Tampilkan postingan dengan label Lola Amaria. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lola Amaria. Tampilkan semua postingan

6,9 DETIK (2019)

Diam-diam Lola Amaria adalah sineas produktif, dengan catatan lima film dalam enam tahun terakhir, di mana sejak Jingga pada 2016, ia rutin merilis film setiap tahun. Kenapa saya sebut “diam-diam”? Karena melihat catatan jumlah penonton, produktivitas Lola rasanya tak banyak diketahui publik. Pun secara kualitas, karyanya belakangan mudah terlupakan. Sama sekali tidak buruk, namun selalu meninggalkan kesan, “Sebenarnya ini bisa bagus, tapi.....”.

Selalu bertindak selaku produser, berarti Lola jeli mencari materi berpotensi, tapi lemah perihal eksekusi. Tidak terkecuali 6,9 Detik, yang mengangkat kisah hidup Aries Susanti Rahayu, atlet panjat tebing peraih medali emas cabang panjat tebing kategori “speed” di Asian Games 2018, yang dijuluki “Spider-Woman”.

Kisahnya membawa kita mundur menuju masa kecil Aries (Kayla Ardianto) di Purwodadi, ketika ia mesti memendam rindu kepada sang ibu (Brilliana Arfira), yang bekerja sebagai TKW di Arab Saudi. Berbeda dibanding dua kakak perempuannya, sejak dini Aries sudah memperlihatkan minat akan olah raga. Dia kerap menjuarai lomba lari antar sekolah, hingga akhirnya mengenal panjat tebing, mulai mengikuti berbagai pelatihan, sampai akhirnya meraih emas Asian Games 2018 di bawah tempaan keras pelatihnya, Hendra (Ariyo Wahab).

Kisahnya mengalir mulus selama sekitar 35 menit pertama (total durasi 78 menit). Naskah buatan Sinar Ayu Massie (3 Hari untuk Selamanya, Sebelum Pagi Terulang Kembali, Lima) merangkum drama ibu-anak hangat di tengah paparan coming-of-age yang mampu memberi pemahaman atas bagaimana masa lalu Aries membentuk sosoknya sekarang: seorang wanita tangguh. Informatif, meski sederana pun belum mencapai tingkat “eksplorasi mendalam”.

Pengarahan Lola menjauhkan filmnya dari jurang melodrama cengeng, cenderung mendekati gaya sinema alternatif, di mana keintiman diutamakan, dramatisasi dilakukan secukupnya, termasuk lewat minimnya pemakaian usik. 6,9 Detik memang ingin tampil sederhana, memaksimalkan drama lewat interaksi normal sehari-hari. Sentuhan nasionalisme pun dimunculkan tepat guna. Jargon-jargon macam “Kita satu Indonesia” masih terdengar, tapi tidak dalam kadar berlebih (“Rumah Merah Putih”, I’m waving at you).

Sayang, melewati selepas 35 menit, progres ceritanya bergerak secepat lesatan Aries memanjat. Begitu buru-buru, seolah Lola dan Sinar hanya tertarik bercerita tentang masa kecil sang protagonis, namun sadar bahwa meninggalkan fase remaja Aries merupakan kemustahilan. Padahal di situlah pergolakan batin Aries mencapai titik puncak. Rasa rindu terhadap ibu berubah jadi benci, kelabakan menghadapi beratnya pelatnas, sempat lari ke alkohol (dalam sekuen mabuk-mabukkan konyol ketika tim artistik lupa jika minuman keras tidak berbuih seperti teh), hingga konflik percintaan yang cuma numpang lewat beberapa detik.

Paling fatal adalah caranya meringkas gesekan Aries dengan ibu. Mendadak semua usai, mendadak semua baik-baik saja. Dampaknya, upaya menjembatani antara gejolak di tiap fase hidup Aries dengan kesuksesannya gagal total tatkala perjalanan panjang penuh lika-liku sang juara dikemas sebagai proses kilat, yang menjadikan keberhasilan Aries menyabet medali emas kurang menggetarkan hati. Ini soal momentum. Karena tampil serba kilat, saya tidak merasa terikat dan menanti-nanti momen bersejarah itu. Terlebih klimaksnya hanya tersusun atas kompilasi rekaman pertandingan asli seadanya.

Satu-satunya penyelamat paruh kedua justru datang dari Aries Susanti Rahayu yang memerankan dirinya sendiri. Jelas bukan akting kelas ajang penghargaan, tapi sukses mencapai tujuan yang ada di balik penunjukkan dirinya sebagai pemain. Lola jelas mengincar kesan natural, baik terkait elemen panjat tebing maupun drama, dan Aries mampu menghadirkan itu. Andai saja filmnya menyisihkan waktu guna eksplorasi lebih jauh. Respon “andai saja...” sayangnya masih mengakrabi karya-karya Lola Amaria.

LIMA (2018)

Mengamati beragam konflik serta perpecahan bangsa ini beberapa waktu belakangan, urgensi mengingatkan dan mendalami makna Pancasila sebagai dasar negara jelas meninggi. Bentuk medianya bebas, asal terjadi pengkajian lebih jauh, lebih dari sekedar berteriak lantang “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab!”, tapi enggan memanusiakan sesama yang dianggap berbeda. Apa pun kepentingan yang menguntit di balik pembuatannya, kehadiran film seperti Lima tetaplah penting, di mana para tokoh menghadapi situasi yang berkaitan erat dengan tiap-tiap sila Pancasila. Sebagaimana rakyat yang semestinya mencintai ibu pertiwi, perbuatan karakter film ini tak bisa lepas dari sosok ibu mereka.

Lima sutradara digaet untuk menangani cerita dalam masing-masing sila. Shalahuddin Siregar (Negeri di Bawah Kabut) menangani segmen pembuka sekaligus yang terbaik. Fara (Prisia Nasution), Aryo (Yoga Pratama), dan Adi (Baskara Mahendra) baru saja kehilangan sang ibunda, Maryam (Tri Yudiman). Secara tersirat bisa ditangkap bahwa Maryam terlahir beragama Islam, pindah ke Kristen setelah menikah, kemudian kembali lagi memeluk Islam pasca suaminya tiada. Dari ketiga anaknya, cuma Fara yang beragama Islam, sedangkan dua puteranya Kristen. Urusan agama ini memantik persoalan. Mulai soal Aryo yang dilarang turun ke liang lahat sampai permintaan Maryam agar gigi palsunya tidak dilepas saat dimakamkan (Islam melarangnya).
“Mungkin emang caranya udah kayak gitu”, begitu ucap Fara kala Adi menanyakan perihal gigi palsu. Fara cuma tahu, atau tepatnya peduli, soal “boleh/tidak boleh”, tapi tidak dengan alasannya, esensi dari aturan itu. Sejatinya ini pangkal konflik seputar agama di Indonesia. Berkoar-koar tentang “TOLAK PEMIMPIN KAFIR!” atau “BOLEH MENIKAH EMPAT KALI!”, tapi begitu diminta menjabarkan atau dikonfrontasi, jawaban yang keluar seringkali sebatas “itu aturannya”, atau lebih parah lagi, “cebong mana ngerti!”. Di tangan Shalahuddin, rentetan proses penguburan terasa penuh duka, namun ada pula ketentraman di situ. Puncaknya saat dua bentuk kepercayaan disatukan jelang akhir segmen.

Saya pernah menyaksikan adegan serupa digarap lebih baik, entah secara lebh subtil macam di Toba Dreams (2015), atau lebih indah seperti nampak dalam film pendek Senyawa (2015) karya Wregas Bhanuteja. Biar demikian, itu tetap momen menggugah nan mengharukan selaku penegas bahwa segmen mengenai sila “Ketuhanan yang Maha Esa” adalah yang terbaik juga paling provokatif (salah satu alasan pemberian rating 17+). Sila kedua garapan Tika Pramesti (Sanubari Jakarta) berpotensi tak kalah provokatif, bahkan bisa lebih menghentak, sayangnya, ketimbang penegasan, konklusinya justru memancing kesan gejolak batin yang tidak tuntas dalam diri karakternya.
Sila “Persatuan Indonesia” digarap Lola Amaria (Minggu Pagi di Victoria Park, Labuan Hati) yang turut menjadi produser, dan di segmen seputar dilema Fara memilih muridnya untuk dikirim sebagai atlet renang ke Asian Games ini, nuansa “iklan layanan masyarakat” paling kentara (the whole movie is, but this one is too much). Fara, pelatih renang sekaligus mantan atlet Sea Games, diminta memilih perenang “pribumi” tatkala ada atlet (keturunan Cina) yang lebih berbakat. Bukan cuma terlampau menitikberatkan pada hasil ketimbang menggali proses pemikiran, segmen ini turut mencuri kesempatan guna memajang kesan positif bagi PRSI (Persatuan Renang Seluruh Indonesia), yang kemudian hadir bak malaikat penolong menyelesaikan segala masalah.

Sila keempat yang ditangani Harvan Agustriansyah (Hi5teria) punya masalah berbeda. Fokus diberikan pada Aryo, yang setelah dihantam ujian akibat ketiadaan musyawarah, mesti memimpin musyawarah mengenai warisan sang ibu bersama kedua saudaranya. Poin bahwa ini merupakan segmen milik Aryo takkan saya tangkap apabila bukan karena sinopsis resmi filmnya. Pun kemunculan Fajar (Rangga Djoned) si notaris canggung menghadirkan distraksi. Ya, Lima butuh relaksasi melalui komedi, tapi kekonyolan Fajar membuatnya bagai karakter dari film berbeda. Setidaknya cerita keempat ini mampu membawa lagi motivasi karakternya ke semula, yakni karena ibu (pertiwi).
Tantangan terbesar Lima adalah bagaimana naskahnya, yang ditulis oleh Titien Wattimena (Dlan 1990, Salawaku) dan Sinar Ayu Massie (3 Hari untuk Selamanya, Sebelum Pagi Terulang Kembali), menyatukan esensi kelima sila lalu menempatkannya di konteks keluarga. Beberapa titik kurang menyatu mulus tapi masih memunculkan hubungan dalam terciptanya keluarga kokoh sebagai metafora Indonesia. Segmen terakhir buatan Adriyanto Dewo (Tabula Rasa) sayangnya jadi poin saat konsep solid itu lenyap. Giliran Bi Ijah (Dewi Pakis) si asisten rumah tangga jadi fokus. Kelemahan krusial segmen ini adalah inkonsistensi, di mana para protagonis urung terlibat aktif menyelesaikan masalah. Mereka cuma penonton. Menghadirkan tokoh baru selaku “penolong”, seolah para penulis cuma “gatal” ingin menyelipkan isu tanpa memperhatikan keperluan narasi. Lain cerita kalau sejak awal, konsepnya memang sekedar menempatkan keluarga ini sebagai jembatan.

Akankah Lima membangkitkan jiwa Pancasila rakyat? Saya ragu. Tapi apakah Lima patut disimak? Ya, film yang bicara tentang pentingnya Pancasila jelas patut disimak, setidaknya demi mengingatkan kita bahwa semua situasi ideal yang ditampilkan bukan cuma pesan menggurui, namun tujuan yang coba dicapai Pancasila selaku dasar negara. Kala tiba masa ketika intisari Pancasila meresapi sanubari tiap rakyatnya, saya percaya negeri ini beserta manusia-manusia di dalamnya akan mampu menghapuskan awan segelap apa pun. Lima sayangnya bukan cuma mencerminkan dasar negara lewat cerita, tapi kualitas akhirnya juga mengikuti kondisi Indonesia yang digelayuti beragam masalah serta kekurangan.

LABUAN HATI (2017)

Orang-orang dengan masalah personal memilih "lari" untuk sementara waktu, mengasingkan diri dari keriuhan dunia modern di tengah alam, lalu menemukan satu sama lain dan bersama-sama coba saling menyembuhkan luka. Premis itu sudah familiar. Begitu pula dengan konflik antar kawan tatkala mencintai orang yang sama. Bersama penulis naskah Titien Wattimena (Salawaku, Winter in Tokyo, Negeri Van Oranje),  Lola Amaria (Jingga, Minggu Pagi di Victoria Park) memakai unsur-unsur di atas sebagai jalan menyampaikan kisah berselipkan rasa feminisme, berhiaskan aktivitas diving mengarungi pemandangan bawah laut Pulau Komodo. Semuanya familiar, tapi Labuan Hati nyatanya masih nikmat disaksikan.

Bia (Kelly Tandiono) yang tengah bermasalah dengan sang suami berlibur seorang diri ke Pulau Komodo dengan bantuan Maria (Ully Triani) selaku guide. Sebelum memulai tur, Bia bertemu Indi (Nadine Chandrawinata) yang akibat miskomunikasi harus terpisah dari tunangannya yang memaksa mengatur segala detail perjalanan Indi. Merasa serupa dan mudah akrab, keduanya memilih menghabiskan waktu liburan bersama. Sampai kehadiran instruktur selam bernama Mahesa (Ramon Y Tungka) memancing perpecahan saat Bia, Indi, bahkan Maria sama-sama menyukai Mahesa. 
Labuan Hati bergerak dari satu destinasi wisata menuju lainnya, di mana tiap pemberhentian (baik darat atau underwater terpampang indah di layar) bermuara pada obrolan tiga wanita. Melalui pembicaraan mereka, Titien Wattimena mengutarakan beragam sudut pandang seputar kebahagiaan, cinta, atau tepatnya, soal kehidupan. Kadang pula Maria atau Mahesa menyampaikan segelintir informasi mengenai alam sekitar, entah yang sifatnya sekedar fakta dan data bagi penonton atau kritik terhadap lingkungan, semisal banyaknya pulau negeri ini yang dimiliki pihak asing. It's all about conversation. Meaningful and informative one. At least that's what this movie trying to be.

Pengadeganan Lola mengedepankan nuansa low key, sederhana, minim gejolak. Ibarat konser, Labuan Hati adalah pertunjukkan akustik intim ketimbang orkestra megah atau konser pop di stadion pengundang nyanyian massal. Namun bak berkontradiksi, ketika seorang tokoh mengucap baris kalimat bermakna, dia seolah memasuki dramatic state, bagai coba terdengar puitis, berlawanan dengan usungan konsep realistisnya. Alhasil tercipta transformasi tak mulus, bagai ada jurang pemisah antara penuturan kalimat santai dengan yang menyimpan makna. Padahal keduanya tergabung dalam sebuah rangkaian pembicaraan di satu waktu. Akibatnya, usaha merangkai jalinan emosi subtil nan lembut daripada dramatisasi bergejolak pun gagal, menjadi seutuhnya datar.
Bukan sepenuhnya kekeliruan Lola, sebab akting cast pun berpengaruh. Nadine paling terasa canggung dan berlebihan kala menangani kalimat tersebut. Kelly sekuat tenaga menghidupkan Bia dengan segala kehebohan dan sifat "wanita kota" miliknya. Tapi Ully Triani lah motor penggerak utamanya. Paling jarang bicara, Maria memilih diam mengamati dan menahan diri kala dua rekannya sibuk dikuasai ego. Baik berkat pengucapan dialog natural maupun siratan rasa terpendam, Ully membuat tokohnya paling simpatik. Labuan Hati berharap penonton memahami ketiga tokoh utama, namun jelas di Maria hati filmnya bertempat. Sepanjang film, Indi dan Bia gemar bermain "Fuck, Marry, Kill". It's arguable which one I'm gonna fuck, but Maria is definitely who I'm gonna marry, while the other two are killable.

Bia, Indi dan Maria merupakan wanita kuat, setidaknya ingin menuju ke sana. Mereka gamang akan cinta dan kebahagiaan tapi berusaha tegak berdiri sendiri, menolak dikontrol termasuk oleh laki-laki. Butuh pemicu kuat agar membutakan mereka. Pemicu itu tak lain Mahesa. Ketiganya tiba-tiba jatuh hati meski baru sejenak mengenalnya, belum pernah bicara hati ke hati atau mengalami kejadian luar biasa. Pasca duduk bersama, berbahagia menghabiskan senja, adegan berikut langsung memperlihatkan adanya lomba, saling cemburu di antara mereka. Masalahnya, apa yang membuat Mahesa begitu digandrungi selain kehebatan menyelam? Mahesa sekedar keklisean sosok pria tangguh, serupa namanya yang menyiratkan "kejantanan". 
Semakin sulit mempercayai proses ketertarikan pada Mahesa sewaktu Ramon Y Tungka tampil nihil pesona. Dia tidak diberkati charm natural macam Vino G Bastian atau Arifin Putra. Tidak pula mampu menyulap line sederhana jadi penuh wibawa seperti Reza Rahadian atau Abimana. Performanya di sini bukan suatu pameran akting buruk, tapi jelas kurang kuat untuk mengemban beban selaku penampil pria utama, apalagi bermain sebagai pemikat hati tiga wanita secara bersamaan. Belum lagi seperti telah disebutkan, karakterisasi Mahesa lemah, tanpa ciri. 

Pilihan resolusinya terkesan menggampangkan tapi masuk akal, sebab proses perenungan berujung memaafkan juga penerimaan wajar terjadi kala seseorang bersinggungan dengan hidup dan mati. Saya pun menyukai bagaimana Labuan Hati bijak menyikapi pesan feminismenya. Titien Wattimena dan Lola Amaria menekankan pentingnya wanita bertindak mandiri, menolak segala kekangan patriarki, namun tidak serta merta lupa akan peran seorang istri. Mengandung setumpuk kekurangan, Labuan Hati layak diapresiasi berkenaan atas tebaran kedamaian di tengah perjalanan karakternya berdamai dengan diri sendiri dan seluruh problematika. 


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID & Indonesian Film Critics