Tampilkan postingan dengan label Darius Sinathrya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Darius Sinathrya. Tampilkan semua postingan

REVIEW - NAGA NAGA NAGA

Terakhir kali Deddy Mizwar terlibat di pengonsepan cerita (secara resmi) adalah 15 tahun lalu lewat Nagabonar Jadi 2 yang turut disutradarainya. Di situ ia mendapat kredit "story by". Merupakan kewajaran saat sang aktor senior kembali menduduki dua posisi tersebut di Naga Naga Naga, selaku judul ketiga dari seri Naga Bonar. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada sosok penting industri perfilman, saya merasa Deddy Mizwar masih berada di tahun 2007. Mungkin ia terperangkap dalam lorong waktu. 

Naskah yang ditulis Wiraputra Basri (Sejuta Sayang Untuknya) dari cerita buatan Deddy Mizwar, menghasilkan tuturan yang bakal memancing respon "OK Boomer" dari penonton masa kini. Bahkan bisa jadi kata "oke" digantikan "dasar". Orang-orang di belakang Naga Naga Naga sebenarnya sadar filmnya butuh modernisasi, namun mereka tidak tahu cara menjadi relevan. 

Taktik Naga Naga Naga untuk terlihat relevan adalah membahas perihal gender. Monaga (Cut Beby Tshabina), puteri Monita (Wulan Guritno) dan Bonaga (Tora Sudiro), sekaligus cucu Naga Bonar (Deddy Mizwar), tidak tumbuh layaknya anak perempuan kebanyakan. Dia enggan sekolah, memilih belajar dari alam bersama sang kakek, pula menghabiskan waktu bermain bola bersama anak laki-laki. 

Perdebatan mengenai Monaga pun terjadi, sementara filmnya tenggelam dalam ketidakjelasan sudut pandang. Naga Bonar yang menampik budaya "orang batak harus punya anak laki-laki" namun di lain kesempatan menyatakan bahwa tugas utama istri adalah melayani suami, masih bisa diterima. Masuk akal saat pria berumur 60an berpikiran demikian. 

Lain cerita ketika Monita, si wanita karir independen berpendidikan tinggi yang mengatasnamakan "kesetaraan gender" kala menolak keharusan mempunyai anak laki-laki, menyebut bahwa wanita mesti lembut, karena berperan melembutkan kerasnya dunia. Luar biasa inkonsisten. 

Mungkin naskahnya ingin mengambil jalan tengah, tapi keseimbangan tersebut gagal dibangun. Misal sewaktu Tari (Artta Ivano), teman Monita, mengeluarkan kata-kata yang kurang lebih berbunyi, "Boleh saja kita memikirkan kesetaraan gender, tapi realitanya kan berbeda". Itu wujud kepasrahan, bukan upaya mencari win-win solution. Makin jomplang karena belum lama ini kita baru mendapatkan Ngeri-Ngeri Sedap, yang juga membicarakan budaya batak, gesekan zaman, nilai kekeluargaan, dan gender, secara jauh lebih baik. 

Pun sama sekali tidak bijak ketika filmnya membicarakan gender, namun dua karakternya dengan santai membanggakan status poligami mereka, dalam situasi yang jelas bukan bernuansa satir. 

Beruntung, tiap menyentil isu khas seorang Naga Bonar, (yang tak perlu perspektif kekinian), filmnya menemukan pijakan. Deddy Mizwar masih cukup ahli melempar kritik menggelitik terhadap hal-hal seperti kelas sosial hingga sistem pendidikan. Trio Pomo (Darius Sinathrya), Ronny (Uli Herdiansyah), dan Zacky (Mike Lucock) mewakili sisi yang senantiasa memandang segalanya melalui kacamata materi. Sindiran paling tajam adalah terkait pihak sekolah, yang katanya bertujuan memintarkan murid, tapi justru menolak menerima mereka yang punya nilai buruk. 

Beberapa konflik terlalu gampang diselesaikan, khususnya tentang Mat Budeg (Norman Akyuwen), ayah Nira (Zsa Zsa Utari), pengamen yang berteman dengan Monaga, kesan "berceramah" khas Deddy Mizwar pun masih mendominasi, tapi setidaknya berhasil ditutupi oleh akting solid para pemain. Pastinya Deddy Mizwar sendiri jadi sumber emosi terkuat, berkat kemampuan olah rasa ditambah kehebatan menangani monolog teatrikal. Naga Naga Naga terlihat baik-baik saja tiap tampil sebagai "drama bermoral Deddy Mizwar" biasa. Memang dalam suatu karya seni, kejujuran adalah poin utama. Kalau tidak, apa kata dunia?

REVIEW - ASIH 2

Pada ulasan untuk Danur (2017), saya menyebut bahwa filmnya bagai eksperimen seputar "Berapa banyak ekspresi mengerikan yang mampu Shareefa Daanish perlihatkan?". Tiga tahun berselang, franchise-nya sudah mempunyai lima film, termasuk dua spin-off bagi Asih yang diperankan Shareefa. Di Asih 2, sang hantu rupanya mendapat upgrade. Selain jago nampang, sekarang Asih mampu mengeluarkan suara memekakkan yang niscaya membuat para vokalis band screamo minder, sementara di bangku penonton, saya mengkhawatirkan keselamatan gendang telinga.

Masih ingat pasutri Andi (Darius Sinathrya) dan Puspita (Citra Kirana) dari film pertama? Keduanya kembali muncul. Yah, setidaknya dalam beberapa menit awal, karena Asih langsung menghabisi, kemudian menculik bayi mereka. Beberapa tahun berselang, seorang dokter bernama Sylvia (Marsha Timothy), kedatangan pasien seorang gadis cilik (Anantya Rezky) yang tertabrak mobil. Dia tidak punya keluarga, dan diyakini hidup sendirian di tengah hutan. Teringat puterinya yang meninggal akibat kecelakaan empat tahun lalu, Sylvia memutuskan mengadopsi bocah itu dan menamainya Ana, meski sang suami, Razan (Ario Bayu) sempat menentang.

Tapi merawat Ana tak semudah itu. Selain tidak bisa bicara, ia kerap tertawa sendiri, juga bersikap aneh. Ya, Ana adalah bayi Andi dan Puspita yang diculik Asih. Sebagai hantu narsis yang gemar memasang ekspresi-ekspresi ajaib, pastilah Asih cemburu melihat perhatian Sylvia kepada Ana. “ANAK SAYAA!”, begitu teriaknya berulang-ulang, dengan suara yang tidak kalah menusuk dibanding feedback dari sound system di acara kumpul-kumpul desa. Tentu Sylvia tidak mau kalah, sehingga menghasilkan klimaks di mana kedua karakter secara bergantian meneriakkan, “ANAK SAYAAAA!!!” berulang kali sambil menarik-narik tangan si bocah, seperti dua ibu-ibu komplek tengah berebut sisa cabai di tukang sayur. Mungkin di akhirat, Puspita juga ikut berteriak, “ANAAAAK SAYAAAA!!!!”.

Masih setia menulis naskah sejak Danur adalah Lele Laila. Melanjutkan pendekatan di Asih, teror film ini pun digerakkan secara bertahap cenderung lambat. Menginjak satu jam pertama, barulah Razan berkonfrontasi langsung dengan Asih. Niatnya untuk tidak menghasilkan tontonan yang cuma diisi jump scare mungkin baik, namun lebih baik lagi jika sang penulis coba menjalin cerita mumpuni. Karena praktis, filmnya kosong. Nihil misteri, kecuali kalau anda menganggap kebingungan Sylvia soal lirik lagu Indung Indung (apakah “di udik” atau “diusik”?) sebagai misteri. Saya juga dulu pernah kebingungan memahami lirik di reff lagu Kau Auraku, tapi tidak menganggapnya sebagai misteri. Daripada soal lagu, saya lebih penasaran, mengapa karakternya kadang menyebut diri sebagai “aku”, namun di waktu lain memakai “saya”.

Kualitas terornya pun menurun drastis. Walau tak selalu berhasil tampil menyeramkan, setidaknya Awi Suryadi masih bersedia membangun momentum sebelum hantunya muncul. Di sini, Rizal Mantovani hanya berhasil melahirkan satu-dua jump scare yang mampu tampil mengagetkan. Sisanya, bersiaplah mendengar teriakan “ANAK SAYAAAAA!!!!” di banyak kesempatan.

Padahal saya cukup menaruh harapan bagi Asih 2, mengingat keberadaan nama-nama besar di jajaran cast. Marsha Timothy tetap solid, berusaha sekuat tenaga mengangkat materi kelas teri yang ia dapatkan. Ario Bayu tidak buruk, tapi ketimbang akting, rasanya fokus penonton bakal lebih sering tertuju ke arah wignya. Sedangkan Ully Triani menyia-nyiakan bakatnya kala memerankan Suster Rita, yang seperti Sylvia, lebih banyak memikirkan soal lirik lagu Indung Indung.

ASIH (2018)

Asih membuktikan 2 hal: Awi Suryadi (dwilogi Danur) selalu berusaha memperbaiki kekurangannya dan dia pantas mendapat franchise, atau setidaknya naskah yang lebih baik. Pasca sekelumit peningkatan di Danur 2: Maddah, di sini Awi menyempurnakan penyutradaraannya, tahu kapan waktunya memainkan keheningan guna membangun atmosfer, kapan mengejutkan penonton lewat jump scare, serta bagaimana melakukannya. Patut disayangkan departemen naskah mencoreng pencapaian tersebut.

Bertindak selaku prekuel yang terjadi 37 tahun sebelum film pertama, Asih mengisahkan asal-usul sang titular character (Shareefa Daanish), meski pada kenyataannya, elemen itu cuma muncul dalam satu flashback singkat. Naskah buatan Lele Laila (Keluarga Tak Kasat Mata, dwilogi Danur), yang mengadaptasi novel berjudul sama karya Risa Saraswati, bahkan tidak berupaya menjelaskan keperluan selipan fakta mengenai perubahan nama Kasih menjad Asih, sebuah informasi yang tak berperan dalam keseluruhan plot.

Sisanya serupa judul-judul lain di Danur Universe, yakni kompilasi teror demi teror yang ditempel paksa tanpa cerita kuat sebagai perekat. Setelah adegan pembuka kala Asih membunuh bayinya sebelum akhirnya bunuh diri, kita dibawa mengunjungi satu keluarga kecil: pasangan suami-istri, Puspita (Citra Kirana) dan Andi (Darius Sinathrya) beserta sang ibu (Marini Soerjosoemarno). Pasutri ini tengah menanti kelahiran anak pertama mereka. Protagonis yang akan memiliki bayi ketika sang antagonis kehilangan bayi jelas bukan pertanda baik.

Asih menebar beberapa benih konflik menarik di awal. Kepikunan ditambah penglihatan Ibunda Andi yang mulai menurun, rasa takut berlebih Puspita akibat mendengar cerita mistis dari sang bidan (Djenar Maesa Ayu), semua itu lebih dari cukup selaku pangkal perpecahan keluarga yang diakibatkan peristiwa mistis, atau tepatnya, ketakutan terhadapnya. Tapi benih-benih menjanjikan itu ditinggal begitu saja seiring penolakan penulis naskah untuk repot-repot menciptakan cerita sungguhan. Menjaga supaya filmnya terus berjalan (baca: mengisi durasi) merupakan fokus tunggal.

Poin menarik naskah Asih hanya saat beberapa kepercayaan mistis lokal turut mengambil peran, yang dapat menghadirkan rasa ngeri bagi penonton yang familiar dengan hal-hal macam suara anak ayam atau tiang listrik yang dipukul. Sisanya nihil. Usaha menjembatani film ini dengan Danur: I Can See Ghosts (2017) pun berujung kekonyolan. Mengapa Asih meningglkan sisirnya?

Di sinilah kapasitas Awi mengambil alih. Dibebani tugas menghabiskan durasi (yang cuma 77 menit), sang sutradara meninggalkan pendekatan mengesalkan yang jadi andalan seri Danur, di mana jump scare berisik menghantam tiap beberapa detik. Kali ini Awi justru berani menyusun atmosfer melalui keheningan plus lagu Indung Indung yang terdengar lebih creepy dibanding Boneka Abdi.

Begitu Asih muncul, musik garapan Ricky Lionardi (Sakral, Rasuk) menolak latah untuk langsung menggebrak. Awi menyimpan gebrakan itu khusus bagi deretan “menu utama” ketika jump scare dilontarkan pada kesempatan  tak terduga, yang sesuai formula di “Buku Panduan James Wan”, saat para hantu bukan sekedar “setor muka”, melainkan menyerang secara agresif. Saya terenta beberapa kali dibuatnya. Bahkan, Awi sanggup memberi sebuah momen yang benar-benar menyeramkan, bukan sebatas mengagetkan. Momen itu berupa sekelebat penampakan Asih, yang mungkin takkan disadari banyak penonton.

Sayang, sekali lagi, pencapaian Awi “dikhianati” kemalasan skenarionya begitu Asih memasuki babak ketiga yang bak tanpa puncak intensitas. Seolah filmnya usai karena penulis naskahnya sudah kehabisan ide, membiarkan teror Asih dihentikan oleh doa ala kadarnya dan teriakan karakter. Secara menyeluruh, Asih memang membuktikan bahwa seri Danur, walau perlahan, konsisten mengalami peningkatan. Namun bila mereka tak kunjung memperbaiki kualitas naskah, sulit membayangkan franchise ini bakal memproduksi installment yang layak menyandang status “film bagus”. Sementara, paling tidak Asih bukan satu lagi horor berisik mengesalkan atau parade repetitif bagi ekspresi gila Shareefa Daanish.

PETUALANGAN MENANGKAP PETIR (2018)

Petualangan Menangkap Petir adalah film menyenangkan dengan tokoh sentral anak-anak, meski bukan film anak yang sepenuhnya berhasil. Sebab bila terlontar pertanyaan mengenai pesan apa yang dapat diserap, saya hanya bisa menjawab, “Jadi orang tua jangan protektif secara berlebihan”, dan “Cobalah memahami keinginan anak”. Sebagai film anak, karya penyutradaraan ketiga Kuntz Agus (#republiktwitter, Surga yang Tak Dirindukan) ini malah lebih lantang mengkritisi kalangan dewasa walau meluangkan sepanjang durasi menyoroti aktivitas karakter bocahnya. Mungkin ini hasil proses bawah sadar ketika para pembuatnya, serupa salah satu dialog yang mereka tulis, kerap “lupa cara menjadi anak kecil”.

Tujuan dasar Petualangan Menangkap Petir sebenarnya sederhana, yakni melecut supaya anak-anak tak ragu mengejar mimpi, juga berpetualang ke luar rumah, bertemu teman-teman nyata ketimbang melulu berkutat di balik gadget dan dunia maya. Tapi dalam konteks film ini, bila pokok-pokok bahasan di atas dirunut kembali, semua masalah justru berpangkal di orang tua ketimbang anak. Bukan sang anak, Sterling (Bima Azriel) yang meragu, melainkan sang ibu, Beth (Putri Ayudya) yang mengekang. Semua tergantung pada Beth. Masalah hanya akan tuntas saat Beth yang tersadar, bukan Sterling.

Meninjau situs personalnya, dapat disimpulkan Beth adalah seorang penggiat soal pendidikan terhadap anak, yang kerap membahas bagaimana agar anak bisa bermain sesuka hati, bersenang-senang tanpa perlu membahayakan diri dengan keluar rumah. Berbanding terbalik dengan sang suami, Mahesa (Darius Sinathrya), yang sejatinya ingin Sterling mengeksplorasi dunia luar, namun enggan menyulut masalah dengan Beth. Sterling, yang selama ini tinggal di Hong Kong, menjadi YouTuber tenar berkat beragam konten kreatif, berinteraksi dengan ribuan “teman” meski tak ada satu pun pernah ia temui langsung.

Kesuksesan itu membuat Sterling berat hati kala orang tuanya memutuskan pindah ke Jakarta. Sementara persiapan kepindahan dilakukan, Sterling dititipkan di  rumah kakeknya (Slamet Rahardjo) di Selo, Boyolali. Kekhawatiran bakal merasa jengah karena tinggal di kampung seketika sirna pasca bertemu Gianto alias Jaiyen (Fatih Unru) dengan segala gairahnya soal film khususnya akting. Mengetahui aktivitas Sterling di YouTube, Jaiyen pun langsung mengajaknya membuat film mengenai legenda Ki Ageng Sela yang konon, sanggup menangkap petir ketika tengah bertani.

Aktivitas Sterling di Selo mengasyikkan, apalagi bagi penonton seperti saya yang berasal dari daerah pedesaan di Jawa. Semua terasa familiar, dari lokasi sampai cara interaksi penuh selorohan menggelitik warga berlogat setempat, termasuk kemunculan singkat duo Pangsit-Benjo sebagai penjual jamu tradisional. Para aktor ciliknya pun tampak menikmati, yangjadi elemen terkait anak terbaik di film ini. Bima Azriel apik memerankan seorang bocah yang jengah atas tekanan bertubi-tubi ibunya. Bima memperlihatkan seperti apa kekesalan terpendam yang pelan-pelan dipupuk, menunggu meledak di kemudian hari. Keberhasilan Putri Ayudya memerankan ibu super protektif yang memudahkan kita mendukung “pemberontakan” Sterling. Jangan kaget kalau Beth mengingatkan pada sosok-sosok di sekitar anda.

Tapi pencuri perhatian terbesar tetap Fatih Unru yang bukan cuma jago mengocok perut, juga melakoni momen dramatik. Ada adegan ketika ia dituntut melakukan akting dalam akting, dan itu tampak meyakinkan, mematenkan Jaiyen sebagai pondasi motivasi pengejaran mimpi filmnya. Agak aneh sebenarnya saat motivasi motivasi itu datang dari sosok pendukung ketimbang Sterling yang seringkali sekedar mengikuti kemauan sobatnya. Jaiyen sendiri bicara bak orang dewasa penggemar film alih-alih anak kecil dengan kemurnian mimpinya. Eddie Cahyono (Siti) dan Jujur Prananto (Ada Apa Dengan Cinta? Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara) selaku penulis naskah berusaha memposisikan diri sebagai anak kecil, kemudian gagal, bak aktor yang berakting buruk.

Guna menolong proses pembuatan film, Sterling dan Jaiyen meminta bantuan dua videografer pernikahan, Arifin (Abimana Aryasatya) dan Kriwil (Arie Kriting), yang konon pernah membuat film fenomenal, namun secara tersirat disampaikan bahwa mereka tak pernah merampungkan karya itu, sehingga berbagi mimpi serupa kedua bocah tersebut. Menurut Ifa Isfansyah selaku produser eksekutif, Petualangan Menangkap Petir didasari mimpinya bersama Kuntz Agus membuat film anak dan film tentang film. Sayang, mereka sulit menahan diri untuk tidak menyelipkan filosofi mengenai film, seperti kalimat “film itu magis” atau penyebutan istilah macam “Mise-en-scène”, yang terdengar kurang pas di film anak. Semoga beruntung menjelaskan artinya pada anak-anak anda. Hal-hal “ke-sinema-an” tadi dicuapkan Abimana, yang akhirnya memerankan karakter “serius tapi santai” seperti saat mencuri perhatian tujuh tahun lalu di Catatan Harian Si Boy walau penokohan Arifin sendiri dangkal.

Seperti saya sebutkan di awal, di luar setumpuk kelemahannya, Petualangan Menangkap Petir masih sebuah tontonan menyenangkan. Kuntz Agus mampu membungkus kegiatan karakternya membuat film dengan seru. Bocah-bocah ini tidak peduli meski cuma berbekal properti buatan tangan seadanya juga akting sebisanya, sebab mereka hanya berniat bersenang-senang. Setidaknya Petualangan Menangkap Petir berpotensi menyediakan alternatif kegiatan aktif bagi anak: Membuat film. Walau lagi-lagi, menurut film ini, semuanya tergantung pada orang tua. 

NEGERI DONGENG (2017)

Bukan perkara mudah mendaki tujuh puncak tertinggi di tujuh pulau/kepulauan besar Indonesia (Seven Summits of Indonesia) sembari membawa seperangkat (tepatnya tujuh buah) kamera, hanya dijalankan oleh tujuh orang termasuk Anggi Frisca selaku sutradara, berusaha memperlihatkan bentangan alam yang bagi sebagian masyarakat termasuk saya, detailnya masih asing. Banyak nilai-nilai, jerih payah, dan tentunya ambisi, terlibat di sana. Ambisi yang sayangnya, tak sepenuhnya mulus tersalurkan menjadi suatu karya. Sebagai film, Negeri Dongeng pun berujung lebih mudah dihargai ketimbang dikagumi. 

Dimulai dari Kerinci, berakhir di Cartensz, pengambilan gambar tim Aksa7 berlangsung sekitar 2 tahun (2014-2016) dan pastinya menghadirkan setumpuk rintangan. Bahkan pendakian menuju Puncak Jaya saja rasanya sudah memberi cukup modal untuk sebuah film panjang. Pengumpulan biaya yang konon mencapai 55 juta per orang, persiapan termasuk latihan fisik yang mesti ditempuh, lalu perjalanan berbahaya yang sebagaimana film ini perlihatkan, diisi mendaki permukaan terjal sampai menyeberangi jurang. Ditambah perjalanan menyusuri enam gunung lain, Negeri Dongeng bak upaya menekan paksa materi berjam-jam menjadi 104 menit.
Separuh awal perjalanan berlangsung buru-buru. Beberapa kasus, sebutlah mengenai sampah plastik atau kisah bocah dengan ADHD sekedar numpang lewat. Anggi bagai merasa ada nilai yang layak dituturkan (dan memang benar adanya), namun urung menelusuri lebih lanjut, memunculkan kesan "dibuang sayang". Fokusnya berserakan tanpa arah. Apabila berniat memaparkan nilai kehidupan, seluruh isu hanya sambil lalu. Hendak mengetengahkan sisi survival pun, filmnya lalai mengajak penonton terlibat dalam deretan kesulitan para Aksa7. Tiba-tiba timbul masalah, tiba-tiba pula masalah itu selesai.

Di paruh pertama pun, sebagai dokumenter yang berlokasi di alam, departemen visual belum menyajikan gambar-gambar nikmat, seolah masih kesulitan beradaptasi menangani rintangan sambil membuat film. Hanya tata musik dengan dominasi bunyi atmosferik nan misterius karinding (koreksi kalau saya salah) yang sanggup memikat. Barulah mencapai setengah akhir, baik fokus, dinamika, maupun aspek teknis nampak tertata. Bukan mustahil itu dipengaruhi fakta bahwa perjalanan sempat rehat beberapa bulan, memberi waktu bagi tim melakukan persiapan matang sekaligus evaluasi.
Anggota Aksa7 sendiri punya potensi mengambil hati. Tawa sempat diproduksi nama-nama seperti Teguh Rahmadi dan Rivan Hanggarai lewat tingkah polah keduanya. Bahkan, khusus Teguh, tersimpan bobot lebih ketika ia sempat absen dari pendakian akibat sakit. Namun emosi takkan begitu bergolak karena paruh awal yang semestinya dapat dipakai sebagai perkenalan urung dimanfaatkan. Bahkan saat kita mulai familiar dengan mereka, muncul distraksi baru berupa bintang tamu yang terdiri dari Medina Kamil, Darius Sinathrya, dan Nadine Chandrawinata (juga merupakan associate producer). Kamera lebih betah mengikuti ketiganya daripada para tokoh utama.

Seperti telah diungkapkan sebelumnya, pendakian menuju Cartensz layak dibuat satu film tersendiri. Saat itulah fokus mulai terarah jelas kepada survival thriller berbumbu nilai kehidupan termasuk persahabatan, tensi meninggi, kualitas visual mencapai puncak pencapaian. Ketegangan dipresentasikan tanpa harus mengurangi kejelasan gambar melalui shaky cam, sedangkan keindahan yang sempurna mewakili sebutan "Negeri Dongeng" di bentangan alam Papua ikut menghipnotis. Segmen akhir tersebut telah cukup menjadikan film yang meraih nominasi "Film Dokumenter Panjang Terbaik" pada FFI 2017 ini pantas disaksikan.

NIGHT BUS (2017)

Kalau tidak salah kabar pembuatan film ini sudah didengungkan oleh Darius Sinathrya sang produser sejak 2014 dan sempat mengadakan crowdfunding. Dibuat berdasarkan cerpen Selamat buatan Teuku Rifnu Wikana yang sebagai hasil penuangan pengalamannya di tahun 1999 kala terjebak di bus selama 12 jam ketika melewati daerah konflik bernama Sampar, Night Bus memang terasa ambisius. Bagaimana tidak? Mayoritas alurnya bertempat di satu lokasi (bus malam) serta berisi belasan tokoh yang oleh Rahabi Mandra dan Teuku Rifnu Wikana selaku penulis naskah coba diseimbangkan porsinya. Hasilnya adalah sajian berkonsep segar yang meski punya kekurangan di sana-sini, sanggup menonjol di antara thriller lokal sejauh ini.

Sebuah bus malam yang disopiri Amang (Yayu AW Unru) siap mengarungi perjalanan selama 12 jam menuju Sampar. Berdasarkan cerita si kondektur (Teuku Rifnu Wikana), di sana sedang meletus konflik antara militan penuntut kemerdekaan dan pemerintah. Alhasil sepanjang perjalanan mereka harus melewati pengecekan di beberapa pos militer. Penumpang bus terdiri dari beragam orang dengan tujuan sendiri-sendiri, ada wartawan, wanita tua yang hendak berziarah ke makam puteranya bersama sang cucu, sepasang kekasih remaja pencari kerja, dan lain-lain. Tanpa diduga pertikaian makin sengit, bahkan turut menyeret para penumpang lebih dalam, mengancam nyawa mereka. Rahasia yang dipendam masing-masing pun mulai terungkap. 
Sempat timbul dugaan Night Bus sejatinya belum siap rilis. Selain molornya proses produksi, beberapa masalah teknis yang membuat premiere-nya sempat tertunda berjam-jam sampai batalnya penayangan di banyak kota dengan alasan serupa jadi pemicu asumsi tersebut. Tapi itu kisah di balik layar yang sulit dibuktikan kebenarannya. Dari hasilnya, Night Bus kentara mengusung ambisi besar pula digarap serius. Production value-nya tidak main-main, membuat gambarnya enak dipandang khususnya sewaktu Anggi Frisca sang sinematografer tahu cara merangkai visual enjoyable walau didominasi ruang sempit minim cahaya. Ketepatan menempatkan kamera dan bermain warna jadi kunci. 

Kesan mahal menguat tatkala efek CGI kerap menghiasi. Tentu saya tak mengharapkan kualitas nomor satu, tapi di tengah keterbatasan, penggunaan CGI-nya nampak berlebihan di berbagai kesempatan semisal kobaran api dan puing reruntuhan atau helikopter selaku cara klise menunjukkan militer tengah bergerak. Padahal tanpa CGI clumsy itu penonton sudah memahami situasinya. Aspek sound mixing turut menyimpan masalah. Acap kali memakai bahasa dan logat daerah, ketiadaan subtitle mengharuskan tata suara solid agar mudah dicerna. Kebutuhan itu gagal dipenuhi, berujung banyak dialog samar-samar. Paling fatal saat kalimat dari Mahdi (Alex Abbad) yang mengandung poin alur kunci diucapkan dengan berbisik, mengharuskan penonton berkonsentrasi ekstra mengolah kata demi kata.
Di luar kelemahan teknis, Night Bus masih thriller menegangkan yang sanggup memaksa penonton mencengkeram kursi lalu menahan nafas. Emil Heradi bersedia meluangkan waktu membangun intensitas ketimbang langsung meledakkannya, terlebih dulu mempermainkan antisipasi penonton, memancing atmosfer harap-harap cemas. Sewaktu teror akhirnya menampakkan diri, alih-alih terbatasi setting sempit, Emil sanggup menyeret penonton ikut duduk di dalam bus, berbagi ketakutan serupa penumpangnya. Sementara musik karya Yovial Tri Purnomo Sigi terdengar dramatis, sempurna menemani gejolak mencekam filmnya. 

Sayang, usaha Emil membangun ketegangan tak jarang bertele-tele, diseret terlalu lama sebelum masuk ke menu utama. Dipaksa menanti ketika tahu akan terjadi sesuatu khususnya terkait paparan horor atau thriller memang asyik, tapi jika penantian itu terlampau panjang dan sering, rasanya mengesalkan. Saya berkali-kali dibuat gemas akibat Emil gemar berlama-lama berkutat di momen kurang penting seperti karakter berjalan atau bicara perlahan dengan tempo lambat pula. Tambah melelahkan akibat repetitifnya bentuk teror yang dihadapi. Sekitar empat kali bus bertemu sebuah rombongan, dihentikan, kemudian penumpang dipaksa turun. Hal ini berlangsung sampai konklusi membungkus cerita. Tidak heran durasi mencapai 135 menit. 
Durasi tersebut turut dipengaruhi kerapnya naskah memasukkan momen non-esensial. Tujuannya baik, supaya penonton memahami setiap tokoh yang mana berhasil dicapai. Setidaknya saya tahu siapa dan apa motivasi masing-masing dari mereka. Tapi setelah berkali-kali melihat tingkah Kondektur (diperankan begitu baik oleh Teuku Rifnu Wikana sehingga walau tampak seenaknya, ia tetap berperasaan dan likeable), perlukah adegan menari mengikuti musik sambil mabuk untuk menegaskan bahwa dia sosok nyeleneh? Penegasan berulang ini berkontradiksi dengan kesubtilan naskah dalam memprsentasikan kompleksitas konflik. 

Rahabi Mandra bersama Teuku Rifnu cukup piawai menjalin kaitan antar fakta tanpa mesti gamblang bertutur, sepenuhnya menyerahkan proses penyusunan keping-keping puzzle pada penonton. Jalinan kisahnya memang rumit, namun suatu kerumitan yang selaras dengan kekacauan dunianya. Sebuah dunia di mana kekuasaan disalahgunakan, ambisi pribadi dipentingkan, di mana para pemegang kekuatan saling berseteru, meninggalkan masyarakat biasa yang lemah terombang-ambing di tengah sebagai korban tak berdaya. Sungguh kejam si kuat, sungguh malang si lemah. Di luar setumpuk kekurangannya, Night Bus kuat menghasilkan ketegangan juga lantang menyuarakan pesan.