Tampilkan postingan dengan label Newton Thomas Sigel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Newton Thomas Sigel. Tampilkan semua postingan

DA 5 BLOODS (2020)

That’s one small step for man, one giant leap for mankind”, ucap Neil Armstrong saat menapakkan kaki di bulan. Sang astronot sempat menyatakan ada kesalahan pengutipan terhadap pernyataannya. Bukan “for man”, melainkan “for A man”. Tentu saja koreksi itu tak dipedulikan, sebab kalimat yang keliru itu terkesan lebih megah, lebih menjual sebagai branding terhadap pendaratan di bulan: Sebuah lompatan besar bagi umat manusia. Tapi sebagaimana Spike Lee (Do the Right Thing, BlacKkKlansman) siratkan melalui rangkaian footage selaku sekuen pembuka, lompatan besar macam apa di saat banyak anak-anak masih didera kelaparan?

Lompatan besar macam apa di saat rasisme terus merajalela? Perang Sipil menjanjikan kebebasan bagi kulit hitam. Mereka tidak mendapatkannya. Perang Dunia II menjanjikan kebebasan bagi kulit hitam. Mereka tidak mendapatkannya. Perang Vietnam menjanjikan kebebasan bagi kulit hitam. Mereka tidak mendapatkannya. Sementara Hollywood sendiri dituding melakukan whitewashing dalam mengemas film perang mereka. Itu pula yang beberapa tahun lalu sempat membuat Spike Lee bersitegang dengan Clint Eastwood setelah perilisan Flags of Our Father dan Letters from Iwo Jima pada 2006. Lee menuding Eastwood menutup mata atas peran prajurit kulit hitam.

Selang 14 tahun, Lee merilis Da 5 Bloods, yang sejatinya merupakan naskah berjudul The Last Tour buatan Danny Bilson dan Paul De Meo, yang rencananya bakal disutradarai Oliver Stone. Bisa ditebak, karakternya berkulit putih. Lee menulis ulang naskahnya bersama Kevin Willmott yang telah menjadi partnernya sejak Chi-Raq (2015), mengubah ras protagonis, menjadikannya film pertama soal Perang Vietnam yang dituturkan lewat kaca mata prajurit kulit hitam.

Bisa ditebak, hasilnya adalah tontonan menghibur sekaligus kritis nan tajam. Siapa lagi yang berani mengolok-olok kepalsuan Rambo selain Spike Lee? Kisahnya sendiri mengetengahkan empat veteran, Paul (Delroy Lindo), Otis (Clarke Peters), Eddie (Norm Lewis), dan Melvin (Isiah Whitlock Jr.), yang kembali ke Vietnam, bukan sebatas untuk reuni, melainkan membawa pulang jenazah pemimpin tim mereka dahulu, Norman (Chadwick Boseman). Nantinya, turut menyusul pula David (Jonathan Majors), putera Paul, yang punya hubungan kurang baik dengan sang ayah.

Tapi ada satu lagi misi rahasia yakni mencari peti berisi emas, yang kelimanya kubur di tengah peperangan. Emas itu sejatinya dipakai oleh pemerintah Amerika Serikat guna membayar jasa penduduk lokal agar mau bertempur di pihak mereka. Tapi pesawat yang membawanya jatuh. Norman meyakinkan rekan-rekannya untuk membawa emas tersebut, sebagai bentuk pelunasan hutang pemerintah Amerika atas tindakan sewenang-wenang mereka terhadap kaum kulit hitam.

Tentu banyak rintangan membentang, tapi yang paling menghantui adalah pergulatan karakternya dengan diri sendiri akibat trauma, dan Da 5 Bloods menyiratkan bahwa trauma itu bermuara pada rasisme. Rasisme oleh siapa? Kulit putih tentunya, yang bertanggung jawab menyebarkan, bahkan mempopulerkan rasisme. Di sebuah kesempatan, warga Vietnam sempat melontarkan kata-kata bernada rasial, yang menurut pengakuan mereka, diajarkan oleh kulit putih.

Keempat protagonisnya menyimpan luka lama, tapi jelas Paul yang paling terdampak. Digerogoti PTSD, ia mengaku selalu ditemui Norman setiap malam. Satu elemen menarik adalah ketika Paul dengan bangga menyatakan memilih Trump, memakai topi MAGA (Make America Great Again), bahkan mendukung pembangunan tembok demi menghalangi masuknya imigran. Ini adalah penokohan kompeks, thought-provoking, mungkin juga membingungkan.

Agar memahaminya, kita perlu memperhatikan konteks, serta ucapan-ucapan dari mulut Paul. Dia merasa selalu dikhianati, baik sebagai kulit hitam yang dijanjikan kebebasan, maupun prajurit, yang disebut “pembunuh anak-anak” sepulangnya ia ke tanah air selepas (dipaksa) bertaruh nyawa. Dia merasa selalu jadi pihak yang kalah. Paul lelah akan semua itu. Sudah terlalu hancur hatinya. Begitu muncul figur yang lantang menyatakan “Aku akan menjadikan kita pemenang”, Paul tergoda oleh bayangan superioritas tersebut. Pilihan yang tentu saja cuma menambah kekalutan hatinya.

Delroy Lindo memerankan Paul dalam tingkat kompleksitas serupa, dengan mata yang senantiasa diwarnai teror, sesekali menjadi pria penyayang, sesekali menjadi pria sedih, lalu di waktu lain menjadi pria penuh ketakutan. Puncaknya ketika Paul mencapai “batas” dan melakukan monolog sembari menatap ke arah kamera, seolah ingin meluapkan segalanya kepada penonton.

Secara berulang, alurnya mengajak kita mundur ke masa lalu mengunjungi medan perang, melalui flashback yang kembali membuktikan bahwa Spike Lee adalah sutradara yang menaruh bobot seimbang kepada gaya dan substansi. Flashback-nya memakai rasio aspek 1.33:1, sementara sinematografer Newton Thomas Sigel (Drive, Bohemian Rhapsody) merekamnya menggunakan format film 16 mm, melahirkan kesan bak newsreel di zaman perang.

Menariknya lagi, flashback-nya tidak memakai riasan, CGI, atau aktor lain untuk memerankan versi muda karakternya. Selain alasan biaya plus ketidaksukaan Lee akan penggunaan lebih dari satu aktor, pilihan ini juga menguatkan kesan bahwa flashback yang kita saksikan adalah memori di kepala karakternya. Bukankah kala kita bermimpi atau membayangkan mengenai masa lalu, secara tidak sadar kita cenderung memvisualisasikan diri kita dari masa kini?

Satu contoh lain perihal keseimbangan Lee bergaya dan bertutur dapat disimak ketika seorang prajurit Vietnam membicarakan soal pembantaian My Lai. Beberapa kali Lee menyelipkan cuplikan foto pembantaian tersebut. Hanya sekilas, hingga agak sulit mencerna gambar apa yang ada di layar. Otomatis, penonton terpancing untuk menajamkan pandangan agar tak melewatkan gambar berikutnya. Dan tepat saat itu dilakukan, Lee memasang foto jenazah seorang bocah yang kepalanya tertembak. Tapi alih-alih berlalu secepat kilat seperti sebelumnya, foto itu bertahan lebih lama, dan berujung efektif menanamkan gambaran memilukan di benak penonton.

Sejak Girl 6 (1996), semua film Spike Lee selalu menembus durasi dua jam, kecuali karya terburuknya, Oldboy (2013). Tidak jarang itu menimbulkan masalah dinamika. Begitu pula Da 5 Bloods, yang andai tak berlangsung selama 154 menit pun, takkan mengurangi kekuatan tuturannya (bahkan menambah) mengenai para veteran yang gemar berucap, “5 bloods don’t die. We multiply”. Familiar dengan kalimat tersebut? Tentu saja. Sebab di negara mana pun, tentang isu apa pun, itulah roh suatu perjuangan.


Available on NETFLIX

EXTRACTION (2020)

Blackhat (2015), The Huntsman: Winter’s War (2016), 12 Strong (2018), sampai Men in Black: International (2019). Pencarian Chris Hemsworth terhadap “kendaraan” lain yang bisa ditungganggi  guna menjaga eksistensinya sebagai sosok tangguh di ranah blockbuster Hollywood di luar MCU tidak berlangsung mulus. Tapi Extraction bisa jadi jawaban. Adaptasi novel grafik Ciudad ini sejatinya sudah memperoleh pendanaan sejak 2013, sebelum Russo Bersaudara menuliskan sejarah mereka di skena film buku komik lewat Captain America: The Winter Soldier (2014).

Russo Bersaudara berkolaborasi dengan Ande Parks, Fernando Leon Gonzalez, dan Eric Skillman kala membuat Ciudad. Sedangkan untuk filmnya, keduanya menjabat sebagai produser, sementara Joe menulis naskahnya seorang diri. Kursi penyutradaraan diserahkan pada Sam Hargrave, yang merupakan stunt coordinator di Captain America: Civil War (2016) dan Avengers: Endgame (2019). Hargrave pun melanjutkan tren positif para ahli stunt yang mampu melahirkan film aksi mumpuni sebagai sutradara.

Hemsworth memerankan Tyler Rake, mantan anggota SASR (Special Air Service Regiment) yang kini beralih profesi sebagai prajurit bayaran. Kali pertama kita melihatnya, Rake terjun dari tebing setinggi 30 meter, lalu duduk beberapa lama di dasar air seperti sedang bermeditasi. Adegan tersebut membawa sebuah pernyataan: He’s a badass. Seorang badass yang terluka, sebab di saat bersamaan, keping-keping memori yang kabur menghampirinya. Memori menyedihkan mengenai sesosok bocah. Tidak perlu menunggu filmnya menjabarkan untuk tahu bahwa bocah itu adalah putera Rake yang telah tiada.

Melalui Nik Khan (Golshifteh Farahani), Rake menerima tawaran pekerjaan guna menyelamatkan Ovi (Rudhraksh Jaiswal), putera drug lord terbesar India, yang diculik oleh drug lord terbesar Bangladesh, Amir (Priyanshu Painyuli). Dengan kata lain, sebuah misi bunuh diri. Dan Rake menerimanya tanpa pikir panjang, memancing kekhawatiran Nik, bahwa ia memang ingin tewas dalam misi.

Tapi tenang saja. Rake tidak bisa tewas segampang itu, sekalipun ia menginginkannya. Rake merupakan one-man army yang dapat membabat habis puluhan pasukan yang terdiri atas gembong narkoba, polisi, sampai segelintir bocah yang terjebak kehidupan keras di jalanan Bangladesh. Kapasitas fisik Hemsworth pun tak perlu diragukan (Hey, he’s the God of Thunder), namun yang membuatnya spesial adalah keberhasilannya memanusiakan Tyler Rake di tengah kemampuan bertarungnya yang tak manusiawi. Hemsworth bukan aktor laga 80-90an yang berjibaku seorang diri sambil memasang wajah santai. Dia bisa kepayahan, juga bisa kesakitan.

Hemsworth merupakan sosok sempurna untuk mewujudkan visi Hargrave menciptakan aksi beroktan tinggi yang bergerak cepat, brutal, penuh momen-momen menyakitkan yang bisa membuat penonton membayangkan dampak dari pukulan dan benturan. Bermodalkan deretan aksi intens tersebut, Extraction mampu menjaga atensi, walau momen-momen dramatis yang diselipkan Joe Russo di sela-sela pertempuran terlalu hampa untuk bisa menambah bobot emosi, dan justru kerap menurunkan dinamika.

Tapi tidak diragukan lagi, prestasi terbesar Hargrave tentu saja diperlihatkan sekuen single take berdurasi hampir 12 menit, yang biarpun tak sepenuhnya rapi (kalau anda perhatikan, beberapa jahitannya tampak cukup jelas), punya kompleksitas serta skala yang mencengangkan. Saya mengira teknik itu bakal berhenti selepas kejar-kejaran di jalanan Bangladesh berakhir, tapi tidak. Hargrave, dibantu tata kamera garapan Newton Thomas Sigel (Drive, X-Men: Days of Future Past, Bohemian Rhapsody), mengajak penonton memasuki bangunan bertingkat, silih berganti memasuki satu per satu ruangan sambil berganti fokus karakter, bahkan melompati atap gedung.

Sekuen itu bukan sebatas “pokoknya tidak putus”, tapi turut diisi koreografi kompleks yang akan menciptakan perbadingan dengan trilogi John Wick, pula detail-detail yang membuat latarnya terasa hidup, dari masyarakat yang memberikan respon, sampai kendaraan-kendaraan di tengah jalan yang acap kali terlibat langsung dalam perkelahian. Ditutup oleh klimaks bombastis yang juga memberi kesempatan pada Randeep Hooda (memerankan Saju selaku anak buah ayah Ovi) memamerkan ketangguhan yang tidak kalah dari Hemsworth, Extraction semakin menegaskan bahwa masa depan genre film aksi modern Hollywood terletak di tangan jagoan-jagoan dari balik layar yang selama ini kurang mendapat sorotan secara layak.


Available on NETFLIX

BOHEMIAN RHAPSODY (2018)

Bohemian Rhapsody tampil bak medley, di mana deretan greatest hits dimainkan sebagian demi mengakomodasi sebanyak mungkin lagu dimainkan dalam keterbatasan waktu. Metode tersebut niscaya mampu menghibur, namun takkan terasa lengkap dan penonton bakal berharap lebih dengan ketidakpuasan tertinggal di hati. Karir gemilang Queen, musikalitas mereka, dan tentunya perjalanan hidup sang vokalis, Freddie Mercury, terbukti terlampau besar nan kompleks untuk dituturkan melalui gaya formulaik film biopic.

Di departemen penulisan naskah, Anthony McCarten (The Theory of Everything, Darkest Hour) memahami kata kuncinya, yaitu “keluarga”. Semua hubungan interpersonal film ini bermuara ke sana, dari sulitnya Freddie (Rami Malek) mendapatkan restu sang ayah (Ace Bhatti) yang menganggapnya telah melenceng jauh dari kultur Parsi, romansanya dengan Mary Austin (Lucy Boynton), juga dinamika Queen, yang digambarkan bukan sebatas band, tetapi keluarga. Walau akhirnya, meski kita tak meragukan chemistry antara personel perihal pembuatan musik, penggambaran hubungan mereka urung nampak berbeda dibanding banyak band di luar sana. Artinya, “keluarga” hanya kalimat di atas kertas yang berulang kali diucapkan.

Jelang akhir, terselip pembicaraan mengenai adanya perdebatan soal lagu ciptaan siapa yang disertakan dalam album, lagu siapa yang dipilih jadi single andalan, lagu mana yang menjadi b-side, dan lain-lain, yang kerap terjadi tiap Queen memasuki studio rekaman. Tapi selain saling ejek soal lagu I’m in Love with My Car buatan Roger Taylor (Ben Hardy) sang penggebuk drum, kita tidak pernah menyaksikan konflik di atas secara langsung. Padahal cekcok semacam ini mampu memperkaya substansi film tentang musisi.

Proses musikalnya toh tetap menghibur. Kita diajak menyaksikan Queen bereksperimen dengan beragam sumber bunyi, mengkreasi komposisi unik Bohemian Rhapsody, membuat We Will Rock You yang terdengar sederhana bila disandingkan dengan lagu titular-nya, diciptakan berdasarkan keinginan memberi penonton lagu yang dapat mereka mainkan, namun sejatinya, tetap layak disebut eksperimen (mayoritas cuma tersusun atas hentakan kaki dan tepuk tangan). Di balik kekurangannya, Bohemian Rhapsody sanggup menggambarkan kejeniusan serta kegilaan eksplorasi Queen untuk urusan karya.

Merangkum lebih dari 2 dekade penuh lika-liku, Bohemian Rhapsody memilih gaya presentasi jumpy, bergerak dari waktu ke waktu, lagu ke lagu, konser ke konser, menjadikan filmnya terputus-putus alih-alih naratif utuh yang melaju mulus. Pada titik ini filmnya seolah tersesat, tak tahu ingin menyampaikan apa, lalu memilih pasrah terbawa arus, sebelum mencapai third act, yang mana merupakan fase terbaik Bohemian Rhapsody.

Sekitar 30 menit terakhirnya berhasil mengikat segala cabang plot menggunakan benang merah berupa “keluarga”, menghadirkan beberapa momen personal perihal Freddie dan orang-orang terkasihnya selaku penutup emosional. Khususnya hubungan Freddie-Mary, di mana cinta Freddie terhadap inspirasi di balik lagu Love of My Life itu adalah salah satu cinta tanpa syarat paling murni dan indah yang pernah saya saksikan, walau tambahan satu-dua obrolan intim pada masa awal hubungan mereka bakal lebih menguatkan pondasi kisah keduanya.

Sementara 15 menit pamungkasnya adalah puncak, di mana Bryan Singer (The Usual Suspects, X-Men, Superman Returns) melakukan reka ulang terhadap penampilan Queen di konser amal Live Aid (1985), yang banyak dianggap sebagai salah satu aksi panggung terbaik sepanjang masa. Sekuen ini diambil pada hari pertama produksi, sehingga Singer masih duduk di kursi sutradara sebelum dipecat lalu digantikan Dexter Fletcher (Eddie the Eagle) pada sepertiga akhir proses. Singer bisa saja memasang sistem autopilot dan penonton tetap akan terhibur berkat susunan lagu-lagu seperti Bohemian Rhapsody, Radio Gaga, We Will Rock You, hingga We Are the Champions. Tapi dia menolak bermalas-malasan.

Dibantu sinematografer langganannya, Newton Thomas Sigel, kamera Singer bergerak dinamis menangkap energi Freddie yang bergerak menyusuri panggung layaknya pemimpin massa dan euforia 72 ribu penonton di stadion Wembley. Tapi satu hal spesial dalam sekuen ini adalah, keberhasilannya secara subtil menjelaskan bagaimana Freddie bisa memberi performa luar biasa, walau telah lama ia dan personel Queen lain tak berada di satu panggung, pula kesehatannya makin memburuk akibat AIDS. Jawabannya sama: keluarga. Konser itu pun makin bermakna. Live Aid jadi momen ketika Freddie mencurahkan segala cintanya, dan keputusan Singer sesekali mengalihkan fokus ke ekspresi orang-orang terdekat sang vokasi di sela-sela konser terbukti menambah bobot emosi.

Tapi tanpa akting Rami Malek, niscaya reka ulang Live Aid tidak akan sebaik itu. Secara tampilan fisik, ia mungkin kalah mirip dibanding Gwilym Lee sebagai Brian May atau Joseph Mazzello sebagai John Deacon, namun aktingnya menutupi itu. Di bawah panggung, Malek menjadikan Freddie manusia rapuh yang kesepian dan merindukan cinta, juga musisi jenius yang tubuhnya bergetar tiap menyadari bahwa dirinya sedang menciptakan mahakarya. Tapi ia bukan sosok suci. Malek turut menangkap sisi gelap Freddie sebagai megabintang yang dikuasai ego akibat kesendirian. Di atas panggung, ia adalah pemimpin flamboyan penuh energi. Malek sempurna menampilkan tiap detail kekhasan gerak-gerik Freddie. Malek bukan sekedar meniru. Seolah Freddie sungguh merasuki sang aktor. Mungkin Malek tidak bernyanyi live, tetapi gestur dan ekspresinya (plus tata suara cermat) memudahkan kita mempercayai jika ia mampu bernyanyi serupa Freddie Mercury.