Tampilkan postingan dengan label Iqbaal Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Iqbaal Ramadhan. Tampilkan semua postingan

REVIEW - MENCURI RADEN SALEH

Mencuri Raden Saleh punya segudang alasan untuk diragukan. Genre yang kurang lazim di perfilman Indonesia, kapasitas Angga Dwimas Sasongko mengarahkan aksi yang tak sekuat drama, jajaran bintang idola anak muda yang sekilas dipilih cuma demi mengejar untung, hingga trailer yang tak spesial biarpun jauh dari buruk. Hasilnya? Surprise, this is one of our best blockbusters in years. 

Salah satu upaya terbaru film Indonesia merambah heist adalah lewat The Professionals (2016) yang luar biasa canggung, akibat memandang genre ini sebatas mementingkan karakter ganteng dan cantik bertingkah sok keren, sembari mengenakan setelan mahal. Mencuri Raden Saleh juga dipenuhi karakter ganteng dan keren, tapi mereka bukan sekadar pajangan. 

Ditulis oleh Angga bersama Husein M. Atmodjo (Midnight Show, 22 Menit, Perburuan), naskahnya tahu cara mengelola karakter. Buktinya, ia rela menghabiskan banyak porsi guna mengupas jati diri mereka, walau harus membuat filmnya berdurasi 154 menit (andai di bawah dua jam, hasilnya pasti hambar). 

Piko (Iqbaal Ramadhan) dan Ucup (Angga Yunanda) bekerja sama dalam bisnis pemalsuan lukisan. Piko adalah pemalsu handal, sedangkan sebagai peretas, Ucup mampu memperoleh data yang diperlukan agar lukisan itu terlihat seasli mungkin. Piko mengumpulkan uang demi dua hal: membahagiakan kekasihnya, Sarah (Aghniny Haque), yang sedang berjuang menembus tim PON, dan membebaskan ayahnya, Budiman (Dwi Sasono), dari penjara. 

Maka ketika datang tawaran besar dari mantan presiden, Permadi (Tio Pakusadewo), untuk mencuri lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh yang disimpan di istana negara, Piko tak kuasa menolak. Tim pun dikumpulkan: Gofar (Umay Shahab) si mekanik, Tuktuk (Ari Irham) si driver, dan Fella (Rachel Amanda) si bandar judi yang jadi tambahan sumber daya sekaligus otak rencana. 

Kita tahu jati diri, motivasi, dan terpenting, kemampuan mereka. Naskahnya meluangkan waktu, memberi porsi merata, supaya penonton yakin mereka merupakan ahli di bidang masing-masing. Kecuali Tuktuk. Mencuri Raden Saleh tak punya sekuen kebut-kebutan memadai sebagai pembuktian kualitas Tuktuk. 

Deretan karakternya pun hidup berkat performa tiap pemain. Iqbaal mengeksplorasi sisinya yang lebih tertutup, Angga Yunanda berevolusi jadi lead matang yang tampil lepas (I didn't know he can be this cool), Umay menampilkan akting dramatik, juga komedik melalui celetukan naturalnya. Mudah mendukung perjuangan mereka. Perjuangan yang senada dengan esensi lukisannya selaku simbol perlawanan terhadap kelicikan para pemegang kekuatan. 

Mengenai lukisan, keberhasilan filmnya mereproduksi karya Raden Saleh (konon dibuat oleh seorang pelukis maestro yang tentu saja tak bisa diungkap identitasnya) juga suatu pencapaian, sekaligus bukti bahwa Angga memedulikan detail. Total lima kanvas dibuat dalam beragam fase (sketsa hingga hasil akhir). 

Menyebut naskahnya mulus total mungkin kurang tepat. Beberapa detail rencana terkadang diolah kurang matang, pun twist-nya agak bergantung pada kebetulan, pula membuat ceritanya lebih rumit dari yang dibutuhkan. Tapi secara keseluruhan, alurnya cukup "belokan" sehingga dua setengah jam durasi terisi padat, entah berupa konflik interpersonal atau terkait jalannya misi. Tentu misinya tak berjalan mudah. Terjadi kegagalan yang sekilas nampak bodoh, namun kebodohan berujung kesalahan itu masuk akal, sebab tokoh-tokohnya bukanlah pencuri profesional.  

Meski tersisa sedikit keluhan, pengarahan aksi Angga kentara mengalami peningkatan. Terlebih, kali ini lubangnya tak terlalu mengganggu berkat iringan musik gubahan Abel Huray yang menyokong intensitas adegan. Bintangnya tentu Aghniny. Kita tahu kemampuan bela dirinya mumpuni, tapi baru di Mencuri Raden Saleh potensinya benar-benar dimaksimalkan. Kamera menangkap seluruh karisma serta gestur Aghniny, seolah ia (kamera) sendiri dibuat kagum olehnya. Aksinya menghajar musuh dalam balutan gaun merah merupakan puncak. Kemunculan Reza Hilman (juga menjabat koreografer film ini) di momen tersebut mungkin terkesan tiba-tiba, pula tanpa substansi berarti selain sebuah easter eggs, namun menyaksikan kombinasi dua jagoan bela diri tetap mengandung daya pikat tersendiri. 

Mencuri Raden Saleh membuktikan betapa industri kita sejatinya telah sangat siap melangkah lebih jauh dalam hal penambahan variasi. Bukan lagi di tahap "mari apresiasi karya unik anak bangsa". Sineas kita sudah menjalankan tugasnya. Sekarang semua terletak di tangan publik, untuk menentukan seberapa jauh upaya menambah keberagaman bakal melangkah. 

REVIEW - ALI & RATU RATU QUEENS

Berbeda dengan mayoritas film Indonesia berlatar luar negeri, Ali & Ratu Ratu Queens tidak dibuat memakai kacamata turis. Berlatar New York, karakternya kerap berkeliling kota (yang tampak cantik berkat tangkapan kamera Batara Goempar selaku sinematografer), bukan sebatas jalan-jalan, namun merekam memori. Di tengah dunia yang asing, rekaman itu dipakai si protagonis untuk mengenal orang-orang di sekitarnya, guna menghapus keterasingan dan kesendiriannya. 

Protagonis kita bernama Ali (Iqbaal Ramadhan), yang menyambangi New York seorang diri, demi mencari sang ibu, Mia (Marissa Anita), yang pergi ke sana sewaktu Ali kecil, guna menggapai mimpi sebagai penyanyi. Ali nekat, biarpun mendapat tentangan dari keluarga besar, termasuk budenya (Cut Mini). Dia ingin tahu, mengapa Mia tidak pernah pulang ke Indonesia. 

Satu hal yang langsung mencur perhatian saya adalah tata suara. Ambience, semisal suara burung, terasa nyata, seolah kita berada langsung di lokasi. Pun baik musik (berisi deretan lagu catchy seperti Khayalan hingga Location Unknown) maupun dialog tampil jernih, walau saat keduanya muncul bersamaan, kerap terdengar tumpang tindih. 

Sesampainya di New York, Ali mendapati sang ibu tidak lagi menetap di alamat lamanya yang terletak di Queens. Tapi ia beruntung, sekarang di sana tinggal para ratu. Empat imigran wanita asal Indonesia dengan kepribadian penuh warna, yang siap membantu pencariannya, termasuk mengizinkan Ali tinggal sementara waktu bersama mereka. Mereka adalah Party (Nirina Zubir), Ajeng (Tika Panggabean), Biyah (Asri Welas), dan Chinta (Happy Salma). Ali turut bertemu Eva (Aurora Ribero), puteri Ajeng, yang bisa ditebak, bakal menjadi love interest-nya.

Ali, yang membawa Iqbaal menampilkan akting natural, memang tokoh utama. Sedangkan Marissa Anita kembali membuktikan diri sebagai salah satu aktris terbaik negeri ini, yang piawai menangai kompleksitas emosi. Tapi keempat ratulah jiwa Ali & Ratu Ratu Queens sesungguhnya. Melalui mereka, sudut pandang imigran dari kelas menengah ke bawah yang jarang diambil film kita, dipresentasikan. Mereka tidak datang untuk liburan. Bukan pula kalangan beruntung yang pergi dari Indonesia karena tawaran pekerjaan menggiurkan atau kesempatan menempuh pendidikan. 

Dari mereka, mimpi-mimpi memperbaiki hidup milik para imigran ditampilkan. Pula bagaimana berkat semangat kebersamaan mereka, penderitaan di tengah upaya menggapai mimpi tersebut dapat terobati, atau setidaknya diringankan. Padahal mereka adalah orang asing. Bukan kawan lama, apalagi keluarga. Gagasan mengenai "chosen family" pun diusung. Bahwa individu bisa, dan berhak, memilih siapa keluarganya. Bahwa keluarga tidak harus terikat hubungan darah. Tempat di mana kita bisa menemukan kehangatan sebagai diri sendiri, itulah keluarga. 

Di Queens, Ali belajar soal itu. Dia menemukan kenyamanan bersama para ratu, sebagaimana saya menemukan kenyamanan selama menonton filmnya. This is a comforting movie. The Queen themselves radiate comfort and warmth. Naskah buatan Ginantri S. Noer (Posesif, Dua Garis Biru, Keluarga Cemara) penuh akan celetukan menggelitik keempat ratu, yang selain berfungsi memancing tawa (berhasil), pula menggambarkan betapa hangatnya berada di sekitar mereka (juga berhasil).

Berstatus "comforting movie", naskahnya tidak membiarkan penonton berlarut-larut menyaksikan permasalahan. Bagi sebagian orang, hal ini mungkin dianggap kekurangan, karena filmnya tak membiarkan konflik lebih berkembang dan berakhir secara instan. Tapi bagi saya, justru di situlah letak pesonanya. Ali & Ratu Ratu Queens ingin selama mungkin membuat penonton dikelilingi emosi positif berupa kedamaian, kehangatan, dan kebahagiaan. Takkan menghapus masalah di dunia nyata, tapi minimal, selama sekitar 100 menit, kita dibawa melupakan realita itu, dalam dunia fiksi yang dipenuhi senyuman.

Tapi bukan berarti terjadi simplifikasi, khususnya perihal konflik keluarga Ali. Mudah saja menggambarkan ayah Ali, Hasan (Ibnu Jamil), sebagai pria pengekang mimpi istri. Mungkin ada sedikit unsur itu, namun filmnya enggan seketika menyalahkan. New York adalah tempat yang jauh. Tentu sulit baginya menjalani perpisahan itu. Dinamika batinnya masih menyisakan ruang untuk ditelusuri, namun dilemanya bisa dipahami. 

Apabila anda menyalahkan Mia, patut dicatat, sebagai wanita apalgi yang tinggal di Indonesia, peluang sekecil apa pun mahal harganya. Pria bisa membuang satu-dua kesempatan meraih mimpi dan punya berpeluang lebih besar dari wanita untuk  mendapatkannya lagi suatu hari kelak. Lewat akting Marissa Anita, dilema antara cita-cita dan keluarga mampu dirasakan. Mia membayar harga yang mahal, dan bagaimana itu berdampak besar terhadapnya, nampak betul dari penampilan sang aktris.

Pengarahan Lucky Kuswandi (Selamat Pagi Malam, Galih dan Ratna) membawa semangat serupa naskahnya, dengan sensitivitas yang sanggup memancing rasa haru tidak harus melalui tangisan, melainkan kehangatan. Departemen lain turut membantu Lucky mewujudkan visinya, termasuk montase jelang akhir, yang menampilkan animasi karya Pinot W. Ichwandardi. Beberapa kecanggungan masih sesekali terasa, baik di gagasan naskah atau pengadeganan, tetapi tidak sampai menghambat laju Ali & Ratu Ratu Queens, yang dengan mulus menjadi film Indonesia terbaik 2021 sejauh ini. 


Available on NETFLIX

MILEA: SUARA DARI DILAN (2020)

Berlawanan dengan prinsip banyak pecinta film, saya mendukung keberlangsungan sekuel, prekuel, atau ragam bentuk karya “non-original” lain yang bertujuan mendulang keuntungan finansial. Eksistensinya berguna menyehatkan industri. Tapi Milea: Suara dari Dilan terlalu jauh mendorong batasan produk berorientasi profit, dengan menyamarkan diri sebagai pelengkap perspektif terhadap seri film Dilan, walau mayoritas hanya rangkuman kisah-kisah sebelumnya.

Kisahnya dibuka oleh narasi meta dari Dilan (Iqbaal Ramadhan), tentang bagaimana Pidi Baiq mengadaptasi kisah cintanya dan Milea (Vanesha Prescilla) menjadi dua novel dari sudut pandang si gadis. Kini, dalam rangka penulisan novel ketiga, giliran perspektif Dilan yang diangkat. Seperti judulnya, kali ini penonton mendengarkan suara Dilan guna memandang kisah melalui sisinya. Pertanyaannya, seberapa banyak pemahaman baru yang didapat setelah menyaksikan film ini?

Milea: Suara dari Dilan bermaksud melengkapi Dilan 1990 (review) dan Dilan 1991 (review) sebagai film kolektif. Bentuk tersebut kira-kira tidak jauh beda dengan The Disappearance of Eleanor Rigby (2013) yang terdiri atas tiga versi: Him, Her, dan Them. Film kolektif semacam itu wajib saling melengkapi. Tapi, alih-alih demikian, naskah buatan Pidi Baiq bersama Titien Wattimena, yang mengadaptasi novel berjudul sama karya Pidi, sebatas melakukan reka ulang berisi momen-momen memorable dari dua film pertama, yang disusun menggunakan kumpulan stok footage lama. Ibarat album musik, ini adalah album The Best of...

Para penggemar fanatik mungkin bakal terbuai saat mendengar lagi gombalan ikonik Dilan, sebutlah “Kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu”, “Jangan rindu. Berat. Biar aku saja”, dan lain-lain. Tapi ini bukan nostalgia, mengingat dua filmnya masing-masing baru dirilis pada tahun 2018 dan 2019. Dan berbicara soal pemahaman baru, Milea: Suara dari Dilan kekurangan asupan tersebut. Sebab selama sekitar 100 menit, filmnya bak sebatas fragmen yang dijahit paksa serta minim tambahan suntikan bobot, makna, atau perspektif baru.

Pada akhirnya kita tetap tidak tahu mengapa Dilan jatuh cinta pada Milea dan memutuskan untuk “meramalnya” dari atas motor dahulu. Bukan berarti cinta butuh penjabaran logis, namun Dilan memperlihatkan ketertarikan, bahkan sebelum bertatap muka dan baru mengetahui eksistensi Milea si murid baru berdasarkan cerita teman-temannya. Akting jajaran pemain jadi terkena dampaknya. Karena filmnya sebatas penyatuan paksa keping-keping kisah, baik penampilan perseorangan Iqbaal dan Vanesha maupun chemistry keduanya, yang tersaji kuat di film-film sebelumnya, terasa tidak utuh.

Perihal sudut pandang baru atas peristiwa masa lalu cuma terjadi dalam peristiwa kematian Akew (Gusti Rayha). Milea menjauh, bahkan kemudian meninggalkan Dilan karena rasa khawatir ditambah ketidaksukaan akan keterlibatan Dilan dalam geng motor. Penonton bisa ikut merasakan kebingungan Dilan. Baginya, Milea mendadak pergi tanpa alasan justru tatkala Dilan sedang membutuhkannya selepas kematian sang sahabat.

Tapi terkait konflik dua tokoh utama, khususnya ketika hubungan mereka mulai tergerus, inkonsistensi Milea: Suara dari Dilan sebagai film mengenai...well, “suara dari Dilan”, semakin tampak nyata. Kalau ini merupakan kisah dari sisi Dilan, kenapa masih ada bagian-bagian di mana hanya Milea saja yang tahu? Terkadang narasinya memakai sudut pandang orang pertama, lalu berubah menjadi orang ketiga serba tahu. Inkonsisten.

Fase terbaik tiba ketika filmnya melewati satu jam. Kisahnya berhenti melakukan reka ulang, mulai menjamah era baru, membicarakan perihal memori di mana karakernya dituntut move on, melangkah menuju babak baru dalam kehidupan mereka. Di situ kenangan-kenangan masa SMA, romansa, hingga keluarga, dikupas. Momen-momen emosional yang menjadikan Dilan 1991 begitu berkesan pun berhasil diulangi. Sayangnya fase ini datang terlambat dan tidak berlangsung lama.

Begitu Dilan dan Milea akhirnya bertemu kembali, ada harapan tinggi menanti konklusi dari salah satu kisah cinta paling fenomenal yang pernah menghiasi layar lebar Indonesia. Sampai akhirnya harapan tersebut hancur akibat konklusi dingin yang berlawanan dengan penuturan overly dramatic dan overly romantic (entah berupa konflik atau kalimat-kalimat gombal) yang begitu identik dengan seri Dilan. Baik penulisan maupun penyutradaraan duo Pidi Baiq dan Fajar Bustomi gagal mempersembahkan momen penutup memorable bagi Dilan dan Milea. Mencapai babak penutup, Dilan justru menyentuh titik nadir.

BUMI MANUSIA (2019)

Timbul kontroversi kala Hanung Bramantyo (Ayat-Ayat Cinta, Sang Pencerah, Kartini) menyatakan bakal memfokuskan Bumi Manusia pada elemen percintaan remaja. Banyak orang murka, tapi mungkin mereka lupa, kurang (atau menolak) memahami, bahwa novelnya sendiri mengetengahkan romantika. Tepatnya, Pramoedya Ananta Toer tahu jika cinta sepasang kekasih merupakan perihal universal yang mudah menyerap di hati.

Tujuan novelnya adalah membuat pembaca jatuh cinta bersama Minke dan Annelies, memedulikan mereka, sehingga tergerak mengutuk kolonialisme, rasisme, atau tindak ketidakadilan secara umum, selaku kebiadaban yang berpotensi merenggut keindahan rasa bernama “cinta”. Dan Hanung bersama Salman Aristo (Garuda di Dadaku, Athirah, Mencari Hilal) sebagai penulis naskah, menangkap esensi itu dengan baik.

Minke (Iqbaal Ramadhan) adalah pribumi beruntung yang berkesempatan menuntut ilmu di Hogere Burgerschool (HBS), sehingga bisa terpapar ilmu pengetahuan serta pola pikir modern, hal-hal yang jauh dari jangkauan mayoritas pribumi. Minke merasa “tahu”, sampai tiba kunjungannya ke kediaman keluarga Mellema di Wonokromo, Surabaya.

Bertemulah ia dengan Nyai Ontosoroh (Sha Ine Febriyanti). “Nyai” merupakan panggilan bagi wanita pribumi simpanan orang Belanda. Masyarakat memanang rendah para nyai, menganggap mereka sebatas gundik kelas rendah tak berpendidikan. Tapi anggapan itu—yang turut menancap di otak Minke—dipatahkan Nyai Ontosoroh. Dia pintar, penuh harga diri, kaya akan pengetahuan, pula bertindak sebagai ketua pelaksana seluruh bisnis Keluarga Mellema, menggantikan sang suami, Herman Mellema (Peter Sterk) yang sibuk mabuk-mabukkan. Bahkan Nyai Ontosoroh berani berdiri melawan Herman.

Tapi sambaran lebih kuat ke hati Minke ia rasakan kala berjumpa dengan puteri Nyai Ontosoroh, Annelies (Mawar de Jongh), gadis indo (berdarah campuran) yang berkebalikan dengan sang kakak, Robert (Giorgino Abraham), ingin menjadi pribumi. Minke jatuh cinta pada pandangan pertama. Annelies pun demikian. Namun cinta mereka takkan mudah, sebab ketidakadilan hukum, budaya, juga persepsi sosial yang menggelayuti bumi manusia senantiasa siap menghancurkan hubungan ini.

Apabila pernah membaca novelnya, tentu anda tahu sudut pandang ceritanya selalu berganti, dari Minke, Annelies, Nyai Ontosoroh, sampai PSK asal Jepang bernama Maiko (Kelly Tandiono). Naskahnya sanggup merangkum semua, menyederhanakannya tanpa kehilangan substansi.

Pun pemakaian durasi mencapai tiga jam tidak sia-sia, kala Bumi Manusia menghasilkan sebuah adaptasi yang setia. Tentu beberapa aspek perlu diringkas, dihapus, atau dipindah penempatannya, namun Salman Aristo jeli memilih, mana yang wajib dipertahankan, mana yang bisa diubah. Saya masih menemukan pergerakan kasar, misalnya saat di suatu subuh Minke dijemput paksa oleh polisi, tapi keseluruhan, filmnya mengalir mulus berbekal konsistensi pacing juga tensi.

Itulah mengapa penunjukkan Hanung tepat. Tidak banyak sutradara yang siap menangani drama kolosal berdurasi tiga jam supaya gampang dinikmati, bahkan oleh penonton muda yang mungkin datang hanya demi melihat Iqbaal. Dibutuhkan fokus, energi, sekaligus jam terbang tinggi. Dan Bumi Manusia merupakan karya penyutradaraan terbaik Hanung selama beberapa tahun terakhir, di mana ia sukses meraih apa yang ia kejar sepanjang karir: melahirkan drama emosional yang bisa menjangkau penonton umum, namun tetap elegan agar tak berakhir murahan.

Pendekatan tersebut menjadikan Bumi Manusia sebuah romansa epik, dibantu musik Andhika Triyadi (Dear Nathan, Dilan 1990, Dua Garis Biru) yang sempurna mewakili kemegahan kisah berskala besar. Satu departemen sayangnya melemahkan kesan epik itu: tata dekorasi. Ya, rumah Keluarga Mellema dan lokasi-lokasi lain sekilas tampak bagus, terlalu bagus dan terpoles sehingga mengurangi kesan realistis. Bangunan-bangunannya artificial layaknya panggung yang (baru) dibangun ketimbang lingkungan nyata.

Apalah arti suguhan drama tanpa performa apik jajaran pemain. Banyak orang menyuarakan keraguan terkait pemilihan Iqbaal. “Kenapa Minke diperankan Dilan?!”, begitu ujar mereka. Tapi pengalaman Iqbaal menghantarkan gombalan Dilan membantunya menghadapi kalimat-kalimat romantis di film ini. Mampu pula ia seimbangkan sisi rapuh dan kokoh Minke, meski saat tiba waktunya melakoni adegan yang menuntut luapan rasa (orasi berapi-api, tangisan, dan lain-lain), ekspresinya kerap kurang natural.

Sedangkan bagi Mawar, Annelies merupakan peran yang bakal melambungkan status kebintangannya. Mawar bisa menyeimbangkan dua sisi karakternya. Dibuatnya kita gemas pada kemanjaan Annelies, sementara di lain kesempatan, kekaguman terhadap ketangguhannya tak tertahankan.

Tapi tiada satu pun sanggup menandingi Sha Ine Febriyanti, yang tampil bagai kekuatan alam yang menyedot seluruh gravitasi di ruangan di tiap kemunculan, bahkan tanpa harus mengucap sepatah kata pun. Sosoknya mantap, intimidatif, namun berhiaskan kehangatan juga, tergantung situasi atau dengan siapa sang Nyai berinteraksi. Kemudian sewaktu Ine mulai meningkatkan kadar emosi, hati ini pun ikut bergetar hebat.

Di tangan Ine, Nyai Ontosoroh bagaikan figur pemimpin perjuangan tokoh-tokoh wanita film ini, yang seluruhnya kuat, sanggup “berdiri dengan kaki sendiri” juga menaklukkan semua pria, baik menggunakan cara keras (diwakili Nyai Ontosoroh) atau kelembutan (diwakili Ibunda Minke yang diperankan penuh kehangatan oleh Ayu Laksmi). 

Inilah alasan, walau novelnya terbit hampir 40 tahun lalu dan mengusung latar 121 tahun lalu, Bumi Manusia masih relevan. Perjuangan menegakkan keadilan (ras, gender, agama) berlandaskan asas kemanusiaan masih berlangsung sampai sekarang. Sebuah perjuangan yang dipersenjatai hati dan cinta ketimbang (sekadar) amarah. Perjuangan tersebut bergema kuat, mungkin sekitar separuh durasi, saya kesulitan menahan haru.

DILAN 1991 (2019)

Alasan materi promosi Dilan 1991 menjual filmnya sebagai “fotokopi” Dilan 1990, yang murni bergantung pada keeksentrikan si tokoh tituler serta rayuan unik (atau aneh?) miliknya, bisa dimengerti. Formula tersebut lebih dari sekadar sukses. Adaptasi novel karya Pidi Baiq itu pantas disebut fenomena budaya populer. Kalimat-kalimat maupun adegannya melahirkan jutaan meme sekaligus menjadi film lokal terlaris kedua sepanjang masa. Saya yakin Dilan 1991 bakal mengulang, bahkan bisa melebihi kesuksesan itu. Silahkan tengok jumlah penonton hari pertama yang akan dengan gampang menghempaskan rekor Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 2 (313 ribu).

Apabila anda tak tahan dengan pendekatan film pertamanya, mudah untuk memandang rendah apa yang trailer-nya tampilkan. Bahkan saya yang mampu menoleransi puisi gombal Dilan, merasa pesimis dan memasang ekspektasi rendah. Dilan 1991 dibuka lewat pemandangan yang sesuai ekspektasi tersebut. Dilan (Iqbaal Ramadhan) dan Milea (Vanesha Prescilla) yang telah resmi berpacaran, sedang berboncengan di bawah guyuran hujan. Tentu saja sepanjang perjalanan, Dilan sibuk membombardir telinga sang kekasih dengan baris-baris kalimat ajaib yang membuat saya merinding geli.

Sampai beberapa lama, naskah garapan Titien Wattimena (Salawaku, Dilan 1990, Aruna & Lidahnya) dan Pidi Baiq (juga merangkap sutradara) masih belum beranjak dari jalur tersebut. Walau cukup melelahkan, saya akui gestur “ciuman tangan” Dilan-Milea akan melahirkan hal ikonik baru di kalangan remaja. Tapi begitu konflik bermunculan, Dilan 1991 memperlihatkan wajah aslinya sebagai romansa remaja dengan hati.

Konfliknya tidak baru maupun kompleks, masih mondar-mandir seputar dua muda-mudi dimabuk cinta yang berusaha mempertahankan hubungan mereka. Kini Milea, yang sudah merasa mempunyai hak bicara sebagai kekasih, mulai berani vokal mengutarakan ketidaksukaan perihal bergabungnya Dilan dalam geng motor. Milea khawatir, suatu hari aktivitas itu bakal menempatkan Dilan di tengah situasi berbahaya. Kekhawatiran yang akhirnya terbukti tepat.

Masalah di atas sederhana, namun relatable. Keinginan Milea masuk akal, tapi Dilan dengan hatinya yang sekeras batu menolak dikekang. Tersimpan potensi yang sayangnya urung naskahnya jamah, yakni soal penggalian sisi personal Dilan. Menyelami isi hati terdalamnya, mengeksplorasi dinamika psikis atau rasanya, bisa membuat penonton memahami Dilan dengan sendirinya, daripada harus diberitahu secara verbal oleh dialog-dialog.

Dengan begitu, Dilan bukan saja sesosok mesin puisi, tapi manusia sungguhan. Walau belum maksimal, setidaknya kini kita dapat sekilas melihatnya, ketika tak semua interaksi Dilan-Milea diisi buaian gombal. Adegan Milea menyuapi roti menunjukkan wajah percintaan yang lebih membumi sekaligus memberi Iqbaal kesempatan menampilkan akting natural sesuai bakatnya. Beruntung bagi Vanesha, karakterisasi Milea memfasilitasi kapasitas akting dramatiknya. Bersenjatakan tangisan yang ampuh menusuk hati, bahkan kalimat klise macam “Aku sayang kamu, Dilan” terdengar menyentuh.

Perjalanan Milea menciptakan drama emosional bagi penonton turut dibantu kehadiran dua sosok wanita: Bunda Dilan (Ira Wibowo) dan Ibu Milea (Happy Salma). Bunda lebih aktif dan lantang, sedangkan Ibu penuh kelembutan. Keduanya saling melengkapi, sama-sama sosok wanita mengagumkan, dan senantiasa menebarkan kehangatan kasih sayang ibu tiap kali muncul di layar.

Faktor lain di balik peningkatan pesat bobot emosinya dibanding film pertama adalah makin apiknya pengarahan Pidi Baiq dan Fajar Bustomi (Jagoan Instan, Surat Kecil untuk Tuhan, Dilan 1990) dalam meramu momen menyentuh, meski anda takkan menemukan kesubtilan dari pengadeganan mereka. Sementara lagu-lagu seperti Rindu Sendiri dan Dulu Kita Masih SMA yang telah mengakar di benak penonton turut berkontribusi melahirkan suasana manis. Saya tak malu mengakui bahwa di beberapa kesempatan, termasuk montase saat Milea mengenang memori di Bandung (adegan “kenangan” dalam film adalah kelemahan saya), air mata nyaris mengalir.

Penceritaan Dilan 1991 tak sepenuhnya mulus. Progresi ceritanya disusun lewat gaya episodik dan durasi 121 menit jelas terlampau panjang. Banyak poin minim substansi, seperti kemunculan kembali Kang Adi (Refal Hady) hingga subplot tentang Pak Dedi (Ence Bagus) si guru genit bisa dibuang tanpa merusak intisari kisah. Saya pun terganggu oleh dekorasi bioskop, yang meski telah mendesain ulang loket penjualan tiket, secara keseluruhan nampak begitu kekinian. Sisanya saya tak bisa banyak berkomentar karena tak mengetahui detail kondisi Bandung awal 90-an.

Memiliki sederet kekurangan tadi, Dilan 1991 jelas jauh dari sempurna. Tapi apabila sebuah romansa mampu melahirkan protagonis likeable (khususnya Milea), bahkan mengaduk-aduk perasaan, bagi saya itu sudah cukup. Dilan 1991 merupakan sekuel memuaskan yang tampil superior dibanding pendahulunya dan menyulut ketertarikan akan film berikutnya: Milea.

PS: Terdapat post-credits scene, namun sangat pendek dan tak seberapa penting kecuali bagi penggemar berat.

DILAN 1990 (2018)

Dilan 1990 diadaptasi dari novel buatan Pidi Baiq yang konon terinspirasi dari kisah nyata. Andai percintaan Dilan dan Milea sungguh benar adanya, saya yakin Pidi cuma mengambil garis besar kisah mereka. Sisanya, terlebih dialog yang ada, pastilah rekayasa. Sebab manusia mana yang mengucapkan kalimat seperti “Kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja” atau “Jangan rindu. Berat. Kau enggak akan kuat. Biar aku saja”. Terdengar menjijikkan? Mungkin. Tapi bukankah kita kerap menganggap kemesraan dan rayuan (sok) puitis itu menjijikkan sampai akhirnya kita sendiri melakukannya, menikmatinya kala terjebak asmara?

Menonton Dilan 1990 rasanya seperti menjalani sebuah hubungan cinta. Hal yang awalnya menggelikan kemudian berubah jadi manis nan memabukkan. Milea (Vanesha Prescilla) baru pindah dari Jakarta ke sebuah SMA di Bandung. Seketika banyak siswa terpikat padanya. Milea sendiri memiliki pacar di Jakarta. Beni (Brandon Salim) namanya. Tapi pikiran Milea justru dikuasai Dilan (Iqbaal Ramadhan), bocah begajulan anggota geng motor dengan julukan “Panglima Tempur” yang di awal pertemuan kerap melontarkan ramalan-ramalan. “Aku ramal kita akan bertemu di kantin”, demikian ucap Dilan. Aneh? Tunggu sampai ia menghadiahkan TTS yang sudah terisi penuh di hari ulang tahun Milea karena tidak mau membuat si gadis pusing.
Pokoknya Dilan unik. Begitu juga adiknya. Alasannya, sang bunda (Ira Wibowo) bukan ibu-ibu kaku, yang akhirnya membentuk kepribadian anak-anaknya. Saya dan para penonton lain yang telah memasuki usia dewasa bisa jadi menganggap Dilan beserta caranya mencintai aneh ketimbang unik apalagi romantis. Tapi mungkin saat SMA dulu saya akan memahami romantismenya. Mungkin saat SMA dulu saya akan menjadikan Dilan panutan supaya diidolakan gadis-gadis. Mungkin di masa saya SMA dulu, konsensus menunjukkan Dilan adalah laki-laki manis. Alhasil saya pun coba memandang Dilan 1990 sebagai sarana nostalgia. Lagipula setting 90-an miliknya memfasilitasi tujuan itu.

Memakai perspektif tersebut, filmnya lebih bisa dinikmati, mampu melemparkan saya kembali menuju manis dan pahit romantika masa remaja yang diisi kecemburuan, rayuan, kebahagiaan kala sang pujaan pertama kali bersedia membonceng motor, sampai perjuangan memacu adrenalin untuk merebut hati kekasih orang (ups!). Penyutradaraan duet Fajar Bustomi (Surat Kecil untuk Tuhan, Jagoan Instan) dan Pidi Baiq belum total dalam urusan merangkai momen asmara baik yang menggemaskan maupun romantis, tapi iringan nomor manis Dulu Kita Masih SMA selalu siap membantu menambal kekurangan terkait rasa dalam pengadeganan.
Pengarahan kedua sutradaranya memang kerap menghalangi suatu adegan memunculkan dampak yang diinginkan. Contohnya ketika komedinya sering berujung cringey. Ada peranan pemain yang kurang tepat penyampaiannya, tapi mayoritas didorong kecanggungan adegan. Seolah Fajar dan Pidi bingung harus mengemasnya bagaimana. Kebingungan serupa dialami Iqbaal. Sewaktu bermain santai, ia menyenangkan disimak, hidup dan dinamis sebagaimana ditunjukkannya lewat Ada Cinta di SMA. Kondisinya berbalik saat dipaksa melontarkan kalimat “khas Dilan”. Iqbaal kaku tatkala harus berbahasa baku. Setidaknya satu senyuman cukup mendorong penggemarnya berteriak histeris. Sementara Vanesha Prescilla berhasil membuat Milea gampang disukai penonton, walau seperti pasangannya, ia lebih menikmati saat menghadapi suasana santai.

Alur Dilan 1990 bergerak episodik layaknya memori, pula berlangsung tipis minim konflik. Kehidupan Dilan selaku “Panglima Tempur” di geng motornya, konflik keluarga, kehidupan sekolah dan lain sebagainya memang masih bisa digali demi mengakali tipisnya plot, tapi bukan masalah besar. Tujuan utama Dilan 1990 adalah mempresentasikan percintaan remaja SMA, dan bukankah pada umumnya permasalahan di jenjang usia serta pendidikan tersebut memang tidak jauh-jauh dari situ?