Tampilkan postingan dengan label Della Dartyan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Della Dartyan. Tampilkan semua postingan

REVIEW - KAMBODJA

Saya sangat ingin menyukai Kambodja. Karya terbaru sutradara Rako Prijanto ini cukup menyegarkan, mengingat romansa dewasa tergolong jarang mengisi perfilman kita. Pun keputusannya "meminjam" beberapa gaya Wong Kar-wai jadi pernak-pernik yang menarik. Sayang, setumpuk potensi miliknya lebih banyak berguguran ketimbang bermekaran. 

Anda tidak salah baca. Kambodja merupakan upaya Rako dan Anggoro Saronto (penulis naskah) untuk memindahkan karya Wong Kar-wai ke latar Indonesia. Khususnya In the Mood for Love (2000). Karakter dengan profesi jurnalis, perselingkuhan, pertukaran pasangan, pemakaian gerak lambat, rantang makanan, mahjong, semua ada. Bahkan ending-nya juga berlatar "kamboja", walau punya pemaknaan berbeda (konon terinspirasi dari lagu Menanti Di Bawah Pohon Kemboja milik Nien Lesmana). 

Jakarta 1955, Danti (Della Dartyan), seorang pustakawan, baru pindah ke kos baru bersama sang suami, Sena (Revaldo), yang jadi petinggi sebuah partai politik. Menilik latar waktunya, walau tak pernah disebut secara gamblang, mudah ditebak partai apa yang dimaksud. Pasutri lain, Bayu (Adipati Dolken) si penulis dan Lastri (Carmela van der Kruk) si biduan adalah tetangga mereka. 

Kesampingkan iklim politiknya, pengembangan alur Kamodja kurang lebih serupa dengan In the Mood for Love. Hubungan para pasutri memburuk, sampai kesepian mendekatkan Danti dan Bayu. Seperti Wong Kar-wai pula, naskah buatan Anggoro Saronto bertutur bak keping-keping memori, yang lebih disatukan oleh aliran rasa.

Masalahnya, dalam usaha untuk tetap terasa "pop", Kambodja masih mengutamakan gaya bercerita konvensional (bukan berbasis vibe), yang mana membutuhkan keteraturan narasi. Tatkala jembatan-jembatan penghubung antar momen kerap ditiadakan, hasilnya adalah drama bertempo lambat, namun dengan progresi alur buru-buru yang sering terkesan "patah". 

Naskah juga kerepotan menyeimbangkan romansa dan politik. Apakah politik sebatas latar pembangun suasana? Tidak juga, sebab elemen itu berpengaruh besar di pengembangan cerita. Tapi eksplorasinya cenderung dangkal. Di paruh akhir, Bayu berkata pada Danti bahwa ia mengalami perubahan idealisme, tak lagi fanatik memuja satu paham dan figur. Tapi seperti apa pastinya idealisme Bayu, luput dipaparkan. Penokohannya pun jadi lemah.

Danti sendiri bukan karakter yang "matang", tapi Della membuatnya bagai magnet. Kambodja ingin tampil elegan, dan Della mendefinisikan "elegan". Kala mendapati Bayu diam-diam menulis cerita berdasarkan hubungan mereka, ia marah. Tidak secara meletup-letup. Della menahannya, dan kita bisa melihat gradasi emosinya, dari susah payah menekan amarah, lalu perlahan semakin tenang. Semua tampak dari emosi dan permainan napas. 

Mengambil latar 50an, departemen artistik Kambodja cukup menarik disimak. Memang ada kalanya para pemain kelepasan, berbicara layaknya manusia modern, tapi jumlahnya masih bisa dimaafkan. Sedangkan di departemen musik, sangat kentara keinginan Rako untuk mereplikasi gaya Michael Galasso di In the Mood for Love melalui orkestra mendayu dan beberapa sampling musik klasik (Air on the G String milik Bach, Clair de lune milik Debussy). Indah di telinga, meski pemakaiannya agak berlebih, sampai terkadang menenggelamkan dialog.

Kekurangan dalam pengarahan Rako adalah, ia tak mampu mengimbangi keindahan audio dengan visual sebanding. Misal sebuah momen romantis nan intim beriringkan Clair de lune. Datar, kurang impactful. Kambodja berambisi tampil estetis, namun tanpa sense yang memadai dari para pembuatnya. 

(Klik Film)

REVIEW - ARINI BY LOVE.INC

Arini by Love.inc dibuat untuk membuat penonton makin mengenali Arini (Della Dartyan). Siapa dia sebenarnya? Bagaimana latar belakangnya? Seperti apa dinamika psikologisnya? Idealnya, pertanyaan-pertanyaan itu terjawab, jika film ini bertujuan "melengkapi" sosok Arini. Lucunya, Arini di dua film Love for Sale yang diselimuti kabut misteri, justru lebih kompleks, lebih manusiawi, juga lebih matang sebagai karakter. 

Dikisahkan, Arini melamar pekerjaan sebagai agen Love.inc demi mencari kebahagiaan. Dia datang dalam kondisi sebatang kara, tanpa satu pun keluarga. Titik. Hanya itu tambahan informasi mengenai Arini yang film ini berikan. Seiring durasi, tak sedikitpun pemahaman akan Arini bertambah. 

Kita diajak memasuki Love.inc. Di bawah pimpinan Diana (Marissa Anita), perusahaan ini tampak beroperasi dengan aturan luar biasa ketat. Agen diberi latihan intens secara rutin, bahkan segala detail kehidupan mereka turut diatur. Pun teramat canggih perusahaan ini, sampai mempunyai teknologi penghapus memori, guna memperkuat kontrol terhadap para agen. Bila ada agen dinilai bermasalah, memorinya langsung dihapus. 

Sehingga memunculkan tanda tanya, bagaimana mereka bisa begitu buruk dalam menangani masalah SDM? Masalah yang saya maksud datang dari Tiara (Kelly Tandiono), yang kerap memberontak. Tiara mampu mengakali agar memorinya tak terhapus, dan perusahaan menyadari itu. Tapi kenapa tidak ada penanganan ekstra? 

Nantinya, Tiara dan Arini bersinggungan jalan. Setiap malam, keduanya diam-diam bertemu tanpa diketahui siapa pun. Ya, Love.inc yang konon sdemikian canggih, punya kualitas pengamanan luar biasa buruk. Tiara berusaha mengingatkan Arini soal identitas dirinya. Salah satunya lewat buku berisikan gambar-gambar yang dibuat Arini sebelum ingatannya dihapus. 

Ada gambar kura-kura dan sesosok pria tanpa wajah di situ, yang tentu saja merujuk pada Richard (Gading Marten) dari film pertama. Arini menuangkan kenangannya di situ, sebagai alat bantu mengembalikan ingatannya. Kalau begitu kenapa tidak sekalian membuat catatan yang gamblang? 

Naskah buatan Adrianto Sinaga dan Widya Arifianti bak gemar mengambil jalan yang sulit untuk memancing masalah, namun saat tiba waktunya masalah itu diselesaikan, simplifikasi malah diterapkan. Misal ketika sang protagonis hendak membuka komputer milik Diana. Bagaimana bisa Arini, dari jarak sedemikian jauh, melihat password yang Diana ketik? Kalau ada manusia dengan mata setajam Arini, habis sudah ATM banyak orang dia bobol. 

Di luar kapasitas penglihatan di atas rata-rata manusia, apa lagi elemen penokohan Arini? Rupanya tak ada. Hilang sudah kompleksitas Arini, yang merenungkan makna cinta dan kemanusiaan di Love for Sale. Arini di sini hanya didefinisikan oleh upayanya mencari tahu siapa identitas pria di bukunya. Penokohannya dangkal, bahkan Della Dartyan bagai berakting dalam kebingungan di sepanjang film.

Ketimbang mengeksplorasi karakter, atau minimal mengolah daya tarik genre fiksi ilmiah yang membedakannya dari dua film pertama, Arini by Love.inc didominasi situasi menjemukan, dipenuhi obrolan yang ingin terdengar cerdas, walaupun sebenarnya kosong. Naskahnya hendak menyentil eksploitasi korporasi pada pekerja, namun kritik itu terkesan bukan didorong oleh keinginan tulus penulis untuk menyuarakan isu, melainkan bentuk pemaksaan agar alurnya terlihat berbobot. Ibarat aktivis yang berjuang didasari hasrat mendapat pengakuan alih-alih kepedulian nyata. 

Kembalinya Adrianto Sinaga di kursi penyutradaraan setelah 12 tahun berujung kekecewaan. Pacing-nya melelahkan, sementara pengarahan di beberapa adegan yang menuntut intensitas tinggi terasa canggung. Tawa yang tak disengaja lebih sering muncul daripada ketegangan. Diharapkan menjadi kapal yang membawa Love for Sale berlayar lebih jauh, Arini by Love.inc justru karam di tengah jalan.

(Bioskop Online)

REVIEW - AKHIRAT: A LOVE STORY

Akhirat: A Love Story berangkat dari pertanyaan, "Apa jadinya kalau sepasang kekasih beda agama bertemu di akhirat?". Premis tersebut luar biasa menarik, namun Jason Iskandar, selaku sutradara sekaligus penulis naskah yang telah lebih dari 10 tahun malang-melintang di skena film pendek, kesulitan mengembangkannya agar sesuai dengan medium film panjang dalam debutnya ini.

Protagonis kita adalah Timur (Adipati Dolken) dan Mentari (Della Dartyan), yang berpacaran secara diam-diam karena perbedaan agama. Sewaktu hubungan itu diketahui orang tua keduanya, terjadilah penolakan. Saya mengira bakal dibuat kesal, tapi ternyata Jason mampu mengolah konflik itu dengan bijak. Baik Rahayu (Ayu Dyah Pasha), ibu Mentari, maupun Selma (Nungki Kusumastuti), ibu Timur, tidak melempar ujaran kebencian. Didukung pula oleh akting kuat dua aktris seniornya, nasihat yang mereka bagi terasa betul didasari cinta serta kepedulian teruntuk sang buah hati.

Lalu tibalah tragedi. Timur dan Mentari mengalami kecelakaan lalu lintas. Mereka terbangun di sebuah hutan yang ternyata merupakan akhirat, sementara tubuh keduanya terbaring di rumah sakit dalam kondisi koma. Masalahnya, akibat perbedaan agama, Timur dan Mentari harus melewati gerbang akhirat yang berbeda pula. Menolak dipisahkan, mereka memilih kabur, kembali ke dunia manusia, guna mencari jalan keluar agar bisa bersama selamanya.

Selama menonton Akhirat: A Love Story, satu hal yang selalu muncul di benak saya: Sungguh kacau kerja para malaikat (atau entitas apa pun itu yang diperankan Tubagus Ali dan Yayu Unru). Jika bisa semudah itu kabur dari akhirat, pasti banyak orang melakukannya. Muncul juga pertanyaan, "Mengapa ada arwah yang sadar akan kondisi mereka, sementara arwah lainnya seperti terhipnotis?". 

Terdapat lubang besar terkait "aturan". Tanpanya, timbul inkonsistensi dan kejanggalan, yang menyulitkan emosi tersalurkan. Dampak paling fatal terkait lubang tadi, terletak pada konklusi. Kalau "semua karena cinta" dijadikan jawaban, itu bukan wujud romantisme, melainkan lazy writing. 

Selama pelarian, Timur dan Mentari bertemu arwah-arwah lain. Wang (Verdi Solaiman) yang enggan mengikuti langkah sang istri ke akhirat, Edith (Windy Apsari) yang selalu berkeliaran sendiri, hingga Herman (Ravil Prasetya) dan Diah (Vonny Anggraini) yang mengikat janji setelah mati. Seiring pertemuan-pertemuan tersebut, kisahnya beralih ke soal proses merelakan, sementara perihal perbedaan agama pun terpinggirkan. Entah Jason kebingungan atau memilih main aman, tapi peralihan tersebut mengaburkan pesan filmnya. 

Adipati dan Della menjalin chemistry manis di tatanan romansa, berbekal tatapan meyakinkan sebagai dua sejoli kasmaran, namun tidak demikian kala menghadapi komedi dan eksposisi. Bukan kesalahan cast semata. Penulisan dan pengarahan Jason di elemen komedi juga lemah. Alih-alih dibuat tertawa, saya lebih banyak menutup muka akibat secondhand embarassment. 

Terkait eksposisi juga sebelas-dua belas. Karakternya tidak terdengar seperti sedang berbicara layaknya manusia sungguhan, melainkan robot yang bertugas mengajari penonton. Robot yang buruk, sebab mereka sendiri seolah kurang mengerti tengah membicarakan apa. Saya juga tidak tahu film ini ingin membicarakan apa.


(JAFF 2021)

REVIEW - TARIAN LENGGER MAUT

Pernahkah kalian merasa kesal, karena saat ulang tahun, pacar/gebetan terus menebar sinyal-sinyal bakal menghadiahkan kejutan luar biasa, namun ujungnya tidak terjadi apa-apa? Begitulah rasanya menonton Tarian Lengger Maut, yang sepanjang durasi menyiratkan "payoff besar", tapi akhirnya tak memberi apa pun. 

Bukankah kalau demikian kesalahan terletak pada ekspektasi penonton, akibat mengharapkan sesuatu yang memang tidak berniat film itu beri? Kasusnya berbeda. Tarian Lengger Maut jelas secara sengaja menggiring ekspektasi penonton ke satu arah, lalu mengkhianatinya. Bahkan bagaimana pun anda memasang ekspektasi, filmnya tetap mengecewakan, sebab tak menawarkan payoff sedikitpun. Padahal tersimpan segunung potensi di sini. Tarian Lengger Maut berpotensi jadi salah satu horor lokal terbaik sekaligus menyegarkan dalam beberapa tahun terakhir, sebelum menghancurkannya sendiri.

Di awal, kita melihat dr. Jati (Refal Hady dengan wig yang kadang meyakinkan, tapi lebih sering menggelikan), yang baru ditugaskan di Desa Pagar Alas, tengah mengoperasi pasien. Bukan operasi biasa, karena dia adalah seorang dokter pembunuh, yang menculik warga desa guna diambil jantungnya hidup-hidup. Sementara itu, kembang desa bernama Sukma (Della Dartyan) sedang dalam proses menjadi penari lengger. Keduanya kerap berpapasan, jantung dr. Jati berdegup kencang, sementara Sukma menatap penuh tanda tanya. Ada apa?

Ya, "Ada apa di antara mereka?" merupakan pertanyaan yang menyelimuti, dipakai oleh naskah buatan Natalia Oetama sebagai pondasi misteri terbesar. Dar situ bibit-bibit potensi mulai tumbuh. Tarian Lengger Maut dapat menjadi banyak hal, sebutlah eksplorasi mistisisme Indonesia, studi psikologis mengenai trauma dan psikopatologi, atau kalau mau mengambil pendekatan lebih ringan, membenturkan elemen slasher dengan horor supernatural pun bisa dilakukan. 

Tidak satu pun (berhasil) dilakukan. 

Lupakan sejenak kesan menipu yang muncul dari judulnya (benar ada "tarian lengger", dan "maut" banyak menimpa karakternya, tapi menyatukannya, sama saja seperti humor "manusia kepala rusa" milik Warkop DKI). Kegagalan Tarian Lengger Maut menyuguhkan kengerian sebagai horor, maupun ketegangan sebagai thriller, jauh lebih meresahkan. 

Durasi yang cuma sekitar 71 menit bukan melahirkan tontonan padat dengan dinamika terjaga, malah mengesankan film ini diproduksi menggunakan naskah draft pertama, yang bahkan belum selesai ditulis. Segelintir flashback ala kadarnya mengenai masa lalu dr. Jati tak memperkaya karakternya, alhasil menyulitkan penonton memahami motivasinya, apalagi bersimpati. Penampilan Refal Hady yang lebih berfokus pada merendahkan suaranya pun tidak membantu, walau memang mustahil bagi aktor mana pun menghidupkan naskah sedangkal ini. 

Bagaimana soal misteri di balik hubungan dua protagonis? Mungkin naskahnya hendak menyampaikan perihal kompleksitas hati sosok pembunuh berdarah dingin, khususnya bagaimana ia menangani perasaan jatuh cinta. Tapi akibat naskah dangkal, ketimbang thought-provoking, kesan konyol justru lebih dominan. Apa pula guna tease mengenai mistis tari lengger, lewat beberapa shot misterius atau obrolan singkat tokoh-tokohnya? Tarian Della Dartyan cukup menghipnotis, yang merupakan salah satu kelebihan filmnya selain beberapa elemen artistik (pemakaian warna merah di adegan tari jelang klimaks punya hawa mistis yang kuat), walau kembali lagi, naskahnya menyia-nyiakan kapasitas sang aktirs.

Teror macam apa yang coba dibangun Yongki Ongestu melalui debutnya di kursi sutradara ini? Sebagai catatan, mustahil membangun horor/thriller psikologis memakai naskah lemah. Deretan pembedahan yang dr. Jati lakukan juga tampil jinak (demi menghindari sensor, sehingga bisa dimaklumi), jadi gore bukanlah pilihan. 

Sebenarnya terdapat peluang membangun teror berdasarkan histeria massa. Sesekali kita mengunjungi warung kopi, mendengarkan keresahan warga akibat meningkatnya kasus orang hilang. Sayangnya momen ini sebatas numpang lewat. Belum lagi timbul pertanyaan. Jika sudah begitu banyak warga hilang, kenapa para polisi tidak mengusutnya? Menulis naskah yang solid memang sulit, kawan. 

LOVE FOR SALE 2 (2019)

Berlandaskan premis unik, akting ciamik, dan departemen artistik menarik, tahun lalu Love For Sale mampu mencuri perhatian, walau berbeda dengan pandangan umum, saya beranggapan naskah buatan sutradara Andibachtiar Yusuf (Hari Ini Pasti Menang, Bridezilla) dan M. Irfan Ramly (Cahaya dari Timur: Beta Maluku, Surat dari Praha) kurang matang dalam menangani konsep, khususnya di fase konklusi. Love For Sale 2 berhasil memperbaiki itu.

Idenya masih serupa, yakni mengenai “kunjungan” Arini (Della Dartyan) dari aplikasi kontak jodoh Love Inc., ke kehidupan protagonis. Bedanya, tidak ada usaha setengah-setengah menjelaskan soal Love Inc. sebagaimana film pertama. Lubang alur diminimalisir, dan sewaktu konflik menemukan resolusi, tidak ada distraksi. Konsentrasi sepenuhnya tercurah pada permainan rasa dalam drama keluarga yang kini jadi fokus utama.

Dibuka oleh pesta pernikahan beradat Minang yang dibungkus menggunakan satu take panjang, kita segera tahu masalah macam apa yang segera menjelang. Ican (Adipati Dolken) terus didorong oleh sang ibu, Rosmaida (Ratna Riantiarno), agar segera menikah. Berulang kali Rosmaida berusaha menjodohkan Ican, tapi berulang kali pula puteranya itu menolak. Berbanding terbalik dengan Richard (Gading Marten) di film pertama, Ican doyan berganti-ganti pasangan, namun enggan melakoni hubungan serius.

Tekanan dari orang tua agar segera menuntaskan masa lajang tentu terdengar familiar sebab banyak terjadi di sekitar kita, bahkan mungkin menimpa kita sendiri. Love For Sale 2 merupakan satir menggelitik atas problematika tersebut. Tentang urgensi menikah. Kunci sindirannya terletak pada kontradiksi dalam kata-kata maupun perilaku karakter. Rosmaida terus meminta Ican menikah, tapi saat melihat puteranya itu berbicara dengan wanita, ia buru-buru berujar “Jangan deket-deket. Nanti fitnah”. Timbul pertanyaan, “Apakah Rosmaida (dan para orang tua lain) ingin anaknya menikah, atau MENIKAHI PILIHAN MEREKA?”.

Cara pandang masyarakat soal pernikahan juga tidak ketinggalan disentil. Misalnya saat Ndoy (Ariyo Wahab), kakak Ican, menyindir seorang karakter yang memasang wajah kucel seorang karakter akibat ditinggal pergi istrinya, lalu sejurus kemudian menyarankan Ican segera menikah supaya hidupnya tentram. Lagi-lagi komedi satir berbasis kontradiksi.

Meski melempar sindiran, Love For Sale 2 menolak tampil berat sebelah. Rosmaida sekilas menyebalkan, layaknya banyak sosok ibu, menyuruh Ican segera menikah, selalu cerewet menasihati agar anak-anaknya rajin salat dan berbagai petuah lain. Rosmaida juga bukan mertua yang menyenangkan bagi istri Ndoy, Maya (Putri Ayudya), yang walau tengah hamil tua, tetap mendapat perlakuan tidak menyenangkan. Tapi layaknya seorang ibu pula, selalu ada cinta, dan film ini tidak lupa menekankan cinta itu. Karena mungkin, Rosmaida hanya butuh ditemani dan dimengerti. Di situlah Arini berperan.

Demi membahagiakan ibunya, Ican menggunakan layanan Love Inc., memesan calon istri palsu sesuai preferensi sang ibu. Jika film pertama mengetengahkan peran Arini menumbuhkan semangat hidup Richard, di sekuelnya, giliran harmoni keluarga Ican yang ia pupuk. Tertinggal kekecewaan di fase ini, karena proses “perbaikan” yang Arini lakukan cuma nampak di permukaan, biarpun gagasan “Arini membawa kebahagiaan sebagai alat menyembuhkan” telah tersampaikan.

Satu lagi keunggulan sekuel ini dibanding pendahulunya adalah penokohan Arini. Menampilkan Della Dartyan dengan senyum yang bisa membuat siapa saja seketika jatuh hati, Arini masih gadis dengan sensitivitas tinggi, sehingga tahu bagaimana memberi respon yang diinginkan lawan interaksinya. Kali ini ruang personal Arini mulai dikunjungi. Sosoknya makin dimanusiakan. Sebuah obrolan Arini dengan Rosmaida di suatu subuh—yang juga jadi ajang pembuktian kepiawaian Della mengontrol luapan emosi—menyiratkan bahwa kunjungan kali ini terasa lebih personal bagi Arini. Dugaan jika Love Inc. bukan sekadar tempat Arini bekerja turut menguat.

Andibachtiar Yusuf mengulangi pencapaiannya di departemen penyutradaraan lewat kepekaan menangkap emosi suatu momen, dan menjadikan filmnya tidak semata pameran gambar cantik. Tidak kalah mengagumkan adalah perhatian Andibachtiar terhadap detail peristiwa yang bertempat di belakang fokus kamera. Contohnya di adegan pembuka. Daripada hanya memakai figuran, ia menempatkan Buncun (Bastian Steel) si putera bungsu bersama istrinya, Endah (Taskya Namya). Keduanya cuma duduk menikmati makanan , tapi itu saja sudah cukup menghidupkan sebuah peristiwa. Atau sewaktu Ican mengobrol dengan Ibrahim (Yayu Unru) sementara di belakang, orang-orang asyik bermain domino, dengan gestur serta suara yang tidak terlalu besar sampai mengganggu fokus, namun tidak terlalu kecil agar penonton bisa menyadari eksistensi mereka.

POCONG THE ORIGIN (2019)

Pocong the Origin, selaku (meminjam istilah Monty Tiwa) “reinkarnasi” Pocong (2006) yang dilarang tayang oleh LSF karena dianggap membangkitkan luka lama  terkait tragedi 1998 (konon film ini dibuat berdasarkan naskah sama), berusaha mencampur elemen horor dengan komedi, mengingatkan akan judul-judul legendaris Suzzanna. Tapi ada satu masalah besar: filmnya gagal tampil menyeramkan.

Adegan pembukanya menjanjikan, kala pembunuh berantai bernama Ananta (Surya Saputra) sedang menanti waktu eksekusi sambil mendengarkan lagu Di Bawah Sinar Bulan Purnama milik Sundari Soekotjo. Saya menyukai keputusan film ini memakai nomor-nomor keroncong, yang di balik keindahannya sebagai karya seni, menyimpan mistisisme yang dapat menciptakan kengerian bila digunakan secara tepat.

Selepas dieksekusi, jenazah Ananta mesti dimakamkan di kampung halamannya sebelum lewat 24 jam. Jika tidak, ilmu banaspati yang ia miliki akan terus bangkit. Karenanya, Sasthi (Nadya Arina), puteri tunggal Ananta yang hidup menyendiri di bawah tekanan sosial akibat status sang ayah, ditemani Yama (Samuel Rizal) si sipir penjara, mesti mengantar jenazah itu, dalam sebuah perjalanan penuh gangguan gaib.

Jalur menarik ditempuh Pocong the Origin, sebagai horor lokal langka (kalau bukan satu-satunya) yang meminjam unsur film road trip. Sayang, naskah besutan Monty bersama Eric Tiwa (Laskar Pemimpi, Barakati) tak cukup kreatif dalam menangani elemen tersebut, dan berujung melahirkan repetisi. Gangguan terjadi tiap Yama dan Sasthi menghentikan perjalanan, yang tidak pernah jauh dari dua hal, yakni antara Yama ingin kencing atau mobil yang rusak. Pun respon keduanya hampir selalu sama: membuka telepon genggam, lalu mengeluhkan hilangnya sinyal.

Seperti telah saya sebut, Pocong the Origin berniat menciptakan lagi sensasi horor-horor Suzzanna. Filmnya ingin memancing keriuhan penonton, di mana kita diharapkan berteriak histeris sembari tertawa lepas. Tawa bisa ditemukan berkat humor efektif berupa situasi jenaka saat tokoh-tokohnya dibuat tunggang langgang oleh penampakan hantu, namun teriakan ketakutan urung hadir.

Menolak mengeksploitasi jump scare pantas diapresiasi, tapi pilihan itu tak otomatis membuat terornya lebih berdampak. Padahal Monty adalah orang di balik adegan penampakan pocong paling mengerikan sepanjang masa di Keramat (2009). Bukan cuma itu, kali ini Monty sempat coba melakukan “reka ulang” terhadap adegan “keranda mayat” dari film tersebut, tapi gagal memproduksi intensitas serupa. Terlebih, bagi sebagian penonton, riasan bagi para hantu di momen tersebut mungkin bakal tampak menggelikan.

Sedangkan perihal membangun atmosfer melalui penerangan minimalis justru kerap menjadi bumerang. Tidak jarang adegan tampil terlampau gelap, meski harus diakui, gambar-gambar memikat masih bisa sesekali ditemukan, berkat kelihaian Anggi Frisca (Sekala Niskala, Negeri Dongeng, Night Bus) selaku penata kamera bermain cahaya.

Jajaran pemain berusaha maksimal, khususnya Samuel dan Nadya. Semenjak Target tahun lalu, Samuel mengambil jalur tepat bagi babak baru karir layar lebarnya, dengan menjauh dari peran “cowok keren”, dan berani memainkan sosok konyol. Di sini ia tampil menghibur, meski saya bingung, bagaimana bisa momen saat ia salah mengucap “mas” menjadi “mbak”, lolos dari penyuntingan. Sementara Nadya cukup solid memerankan gadis yang terjebak di konflik batin. Biarpun amat menyayangi sang ayah, ia tak bisa menyangkal  jika Ananta adalah pembunuh berantai. Sebuah dilema menarik yang tidak sanggup dipresentasikan secara memuaskan oleh naskahnya.

“Lawan” Nadya adalah Jayanthi (Della Dartyan), jurnalis yang diam-diam mengikuti Yama dan Sasthi demi memperoleh berita, sambil mengusung alasan personal karena sahabatnya merupakan salah satu korban Ananta. Ketimbang drama thought-provoking berupa gesekan argumen dua pihak berlawanan, kita hanya disuguhi debat kusir tanpa akhir maupun jiwa, tatkala hanya volume suara yang meninggi, bukan kadar emosi.

Sebagaimana nasib banyak horor belakangan baik dalam atau luar negeri, Pocong the Origin kesulitan menciptakan babak ketiga yang mumpuni. Setelah lama menanti, konfrontasi final ketika banaspati mencapai puncak kekuatan berkat keberadaan blood moon, malah berujung pertarungan canggung nan antiklimaks, yang gagal menangkap reputasi pocong sebagai salah satu hantu Indonesia paling mengerikan.

LOVE FOR SALE (2018)


Kalau bukan karena gaya tutur Andibachtiar Yusuf (Mata Dewa, Hari Ini Pasti Menang, Romeo Juliet) yang kurang memanfaatkan komedi visual quirky, Love for Sale bakal tampak seperti film yang mengincar partisipasi di Sundance, dan dibuat oleh sineas yang berbaur di komunitas drama-komedi indie Amerika bersama Noah Baumbach dan kawan-kawan. Filmnya mengambil pendekatan segar cenderung aneh terhadap cerita lama soal cinta dan kesendirian. Betapa tidak? Richard (Gading Marten) si karakter utama punya kura-kura besar bernama Kelun yang menemaninya melakukan dua hobinya di rumah: menonton sepak bola dan galer (garuk peler).

Balutan humor, khususnya yang berbentuk komedi verbal, tersaji lucu dalam kisah mengenai Richard, pemilik usaha percetakan warisan orang tua angkatnya sekaligus seorang jomblo akut. Dia kesepian, dan konon rasa sepi memunculkan ketidakramahan. Richard selalu bersikap galak kepada para karyawan, menerapkan disiplin waktu luar biasa ketat. Sementara di rumah alias ruang paling personal, Richard bagai menelantarkan diri. Berkeliaran dengan pakaian dalam sambil menggaruk-garuk pantat (dan tentunya peler). Richard mengaku sudah punya pacar pada sahabat-sahabatnya, yang pastinya tak pernah ia ajak, sebab itu kebohongan semata.
Andibachtiar masih menyelipkan kegemarannya akan sepak bola. Nobar sepak bola jadi momen berkumpul rutin Richard bersama para sahabat, pun beberapa humor “lokal” serta referensi tentang sepak bola sering mengisi, dari ketampanan David Ginola sampai buruknya prestasi Newcastle. Cukup menggelitik bagi yang paham, meski akan lebih lucu jika olok-oloknya ditujukan untuk Arsenal (sorry Gooners). Berawal dari nobar pula konflik utama bermula. Sahabat-sahabat Richard bertaruh bahwa ia takkan membawa pasangan ketika menghadiri pernikahan Rudy (Rizky Mocil). Di sini aplikasi penyedia pasangan Love, Inc. memberinya jalan keluar.

Setelah melewati paruh pertama selaku pengenalan tokoh dan masalah yang bergulir terlalu lama, Richard akhirnya bertemu Arini (Della Dartyan), yang akan menemaninya, tinggal bersamanya selama 45 hari sebagai kekasih. Mudah ditebak, Richard akhirnya jatuh cinta sungguhan. Bisa dimaklumi, karena penonton pun bakal mudah mencintai Arini berkat kemampuan sang aktris meluluhkan hati lewat komunikasi, baik verbal maupun non-verbal (senyum, tatapan). Seperti Richard, penonton dibuat jatuh cinta pada Arini, yang berarti usaha sutradara menyalurkan emosi berhasil. Sedangkan Gading menghadirkan performa terbaik sepanjang karirnya selaku pembuktian bahwa ia mampu melakoni peran dramatik yang (lebih) serius.
Karakter Richard dibuatnya tampak menyedihkan dengan usaha putus asa mencari pasangan (sampai mengajak salah satu karyawan), kebiasan garuk-garuk, juga dibantu pilihan kostum yang menegaskan keengganannya mengurus diri. Gading sempurna memadukan nuansa bittersweet, termasuk di sebuah momen “perpisahan” jelang akhir. Serupa Della, Gading mengandalkan senyum, hanya saja jenis senyum berbeda yang dapat membuat penonton ingin menepuk pundaknya. Chemistry solid Gading-Della sukses membangun romantisme disisipi adegan bercinta yang cukup memberi filmnya rating 21+. di samping konten cerita dewasa seputar persewaan perempuan yang mirip praktek prostitusi. Sampai tulisan ini dibuat, perasaan manis-pahit hubungan keduanya masih terngiang jelas di benak saya.

Terkait aplikasi Love, Inc. sendiri, filmnya meninggalkan kita pada ambiguitas yang memancing pertanyaan, bukan cuma soal plot (modus operandi Love, Inc., yang apa pun tujuannya, bakal lebih banyak menimbulkan masalah ketimbang keuntungan finansial bagi mereka), juga destinasi yang ingin filmnya capai lewat unsur tersebut. Sindiran mengenai percintaan di era modern? Satir untuk kepalsuan sekaligus sikap tak humanis dalam industri seni dan hiburan? Atau semata-mata demi elemen kejutan?  Saya percaya semua itu tersimpan di pikiran Andibachtiar. Sayang, usahanya menyalurkan isi pikiran tak semulus penyaluran emosi. Setidaknya Love for Sale memiliki pembeda guna menangani familiaritas serta repetesi tema percintaan di film kita. Wahai jomblo, tonton Love for Sale, lalu pergilah keluar, saksikan seisi dunia daripada terkurung dalam kemurungan sendiri.