Tampilkan postingan dengan label Kelly Tandiono. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kelly Tandiono. Tampilkan semua postingan

REVIEW - ARINI BY LOVE.INC

Arini by Love.inc dibuat untuk membuat penonton makin mengenali Arini (Della Dartyan). Siapa dia sebenarnya? Bagaimana latar belakangnya? Seperti apa dinamika psikologisnya? Idealnya, pertanyaan-pertanyaan itu terjawab, jika film ini bertujuan "melengkapi" sosok Arini. Lucunya, Arini di dua film Love for Sale yang diselimuti kabut misteri, justru lebih kompleks, lebih manusiawi, juga lebih matang sebagai karakter. 

Dikisahkan, Arini melamar pekerjaan sebagai agen Love.inc demi mencari kebahagiaan. Dia datang dalam kondisi sebatang kara, tanpa satu pun keluarga. Titik. Hanya itu tambahan informasi mengenai Arini yang film ini berikan. Seiring durasi, tak sedikitpun pemahaman akan Arini bertambah. 

Kita diajak memasuki Love.inc. Di bawah pimpinan Diana (Marissa Anita), perusahaan ini tampak beroperasi dengan aturan luar biasa ketat. Agen diberi latihan intens secara rutin, bahkan segala detail kehidupan mereka turut diatur. Pun teramat canggih perusahaan ini, sampai mempunyai teknologi penghapus memori, guna memperkuat kontrol terhadap para agen. Bila ada agen dinilai bermasalah, memorinya langsung dihapus. 

Sehingga memunculkan tanda tanya, bagaimana mereka bisa begitu buruk dalam menangani masalah SDM? Masalah yang saya maksud datang dari Tiara (Kelly Tandiono), yang kerap memberontak. Tiara mampu mengakali agar memorinya tak terhapus, dan perusahaan menyadari itu. Tapi kenapa tidak ada penanganan ekstra? 

Nantinya, Tiara dan Arini bersinggungan jalan. Setiap malam, keduanya diam-diam bertemu tanpa diketahui siapa pun. Ya, Love.inc yang konon sdemikian canggih, punya kualitas pengamanan luar biasa buruk. Tiara berusaha mengingatkan Arini soal identitas dirinya. Salah satunya lewat buku berisikan gambar-gambar yang dibuat Arini sebelum ingatannya dihapus. 

Ada gambar kura-kura dan sesosok pria tanpa wajah di situ, yang tentu saja merujuk pada Richard (Gading Marten) dari film pertama. Arini menuangkan kenangannya di situ, sebagai alat bantu mengembalikan ingatannya. Kalau begitu kenapa tidak sekalian membuat catatan yang gamblang? 

Naskah buatan Adrianto Sinaga dan Widya Arifianti bak gemar mengambil jalan yang sulit untuk memancing masalah, namun saat tiba waktunya masalah itu diselesaikan, simplifikasi malah diterapkan. Misal ketika sang protagonis hendak membuka komputer milik Diana. Bagaimana bisa Arini, dari jarak sedemikian jauh, melihat password yang Diana ketik? Kalau ada manusia dengan mata setajam Arini, habis sudah ATM banyak orang dia bobol. 

Di luar kapasitas penglihatan di atas rata-rata manusia, apa lagi elemen penokohan Arini? Rupanya tak ada. Hilang sudah kompleksitas Arini, yang merenungkan makna cinta dan kemanusiaan di Love for Sale. Arini di sini hanya didefinisikan oleh upayanya mencari tahu siapa identitas pria di bukunya. Penokohannya dangkal, bahkan Della Dartyan bagai berakting dalam kebingungan di sepanjang film.

Ketimbang mengeksplorasi karakter, atau minimal mengolah daya tarik genre fiksi ilmiah yang membedakannya dari dua film pertama, Arini by Love.inc didominasi situasi menjemukan, dipenuhi obrolan yang ingin terdengar cerdas, walaupun sebenarnya kosong. Naskahnya hendak menyentil eksploitasi korporasi pada pekerja, namun kritik itu terkesan bukan didorong oleh keinginan tulus penulis untuk menyuarakan isu, melainkan bentuk pemaksaan agar alurnya terlihat berbobot. Ibarat aktivis yang berjuang didasari hasrat mendapat pengakuan alih-alih kepedulian nyata. 

Kembalinya Adrianto Sinaga di kursi penyutradaraan setelah 12 tahun berujung kekecewaan. Pacing-nya melelahkan, sementara pengarahan di beberapa adegan yang menuntut intensitas tinggi terasa canggung. Tawa yang tak disengaja lebih sering muncul daripada ketegangan. Diharapkan menjadi kapal yang membawa Love for Sale berlayar lebih jauh, Arini by Love.inc justru karam di tengah jalan.

(Bioskop Online)

BUMI MANUSIA (2019)

Timbul kontroversi kala Hanung Bramantyo (Ayat-Ayat Cinta, Sang Pencerah, Kartini) menyatakan bakal memfokuskan Bumi Manusia pada elemen percintaan remaja. Banyak orang murka, tapi mungkin mereka lupa, kurang (atau menolak) memahami, bahwa novelnya sendiri mengetengahkan romantika. Tepatnya, Pramoedya Ananta Toer tahu jika cinta sepasang kekasih merupakan perihal universal yang mudah menyerap di hati.

Tujuan novelnya adalah membuat pembaca jatuh cinta bersama Minke dan Annelies, memedulikan mereka, sehingga tergerak mengutuk kolonialisme, rasisme, atau tindak ketidakadilan secara umum, selaku kebiadaban yang berpotensi merenggut keindahan rasa bernama “cinta”. Dan Hanung bersama Salman Aristo (Garuda di Dadaku, Athirah, Mencari Hilal) sebagai penulis naskah, menangkap esensi itu dengan baik.

Minke (Iqbaal Ramadhan) adalah pribumi beruntung yang berkesempatan menuntut ilmu di Hogere Burgerschool (HBS), sehingga bisa terpapar ilmu pengetahuan serta pola pikir modern, hal-hal yang jauh dari jangkauan mayoritas pribumi. Minke merasa “tahu”, sampai tiba kunjungannya ke kediaman keluarga Mellema di Wonokromo, Surabaya.

Bertemulah ia dengan Nyai Ontosoroh (Sha Ine Febriyanti). “Nyai” merupakan panggilan bagi wanita pribumi simpanan orang Belanda. Masyarakat memanang rendah para nyai, menganggap mereka sebatas gundik kelas rendah tak berpendidikan. Tapi anggapan itu—yang turut menancap di otak Minke—dipatahkan Nyai Ontosoroh. Dia pintar, penuh harga diri, kaya akan pengetahuan, pula bertindak sebagai ketua pelaksana seluruh bisnis Keluarga Mellema, menggantikan sang suami, Herman Mellema (Peter Sterk) yang sibuk mabuk-mabukkan. Bahkan Nyai Ontosoroh berani berdiri melawan Herman.

Tapi sambaran lebih kuat ke hati Minke ia rasakan kala berjumpa dengan puteri Nyai Ontosoroh, Annelies (Mawar de Jongh), gadis indo (berdarah campuran) yang berkebalikan dengan sang kakak, Robert (Giorgino Abraham), ingin menjadi pribumi. Minke jatuh cinta pada pandangan pertama. Annelies pun demikian. Namun cinta mereka takkan mudah, sebab ketidakadilan hukum, budaya, juga persepsi sosial yang menggelayuti bumi manusia senantiasa siap menghancurkan hubungan ini.

Apabila pernah membaca novelnya, tentu anda tahu sudut pandang ceritanya selalu berganti, dari Minke, Annelies, Nyai Ontosoroh, sampai PSK asal Jepang bernama Maiko (Kelly Tandiono). Naskahnya sanggup merangkum semua, menyederhanakannya tanpa kehilangan substansi.

Pun pemakaian durasi mencapai tiga jam tidak sia-sia, kala Bumi Manusia menghasilkan sebuah adaptasi yang setia. Tentu beberapa aspek perlu diringkas, dihapus, atau dipindah penempatannya, namun Salman Aristo jeli memilih, mana yang wajib dipertahankan, mana yang bisa diubah. Saya masih menemukan pergerakan kasar, misalnya saat di suatu subuh Minke dijemput paksa oleh polisi, tapi keseluruhan, filmnya mengalir mulus berbekal konsistensi pacing juga tensi.

Itulah mengapa penunjukkan Hanung tepat. Tidak banyak sutradara yang siap menangani drama kolosal berdurasi tiga jam supaya gampang dinikmati, bahkan oleh penonton muda yang mungkin datang hanya demi melihat Iqbaal. Dibutuhkan fokus, energi, sekaligus jam terbang tinggi. Dan Bumi Manusia merupakan karya penyutradaraan terbaik Hanung selama beberapa tahun terakhir, di mana ia sukses meraih apa yang ia kejar sepanjang karir: melahirkan drama emosional yang bisa menjangkau penonton umum, namun tetap elegan agar tak berakhir murahan.

Pendekatan tersebut menjadikan Bumi Manusia sebuah romansa epik, dibantu musik Andhika Triyadi (Dear Nathan, Dilan 1990, Dua Garis Biru) yang sempurna mewakili kemegahan kisah berskala besar. Satu departemen sayangnya melemahkan kesan epik itu: tata dekorasi. Ya, rumah Keluarga Mellema dan lokasi-lokasi lain sekilas tampak bagus, terlalu bagus dan terpoles sehingga mengurangi kesan realistis. Bangunan-bangunannya artificial layaknya panggung yang (baru) dibangun ketimbang lingkungan nyata.

Apalah arti suguhan drama tanpa performa apik jajaran pemain. Banyak orang menyuarakan keraguan terkait pemilihan Iqbaal. “Kenapa Minke diperankan Dilan?!”, begitu ujar mereka. Tapi pengalaman Iqbaal menghantarkan gombalan Dilan membantunya menghadapi kalimat-kalimat romantis di film ini. Mampu pula ia seimbangkan sisi rapuh dan kokoh Minke, meski saat tiba waktunya melakoni adegan yang menuntut luapan rasa (orasi berapi-api, tangisan, dan lain-lain), ekspresinya kerap kurang natural.

Sedangkan bagi Mawar, Annelies merupakan peran yang bakal melambungkan status kebintangannya. Bukan cuma memiliki kecantikan, serupa Iqbaal, Mawar bisa menyeimbangkan dua sisi karakternya. Dibuatnya kita gemas pada kemanjaan Annelies, sementara di lain kesempatan, kekaguman terhadap ketangguhannya tak tertahankan.

Tapi tiada satu pun sanggup menandingi Sha Ine Febriyanti, yang tampil bagai kekuatan alam yang menyedot seluruh gravitasi di ruangan di tiap kemunculan, bahkan tanpa harus mengucap sepatah kata pun. Sosoknya mantap, intimidatif, namun berhiaskan kehangatan juga, tergantung situasi atau dengan siapa sang Nyai berinteraksi. Kemudian sewaktu Ine mulai meningkatkan kadar emosi, hati ini pun ikut bergetar hebat.

Di tangan Ine, Nyai Ontosoroh bagaikan figur pemimpin perjuangan tokoh-tokoh wanita film ini, yang seluruhnya kuat, sanggup “berdiri dengan kaki sendiri” juga menaklukkan semua pria, baik menggunakan cara keras (diwakili Nyai Ontosoroh) atau kelembutan (diwakili Ibunda Minke yang diperankan penuh kehangatan oleh Ayu Laksmi). 

Inilah alasan, walau novelnya terbit hampir 40 tahun lalu dan mengusung latar 121 tahun lalu, Bumi Manusia masih relevan. Perjuangan menegakkan keadilan (ras, gender, agama) berlandaskan asas kemanusiaan masih berlangsung sampai sekarang. Sebuah perjuangan yang dipersenjatai hati dan cinta ketimbang (sekadar) amarah. Perjuangan tersebut bergema kuat, mungkin sekitar separuh durasi, saya kesulitan menahan haru.

LABUAN HATI (2017)

Orang-orang dengan masalah personal memilih "lari" untuk sementara waktu, mengasingkan diri dari keriuhan dunia modern di tengah alam, lalu menemukan satu sama lain dan bersama-sama coba saling menyembuhkan luka. Premis itu sudah familiar. Begitu pula dengan konflik antar kawan tatkala mencintai orang yang sama. Bersama penulis naskah Titien Wattimena (Salawaku, Winter in Tokyo, Negeri Van Oranje),  Lola Amaria (Jingga, Minggu Pagi di Victoria Park) memakai unsur-unsur di atas sebagai jalan menyampaikan kisah berselipkan rasa feminisme, berhiaskan aktivitas diving mengarungi pemandangan bawah laut Pulau Komodo. Semuanya familiar, tapi Labuan Hati nyatanya masih nikmat disaksikan.

Bia (Kelly Tandiono) yang tengah bermasalah dengan sang suami berlibur seorang diri ke Pulau Komodo dengan bantuan Maria (Ully Triani) selaku guide. Sebelum memulai tur, Bia bertemu Indi (Nadine Chandrawinata) yang akibat miskomunikasi harus terpisah dari tunangannya yang memaksa mengatur segala detail perjalanan Indi. Merasa serupa dan mudah akrab, keduanya memilih menghabiskan waktu liburan bersama. Sampai kehadiran instruktur selam bernama Mahesa (Ramon Y Tungka) memancing perpecahan saat Bia, Indi, bahkan Maria sama-sama menyukai Mahesa. 
Labuan Hati bergerak dari satu destinasi wisata menuju lainnya, di mana tiap pemberhentian (baik darat atau underwater terpampang indah di layar) bermuara pada obrolan tiga wanita. Melalui pembicaraan mereka, Titien Wattimena mengutarakan beragam sudut pandang seputar kebahagiaan, cinta, atau tepatnya, soal kehidupan. Kadang pula Maria atau Mahesa menyampaikan segelintir informasi mengenai alam sekitar, entah yang sifatnya sekedar fakta dan data bagi penonton atau kritik terhadap lingkungan, semisal banyaknya pulau negeri ini yang dimiliki pihak asing. It's all about conversation. Meaningful and informative one. At least that's what this movie trying to be.

Pengadeganan Lola mengedepankan nuansa low key, sederhana, minim gejolak. Ibarat konser, Labuan Hati adalah pertunjukkan akustik intim ketimbang orkestra megah atau konser pop di stadion pengundang nyanyian massal. Namun bak berkontradiksi, ketika seorang tokoh mengucap baris kalimat bermakna, dia seolah memasuki dramatic state, bagai coba terdengar puitis, berlawanan dengan usungan konsep realistisnya. Alhasil tercipta transformasi tak mulus, bagai ada jurang pemisah antara penuturan kalimat santai dengan yang menyimpan makna. Padahal keduanya tergabung dalam sebuah rangkaian pembicaraan di satu waktu. Akibatnya, usaha merangkai jalinan emosi subtil nan lembut daripada dramatisasi bergejolak pun gagal, menjadi seutuhnya datar.
Bukan sepenuhnya kekeliruan Lola, sebab akting cast pun berpengaruh. Nadine paling terasa canggung dan berlebihan kala menangani kalimat tersebut. Kelly sekuat tenaga menghidupkan Bia dengan segala kehebohan dan sifat "wanita kota" miliknya. Tapi Ully Triani lah motor penggerak utamanya. Paling jarang bicara, Maria memilih diam mengamati dan menahan diri kala dua rekannya sibuk dikuasai ego. Baik berkat pengucapan dialog natural maupun siratan rasa terpendam, Ully membuat tokohnya paling simpatik. Labuan Hati berharap penonton memahami ketiga tokoh utama, namun jelas di Maria hati filmnya bertempat. Sepanjang film, Indi dan Bia gemar bermain "Fuck, Marry, Kill". It's arguable which one I'm gonna fuck, but Maria is definitely who I'm gonna marry, while the other two are killable.

Bia, Indi dan Maria merupakan wanita kuat, setidaknya ingin menuju ke sana. Mereka gamang akan cinta dan kebahagiaan tapi berusaha tegak berdiri sendiri, menolak dikontrol termasuk oleh laki-laki. Butuh pemicu kuat agar membutakan mereka. Pemicu itu tak lain Mahesa. Ketiganya tiba-tiba jatuh hati meski baru sejenak mengenalnya, belum pernah bicara hati ke hati atau mengalami kejadian luar biasa. Pasca duduk bersama, berbahagia menghabiskan senja, adegan berikut langsung memperlihatkan adanya lomba, saling cemburu di antara mereka. Masalahnya, apa yang membuat Mahesa begitu digandrungi selain kehebatan menyelam? Mahesa sekedar keklisean sosok pria tangguh, serupa namanya yang menyiratkan "kejantanan". 
Semakin sulit mempercayai proses ketertarikan pada Mahesa sewaktu Ramon Y Tungka tampil nihil pesona. Dia tidak diberkati charm natural macam Vino G Bastian atau Arifin Putra. Tidak pula mampu menyulap line sederhana jadi penuh wibawa seperti Reza Rahadian atau Abimana. Performanya di sini bukan suatu pameran akting buruk, tapi jelas kurang kuat untuk mengemban beban selaku penampil pria utama, apalagi bermain sebagai pemikat hati tiga wanita secara bersamaan. Belum lagi seperti telah disebutkan, karakterisasi Mahesa lemah, tanpa ciri. 

Pilihan resolusinya terkesan menggampangkan tapi masuk akal, sebab proses perenungan berujung memaafkan juga penerimaan wajar terjadi kala seseorang bersinggungan dengan hidup dan mati. Saya pun menyukai bagaimana Labuan Hati bijak menyikapi pesan feminismenya. Titien Wattimena dan Lola Amaria menekankan pentingnya wanita bertindak mandiri, menolak segala kekangan patriarki, namun tidak serta merta lupa akan peran seorang istri. Mengandung setumpuk kekurangan, Labuan Hati layak diapresiasi berkenaan atas tebaran kedamaian di tengah perjalanan karakternya berdamai dengan diri sendiri dan seluruh problematika. 


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID & Indonesian Film Critics