Tampilkan postingan dengan label Rihanna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rihanna. Tampilkan semua postingan
OCEAN'S 8 (2018)
Rasyidharry
Genre heist caper
punya formula klasik, aturan-aturan yang diawali dengan (1) perkenalan benteng
yang mustahil ditembus (brankas, kasino, museum), lalu kita (2) bertemu
sekelompok pria necis yang berencana membobolnya, (3) melihat mereka
membeberkan rencana mengenai siapa harus melakukan apa serta bagaimana. Ocean’s 8 sepenuhnya berjalan mengikuti
pakem kecuali pada poin kedua, di mana alih-alih pria necis, kita berkenalan
dengan para wanita berkelas. Sandra Bullock dengan ketenangan elegannya, Cate
Blanchett dalam lagak semaunya, sikap eksentrik Helena Bonham Carter
sebagaimana biasa, Rihanna yang melambungkan level “keren” peretas beberapa
tingkat lebih tinggi, Anna Hathaway dengan senyum yang mewakili definisi “selebritis
bodoh”.
Ocean’s 8 adalah sepenuhnya soal star power. Ditambah Sarah Paulson,
Awkwafina, dan Mindy Kaling, tercipta kombinasi menarik yang bukan cuma tentang
multikultural, juga beragam kepribadian. Walau bertindak selaku spin-off untuk remake dari Ocean’s 11
(1960) yang juga mengandalkan star power
kelima Rat Pack (Peter Lawford, Frank Sinatra, Dean Martin, Sammy Davis, Jr.,
dan Joey Bishop), toh naskah garapan Gary Ross bersama Olivia Milch bergerak
layaknya reka ulang dari versi Steven Soderbergh (di sini bertindak selaku
produser). Debbie Ocean (Sandra Bullock) baru keluar dari penjara, menemui
partner sekaligus sahabatnya, Lou (Cate Blanchett), menyusun rencana merampok Toussaint,
kalung berlian senilai $150 juta, lalu membentuk tim guna menjalankan
perampokan.
Seperti saat Rusty Ryan (Brad Pitt) menentang niatan Danny
Ocean (George Clooney) menyelipkan usaha balas dendam personal di tengah misi,
Lou pun bakal menyatakan hal serupa pada Debbie, yang dijebloskan ke penjara
akibat pengkhianatan Claude Becker (Richard Armitage), mantan kekasih sekaligus
rekan dalam praktek penipuan benda seni. Dari konsep, persamaan dengan Ocean’s Eleven (2001) memang tak
terhindarkan, sayang, detail eksekusinya justru mengingatkan akan Ocean’s Thirteen (2007), yang notabene film
terburuk dalam triloginya. Sebelum perampokan utama, penipuan, sabotase, dan
penyusupan dilakukan terlebih dahulu sebagai persiapan. Di fase ini, cuma para
karakter yang tahu apa rencananya, sementara penonton dibiarkan buta hingga misi
berakhir, tapi filmnya berharap kita terpukau oleh eksekusi rencana yang
disusun di balik layar itu. Bagaimana bisa jika penonton diasingkan dan tidak
merasa terlibat?
Tidak peduli seberapa mustahil rencananya, penonton mesti
diyakinkan bahwa itu bisa dilakukan, setidaknya oleh jajaran protagonisnya.
Filmnya perlu memperlihatkan keberhasilan misi terjadi berkat kapasitas
karakternya, bukan akibat kebodohan korban seperti saat Rose Weil (Helena
Bonham-Carter) sang desainer dan Amita (Mindy Kalling) si pembuat berlian
berusaha memindai barang target perampokan. Keduanya bersikap konyol, bodoh,
aneh, mencurigakan, namun urung dicurigai. Ketika karakternya lolos semudah
itu, hilang pula tensi filmnya. Praktis sebelum sajian utama di klimaks, kenikmatan
hidangan pembukanya sebatas menyaksikan kepiawaian aktris-aktris kelas satu
memerankan sederet tokoh tanpa kedalaman penokohan. Tapi siapa peduli? Film
macam ini bukan studi karakter. Kemampuan khusus masing-masing jadi kepribadian
pengganti yang mendefinisikan dan membedakan mereka.
Puncak aksinya berjalan cukup singkat, tapi dikemas penuh
gaya kala Ross mengkreasi ulang Met Gala secara otentik di Metropolitan Museum
of Art selaku lokasi asli, lengkap dengan barang-barang seni asli pula, yang semuanya
mampu diperoleh berkat restu Anna Wintour, pimpinan redaksi Vogue sekaligus
kurator Met Gala sejak 1995 yang juga menjadi cameo. Tentu cameo para
pesohor diperlukan demi menjaga otentitas, sehingga nama-nama seperti Zayn
Malik, Katie Holmes, Maria Sharapova, Serena Williams, Kim Kardashian, Adriana
Lima, Kylie Jenner, Kendall Jenner, Olivia Munn, dan lain-lain turut hadir di
antara keglamoran yang mampu membuat penonton berteriak “oooohh”. Itu juga
respon saya tatkala Rihanna, pasca menghabiskan sepanjang film memakai pakaian
kasual, mendadak memasuki lantai Met Gala dalam balutan gaun merah menawan.
Apalah artinya heist
tanpa twist yang bertempat pasca
perampokan ketika kita merasa segalanya telah usai. Kejutan yang hadir semata
untuk menghentak ketimbang memperkuat jalinan cerita, walau beberapa dari penonton
mungkin telah menyadarinya, mengingat film ini bukan berjudul Ocean’s 7. Kejutan yang justru menambah
pertanyaan terkait logika serta detail daripada menjawab. Dalam Ocean’s 8, star power, setting megah dan gaun mewah jauh lebih mencuri
perhatian dibanding aksi perampokannya sendiri. Kalau cuma itu, tidak perlu
rasanya menyaksikan film heist, cukup
karpet merah Met Gala sungguhan, walau di sana kita takkan melihat keluwesan
Sandra Bullock mengutil, terlibat pembicaraan renyah dengan Cate Blanchett,
atau Rihanna bersenang-senang mengakali sistem keamanan melalui laptop miliknya. Ocean's 8 adalah aksi perampokan biasa oleh para wanita luar biasa.
Juni 09, 2018
Anne Hathaway
,
Awkwafina
,
Cate Blanchett
,
Crime
,
Cukup
,
Gary Ross
,
Helena Bonham-Carter
,
Mindy Kaling
,
REVIEW
,
Richard Armitage
,
Rihanna
,
Sanda Bullock
,
Sarah Poulson
,
Steven Soderbergh
VALERIAN AND THE CITY OF A THOUSAND PLANETS (2017)
Rasyidharry
Sewaktu kecil saya gemar memainkan setumpuk action figure karakter fiksi favorit. Berbekal barang seadanya macam bantal, guling, atau kaleng biskuit bekas, dunia tempat karakter itu hidup jadi kenyataan. Setidaknya dalam imajinasi saya selaku satu-satunya batasan realisasi. Melalui film ini, Luc Besson melakukan hal serupa, menghidupkan komik kesukaannya saat kecil, Valerian and Laureline. Bedanya ia punya modal $210 juta (film Eropa dan independen termahal) guna mengganti mainan dan perabot sehari-hari dengan deretan aktor kenamaan sekaligus efek CGI. Tapi ada sebuah persamaan. Keduanya tak peduli kedalaman karakter atau cerita solid. Terpenting imajinasi terwujud. Valerian and the City of a Thousand Planets memang membawa Besson kembali menjadi bocah.
Dibarengi lagu Space Oddity-nya David Bowie yang sempurna membangun mood, filmnya dibuka oleh montage perkembangan program luar angkasa manusia dari masa ke masa, berujung pada abad 28 ketika stasiun Alpha tempat jutaan makhluk dari planet berlainan hidup bersama berbagi kultur pula pengetahuan, dilepas dari orbit Bumi, melayang bebas di angkasa tanpa batas. Valerian (Dane DeHaan) dan sang partner, Laureline (Cara Delevigne) adalah anggota kepolisian manusia yang tengah menjalankan misi mengamankan spesies hewan langka di suatu planet. Misi yang membawa keduanya mengarungi berbagai tempat di galaksi, bertemu alien beragam bentuk, juga menyelidiki tragedi masa lalu yang disembunyikan rapat-rapat.
Sederhana saja rangkaian cerita dalam naskah Besson. Penyebab durasinya melebihi dua jam (137 menit) dikarenakan alurnya kerap berputar-putar dahulu sebelum sampai titik destinasi. Ibarat perjalanan, penonton sebagai penumpang sering diajak singgah di tempat lain, menetap di sana menikmati suasana, baru lanjut ke tujuan. Juga terasa bagai menyaksikan video game dari stage ke stage berikutnya. Bahkan adegan tatkala Valerian menembus satu per satu lokasi Alpha dikemas oleh Besson laksana tipe permainan endless running yang biasa kita mainkan di smartphone. An exciting one.
Meski berakibat pacing yang kurang dinamis, Besson punya alasan kuat di balik pilihan tersebut, yaitu mengajak penonton mengamati keindahan beraneka ragam dunia asing beserta makhluk dan budaya di sana. Karena sejatinya, ketimbang suguhan tipikal "kebaikan melawan kejahatan", Valerian and the City of a Thousand Planets lebih menitikberatkan pada eksplorasi soal diversity dengan cakupan luas: alam semesta. Kalau diperhatikan, mayoritas konflik berujung sekuen aksi tidak didorong usaha tokoh utama menumpas kejahatan, melainkan sebuah keterpaksaan dipicu insting bertahan hidup saat terancam bahaya akibat terjebak di situasi maupun kultur asing. Pun musuh utama yang mesti dihadapi bukan sosok megalomania dengan hasrat menguasai dunia, sekedar manusia dan keburukan alami mereka (kita).
Walau acap berlama-lama mampir kebosanan urung hadir, sebab bersenjatakan kreatifitas tanpa batasnya, Besson yang makin sahih disebut sutradara visioner mampu menciptakan sederet lingkungan, teknologi, hingga aktivitas tak terbayangkan. Tentu semua didasari komik buatan Pierre Christin dan Jean-Claude Mézières, tetapi menghidupkan gambar diam di panel komik butuh daya kreasi luar biasa. Inilah esensi film selaku motion picture. Gambar bergerak yang mewadahi imajinasi liar pembuatnya. Sinematografi Thierry Arbogast juga musik Alexandre Desplat yang mencerminkan ekspresi kekaguman, menambah daya pukau petualangan jagat raya yang langsung menghentak sejak menit-menit awal di Planet Mül. Sayang, fokus terhadap visual seolah sepenuhnya menyedot energi Besson, sehingga ia gagal maksimal soal eksekusi aksi. Tidak buruk, hanya saja medioker, nihil cool aspect ciri khasnya.
Saat Dane DeHaan kekurangan pesona sebagai pahlawan sci-fi yang bertingkah semaunya (charm-nya lebih cocok untuk tokoh gloomy), Cara Delevigne sukses menghapus memori buruk Enchantress si iblis penari perut berkat deadpan sarcasm yang juga didukung struktur wajah naturalnya. Sebagai Laureline, Cara mampu pula menangkap sisi sensual tanpa kehilangan kekuatan khas tokoh wanita idola ala suguhan sci-fi klasik. Walau demikian, gelar penampil paling mencuri perhatian justru disandang dua nama yang hanya muncul singkat, Ethan Hawke dan Rihanna. Gaya koboi Texas banyak omong milik Hawke menghembuskan nuansa berbeda di tengah kesan monoton kebanyakan karakter (bertampang) manusia. Sementara Rihanna dengan kehebatan olah tubuh di sebuah adegan pole dance memikat nyatanya paling mencerminkan aura inti filmnya: unik, aneh, imajinatif, magical, out of this world.
Ulasan untuk film ini dapat dibaca juga di: http://tz.ucweb.com/8_dMLE
Agustus 03, 2017
Alexandre Desplat
,
Cara Delevigne
,
Dane DeHaan
,
Ethan Hawke
,
European Film
,
France Film
,
Luc Besson
,
Lumayan
,
REVIEW
,
Rihanna
,
Science-Fiction
,
Thierry Arbogast
Langganan:
Postingan
(
Atom
)





