Tampilkan postingan dengan label Marissa Anita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Marissa Anita. Tampilkan semua postingan

REVIEW - ARINI BY LOVE.INC

Arini by Love.inc dibuat untuk membuat penonton makin mengenali Arini (Della Dartyan). Siapa dia sebenarnya? Bagaimana latar belakangnya? Seperti apa dinamika psikologisnya? Idealnya, pertanyaan-pertanyaan itu terjawab, jika film ini bertujuan "melengkapi" sosok Arini. Lucunya, Arini di dua film Love for Sale yang diselimuti kabut misteri, justru lebih kompleks, lebih manusiawi, juga lebih matang sebagai karakter. 

Dikisahkan, Arini melamar pekerjaan sebagai agen Love.inc demi mencari kebahagiaan. Dia datang dalam kondisi sebatang kara, tanpa satu pun keluarga. Titik. Hanya itu tambahan informasi mengenai Arini yang film ini berikan. Seiring durasi, tak sedikitpun pemahaman akan Arini bertambah. 

Kita diajak memasuki Love.inc. Di bawah pimpinan Diana (Marissa Anita), perusahaan ini tampak beroperasi dengan aturan luar biasa ketat. Agen diberi latihan intens secara rutin, bahkan segala detail kehidupan mereka turut diatur. Pun teramat canggih perusahaan ini, sampai mempunyai teknologi penghapus memori, guna memperkuat kontrol terhadap para agen. Bila ada agen dinilai bermasalah, memorinya langsung dihapus. 

Sehingga memunculkan tanda tanya, bagaimana mereka bisa begitu buruk dalam menangani masalah SDM? Masalah yang saya maksud datang dari Tiara (Kelly Tandiono), yang kerap memberontak. Tiara mampu mengakali agar memorinya tak terhapus, dan perusahaan menyadari itu. Tapi kenapa tidak ada penanganan ekstra? 

Nantinya, Tiara dan Arini bersinggungan jalan. Setiap malam, keduanya diam-diam bertemu tanpa diketahui siapa pun. Ya, Love.inc yang konon sdemikian canggih, punya kualitas pengamanan luar biasa buruk. Tiara berusaha mengingatkan Arini soal identitas dirinya. Salah satunya lewat buku berisikan gambar-gambar yang dibuat Arini sebelum ingatannya dihapus. 

Ada gambar kura-kura dan sesosok pria tanpa wajah di situ, yang tentu saja merujuk pada Richard (Gading Marten) dari film pertama. Arini menuangkan kenangannya di situ, sebagai alat bantu mengembalikan ingatannya. Kalau begitu kenapa tidak sekalian membuat catatan yang gamblang? 

Naskah buatan Adrianto Sinaga dan Widya Arifianti bak gemar mengambil jalan yang sulit untuk memancing masalah, namun saat tiba waktunya masalah itu diselesaikan, simplifikasi malah diterapkan. Misal ketika sang protagonis hendak membuka komputer milik Diana. Bagaimana bisa Arini, dari jarak sedemikian jauh, melihat password yang Diana ketik? Kalau ada manusia dengan mata setajam Arini, habis sudah ATM banyak orang dia bobol. 

Di luar kapasitas penglihatan di atas rata-rata manusia, apa lagi elemen penokohan Arini? Rupanya tak ada. Hilang sudah kompleksitas Arini, yang merenungkan makna cinta dan kemanusiaan di Love for Sale. Arini di sini hanya didefinisikan oleh upayanya mencari tahu siapa identitas pria di bukunya. Penokohannya dangkal, bahkan Della Dartyan bagai berakting dalam kebingungan di sepanjang film.

Ketimbang mengeksplorasi karakter, atau minimal mengolah daya tarik genre fiksi ilmiah yang membedakannya dari dua film pertama, Arini by Love.inc didominasi situasi menjemukan, dipenuhi obrolan yang ingin terdengar cerdas, walaupun sebenarnya kosong. Naskahnya hendak menyentil eksploitasi korporasi pada pekerja, namun kritik itu terkesan bukan didorong oleh keinginan tulus penulis untuk menyuarakan isu, melainkan bentuk pemaksaan agar alurnya terlihat berbobot. Ibarat aktivis yang berjuang didasari hasrat mendapat pengakuan alih-alih kepedulian nyata. 

Kembalinya Adrianto Sinaga di kursi penyutradaraan setelah 12 tahun berujung kekecewaan. Pacing-nya melelahkan, sementara pengarahan di beberapa adegan yang menuntut intensitas tinggi terasa canggung. Tawa yang tak disengaja lebih sering muncul daripada ketegangan. Diharapkan menjadi kapal yang membawa Love for Sale berlayar lebih jauh, Arini by Love.inc justru karam di tengah jalan.

(Bioskop Online)

REVIEW - YUNI

Protagonis film ini terobsesi pada warna ungu. Pakaian dalamnya ungu, alat tulis miliknya ungu, motornya ungu, dan tentu, minuman favoritnya adalah es anggur. Sangat terobsesi, ia kerap mencuri barang berwarna ungu milik temannya. "Penyakit ungu", begitu sebut gurunya. 

Ungu sering diartikan sebagai "warna janda", di mana janda, dalam kultur patriarki termasuk di Indonesia, sering dianggap rendah. Sudah tidak perawan. Barang bekas. Murahan. Tapi bila mengacu pada psikologi warna, ungu justru menyimbolkan keberanian, kekuatan, kebijaksanaan, pula identik dengan derajat tinggi. 

Begitulah identitas Yuni, selaku film Indonesia pertama yang menang di Toronto International Film Festival untuk kategori Platform Prize (kedua kalinya Kamila Andini masuk kategori itu setelah Sekala Niskala empat tahun lalu, menjadikannya sutradara pertama dengan pencapaian tersebut). Sebuah perlawanan terhadap stigma. 

Berlatar Banten (dialognya memakai Bahasa Jawa-Serang), kisahnya mengetengahkan kehidupan Yuni (Arawinda Kirana), siswi di SMA yang kental mengusung nilai Islam. Saking kentalnya sampai rohis memegang kendali penuh atas berbagai kegiatan. Musik diharamkan karena alasan "suara itu aurat", pun ada rencana memberlakukan tes keperawanan bagi murid perempuan. 

Yuni termasuk siswi berprestasi. Semua nilainya bagus, kecuali di mata pelajaran Bahasa Indonesia, yang diajar oleh Pak Damar (Dimas Aditya), guru sekaligus penulis puisi yang dikagumi Yuni. Bermodalkan prestasi itu, tentu ia ingin lanjut berkuliah. Apalagi setelah Bu Lies (Marissa Anita dengan kefasihan berbahasa kembali membuktikan bahwa ia seperti bunglon) membagi informasi perihal beasiswa. Tapi ada satu syarat yang mengganggu pikirannya. Penerima beasiswa harus belum menikah.

She's single, but the odds are against her. Pernikahan dini marak terjadi di tempat tinggalnya. Menengok teman yang baru melahirkan sudah bukan hal baru. Apalagi ditambah perspektif orang tua, yang menganggap anak perempuan sebaiknya cepat menikah ketimbang meneruskan pendidikan. 

Total tiga orang melamar Yuni. Salah satunya Iman (Muhammad Khan), yang datang bersama keluarga kala Yuni tengah bersekolah. Ketika si gadis pulang, mereka pun pamit, seolah suara Yuni tidaklah penting untuk dipertimbangkan. Di sisi lain ada Yoga (Kevin Ardilova), murid kelas satu yang menyukai si kakak kelas, tapi terlalu malu untuk mengutarakannya. Yoga cenderung pemalu, juga polos. Ketika Yuni meminta ditemani ke kelab malam, ia meminta Yoga mengenakan baju yang "terlihat dewasa". Malamnya, Yoga datang memakai batik bak hendak datang kondangan.

Naskahnya, yang ditangani oleh Kamila Andini dan Prima Rusdi (Ada Apa Dengan Cinta?, Banyu Biru, Garasi), tampil sederhana memotret realita. Tapi kesederhanaan itu begitu kaya, berisikan ragam permasalahan sosial yang menimpa perempuan, dengan penuturan luar biasa rapi. Masing-masing isu tersaji natural, mencuat sebagai bagian kehidupan, tanpa ada kesan memaksa mencekoki cerita dengan pesan sebanyak mungkin. 

Salah satu pokok bahasannya adalah tentang ketiadaan ruang aman bagi perempuan. Selain dilamar, beberapa teman Yuni pun terpaksa menikah karena hal lain, seperti hamil akibat diperkosa, atau menghindari fitnah pasca dipergoki warga berpacaran di hutan meski tak sedang berhubungan seks. Begitu menikah pun, perempuan dituntut memberi sang suami buah hati. Apabila gagal, walau disebabkan kemandulan suami atau keguguran karena usia yang terlalu muda, merekalah yang disalahkan. 

Ke mana pun Yuni pergi, kebebasannya dikebiri. Suatu ketika Yuni datang ke kolam renang bersama teman-temannya. Mereka cuma berenang, pun tidak membuka baju ketika membilas tubuh karena ruangannya terbuka. Beberapa waktu berselang, si pemilik kolam renang, seorang pria tua beristri, mendatangi rumah Yuni untuk melamarnya. Tidak ada ruang bagi perempuan untuk merasa aman dari tatapan laki-laki.

Yuni tidak ketinggalan mengeksplorasi perihal seksualitas, sebutlah rasa enggan perempuan untuk mengakui dirinya tidak orgasme demi menjaga harga diri pasangan, hingga pandangan bahwa perempuan bermasturbasi merupakan hal aneh. Kita bisa lihat perbedaan antara sutradara laki-laki dan perempuan (terutama di Indonesia), ketika mengolah tema tersebut. Kamila menekankan simpati yang didasari keresahan. Bahkan sewaktu menampilkan adegan seks, tidak ada "intensi nakal". Sebab seks adalah bagian proses karakternya, bukan pemenuhan nafsu pribadi si pembuat film. 

Naskahnya terinspirasi dari puisi Hujan Bulan Juni karya mendiang Sapardi Djoko Darmono. "Terinspirasi" lebih pas daripada "adaptasi", mengingat Kamila dan Prima bukan memvisualisasikan puisi (kecuali dalam momen penutupnya yang indah dan powerful), melainkan menyerap esensinya, guna menuturkan kisah mengenai kekuatan dalam ketabahan karakternya.

Biarpun terinspirasi puisi, kalimat-kalimat yang keluar dari mulut tokohnya jauh dari kesan puitis. Sebaliknya, amat membumi, khas obrolan sehari-hari, pula kerap menggelitik dan memorable. Begitu filmnya dirilis luas nanti, saya yakin celotehan "Ora usah pacar-pacaran, mending mangan cilok" bakal ramai dibicarakan, atau malah menjadi meme.

Begitu juga seruan, "Freedom abisss!!!" yang dilontarkan Suci (Asmara Abigail), si pemilik salon yang sempat membukakan pintu eksplorasi hidup bagi Yuni. Walau dari luar tampak seperti individu "happy-go-lucky", Suci menyimpan trauma, yang juga hadir dari penindasan pada perempuan. Asmara tampil berenergi, hampir selalu tersenyum, tapi kita tahu, senyum itu dipakainya guna mengubur luka.

Penampilan terbaik tentu dipamerkan Arawinda. Sosok Yuni dibuatnya bagai hujan, yang tabah merahasiakan kerinduan terhadap bunga-bunga bernama "mimpi" dan "kebebasan". Setiap kata mempunyai rasa, setiap tatapan menyimpan makna, setiap geraknya bernyawa. 


(Vancouver International Film Festival 2021)

REVIEW - ALI & RATU RATU QUEENS

Berbeda dengan mayoritas film Indonesia berlatar luar negeri, Ali & Ratu Ratu Queens tidak dibuat memakai kacamata turis. Berlatar New York, karakternya kerap berkeliling kota (yang tampak cantik berkat tangkapan kamera Batara Goempar selaku sinematografer), bukan sebatas jalan-jalan, namun merekam memori. Di tengah dunia yang asing, rekaman itu dipakai si protagonis untuk mengenal orang-orang di sekitarnya, guna menghapus keterasingan dan kesendiriannya. 

Protagonis kita bernama Ali (Iqbaal Ramadhan), yang menyambangi New York seorang diri, demi mencari sang ibu, Mia (Marissa Anita), yang pergi ke sana sewaktu Ali kecil, guna menggapai mimpi sebagai penyanyi. Ali nekat, biarpun mendapat tentangan dari keluarga besar, termasuk budenya (Cut Mini). Dia ingin tahu, mengapa Mia tidak pernah pulang ke Indonesia. 

Satu hal yang langsung mencur perhatian saya adalah tata suara. Ambience, semisal suara burung, terasa nyata, seolah kita berada langsung di lokasi. Pun baik musik (berisi deretan lagu catchy seperti Khayalan hingga Location Unknown) maupun dialog tampil jernih, walau saat keduanya muncul bersamaan, kerap terdengar tumpang tindih. 

Sesampainya di New York, Ali mendapati sang ibu tidak lagi menetap di alamat lamanya yang terletak di Queens. Tapi ia beruntung, sekarang di sana tinggal para ratu. Empat imigran wanita asal Indonesia dengan kepribadian penuh warna, yang siap membantu pencariannya, termasuk mengizinkan Ali tinggal sementara waktu bersama mereka. Mereka adalah Party (Nirina Zubir), Ajeng (Tika Panggabean), Biyah (Asri Welas), dan Chinta (Happy Salma). Ali turut bertemu Eva (Aurora Ribero), puteri Ajeng, yang bisa ditebak, bakal menjadi love interest-nya.

Ali, yang membawa Iqbaal menampilkan akting natural, memang tokoh utama. Sedangkan Marissa Anita kembali membuktikan diri sebagai salah satu aktris terbaik negeri ini, yang piawai menangai kompleksitas emosi. Tapi keempat ratulah jiwa Ali & Ratu Ratu Queens sesungguhnya. Melalui mereka, sudut pandang imigran dari kelas menengah ke bawah yang jarang diambil film kita, dipresentasikan. Mereka tidak datang untuk liburan. Bukan pula kalangan beruntung yang pergi dari Indonesia karena tawaran pekerjaan menggiurkan atau kesempatan menempuh pendidikan. 

Dari mereka, mimpi-mimpi memperbaiki hidup milik para imigran ditampilkan. Pula bagaimana berkat semangat kebersamaan mereka, penderitaan di tengah upaya menggapai mimpi tersebut dapat terobati, atau setidaknya diringankan. Padahal mereka adalah orang asing. Bukan kawan lama, apalagi keluarga. Gagasan mengenai "chosen family" pun diusung. Bahwa individu bisa, dan berhak, memilih siapa keluarganya. Bahwa keluarga tidak harus terikat hubungan darah. Tempat di mana kita bisa menemukan kehangatan sebagai diri sendiri, itulah keluarga. 

Di Queens, Ali belajar soal itu. Dia menemukan kenyamanan bersama para ratu, sebagaimana saya menemukan kenyamanan selama menonton filmnya. This is a comforting movie. The Queen themselves radiate comfort and warmth. Naskah buatan Ginantri S. Noer (Posesif, Dua Garis Biru, Keluarga Cemara) penuh akan celetukan menggelitik keempat ratu, yang selain berfungsi memancing tawa (berhasil), pula menggambarkan betapa hangatnya berada di sekitar mereka (juga berhasil).

Berstatus "comforting movie", naskahnya tidak membiarkan penonton berlarut-larut menyaksikan permasalahan. Bagi sebagian orang, hal ini mungkin dianggap kekurangan, karena filmnya tak membiarkan konflik lebih berkembang dan berakhir secara instan. Tapi bagi saya, justru di situlah letak pesonanya. Ali & Ratu Ratu Queens ingin selama mungkin membuat penonton dikelilingi emosi positif berupa kedamaian, kehangatan, dan kebahagiaan. Takkan menghapus masalah di dunia nyata, tapi minimal, selama sekitar 100 menit, kita dibawa melupakan realita itu, dalam dunia fiksi yang dipenuhi senyuman.

Tapi bukan berarti terjadi simplifikasi, khususnya perihal konflik keluarga Ali. Mudah saja menggambarkan ayah Ali, Hasan (Ibnu Jamil), sebagai pria pengekang mimpi istri. Mungkin ada sedikit unsur itu, namun filmnya enggan seketika menyalahkan. New York adalah tempat yang jauh. Tentu sulit baginya menjalani perpisahan itu. Dinamika batinnya masih menyisakan ruang untuk ditelusuri, namun dilemanya bisa dipahami. 

Apabila anda menyalahkan Mia, patut dicatat, sebagai wanita apalgi yang tinggal di Indonesia, peluang sekecil apa pun mahal harganya. Pria bisa membuang satu-dua kesempatan meraih mimpi dan punya berpeluang lebih besar dari wanita untuk  mendapatkannya lagi suatu hari kelak. Lewat akting Marissa Anita, dilema antara cita-cita dan keluarga mampu dirasakan. Mia membayar harga yang mahal, dan bagaimana itu berdampak besar terhadapnya, nampak betul dari penampilan sang aktris.

Pengarahan Lucky Kuswandi (Selamat Pagi Malam, Galih dan Ratna) membawa semangat serupa naskahnya, dengan sensitivitas yang sanggup memancing rasa haru tidak harus melalui tangisan, melainkan kehangatan. Departemen lain turut membantu Lucky mewujudkan visinya, termasuk montase jelang akhir, yang menampilkan animasi karya Pinot W. Ichwandardi. Beberapa kecanggungan masih sesekali terasa, baik di gagasan naskah atau pengadeganan, tetapi tidak sampai menghambat laju Ali & Ratu Ratu Queens, yang dengan mulus menjadi film Indonesia terbaik 2021 sejauh ini. 


Available on NETFLIX

REVIEW - QUARANTINE TALES

Dibuat semasa pandemi dengan berbagai keterbatasan, rupanya tak menghalangi Quarantine Tales menjadi salah satu omnibus terbaik Indonesia selama beberapa tahun terakhir. Padahal, dari kelima sutradara yang membidani lima segmen pengisi 87 menit durasinya, hanya Ifa Isfansyah yang berpengalaman menggarap film feature. Jason Iskandar, Sidharta Tata, dan Aco Tenriyagelli lebih dikenal di skena film pendek, sedangkan seperti kita tahu, Dian Sastrowardoyo baru menjalani debutnya.

Alasan Quarantine Tales menonjol dibanding sesamanya adalah perbandingan kualitas tiap segmen yang cenderung seimbang, sehingga dinamikanya terjaga secara konsisten. Nougat yang selain disutradarai, juga ditulis sendiri oleh Dian Sastrowardoyo, membuka Quarantine Tales lewat kisah tiga saudari, yang tumbuh bersama, namun seiring pertambahan usia, hubungan mereka makin renggang, dan cuma berkomunikasi lewat video call.

Ubay (Marissa Anita) menjauh dari kedua adiknya selepas menikahi seorang pria yang mengontrol hidupnya, si bungsu Deno (Faradina Mufti) tengah menyelesaikan kuliah, sementara Ajeng (Adinia Wirasti) yang masih tinggal di rumah mendiang orang tua mereka, jadi figur yang berusaha menyatukan keluarganya. Bukan kejutan bila saya menyebut bahwa ketiga aktrisnya merupakan penggerak utama Nougat. Adinia yang lebih pendiam, Faradina yang ceria, dan Marissa yang cepat panas, membuat saya bersedia duduk berjam-jam mendengarkan obrolan ketiganya. Di ranah penulisan, daripada mengambil latar pandemi, Dian dengan cerdik memilih melahirkan komparasi. Tanpa COVID pun, kita sudah berjarak.

Prankster selaku segmen kedua merupakan yang terlemah. Kisah tentang “Youtuber prank” bernama Didit Iseng (Roy Sungkono) yang tengah melakukan siaran langsung bersama Aurel (Windy Apsari) sang bintang tamu ini sejatinya tidak buruk, hanya saja dipenuhi keklisean genre revenge horror/thriller. Naskah buatan sang sutradara, Jason Iskandar, perlu menyediakan rencana balas dendam yang lebih pintar bagi karakternya, yang tak membuatnya terkesan “menggali kuburan sendiri”. Paling tidak, hasrat terpendam penonton untuk menghukum para prankster dunia nyata mampu diwakili oleh Jason.

Segmen Cook Book, yang ditulis Ifa Isfansyah bersama Ahmad Aditya, menyusul kemudian. Mengisahkan usaha Chef Halim (Verdi Solaiman) menulis buku resep di tengah masa karantina, Cook Book menyelipkan salah satu tragedi bangsa, dalam penuturan mengenai kerinduan terhadap “ikatan”. Di tengah kesepian akibat karantina, rasa itu menguat, dan kita mulai merindukan sosok-sosok tercinta, termasuk yang sudah meninggalkan kita. Cook Book menyajikan kepahitan yang rasanya dapat dipahami oleh banyak penonton.

Happy Girls Don’t Cry milik Aco Tenriyagelli adalah segmen favorit saya. Sri Arawinda Kirana memerankan Adin, gadis remaja yang keluarganya diterjang masalah bertubi-tubi akibat COVID. Adiknya (Muzakki Ramdhan) baru saja meninggal, sementara kedua orang tuanya (diperankan Teuku Rifnu Wikana dan Marissa Anita) terlilit begitu banyak hutang. Adin bermimpi memenangkan giveaway dari Youtuber favoritnya demi memperbaiki kondisi finansial keluarga. Tapi tatkala impian itu terwujud, masalah lebih besar justru menghampiri.

Aco menghadirkan satir tajam nan menggelitik perihal eksploitasi kemiskinan di media sosial, pada masa di mana orang-orang berharap memperoleh “uang kaget”. Sindirannya adil, sebab Aco menyentil seluruh pihak, baik kaya maupun miskin. Anda bakal berujar, “Ah, segmen ini memihak A”, kemudian, “Oh, ternyata B”, sebelum akhirnya menyadari, tidak ada satu pun yang “dimenangkan” oleh Happy Girls Don’t Cry. Tidak ada tawa yang tak dibarengi keperihan di segmen ini.

Sebagai penutup adalah The Protocol karya Sidharta Tata, di mana seorang pria (Abdurrahman Arif) sedang kelabakan, begitu mengetahui rekan seperjalanannya, Icuk (Kukuh Prasetya), meninggal di dalam mobil setelah memperlihatkan gejala COVID. Berikutnya, kita diperlihatkan pemandangan-pemandangan menggelikan kala sang protagonis kebingungan, harus mengurus jenazah temannya dengan cara apa. The Protocol begitu efektif memancing tawa di menit-menit pertama, namun ketika humor setipe diulang terus-menerus, kekuatannya perlahan memudar. Memang bukan penutup luar biasa, paling tidak segmen ini sukses mengakhiri sebuah film mengenai masa sulit dengan tawa bahagia.


Available on BIOSKOP ONLINE

EGGNOID: CINTA & PORTAL WAKTU (2019)

Saya yakin, di luar tujuan finansial, salah satu alasan Visinema Pictures mengadaptasi berbagai judul webtoon dengan beragam imajinasi liarnya—yang diawali oleh Terlalu Tampan Januari lalu—adalah memberikan kesegaran bagi tema-tema usang. Demikian pula Eggnoid: Cinta & Portal Waktu yang diadaptasi dari karya Archie The RedCat, di mana elemen fiksi ilmiah disuntukkan dalam tuturan romansa remaja dan drama tentang proses individu menyembuhkan duka.

Tepat di ulang tahunnya yang ke-17, Ran (Sheila Dara), gadis SMA yang hidupnya dipenuhi kesedihan setelah kematian kedua orang tuanya akibat kecelakaan, menemukan sebuah telur bercahaya misterius. Dari telur itu keluar sosok seperti manusia yang disebut Eggnoid. Ternyata, Eggnoid yang olehnya diberi nama Eggy (Morgan Oey) itu dikirim dari masa depan guna membahagiakan Ran, menghilangkan kabut kelam bernama duka yang sudah terlalu lama menyelimuti kesehariannya.

Kalau sudah membaca webtoon-nya, anda tahu naskah buatan sutradara Naya Anindita (Sundul Gan: The Story of Kaskus, Berangkat!), Nurita Anindita (Terlalu Tampan), Yemima Krisantina, dan Indriani Agustina, melewatkan salah satu bagian paling menarik, yakni proses belajar pendewasaan serta pembiasaan Eggy, dari bayi bertubuh pria dewasa yang hanya bisa berkata “mama”, menjadi seperti manusia normal. Bahkan menyelipkan montage pun tidak. Agak disayangkan, karena selain punya potensi tinggi memproduksi tawa, Morgan terbukti mampu mengeluarkan kekonyolan di balik kepolosan kanak-kanak seorang pria dewasa. Bayangkan melihat Eggy miliknya kesulitan belajar memakai baju dan lain sebagainya.

Filmnya memilih langsung lompat menuju dua tahun berikutnya, sewaktu Ran mulai membaik. Dengan kepolosannya, Eggy, yang tinggal bersama Ran dan Diany (Luna Maya), tantenya—yang hanya mau dipanggil “kakak”—bisa mengembalikan tawa sang gadis. Eggy sendiri mulai menyesuaikan diri dengan dunia luar, setelah bekerja di toko es krim kepunyaan Tania (Anggika Bolsterli). Satu hal yang mestinya di titik ini telah dipahami produser dan sineas. Menempatkan Anggika Bolsterli dalam peran komedik dapat mengatrol daya hibur suatu film, yang kembali dibuktikannya di sini melalui reaksi-reaksi komikal lovable, yang membuat kita paham mengapa Zen (Reza Nangin) terpikat pada Tania di pandangan pertama.

Zen dan Zion (Martin Anugrah) merupakan dua orang dari masa depan yang bertugas mengawasi Eggy, menjaga si Eggnoid agar tidak menyalahi aturan. Di situ pangkal permasalahannya. Eggnoid dilarang jatuh cinta apalagi memacari majikannya. Dan Eggy, pasca mendapat kecupan di pipi, sadar bahwa ia mencintai Ran. Mencapai musim keempat yang masih bergulir hingga sekarang, Eggnoid versi Webtoon menyimpan mitologi menarik dan cakupan luas, yang dibangun lewat penceritaan jangka panjang. Bisa diapahami ketika film ini memilih menyederhanakannya.

Penyederhanaan yang naskahnya lakukan cukup banyak, tapi poinnya bukan di “seberapa berbeda”, namun mampu atau tidaknya para penulis mengubah tanpa menghilangkan esensi. Eggnoid: Cinta & Portal Waktu sukses melakukan itu, menjalin sebuah romantika ringan yang menggunakan elemen fiksi ilmiahnya sebagai faktor penyegar guna mengurangi familiaritas dengan deretan film percintaan anak muda yang banyak bertebaran.

Tahun 2019 benar-benar titik lonjakan karir Sheila Dara. Setelah sahabat yang mencuri perhatian di Bridezilla dan wanita misterius dalam Ratu Ilmu Hitam, kali ini ia kembali memikat sebagai gadis kesepian yang seringkali clingy setelah Eggy melenyapkan kesepian tersebut. Membuat kita bersimpati terhadap Ran sehingga memberi nyawa kepada romansanya, Eggnoid: Cinta & Portal Waktu adalah pembuktian dari Sheila, jika ia sudah lebih dari siap mengemban posisi peran utama.

Kembali soal penyederhanaan, mencapai babak konklusi, naskahnya seolah “kaget” ketika coba sedikit menggali perihal latar belakang Eggnoid. Dari kisah cinta ringan, lompatan menuju unsur fiksi ilmiah yang menyelipkan sekelumit filosofi soal ambiguitas benar/salah dalam hidup, gagal berjalan mulus. Merangkum nilai yang sedikit kompleks lewat beberapa baris kalimat dari mulut karakter yang baru muncul di akhir jelas bukan keputusan bijak. Apalagi saat filmnya terkesan ditutup tiba-tiba oleh konklusi yang lebih banyak memancing pertanyaan mengganjal ketimbang dampak emosi, biarpun niatnya memang membuka jalan bagi sekuel.

Setidaknya kekurangan tersebut bisa dimaafkan, sebab Eggnoid: Cinta & Portal Waktu punya salah satu momen paling emosional dalam film Indonesia sepanjang tahun (bukankah ini selalu jadi kebolehan judul produksi Visinema Pictures?), yang turut melibatkan Marissa Anita dalam penampilan singkat namun berkesan lewat penanganan penuh rasa akan kalimat sederhana. Silahkan berusaha menahan haru ketika filmnya mengungkap proses terciptanya foto polaroid yang tergantung di kamar Ran. Melalui momen itu saja, meski melewati banyak penyederhanaan, film ini sudah membuktikan kesuksesannya memanfaatkan elemen fiksi ilmiah demi menunjang paparan drama.

PEREMPUAN TANAH JAHANAM (2019)

Setelah sedikit dikecewakan oleh Gundala, Perempuan Tanah Jahanam mengingatkan lagi alasan kekaguman saya terhadap film-film Joko Anwar. Tidak ada batasan, baik terkait moralitas maupun kreativitas, sehingga terlahir karya yang bebas nan segar. Kali ini Joko mengawinkan gagasan soal kasih sayang orang tua dalam keluarga disfungsional dengan lingkaran setan bernama kutukan.

Kredit pembuka di mana nama-nama bak terlukis di atas kelir (layar pertunjukan wayang kulit) diiringi musik bernuansa gamelan (digawangi trio Aghi Narottama-Bemby Gusti-Tony Merle plus Mian Tiara, scoring-nya ampuh membangun atmosfer sepanjang durasi), membuat Perempuan Tanah Jahanam langsung mencengkeram sedari awal.

Bahkan sejak sebelum itu, tepatnya pada adegan pembuka saat dua sahabat yang bekerja sebagai penjaga gerbang tol, Maya (Tara Basro) dan Dini (Marissa Anita), mengobrol lewat telepon sembari menanti berakhirnya shift malam mereka. Kembali, Joko memamerkan kebolehan merangkai interaksi kasual, yang tak jarang mengandung pokok pembicaraan remeh cenderung nyeleneh, namun di situlah realisme terbangun. Meski sayang, lagi-lagi karakter Joko mengidap “penyakit” berupa artikulasi yang sering rancu.

Pembicaraan Maya dan Dini ditutup teror mencekam, yang turut menyibak sebuah rahasia. Maya akhirnya mengetahui siapa orang tua sekaligus kampung halamannya, yang terletak di Desa Harjosari. Bukan cuma itu, ada kemungkinan sebuah warisan melimpah telah menantinya. Sedang kesulitan uang, kedua wanita ini memutuskan berangkat ke Harjosari, tanpa tahu jika selain warisan, bahaya besar pun menanti mereka.

Sense of impending doom. Perasaan itu yang Joko ingin penontonnya rasakan. Dari penampakan-penampakan makhluk gaib—walau tak semencekam dan sekreatif Pengabdi Setan, jump scare buatan Joko masih jauh dari murahan—sampai keanehan suasana Desa Harjosari. Sekilas warga di sana bersikap ramah, termasuk Ki Saptadi (Ario Bayu) si kepala desa yang tinggal bersama sang ibu, Nyi Misni (Christine Hakim), namun aroma ketidakberesan tercium pekat.

Aroma yang makin kuat sewaktu Dini mengambil sebuah keputusan nekat, yang bagai jadi gerbang pembuka menuju kegilaan-kegilaan Perempuan Tanah Jahanam. Perihal intensitas, kelebihan Joko dibanding sutradara lain adalah kemampuan memanfaatkan talenta pemain untuk menghidupkan ketakutan di tengah suasana darurat. Mentah, bak tanpa polesan. Tara Basro, dengan penampilan memadai, boleh jadi tokoh utama, tapi Marissa Anita adalah bintang pertunjukan. Diperlihatkannya definisi “efortless” dalam akting, entah lewat luapan rasa takut yang akan membuat jantung penonton ikut berdebar, atau menangani obrolan santai dengan sedikit bumbu komedi.

Dua metode penghantaran horor Joko terapkan di sini, yaitu melalui pemandangan disturbing dan atmosfer. Saya tidak bisa mengungkap detail kekerasan apa saja yang film ini simpan, tapi pastinya Joko tak ragu bermain-main dengan tubuh manusia. Darah jelas mengalir di tanah jahanam Harjosari. Mengenai atmosfer, Joko, dibantu sang sinematografer langganan, Ical Tanjung, menggunakan sorotan lampu kuning kala malam hari, khususnya pada tempat di mana mistisisme berpusat. Bagai ada kabut pekat menyesakkan dari alam lain sedang menyelubungi Harjosari. Ditambah latar rumah-rumah remang, keangkeran timbul tanpa perlu ada makhluk halus bertampang mengerikan menampakkan diri.

Kelemahan Perempuan Tanah Jahanam terletak di satu elemen naskah. Setelah secara apik mengimplementasikan budaya klenik tanah Jawa, naskahnya tersandung urusan pemaparan jawaban misteri. Joko menyisihkan dua titik di alur untuk menjabarkan tabir kebenaran secara gamblang. Saya merasa ini bentuk kompromi Joko kepada penonton awam, mengingat kegamblangan bukan sesuatu yang identik dengan karyanya. Tapi masalah terbesar bukan soal “seberapa gamblang”, melainkan bagaimana proses menyuapi informasi itu, terjadi berkepanjangan, dan diletakkan di tengah babak ketiga, sehingga melucuti intensitas.

Klimaksnya sendiri, meski tetap mengalirkan darah pula menampilkan tragedi, kekurangan daya bunuh. Ketika saya sudah bersiap menerima dikecewakan oleh resolusinya, Joko melemparkan momen final. Momen penutup ini—menghadirkan wajah familiar selaku cameo serta Christine Hakim yang melengkapi keberhasilannya memancing ngeri sepanjang film—menusuk jantung bermodalkan intensitas luar biasa, berkat kemampuan Joko memadukan timing kejutan, grafik disturbing, tempo tinggi, serta dua sumber suara, yakni musik dan teriakan manusia. Hanya segelintir sutradara bisa mengkreasi kegilaan semacam itu. Berbagai kekurangan yang sebelumnya muncul pun terbayar lunas, menegaskan film ini memang jahanam!

GUNDALA (2019)

Gundala mengawali “Jagat Sinema Bumilangit” yang beberapa waktu lalu mengumumkan jajaran pemain bertabur bintang. Proyek paling ambisius sepanjang sejarah perfilman Indonesa yang wajib disaksikan bagaimanapun hasil akhirnya, mengingat peran pentingnya sebagai gerbang pembuka menuju genre pahlawan super. Ya, karena saya menekankan urgensi menonton bukan pada kualitas, mungkin anda bisa menebak bahwa karya teranyar Joko Anwar ini meninggalkan kekecewaan.

Mengadaptasi komik buatan Hasmi, Joko Anwar selaku penulis naskah, sutradara, sekaligus produser kreatif “Jagat Sinema Bumilangit” jelas tidak berniat menyajikan film keluarga. Latarnya adalah versi alternatif negeri ini, yang sejatinya tak sejauh itu dari realita, di mana ketidakadilan merajalela, si kaya berkuasa atas si miskin, kerusuhan senantiasa pecah, sementara mafia menguasai wakil rakyat yang sibuk menimbun keuntungan pribadi ketimbang mewakili aspirasi.

Bahkan sedari awal, kita langsung berhadapan dengan tragedi tatkala Sancaka kecil (Muzakki Ramdhan) mesti kehilangan ayahnya (Rio Dewanto) yang meregang nyawa akibat menuntuk keadilan bagi buruh. Setahun kemudian giliran sang ibu (Marissa Anita) menghilang entah ke mana. Dihimpit kemiskinan, Sancaka tumbuh dalam dilema antara menegakkan kepedulian atas nama kemanusiaan, atau bersikap tak acuh demi keselamatan diri.

Beberapa tahun berselang, Sancaka dewasa (Abimana Aryasatya) yang berprofesi sebagai penjaga keamanan pabrik masih bergulat dengan sikap apatis, sampai keputusannya membantu Wulan (Tara Basro) mulai menyadarkan Sancaka, mendorongnya bertarung demi kaum tertindas berbekal kekuatan misterius yang ia peroleh melalui sambaran petir.

Seperti biasa, dunia Joko adalah dunia kelam yang dilebihkan tanpa harus kehilangan relevansi. Krisis moral dan kemanusiaan disorot, sehingga pemilihan Pengkor (Bront Palarae) sebagai antagonis merupakan keputusan tepat. Serupa Sancaka, si mafia penguasa ini menyimpan masa lalu tragis. Kehilangan segalanya lalu terbuang, Pengkor akrab dengan aksi bunuh-membunuh sejak kecil, sebagaimana ditampilkan adegan paling menghantui sepanjang film kala ia menginisiasi pembantaian di sebuah panti asuhan.

Pertentangan Sancaka melawan Pengkor menciptakan dinamika menarik walau keduanya baru bertatap muka di babak ketiga. Sama-sama dinaungi tragedi, tatkala Pengkor terdorong untuk “membalas”, Sancaka merasa perlu “membela”. Bukan sekadar menghilangkan kekliesean hitam melawan putih, melalui elemen itu, Joko juga mengingatkan jika manusia selalu punya pilihan: Menjadikan masa lalu suram sebagai justifikasi perbuatan buruk, atau pelecut semangat juang, atau dalam konteks berbangsa, penyulut patriotisme.

Naskah Gundala pun sanggup cukup seimbang menghadirkan drama yang berdiri sendiri dengan proses menanam benih bagi masa depan “Jagat Sinema Bumilangit”. Walau aspek yang disebut terakhir sempat memberi distraksi saat menyoroti intensi terselubung Ghazul (Ario Bayu) plus sebuah kejutan beraroma deus ex machina jelang akhir yang saya tak bisa sebutkan, melaluinya, rasa penasaran serta ketertarikan terhadap masa depan jagat sinema satu ini berhasil dipancing.

Sementara di departemen penyutradaraan, Joko membuktikan pemilihan dirinya adalah keputusan tepat, ketika mulus membaurkan elemen horor ciri khasnya. Gejolak batin Sancaka dibungkus layaknya horor supranatural, sedangkan jajaran lawan Gundala digambarkan bak horror villain, khususnya sosok Pengkor dan Swara Batin (Cecep Arif Rahman). Pendekatan ini sesuai dengan gaya komik pahlawan super lokal yang kerap meleburkan beraneka genre, termasuk horor. Jangan khawatir Gundala terlampau suram, sebab Joko tetap mencurahkan humor-humor segar yang sejak dulu mampu memperkaya warna karyanya.

Tapi hal-hal di atas bukan kekhawatiran saya bagi proyek ini. Bukan pula kualitas CGI, yang untungnya digunakan secara bijak, walau keterbatasan dana turut mengecilkan kesempatan Gundala memamerkan sambaran petirnya. Bagaimana Joko bersama sinematografi garapan Ical Tanjung (Pengabdi Setan, Ave Maryam) menangkap gelaran laga hasil rancangan Cecep Arif Rahman-lah sumber kekhawatiran tersebut, yang sayangnya, jadi kenyataan.

Teknik quick cuts memang tak digunakan. Kamera cenderung setia mengikuti tiap gerakan, namun banyaknya close up kerap melucuti intensitas. Mayoritas baku hantam pun bergulir amat lambat, seolah kita tengah menonton gladi daripada produk final. Teknik itu efektif membungkus perkelahian “kasar” ala jalanan, tapi melemahkan dampak saat gerak bela diri yang lebih tertata dikedepankan, yang mana sering filmnya terapkan. Alhasil, musik megah gubahan trio Aghi Narottama (Pengabdi Setan, Sweet 20), Bemby Gusti (Ini Kisah Tiga Dara, Pengabdi Setan), dan Tony Merle (Pengabdi Setan, Sesat) acap kali terdengar salah tempat sewaktu membungkus adu jotos yang berlangsung canggung.

Gundala turut bermasalah dengan konklusi penuh penyederhanaan (kalau tidak mau disebut penggampangan) juga pertarungan puncak antiklimaks. Perkenalan bagi barisan “anak-anak" badass Pengkor yang memancing antusiasme harus ditutup secara mengecewakan setelah tokoh-tokoh unik ini ditumbangkan begitu mudah. Belum lagi membahas cara sang bos besar ditaklukkan (tentu ini bukan spoiler).

Diisi penampilan mumpuni, biarpun penuh lubang, setidaknya Gundala urung kehilangan nyawa. Abimana bisa diandalkan baik sebagai pahlawan tangguh maupun pria baik hati yang gampang disukai. Menjadi lawannya adalah Bront Palarae melalui tutur kata intimidatif yang lebih dari cukup menambal kekurangan fisik seorang Pengkor. Di jajaran pendukung, Pritt Timothy sebagai Agung si satpam senior mencuri perhatian lewat keluwesan dan kejenakaan, sedangkan kebolehan bela diri Faris Fajar membuat saya tidak sabar menantikan versi dewasa Awang alias Godam.

Apakah Gundala merupakan pembuka yang memadai bagi “Jagat Sinema Bumilangit”? Bisa dibilang demikian. Apakah mencapai potensi maksimal? Tidak.  Apakah Gundala karya terlemah Joko Anwar sejauh ini? Begitulah. Tapi haruskah diberi kesempatan? Jelas! Just go watch it!