Tampilkan postingan dengan label Ariyo Wahab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ariyo Wahab. Tampilkan semua postingan
MARIPOSA (2020)
Rasyidharry
Seperti sempat saya singgung di
ulasan Teman tapi Menikah 2, penonton
kita sedang jatuh hati pada adaptasi Wattpad bertema romansa remaja yang
membawa ciri-ciri seperti judul “asing”, gombalan unik (baca: absurd), dan tipikal
bad boy yang cenderung brengsek
ketimbang keren. Mariposa, yang
diangkat dari kisah buatan Luluk HF, sebenarnya
turut mengusung formula serupa, tapi pendekatan ringan lewat sentuhan humor dan
kemasan artistik yang diberi perhatian, membuatnya unggul dibanding banyak
kompatriotnya.
Acha (Adhisty Zara) menyukai teman
sekolahnya, Iqbal (Angga Yunanda). Tapi seperti sudah disinggung di atas, tentu
saja Iqbal tidak membalas cinta Acha, bersikap dingin bahkan sedikit kasar
padanya. Iqbal sangat kaku. Kekakuan yang dipicu tuntutan tinggi sang ayah
(Ariyo Wahab), agar Iqbal selalu jadi nomor satu di bidang akademis, termasuk
menjuarai olimpiade sains tingkat nasional. Tujuannya adalah memperoleh
beasiswa untuk berkuliah di Inggris. Iqbal punya alasan kuat menghindari urusan
percintaan. Kondisi tersebut berlawanan dengan keluarga Acha. Sang ibu (Ersa Mayori), yang seorang Army (penggemar BTS) sekaligus pengagum hal-hal berbau budaya populer Korea Selatan, ibarat sahabat bagi Acha, yang bisa ia ajak berbagi banyak hal termasuk tentang cinta.
Pun meski sesekali kelewatan,
penolakan Iqbal sebenarnya bisa cukup dipahami. Obsesi Acha sebenarnya sering
kelewatan. Dia selalu mengikuti Iqbal, terus menghubunginya, bersikap seolah
keduanya berpacaran. Penanganan keliru dapat menjadikan Acha karakter creepy, namun Zara adalah figur likeable yang mampu memberi kepolosan,
sehingga bentuk obsesinya bisa dijustifikasi sebagai kenaifan polah cinta
monyet remaja.
Berlangsung selama hampir dua jam
(117 menit), Mariposa mengalami
stagnansi ketika kisahnya sebatas tersusun atas repetisi-repetisi situasi
ketika Acha menggoda Iqbal hanya untuk menerima respon dingin. Jangan pula
berharap ada eksplorasi mendalam mengenai metafora metamorfosis ulat jadi
kupu-kupu (“mariposa” adalah Bahasa Spanyol yang berarti “kupu-kupu”)
yang sejatinya cuma gimmick untuk
membuai target pasar bocah/remaja awal. Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh
Alim Sudio selaku penulis naskah adaptasinya.
“Perbaikan” yang dilakukan adalah
memperlakukan romantikanya tidak terlalu serius, melalui selipan
humor-humor segar. Tengok adegan di perpustakaan, atau sekuen menggelitik
tentang “perjalanan kue keju Belanda”. Alhasil, walau ceritanya tidak banyak
berprogres dan memiliki durasi cukup panjang, Mariposa takkan terasa melelahkan. Apalagi visualnya cukup
memanjakan mata, melalui penggunaan warna-warna pastel (khususnya kombinasi
biru-merah muda) pada seragam dan properti serta pencahayaan lembut.
Selain stagnansi kisah, muncul juga
masalah perihal pembangunan intensitas di babak akhir yang menyoroti
pelaksanaan olimpiade. Menyulap aktivitas mengerjakan soal tertulis jadi
pemandangan menegangkan bukan perkara mudah, dan pengarahan Fajar Bustomi belum
berhasil mencapai titik itu. Dan sewaktu lomba memasuki babak rebutan,
pemakaian teknik quick cut guna
meningkatkan dinamika justru kerap membuat pusing kepala.
Beruntung Mariposa menyimpan konklusi yang berhasil menjadi puncak emosi.
Berpengalaman mengarahkan trilogi Dilan, Fajar tahu cara menciptakan momen menggemaskan berisi pengakuan cinta ala
remaja, yang juga menyentuh hati berkat penampilan heartful Zara. Aktris muda ini memang tidak bisa dipandang remeh.
Maret 13, 2020
Alim Sudio
,
Angga Yunanda
,
Ariyo Wahab
,
Cukup
,
Ersa Mayori
,
Fajar Bustomi
,
Indonesian Film
,
REVIEW
,
Romance
,
Zara JKT48
REMBULAN TENGGELAM DI WAJAHMU (2019)
Rasyidharry
Rembulan Tenggelam di Wajahmu, selaku adaptasi novel berjudul sama
karya Tere Liye, adalah film yang terluka akibat kurang berhasilnya (tidak
pantas disebut gagal) naskah dalam merangkum cerita dengan cakupan bentuk dan
waktu yang luas. Sepanjang 90 menit durasi, berkali-kali penonton disuguhi
konflik-konflik dengan potensi tinggi melahirkan perenungan-perenungan sarat
makna tentang hidup, yang pengolahannya kurang matang, sebelum ditutup oleh cliffhanger dadakan, yang memberitahu
bila proses yang kita lalui berakhir separuh jalan, alias ada Rembulan Tenggelam di Wajahmu Part 2.
Saya bukan termasuk kaum penentang
metode tersebut. Potensi finansialnya memang menggiurkan, pun bisa dipakai
mengakali kisah yang dirasa terlalu panjang untuk dijadikan satu film,
sementara memangkasnya berisiko melemahkan kualitas. Masalahnya, Rembulan Tenggelam di Wajahmu tidak
memanfaatkan itu, dengan tetap terkesan memencet tombol fast forward. Ini kisah tentang Ray (Arifin Putra) yang terbaring
sekarat di rumah sakit, kemudian dikunjungi sosok misterius, atau dipanggil “pria
berwajah teduh” (Cornelio Sunny), yang mengajaknya mengunjungi babak-babak
penting di masa lalunya, dengan tujuan menjawab lima pertanyaan Ray terkait
kehidupan.
Sinopsis resminya mendeskripsikan
Ray sebagai pria berusia 60 tahun. Walau mengenakan riasan guna menambah kerut
wajah serta uban, Arifin, dengan postur tegapnya, masih tampak jauh lebih muda.
Setidaknya pemilihan Bio One sebagai Ray muda patut dipuji. Mereka punya kemiripan,
dan Bio tidak mengecewakan sebagai remaja bermasalah. Ya, sebelum Ray menjadi
pemilik perusahaan sukses, masa mudanya tidak berlangsung mulus. Dia dikenal
sebagai biang onar dan mesti berpindah dari satu rumah ke rumah lain, bahkan
terlibat kriminalitas.
Dari lima pertanyaan Ray, film ini menelusuri
dua di antaranya, yang berarti, kita diajak mengunjungi dua babak dalam hidup
sang protagonist. Pertama di panti asuhan tempat ia kerap jadi korban kekerasan
oleh bapak pengurus panti (Egi Fedly), kedua di rumah penampungan bernama “Rumah
Kita” yang dikelola Bang Ape (Ariyo Wahab), di mana Ray menjalin persahabatan
dengan anak-anak lain.
Kedua pertanyaan Ray bersifat
filosofis, menyentuh perenungan mengenai eksistensi manusia, yang berarti,
tidak bisa dijawab ala kadarnya. Sayangnya, demikianlah naskah buatan Titien
Wattimena (Minggu Pagi di Victoria Park,
Aruna & Lidahnya, Ambu) bergulir. “Rumah Kita” misalnya, yang disebut
jadi tempat Ray belajar banyak hal tak ternilai, namun kesan “tak ternilai” itu
urung terasa akibat paparan yang sebatas menyentuh permukaan. Persahabatan dengan
Natan (Teuku Rizky) si remaja bersuara emas dan Ilham (Ari Irham) si pelukis
yang konon begitu kuat hingga mendorong Ray melakukan tindakan nekat, tidak
pernah meyakinkan. Film ini juga urung lepas dari sederet hal yang membuat kita
mengernyitkan dahi (Mana mungkin polisi tak mendengar suara tembakan? Dan
sebagainya).
Padahal alurnya, dengan beberapa
kejutan yang meski dipenuhi kebetulan masih bisa diterima mengingat kisahnya
sendiri membahas misteri takdir, mampu membangun rasa penasaran terhadap apa
yang terjadi berikutnya, termasuk jawaban apa yang akan diperlihatkan si Pria
berwajah teduh pada Ray. Bahkan, walau keseluruhan filmnya agak mengecewakan,
saya tetap tertarik menantikan babak berikutnya yang menyoroti romansa Ray (Arifin
Putra dengan berewok aneh) dan Fitri (Anya Geraldine).
Selain naskah kurang mendalam, pengadeganan
Danial Rifki (Haji Backpacker, 99 Nama
Cinta) turut berkontribusi terhadap lemahnya dampak emosi yang dimunculkan,
tatkala sang sutradara masih belum mumpuni menerjemahkan momen-momen saat Ray
menyadari nilai-nilai hidup jadi suatu peristiwa menggetarkan. Pun penggarapan
adegan aksinya kerap canggung, meski dalam hal ini, penempatan dan pergerakan
kamera tak dinamis dari sinematografer Gunung Nusa Pelita (Bukan Cinta Biasa, Preman Pensiun) ikut bertanggung jawab. Padahal
Bio One, dan tentunya Donny Alamsyah sebagai Bang Plee yang sempat menampung
Ray, memiliki kapasitas menghidupkan baku hantam.
Membahas gagasan-gagasan “tinggi”,
wajar ketika Rembulan Tenggelam di
Wajahmu ingin tampil megah. Tata artistik tidak murahan, walau beberapa CGI
tampak kasar, ditambah musik orkestra gubahan Ricky Lionardi (trilogi Danur) cukup berhasil memenuhi target
tersebut. Semestinya Rembulan Tenggelam
di Wajahmu bisa lebih dari itu dan menyentuh kemegahan dalam wujud lain,
yaitu “rasa”.
Desember 13, 2019
Anya Geraldine
,
Ari Irham
,
Arifin Putra
,
Ariyo Wahab
,
Bio One
,
Cornelio Sunny
,
Danial Rifki
,
Donny Alamsyah
,
Drama
,
Egy Fedli
,
Indonesian Film
,
Kurang
,
REVIEW
,
Ricky Lionardi
,
Teuku Ryzki
,
Titien Wattimena
LOVE FOR SALE 2 (2019)
Rasyidharry
Berlandaskan premis unik, akting
ciamik, dan departemen artistik menarik, tahun
lalu Love For Sale mampu mencuri
perhatian, walau berbeda dengan pandangan umum, saya beranggapan naskah buatan
sutradara Andibachtiar Yusuf (Hari Ini
Pasti Menang, Bridezilla) dan M. Irfan Ramly (Cahaya dari Timur: Beta Maluku, Surat dari Praha) kurang matang
dalam menangani konsep, khususnya di fase konklusi. Love For Sale 2 berhasil memperbaiki itu.
Idenya masih serupa, yakni mengenai
“kunjungan” Arini (Della Dartyan) dari aplikasi kontak jodoh Love Inc., ke
kehidupan protagonis. Bedanya, tidak ada usaha setengah-setengah menjelaskan
soal Love Inc. sebagaimana film pertama. Lubang alur diminimalisir, dan sewaktu
konflik menemukan resolusi, tidak ada distraksi. Konsentrasi sepenuhnya
tercurah pada permainan rasa dalam drama keluarga yang kini jadi fokus utama.
Dibuka oleh pesta pernikahan
beradat Minang yang dibungkus menggunakan satu take panjang, kita segera tahu masalah macam apa yang segera
menjelang. Ican (Adipati Dolken) terus didorong oleh sang ibu, Rosmaida (Ratna
Riantiarno), agar segera menikah. Berulang kali Rosmaida berusaha menjodohkan
Ican, tapi berulang kali pula puteranya itu menolak. Berbanding terbalik dengan
Richard (Gading Marten) di film pertama, Ican doyan berganti-ganti pasangan,
namun enggan melakoni hubungan serius.
Tekanan dari orang tua agar segera
menuntaskan masa lajang tentu terdengar familiar sebab banyak terjadi di
sekitar kita, bahkan mungkin menimpa kita sendiri. Love For Sale 2 merupakan satir menggelitik atas problematika
tersebut. Tentang urgensi menikah. Kunci sindirannya terletak pada kontradiksi
dalam kata-kata maupun perilaku karakter. Rosmaida terus meminta Ican menikah,
tapi saat melihat puteranya itu berbicara dengan wanita, ia buru-buru berujar “Jangan
deket-deket. Nanti fitnah”. Timbul pertanyaan, “Apakah Rosmaida (dan para orang
tua lain) ingin anaknya menikah, atau MENIKAHI PILIHAN MEREKA?”.
Cara pandang masyarakat soal
pernikahan juga tidak ketinggalan disentil. Misalnya saat Ndoy (Ariyo Wahab),
kakak Ican, menyindir seorang karakter yang memasang wajah kucel seorang
karakter akibat ditinggal pergi istrinya, lalu sejurus kemudian menyarankan
Ican segera menikah supaya hidupnya tentram. Lagi-lagi komedi satir berbasis
kontradiksi.
Meski melempar sindiran, Love For Sale 2 menolak tampil berat
sebelah. Rosmaida sekilas menyebalkan, layaknya banyak sosok ibu, menyuruh Ican
segera menikah, selalu cerewet menasihati agar anak-anaknya rajin salat dan
berbagai petuah lain. Rosmaida juga bukan mertua yang menyenangkan bagi istri
Ndoy, Maya (Putri Ayudya), yang walau tengah hamil tua, tetap mendapat
perlakuan tidak menyenangkan. Tapi layaknya seorang ibu pula, selalu ada cinta,
dan film ini tidak lupa menekankan cinta itu. Karena mungkin, Rosmaida hanya
butuh ditemani dan dimengerti. Di situlah Arini berperan.
Demi membahagiakan ibunya, Ican
menggunakan layanan Love Inc., memesan calon istri palsu sesuai preferensi sang
ibu. Jika film pertama mengetengahkan peran Arini menumbuhkan semangat hidup
Richard, di sekuelnya, giliran harmoni keluarga Ican yang ia pupuk. Tertinggal
kekecewaan di fase ini, karena proses “perbaikan” yang Arini lakukan cuma
nampak di permukaan, biarpun gagasan “Arini membawa kebahagiaan sebagai alat
menyembuhkan” telah tersampaikan.
Satu lagi keunggulan sekuel ini
dibanding pendahulunya adalah penokohan Arini. Menampilkan Della Dartyan dengan
senyum yang bisa membuat siapa saja seketika jatuh hati, Arini masih gadis dengan
sensitivitas tinggi, sehingga tahu bagaimana memberi respon yang diinginkan
lawan interaksinya. Kali ini ruang personal Arini mulai dikunjungi. Sosoknya
makin dimanusiakan. Sebuah obrolan Arini dengan Rosmaida di suatu subuh—yang juga
jadi ajang pembuktian kepiawaian Della mengontrol luapan emosi—menyiratkan bahwa
kunjungan kali ini terasa lebih personal bagi Arini. Dugaan jika Love Inc. bukan
sekadar tempat Arini bekerja turut menguat.
Andibachtiar Yusuf mengulangi pencapaiannya
di departemen penyutradaraan lewat kepekaan menangkap emosi suatu momen, dan
menjadikan filmnya tidak semata pameran gambar cantik. Tidak kalah mengagumkan
adalah perhatian Andibachtiar terhadap detail peristiwa yang bertempat di belakang
fokus kamera. Contohnya di adegan pembuka. Daripada hanya memakai figuran, ia
menempatkan Buncun (Bastian Steel) si putera bungsu bersama istrinya, Endah
(Taskya Namya). Keduanya cuma duduk menikmati makanan , tapi itu saja sudah
cukup menghidupkan sebuah peristiwa. Atau sewaktu Ican mengobrol dengan Ibrahim
(Yayu Unru) sementara di belakang, orang-orang asyik bermain domino, dengan
gestur serta suara yang tidak terlalu besar sampai mengganggu fokus, namun
tidak terlalu kecil agar penonton bisa menyadari eksistensi mereka.
Oktober 26, 2019
Adipati Dolken
,
Andibachtiar Yusuf
,
Ariyo Wahab
,
Bagus
,
Bastian Steel
,
Della Dartyan
,
Drama
,
Gading Marten
,
Indonesian Film
,
M. Irfan Ramly
,
Putri Ayudya
,
Ratna Riantiarno
,
REVIEW
,
Taskya Namya
,
Yayu AW Unru
6,9 DETIK (2019)
Rasyidharry
Diam-diam Lola Amaria adalah sineas
produktif, dengan catatan lima film dalam enam tahun terakhir, di mana sejak Jingga pada 2016, ia rutin merilis film setiap
tahun. Kenapa saya sebut “diam-diam”? Karena melihat catatan jumlah penonton,
produktivitas Lola rasanya tak banyak diketahui publik. Pun secara kualitas,
karyanya belakangan mudah terlupakan. Sama sekali tidak buruk, namun selalu
meninggalkan kesan, “Sebenarnya ini bisa bagus, tapi.....”.
Selalu bertindak selaku produser,
berarti Lola jeli mencari materi berpotensi, tapi lemah perihal eksekusi. Tidak
terkecuali 6,9 Detik, yang mengangkat
kisah hidup Aries Susanti Rahayu, atlet panjat tebing peraih medali emas cabang
panjat tebing kategori “speed” di
Asian Games 2018, yang dijuluki “Spider-Woman”.
Kisahnya membawa kita mundur menuju
masa kecil Aries (Kayla Ardianto) di Purwodadi, ketika ia mesti memendam rindu
kepada sang ibu (Brilliana Arfira), yang bekerja sebagai TKW di Arab Saudi.
Berbeda dibanding dua kakak perempuannya, sejak dini Aries sudah memperlihatkan
minat akan olah raga. Dia kerap menjuarai lomba lari antar sekolah, hingga akhirnya
mengenal panjat tebing, mulai mengikuti berbagai pelatihan, sampai akhirnya
meraih emas Asian Games 2018 di bawah tempaan keras pelatihnya, Hendra (Ariyo
Wahab).
Kisahnya mengalir mulus selama
sekitar 35 menit pertama (total durasi 78 menit). Naskah buatan Sinar Ayu
Massie (3 Hari untuk Selamanya, Sebelum
Pagi Terulang Kembali, Lima) merangkum drama ibu-anak hangat di tengah
paparan coming-of-age yang mampu
memberi pemahaman atas bagaimana masa lalu Aries membentuk sosoknya sekarang:
seorang wanita tangguh. Informatif, meski sederana pun belum mencapai tingkat “eksplorasi
mendalam”.
Pengarahan Lola menjauhkan filmnya dari jurang melodrama cengeng,
cenderung mendekati gaya sinema alternatif, di mana keintiman diutamakan,
dramatisasi dilakukan secukupnya, termasuk lewat minimnya pemakaian usik. 6,9 Detik memang ingin tampil sederhana,
memaksimalkan drama lewat interaksi normal sehari-hari. Sentuhan nasionalisme
pun dimunculkan tepat guna. Jargon-jargon macam “Kita satu Indonesia” masih
terdengar, tapi tidak dalam kadar berlebih (“Rumah Merah Putih”, I’m
waving at you).
Sayang, melewati selepas 35 menit, progres
ceritanya bergerak secepat lesatan Aries memanjat. Begitu buru-buru, seolah Lola
dan Sinar hanya tertarik bercerita tentang masa kecil sang protagonis, namun
sadar bahwa meninggalkan fase remaja Aries merupakan kemustahilan. Padahal di
situlah pergolakan batin Aries mencapai titik puncak. Rasa rindu terhadap ibu berubah
jadi benci, kelabakan menghadapi beratnya pelatnas, sempat lari ke alkohol
(dalam sekuen mabuk-mabukkan konyol ketika tim artistik lupa jika minuman keras
tidak berbuih seperti teh), hingga konflik percintaan yang cuma numpang lewat
beberapa detik.
Paling fatal adalah caranya meringkas
gesekan Aries dengan ibu. Mendadak semua usai, mendadak semua baik-baik saja.
Dampaknya, upaya menjembatani antara gejolak di tiap fase hidup Aries dengan
kesuksesannya gagal total tatkala perjalanan panjang penuh lika-liku sang juara
dikemas sebagai proses kilat, yang menjadikan keberhasilan Aries menyabet
medali emas kurang menggetarkan hati. Ini soal momentum. Karena tampil serba
kilat, saya tidak merasa terikat dan menanti-nanti momen bersejarah itu.
Terlebih klimaksnya hanya tersusun atas kompilasi rekaman pertandingan asli
seadanya.
Satu-satunya penyelamat paruh kedua
justru datang dari Aries Susanti Rahayu yang memerankan dirinya sendiri. Jelas
bukan akting kelas ajang penghargaan, tapi sukses mencapai tujuan yang ada di
balik penunjukkan dirinya sebagai pemain. Lola jelas mengincar kesan natural,
baik terkait elemen panjat tebing maupun drama, dan Aries mampu menghadirkan
itu. Andai saja filmnya menyisihkan waktu guna eksplorasi lebih jauh. Respon “andai
saja...” sayangnya masih mengakrabi karya-karya Lola Amaria.
September 29, 2019
Aries Susanti Rahayu
,
Ariyo Wahab
,
Biography
,
Cukup
,
Indonesian Film
,
Kayla Ardiannto
,
Lola Amaria
,
REVIEW
,
Sinar Ayu Massie
MATA DEWA (2018)
Rasyidharry
Tidak butuh mata dewa atau mata batin agar bisa melihat
keburukan film ini. Digarap oleh Andibachtiar Yusuf yang baru beberapa hari
lalu memukau saya lewat Love for Sale
(yang dibuat tanpa tekanan kanan-kiri), Mata
Dewa mengikuti formula film olahraga: perjuangan underdog, mentor misterius yang sempat punya nama besar, hubungan
renggang anak-orang tua, rivalitas, romansa, dan penutup berupa pertandingan
akbar. Tapi tak ada satu pun tampil maksimal. Bahkan, semua digarap di bawah
standar.
Dibuka lewat pertandingan yang mengecewakan bagi tim Jayhawk
dan SMA Wijaya, kita berkenalan dengan Bumi (Brandon Salim), pemain
berkemampuan seadanya yang dijadikan kambing hitam atas kekalahan tim oleh Dewa
(Kenny Austin), si pemain andalan. Bila tidak ada kata “Dewa” di judulnya,
mungkin banyak yang akan mengira Bumi lah protagonisnya. Rupanya, beberapa
waktu berselang porsi Bumi terkikis. Tanpa signifikansi terhadap alur, ia mendadak
berperan sebagai penggerak suporter alih-alih bermain. Apakah ia dikeluarkan?
Atau merasa kemampuannya dangkal lalu memilih mundur? What a message.
Naskah hasil tulisan Andibachtiar bersama Oka Aurora adalah
setumpuk konsep yang dimasukkan dalam satu rangkaian alur tanpa saling
bertautan. Beberapa subplot langsung menginjak resolusi tanpa proses, sisanya
berkebalikan, dilontarkan tanpa penyelesaian. Mengapa Dewa enggan berkomunikasi
dengan sang ibu? Untuk apa si pelatih (Nino Fernandez) diberi pergulatan batin
terkait pengunduran diri di awal cerita? Sedangkan Ariyo Wahab sebagai mentor
Dewa seperti hendak diberi arc tentang
kebangkitannya—yang menghadirkan paralel dengan perjuangan Dewa—hanya untuk
kemudian dilupakan.
Saya paham bahwa Mata
Dewa adalah media promosi DBL (Developmental
Basketball League). Maka ketika alur dinomorduakan demi fokus lebih pada
momen pertandingan, saya sedikit maklum. Masalahnya, aksi di atas lapangan
dikemas demikian malas. Zoom in, zoom
out, shaky cam. Tiga teknik itu terus direpetisi, walau dilihat sekilas pun
jelas betapa intensitas gagal diciptakan. Belum lagi bumper video “Basketball Live
Streaming”, yang entah apa gunanya, selalu diulang. Saya tidak pernah
menonton DBL di televisi (kalau ada). Mungkin memang gayanya begitu, entahlah.
Satu hal pasti, film ini mestinya bukan highlights,
bukan pula reka ulang siaran televisi, melainkan atmosfer asli di lapangan
pertandingan.
Tapi saya masih bersabar, mengira babak final selaku klimaks
bakal lebih seru. Sampai filmnya memperkenalkan satu per satu pemain dari kedua
tim. Total 10 tokoh yang takkan kita pedulikan eksistensinya muncul. Sulit
menghilangkan kecurigaan kalau intorduksi tersebut semata bertujuan mengulur
waktu. Ketika film berdurasi 80 menit coba mengulur waktu, bisa dipastikan tersimpan ketidakberesan. Sama tidak beresnya dengan bibir komat-kamit Kenny Austin kala Indonesia Raya berkumandang. Apakah
protagonis kita tidak hafal lagu kebangsaan?
“Wijaya the Giant
Killer”. Julukan yang diberikan oleh dua komentator (Augie Fantinus dan
Udjo Project Pop) sulit diamini, karena kita tak diajak merasakan perjuangan
mencapai puncak. Setiap pertandingan numpang lewat, dan tiba-tiba sampai titik
akhir. Mestinya final jadi ajang pembuktian Dewa yang penglihatannya terganggu
akibat kecelakaan. Tapi sepanjang laga, cuma dua kali ia berperan: Saat
dijatuhkan lawan, dan memberi assist
pada rekannya dalam angka penentu kemenangan. Ya, bahkan angka itu bukan
dicetak oleh Dewa. Sulit mencari hal positif. Dodit Mulyanto yang
diharapkan menyegarkan suasana pun tak dimaksimalkan akibat timing pengadeganan acap kali meleset.
Selaku alat promosi DBL, Mata Dewa
gagal tersaji inspiratif (seperti beberapa kisah nyata keberhasilan mantan
atlet yang tertuang di akhir), atau sekedar keren.
Maret 10, 2018
Andibachtiar Yusuf
,
Ariyo Wahab
,
Brandon Salim
,
Dodit Mulyanto
,
Drama
,
Indonesian Film
,
Jelek
,
Kenny Austin
,
Nino Fernandez
,
Oka Aurora
,
REVIEW
,
Sports
Langganan:
Komentar
(
Atom
)











