REVIEW - NAGA NAGA NAGA
Terakhir kali Deddy Mizwar terlibat di pengonsepan cerita (secara resmi) adalah 15 tahun lalu lewat Nagabonar Jadi 2 yang turut disutradarainya. Di situ ia mendapat kredit "story by". Merupakan kewajaran saat sang aktor senior kembali menduduki dua posisi tersebut di Naga Naga Naga, selaku judul ketiga dari seri Naga Bonar. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada sosok penting industri perfilman, saya merasa Deddy Mizwar masih berada di tahun 2007. Mungkin ia terperangkap dalam lorong waktu.
Naskah yang ditulis Wiraputra Basri (Sejuta Sayang Untuknya) dari cerita buatan Deddy Mizwar, menghasilkan tuturan yang bakal memancing respon "OK Boomer" dari penonton masa kini. Bahkan bisa jadi kata "oke" digantikan "dasar". Orang-orang di belakang Naga Naga Naga sebenarnya sadar filmnya butuh modernisasi, namun mereka tidak tahu cara menjadi relevan.
Taktik Naga Naga Naga untuk terlihat relevan adalah membahas perihal gender. Monaga (Cut Beby Tshabina), puteri Monita (Wulan Guritno) dan Bonaga (Tora Sudiro), sekaligus cucu Naga Bonar (Deddy Mizwar), tidak tumbuh layaknya anak perempuan kebanyakan. Dia enggan sekolah, memilih belajar dari alam bersama sang kakek, pula menghabiskan waktu bermain bola bersama anak laki-laki.
Perdebatan mengenai Monaga pun terjadi, sementara filmnya tenggelam dalam ketidakjelasan sudut pandang. Naga Bonar yang menampik budaya "orang batak harus punya anak laki-laki" namun di lain kesempatan menyatakan bahwa tugas utama istri adalah melayani suami, masih bisa diterima. Masuk akal saat pria berumur 60an berpikiran demikian.
Lain cerita ketika Monita, si wanita karir independen berpendidikan tinggi yang mengatasnamakan "kesetaraan gender" kala menolak keharusan mempunyai anak laki-laki, menyebut bahwa wanita mesti lembut, karena berperan melembutkan kerasnya dunia. Luar biasa inkonsisten.
Mungkin naskahnya ingin mengambil jalan tengah, tapi keseimbangan tersebut gagal dibangun. Misal sewaktu Tari (Artta Ivano), teman Monita, mengeluarkan kata-kata yang kurang lebih berbunyi, "Boleh saja kita memikirkan kesetaraan gender, tapi realitanya kan berbeda". Itu wujud kepasrahan, bukan upaya mencari win-win solution. Makin jomplang karena belum lama ini kita baru mendapatkan Ngeri-Ngeri Sedap, yang juga membicarakan budaya batak, gesekan zaman, nilai kekeluargaan, dan gender, secara jauh lebih baik.
Pun sama sekali tidak bijak ketika filmnya membicarakan gender, namun dua karakternya dengan santai membanggakan status poligami mereka, dalam situasi yang jelas bukan bernuansa satir.
Beruntung, tiap menyentil isu khas seorang Naga Bonar, (yang tak perlu perspektif kekinian), filmnya menemukan pijakan. Deddy Mizwar masih cukup ahli melempar kritik menggelitik terhadap hal-hal seperti kelas sosial hingga sistem pendidikan. Trio Pomo (Darius Sinathrya), Ronny (Uli Herdiansyah), dan Zacky (Mike Lucock) mewakili sisi yang senantiasa memandang segalanya melalui kacamata materi. Sindiran paling tajam adalah terkait pihak sekolah, yang katanya bertujuan memintarkan murid, tapi justru menolak menerima mereka yang punya nilai buruk.
Beberapa konflik terlalu gampang diselesaikan, khususnya tentang Mat Budeg (Norman Akyuwen), ayah Nira (Zsa Zsa Utari), pengamen yang berteman dengan Monaga, kesan "berceramah" khas Deddy Mizwar pun masih mendominasi, tapi setidaknya berhasil ditutupi oleh akting solid para pemain. Pastinya Deddy Mizwar sendiri jadi sumber emosi terkuat, berkat kemampuan olah rasa ditambah kehebatan menangani monolog teatrikal. Naga Naga Naga terlihat baik-baik saja tiap tampil sebagai "drama bermoral Deddy Mizwar" biasa. Memang dalam suatu karya seni, kejujuran adalah poin utama. Kalau tidak, apa kata dunia?
REVIEW - ASIH 2
Pada ulasan untuk Danur (2017), saya menyebut bahwa
filmnya bagai eksperimen seputar "Berapa banyak ekspresi mengerikan yang
mampu Shareefa Daanish perlihatkan?". Tiga tahun berselang, franchise-nya sudah mempunyai lima film,
termasuk dua spin-off bagi Asih yang
diperankan Shareefa. Di Asih 2, sang
hantu rupanya mendapat upgrade. Selain
jago nampang, sekarang Asih mampu mengeluarkan suara memekakkan yang niscaya
membuat para vokalis band screamo minder,
sementara di bangku penonton, saya mengkhawatirkan keselamatan gendang telinga.
Masih ingat
pasutri Andi (Darius Sinathrya) dan Puspita (Citra Kirana) dari film pertama? Keduanya
kembali muncul. Yah, setidaknya dalam beberapa menit awal, karena Asih langsung
menghabisi, kemudian menculik bayi mereka. Beberapa tahun berselang, seorang
dokter bernama Sylvia (Marsha Timothy), kedatangan pasien seorang gadis cilik (Anantya
Rezky) yang tertabrak mobil. Dia tidak punya keluarga, dan diyakini hidup sendirian
di tengah hutan. Teringat puterinya yang meninggal akibat kecelakaan empat
tahun lalu, Sylvia memutuskan mengadopsi bocah itu dan menamainya Ana, meski
sang suami, Razan (Ario Bayu) sempat menentang.
Tapi merawat Ana
tak semudah itu. Selain tidak bisa bicara, ia kerap tertawa sendiri, juga
bersikap aneh. Ya, Ana adalah bayi Andi dan Puspita yang diculik Asih. Sebagai
hantu narsis yang gemar memasang ekspresi-ekspresi ajaib, pastilah Asih cemburu
melihat perhatian Sylvia kepada Ana. “ANAK SAYAA!”, begitu teriaknya
berulang-ulang, dengan suara yang tidak kalah menusuk dibanding feedback dari sound system di acara kumpul-kumpul desa. Tentu Sylvia tidak mau
kalah, sehingga menghasilkan klimaks di mana kedua karakter secara bergantian
meneriakkan, “ANAK SAYAAAA!!!” berulang kali sambil menarik-narik tangan si
bocah, seperti dua ibu-ibu komplek tengah berebut sisa cabai di tukang sayur.
Mungkin di akhirat, Puspita juga ikut berteriak, “ANAAAAK SAYAAAA!!!!”.
Masih setia
menulis naskah sejak Danur adalah
Lele Laila. Melanjutkan pendekatan di Asih,
teror film ini pun digerakkan secara bertahap cenderung lambat. Menginjak
satu jam pertama, barulah Razan berkonfrontasi langsung dengan Asih. Niatnya
untuk tidak menghasilkan tontonan yang cuma diisi jump scare mungkin baik, namun lebih baik lagi jika sang penulis
coba menjalin cerita mumpuni. Karena praktis, filmnya kosong. Nihil misteri,
kecuali kalau anda menganggap kebingungan Sylvia soal lirik lagu Indung Indung (apakah “di udik” atau “diusik”?)
sebagai misteri. Saya juga dulu pernah kebingungan memahami lirik di reff lagu Kau Auraku, tapi tidak menganggapnya sebagai misteri. Daripada soal
lagu, saya lebih penasaran, mengapa karakternya kadang menyebut diri sebagai “aku”,
namun di waktu lain memakai “saya”.
Kualitas terornya
pun menurun drastis. Walau tak selalu berhasil tampil menyeramkan, setidaknya
Awi Suryadi masih bersedia membangun momentum sebelum hantunya muncul. Di sini,
Rizal Mantovani hanya berhasil melahirkan satu-dua jump scare yang mampu tampil mengagetkan. Sisanya, bersiaplah
mendengar teriakan “ANAK SAYAAAAA!!!!” di banyak kesempatan.
Padahal saya cukup
menaruh harapan bagi Asih 2,
mengingat keberadaan nama-nama besar di jajaran cast. Marsha Timothy tetap solid, berusaha sekuat tenaga mengangkat
materi kelas teri yang ia dapatkan. Ario Bayu tidak buruk, tapi ketimbang
akting, rasanya fokus penonton bakal lebih sering tertuju ke arah wignya.
Sedangkan Ully Triani menyia-nyiakan bakatnya kala memerankan Suster Rita, yang
seperti Sylvia, lebih banyak memikirkan soal lirik lagu Indung Indung.
















