Tampilkan postingan dengan label Sha Ine Febriyanti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sha Ine Febriyanti. Tampilkan semua postingan
BUMI MANUSIA (2019)
Rasyidharry
Timbul kontroversi kala Hanung
Bramantyo (Ayat-Ayat Cinta, Sang
Pencerah, Kartini) menyatakan bakal memfokuskan Bumi Manusia pada elemen percintaan remaja. Banyak orang murka,
tapi mungkin mereka lupa, kurang (atau menolak) memahami, bahwa novelnya
sendiri mengetengahkan romantika. Tepatnya, Pramoedya Ananta Toer tahu jika cinta
sepasang kekasih merupakan perihal universal
yang mudah menyerap di hati.
Tujuan novelnya adalah membuat
pembaca jatuh cinta bersama Minke dan Annelies, memedulikan mereka, sehingga
tergerak mengutuk kolonialisme, rasisme, atau tindak ketidakadilan secara umum,
selaku kebiadaban yang berpotensi merenggut keindahan rasa bernama “cinta”. Dan
Hanung bersama Salman Aristo (Garuda di
Dadaku, Athirah, Mencari Hilal) sebagai penulis naskah, menangkap esensi
itu dengan baik.
Minke (Iqbaal Ramadhan) adalah
pribumi beruntung yang berkesempatan menuntut ilmu di Hogere Burgerschool
(HBS), sehingga bisa terpapar ilmu pengetahuan serta pola pikir modern, hal-hal
yang jauh dari jangkauan mayoritas pribumi. Minke merasa “tahu”, sampai tiba
kunjungannya ke kediaman keluarga Mellema di Wonokromo, Surabaya.
Bertemulah ia dengan Nyai Ontosoroh
(Sha Ine Febriyanti). “Nyai” merupakan panggilan bagi wanita pribumi simpanan
orang Belanda. Masyarakat memanang rendah para nyai, menganggap mereka sebatas
gundik kelas rendah tak berpendidikan. Tapi anggapan itu—yang turut menancap di
otak Minke—dipatahkan Nyai Ontosoroh. Dia pintar, penuh harga diri, kaya akan
pengetahuan, pula bertindak sebagai ketua pelaksana seluruh bisnis Keluarga
Mellema, menggantikan sang suami, Herman Mellema (Peter Sterk) yang sibuk
mabuk-mabukkan. Bahkan Nyai Ontosoroh berani berdiri melawan Herman.
Tapi sambaran lebih kuat ke hati
Minke ia rasakan kala berjumpa dengan puteri Nyai Ontosoroh, Annelies (Mawar de
Jongh), gadis indo (berdarah campuran) yang berkebalikan dengan sang kakak,
Robert (Giorgino Abraham), ingin menjadi pribumi. Minke jatuh cinta pada
pandangan pertama. Annelies pun demikian. Namun cinta mereka takkan mudah,
sebab ketidakadilan hukum, budaya, juga persepsi sosial yang menggelayuti bumi
manusia senantiasa siap menghancurkan hubungan ini.
Apabila pernah membaca novelnya,
tentu anda tahu sudut pandang ceritanya selalu berganti, dari Minke, Annelies,
Nyai Ontosoroh, sampai PSK asal Jepang bernama Maiko (Kelly Tandiono).
Naskahnya sanggup merangkum semua, menyederhanakannya tanpa kehilangan
substansi.
Pun pemakaian durasi mencapai tiga
jam tidak sia-sia, kala Bumi Manusia menghasilkan
sebuah adaptasi yang setia. Tentu beberapa aspek perlu diringkas, dihapus, atau
dipindah penempatannya, namun Salman Aristo jeli memilih, mana yang wajib dipertahankan,
mana yang bisa diubah. Saya masih menemukan pergerakan kasar, misalnya saat di
suatu subuh Minke dijemput paksa oleh polisi, tapi keseluruhan, filmnya
mengalir mulus berbekal konsistensi pacing
juga tensi.
Itulah mengapa penunjukkan Hanung tepat.
Tidak banyak sutradara yang siap menangani drama kolosal berdurasi tiga jam
supaya gampang dinikmati, bahkan oleh penonton muda yang mungkin datang hanya
demi melihat Iqbaal. Dibutuhkan fokus, energi, sekaligus jam terbang tinggi.
Dan Bumi Manusia merupakan karya
penyutradaraan terbaik Hanung selama beberapa tahun terakhir, di mana ia sukses
meraih apa yang ia kejar sepanjang karir: melahirkan drama emosional yang bisa
menjangkau penonton umum, namun tetap elegan agar tak berakhir murahan.
Pendekatan tersebut menjadikan Bumi Manusia sebuah romansa epik,
dibantu musik Andhika Triyadi (Dear
Nathan, Dilan 1990, Dua Garis Biru) yang sempurna mewakili kemegahan kisah
berskala besar. Satu departemen sayangnya melemahkan kesan epik itu: tata
dekorasi. Ya, rumah Keluarga Mellema dan lokasi-lokasi lain sekilas tampak
bagus, terlalu bagus dan terpoles sehingga mengurangi kesan realistis. Bangunan-bangunannya
artificial layaknya panggung yang
(baru) dibangun ketimbang lingkungan nyata.
Apalah arti suguhan drama tanpa
performa apik jajaran pemain. Banyak orang menyuarakan keraguan terkait
pemilihan Iqbaal. “Kenapa Minke diperankan Dilan?!”, begitu ujar mereka. Tapi
pengalaman Iqbaal menghantarkan gombalan Dilan membantunya menghadapi
kalimat-kalimat romantis di film ini. Mampu pula ia seimbangkan sisi rapuh dan
kokoh Minke, meski saat tiba waktunya melakoni adegan yang menuntut luapan rasa
(orasi berapi-api, tangisan, dan lain-lain), ekspresinya kerap kurang natural.
Sedangkan bagi Mawar, Annelies
merupakan peran yang bakal melambungkan status kebintangannya. Mawar bisa menyeimbangkan dua sisi
karakternya. Dibuatnya kita gemas pada kemanjaan Annelies, sementara di lain
kesempatan, kekaguman terhadap ketangguhannya tak tertahankan.
Tapi tiada satu pun sanggup
menandingi Sha Ine Febriyanti, yang tampil bagai kekuatan alam yang menyedot
seluruh gravitasi di ruangan di tiap kemunculan, bahkan tanpa harus mengucap
sepatah kata pun. Sosoknya mantap, intimidatif, namun berhiaskan kehangatan
juga, tergantung situasi atau dengan siapa sang Nyai berinteraksi. Kemudian
sewaktu Ine mulai meningkatkan kadar emosi, hati ini pun ikut bergetar hebat.
Di tangan Ine, Nyai
Ontosoroh bagaikan figur pemimpin perjuangan tokoh-tokoh wanita film ini, yang
seluruhnya kuat, sanggup “berdiri dengan kaki sendiri” juga menaklukkan semua
pria, baik menggunakan cara keras (diwakili Nyai Ontosoroh) atau kelembutan (diwakili Ibunda Minke yang diperankan penuh kehangatan oleh Ayu Laksmi).
Inilah alasan, walau novelnya
terbit hampir 40 tahun lalu dan mengusung latar 121 tahun lalu, Bumi Manusia masih relevan. Perjuangan
menegakkan keadilan (ras, gender, agama) berlandaskan asas kemanusiaan masih
berlangsung sampai sekarang. Sebuah perjuangan yang dipersenjatai hati dan
cinta ketimbang (sekadar) amarah. Perjuangan tersebut bergema kuat, mungkin
sekitar separuh durasi, saya kesulitan menahan haru.
Agustus 16, 2019
Andhika Triyadi
,
Ayu Laksmi
,
Bagus
,
Drama
,
Giorgino Abraham
,
Hanung Bramantyo
,
Indonesian Film
,
Iqbaal Ramadhan
,
Kelly Tandiono
,
Mawar de Jongh
,
REVIEW
,
Romance
,
Salman Aristo
,
Sha Ine Febriyanti
JAFF 2018 - IF THIS IS MY STORY (2018)
Rasyidharry
Mungkin terdengar berlebihan, tapi
karya kedua duo sutradara sekaligus suami-istri Djenar Maesa Ayu dan Kan Lumé
pasca hUSh dua tahun lalu ini, secara
gaya, mungkin film Indonesia yang paling mengingatkan saya akan judul-judul
buatan auteur asal Korea Selatan,
Hong Sang-soo (Claire’s Camera, On the
Beach at Night Alone, Nobody’s Daughter Haewon). If This is My Story disusun atas rangkaian pembicaraan, dibungkus oleh
take panjang statis yang menempatkan
penampilan jajaran pemain di garis depan.
Alurnya memiliki tiga babak (empat
kalau menghitung epilog): This is His
Story, This is Her Story, dan This is
Our Story. Apabila Hong gemar menerapkan realita alternatif tiap babak
buatan Djenar dan Kan bertempat di satu realita yang dipakai mengutarakan
beberapa perspektif mengenai konflik rumah tangga.
Kay (Cornelio Sunny) adalah pembuat
film yang karirnya jalan di tempat, dan merasa bahwa sang istri, Dee (Sha Ine
Febriyanti) tak menghargai segala usahanya. Sebaliknya, Dee menganggap Kay
memanfaatkan warisan harta orang tuanya untuk bermalas-malasan mencari uang.
Perspektif dari segmen His adalah,
bahwa Dee jadi pihak bermasalah yang senantiasa menyinggung sang suami, walau
harus diakui, beberapa problematika memang diakibatkan ketidakmampuan Kay
mengatur emosi.
Secara insting, saya lebih terikat
pada This is His Story selaku
penggambaran tepat sasaran tentang konflik hubungan romantika dari sudut
pandang pria. Begitu tepat, babak pertamanya tampil believable pula sesekali mengundang tawa (sebab beberapa penonton
mungkin pernah mengalami hal serupa) termasuk kala ekspresi frustrasi eksplosif
Sunny bertemu pembawaan tenang cenderung dingin dari Ine, menghasilkan situasi
kontras menarik yang bagai refleksi visual hitam-putih film ini.
Satu-satunya elemen mengganggu di
paruh awal adalah ketika Kay meluapkan frustrasinya, yang alih-alih mengguncang
hati atau memunculkan sindiran menggelitik tentang machismo yang terluka,
justru memproduksi kelucuan tak disengaja akibat teriakan cringey nihil getaran rasa milik Sunny.
Babak keduanya (This is Her Story) menampilkan sisi
berlawanan, saat kesalahan ada di pundak Kay yang kini banyak diam, sedangkan
Dee lebih histerikal. Saya tidak bisa membahas lebih jauh agar menghindari spoiler, juga babak ketiganya yang
bertindak sebagai pengungkapan kebenaran (dalam beberapa definisi). Paruh akhirnya
diawali dengan menarik berkat selipan twist,
juga masuknya Reza Rahadian. Seperti biasa, Reza jadi penampil terbaik, mampu membuat
segala macam kalimat terdengar dinamis.
Third act-nya merupakan media presentasi mengenai sudut pandang
soal hubungan ideal serta kritik bagi beberapa gagasan menurut para tokoh utama
(dan kedua pembuat film). Sayang, sebaik apa pun performa Reza, kesan
berlarut-larut gagal dihindarkan ketika If
This is My Story mulai keluar jalur. Djenar dan Kan urung mengontrol ambisi
mencurahkan seluruh isi hati, menumpahkan materi yang sebenarnya cukup untuk
membuat satu film panjang lain. Kekuatan emosi milik konklusi kala monotonitas
hitam-putih berganti pemandangan berwarna (pemberian orang lain) pun terlucuti.
Bicara soal kegagalan memaksimalkan
emosi, pemakaian kamera statis turut berkontribusi. Kecuali pertengkaran besar
jelang akhir babak kedua, kameranya menolak bergerak, bahkan sekedar untuk
menerapkan zoom in sekalipun
(sebagaimana dilakukan Hong Sang-soo) selaku penekanan intensitas. Alhasil,
akting para aktor, khususnya Ine, tidak berhasil ditangkap seutuhnya. Di balik
berbagai kekurangan, termasuk aspek teknis seadanya tatkala pada beberapa kesempatan
kita bisa melihat noise atau usaha menghapusnya
yang justru menciptakan efek aneh dan tidak natural bagi visualnya, If This is My Story tetaplah karya
Djenar terbaik bagi saya.
Desember 02, 2018
Cornelio Sunny
,
Cukup
,
Djenar Maesa Ayu
,
Drama
,
Indonesian Film
,
Kan Lume
,
REVIEW
,
Reza Rahadian
,
Sha Ine Febriyanti
Langganan:
Postingan
(
Atom
)



