Furious 7) membuktikan kreativitas pembuatnya tidak pernah luntur. Menengok materi promosinya, kemunculan kapal selam adalah sajian terbesar. Walau momen itu daya cengkeramnya tak diragukan, gelaran di New York lebih luar biasa. Jika klimaks saat kapal selam mengintai dari bawah es bagai versi bombastis Jaws (lengkap dengan quote "we're gonna need a bigger truck), set piece aksi di New York bak diambil dari film berisi zombie yang berlari cepat.
Sutradara F. Gary Gray (The Italian Job, Law Abiding Citizen, Straight Outta Compton) sukses mengkreasi bukan hanya car chase terbaik dalam seri ini, pula salah satu yang paling memukau di antara adegan serupa sepanjang masa. Ratusan mobil tumpah ruah di jalanan padat New York, menghasilkan kekacauan massal dengan sinkronisasi rumit. Di sini, aksinya naik tingkat dari stunt berlebihan melanggar aturan gravitasi menjadi pameran kreativitas yang juga berlebihan dan gila. 

Keunggulan lain terletak pada perkelahian tangan kosong, apalagi kala Luke Hobbs (Dwayne Johnson) dan Deckard terlibat. Keduanya mengandalkan gaya berbeda. Perawakan besar Johnson membuatnya meyakinkan sebagai monster brutal yang sanggup menghempaskan tiga orang sekali pukul. Sementara Statham mengembalikan ingatan penonton pada kejayaan The Transpoter lewat koreografi aksi teknikal di mana ia bergerak lincah melancarkan pukulan mematikan atau memainkan pistol. Sayangnya camerawork Stephen F. Windon kurang cakap menangkap deretan perkelahian karena penempatannya terlalu dekat dari objek, menyulitkan penonton melihat secara jelas. 
Statham dan Johnson sendiri merupakan penampil paling menarik berkat love/hate bromance relationship renyah berbentuk saling ejek dan ancam pengundang tawa. Performa Statham menyegarkan, salah satu hasil terbaiknya, mengingatkan pada peran-peran komedik di awal karir (Lock, Stock and Two Smoking Barrels, Snatch) meski alasan perubahan sikap dari sosok keji di Furious 7 sejatinya kurang masuk akal. Adegan di atas pesawat memperlihatkan kepiawaian sang aktor menyeimbangkan kegarangan serta kelucuan. Roman (Tyrese Gibson) seperti biasa masih badut dalam kelompok, sedangkan Charlize Theron berbekal karisma miliknya mudah saja melakoni peran antagonis yang sekedar mengharuskannya melafalkan kalimat bak penjahat berdarah dingin.

Kelemahan terbesar The Fate of the Furious adalah naskah karya Chris Morgan yang urung meninggalkan daya tarik sewaktu ledakan atau kebut-kebutan absen menghiasi layar. Dialog cheesy, ketiadaan emosi juga intrik memikat jadi penyebab. Plot dibangun berdasarkan kebetulan dan pengaitan paksa antar poin-poin demi memudahkan pergerakan cerita. The Fate of the Furious tak ubahnya b-movie berbiaya raksasa. Namun mengkritisi semua itu dari bagaikan datang ke restoran cepat saji lalu mengeluh bahwa makanan di sana tidak sehat. Bersantai dan nikmatilah rentetan presentasi over-the-top yang sesuai dengan fungsi serta tujuan. Bukan saja seputar aksi, pula kisah kebersamaan keluarga seperti ditampilkan demikian dramatis oleh momen di penghujung film kala Dom terjebak di antara ledakan dahsyat. Pastinya formula tersebut sanggup menjaga bahkan menambah nafas franchise-nya untuk tahun-tahun mendatang.