Tampilkan postingan dengan label Richard Kyle. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Richard Kyle. Tampilkan semua postingan
JOMBLO (2017)
Rasyidharry
Jomblo versi 2017 punya niat mengenalkan nama besar adaptasi novel berjudul sama buatan Adhitya Mulya pada generasi masa kini sembari tetap merangkul penggemar lama, salah satunya dengan mempertahankan Hanung Bramantyo di kursi penyutradaraan. Masalahnya, remake ini bak lupa alasan film aslinya disukai. Jomblo versi 2006 mewakili liku hidup remaja, khususnya mahasiswa yang diisi keliaran menyenangkan, dari menghisap ganja, mencoba seks, sampai merebut pacar sahabat. Poin terakhir dipertahankan, tapi secara keseluruhan lebih "jinak" (tentu empat protagonis bukan lagi perokok berat), hanya tertarik menertawakan kebodohan tingkah para jomblo mencari cinta.
Untuk sedikit melihat gambaran perbandingan dua versi, mari tengok lagu tema masing-masing. Versi lama memiliki BDG 19 OKT dengan petikan lirik "Segala yang kuberi, tak pernah berarti, berat terasa, habiskan darahku, menusuk tulangku, yang lelah" adalah nomor rock seputar curahan hati. Sedangkan remake-nya ditemani Jomblo dengan hook pada bagian "Masih betah jadi jomblo, Since Grow, Sampai kapan jadi jomblo, Since Grow" selaku hip hop nuansa modern yang lebih lugas dan playful. Intinya, didorong menyasar para milenial, Jomblo berusaha tampil (lebih) ringan yang sayangnya berujung simplifikasi kosong.
Empat tokoh utamanya masih sama, Agus (Ge Pamungkas) yang berambisi mengakhiri masa jomblo kala bertemu teman lamanya, Rita (Natasha Rizky), Bimo (Arie Kriting) yang menembak semua wanita, Doni (Richard Kyle) si playboy ganteng, dan Olip (Deva Mahenra) yang takut berkenalan dengan Asri (Aurelie Moeremans). Dari luar, kepribadian pula permasalahan tetap sama. Bedanya, walau konflik meninggi hingga mengancam jalannya persahabatan, kali ini sulit merasa terikat karena jarangnya momen kebersamaan. Benar mereka sempat nongkrong di kampus tetangga atau berlibur ke pantai bersama, tapi semua belum cukup kuat menggambarkan ikatan pertemanan.
Agar peduli, penonton butuh keintiman, sebagaimana kala Bimo-nya Dennis Adhiswara tersenyum pilu sambil dipeluk tiga sahabatnya. Tanpanya, Jomblo begitu hampa rasa, tidak peduli berapa banyak air mata tumpah maupun seberapa keras pukulan Deva Mahenra ke pipi Richard Kyle ketika perselisihan memanas. Pun keputusan mempertahankan konklusi bittersweet turut nihil dampak. Satu-satunya perubahan positif dari naskah garapan Adhitya Mulya dan Ifan Ismail adalah menjadikan Olip bukan lagi creepy stalker, melainkan pria pemalu yang diakibatkan tekanan untuk selalu berhasil dari latarnya sebagai anak tentara.
Sisi komedi tampil selaku penyelamat melalui sentuhan humor menghibur yang sesekali terjun ke ranah absurditas. Tapi penekanan terhadap komedi turut membawa efek negatif, yakni karakter utama yang sebatas karikatur ketimbang manusia nyata. Contohnya Ge Pamungkas. Meski ahli memainkan kekonyolan berlebihan, tapi kekonyolan itu pula yang mendorong Agus menjadi sosok komikal nan artificial belaka. Toh itu belum seberapa dibanding Richard Kyle yang bagaikan robot berperut six pack dengan pengucapan kalimat carut-marut. Deva tampil meyakinkan, sehingga patut disayangkan filmnya terlampau menyoroti Agus dan mengesampingkan Olip, padahal dialah tokoh paling kompleks.
Demi menyulut nostalgia, homage diselipkan, pun beberapa komponen film sebelumnya dipertahankan walau banyak di antaranya terkesan asal tempel. Misalnya penokohan Bimo, sebagai orang Papua yang lahir di Jogja. Mengapa tidak sekalian mengubahnya secara menyeluruh? Pilihan ini nihil substansi, tidak dipakai sebagai sumber humor, tidak pula disinggung lagi di kemudian waktu. Jomblo begitu berhasrat menjadi berbeda sampai kehilangan semangat aslinya, tetapi ingin juga mencuri perhatian penggemar lama tanpa memahami sisi yang mereka kagumi atau aspek mana yang perlu disertakan. Dalam usahanya merenggut atensi remaja milenial, Jomblo rupanya serupa sederet dari mereka yang mengalami krisis identitas.
Oktober 06, 2017
Adhitya Mulya
,
Arie Kriting
,
Aurelie Moeremans
,
Comedy
,
Deva Mahenra
,
Ge Pamungkas
,
Hanung Bramantyo
,
Indonesian Film
,
Kurang
,
Natasha Rizky
,
REVIEW
,
Richard Kyle
INSYA ALLAH, SAH! (2017)
Rasyidharry
Entah berbentuk kritik atau sindiran dalam satir maupun semata olok-olok jenaka, unsur "ketidakseriusan" milik komedi dapat berfungsi memperhalus penyampaian sebuah pesan. Lalu apa jadinya saat suguhan komedi justru bagai berceramah secara bertubi-tubi dalam berpesan hingga mengesampingkan ajakan tertawa bagi penonton? Demikianlah Insya Allah, Sah! adaptasi novel berjudul sama karya Achi TM yang mengandung DNA serupa drama religi preachy perfilman kita. Menyedihkan ketika mendapati medium bersenang-senang pengendur otot turut dijajah polisi moral begini.
Silvi (Titi Kamal) sedang harap-harap cemas dilamar oleh kekasihnya, Dion (Richard Kyle), tetapi kesialan-kesialan bagai enggan menjauh darinya. Bahkan begitu lamaran terjadi, keberuntungan tak jua datang ketika persiapan pernikahan selalu dihantam rintangan. Belum lagi, Silvi mesti menghadapi Raka (Pandji Pragiwaksono), pria lugu anak buah Dion yang selalu menasehati supaya rajin beribadah, yang mana termasuk nazar Silvi tatkala terjebak dalam lift bersama Raka. Benarkah masalah-masalah tersebut disebabkan keengganan Silvi menjalankan nazarnya?
Tidak saya pungkiri pesan utama Insya Allah, Sah! baik, bahwa seseorang wajib memenuhi janji, terlebih bila ditujukan pada Tuhan. Akan mudah menerima tuturan itu apabila intisari dapat penonton petik dengan sendirinya alih-alih beruntun diutarakan oleh seorang man-child yang gemar menginvasi ruang personal wanita. Seperti poin utama kisahnya, Raka berniat baik. Tapi sewaktu ia selalu hadir tak kenal waktu, mulai muncul di depan rumah Silvi hingga menelepon tengah malam, ketimbang peduli sosoknya justru terkesan creepy. Apalagi Raka adalah fully functional adult, paham soal agama, pun diceritakan jago mengurus bisnis musik (entah bagaimana caranya), menjadikannya bukan representasi kemuliaan hati manusia polos, melainkan stalker mengerikan.
Bagai sejalan dengan banyak sisi mengkhawatirkan negeri ini seputar isu moral dan agama, Insya Allah, Sah! tidak saja preachy menasihati tentang agama, pula asal senggol soal isu sensitif untuk materi humor. Misalnya pemakaian karakter banci dan LGBT sebagai bahan banyolan usang, yang salah satunya muncul saat Raka menasihati satu pria supaya "kembali pada kodratnya". Pun bila sekedar ditinjau dari kualitas komedi tanpa mempedulikan korelasi terhadap isunya, Benni Setiawan (Wa'alaikumsalam Paris, Toba Dreams, Sepatu Dahlan) selaku sutradara sekaligus penulis naskah kurang luas berkreasi, mengandalkan repitisi momen kemunculan tiba-tiba Raka.
Pandji berusaha sebisanya bertingkah aneh, namun penokohannya sama sekali tak membantu. Untung di mana Raka berada, Silvi selalu turut mengisi (or is it the other way around?), sebab Titi Kamal adalah penggerak yang tidak pernah surut tenaganya. Mencibir sesuka hati lewat kata-kata pedas hingga ekspresi konyol, konsisten menggelakkan tawa walau tanpa dukungan sepadan dari sumber materinya. Begitu juga sederet meta jokes terkait sederet cameo mulai Prilly Latuconsina (Danur) sampai Reza Rahadian (Something in the Way?). Sedangkan bagi Richard Kyle ada dua opsi: melatih keluwesan akting dan berbahasa Indonesia atau meng-cast aktor lain yang lebih kompeten.
Di samping ceramah agama, Insya Allah, Sah! sejatinya mengandung potensi kisah lain untuk dijadikan fokus, yaitu keruwetan persiapan pernikahan. Kita memang melihat beragam kesulitan Silvi tapi semua selalu dikaitkan dengan agama ketimbang berdiri sebagai eksplorasi tersendiri. Mungkin anda familiar akan ungkapan berbagai pihak kala terjadi musibah di suatu daerah yang kira-kira berbunyi "itu adzab Tuhan, makanya rajin ibadah". Sungguh pernyataan nihil empati. Demikianlah yang tercermin pada respon Raka menanggapi setumpuk permasalahan Silvi.
Juni 29, 2017
Benni Setiawan
,
Comedy
,
Indonesian Film
,
Jelek
,
Pandji Pragiwaksono
,
REVIEW
,
Richard Kyle
,
Titi Kamal
Langganan:
Postingan
(
Atom
)







