Tampilkan postingan dengan label Marini Soerjosoemarno. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Marini Soerjosoemarno. Tampilkan semua postingan

REVIEW - SELESAI

Selesai, selaku kolaborasi kedua Tompi (sutradara) dan Imam Darto (penulis naskah) setelah Pretty Boys (2019), berupaya memberi warna baru di tema lama (kalau tidak mau disebut "usang") soal perselingkuhan. Baik pengembangan alur maupun tata artistik, semua dipilih dengan tujuan tampil beda, setidaknya di skena film Indonesia modern.

Niat itu patut diapresiasi, namun di saat bersamaan, Selesai juga wujud salah kaprah pemahaman atas anggapan bahwa "beda" berarti "bagus". Bahwa film bagus harus unik, harus punya twist, harus berani memasang sensualitas (atau setidaknya, cukup guna memancing rasa penasaran kaum adam dengan birahi tak tersalurkan). 

Alurnya mengisahkan pernikahan Broto (Gading Marten) dan Ayu (Ariel Tatum) yang telah mendekati "selesai". Cinta keduanya memudar, apalagi setelah Broto berkali-kali selingkuh dengan Anya (Anya Geraldine dalam porsi yang tak lebih dari glorified cameo). Sewaktu Ayu menemukan celana dalam yang ia yakini sebagai milik Anya, ia pun meminta cerai. 

Di tengah pertengkaran, mendadak Sri (Marini Soerjosoemarno), ibunda Broto, datang karena ingin menghabiskan masa lockdown bersama si anak dan menantu. Alhasil keduanya terpaksa berpura-pura akur, sambil terus berupaya mengungkap keburukan masing-masing.

"Apa benar Broto selingkuh?". Itulah pertanyaan pertama yang naskahnya lempar, sekaligus awal timbulnya pertanyaan-pertanyaan lain. Melalui rangkaian pertanyaan tersebut, Imam Darto membawa Selesai, dari drama perselingkuhan biasa ke arah misteri, yang harus diakui cukup menarik. Bukankah di realita, mempertanyakan kesetiaan pasangan juga membuat kita merasa bak karakter dalam cerita misteri? 

Sedangkan di kursi penyutradaraan, Tompi, yang notabene seorang musisi, jeli memilih iringan musik. Ditangani oleh Ricky Lionardi, musiknya menjauh dari orkestra mengharu-biru yang kerap jadi andalan suguhan drama kita, menggantinya dengan nuansa jazzy, yang seperti berkiblat pada film noir. Di sini, tujuan Selesai untuk tampil beda telah terpenuhi.

Lalu datanglah penyakit itu. Penyakit di mana penulis naskah merasa, agar cerita lebih menarik, penonton harus dibuat terkejut oleh twist, alih-alih memperdalam tema serta karakter. Mungkin Darto memegang prinsip "the more the better" di segala sisi penceritaan. Termasuk saat memasukkan subplot hubungan Yani (Tika Panggabean) selaku ART di rumah Broto dan Ayu, dengan Bambang (diperankan Darto sendiri). Subplot itu cuma berfungsi menambah jumlah perselingkuhan, di saat naskah semestinya berkonsentrasi memperkuat eksplorasi isu perselingkuhan tersebut. 

Beberapa twist-nya cenderung dipaksakan, namun tak ada yang lebih menggelikan dibanding kejutan pamungkasnya. Kejutan berisi trik yang entah sudah berapa kali dipakai banyak film untuk menipu penonton. Saya sebut "menipu", karena kehadirannya begitu tiba-tiba. Something that came out of nowhere. Bukan cuma itu, akibat twist-nya, film ini terasa miskin empati, bagi para istri korban ketidakmampuan suami menahan kelaminnya berkeliaran. 

Meski menganggapnya penting, saya bukan orang yang membabi buta menuntut representasi di segala hal tanpa mempertimbangkan aspek lain. Tapi saya cukup yakin, bila ditulis oleh seorang wanita, Selesai bakal mengambil jalan lain dalam merangkum kisahnya. Jalan yang tidak mengorbankan rasa berbasis empati, semata-mata demi shock value. Style over substance. 

Begitu pula terkait sensualitas berkadar minimum yang tak berpengaruh apa pun bagi narasinya. Anya Geraldine dalam balutan handuk? Darto bermasturbasi sambil mengintip Ariel Tatum? Shot dari belakang saat Gading Marten telanjang bulat saat mandi? Semua dimunculkan, hanya agar penonton berujar, "WOW! Liar sekali!", sambil terkekeh nakal. Tompi berkata kalau ia ingin membuat film bernuansa sensual yang tak murahan, tapi sensualitas tanpa esensi, di film yang bahkan tidak sampai melangkah ke jalur erotika, justru terkesan murahan. Padahal Selesai tidak perlu semua itu. Pondasi misterinya sudah cukup mengundang rasa penasaran selama menonton. Sayang sekali.


Available on BIOSKOP ONLINE

ASIH (2018)

Asih membuktikan 2 hal: Awi Suryadi (dwilogi Danur) selalu berusaha memperbaiki kekurangannya dan dia pantas mendapat franchise, atau setidaknya naskah yang lebih baik. Pasca sekelumit peningkatan di Danur 2: Maddah, di sini Awi menyempurnakan penyutradaraannya, tahu kapan waktunya memainkan keheningan guna membangun atmosfer, kapan mengejutkan penonton lewat jump scare, serta bagaimana melakukannya. Patut disayangkan departemen naskah mencoreng pencapaian tersebut.

Bertindak selaku prekuel yang terjadi 37 tahun sebelum film pertama, Asih mengisahkan asal-usul sang titular character (Shareefa Daanish), meski pada kenyataannya, elemen itu cuma muncul dalam satu flashback singkat. Naskah buatan Lele Laila (Keluarga Tak Kasat Mata, dwilogi Danur), yang mengadaptasi novel berjudul sama karya Risa Saraswati, bahkan tidak berupaya menjelaskan keperluan selipan fakta mengenai perubahan nama Kasih menjad Asih, sebuah informasi yang tak berperan dalam keseluruhan plot.

Sisanya serupa judul-judul lain di Danur Universe, yakni kompilasi teror demi teror yang ditempel paksa tanpa cerita kuat sebagai perekat. Setelah adegan pembuka kala Asih membunuh bayinya sebelum akhirnya bunuh diri, kita dibawa mengunjungi satu keluarga kecil: pasangan suami-istri, Puspita (Citra Kirana) dan Andi (Darius Sinathrya) beserta sang ibu (Marini Soerjosoemarno). Pasutri ini tengah menanti kelahiran anak pertama mereka. Protagonis yang akan memiliki bayi ketika sang antagonis kehilangan bayi jelas bukan pertanda baik.

Asih menebar beberapa benih konflik menarik di awal. Kepikunan ditambah penglihatan Ibunda Andi yang mulai menurun, rasa takut berlebih Puspita akibat mendengar cerita mistis dari sang bidan (Djenar Maesa Ayu), semua itu lebih dari cukup selaku pangkal perpecahan keluarga yang diakibatkan peristiwa mistis, atau tepatnya, ketakutan terhadapnya. Tapi benih-benih menjanjikan itu ditinggal begitu saja seiring penolakan penulis naskah untuk repot-repot menciptakan cerita sungguhan. Menjaga supaya filmnya terus berjalan (baca: mengisi durasi) merupakan fokus tunggal.

Poin menarik naskah Asih hanya saat beberapa kepercayaan mistis lokal turut mengambil peran, yang dapat menghadirkan rasa ngeri bagi penonton yang familiar dengan hal-hal macam suara anak ayam atau tiang listrik yang dipukul. Sisanya nihil. Usaha menjembatani film ini dengan Danur: I Can See Ghosts (2017) pun berujung kekonyolan. Mengapa Asih meningglkan sisirnya?

Di sinilah kapasitas Awi mengambil alih. Dibebani tugas menghabiskan durasi (yang cuma 77 menit), sang sutradara meninggalkan pendekatan mengesalkan yang jadi andalan seri Danur, di mana jump scare berisik menghantam tiap beberapa detik. Kali ini Awi justru berani menyusun atmosfer melalui keheningan plus lagu Indung Indung yang terdengar lebih creepy dibanding Boneka Abdi.

Begitu Asih muncul, musik garapan Ricky Lionardi (Sakral, Rasuk) menolak latah untuk langsung menggebrak. Awi menyimpan gebrakan itu khusus bagi deretan “menu utama” ketika jump scare dilontarkan pada kesempatan  tak terduga, yang sesuai formula di “Buku Panduan James Wan”, saat para hantu bukan sekedar “setor muka”, melainkan menyerang secara agresif. Saya terenta beberapa kali dibuatnya. Bahkan, Awi sanggup memberi sebuah momen yang benar-benar menyeramkan, bukan sebatas mengagetkan. Momen itu berupa sekelebat penampakan Asih, yang mungkin takkan disadari banyak penonton.

Sayang, sekali lagi, pencapaian Awi “dikhianati” kemalasan skenarionya begitu Asih memasuki babak ketiga yang bak tanpa puncak intensitas. Seolah filmnya usai karena penulis naskahnya sudah kehabisan ide, membiarkan teror Asih dihentikan oleh doa ala kadarnya dan teriakan karakter. Secara menyeluruh, Asih memang membuktikan bahwa seri Danur, walau perlahan, konsisten mengalami peningkatan. Namun bila mereka tak kunjung memperbaiki kualitas naskah, sulit membayangkan franchise ini bakal memproduksi installment yang layak menyandang status “film bagus”. Sementara, paling tidak Asih bukan satu lagi horor berisik mengesalkan atau parade repetitif bagi ekspresi gila Shareefa Daanish.